
Don't Wanna Close My Eyes
(Ku tak ingin memejamkan mata)
-diambil dari lirik lagu berjudul 'I don't wanna miss a thing', yang dinyanyikan oleh Aerosmith-
***
Jakarta
Pocut
Ia yang sedang melamunkan kepergian Sasa mendadak terkesiap ketika melihat kemunculan Tama. Wajah suaminya itu teramat riang dan lega. Berjalan dengan langkah panjang membelah ruang tamu. Lantas meraih pesawat telepon di meja samping kemudian melewatinya.
"Halo? Nita?" Tama berbicara dengan mata lurus mengarah padanya. "Seharian ini saya nggak mau diganggu."
"Ya," sambung Tama sembari terus menatapnya. "Nggak menerima tamu dan bingkisan dari siapapun."
"Oke. Thank you." Tama mencondongkan tubuh guna mengembalikan pesawat telepon ke meja samping. Berdiam di posisi yang sama dalam waktu cukup lama hingga hidungnya hampir mencium lengan pria itu. Merasakan detik-detik keharuman aroma kayu-kayuan yang segar melesak memenuhi indera penciumannya.
"Aman." Tama memperlihatkan dua buah ponsel yang baru saja dimatikan daya.
Dan ia benar-benar tak siap ketika dengan satu gerakan cepat tiba-tiba Tama merebahkan diri di atas pangkuannya. Lalu memejamkan mata tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Degup jantung yang sejak awal sudah berlompatan kini kian berkejaran seolah tengah ditabuhi beduk yang bertalu-talu. Kedua lengannya terkulai lemah ke samping tanpa bisa digerakkan sedikitpun. Tak tahu harus melakukan apa selain memandangi wajah gagah yang tengah terpejam dalam pangkuan.
Namun suasana sunyi yang sangat mendebarkan justru memunculkan keberaniannya untuk mengulurkan tangan mengusap rahang tegas milik Tama. Menelusuri titik-titik hitam yang tersebar di sepanjang garis rahang hingga lekukan di atas bibir. Semakin mengukuhkan kekuatan dan ketangguhan yang menjadi daya tarik utama suaminya ini. Maskulin, tegap, penuh wibawa. Dan sekujur tubuhnya perlahan mulai menggigil ketika telapak tangannya menyentuh tekstur kasar titik-titik hitam tersebut.
Ia masih ingat di malam pertama usai akad nikah, rahang Tama terasa bersih dan halus. Tak ada titik-titik hitam apalagi parutan kasar saat Tama menyapukan diri menelusuri tiap inci wajah dan lehernya. Tapi sekarang? Hanya berselang dua hari cambang dan kumis Tama sudah bermunculan. Apakah kebanyakan pria memang seperti ini? Harus bercukur setiap pagi agar selalu nampak bersih dan rapi. Sama seperti bang Is yang hampir setiap hari har--
Ia sontak terkejut dengan ingatan yang tiba-tiba muncul.
Tidak.
Jangan.
Tolong jangan sekarang.
Ia buru-buru menelan ludah dengan gugup. Berusaha memandangi wajah Tama lekat-lekat agar bisa kembali berkonsentrasi dengan apa yang ada di hadapan.
Sekarang, Tama adalah suaminya. Ia sudah menjadi garwa, begitu ucapan bu Niar selepas akad nikah saat membisikinya petuah indah.
"Garwa itu sigaraning nyawa, belahan jiwa. Saling melengkapi, saling menguatkan, saling memberi. Sampai seolah-olah 'suami takkan bisa hidup tanpa istri' dan 'istri takkan bisa hidup tanpa suami'." ©
"Dulu, ibu mertua Mama pernah berkata ... menjadi garwa itu maknanya luar biasa dalam. Ibarat 'pecahing dhadha, wutahing ludira'. Pecahnya dada dan tertumpahkannya darah. Sampai kapanpun suami istri akan tetap saling membela dan melindungi. Kokoh tak terpisahkan." ©
"Bukan kita membela secara membabi buta. Bukan." Mama menggeleng. "Tapi sikap dan jiwa yang satu antara suami istri. Tidak ada yang bisa memisahkan. Termasuk jika ada pihak ketiga yang bermaksud buruk. Suami istri harus bisa saling menguatkan satu sama lain sampai titik darah penghabisan." ©
Ia memejamkan mata dan menghela napas panjang mengingat ucapan bu Niar. Sekarang, ia sudah menjadi istri Tama. Tentu tak boleh lagi membayangkan sosok mengesankan almarhum bang Is. Apalagi membandingkan. Sangat tak adil untuk Tama. Terlebih, ini akan menjadi kali pertama bagi mereka berdua. Tama dan dirinya.
Abang, maafkanlah. Izinkan aku melupakanmu sebentar saja. Izinkan aku berbakti pada Tama.
"Kado dari Wisak sama Armand mau diambil kapan?" Pertanyaan mengejutkan Tama membuatnya kembali terkesiap. Namun ketika menunduk, mata Tama masih tetap terpejam. Lengkap dengan seulas senyum terkembang. Seolah tengah begitu menikmati rebah dalam buaiannya.
"K-kado apa?" Tanyanya gugup sembari berusaha keras menjauhkan bayangan wajah bang Is. Kembali mengusap parutan kasar di sepanjang rahang Tama dengan hati berdebar.
Namun tanpa peringatan apapun tiba-tiba saja Tama menarik tangannya, menggenggamnya, lalu menghirupnya dalam-dalam. "Naik yacht punya Wisak buat pergi ke pulaunya Armand."
Ia terbelalak terheran-heran. Dadanya berdesir hebat ketika bibir Tama menyentuh punggung tangannya. "P-pulau?"
"Armand punya pulau pribadi di Kepulauan Seribu." Kali ini Tama membuka mata. Sembari terus menghirup punggung tangannya sampai-sampai terasa hangat sebab embusan napas Tama. Menatapnya lekat-lekat hingga gelenyar aneh mulai menyerbu perutnya tanpa ampun.
"Awalnya kita ditawarin ke Kiluan," imbuh Tama tanpa melepas genggaman mereka berdua. "Wisak punya resort di sana. Tapi kejauhan. Lewat jalan darat bisa empat jam lebih. Kalau ke islandnya Armand cuma nyebrang sejam an."
Ia mengangguk gugup. Luar biasa teman-teman Tama. Baru kali ini ia mendengar sebuah pulau bisa dimiliki oleh orang per orang.
"Sekarang? Atau nanti sore sekalian lihat sunset?"
"Terserah Mas."
"Kalau yang ini terserah juga nggak?" Tiba-tiba Tama bangkit sambil tetap menggenggam tangannya. Lalu menariknya memasuki kamar tidur.
Ia tak sempat mengatakan apapun ketika dengan gerakan cepat dan halus Tama menepikan tubuhnya ke dinding kamar. Kemudian meletakkan sebelah tangan di samping kepalanya, sementara yang sebelah lagi meraih pinggangnya. Lagi-lagi tanpa peringatan apalagi pemberitahuan, Tama mulai menyatukan diri. Menyapunya ringan dengan sentuhan maskulin yang lembut, halus, perlahan, namun jelas penuh gelora.
__ADS_1
Ia hampir kehabisan napas karena sentuhan Tama semakin menggebu. Mendesaknya tanpa menyisakan celah sedikitpun untuk sekedar menguasai diri.
Ia baru bisa bernapas lega ketika Tama memberi cukup ruang meski hanya sejenak. Sebelum semakin menyudutkannya ke belakang. Hingga tubuhnya menempel lekat di dinding. Dengan lengan Tama yang mencengkeram erat pinggangnya. Dan posisi terhimpit seperti ini membuatnya harus menggapai bahu Tama agar jangan sampai terjatuh.
Kini, Tama telah menghanyutkannya ke dalam gelombang paling melenakan. Membuat jantungnya kian berdentam-dentam tak karuan. Pasti Tama bisa mendengar dengan jelas irama degup jantungnya yang tak beraturan. Tapi saat ini, ia sedang tak bisa menyembunyikan apapun dari siapapun. Terkhusus di hadapan Tama. Apalagi mereka telah saling menyelami dan mengarungi satu sama lain. Tak ada rahasia yang tersisa.
Perutnya bahkan semakin dipenuhi kepakan sayap aneh yang membuat sekujur tubuhnya meremang. Lututnya lemas tak berdaya dan pergelangan kakinya berubah menjadi jelly. Tapi saat ini, ia sedang tak bisa melakukan apapun selain berserah. Membiarkan Tama melakukan semua keinginan tanpa ada keinginan untuk mencegah.
Selanjutnya, ia tak lagi bisa berpikir jernih. Tama jelas seseorang yang sudah terlalu lama menahan diri. Lapar, penuh dahaga, tak ingin membuang waktu. Semua dilakukan serba cepat, namun tetap membius dan melengahkan.
Ia harus bersusah payah agar tak terseret arus menghanyutkan yang Tama mainkan. Namun tubuhnya tak bisa berbuat banyak. Sama sekali tak menolak pesona seorang Tama. Ia sampai menggigil dan kewalahan tiap kali Tama menghentikan penjelajahan lalu berkonsentrasi di sana. Tak diragukan lagi, Tama jelas seorang ahli, suami terlatih, penuh pesona. Apalagi sebutan yang pantas untuk disematkan?
"T-tirainya." Ia akhirnya tersadar dan menunjuk jendela kaca lebar dengan tangan gemetaran.
"Ini lantai dua puluh lima. Orang nggak akan lihat."
"M-mas?" Bukan itu maksudnya. Ia benar-benar merasa tak nyaman dengan sorot terang cahaya matahari yang menembus jendela kaca. Malu rasanya melakukan hal paling pribadi di bawah pancaran sinar mentari.
Tama akhirnya menegakkan punggung namun sambil menggeram. Mengulurkan tangan melewati wajahnya hingga ujung hidungnya bisa menyentuh otot dada yang liat.
Ssssssrrrrrrrrrttttttttttttt ....
Suara halus terdengar ketika tirai berwarna putih bergerak perlahan menutupi jendela kaca selebar ruangan setinggi langit-langit di belakang punggung mereka.
Dan ia masih mengagumi kecanggihan tirai yang bisa menutup sendiri ketika Tama kembali meraihnya ke dalam rengkuhan.
"M-mas?"
"Hmm ...."
"B-berdoa dulu," bisiknya dengan wajah memerah menahan gemuruh di dada akibat perlakuan manis Tama.
"Ya ampun." Tama mengangkat wajah kembali menggeram. "Sekarang aku nggak bisa mengingat apapun selain melak--"
"M-mas?" Ia menautkan alis. Buru-buru menggumamkan doa dengan suara parau akibat tubuh yang menggigil hebat kini mulai gemetaran. ® Ia bahkan mengulanginya sebanyak dua kali karena Tama tak kunjung menghiraukan.
"M-mas, jangan begini. T-tolong ...." Ia mencengkeram punggung Tama. Bagaimana mungkin salah satu doa penting dalam kehidupan berumahtangga tak diketahui Tama. Apakah selama ini, Tama tak pernah berdoa sebelum melakukan?
Tama menatapnya dengan sorot mata sayu. "Anything (apapun), Wifey ... anything."
***
Tama
Sejujurnya, ia bukan tipe pria yang pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata. Selama ini, lebih memilih menunjukkannya melalui perbuatan. Tapi di hadapan Pocut, pengendalian dirinya mendadak hilang tanpa bekas. Ia bisa saja mengatakan hal romantis tanpa kesulitan. Atau mengucapkan rayuan yang sebelumnya bahkan tak pernah terlintas. Entah darimana datangnya skill terbaru ini. Meskipun cukup mengherankan, tapi ia sangat menyukainya. The new me. Mengutip selorohan Riyadh namun dengan sedikit penyesuaian, bahwa seseorang akan romantis pada waktunya.
Termasuk untuk yang satu ini. Entah bagaimana ia bisa lepas kendali hanya karena menyentuh seseorang. My Godness, hasratnya langsung lepas landas seperti peluncuran roket. Baginya, Pocut begitu manis, lembut, erat, panas, sekaligus memabukkan. Kesabarannya selama dua hari berteman dengan kepala pusing berdenyut akhirnya berakhir.
Ia benar-benar menginginkannya sekarang juga.
"Lihat aku." Ia menangkup wajah Pocut dengan kedua telapak tangan.
Namun mata Pocut semakin terpejam kuat-kuat dengan bibir gemetaran dan tubuh menggigil.
"Lihat aku."
Perlahan Pocut mulai membuka mata. Menatapnya malu-malu dengan pipi yang bersemburat merah. Ini membuatnya semakin tertantang untuk menggelorakan keahlian tingkat dewa yang telah lama mati suri. Memikat dan menjerat Pocut hingga tak bisa berkutik lagi. Lalu menggulung mereka berdua masuk ke dalam gelombang dahsyat paling menggiurkan. Terjebak di sana selama mungkin tanpa ada keinginan untuk membebaskan diri. Menggetarkan sukma dan relung hati terdalam dengan berjuta keindahan tak terbantahkan. Sem pur na. Ia benar-benar expert untuk hal seperti ini.
Right man in the right time and the right place.
"Luar biasa." Ia meraih Pocut agar berbaring dalam rengkuhan lengannya. Sangat berharap semua keindahan ini bisa terus terulang di sepanjang sisa hidup mereka. Pasti akan sangat menyenangkan dan membahagiakan. Seolah dunia dan seisinya telah berada dalam genggaman.
Ia menghapus titik keringat yang membasahi dahi Pocut sambil berbisik dengan suara serak. "Mikirin apa?"
Pocut menengadah dan menatapnya. Raut menawan itu terlihat merah padam dengan napas tersengal. "Masih belum bisa napas."
Ia terkekeh dengan hidung mengembang sambil terus menghapus titik-titik keringat di sepanjang dahi Pocut. "Jangan ditahan napasnya. Lepas."
Pocut terdiam dan memejamkan mata. Terlihat masih berusaha keras mengatur napas agar kembali normal.
"Tidur," gumamnya ketika napas istrinya itu mulai beraturan. "Biar nggak kecapekan. Sore kita jalan."
Pocut terdengar mendesah. "Sebentar lagi dzuhur."
__ADS_1
"Nggak apa-apa."
Pocut menatapnya dengan kening mengernyit.
"Salatnya telat dikit juga nggak apa-apa."
Pocut semakin menatapnya tajam. "Kenapa Mas sering menganggap enteng hal-hal prinsip?"
Ia balas menatap Pocut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sembari ujung jari telunjuknya menelusuri garis pipi Pocut yang juga berkeringat.
"Tolong jangan seperti ini. Anak-anak membutuhkan seorang ayah yang bisa menjadi tauladan."
Ia mengusap titik keringat terakhir Pocut di dekat daun telinga. Mendengarkan Pocut berbicara tanpa ada keinginan untuk menjawab apalagi menyela. Membiarkan Pocut mengungkapkan isi hati tanpa harus merasa sungkan.
"Kita berdua itu seperti ...." Pocut terlihat mengingat-ingat sesuatu terlebih dahulu sebelum mengucapkan dengan kalimat terbata. "Si ga ra ning nya wa. Belahan jiwa. Saling melengkapi, saling me--"
"Saling menguatkan, saling memberi," sambungnya cepat. "Suami tak bisa hidup tanpa istri, istri tak bisa hidup tanpa suami."
"Mas tahu?" Pocut menatapnya terheran-heran.
"Itu nasehat legend mama," jawabnya seraya mengecup kening Pocut. "Iya, iya. Tahu sekarang. Nggak boleh meremehkan hal prinsip. Salat tepat waktu. Jangan lupa berdoa sebelum ...." Ia sengaja menggantung kalimat dengan wajah jenaka.
Benar saja, Pocut langsung mendesah sambil menatapnya tajam.
"Sebelum makan ... tidur ... bekerja. Gitu, kan maksudnya?" Ia tertawa dengan penuh kemenangan.
Pocut kembali mendesah namun tak lagi memberinya tatapan tajam.
"Udah. Katanya cape. Mending sekarang tidur. Apa mau dikerjain lagi?"
Kini Pocut bisa tertawa meski tak bersuara. Ia bisa mengetahuinya karena bahu Pocut bergerak halus naik turun.
"Nggak biasa tidur jam segini."
Jawaban lugas Pocut berhasil membuahkan ide cemerlang di kepalanya. Tentu sangat menjanjikan sekaligus luar biasa menyenangkan apabila bisa terwujud menjadi kenyataan. "Kalau gitu ... kita isi dengan hal yang bermanfaat."
***
Pocut
Tama sama sekali tak membiarkannya beristirahat. Dan ini sangat mengherankan. Karena ia hampir kehabisan napas setiap saat. Tak sanggup lagi mengimbangi gelora Tama yang seolah tak pernah habis.
"Kita bukannya mau ke Kepulauan Seribu?" Ia mencoba mengingatkan ketika sore ini Tama justru tidur-tiduran sambil menonton televisi.
"Lain waktu aja, lah." Tama menggeleng. "Kita ambil kadonya barengan sama anak-anak. Biar ngerasain naik yacht rame-rame."
"Memang kado dari Wisak dan Armand ada pilihan waktunya?"
Tama mengibaskan tangan. "Gampang itu. Bisa diatur."
"Ish." Ia mendesah tak percaya. Gaya boss Tama benar-benar tak bisa disembunyikan di sini. Menganggap semua bisa diatur sesuka hati.
"Kita santai di sini aja, lah. Pesan makanan. Aku lapar." Tama menepuk perut rata berotot kuat dan kencang dengan wajah memelas yang jelas sengaja dibuat-buat.
"Besok pagi-pagi mesti ke kantor sebentar," imbuh Tama sambil menguap malas.
"Mas nggak cape?" Tanyanya curiga. Karena Tama masih sanggup memikirkan urusan pekerjaan di masa cuti. Padahal mereka juga baru saja melakukan hal paling melelahkan (sekaligus menyenangkan).
"Casing boleh 40." Tama menyeringai. "Tapi kualitas mesin setara 25. Bisa di test drive lagi kalau nggak percaya."
***
Keterangan :
©. : dikutip dari tulisan ustadz Cahyadi Takariawan, Kompasiana.
Kiluan. : adalah teluk Kiluan. Wisata bahari di desa Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kab. Tanggamus, Lampung. Para wisatawan bisa menyaksikan kawanan lumba-lumba dan ikan paus di sekitaran teluk.
Tama mengatakan di percakapan, 4 jam perjalanan darat, itu adalah perjalanan dari Bandar Lampung ke Kiluan. Waktu dari Jakarta belum terhitung.
®. : Doa sebelum beribadah suami istri : Bismillah, Allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa.
Artinya: “Dengan (menyebut) nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”
__ADS_1
***