
Only Time Will Tell and Heal
(Hanya waktu yang akan menjawab dan menyembuhkan)
***
Jakarta
Pocut
Hari ini adalah ulangtahun dekgam Aran. Sejak jauh-jauh hari, Anjani sudah memberitahunya secara langsung saat sedang menginap di rumah mamak. Agar datang lebih awal bersama mamak dan anak-anak.
"Nggak usah repot-repot, Kak. Cukup datang bawa badan." Terang Anjani dengan mimik serius namun sembari tersenyum. "Kalau bisa dari pagi. Hehe ...."
"Semua udah beres sama temen-temen aku." Sambung Anjani saat ia bertanya, kira-kira masakan atau makanan seperti apa yang bisa mereka bawa. Apakah yang disukai anak-anak?
"Ini hanya sebagai ungkapan rasa syukur," lanjut Anjani lagi. "Nggak ada acara lain. Konsepnya juga cuma bermain bersama keluarga di sore hari."
"Biar kami membawa pulut kuning," sahut mamak yang sedang merajut di kursi.
Anjani memandanginya yang mengangguk. Kemudian ikut mengangguk. "Tapi ... jangan merepotkan ya, Mak."
Sejak jauh-jauh hari pula, mereka sibuk membahas tentang kado. Paling antusias dan bersemangat siapa lagi kalau bukan Sasa dan Umay. Dua anak itu bahkan membuat daftar mainan yang belum dimiliki dekgam.
"Mainan yang belum dekgam punya kok ... receh semua ya, Sa?" Umay mengamati tulisan dalam selembar kertas yang baru saja dibuatnya dengan wajah bingung.
"Masa iya kita mau ngado gasing, seruling, otok-otok, pletokan, peluit bambu?" Umay dan Sasa saling memandang dengan wajah yang semakin bingung. "Nggak keren banget."
Ia tersenyum karena semua mainan tradisional tersebut memang belum dimiliki oleh dekgam. Umay paling bisa mengingat-ingat sesuatu dengan tepat.
"Kenapa nggak keren?" Ia ikut nimbrung. "Itu mainan lucu semua. Dekgam pasti suka."
"Tapi kan murahan, Ma." Sela Umay. "Kalah keren sama mainan dekgam lain yang bagus-bagus trus mahal-mahal."
"Kalau ditambah truk kayu ... bagaimana?" Ia ikut menyumbang ide. Salah satu tetangga mereka ada yang menjadi perajin truk kayu untuk dijual di pasar-pasar.
Umay dan Sasa langsung terbelalak dengan wajah gembira.
"Truk kayu buatan cing Sapar?" Tebak Umay.
Ia mengangguk.
"Setuju!" Sasa langsung melonjak kegirangan. "Beli yang paling gede sama yang warnanya paling bagus. Nanti Sasa yang pilihin ya, Ma."
Dan selepas dzuhur, pak Cipto sudah datang menjemput. Namun tak menyangka, akan menjumpai pak Raka dan Shaina di teras samping rumah bu Niar. Ternyata ada tamu yang sudah datang lebih awal mendahului mereka.
"Sasa!" Pak Raka berseru riang. "Main sama Shaina, Sa!"
Sasa yang menghampiri pak Raka untuk memberi salam langsung mengangguk dan menghampiri Shaina. "Shaina lagi gambar apa? Bagus banget."
Dan pak Raka sama sekali tak memberinya kesempatan untuk menghindar ataupun menjauh.
"Orang itu sudah datang, Pocut?" Bisik pak Raka dengan wajah jenaka. "Waktu hampir habis. Apa pemenang sudah bisa ditentukan sekarang?"
Ia hanya bisa menelan ludah dengan gelisah. Untung saja Anjani menarik tangannya agar masuk ke dalam rumah. Mengajaknya memeriksa goodie bag yang akan dibagikan kepada para tetangga di kampung Koneng.
"Segini cukup nggak, Kak? Kalau kurang biar teh Cucun sama bi Enok packing lagi."
Ia memandangi tumpukan goodie bag dengan kening mengerut. "Anjani mau bagi untuk orang sekampung?"
Anjani tertawa riang. "Cukup berarti ya, Kak? Aku takutnya malah kurang."
Namun Anjani kembali disibukkan oleh hal lain.
"Kakak sama mamak duduk aja. Nggak boleh ngapa-ngapain." Anjani berkali-kali memperingatkannya.
Ia akhirnya memilih duduk di teras samping. Tempat diadakannya acara. Terlihat sudah diatur sedemikian rupa dengan sejumlah tenda kecil, bean bag yang berjajar, lengkap dengan seekor domba berbulu lebat di salah satu sudut.
"Temanya safari, Kak." Seloroh Anjani ketika ia menanyakan mengapa ada domba segala. "Dan itu bukan domba. Tapi biri-biri. Pinjam dari koleksi binatang punyanya papa temen aku."
Dan ia semakin terkejut ketika mendapati kucing, kelinci, kura-kura, dan hamster di sudut lain.
"Anja paling bisa nih bikin acara kayak gini." Satu kekehan mampir di telinganya.
Pak Raka lagi.
Menjelang sore, sejumlah kerabat mulai berdatangan. Sebagian besar membawa balita dan anak-anak sepantaran Sasa. Namun yang paling tak disangka adalah ... mendapati sesosok wanita cantik yang disambut oleh bu Niar dan langsung masuk ke ruang dalam.
Kinanti.
"Kayaknya ... ada yang mau balikan, nih," gumam pak Raka meski tak ada yang bertanya. "Si Tama sampai jual saham segala buat menuhin permintaan Kinan."
Ia langsung menoleh.
"Kenapa kaget begitu?" Pak Raka tertawa. "Itulah arti cinta yang sesungguhnya. Seperti perasaan saya ke kamu."
Ia merasa jengah karena sedari tadi pak Raka selalu mengatakan hal-hal yang membuatnya kurang nyaman. Namun yang paling mengejutkan tentu saja selorohan pak Raka tentang Tama dan Kinanti. Sampai menjual saham?
Dan ia semakin tak bisa berpikir ketika jelang petang, sosok Tama tiba-tiba muncul dan berjalan melintasi halaman samping. Masih memakai seragam resmi dengan raut wajah letih. Ia langsung menunduk saat sebagian besar tamu menyambut dan menyapa Tama. Berusaha menyibukkan diri dengan ponsel di tangan.
Tapi ....
2 pesan diterima.
Kakak Anjani.
Ia memandang lurus ke depan. Tepat di mana Tama juga sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum.
Kakak Anjani : 'Belum bisa menyapa.'
Kakak Anjani : 'Apa nggak ada pilihan kursi lain yang membuatku tenang?'
Ia langsung menunduk namun tak membalas pesan. Memilih untuk bangkit dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Lho, mau ke mana, Cut?" Pak Raka keheranan.
"Saya lihat anak-anak dulu," jawabnya sambil menunjuk Sasa dan Shaina yang sedang asyik mengejar kelinci bersama anak-anak yang lain.
"Ah, lagi asyik mereka. Di sini saja temani saya ngobrol."
Tapi ia tetap beranjak setelah mengangguk untuk bersopan santun. "Maaf."
Begitu ia mendekati anak-anak yang sedang mengelus-elus kelinci gemuk yang berbulu putih bersih, ponselnya kembali bergetar.
2 pesan diterima.
Kakak Anjani.
"Mama ... Mama ... kelincinya lucuuu." Sasa berteriak sambil tertawa ke arahnya. "Kita pelihara kelinci ya, Ma. Boleh?"
Ia hanya melempar senyum untuk menjawab rengekan Sasa. Lalu segera membuka pesan dan membacanya.
Kakak Anjani : 'Terimakasih 😊."
Kakak Anjani : 'Tetap di sana sampai aku kembali.'
Dari tempatnya berdiri terlihat jelas jika Tama sedang melangkah masuk ke dalam rumah. Langsung disambut oleh pelukan bu Niar di depan pintu. Kemudian berjalan beriringan menuju ruang dalam.
***
Kinanti
Rencana kepindahan ke Stockholm sudah jauh-jauh hari direncanakan. Namun belum sempat dibicarakan dengan Reka. Sebab ia tahu jika Reka pasti akan menolak mentah-mentah. Jujur saja, ia tak menyukai penolakan. Bahkan sangat membencinya.
Ia bisa hilang kendali jika Reka menolak rencana yang sudah disusunnya matang-matang. Ia tak ingin ini terjadi. Tak ingin membuat Reka ketakutan karena mengetahui keadaan diri yang sebenarnya.
Ia memang sudah mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Ia juga sudah melakukan sejumlah terapi. Namun sangat terlambat. Karena lukanya terlalu dalam dan lama. Butuh puluhan bahkan ratusan kali terapi untuk memulihkannya kembali.
Mungkin semua orang akan menyalahkannya. Menyudutkannya karena telah berlaku egois. Tak memiliki rasa keibuan sama sekali. Selalu membuat keputusan sepihak tanpa memikirkan perasaan anak.
Sayangnya semua pendapat itu keliru. Ia tak sedang berlaku egois. Justru melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Karena dengan begini, ia tak perlu menunjukkan kelemahan dan rasa sakit di hadapan Reka. Biarlah orang menganggapnya ibu durhaka. Tapi yang pasti, ia melakukannya untuk kebaikan Reka.
Tak pernah lekang dari ingatan, satu kejadian yang membuatnya bertekad untuk membatasi diri. Kala itu Reka baru genap berusia tiga bulan. Ia sedang disibukkan dengan pendidikan spesialis. Sementara mas Tama tinggal terpisah karena sedang ditugaskan di Songgon, Banyuwangi.
Siang itu entah mengapa, ia tiba-tiba begitu lelah. Rasanya tak tertahankan sampai-sampai ketika Reka menjerit meminta ASI, ia justru mencubit pipi Reka hingga berbekas dan memerah.
"Diam!" Bentaknya pada bayi mungil yang menurut pandangan matanya menjadi sangat mirip dengan bapak. Sosok yang paling dibencinya. Padahal semua orang berkata, bahwa Reka adalah reinkarnasi mas Tama. Jauh berbeda dengan tipikal wajah yang dimiliki bapak.
Saat itu juga ia langsung menulis di dalam buku diary. Hari pertama marah, mencubit, dan membenci Reka.
Ia merasa sangat menyesal dan bertekad untuk memperbaikinya. Tapi janji hanyalah janji. Sikapnya tak kunjung membaik. Di luar kesadaran diri mengulang kembali kesalahan yang sama. Di kala lelah mendera tak tertahankan, ia akan melampiaskan kemarahan pada Reka.
Dan ia baru tersadar ketika Reka berusia dua tahun. Sudah lancar berbicara dan sedang lucu-lucunya. Tampan persis seperti sang ayah. Namun hari itu ia teramat lelah. Ingin sendiri tanpa gangguan apapun. Jadi ketika Reka terus menggelayut manja sambil memainkan mobil-mobilan favorit, di luar kendali ia merebut mainan dari tangan Reka. Lalu melemparkannya menghantam dinding hingga jatuh berkeping-keping. Mobil-mobilan favorit Reka hadiah dari mas Tama pecah dan jatuh berserakan menjadi bagian terkecil.
Sepasang mata jernih yang polos langsung memandanginya sambil berkaca-kaca. "Bunda ... kenapa mobil-mobilan Reka dirusak? Mobil-mobilan Reka. Mobil-mobilan Reka."
Airmatanya langsung menganak sungai. Ibu yang memergoki mainan Reka hancur hanya bisa melongo. Detik itu juga ia masuk ke dalam kamar dan mengunci diri hingga petang. Bergeming meski Reka berulangkali mengetuk pintu sambil menangis memanggil-manggil namanya.
Ia kembali menulis di buku diary dengan air mata berlinang. Kali pertama membanting mainan Reka hingga hancur. Dan ia semakin merasa bersalah ketika melihat daftar kesalahan di dalam buku diary ternyata sudah begitu panjang dan penuh.
Ia menyesal. Amat sangat menyesal. Ia ingin berubah. Tak mau mengulang kesalahan yang sama. Tapi semakin ia berniat untuk berubah, semakin pula melakukan hal di luar nalar yang menyakiti Reka.
Mas Tama tak pernah mengetahui hal ini. Bahkan sampai sekarang, belasan tahun kemudian. Ibu, meski mereka tinggal serumah, juga tak mengetahui perilakunya. Selama ini ibu menganggap jika ia hanya sedang kelelahan. Begitu juga dengan Miko. Mungkin Miko menjadi satu-satunya orang yang sering memergoki perilaku janggalnya terhadap Reka. Namun Miko tak pernah membuka aibnya kepada siapapun. Miko diam seribu bahasa.
Reka tumbuh besar dengan melihat rasa sakitnya. Namun Reka selalu memaafkan. Reka bahkan selalu memeluknya tiap kali ia berubah menjadi orang lain. Reka seolah memiliki stok kata maaf seluas samudera.
"Maafin Reka ya, Bun, karena nakal. Bunda jangan sedih. Reka nggak akan nakal lagi."
Hampir setiap malam ia menangis seorang diri. Berharap Reka tak pernah mengingat semua perbuatan buruk yang pernah dilakukannya. Sangat menyesali sikap bodohnya dan bertekad kuat ingin berubah.
Namun rasanya sulit sekali. Tiap kali kelelahan mendera, ingatannya akan kembali melayang pada rasa sakit dan kebencian di masa lalu. Kemudian melampiaskannya pada Reka. Begitu terus berulang tak ada ujung pangkal.
Hingga ia merasa lelah. Sebab tak memiliki kekuasaan terhadap diri. Seperti ada kekuatan lain yang menggerakkannya kembali melakukan hal buruk terhadap Reka.
Buruk.
Bodoh.
Dan sangat dibencinya.
Namun tak berdaya untuk mengubah diri.
Kebencian itu akan selalu muncul dan mengambil alih kesadarannya tanpa permisi.
Sampai kemudian Reka terus bertumbuh. Semakin lama kian menyadari keganjilan perilakunya. Tak lagi bisa dibohongi dengan alasan lelah. Mulai sering bertanya,
"Mengapa Bunda menangis?"
"Mengapa Bunda sering marah-marah?"
"Mengapa Bunda selalu bersedih?"
Ia pernah berpikir. Satu-satunya cara untuk lepas dari hal mengerikan ini adalah berkumpul kembali bersama mas Tama yang baru. Bukan mas Tama berseragam cokelat yang membuat hatinya selalu merasa ketakutan dan berkeringat dingin.
Tapi mas Tama menolak. Mas Tama lebih memilih pekerjaan dibandingkan dirinya. Menjadi satu hal paling menyakitkan dalam hidup. Setelah trauma masa kecil yang berkepanjangan. Kini suami sendiri menolaknya.
Itulah mengapa ia sangat membenci penolakan. Sebab akan mengingatkannya kembali pada masa di mana orang yang paling dicintai tak menginginkannya. Lebih memilih karier daripada cintanya.
Dan sikap buruk tak terkendali kembali menuntunnya untuk mengancam mas Tama perihal tentang perpisahan. Namun satu-satunya pria yang pernah dicintainya itu bergeming. Tetap mempertahankan tali pernikahan meski dipenuhi bara.
Sampai sebuah kekuatan sebab tumpukan penyesalan mendorongnya untuk bertekad. Takkan lagi menyakiti Reka namun dengan cara yang tak kalah menyakitkan. Menjaga jarak.
Ia harus memberi ruang di antara mereka berdua. Dengan tak melibatkan Reka dalam kehidupannya. Hanya ingin hubungan mereka baik-baik saja. Tak lagi lepas kendali seperti sebelumnya.
Keputusan ekstremnya berbuah manis. Sejak Reka duduk di bangku taman kanak-kanak, ia tak lagi memperlihatkan perilaku ganjil penuh emosional. Sebab telah menyerahkan bimbingan dan pendidikan sepenuhnya pada almarhumah ibu. Ia hanya tahu tentang pemenuhan kebutuhan fasilitas nomor wahid untuk Reka. Melimpahi dengan materi tak terbatas.
Ia bisa merasa sedikit lega. Tak lagi memanggul beban berat rasa bersalah terhadap Reka. Meski itu berarti ia sedang menyakiti diri sendiri. Karena merasa jauh dengan Reka. Ingin memeluk namun terasa hampa. Ingin mendekat tapi takut kembali melukai. Semua menjadi serba salah.
__ADS_1
Ditambah kualitas komunikasi dengan mas Tama yang terjun bebas ke titik nadir. Ia benar-benar merasa seorang diri. Ternggelam lalu terbenam dalam lumpur hisap hitam pekat berupa rasa sakit, kekecewaan, trauma masa lalu, perasaan tertolak.
Ia tak tahu harus bagaimana dan melakukan apa untuk menyelamatkan diri. Sampai akhirnya mas Pram hadir membawa secercah cahaya harapan.
Sampai detik ini.
Tak bisa berbalik lagi.
Apalagi mengulang kembali.
Ia ingin menjadi seseorang yang baru. Lepas dari bayang-bayang masa lalu. Demi kebaikan orang-orang yang dicintainya. Terutama Reka.
Ia ingin hubungan mereka semakin dalam dan penuh makna. Seperti layaknya hubungan antara ibu dan anak yang membahagiakan.
Dan Stockholm menjadi pilihan sulit yang mau tak mau harus diambil. Demi masa depan yang lebih baik. Demi kesehatan jiwanya dan orang-orang tercinta di sekitar.
Hingga ketika Reka berbicara dengan wajah murung di ruang perpustakaan almarhum papa mertuanya. "Aku masih marah sama Bunda. Aku juga marah sama Ayah."
"Tapi udah paham ... kenapa ayah bunda nggak bisa sama-sama lagi." Reka menunduk dalam-dalam. "Aku nggak akan maksa."
Ia bernapas lega. Karena Reka akhirnya bisa berlapang dada menerima perpisahannya dengan mas Tama.
"Bunda nikah aja sama pakde Pram. Aku bisa ngerti."
Ia menghela napas panjang. Sementara mas Tama memijat pelipis. Tanda jika sosok pria yang sejatinya masih tersimpan rapi di hati itu sedang merasa pusing tujuh keliling.
"Tapi nggak mau ke Stockholm."
***
Reka
Ulangtahun Aran berlangsung meriah. Tante Anja dan om Cakra benar-benar jago membuat acara yang menarik dan mengasyikkan. Hingga ia bisa melupakan amarah meski sejenak.
Ia bahkan ikut tertawa ketika melihat anak-anak kecil berteriak kegirangan dan berlarian ke sana kemari mengejar kelinci yang terus melompat. Lalu tersenyum-senyum saat beberapa anak mengerumuni biri-biri dengan wajah kagum.
Semalam, ia mendengar semua yang dibicarakan oleh ayah dan pakde Pram. Ternyata sangat mengejutkan. Pakde Pram yang selama ini selalu bertutur lembut tak lebih dari pria menyebalkan yang memupus harapan ayah bunda bisa bersama lagi.
Jadi, meski belum sepenuhnya menyukai ayah. Namun ucapan pakde Pram membuat hatinya ikut merasa sakit. Sebab bagaimanapun juga, ayah tetaplah ayah baginya. Ia tentu lebih memilih ayah daripada harus bersama orang lain seperti pakde Pram.
Dan lemparan gelas ke dinding berhasil memperlihatkan puncak rasa marah ayah yang baru kali ini diketahuinya.
Ya sudahlah. Kalau semua harus berakhir di sini. Ayah bunda benar-benar tak lagi bisa bersama. Anak-anak seperti dirinya tak mampu berbuat apa-apa untuk mengubah keputusan orangtua bukan? Hanya bisa berharap semoga bunda lebih bahagia meski tak lagi bersama ayah.
Lalu ayah? Apakah ia berharap ayah juga bahagia?
Mungkin jawaban bisa diperoleh dari sosok anak laki-laki kurus berwajah murung yang sedari tadi dilihatnya sedang menyendiri di pinggir kolam renang, Icad.
"Gimana temen kamu?"
Icad terkejut dan menoleh. Namun kembali menunduk memandangi air di dalam kolam renang.
"Belum ketemu lagi," jawab Icad beberapa menit kemudian, ketika ia merasa bosan dan hampir beranjak pergi.
"Apa kita ... membenci orang yang sama?" Ia bersikap to the point, karena sepertinya Icad sedang malas untuk diajak bicara.
Icad kembali menoleh dengan kening mengkerut. "Kamu benci sama ayah kamu sendiri?"
Ia mengangkat bahu. "Kamu? Benci sama ayah aku juga, kan?"
Icad mengalihkan pandangan ke tempat anak-anak kecil sedang mengusap-usap punggung kura-kura. "Sejelek-jeleknya ayah kita, lebih enak kalau masih ada orangnya. Setiap hari bisa ketemu dan ngobrol."
Kini gantian ia yang mengernyit.
"Kalaupun lagi kesel, masih bisa lihat wajahnya." Icad kembali menunduk. "Karena kalau udah nggak ada, kita nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Kangen tapi nggak bisa ketemu. Nggak enak."
Sejak kecil, ia jarang bertemu dengan ayah. Tak ada bedanya dengan ditinggal mati, bukan? Justru lebih menyakitkan. Masih ada sosok ayah tapi seperti tak memiliki ayah.
"Ayahku emang masih ada. Tapi selama ini udah kayak ditinggal mati aja," gumamnya enteng.
Icad kembali mengkerut. "Kamu masih punya ayah tapi nggak pernah bersyukur."
Ia menggeram marah karena dituduh tak bisa bersyukur. "Enak aja! Itu karena ayahku sendiri yang ngeselin!"
Icad memandangnya dengan wajah datar. "Percuma ngomong sama orang yang nggak paham."
Ia mendecak kesal. Ingin segera mengakhiri obrolan unfaedah ini. "Tapi kamu nggak suka sama ayah aku. Kenapa? Apa karena ayah aku suka sama ibu kamu?"
Icad menggerutu. "Itu beda urusan."
Ia mendesis sebal. "Intinya sama kan, nggak suka?" Lalu beranjak pergi.
"Tapi kamu harus tahu," seru Icad ketika ia sudah berjalan menjauh. Sedang meraih kucing yang kebetulan melintas di depannya.
"Ayah kamu orang baik," sambung Icad lagi.
Membuatnya semakin bersungut-sungut. "Emang! Baru tahu?"
Ia berjalan cepat menuju keramaian. Sambil menggendong kucing gemuk berbulu halus dan lembut. Melewati sejumlah anak-anak kecil yang sedang mengelilingi hamster.
"Mas Reka!" Seseorang meneriakkan namanya. "Hamsternya kabur satu. Hihihi ... tolong tangkapin, lah!"
Ia mengernyit melihat gadis cilik yang melompat-lompat kegirangan sambil melambaikan tangan ke arahnya.
"Ini ... hamsternya masuk ke semak-semak!"
Ia menengok ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya melepaskan kucing. Kemudian berjalan mendekat untuk mencari hamster yang kabur.
"Mas Reka! Masih ingat Sasa, kan?" Seru gadis cilik yang barusan memanggilnya sambil tetawa cekikikan.
Mungkin ... sekarang ia sudah tahu jawabannya.
***
__ADS_1