Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 78. We're Such A Happy Family


__ADS_3

We're Such A Happy Family


(Kita seperti keluarga bahagia)


***


Jakarta


Pocut


"Saya ... merasa kurang enak dengan pak Raka karena ...." Ia mengembuskan napas panjang tak mampu melanjutkan kalimat.


"Nggak usah khawatir. Semua beres," ujar Tama usai menyesap teh tawar buatannya. "Mmm ... segar. Teh apa ini?"


Ia menggeleng sekaligus tertawa melihat reaksi berlebih Tama. Tentu saja itu teh sejuta umat, teh sariharum. Dibeli dalam kemasan sachet seharga seribu rupiah dari warung bah Sunar kemarin. Ekspresi takjub Tama benar-benar menggelikan.


"Tolong sediakan teh seperti ini di rumah kita nanti," sambung Tama seraya mengu lum senyum. "Aku ingin meminumnya setiap hari asal kamu yang buat."


Ia kembali menggeleng dan tertawa mendengar gurauan Tama. "Kalau orang lain mendengar bisa ...." Ia tak kuasa menuntaskan kalimat karena keburu tertawa lagi.


Tapi Tama malah tersenyum-senyum penuh arti. "Aku nggak punya urusan sama orang lain. Urusanku cuma sama kamu."


"Salamlekom!" Teriakan Umay berhasil menghentikan tawanya. Menunduk malu sambil berpura-pura sibuk memilin ujung jilbab untuk menutupi rasa gugup.


"Udah diantar semua, Ma," lapor Umay. Sementara Icad yang mengucapkan salam dengan suara lirih langsung berjalan menuju dapur dengan langkah tergesa.


"Makasih, May. Itu apa?" Ia menunjuk piring tertutup kertas nasi yang sedang dipegang Umay.


"Oh, ini ... dari cing Weny. Balasan buat kue mahal katanya." Umay membuka kertas nasi sedikit untuk mengintip isinya. "Tahu baso. Aku makan ya, Ma?"


Ia mengangguk.


"Mas sudah bertemu dengan pak Raka?" Tanyanya begitu Umay menghilang di balik pintu dapur.


Tama mengangguk. "Tadi sebelum ke sini."


"Sepertinya, saya harus meminta maaf pada pak Raka karena ...." Ia menunduk sambil mempermainkan ujung jilbab.


"Nggak perlu." Tama mengibaskan tangan. "Kamu nggak salah."


"Tapi rasanya kurang etis karena saya ...."


Tama memandangnya. "Semua beres. Kita nggak perlu bahas lagi. Aku ke sini mau ketemu sama kamu dan membahas tentang kita. Bukan yang lain."


Ia sontak menunduk. Tak mampu berlama-lama melawan tatapan tajam Tama. "Maaf ... saya ...."


"Kamu nggak usah pusing mikirin hal-hal begini. Kamu cukup memikirkan lima hal." Tama masih menatapnya.


Ia menatap Tama tak mengerti.


"Satu, memikirkan anak-anak," Tama tersenyum dengan kilatan menggoda. "Kedua memikirkan aku, aku, aku lalu kita. Pas lima hal."


Ia lagi-lagi tak kuasa menahan tawa.


"Mama kenapa ih ketawa-tawa terus ... kayaknya seneng banget?" Suara riang Sasa membuatnya terkejut. Sasa yang sudah memakai baju tidur dan dioles lotion anti nyamuk oleh mamak berjalan mendekat sambil memeluk Sparkle.


"Mama kenapa, Om?" Sasa berdiri di hadapan mereka dengan mata terpicing. "Sasa dengar dari kamar mandi ... dari tadi mama ketawa-tawa terus. Hihihi ...."


Tama meminta Sasa untuk mendekat. Kemudian mengangkat tubuh mungil Sasa dan mendudukkannya di pangkuan. "Sasa seneng nggak lihat mama ketawa-tawa terus?"


Sasa mengangguk-angguk. "Seneng."


"Kalau gitu ...." Tama bersikap misterius dengan menjeda kalimat. "Sasa mau bantu Om nggak?"


Sasa kembali mengangguk. Kali ini lebih bersemangat. "Bantu apa?"


"Kita buat mama ketawa-tawa setiap hari. Setuju?" Tama mengulurkan tangan untuk mengadu kepalan dengan Sasa. "Toss dulu dong kalau setuju."


Sambil cekikikan Sasa membalas ajakan toss Tama. Disambung obrolan sukaria Sasa yang menceritakan semua hal remeh pada Tama tanpa kecuali. Dan Tama mendengarkan dengan penuh minat sambil sesekali bertanya lalu tertawa.


Entahlah, namun suasana di ruang tamu terasa lebih hangat dan menenteramkan. Dadanya bahkan hampir meluap dipenuhi buncahan suka cita kala mendengar celotehan Sasa dan tawa renyah Tama.


Namun suara detak jam dinding yang cukup keras berhasil mengembalikan kesadarannya bahwa hari sudah larut, pukul 21.20 WIB. Tak elok jika Tama masih bertamu di waktu yang tak lazim seperti sekarang ini.


"Sekarang sudah malam," ucapnya sambil bangkit. Ketika Sasa sedang heboh menceritakan ejekan teman-temannya tentang jari yang diamputasi.


"Sebaiknya Mas pulang," sambungnya sambil melihat ke arah pintu keluar. "Sebentar lagi ronda keliling lewat. Kalau orang-orang melihat Mas masih bertamu di waktu yang selarut ini ...."


Tapi Tama memberi isyarat, memintanya untuk menunggu, sambil terus mendengarkan cerita menggebu Sasa tentang hilangnya seruas jari.


"Yang hilang satu dan segini." Tama memperlihatkan panjang ruas jari Sasa yang hilang. "Tapi yang masih utuh lebih banyak. Ada satu, dua, tiga ...." Tama mulai menghitung jumlah jari Sasa.


"Sembilan." Tama tersenyum. "Masa satu yang nggak ada malah ngalahin sembilan yang masih utuh?" Kemudian menyentil ujung hidung Sasa.


"Oh iya, ya." Bola mata Sasa mendadak berbinar cerah. "Kenapa harus sedih gara-gara yang nggak ada ya, Om?"


Tama mengangguk. "Sekarang ... Sasa main dulu. Om mau bicara sama mama."


Sasa turun dari pangkuan Tama dengan sukarela. "Pasti mau bikin Mama ketawa-tawa lagi yaaa. Hihihi ...." Lalu berlari sambil melompat mencari dua kakaknya. "Abang? Di mana?"


"Sudah malam," ulangnya sambil menunjuk jam dinding.


Tama meraih cangkir berisi teh tawar kemudian menyesapnya. "Berani ngusir calon suami?"


Ia memutar bola mata sambil tersenyum. "Iya."


Tama tertawa. "Pinjam buku."


"Apa?" Ia tak mengerti.


"Pinjam buku atau kertas selembar," ujar Tama sambil melihat pergelangan tangan kanan. "Lima menit cukup. Oya, sama bolpen sekalian."


Ia bergegas masuk ke dalam kamar. Mencari-cari kertas atau buku yang lembarannya masih kosong.


"Bang, punya buku kosong nggak?" Tanyanya pada Icad yang sedang tidur-tiduran sambil mengobrol dengan Umay, Sasa, dan mamak di kamar belakang. "Mama pinjam."


Icad beranjak keluar kamar menuju bufet yang berada di ruang tamu. Menarik sebuah buku yang belum tersampul dari dalam tumpukan.


Ia menerima buku dari tangan Icad sambil tersenyum. "Makasih, Bang."


Icad langsung kembali ke kamar belakang dan ia menyerahkan buku pemberian Icad yang ternyata masih kosong kepada Tama.


"Bolpen?" Tama mengingatkan.


"Oh." Ia terlupa. "Sebentar ...." Ujarnya sambil berlalu ke dalam kamar untuk mengambil bolpen.


"Makasih." Tama menerima bolpen dan mulai menulis.

__ADS_1


"Ada yang penting?" Tanyanya ingin tahu.


"Syarat administratif," jawab Tama dengan kepala menunduk terus menulis.


"Tolong kamu siapkan. Hari senin ada orang suruhanku yang ambil ke sini. Bisa Agus, bisa Devano, atau yang lain. Nanti kukabari," terang Tama panjang lebar sambil membuka lembar kedua dan kembali menulis di sana.


"Aku ingin kita secepatnya menikah," gumam Tama.


Ia menghela napas panjang. Di acara pinangan tadi, memang belum disepakati waktu pernikahan karena ketidakhadiran Tama. Hanya tercetus waktu sekitar satu sampai dua bulan ke depan.


"Tama akan menempuh pendidikan," ucapan bu Niar membuatnya terkejut. "Sebaiknya, pernikahan dilakukan secepatnya. Karena niat baik harus disegerakan."


"Mas mau pendidikan?" Ia memberanikan diri untuk bertanya.


Tama mendongak. "Ya. Makanya kita harus cepat." Lalu tersenyum. "Berpacu dengan waktu."


"Kapan?"


"Sekitar ... dua bulanan lagi. Atau malah nggak sampai," jawab Tama yang kembali menulis.


"Berapa lama?"


"Enam sampai tujuh bulan." Dengan gerakan cepat tiba-tiba Tama menatapnya sambil tersenyum simpul. "Kenapa? Merasa kehilangan? Belum juga berangkat."


Ia menggeleng seraya tersenyum. Enam sampai tujuh bulan bukanlah waktu yang lama. Ia sudah terbiasa ditinggal bertahun-tahun oleh bang Is. Jadi, ini bukan masalah besar.


"Kamu baca dan pelajari." Tama menyerahkan buku dan bolpen padanya. "Kalau ada yang nggak jelas langsung tanyakan."


Ia mengangguk lalu bangkit karena mengira Tama hendak pulang. "Saya panggilkan mamak ...."


"Tunggu," Tama meraih tangannya namun ia berusaha untuk menghindar meski gagal. Karena Tama bergerak lebih cepat.


"Besok jadwalku kosong. Gimana kalau kita keluar?"


Ia memandangi tangan yang sedang dicengkeram erat oleh Tama dengan perasaan jengah. Meski terhalang oleh kain blouse yang dikenakan. Namun genggaman hangat telapak tangan Tama tak ayal membuat dadanya berdegup kencang dengan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuh.


"Maaf." Rupanya Tama mengerti ketidaknyamanan yang dirasakannya dan melepaskan genggaman. "Aku, kamu, anak-anak. Termasuk ibu mertua kamu."


Ia tahu, cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi. Membangun kebersamaan di antara mereka untuk mengurangi kecanggungan. Apalagi, ia belum pernah berbicara banyak dengan Reka. Baru sekali mengobrol ketika berada di meja makan rumah bu Niar beberapa waktu lalu. Itupun hanya sekilas sekedar berbasa-basi. Jauh berbeda dengan Tama yang sudah lebih dulu mengenal akrab ketiga anaknya.


Tama tersenyum lega melihatnya mengangguk. "Kamu mau kita pergi ke mana?"


Ia jelas tak memiliki ide tempat yang menyenangkan. "Terserah Mas."


Tama mengangguk. "Kita ... jalan dan makan. Sekalian ambil pasfoto. Jam sepuluh?"


Ia menyetujuinya. "Jam sepuluh."


Begitu Tama pamit pulang, ia langsung meminta izin pada mamak jika besok mereka akan pergi.


"Manfaatkan waktu sebaik mungkin," Mamak mengusap lengannya perlahan. "Bicarakan semua hal yang perlu dibicarakan. Selama ini ... kalian belum terlalu saling mengenal."


Ia mengerti. Mulai besok, ia akan membicarakan banyak hal dengan Tama. Tentang bagaimana mereka akan menjalani masa depan bersama, tentang kekurangan yang dimilikinya, tentang anak-anak, tentang semuanya.


"Mamak ikut, kan?"


Tapi mamak tersenyum seraya menggeleng. "Mamak jaga rumah."


Ia terus membujuk. "Kapan lagi kita pergi bersama."


Namun mamak tetap menolak. Sembari tersenyum dan menggenggam tangannya. "Ini acara pertama kalian berdua dengan anak-anak. Bersenang-senanglah. Tak perlu memikirkan nenek tua ini."


Wiratama Yuda.


Pocut Halimatussadiah.


Gemintang Rekata Yuda.


Teuku Risyad Ishak.


Teuku Umair Ishak.


Cut Rumaisha Ishak.


Ia tersenyum-senyum sendiri membaca baris pertama yang menuliskan nama mereka berenam. Kemudian di bawahnya tertera sejumlah daftar persyaratan.


1. Syarat menikah


KTP


KK


....


2. Syarat menikah dinas


....


Ijazah terakhir


Pasfoto berdua


....


3. Syarat membuat paspor (skip kalau sudah punya)


....


Akta lahir


Ijazah


....


4. Syarat membuat paspor anak-anak (skip kalau sudah punya)


....


Akta lahir


Buku nikah orangtua


....


Keningnya mengerut membaca dua nomor terakhir. Membuat paspor? Untuk apa? Namun ia baru bisa menanyakannya esok hari.


"Jalan jalan?" Mata Sasa yang awalnya masih mengantuk karena baru bangun tidur tiba-tiba membola dengan girangnya. "Mau. Mau. Mau. Jalan-jalan sama Om, kan?"

__ADS_1


"Abangngng!" Sasa bahkan langsung beringsut dari tempat tidur dan berlari mencari kakak-kakaknya. "Kita mau pergi. Asyiiiiik!"


"Mama mau minta sesuatu ke Abang," ujarnya pada Icad. Sebab khawatir Icad akan menolak rencana hari ini.


Icad memandangnya. "Pergi sama Om?"


Ia mengangguk. "Abang ikut, ya."


Icad tak menjawab. Hanya memberikan anggukan dan bergumam sambil lalu. "Mandi dulu."


Alhamdulillah. Ia bisa sedikit bernapas lega.


Sekitar pukul sepuluh kurang lima menit, Tama dan Reka datang menjemput. Sepanjang jalan melewati gang, ia melangkah tergesa sambil menggandeng tangan Sasa. Sementara Tama menyusul di belakangnya mengobrol dengan anak-anak.


Namun dari suara yang terdengar, rupanya Tama tak sedang mengobrol dengan anak-anak, tapi Umay seorang. Karena Icad dan Reka ternyata berjalan di baris paling belakang sembari saling berdiam diri.


Meski begitu, obrolan Tama dan Umay tetaplah seru dan menyenangkan. Ditambah celetukan Sasa yang berkali-kali melepas genggaman tangannya hanya untuk menimpali candaan Tama dan Umay.


"Kita antar Mas Reka dulu, ya," ujar Tama sambil melajukan kemudi. "Nanti kita makannya di dekat sana. Biar sekali jalan."


Ia menoleh sambil berbisik. "Reka tak ikut bersama kita?"


Tama menggeleng balas berbisik. "Ada janji katanya."


"Dengan?" Ia mengernyit.


Tama mengangkat bahu. "Teman dari Surabaya."


Ia mengangguk mengerti.


Tama mengedipkan sebelah mata padanya. "Tenang aja, kita pelan-pelan ... nanti lama-lama juga mau gabung sama kita."


Ia menelan ludah lalu tersenyum. Merasa lucu karena mereka berdua sedari tadi saling berbisik. Padahal bicara normal juga tak apa. Karena anak-anak di belakang sedang bercanda riuh rendah.


Sekali lagi bukan anak-anak. Karena hanya Sasa dan Umay yang sedang heboh bermain tebak-tebakan. Sementara Icad dan Reka duduk di jok paling belakang sambil tetap berdiam diri.


"Mas Reka nggak ikut, kenapa?" Tanya Sasa sambil duduk menghadap ke belakang. "Kita kan mau pergi rame-rame?"


Tanpa sadar ia dan Tama saling berpandangan dan melempar senyum.


"Little princess lagi beraksi," bisikan Tama membuatnya hampir tertawa. "Kita lihat ... sukses bujuk masnya nggak."


Ia terus saja tersenyum menahan tawa.


"Mo pergi," jawab Reka singkat cenderung ketus.


"Pergi ke mana? Nggak bareng sama Sasa?"


"Aku suka ... aku suka ...." Gumam Tama seraya mengerling ke arahnya.


Lagi-lagi ia tersenyum.


"Nggak. Udah janjian sama temen." Reka kembali menjawab singkat.


"Yaaah ... Mas Reka nggak asyik, ah." Keluh Sasa yang kembali duduk menghadap ke depan. "Kenapa milih pergi sama teman padahal kita semua juga lagi jalan-jalan."


"Kita main tebak-tebakan lagi yuk, Sa." Umay memang selalu membuat suasana menjadi lebih hidup.


"Ada bebek 10 dikali 2, jadi berapa?" Tanpa menunggu persetujuan Sasa, Umay sudah memberi soal tebakan.


Sasa yang awalnya cemberut langsung berpikir dan berhitung. "Dua puluh!"


"Salah!"


"Bener. 10 dikali 2 kan 20. Ya Bang, ya?" Sasa menoleh ke belakang meminta bantuan Icad. Tapi yang dimintai bantuan sedang asyik sendiri melihat jalanan melalui jendela samping.


"Dibilang salah juga!" Umay tetap ngotot. "Yang bener ... jadi 8. Kan yang 2 ada di kali."


"Iiiih! Bang Umay curang!" Pekik Sasa sambil tersipu.


Lagi-lagi Tama mengerling ke arahnya mendengar celotehan Sasa dan Umay.


Tama membelokkan kemudi memasuki halaman sebuah Mall di daerah Kelapa Gading. Reka langsung memisahkan diri beranjak ke hotel tempat temannya menginap.


"Filio ini." Tama berusaha meraih bahunya saat mereka berjalan beriringan di dalam Mall. Tapi ia keburu menghindar. "Teman akrab Reka. Yang bantu Reka kabur ke sini."


Ia mengangguk. Namun sedetik kemudian memberi pandangan memperingatkan karena Tama masih berusaha untuk meraih bahunya.


Ketika Tama terkekeh, tiba-tiba Sasa berbalik dan memperhatikan wajahnya. "Kok Mama melotot? Mama marah sama siapa sampai melotot begitu?"


Kekehan Tama semakin keras mendengar pertanyaan Sasa. "Mama marah sama Om, Sa."


"Kenapa marah sama Om? Memang Om nakal, ya?"


Kali ini Tama tergelak. Dan ia hanya bisa mendesah tak percaya. Sama sekali tak menyangka jika Sasa akan meraih tangannya lalu menyatukan dengan tangan Tama sambil berkata,


"Jangan marahan, Ma. Ustadzah Mutia bilang ... itu perbuatan tidak baik. Baikan sama Om ya, Ma?" Sembari menggenggamkan tangan mereka berdua dengan wajah tanpa dosa.


Ia ingin marah karena Tama memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, tapi situasi tak memungkinkan. Jalan satu-satunya berusaha melepas genggaman. Namun justru membuat tangan mereka semakin terpaut.


Setelah Sasa berbalik. Berjalan di depan bersama Icad dan Umay. Ia berbisik dengan wajah memerah. "Tolong lepaskan."


Tama menoleh dan tersenyum penuh arti. Semakin erat menggenggam tangannya kemudian melepaskan.


Begitu genggaman terlepas, ia langsung berjalan mendahului Tama menyusul anak-anak dengan wajah memanas menahan malu.


"Anak-anak mau pesan apa?" Tanya Tama begitu mereka duduk di dalam restoran. "Crofflenya enak banget. Sasa mau nyoba?"


Sasa, Umay, Icad, bahkan ia sendiri hanya bisa terbengong-bengong mendengar nama makanan yang disebut.


"Croffle itu perpaduan antara croissant sama waffle." Terang Tama. "Disiram sama saus strawberry atau vanila."


Ketika pesanan akhirnya datang dan mereka mulai menyantap makanan, seseorang menghubungi nomor Tama.


"Langsung ke sini, Reka." Tama memungkasi panggilan. Lalu beralih menatapnya. "Teman Reka mau pergi sama keluarganya. Rencana mereka berenang cancel. Dia mau ke sini sekarang."


Ia mengangguk.


Tak lama kemudian, Reka muncul dan berjalan menghampiri. Kemudian duduk bersama mereka dan ikut memesan makanan.


Seperti yang sudah-sudah, celoteh dan tawa riang didominasi oleh Sasa, Umay, Tama. Ia hanya sesekali menimpali. Sementara Icad dan Reka mengambil sikap serupa, diam seribu bahasa.


"Reka masih pingin berenang?" Tanya Tama, saat sebagian hidangan di depan mereka telah berpindah ke dalam perut.


Reka hanya mengangkat bahu.


"Oke, kita berenang. Icad, Umay, Sasa ... suka berenang?" Tama memandangi ketiga anaknya bergantian.

__ADS_1


Icad menggeleng. Umay mengangguk. Dan Sasa kegirangan.


***


__ADS_2