
Bialah Angin Nan Tau Rindu
(Biarlah angin yang tahu rindu -bahasa Minang-)
-diambil dari judul lagu Minang yang dinyanyikan oleh Febian-
***
Jakarta
Pocut
Tiga hari setelah akad nikah dan walimatul 'urs sederhana, dengan berat hati diiringi lelehan air mata berderai, ia akhirnya pergi meninggalkan Muarabungo, kota penuh kenangan.
"Sudah pernah pergi jauh berapa kali?" Tanya pemuda tampan yang telah resmi menjadi suaminya, bang Is. Ketika mereka sedang duduk di depan kantor agen penjualan tiket. Menunggu datangnya bus yang akan membawa mereka pergi ke Jakarta.
Ia yang belum terbiasa mengobrol dengan bang Is hanya diam menunduk. Merasa bingung dalam memilih kata untuk menjawab. Terlebih selama tiga hari menikah, mereka hampir tak memiliki waktu untuk berdua. Karena sibuk menerima tamu para kerabat dan handai taulan.
"Oh ...." Suara bang Is terdengar tersenyum. "Ini yang kedua?"
Tebakan bang Is membuatnya menoleh.
"Yang pertama waktu pergi dari Idi Rayeuk ke Langsa? Lanjut ke Medan? Terus ke Muarabungo?" Bang Is benar-benar sedang tersenyum. Dan ia terpana saat melihat senyum merekah menghiasi wajah tampan itu.
Sungguh memalukan. Padahal selama tiga hari terakhir, ia sudah beberapa kali melihat bang Is tersenyum selebar dan sebahagia ini. Tapi responnya selalu sama, yaitu terpesona.
"Dulu Adek masih segini nih ...." Bang Is meletakkan tangan kanan di depan dada seperti sedang mengukur sesuatu. "Masih belum bisa pakai jilbab."
Ia sontak mengerut.
"Rambut Adek berantakan ke mana-mana." Bang Is tertawa melihat reaksinya. "Mana sepanjang jalan terus menangis. Makin berantakan deh."
Ia mendesah tak setuju. Kembali teringat akan perjalanan penuh air matanya bertahun silam. Saat meninggalkan lambaian tangan bang Umair di terminal Langsa.
Tapi tak satupun kalimat berhasil terucap. Namun meski begitu, sudut matanya tetap bergerak aktif menangkap gerik bang Is yang sedang mengambil sesuatu dari dalam tas.
"Ini."
Ia kembali mengerut tak mengerti. Ketika bang Is mengulurkan sebuah benda berbentuk kotak berwarna hitam yang tersambung dengan kabel ke arahnya.
"Untuk teman di perjalanan." Bang Is tersenyum. "Biar nggak bosan."
Ia memperhatikan benda yang terus diulurkan oleh bang Is. Kotak berwarna hitam bertuliskan Sony di bagian tengahnya itu ternyata sebuah walkman.
"Kita bakal melewati hutan karet, hutan sawit, dan hutan belantara lainnya," seloroh bang Is. "Walkman ini bisa jadi teman di perjalanan."
"Kalau-kalau bosan dengar lagu pilihan dari pak sopir." Lagi-lagi bang Is tersenyum.
"Lebih nyaman di telinga daripada harus dengar rengekan anak lasak," seloroh bang Is, kali ini sambil menunjuk anak kecil yang sedang berjalan kesana kemari mengitari ruang tunggu.
Ia ikut tersenyum saat memperhatikan Agam, adik iparnya yang tiap kali diperhatikan pasti sedang bertanya pada mamak, ibu mertuanya, tanpa henti.
"Itu apa, Mak?"
"Kenapa begini?"
"Mengapa begitu?"
"Ada kaset." Suara bang Is mengalihkan perhatiannya dari kelincahan Agam.
Saat menoleh ke samping, bang Is sedang menekan salah satu tombol hingga membuat walkman terbuka. Memperlihatkan sebuah kaset di dalamnya.
"Ada radio juga." Kini bang Is menunjukkan tombol bertuliskan radio FM/AM. Lalu menggenggamkan walkman tersebut ke tangannya. Karena ia hanya diam mematung tak bereaksi apapun.
"T-terimakasih," bisiknya sambil tetap menunduk. Memandangi walkman di tangan dengan hati berdegup kencang.
Dan setelah hampir dua jam menanti, akhirnya bus yang mereka tunggu datang juga. Namun karena bus yang mereka tumpangi adalah jurusan Padang-Jakarta, maka tak banyak penumpang yang naik dari agen penjualan tiket. Hanya beberapa orang saja. Termasuk mereka berempat.
"Aku mau duduk sama Kakak." Agam menunjuk ke arahnya sambil tertawa riang. Agam bahkan langsung menarik lengannya agar segera duduk.
"Baik sama kakak." Bang Is sempat memperingatkan sang adik sebelum bus berangkat.
Tapi Agam tak menjawab. Hanya mengangguk sambil melonjak-lonjak kegirangan di atas kursi.
"Itu apa, Kak?" Dan bocah cerdas itu mulai menanyakan semua hal yang mereka lewati. Persis seperti yang sering didengarnya saat Agam bertanya pada mamak.
Namun sayangnya, keceriaan tak berlangsung lama. Karena tak sampai satu jam kemudian, Agam tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan terlihat lemas. Tak lagi bertanya tentang segala sesuatu.
Puncaknya adalah, ketika Agam memuntahkan seluruh isi perut tanpa kecuali. Ia segera membantu dengan mengulurkan kantung keresek yang memang telah disediakan di saku kursi. Sambil sesekali memijat-mijat tengkuk dan mengusap punggung kecil itu.
Tapi Agam mulai merengek. Meminta pindah duduk bersama mamak.
Itulah kali pertama, ia bisa duduk bersebelahan dengan bang Is, tanpa ada sekat di antara mereka.
"Permisi," ujar bang Is sambil mengulurkan tangan melewati tubuhnya. Menarik sebuah tuas yang berada di samping tempat duduknya. Membuat sandaran kursi bergerak lebih miring ke belakang.
"Segini nyaman?" Bang Is masih mengatur tuas dan menyesuaikan kemiringan sandaran kursi.
Ia mengangguk tanpa berniat untuk mencoba kenyamanannya.
"Dicoba dulu." Bang Is mengangkat alis memintanya untuk mencoba.
Ia menurut dengan menyandarkan punggung ke belakang. Lalu mengangguk setuju.
"Kalau ini ...." Kini bang Is beralih menarik sesuatu yang terletak di bawah lututnya. "Untuk menopang kaki. Biar nggak cape."
Ia kembali mengangguk ketika lutut sampai betisnya tiba-tiba terangkat ke atas.
"Mau pakai sekarang?" Tawar bang Is.
Kali ini ia menggeleng. "Nanti saja."
'Ooh.. bialah angin nan tahu diri ko rindu
(biarlah angin yang tahu bahwa aku rindu)
Ooh.. bialah angin nan ibo hati ko ngilu'
(biarlah angin yang kasihan hatiku ngilu)
(Febian, Bialah angin nan tau rindu)
Dan sepanjang perjalanan, bus memutar lagu-lagu Minang yang terdengar menyenangkan di telinga. Sejenak membuatnya melupakan walkman dalam genggaman.
"Setelah ini ... kita akan lewat jalur lintas Sumatera Sarolangun Lubuk Linggau," bisik bang Is. Ketika bus yang mereka tumpangi keluar dari terminal Bangko.
"Waktu Abang pertama kali lewat dulu ...."
Ia langsung bergeser ke samping dengan gugup, ketika embusan napas bang Is terasa hangat menyentuh pipinya.
"Banyak bajing loncat."
Ia terkejut dan menoleh ke samping.
"Makanya kaca depan bus diberi teralis." Bang Is menunjuk kaca depan bus yang dilapisi teralis dan kawat.
"Karena suka ada yang melempar pakai batu."
Ia mengerut mendengar cerita bang Is. Baru mengetahui jika jalur yang akan mereka lewati ternyata cukup mengkhawatirkan.
"Di hutan Lubuk Linggau malah sopir berani nabrak begal."
Ia semakin mengerut. "Kenapa ditabrak?"
"Kalau nggak ditabrak nanti malah membahayakan seluruh penumpang," jawab bang Is dengan mimik serius. "Bisa-bisa bus dirampok sama kawanan begal."
"Hutannya terlalu luas, jalannya sepi, minim rambu lalu lintas dan penerangan jalan." Bang Is menggeleng. "Paling aman mungkin ditabrak saja begal yang menghadang di tengah jalan."
Tapi ia mendadak teringat sesuatu. "Apa Abang sedang menakut-nakuti?" Tanyanya curiga.
Bang Is hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Membuatnya mendesah tak percaya. Kemudian buru-buru memalingkan wajah ke sisi jendela. Memperhatikan pekatnya malam yang terlewati.
__ADS_1
Ketika kembali menoleh ke samping, ternyata bang Is sudah menyandarkan kepala dan terlelap. Membuatnya meraih kabel yang tersambung ke walkman. Lalu memasangnya di kedua telinga.
Pertama-tama, ia menekan tombol radio FM. Tapi, mungkin karena sedang dalam perjalanan, gelombang radio yang tertangkap sangat sedikit. Itupun dengan suara yang kurang jelas.
Membuatnya memutuskan untuk mematikan radio lalu menekan tombol play. Mencoba mendengarkan kaset yang tersimpan di dalam walkman.
'Adalah engkau dia yang kurindu
tuk menjadi bunga di hatiku
Menjadi peneduh kalbu di perjalananku
Di perjalananku'
(Seismic, Adalah Engkau)
Menjadi lagu pertama yang didengarnya. Bukan lagu dari grup band terkenal atau penyanyi pop ternama. Entahlah ia juga tak tahu ini lagu milik siapa. Namun lirik indah yang mengena membuatnya menoleh ke samping. Menatap bang Is yang sedang terlelap. Wajah bersih dengan hidung runcing dan alis tebal itu terlihat begitu tenang dan damai.
"Gimana? Suka lagunya?"
Ia terkejut ketika bang Is berucap dengan mata tetap terpejam. Membuatnya tersipu malu karena terpergok sedang memperhatikan diam-diam. Lalu buru-buru memalingkan wajah ke jendela samping.
Tapi bang Is justru meraih tangannya. Kemudian menautkan jemari mereka berdua erat-erat.
'Dinda temanilah aku
di setiap detikku dengan do’amu
Bila terpisahkan waktu
tetaplah di sini di dalam hatiku
Ya Rabbi izinkanlah kami
untuk berjaga s’lalu dijalanMu
Dinda do’amu laksana
pelepas dahaga di lelahnya jiwa'
(Seismic, Adalah Engkau)
Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Apakah balas tersenyum bahagia atau justru menangis sedih.
Namun seulas senyum yang diberikan bang Is berhasil menerbitkan keberaniannya untuk menyandarkan kepala di bahu kokoh itu. Memercayakan diri sepenuhnya pada nakhkoda bahtera. Meninggalkan masa lalu menyedihkan tertinggal di belakang. Mengikhlaskan kepergian nyanyak untuk selamanya. Merelakan raibnya bang Umair tanpa kabar. Pergi menuju tempat baru yang asing. Dengan keluarga baru. Mampukah ia bertahan?
"Dek?"
Seseorang berbisik tepat di telinganya. Membuat embusan napas hangat terasa lembut membelai kulit wajahnya.
"Mau lihat laut di malam hari?"
Bisikan bang Is sontak membangunkan lelapnya. Terhitung sejak bus keluar dari kawasan Lubuk Linggau. Lalu sempat berhenti untuk beristirahat sebentar di daerah Tanjung Enim dan Way Kanan. Ia selalu tertidur nyenyak.
Sambil mengucek mata yang silau akibat paparan sinar lampu neon di dalam bus. Ia mulai memperhatikan sekeliling. Dan ketika melihat keluar jendela, terpampang tulisan dalam ukuran besar.
PELABUHAN PENYEBERANGAN BAKAUHENI
Ia menatap bang Is yang sedang tersenyum.
"Belum pernah lihat laut di malam hari, kan?"
Ia menggeleng.
Satu dari sedikit kenangan indah yang masih kuat terpatri adalah sewaktu kecil, ayah sering mengajaknya bermain-main di pantai Idi Cut. Pantai indah dengan pasir halus dan pohon cemara yang memanjakan mata itu, mereka kunjungi hampir setiap hari minggu pagi. Namun sudah kembali ke rumah sebelum azan Dzuhur berkumandang. Itulah mengapa ia tak pernah melihat keindahan laut di malam hari.
"Sekarang kita lihat." Bang Is masih tersenyum.
Begitu bus masuk ke dalam lambung kapal. Ia dan seluruh penumpang bus lainnya mulai turun untuk berpindah ke atas kapal.
Bang Is menggendong Agam yang tertidur nyenyak. Sementara mamak menggandeng tangannya erat-erat.
"Jangan sampai terpisah," bisik mamak dengan wajah penuh kekhawatiran. "Penumpang malam ini sangat ramai. Bisa tersesat kalau sampai terpisah."
Mereka berjalan menaiki anak tangga yang berkelok menuju ke atas dek. Namun sayang, bangku dan kursi yang tersedia sudah terisi penuh.
Setelah berkeliling, mereka akhirnya menemukan satu bangku kosong tepat di depan pintu toilet. Bang Is hendak kembali memutar untuk mencari tempat lain yang lebih nyaman. Tapi mamak mencegah.
"Di sini saja." Mamak meraih Agam dari gendongan bang Is. "Penumpang sedang membludak. Tak mudah mencari tempat kosong. Kursi ini sudah rezeki kita."
"Pocut duduk di sini ...." Sambung mamak seraya bergeser sedikit. Menyisakan satu celah sempit untuknya.
Tapi bang Is menggeleng. "Aku mau ajak Adek lihat laut sebentar."
Ia mengangguk meminta persetujuan mamak.
"Hati-hati." Mamak menatap mereka berdua dengan penuh kekhawatiran. "Angin sedang kencang. Ombak sedang tinggi."
Dan sebelum ia sempat mengucapkan terimakasih karena diijinkan melihat laut, bang Is sudah menarik tangannya melewati sekumpulan orang menuju ke bagian belakang kapal.
"Kita mulai dari ... buritan ...." Bang Is melebarkan kedua tangan ke samping.
Tapi ia tak bisa melihat apapun. Suasana malam begitu gelap dan pekat. Hanya terdapat satu lampu sorot di bagian belakang. Ia justru bisa melihat dengan jelas kelip lampu pelabuhan Bakauheni yang baru saja mereka tinggalkan.
"Selamat tinggal!" Tiba-tiba bang Is melompat sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi ke atas. "Sampai jumpa lagi!"
Ia mengernyit heran. Terlebih beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan perilaku aneh bang Is.
"Tak ada siapa-siapa?" Keluhnya tak percaya.
Bang Is tertawa. "Memang."
Lalu meraih tangan kanannya agar ikut melambai.
"Dadah! Sampai ketemu lagi!" Seru bang Is seolah memang ada sekumpulan orang yang sedang melepas kepergian mereka.
Ia langsung menarik tangan dari cengkeraman bang Is. Lalu menghentakkannya ke bawah. Merasa malu karena orang-orang semakin memperhatikan tingkah mereka.
"Eh!" Tapi bang Is kembali meraih tangannya. "Dadah dulu sama nyanyak."
"Sampai ketemu lagi nyanyak! Abang!" Seru bang Is sambil melambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi. "Itu! Abang Risyad dan Umair sedang melambaikan tangan ke kita."
"Dadah Abang! Doakan kami, Bang!"
Ia kembali menarik tangan dari cengkeraman bang Is. Kali ini lebih keras dan sambil menangis.
"Kenapa menangis?" Sekarang gantian bang Is yang mengernyit heran. Tapi ia sudah keburu berlari meninggalkan buritan dengan air mata berlinang.
"Maaf."
Ia tahu bang Is berjalan mengikutinya. Dan kini sudah berdiri di belakang punggungnya. Tapi ia pura-pura tak menghiraukan.
Sambil mencengkeram pagar (railing) kapal erat-erat. Matanya menerawang jauh menembus kegelapan malam. Terlihat kelap kelip satu dua lampu yang berasal dari kapal lain. Selebihnya hanya hitam dan pekat.
"Abang minta maaf."
Ia menyusut air mata dan ujung hidung menggunakan punggung tangan. Sementara angin yang berembus kencang mulai menerbangkan ujung rok dan jilbab yang sedang dipakainya. Sedangkan gelombang laut yang cukup tinggi seakan menggoyangkan kapal hingga oleng ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa?" Tanya bang Is heran ketika ia terduduk namun tangan tetap mencengkeram railing kapal.
"Pusing." Ia memejamkan mata erat-erat dengan sebelah tangan membekap mulut. "Mau muntah."
Bang Is tertawa. "Mabuk laut."
"Sini ...." Bang Is meraih bahunya agar berdiri. "Kita ke dalam saja."
Baru juga ia bisa berdiri dengan susah payah, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara gemuruh dan keriuhan para penumpang lain.
"KAPAL MAU TENGGELAM!"
"TOLONG! TOLONG!"
__ADS_1
Jeritan histeris membuat penumpang di sekitar mereka mulai panik. Sejumlah orang terlihat berlarian mengambil pelampung. Bahkan sampai berebut karena jumlahnya kurang.
Para wanita berteriak, anak-anak menangis, suara takbir dan istighfar terdengar di mana-mana.
Sementara hantaman gelombang tinggi dan angin yang sangat kencang semakin menggoyangkan kapal hingga oleng ke kanan dan ke kiri dengan cukup keras.
BYUR!
Ombak yang sangat besar membuat air laut menghantam tepian kapal. Sebagian berhasil membasahi mereka hingga basah kuyup.
Orang-orang semakin berlarian. Ada yang terinjak. Ada yang muntah. Dan ia hanya bisa mencengkeram erat tangan bang Is sambil menangis.
"Abang?" Ia semakin terkesiap ketika bang Is memaksa melepaskan genggaman tangan mereka.
"Masuk ke dalam! Cari mamak dan Agam!" Perintah bang Is dengan mata berkilat.
Ia menggeleng keras-keras. "Tidak mau!"
Ombak semakin kencang. Suasana kian tak terkendali. Keadaan kapal gelap gulita. Ia tak tahu harus mencari mamak dan Agam di mana. Ia bahkan lupa di mana mereka duduk tadi.
"Kapal akan tenggelam!" Seru bang Is dengan mata yang semakin berkilat. "Abang cari pelampung. Adek cari mamak dan Agam."
Ia masih menggeleng keras-keras tak mau berpisah.Tapi bang Is telah lebih dulu melepaskan genggaman mereka berdua.
"Abang!" Teriaknya panik.
"Cari mamak!" Jawab bang Is sambil berlari menjauh. "Abang pasti kembali!"
Ia kembali terduduk di pinggiran kapal. Dengan tangan mencengkeram erat railing. Sementara hempasan air laut semakin deras menghantam tepian.
BYUR!
Bajunya kembali basah kuyup terkena deburan ombak. Bahkan air di dalam kapal sudah setinggi mata kaki.
Ia mulai melihat sekeliling. Orang-orang terus berteriak dan berlari tak tentu arah. Anak-anak menjerit ketakutan. Dengan lutut gemetaran, ia mulai berjalan tertatih. Sambil tetap berpegangan erat pada railing, ia berusaha terus melangkah.
"POCUT! POCUT!"
Seseorang terdengar meneriakkan namanya. Tapi bukan suara bang Is ataupun mamak. Itu jenis suara asing. Seperti pernah didengarnya meski entah di mana.
"POCUT! POCUT!"
Teriakan itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas berasal dari bagian depan kapal.
Dengan meneguhkan hati melawan rasa takut, ia berusaha mencapai bagian depan kapal dengan tetap berpegangan pada railing.
BYUR!
Dan tangis ketakutannya langsung pecah ketika melihat kenyataan jika anjungan kapal sudah dihempas gelombang. Sejumlah orang yang berdiri di sekitarnya bahkan ikut terbawa arus dan tenggelam ke dalam laut.
"Astaghfirullah ...." Ia menangis sambil menggumamkan istighfar berkali-kali. Ketika seseorang kembali meneriakkan namanya dengan lebih keras.
"POCUT!"
Tanpa berpikir ia langsung berlari mendekat ke arah suara. Mengalahkan seluruh ketakutan yang ada. Tapi ia justru mundur ke belakang ketika melihat sosok yang sedang berteriak.
"PEGANG TANGANKU!" Teriak seseorang berseragam cokelat dengan tiga bunga berderet di bagian kerah. Mengulurkan tangan ke arahnya.
Ia menggeleng keras-keras.
Bagaimana mungkin Tama ada di sini?
Bagaimana bisa Tama berada di sini?
Bukankah ia baru saja menikah dengan bang Is beberapa hari yang lalu?
Bukankah ia baru saja akan pergi ke Jakarta?
Tidak!
Ia semakin menggeleng keras-keras.
Tidak!
"POCUT!" Kali ini suara mamak yang memanggilnya. "RAIH TANGANNYA!"
Mamak?
Kenapa mamak tiba-tiba berubah menjadi renta?
Bukankah mamak yang naik bus dari Muarabungo bersamanya tadi masih berusia muda?
"KAK!"
Ia kembali menengadah ke atas.
"CEPAT RAIH TANGAN MAS TAMA!"
Agam?
Ia semakin terperanjat.
Agam yang beberapa menit lalu sedang tertidur nyenyak dalam buaian mamak, mengapa sekarang sudah menjadi seorang pemuda?
"MAMA!"
Ia semakin terkesiap.
Sasa?
Mengapa ada suara Sasa di sini?
Ia berusaha keras menajamkan pandangan ke atas. Memperhatikan siapa-siapa saja yang berteriak memanggil-manggil namanya.
"OM MAU BANTU, MA! AYO, MA!"
"PERCAYA PADAKU!" Tama terus mengulurkan tangan ke arahnya.
Tapi ia justru tergugu. Karena mendapati mamak, Agam, Sasa, Umay, bahkan Icad sedang menunggunya di atas.
Sementara kapal hampir pasti tenggelam. Air laut yang masuk ke dalam kapal bertambah tinggi. Air matanya juga semakin menganak sungai.
"Bang Is!" Ia berteriak sekuat tenaga agar mamak dan Agam bisa mendengar. "Bang Is sedang mengambil pelampung!"
Mamak dan Agam serempak menggeleng.
"Aku menunggu Bang Is!" Jeritnya dengan air mata berderai.
"POCUT!" Tama kembali memanggil namanya.
"RAIH TANGAN MAS TAMA, KAK!" Agam semakin berseru.
Tapi ia menggeleng.
"Aku menunggu Bang Is," tangisnya kian menjadi.
Sementara suara hantaman keras kembali terdengar dari arah anjungan. Disusul air laut yang semakin naik memenuhi kapal. Ia justru terpaku di tempat. Berharap bang Is muncul sambil membawa pelampung.
Dengan latar suara teriakan Agam dan Sasa yang memanggil-manggil namanya. Ia mulai menggumamkan doa apapun yang bisa diingat. Sebab sebentar lagi ia pasti akan terbawa arus. Lalu tenggelam karena tak bisa berenang.
Saat itulah seseorang meraih pinggangnya.
"Percayalah padaku." Bisik orang itu tepat di telinganya. Menghempaskan suara teriakan ketakutan para penumpang kapal. Sekaligus melemparkannya ke atas tempat tidur. Bersimbah peluh dan air mata.
"Astaghfirullahal'adzim ...." Dengan bibir gemetar ia langsung memohon perlindungan.
Memandangi seluruh dinding kamar dengan penuh rasa syukur. Mencium kening Sasa yang tengah terlelap. Merasa lega karena hal mengerikan yang baru saja dialami hanyalah mimpi. Bunga tidur.
***
Keterangan :
__ADS_1
Walimatul'urs. : lazim dikenal sebagai pesta pernikahan, adalah jamuan makan yang diselenggarakan berkenaan dengan pernikahan (sumber : Wikipedia).