Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 84. Kaleuh Suedeh Teuka Bahgia


__ADS_3

Kaleuh Suedeh Teuka Bahgia


(Setelah duka datanglah bahagia -bahasa Aceh-)


***


Jakarta


Pocut


Ia memang sudah berlaku tak adil terhadap Tama. Tapi wajah, suara, dan senyuman pria di atas panggung benar-benar menyerupai sosok bang Is. Dan sepasang mata memesona itu seolah berkata, 'ini aku, masih ingatkah padaku?'


Perasaan rumit yang memicu perilaku di luar nalar tadi sungguh sangat disesalinya. Seharusnya ia lebih bisa menjaga perasaan Tama. Meski tak menampakkan amarah, namun seulas senyum pahit yang sempat muncul di wajah tegas itu telah menjelaskan segalanya.


Maafkan saya.


"Kita berdua sama-sama mempunyai seseorang di masa lalu." Pandangan Tama lurus menatap di kedua matanya. "Semua terjadi jauh sebelum kita bertemu. Masa lalu menjadi hak kita masing-masing. Kamu dengan almarhum. Aku dengan Kinan."


Ia tak bisa berkata apapun selain berjanji pada diri sendiri. Mulai detik ini juga akan menjadikan sosok Tama sebagai satu-satunya pria dalam pandangan. Sebagaimana Tama memperlakukannya dengan begitu baik dan terhormat.


"Urusan sama WO lancar?" Tama tak memperpanjang bahasan. Dengan tenang mengalihkan topik tanpa menyudutkannya.


Undangan sudah dicetak dan sebagian telah dibagikan. Beberapa kali ia melakukan fitting baju. Hidangan dengan serangkaian test food juga tuntas. Begitupun panitia akad yang terdiri dari ibu-ibu PKK kampung Koneng. Dan beberapa hari lalu, Anjani bersama bu Niar mengajaknya melihat-lihat suasana tempat diadakannya resepsi. Satu hal yang membuatnya terkesiap.


Ya, ia sangat memahami posisi Tama yang memiliki banyak kolega dan kenalan. Memerlukan tempat di atas kata pantas untuk menjamu mereka semua. Tapi serangkaian biaya fantastis yang harus Tama keluarkan membuatnya tak habis pikir.


"Terimakasih banyak sebelumnya." Ia tentu harus mengucapkan terimakasih terlebih dahulu sebelum mengutarakan isi hati. "Tapi ... apakah ini tidak berlebihan?"


Tama tersenyum samar. "Anja bilang kamu banyak protes."


Ia menunduk malu.


"Bukannya apa-apa." Ia balas menatap Tama." "Pinangan 300 mayam sudah sangat luar biasa bagi saya. Ditambah pesta mewah di hotel berbintang. Bulan madu bersama seluruh anggota keluarga."


"Terlalu berlebihan untuk wanita seperti saya. Seharusnya ... Mas bisa lebih bijak dan tak menghamburkan uang seperti ini."


"Begini saja." Tama menatapnya lekat-lekat. "Untuk saat ini, kita lakukan dengan caraku."


Ia mengernyit tak mengerti.


"Nanti setelah menikah." Tama tersenyum simpul. "Kita lakukan dengan caramu."


Dan pembicaraan jelang pernikahan kian hari terasa semakin mendalam.


"Bu Cut, beliau mau tinggal bersama kita?"


Mamak, sejak bu Niar beserta keluarga besar Setyo Yuwono meminangnya secara resmi telah berkali-kali menegaskan.


"Mamak tetap tinggal di sini. Tak perlu risau. Banyak tetangga sudah seperti saudara. Kau hiduplah dengan keluarga baru. Jemput kebahagiaanmu sendiri."


Ia menelan ludah. "Mamak ... tetap ingin tinggal di rumah sendiri."


Tama menatapnya dengan alis saling bertaut.


Ia tentu sudah berusaha membujuk. Bahkan meminta bantuan Agam dan Anjani. Tapi mamak tetap teguh pada pendirian. Bersikeras tinggal sendiri di rumah.


"Ada cing Ella." Rupanya Agam pun tak kuasa menembus dinding kokoh kehendak mamak. "Aku titip mamak ke cing Ella. Biar mereka tinggal di rumah kita menemani mamak."


"Apa kata orang, Gam?" Ia menggeleng. "Kita berdua masih sehat dan baik-baik saja. Tapi mamak malah tinggal bersama orang lain? Anak macam apa kita ini?"


Agam, yang terlihat jauh lebih dewasa dibanding kali terakhir ia bisa mengingat, berusaha menenangkan. "Mamak akan baik-baik saja, Kak."


Sampai kemudian Tama menemukan jalan keluar terbaik. Tama bahkan menyampaikannya langsung kepada mamak. "Selama saya pergi ke Bandung, akan merasa lebih tenang jika Bu Cut bersedia mendampingi istri dan keempat anak saya."


Ia bisa tersenyum lega ketika akhirnya mamak menyetujui permintaan Tama. "Untuk menjaga kehormatan seorang istri yang sedang ditinggal tugas suami." Begitu jawaban mamak.


Persoalan tempat tinggal selesai, masih ada sekolah anak-anak. Jarak dari rumah dinas Tama ke sekolah terhitung cukup jauh. Namun anak-anak, terutama Icad tak mau pindah ke sekolah yang baru.


"Ada Reka di sana. Lebih mudah untuk Mama kalau kalian bersekolah di tempat yang sama." Tama mencoba memberi pengertian.


Tapi Icad menggeleng. Umay dan Sasa melihat sikap yang dipilih abangnya langsung ikut-ikutan.


"Kalau pindah sekolah ... Sasa masih bisa ketemu Zhie, Raline, sama temen-temen yang lain nggak, Ma?"


Tama tersenyum. "Nanti Sasa dapat teman baru."


Kening Sasa berkerut-kerut tanda berpikir keras. Namun Umay keburu menyeletuk.


"Aku udah punya teman di sekolah, Ma. Nanti kalau pindah ... harus nyari teman baru lagi, dong?"


Ketika ia merasa bingung untuk memilih. Apakah mengikuti keinginan anak-anak atau mempermudah urusan Tama. Di satu sisi ia tak ingin anak-anak merasa terbebani dengan urusan sekolah. Apalagi tempat yang hendak dituju adalah sekolah kalangan atas, Pusaka Bangsa. Ia sendiri tak yakin anak-anak akan mudah beradaptasi dengan baik. Kenangan buruk tentang Pusaka Bangsa yang pernah menimpa Agam di masa lalu terasa cukup mengganggu.


Tapi di sisi lain, ia juga tak ingin memecah konsentrasi Tama. Karena anak-anak bersekolah di tempat berbeda dengan letak yang lumayan berjauhan.


"Anak-anak nggak usah pindah sekolah." Akhirnya Tama membuat keputusan yang cukup melegakan. "Kasihan kalau mereka harus mengalami dua suasana baru dalam satu waktu. Kita pelan-pelan saja."

__ADS_1


Tak ada yang bisa dilakukan selain berterima kasih. Karena Tama telah menempatkan perasaan anak-anak di atas segalanya.


Dan Tama menjawab dengan senyum penuh arti. "Tanggal 14 kapan datang? Apa sekarang waktu berjalan lambat?"


Pastinya takkan lama. Karena ada begitu banyak hal yang harus dilakukan.


"Kak, besok jadwal vaksin, ya. Jangan lupa." Anjani sangat bisa diandalkan untuk hal ini.


Ia pernah berbisik pada Agam. "Anjani terlalu bersemangat mengurus pernikahan kami. Aku merasa tak enak sudah membuatnya kerepotan."


Agam hanya tertawa. "Orang dia dapat surat tugas khusus dari mas Tama. Lagian Anja seneng kalau direpotin. Malah nyari repot sendiri kayaknya."


"Hush!" Ia tak setuju.


"Anja bahagia bisa melakukan ini. Kakak tahu sendiri gimana keadaanku dan Anja waktu menikah dulu."


Ia mengerti. Agam tak bisa memberikan pernikahan impian untuk Anjani. Kala itu semua serba terbatas dan dalam suasana penuh kesedihan. Jadi sebagai gantinya, ia mengikuti saja semua keinginan Anjani.


"Kak, souvernir akadnya fixed pakai pouch bordir khas Aceh, ya."


"Kak, souvernir resepsinya yang eksklusif, manfaat, tapi nggak pricey. Begitu kan yang Kakak mau?"


"Kak, waktunya body treatment ."


Anjani sendiri yang mengantarnya pergi ke sebuah salon kecantikan ternama di daerah Kebayoran baru untuk melakukan ritual perawatan jelang pernikahan. Ia sempat terpana saat pertama kali masuk ke dalam ruangan yang selama ini hanya pernah dilihatnya di lembaran majalah eksklusif ataupun layar televisi.


Suasana redup, tenang, nyaman, dengan wewangian rempah-rempah yang aromanya sudah tercium dari jarak sekian meter membuat lamanya waktu perawatan menjadi tak terasa.


"Kenapa?" Tanyanya heran karena Anjani terus menerus memandanginya dengan mulut ternganga.


"Ada bidadari turun dari kahyangan." Anjani masih saja ternganga. "Mas Tama bisa pingsan kalau lihat Kakak. The most prettiest woman (wanita tercantik) ...."


Dan puncak dari semua persiapan melelahkan adalah tiga hari jelang pernikahan. Saat diadakannya malam boh gaca. Ia sempat menolak dan lebih memilih acara khatam Al-Quran. Karena malam boh gaca tak lazim dilakukan oleh seorang janda seperti dirinya.


"Tak ada larangan meski bukan seorang gadis." Mamak mengusap lengannya perlahan. "Sebagai ungkapan rasa syukur kaleuh suedeh teuka bahgia (setelah duka datanglah bahagia)."


Rangkaian malam boh gaca dimulai sejak pagi hari. Bertempat di ruang tamu yang telah disulap oleh Lokananta Enterprise menjadi tempat perhelatan. Seluruh dinding digantungi tirai bersulam emas yang terdiri dari sambungan kain vertikal warna-warni (dalam bahasa Aceh disebut tiree). Karpet tebal berwarna merah bercorak permadani terhampar luas menutupi seluruh permukaan lantai. Dan tempat duduknya berupa sebuah kasur lengkap dengan guling serta bantal bersarung emas untuk bersandar.



Sumber : dekorasipelaminanAceh.blogspot.com


Semua perlengkapan yang telah disiapkan seperti daun pacar dan peralatan peusijuek ditempatkan di atas piring yang telah dihias. Lalu diletakkan di dalam wadah hidangan (daleung) beralas tikar sulaman benang emas khas Aceh (tika meusujo).


Jelang sore, para tamu undangan mulai berdatangan. Semua yang hadir di acara ini hanyalah para wanita. Termasuk kak Fatma, bu Nurti, cik Lili, dan ketua plt yayasan Kemala bersama lima orang lainnya yang mewakili istri anggota.


Kemudian acara dibuka dengan pemberian ucapan selamat dari para tamu. Semua orang menyalami dan memeluknya erat-erat. Bu Nurti dan Cing Weny bahkan tak berhenti terisak meski ia sudah berusaha menenangkan. Bu Nurti pasti teringat pada almarhum suaminya. Sementara cing Weny,


"Gue terharu ... elu akhirnya berjodoh sama yang punya seragam. Rezeki lu bagus banget, Cut."


Beberapa orang langsung saling berbisik. Membuat wajahnya merah padam demi mengingat tragedi seragam Tama yang tak sengaja terbawa hingga semalaman tersimpan di dalam tasnya.


Usai bersalaman, ia membaca surat Ar-Rahman dilanjutkan dengan doa khatam Al-Qur'an. Kemudian mendengarkan tausiyah (nasehat) yang disampaikan oleh ustadzah Mutia.


"Menikah adalah ibadah terlama. Dibutuhkan ilmu, kesabaran, perjuangan, dan keikhlasan dalam mendampingi suami. Menjadi jalan kebaikan di setiap keadaan, baik terang maupun gelap." ©


Setelah itu ia didudukkan di atas kasur. Di sebelah kanannya tersimpan wadah makanan (daleung) berisi perlengkapan peusijuek dan bu leukat (tepung tawar dan ketan). Di sebelah kiri terdapat wadah makanan (daleung) berisi daun pacar dan batu giling (bate seumepeh). Sementara kakinya dialasi daun pisang muda. Kemudian beras padi mulai ditaburkan di sekelilingnya.


Peusijeuk dilakukan sendiri oleh mamak disusul para tetua kampung Koneng. Ia memungkasinya dengan mencium tangan mamak yang membalasnya dengan doa-doa kebaikan. Setelah selesai, daun pacar digiling oleh ibu-ibu PKK secara bergantian.


Ia sempat beramah tamah dengan para tamu sambil menyantap hidangan. Malam harinya usai salat Isya, seorang MUA rekomendasi dari Lokananta Enterprise dibantu tiga orang asisten mulai mewarnai kuku jari dan tangannya menggunakan daun pacar. Kemudian melukis jari, tangan, dan kakinya dengan motif ukiran yang indah.



Sumber : kumparan.com


"Mama cantiknyaaaa ...." Bisik Sasa berulang kali yang sejak acara dimulai hingga saat ini terus bergelayut di sebelahnya.


"Adik cantik mau dilukis juga kayak mama?" Tawar mba Hanhida sang MUA.


Sasa mengangguk malu-malu. "Boleh gitu, Ma?" Bisik Sasa di telinganya namun bisa terdengar jelas oleh orang lain.


"Boleh syekali doooong." Mba Hanhida tertawa riang. "Sini ... sini ... mana tangannya kasih ke Tante ... biar cantiiiiik kayak mama."


Sasa dilukis jari dan tangannya oleh teh Syaesya, asisten mba Hanhida, sampai ketiduran. Setelah team MUA pulang dan rumah kembali sepi, barulah ia memindahkan Sasa ke dalam kamar.


"Mama cantiiiiik ...." Terdengar gumaman serak Sasa ketika ia tengah menyalakan kipas angin. Ah, rupanya mengigau.


Usai memastikan Sasa kembali terlelap, ia beranjak keluar kamar. Sayup-sayup telinganya mendengar suara mamak yang sedang membaca surat Al-Mulk di dalam bilik. Kemudian ia melangkah ke kamar mamak. Tempat di mana Icad dan Umay tidur sejak beberapa hari lalu.


"Breaking news!" Begitu suara cukup keras yang berasal dari layar televisi membuatnya terkejut.


Ia menggelengkan kepala karena Icad dan Umay sudah tertidur nyenyak namun televisi masih menyala. Televisi juga ikut berpindah ke kamar mamak sejak ruang tamu mulai didekorasi.


Ia hampir mematikan tombol power ketika berita yang dibacakan membuatnya tertegun.

__ADS_1


"Kembali lagi bersama kami di breaking news beritasatu."


"Pemirsa, buronan kasus korupsi Paramayoga sekaligus dalang pembunuhan hakim agung akhirnya berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian petang tadi di bandara Halim Perdanakusuma."


"SJW, yang menjadi buronan sejak beberapa bulan lalu, berhasil dibekuk oleh tim khusus ketika hendak melarikan diri menggunakan pesawat carteran."


Dan jantungnya seakan berhenti berdetak ketika melihat sosok tegap berkaos gelap dan berjaket hitam yang tengah mengawal seorang pria bertubuh kecil turun dari dalam pesawat.


Tama.


Ia terduduk di samping tempat tidur dengan perasaan gelisah. Memperhatikan layar televisi yang tengah menayangkan detik-detik terjadinya penangkapan.


Apakah ini jawaban mengapa beberapa hari terakhir Tama tak pernah menghubunginya?


"Ini komitmen kami untuk tetap transparan dan objektif," ujar pria yang diwawancarai oleh sejumlah awak media. Dengan tulisan Komjen Ismail Bahureksa, Kabareskrim Polri di bawahnya.


"Kami akan terus melaksanakan proses penyelidikan dan penyidikan secara tuntas agar dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Bukti bahwa semua warga negara sama kedudukannya di dalam hukum."


Tiba-tiba ia merasa ... takut kehilangan pria berkaos gelap berjaket hitam yang sesekali masih tersorot kamera.


***


Tama


Alangkah terkejutnya ia ketika pulang ke rumah jelang subuh dan mendapati Reka sedang duduk mematung di ruang tamu.


"Belum tidur?" Tanyanya heran. "Atau baru bangun?"


Reka menatapnya dengan rahang mengeras tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Nungguin ayah?" Tebaknya curiga.


Reka tetap tak menjawab dan langsung berbalik pergi.


"Reka?" Panggilnya berusaha mengejar.


Tapi Reka sudah keburu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


"Dari kemarin mas Reka nggak tidur nungguin Bapak pulang." Tiba-tiba Agus sudah berdiri di belakangnya dengan wajah mengantuk.


Apakah ini makna lain dari kedekatan antara seorang ayah dan anak? Jika benar, maka ia bisa mulai berbahagia bukan? Dan kebahagiaannya semakin terasa lengkap ketika satu pesan masuk menyambangi ponselnya tepat saat azan subuh berkumandang.


Future wife : 'Assalamu'alaikum. Semalam saya melihat breaking news.'


Future wife : 'Tolong jaga diri baik-baik dan pulang dengan selamat.'


Ia tersenyum dan langsung mendial angka 1.


Calling Future Wife ....


"Aku sudah di rumah," ucapnya begitu panggilan diangkat. "Dan siap menikahimu ...."


***


Reka adegan 🤗 mode ON :


"Assalamu'alaikum mommies kece, kakak, tante, ibu, adik, om semuanya." Anja berdehem sebentar. "Perkenalkan ... nama saya Anja. Udah kenal, kan? Hayo ngaku ... siapa yang dulu pingin nyleding and bejek-bejek saya di bab awal BP?"


*readers langsung buang muka pura-pura lupa 🤫🤭😁*


"Saya dapat titipan dari duet maut, nih. Hehehe ... iya, the one and only my big brother, mas Tama yang tanggal 14 besok mau menikah lagi." Anja membuka amplop warna cokelat yang sejak tadi dipegang.


"Taraaaaa ...." Kedua bola mata Anja berbinar. "Undangan spesial untuk semua readers RSK yang tiada duanya."



Original design by : IU_Yoonie


"Ditunggu kehadirannya mommies kece dan kakak kakak semua." Anja tersenyum penuh arti. "Baik di acara akad maupun resepsi."


"Oya, di dalam amplop ada pass card berisi barcode sebagai tanda masuk ke ballroom Avilas." Anja mengangkat sebuah pass card. "Jangan lupa dibawa yaa ... jangan sampai ketinggalan."


"Okeh ... begitu saja ya mommies kece dan kakak semua." Anja kembali berdehem. "Saya pamit undur diri. Apa?"


Anja mendengarkan suara hati readers dengan seksama 🤭😁.


"Abang di mana?" Bola mata Anja membulat. "Ada ... lagi ngasuh Aran. Kenapa? Salam? Siapppp, laksanakan. Apa sih yang enggak buat pembaca RSK."


"Okeh mommies kece ... sampai ketemu di Avilas." Anja dadah dadah dan beranjak dari hadapan readers tersayang semuanya.


***


Keterangan :


Malam boh gaca. : malam jamuan mewarnai kaki dan tangan dengan inai. Tradisi yang turun temurun dilakukan oleh calon pengantin wanita Aceh.

__ADS_1


©. : nasehat yang disampaikan oleh seorang ustadzah di sebuah kajian ilmu.


***


__ADS_2