Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 102. Jangan Berhenti Mencintaiku


__ADS_3

Agar menjadi perhatian 💕


Di dalam bab ini terdapat foto rontgen tulang selangka dan USG 2 dimensi. Bagi yang kurang nyaman bisa di skip next.


***


Jangan Berhenti Mencintaiku


-diambil dari lirik lagu berjudul "Jangan Berhenti Mencintaiku" yang dinyanyikan oleh Titi DJ-


***


Hari-hari Tanpamu


Jakarta


Reka


Ia sedang berkonsentrasi penuh membebaskan diri dari serangan pasukan Lycans yang mengejar tanpa ampun, ketika terdengar bunyi bip microwave tak kunjung berhenti. Semula, ia memilih bersikap acuh. Perhatian tetap terfokus pada layar televisi. Namun suara keras seperti benda terjatuh membuatnya langsung berlari ke dapur untuk mencari tahu.


"Tante!" Ia terperanjat melihat tante Pocut sudah terbaring di lantai dapur.


Tapi suara bip yang kembali terdengar dan desisan api kompor membuatnya lebih dulu mengambil makanan dari dalam microwave kemudian mematikan kompor.


"Tante nggak apa-apa?" Ia meraih bahu tante Pocut agar bangkit. Namun ibu tirinya itu justru mendesis dan meringis kesakitan dengan peluh membanjir.


Detik itu juga jantungnya langsung berhenti berdetak. Bayangan wajah ayah saat mengajaknya bicara di lobby hotel sebelum ia dan yang lain pulang ke Jakarta tiba-tiba melintas.


"Selama Ayah pergi, tolong jagain mama." Ayah menepuk bahunya pelan.


"Tante sakit?" Ia keheranan. Sebab sepanjang penglihatannya, tante Pocut selalu terlihat sehat.


"Enggak." Ayah mengu lum senyum. "Tunggu kabar pastinya."


Ia tak bertanya ataupun meminta penjelasan perihal kabar pasti yang ayah sebutkan. Ia bahkan melupakannya begitu saja. Tenggelam dalam sesi latihan intensif jelang penyelenggaraan Popkot (pekan olahraga pelajar kota) dan seabrek tugas sekolah yang harus dikejar agar tak tertinggal dari teman sekelas.


Namun kebiasaan aneh tante Pocut yang tiba-tiba suka memakai baju ayah sepanjang hari. Lalu suara hoek hoek di kamar mandi setiap pagi, mengingatkannya kembali pada percakapan dengan ayah. Apakah seperti tebakannya?


"Tolong bantu Ayah," ujar ayah dengan suara yang terlalu bersemangat melalui sambungan telepon. "Ingetin mama jangan sampai kecapekan."


"Tante sakit apa?" Tanyanya meski sudah memiliki tebakan sendiri. "Setiap pagi muntah-muntah."


Suara Ayah terdengar semakin penuh senyum. "Ayah titip mama dan calon adik."


Calon adik.


Sekarang matanya langsung tangkas memeriksa lantai tempat tante Pocut terjatuh. Syukurlah, tak ada bekas apapun di sana. Kemudian beralih meneliti kaki tante Pocut dengan cemas. Seperti adegan wajib yang ada dalam suatu film ketika pemeran utamanya mengalami kecelakaan.


"Ffiuuuh!" Ia langsung mengembuskan napas lega begitu mengetahui kekhawatirannya tak terbukti. Kaki tante Pocut terlihat bersih tanpa bekas luka ataupun darah segar yang mengalir.


Ia pun buru-buru meraih bahu tante Pocut. "Pelan-pelan aja, Tan."


Dengan gerak perlahan yang cukup memakan waktu, akhirnya tante Pocut bisa duduk di lantai dapur.


"Yang sakit apanya, Tan?"


Tante Pocut terlihat memaksakan diri untuk menggeleng dan tersenyum. "Kita makan sekarang? Keburu semakin malam."


Ia merangkum bahu tante Pocut agar berdiri. Namun desisan mengaduh meski lirih berhasil tertangkap oleh telinganya.


"Sakit, Tan?" Tanyanya tak bisa menyembunyikan rasa cemas.


Tante Pocut meringis campur senyum yang jelas-jelas dipaksakan. "Sepertinya harus duduk sebentar."


Ia membimbing tante Pocut untuk duduk di kursi makan yang letaknya paling dekat.


"Tante di sini aja. Aku ambil makan sendiri," ujarnya bergegas kembali ke dapur. Mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk.


Ia memang sedang lapar. Sejak siang perutnya belum terisi makanan berat. Hanya sesekali ngemil kismis dan kacang almond yang selalu tersedia di ruang tengah.


Ia makan dengan cepat. Melahap nasi berlauk sop daging dan tahu. Menikmati kelezatan masakan tante Pocut yang memang tiada duanya. Jaminan mutu. Sambil sesekali melirik ke arah tante Pocut yang masih meringis-ringis seraya memegangi bahu sebelah kiri.


"Masih sakit, Tan?" Ia meneguk segelas air putih sebagai penutup.


"Tangan Mama ...." Tante Pocut memegangi lengan kiri sembari meringis menahan sakit. "Rasanya nyeri. Nggak bisa digerakkan."


Ia mendekati tante Pocut dengan penuh kekhawatiran. "Tadi jatuhnya kena kiri ya, Tan?"


Tante Pocut mengangguk.


Ia bukanlah anak pramuka atau PMR (palang merah remaja) yang mendapatkan materi pembekalan khusus tentang luka akibat kecelakaan. Tapi ia adalah seorang perenang yang memiliki intuisi tajam tentang cedera. Tante Pocut terjatuh dalam posisi menyamping. Menggunakan bahu sebelah kiri sebagai tumpuan untuk menahan berat tubuh. Dan sekarang terasa nyeri tak bisa digerakkan. Hanya satu kemungkinan jawaban ... patah.


"Mau ke mana, Mas?" Seru tante Pocut karena ia tanpa ba bi bu menghambur ke kamar bermaksud mengambil ponsel.


"Jangan nelpon ayah," cegah tante Pocut dengan suara gemetaran. "Malam ini ayah sedang menghadiri jamuan makan malam di rumah dinas Gubernur."


Ia bergeming memandangi layar ponsel yang memperlihatkan tulisan,


Dialing Ayah ....


"Tolong panggilkan om Elang saja," sambung tante Pocut lagi. "Jangan membuat ayah khawatir."


Bertepatan dengan suara sahutan dari seberang, "Yes, Sir? Wazap?"


Ia tak langsung menjawab karena suara musik dan nyanyian yang menjadi latar belakang telepon ayah lebih jelas terdengar.


"Ada apa, Reka?" Ulang ayah sambil menanggapi candaan dari orang lain dan tertawa-tawa. Sementara alunan musik serta nyanyian bersuara merdu terdengar semakin membahana.


"Tolong panggilkan om Elang, Mas," pinta tante Pocut lagi.


Ia menelan saliva sebelum berkata dengan cepat. "Nggak, Yah. Barusan kepencet."


Call ended Ayah ....


Lalu segera berlari ke teras memanggil om Elang yang bertugas jaga malam ini.


"Izin saya antar ke UGD, Bu. Agar segera ditangani." Respon om Elang tak kalah gugup dibandingkan dirinya. "Bapak berpesan bahwa tugas utama kami adalah memastikan Ibu dalam keadaan baik-baik saja."


Bahkan perjalanan menuju, menaiki, dan selama berada di dalam mobil menjadi usaha keras tersendiri. Setiap detik yang berlalu memperlihatkan semakin memucatnya wajah tante Pocut beserta desisan halus pertanda sedang menahan rasa sakit.


"Saya berikan obat pereda nyeri, ya," ujar dokter UGD yang memeriksa tante Pocut. "Setelah ini, silakan Ibu melakukan rontgen dan CT Scan."


Om Elang izin mengurus administrasi dan pendaftaran. Sementara ia mengekor kemanapun tante Pocut pergi. Memperhatikan dengan gelisah bagaimana perawat menggunting lengan baju tante Pocut sebelum prosedur rontgen dilakukan. Sebab tante Pocut benar-benar tak bisa menggerakkan lengan untuk melepas baju.


"Bawa baju ganti kan, Dik?" Tanya perawat ke arahnya.


Ia hanya menggeleng lemah. Tak pernah berpikir jika harus mempersiapkan baju ganti.


"Nggak kepikiran, ya?" Perawat tersenyum memaklumi. "Kalau begitu, Ibu nanti pulangnya pakai baju dari rumah sakit saja."


Selama tante Pocut berada di ruang radiologi, ia berjalan mondar mandir mengelilingi ruang tunggu tanpa tujuan pasti. Kata rontgen dan CT Scan terdengar cukup menakutkan. Ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa tante Pocut selagi ayah tak berada di rumah.



Credit photo : My lovely sister 💕


"Ibu mengalami cedera patah tulang clavicula (selangka) sebelah kiri," terang dokter spesialis radiologi sambil menunjuk warna merah di layar. "Sepertinya akibat posisi jatuh yang bertumpu pada lengan. Saya sarankan segera menemui dokter bedah orthopedi untuk tindakan lebih lanjut."


Namun tak ada dokter spesialis orthopedi yang masih bertugas di waktu selarut ini.


"Sekarang saya beri penyangga dulu ya, Bu," ujar dokter jaga di UGD sambil memasang arm sling (penyanga lengan) di lengan kiri tante Pocut. "Jangan banyak bergerak apalagi yang berlebihan. Saya resepkan obat pereda nyeri juga. Besok jangan lupa temui dokter bedah orhtopedi."


Tante Pocut diperbolehkan pulang ke rumah. Ia sendiri yang mendorong kursi roda dan membantu tante Pocut menaiki mobil.


"Hati-hati, Tan," serunya cemas ketika lengan kiri tante Pocut hampir menyentuh pinggiran pintu mobil.


Ia bahkan tak bisa berhenti mengucapkan kalimat hati-hati, Tan di sepanjang perjalanan tiap kali tante Pocut bergerak. Hingga mobil yang dikemudian om Elang berhenti di halaman rumah.


"Besok pagi saya antar ke dokter lagi jam berapa, Bu?"


"Pagi banget," sahutnya cepat menjawab pertanyaan om Elang mewakili tante Pocut yang tengah kerepotan menuruni mobil.


Namun tante Pocut masih sempat menimpali. "Besok saya diantar pak Agus saja."


Ia menemani tante Pocut sampai ke dalam kamar. Membantu membuka bed cover dan menyiapkan bantal. Memastikan nyala AC tak terlalu dingin. Menyelimuti tante Pocut agar merasa nyaman. Meletakkan ponsel ke atas nakas seperti yang diminta tante Pocut. Lalu berdiri mematung tak tahu harus melakukan apa lagi.


"Terima kasih, Mas." Tante Pocut tersenyum. "Mama sudah baikan. Sekarang Mas tidur saja."


Ia mengangguk. Namun sebelum berbalik pergi memberanikan diri berkata. "Ng ... kalau Tante butuh bantuan, teriak aja nanti aku langsung ke sini."


"Iya." Tante Pocut masih tersenyum.


"Aku perlu ngasih tahu nenek nggak? Uti? Icad?"


Tante Pocut menggeleng. "Jangan dulu. Kita kasih tahu besok saja setelah bertemu dokter orthopedi."


Ia berniat untuk tidur. Namun tubuhnya seolah memiliki energi berlebih hingga kedua mata tak kunjung bisa terpejam. Kepalanya bahkan masih dijejali kekhawatiran tentang keadaan tante Pocut. Ia pun memutuskan untuk menjemput rasa kantuk dengan bermain PS. Melanjutkan petualangan melarikan diri dari serangan pasukan Lycans.


***


Pocut


Begitu Reka menutup pintu kamar, ia meraih ponsel yang tersimpan di atas nakas. Memeriksa pemberitahuan masuk kalau-kalau Tama sempat menelepon ketika ia pergi ke rumah sakit tadi.


3 Panggilan tak terjawab

__ADS_1


Papa Tama


Benar saja, ia mengembuskan napas panjang. Menyimpan kembali ponsel ke atas nakas usai menyetel alarm di tengah malam sebagai pengingat belum menunaikan salat Isya. Kemudian memosisikan diri untuk tidur dalam keadaan setengah duduk. Agar tak kesulitan ketika terbangun sebab tangan kiri berada dalam gendongan.


Rasa kantuk dan lelah berhasil membuainya ke alam mimpi dalam waktu singkat. Namun perut yang terasa nyeri seperti terserang kram tiba-tiba mengembalikan kesadaran penuhnya meski alarm belum berbunyi.


Apakah karena lapar? Atau maag lantaran perutnya sudah cukup lama tak terisi makanan? Terakhir yang bisa diingat adalah menikmati sepotong kue di rumah Grace. Padahal akhir-akhir ini, ia lebih cepat merasa lapar dan doyan menyantap kudapan sepanjang waktu.


Dengan gerak perlahan dan sedikit tertatih, ia mencoba bangkit hendak menuju ke kamar mandi. Namun sesampainya di luar, ia justru dikejutkan oleh keberadaan Reka yang tertidur di ruang tengah. Di depan televisi yang keseluruhan layarnya menampilkan warna biru.


Ia sempat mematikan televisi sebelum masuk ke kamar mandi. Sama sekali tak menduga akan mendapati buangan air kecil berupa gumpalan darah berwarna merah kecokelatan yang sangat mengejutkan.


"Astaghfirullahal'adzim." Ia terperangah dengan hati mencelos. Apa yang terjadi?


Namun rasa nyeri yang kembali menyerang perut bagian bawah seperti sedang kram, tak lagi bisa ditahan apalagi diabaikan. Seketika memunculkan rasa takut, cemas, dan khawatir jika sesuatu yang buruk telah terjadi. Apa karena ia terjatuh tadi?


Ia bahkan harus memejamkan mata ketika kembali merasakan keinginan untuk buang air kecil. Tapi sesuatu yang dirasa keluar dari dalam diri memancing keberaniannya untuk mencari tahu. Dan hatinya kembali mencelos begitu menangkap kilasan lembaran berbentuk panjang berwarna merah muda yang turut hanyut terbawa pusaran air.


Dengan tubuh menggigil ia memaksakan diri menunaikan salat Isya. Mengabaikan pertanda yang sejatinya telah terang benderang. Menganggap dan sangat berharap jika semuanya baik-baik saja.


"Baik-baik, Nak." Ia mengusap perut dengan perasaan tak karuan. "Tunggu papa pulang ya, Sayang. Maafkan Mama belum sempat pergi ke dokter."


Ia pun meraih Al-Qur'an. Membaca surat As-Sajdah, Al-Mulk, dan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah dengan sepenuh hati. Sebagai usaha menenangkan diri dari serbuan kecamuk pikiran buruk yang menggelisahkan.


Ia bahkan masih menggumamkan. "Rabbana wala tuhammilna ma la thaqata lana bih, wa'fu'anna waghfirlana warhamna ...." © sembari memejamkan mata. Sangat berharap esok pagi ketika terbangun, semua dalam keadaan baik-baik saja tak kurang suatu apa. Baik-baik saja tak kurang suatu apa.


Dan kegelisahannya perlahan berangsur menguap ketika subuh tiba lalu pergi ke kamar mandi, ia tak lagi mengalami nyeri perut ataupun mendapati gumpalan darah. Hanya flek berwarna merah muda yang sepertinya tak perlu dicemaskan. Sebab sudah menjadi hal rutin yang selalu dialaminya setiap awal masa kehamilan.


"Udah siap, Tan?" Sambut Reka yang langsung mengernyitkan dahi begitu melihatnya keluar dari dalam kamar.


"Mama nggak bisa ganti baju, Mas." Ia tersenyum sambil menyentuh seragam pasien rumah sakit yang dipakainya sejak semalam.


Tadi Yuni sempat menawarkan diri membantunya berganti baju. Itu berarti, ia harus melepas penyangga lengan lalu memasangnya kembali. Terlalu rumit. Sudah begini saja.


"Pakai ini saja ya, nanti dilapisi jaket papa biar agak modis," sambungnya geli.


Reka mengangguk dengan gerakan cepat. "Keren, kok. Oya, sebelum pergi, sarapan dulu, Tan."


Senyumnya dalam sekejap berganti menjadi rasa haru. Tatkala melihat sepiring roti bakar dan segelas susu telah terhidang di atas meja makan.


"Mas yang buat?" Ia buru-buru menarik kursi dan mendudukinya agar genangan air yang mulai memenuhi pelupuk mata sedikit tersamarkan.


Reka mengangguk sambil tersipu.


Ia pun menggigit roti bakar yang ternyata berisi pasta rasa cokelat kesukaan anak-anak. "Enak, Mas," gumamnya sungguh-sungguh.


Manis dan menghangatkan hati, imbuhnya namun hanya dalam hati.


Kemudian Reka membantunya menaiki mobil, menjaga lengan kirinya agar jangan sampai membentur pintu ketika turun dari mobil, mendorong kursi roda untuknya, dan memandangnya cemas saat dokter spesialis orthopedi memberi penjelasan.


"Cedera yang dialami Ibu cukup parah. Tulang yang patah sangat menonjol. Sudah mengenai jaringan di sekitar patahan. Kalau tidak segera dilakukan tindakan, dikhawatirkan akan semakin merobek jaringan kulit."


Dokter menjadwalkan operasi pemasangan pen tulang selangkanya pada sore hari. Pagi itu juga ia langsung masuk ke kamar perawatan. Tak pernah menyangka jika mamak dan bu Niar akan datang menjumpainya di ruang perawatan.


"Maaf, Tan," gumam Reka dengan kepala tertunduk. "Aku terpaksa nelpon nenek sama uti."


Bu Niar langsung memeluknya. Sementara mamak memberi tatapan penuh selidik berbalut rasa kekhawatiran yang tak bisa ditutupi. "Kandungannya baik-baik saja?"


Suasana di dalam ruangan mendadak hening. Mamak masih menatapnya. Begitupun Reka dan bu Niar yang terperanjat mendengar kata kandungan.


"Pocut ... hamil?" Tanya bu Niar dengan penuh kehati-hatian.


Ia memang belum mengabarkan berita kehamilan kepada bu Niar. Dan merasa semakin tak enak hati karena ternyata, Tama juga belum sempat membagikan kabar bahagia ini kepada sang mama.


"Maaf, Ma." Ia menelan ludah teringat gumpalan darah berwarna kecokelatan yang dijumpainya semalam. "Kami berencana memberitahu mama setelah mas Tama pulang dari Papua."


Bu Niar tersenyum haru seraya menggenggam tangannya erat-erat. "Nggak apa-apa. Yang penting sekarang, Pocut dan utun baik-baik saja. Tadi sekalian diperiksa obgyn, kan?"


Gelengan kepala membuat mamak dan bu Niar memandangnya penuh kecemasan.


Namun satu jam kemudian, kecemasan mamak dan bu Niar berpindah berkali lipat padanya. Terasa berat dan menyesakkan. Ketika ia memandangi layar yang menampilkan hasil USG.



Credit photo : bidanku.com


"Yang terlihat di sini hanya kantungnya saja," terang dokter spesialis kandungan yang mereka temui. "Normalnya di usia kehamilan 10 atau 11 minggu, janin sudah memenuhi sekitar 30% kantung. Tapi ini hanya berupa titik-titik."


Dan ucapan selanjutnya bak peluru tajam yang ditembakkan ke arahnya secara bertubi-tubi. Meluluhlantakkan asa tanpa ada kesempatan untuk membuat pilihan. Jatuh sejatuh-jatuhnya.


"Ibu mengalami kehamilan kosong, janin tidak bisa berkembang dengan sempurna, saya sarankan segera dilakukan kuretase."


***


Jayapura, Papua


Tama


Ketika mendapat panggilan masuk dari,


Mama


Tumben mama nelepon, batinnya heran. "Ya, Ma?"


Mama jelas sedang berbasa-basi menanyakan kabar. Ia memahami polanya. Seperti yang sudah sudah. Jika mama menelepon, pasti ada hal penting yang tak bisa ditunda.


"Mama sehat kan, Ma?" Ia straight to the point.


"Alhamdulillah sehat." Namun jawaban mama terlalu lemah dan tak bersemangat. "Ini tentang ... Pocut ...."


Kemampuan berpikirnya mendadak melambat begitu mendengar rentetan kalimat tak terduga yang mama ucapkan.


"Pocut jatuh."


"Tulang selangkanya patah."


"Sore ini dioperasi."


"Blighted ovum."


"Harus dikuret."


"Pocut milih nunggu kamu pulang."


"Bisa luruh sendiri tapi cukup beresiko."


Ia seperti tengah berada di dalam pesawat dengan pintu yang terbuka lebar. Didorong paksa oleh instruktur agar segera melompat keluar. Terjun bebas dari ketinggian 12.000 kaki tanpa dilengkapi parasut. Terhempas dengan kecepatan 200 km/jam. Meluncur ke bawah menukik tajam. Yang tersisa hanyalah kekacauan dan kepanikan.


Ia tak bisa memikirkan hal selain Pocut, Pocut, dan Pocut. Tak sekalipun memberi ruang pada rasa kecewa untuk tumbuh dan bertunas. Fokusnya hanya satu, Pocut baik-baik saja.


Ia memilih menelepon Reka daripada berbicara langsung dengan Pocut. Lebih baik memberi jeda daripada kepanikannya berimbas pada Pocut.


Reka melakukan semua. Ia bisa melihat ketika Pocut memasuki ruang operasi. Lalu dua jam kemudian didorong keluar dalam keadaan terbaring lemah dan tak sadarkan diri.


Satu hal yang harus disyukuri, operasi berjalan lancar. Pocut akan segera pulih. Ini tentu sangat melegakan.


"Very common case (kasus yang biasa terjadi)," terang dokter Stella melalui sambungan telepon ketika ia meminta second opinion.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sambung dokter Stella. "Kecuali mengalami kasus blighted ovum secara berulang. Baru kami lakukan penelusuran lebih lanjut karena mungkin ada kelainan."


"Penyebabnya belum bisa diketahui secara pasti, Tam. Kebanyakan karena kelainan kromosom. Bisa juga karena kelainan genetik atau kualitas sel telur dan sper ma yang bertemu kurang bagus."


"Bukan karena jatuh atau terbentur. Memang tubuh ibu secara alamiah akan menghentikan kehamilan karena janin tak berkembang."


Obgyn langganan keluarga besar mama ini memang truly recomended. Memberikan informasi tanpa menimbulkan kecemasan baru bagi orang awam seperti dirinya.


"Tenang, Tama." Suara dokter Stella tak seserius sebelumnya. "Blighted ovum masih bisa hamil lagi selama terus berusaha. Semangat."


Kelegaannya kian bertambah. Terus berusaha jelas bukan masalah besar. Dengan senang hati riang gembira akan dilakukannya sepanjang waktu. You know what i mean.


Malam harinya, dua jam lebih larut dibandingkan waktu terkini di Jakarta. Dari jendela kamar hotel yang terbuka lebar. Embusan angin sepoi di pergantian musim terasa hangat menerpa wajah. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kelip lampu kota Jayapura dengan tepian pantai indahnya yang telah menggelap.


Ia tersenyum menatap wajah lesi di layar ponsel. Kesunyian merebak, sebab tak seorangpun di antara mereka yang berkata. Ia terus saja memandang raut pucat penuh air mata di hadapan.


Maaf, begitu gerak bibir yang terbaca.


Love you, balasnya cepat seraya menyunggingkan senyum.


***


Jakarta


Pocut


Pandangan Tama masih sama seperti sebelumnya. Tak ada yang berubah. Tak ada tatapan menyudutkan apalagi menyalahkan. Tama bahkan selalu menjawab permintaan maafnya dengan gerak bibir serupa yang diulang berkali-kali hingga isakannya berganti menjadi sipuan malu.


Love you.


Love you.


Love you.


Ia teramat lega. Apa yang dikhawatirkan tak pernah menjadi kenyataan. Tama bahkan meraihnya, memahaminya, tak meninggalkannya sendirian. Tama ada dan selalu ada. Apapun yang terjadi. Ia tentu harus mengingat saat ini selamanya. Berada di titik terendah dengan rasa hati terindah.


"Mas pasti marah dan kecewa." Namun ia belum sanggup membalas sorot tajam (penuh cinta) Tama. Ia tetap harus meminta maaf untuk kelalaian saat Tama tak berada di rumah bukan?

__ADS_1


"Rasa sayang dan cintaku lebih besar daripada kekecewaan dan kemarahanku," jawab Tama dengan penuh keyakinan, berhiaskan seulas senyum di sana.


"Besok kuret, ya," sambung Tama seraya menatapnya tanpa jeda. "Kelamaan kalau nunggu aku pulang. Kamu bisa pendarahan. Terlalu beresiko."


Ia harus belajar melepaskan dan mengikhlaskan. Sama seperti Tama yang selalu mendukung dan mempercayainya. Sejak semula, saat mereka masih bukan siapa-siapa. Hanya dua orang asing dengan dunia yang jauh berbeda bahkan bertolak belakang. Hingga detik ini mereka telah menjadi teramat berarti satu sama lain.


Keesokan hari, ia kembali masuk ke ruang operasi. Menjalani seluruh prosedur kuretase dengan lancar. Begitu sadar dari pengaruh obat bius dan keadaan dipastikan stabil, dokter memperbolehkan pulang.


Sesampainya di rumah, Sasa tak mau melepaskan pelukan. Icad duduk di samping tempat tidurnya sepanjang malam. Umay membawakan semua makanan dan minuman ke dalam kamar. Sementara Reka tak berhenti bertanya, "Masih sakit, Tan?"


Tama tetap melanjutkan tugas kunjungan di Papua sesuai jadwal. Toh ia baik-baik saja. Dua operasi berjalan lancar tinggal melalui masa pemulihan. Tak ada hal genting yang mengharuskan Tama segera pulang. Apalagi keempat anaknya bersikap sangat manis. Bahu membahu menjaganya agar tetap duduk diam sepanjang hari tanpa melakukan aktivitas apapun.


"Eit, Mama duduk aja." Sasa memekik ketika melihatnya bangkit dari tempat tidur. "Nanti bos marah."


"Siapa bos?" Ia tertawa sambil berjalan menuju meja rias.


"Bos Reka." Sasa menganggukkan kepala berkali-kali. "Bos bilang, Mama nggak boleh jalan sembarangan. Nanti jatuh lagi. Mama duduk aja di kamar. Biar cepat sembuh."


Ia menggelengkan kepala dengan geli. "Mama nggak sakit, Sa. Mama sudah sembuh. Kalau Mama diam saja malah jadi sakit."


"Mama nggak boleh sakit." Sasa menggelengkan kepala dengan kening mengerut. "Nanti Sasa sedih."


Ia memijit hidung Sasa dengan gemas. "Makanya, jangan membuat Mama jadi pemalas. Diam seharian nggak ngapa-ngapain."


Sasa memberengut. "Iya. Sasa udah kangen masakan Mama. Kangen bekal buatan Mama. Kangen semuaaaa yang ada di Mama."


Ia memeluk tubuh mungil Sasa dengan sebelah lengan. Lalu mencium puncak kepala putri bungsunya itu dalam-dalam. "Mama juga kangen semua, Sa. Kangen sekali."


Kuretase tak memberikan efek samping. Hanya menyisakan flek yang semakin berkurang setiap harinya. Sementara luka bekas operasi pemasangan pen lebih membutuhkan perawatan dan kesabaran. Lengannya belum bisa digerakkan. Luka bekas jahitan juga masih basah. Ditambah rasa nyeri serta panas yang ditimbulkan bekas luka terasa cukup mengganggu.


Namun itu bukan masalah berarti. Ia sangat menikmati setiap proses menuju pemulihan tanpa kecuali. Mengikuti alur yang diperuntukkan tanpa sekalipun mengeluh. Karena ia menyadari bahwa dalam setiap musibah selalu terselip kebaikan di dalamnya. Entah kebaikan besar atau kecil. Entah diketahui hari ini atau esok lusa. Kebaikan itu selalu ada.


"Sudah kuduga kamu lagi hamil." Grace datang menjenguk di suatu petang. Terpisah dengan teman-teman lain yang lebih dulu berkunjung di sore hari.


"Get well soon." Grace membawakannya dua box besar berisi buttercake yang pastinya lezat. "Biar project kita cepet terealisasi."


Sarah berkunjung bersama rombongan dari yayasan Kemala. Sejumlah buket bunga segar dan bingkisan dari rekan-rekan Tama terus mengalir berdatangan. Tak ketinggalan pula ibu-ibu kampung Koneng yang datang menjenguknya dengan menaiki dua angkot carteran.


"Cetakannya udah lama nggak dipakai kali, Cut," seloroh mpok Lela biangnya ramai. "Mesti dibersihin dulu biar ngadonnya makin jadi."


Susana ruang tamu mendadak riuh oleh celetukan dan tawa ibu-ibu. Andreas yang sedang bertugas sampai melongok ke depan pintu mencari tahu.


"Aman." Ia mengacungkan jempol pada Andreas sebagai tanda jika semua baik-baik saja.


"Duh, Cut, kapan laki lu balik?" Mpok Mumun tiba-tiba mengeluh.


"Nape malah ngurusin laki si Cut, Mpok?" Timpal yang lain. "Nyang sakit pan si Cut, bukan lakinye."


"Itu, ponakan gue nyang bawa taxi online," terang mpok Mumun. "Pagi buta ditabrak belakang ama mobil lain. Malah ponakan gue yang disalahin."


"Disalahin gimana?" Ibu-ibu yang lain langsung kasak kusuk.


"Waktu ponakan gue bikin laporan nih, malah ditanya ama polisinya, lu siapa? Kalau bukan siapa-siapa, berani bayar berapa lu? Kalau nggak mau bayar, punya kenalan petinggi kagak lu?" Mpok Mumun menggelengkan kepala dengan wajah kesal. "Kagak bisa jawab ketiganya ya amsyong. Ngalamat kagak diurusin tuh laporan."


"Mpok." Cing Weny menyela. "Kita pan lagi nengokin si Cut. Malah bahas beginian. Kagak pantes, Mpok."


Tapi mpok Mumun kembali melanjutkan. "Hari gini punya kenalan pejabat bener-bener manfangat. Semua urusan bisa beres kagak peduli sesalah ape lu."


Mpok Mumun memandangnya. "Kapan laki lu balik, Cut? Tolongin ponakan gue, dong."


Ia hanya bisa tersenyum pahit. Cerita lama dengan lakon baru kembali terulang. Mengisahkan ketidakadilan yang dipertontonkan secara terang-terangan oleh oknum pengayom. Kejahilan yang dilakukan sebagian namun berimbas pada semua.


Namun dari sekian kepahitan dan rasa tak enak hati, selalu ada berkah dan kebahagiaan yang menyertai. Paling tak terlupakan ketika suatu malam, Reka mengetuk pintu kamarnya kemudian berkata,


"Besok upacara pembukaan Popkot (pekan olahraga pelajar tingkat kota)."


Ia tersenyum. "Jadwal Mas kapan? Nanti kita nonton rame-rame."


"Hari ketiga." Reka menunduk dengan gerik gugup. "Di GOR ...." Sembari menyebut nama GOR tempat dilangsungkannya cabang renang.


"Nanti Mama bawa suporter sekampung." Ia bersungguh-sungguh. Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Menonton salah satu putranya bertanding di sebuah kejuaraan. Rasanya tak sabar menanti.


Reka tertawa. "Enggak juga nggak apa-apa. Teriakan Umay sama Sasa kayaknya cukup. Bisa bikin orang se GOR noleh."


Ia ikut tertawa. Reka benar. Jeritan Umay dan Sasa sudah mewakili teriakan orang sekampung. Ada-ada saja.


"Aku ke sini cuma mau ...." Reka kembali menunduk dengan wajah memerah. Lalu menatapnya malu-malu. "Minta doa restu Mama ...."


Ia terkesima mendengar kata mama.


"Pelatih favoritku di Surabaya selalu bilang, tiap mau tanding ... jangan pernah lupa minta doa restu orang tua." Reka kembali menunduk. "Karena sekarang mama orang tua Reka. Jadi ...."


Reka tak sempat melanjutkan kalimat karena ia keburu meraih bahu tegap itu ke dalam pelukan.


Iya, Reka sayang, pasti mama doakan. Selalu mama doakan. Terima kasih sudah memanggil dengan sebutan terindah.


Ia bersyukur dengan hadirnya semua kebahagiaan yang tak disangka-sangka ini. Semakin bersyukur karena Reka tak menolak pelukannya. Bersyukur berkali lipat hingga tak bisa mengucapkan sepatah katapun kecuali lelehan buliran bening yang terus mengalir.


"Jangan lupa minta doa restu ayah dan bunda," ujarnya sambil menyusut sudut mata.


Reka mengangguk. Namun sejurus kemudian terlihat menahan senyum meski gagal.


"Kenapa?" Tanyanya heran.


"Harus lebih semangat tandingnya." Reka masih tersenyum. "Udah ngantongin tiga doa restu. Lebih banyak dibanding peserta yang lain."


Ia ikut tersenyum. "Empat malah. Lebih banyak sekali."


Reka meringis. "Oya, pakde Pram kelewat. Lupa, hehe ...."


Ia mengajak sebanyak mungkin orang untuk datang ke GOR menyemangati Reka. Kecuali ketiga anaknya yang masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.


Mamak dan bu Niar terlihat paling bersemangat. Anjani sempat mampir sebentar sebelum pergi ke kampus. Yuni, Agus, dan pak Cipto menjadi yang paling riuh bersorak. Sementara Devano sejak awal sibuk membidikkan lensa kamera ke segala penjuru.


"Izin mendokumentasikan, Bu." Devano mengangguk ke arahnya. "Reka keren sekali, bapak pasti bangga."


Reka memang keren sekali. Berhasil masuk final untuk 100m dan 50m gaya bebas putra. Dan ia tahu pasti jika Tama sangat bangga dengan putra kandungnya itu. Kebanggaan yang sama yang saat ini tengah dirasakannya.


Reka akhirnya berhasil meraih medali perunggu untuk 100m gaya bebas putra. Dan menempati posisi terbaik keempat untuk 50m gaya bebas putra. Semua torehan tersebut sudah cukup untuk mengantarkan Reka lolos seleksi mengikuti Popprov (pekan olahraga pelajar tingkat provinsi) yang akan dilaksanakan tiga bulan mendatang.


Selain kebahagiaan atas kemenangan Reka di Popkot, ada kelegaan lain yang semakin menyempurnakan. Dengan mengeringnya luka bekas operasi pemasangan pen. Benang jahitan dan perban yang telah berhasil dilepas. Juga lengan yang tak lagi terasa nyeri dan perlahan-lahan mulai bisa digerakkan.


"Harus dijaga ya, Bu," ujar dokter spesialis orthopedi usai melatih gerak tangannya ke depan, samping, atas dan bawah. "Jangan dipaksa, jangan bergerak terlalu cepat, jangan mengangkat beban yang berlebihan, tidak boleh menaiki sepeda atau sepeda motor sampai pennya dilepas."


Beberapa hari setelah lengannya terbebas dari gendongan, Tama yang sudah menyelesaikan kunjungan ke Papua pulang ke rumah. Seperti biasa langsung diserbu oleh anak-anak. Sasa dan Umay paling mendominasi. Semua hal diceritakan tanpa ada yang disembunyikan bahkan untuk hal remeh yang cukup memalukan. Sementara Icad dan Reka duduk memperhatikan kedua adiknya mengerubuti ayah papa sambil sesekali tertawa.


"Mana lukanya?" Tama membuka kerah bajunya tanpa permisi ketika mereka tengah saling memandang di atas tempat tidur.


"Masih sakit nggak?" Ujung telunjuk Tama menelusuri garis luka yang memanjang di bawah lehernya.


Ia menggeleng. Tak pernah menyangka Tama akan mendekatkan wajah untuk menciumi luka bekas operasinya.


"Cepet sembuh, ya," bisik Tama seraya menyapukan kelembutan di sepanjang garis lukanya. "Semoga ini cedera pertama dan terakhir."


"Aamiin," gumamnya sambil memejamkan mata. Menyukai kehangatan sapuan yang menentramkan. Merasai keindahan penjelajahan yang kian melenakan.


"Lanjut jangan?" Godaan penuh gelora Tama membuat sekujur tubuhnya berdesir.


Namun ia masih bisa merespon dengan gelengan. "Kata dokter tunggu tiga bulan, Mas."


"Dokter kurang ajar."


Ia langsung menepak lengan Tama.


"Dia kira siapa? Beraninya ngatur-ngatur. Sudah bosan hidup rupanya!"


Ia kembali menepak lengan Tama tapi sambil tertawa. Begitupun Tama. Tak melanjutkan penjelajahan dan lebih memilih meraihnya ke dalam rengkuhan.


"Tiga bulan maksudnya jangan hamil dulu," gumamnya sambil membetulkan letak kepala agar lebih nyaman di lengan Tama.


"Kalau itunya ...." Ia tak melanjutkan kalimat karena merasa malu.


Tama terkekeh seraya mencubit cuping hidungnya. "Lanjut nih, sekarang? Nantang apa gimana?"


Wajahnya langsung memanas menahan malu. Tapi di depan suami sendiri tak boleh malu bukan? Dengan meneguh-neguhkan hati ia memberanikan diri berucap, "Mas mau apa? Biar kujamu. Tapi selain yang satu itu. Dokter bilang harus menunggu dua minggu untuk menghindari infeksi. Sekarang belum ada dua minggu sejak dik__"


Ucapannya terpotong di udara sebab Tama keburu mengeratkan rengkuhan. "Makin cinta deh sama istriku ini."


Lalu mengecup keningnya dalam-dalam. "Menunya apa aja? Paket combo, deluxe, double cheese? All you can eat bisa nggak?"


Ia mau tak mau tertawa meski merasa jengah, malu, sebal, tapi juga lucu menanggapi tingkah kekanakkan Tama yang membelokkan hal sensitif menjadi menu restoran.


"Maaf, Ndan." Ia mengu lum senyum menahan tawa. "Khusus malam ini hanya ada nasi bungkus diikat karet dua, disobek pinggirnya, sambal pisah."


Tama tergelak berkepanjangan mendengar candaannya. "Cari mati nih cuma nawarin nasi bungkus!" Kemudian menciumi pipinya bertubi-tubi hingga ia merasa kegelian dan kesulitan bernapas.


Ketika ia hampir menyerah karena tak sanggup tertawa lagi, Tama berbisik tepat di telinganya. "Aku mau buffet."


Ia sempat berpikir keras mencari arti kata buffet. Sebelum akhirnya mengangguk mempersilakan Tama melakukan semua yang diinginkan.


***


Keterangan :


Lycans : salah satu karakter musuh dalam game survival horor, Resident Evil Village. Sosoknya berwujud manusia serigala. Tidak hanya satu, Lycans memiliki beragam ukuran dan dikenal mampu bergerak cepat dengan palu besi raksasa di tangannya (sumber : teknogamesuara.com)

__ADS_1


© : artinya : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatillah kami (QS 2:286)


*********


__ADS_2