Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 107. Somewhere Between The Night


__ADS_3

Jakarta


Tama


Dari sekian tuntutan dan tumpukan tugas yang nyaris tanpa henti, kabar gembira serta penghiburan datang dari rumah beserta isinya. Apalagi kalau bukan istri memesona yang menenangkan hati, serta anak-anak manis nan lucu yang sejuk dipandang. Membuat kelelahan dan kepenatan usai menghadapi kebengisan dunia langsung terobati oleh kenikmatan surgawi. Tak ada lagi yang bisa dipinta karena ia telah memiliki segala yang selama ini didamba, istri dan anak-anak yang menenteramkan. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati menggariskan nasibnya untuk bersyukur. Setelah semua kesombongan dan kepahitan di masa lalu.


Namun sudah menjadi hukum alam jika semua yang ada di dunia senantiasa berdampingan. Kegembiraan – kekecewaan, kebahagiaan – kedukaan, keberhasilan – kegagalan. Panggilan telepon mengejutkan ketika ia tengah meladeni kefanatikan Armand tentang konsep kesetaraan pasangan menjadi pembuka dari perjalanan panjang.


“Tam, lu bisa bantu gua?”


Nomor telepon asing berkode negara Australia mengantarkan suara penuh kecemasan seorang Prasbuana.


“Gua udah hubungi Rajas. Dia bakal handle semuanya. Tapi gua perlu bantuan lu sebagai jaminan. Gua harus pulang dan masuk ke Indonesia secara legal.”


“Masalahnya apa?”


Ia tentu harus bertanya duduk perkara terlebih dahulu. Meski telah mengenal Prasbuana dengan baik sejak belasan tahun silam. Paham betul jika pria ahli IT itu lurus-lurus saja dalam menjalani kehidupan. Penyandang level terendah kenakalan masa muda di antara mereka berenam. Namun ucapan terakhir Prasbuana melalui sambungan ponsel sangat mencurigakan.


Dan Armand menyebutkan sebagai deadly news, meski ia belum memastikan apakah mereka membicarakan hal yang sama atau tidak. Entah siapa orang yang menghubungi Armand di saat ia mendengarkan penjelasan mencengangkan Prasbuana. Mungkin Rajas atau Wisak. Tiga konglomerat muda itu seringkali terkoneksi lebih awal di antara mereka berenam. Tiga pria pemilik sendok emas sejak lahir itu seolah mempunyai lingkaran pertemanan tersendiri dalam persahabatan mereka. Circle elite yang tak bisa dimasuki oleh dirinya, Riyadh, juga Prasbuana.


“Gua butuh waktu untuk menghubungi orang-orang di lapangan, Pras.” Ia memang memiliki koneksi jalan sutra di jajaran para bintang. Tapi ia bukanlah superhero yang bisa dalam sekejap menolong orang lain. Ia tetap harus berpeluh dan bergerak secara teknis terutama jika menyangkut kasus tak biasa seperti yang tengah dialami sang sahabat. “Lu bisa nunggu? Masih ada waktu?”


“Please, Tam. I’m begging you.” Kalimat terakhir Prasbuana sebelum memutuskan sambungan, seolah menjadi pertanda jika masalah teramat pelik dan sulit terurai. Bahkan sebelum bergerak menyusun strategi, ia sudah membayangkan kerumitan seperti apa yang harus mereka lewati jika ingin membawa pulang Prasbuana ke Indonesia.


“Mas, penyidikan JP dibuka lagi.” Menjadi panggilan mengejutkan kedua dari nomor Erik. “Atas permintaan keluarga dan tertutup dari media.”


Ia memijat pelipis yang mendadak pening mendengar penuturan Erik harus bolak-balik Medan-Surabaya usai kasus peties dibuka kembali. Sedangkan ia tak menerima perintah apapun terkait penyidikan kembali kasus Jusuf Parawihardja, padahal ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus tersebut.


“Dan saksi kunci pihak keluarga Parawihardja yang menolak kasus dibuka, dilaporkan menghilang per hari ini.” Lugas Erik menutup informasi.


Ia mengembuskan napas dengan kasar hingga menimbulkan suara keras seperti orang mengeluh. Ia hampir menyebut nama pria arogan penuh kuasa yang pernah beradu mulut dengannya di depan ruang pemulasaran jenazah beberapa waktu lalu, namun urung ketika tatapannya bertabrakan dengan sepasang mata penuh misteri milik Armand.


Sekali lagi ia berpikir, jika Armand juga tengah menerima telepon dari seseorang tentang masalah yang sama seperti yang baru saja ia dengar.


“Rik, kita harus kerja sama.” Ia mencium banyak kejanggalan. Dan firasat mulai membuka jalan.


“Siap, Mas!”


***


Reka


Ia memandangi layar ponsel yang menampilkan sederet huruf dan angka membentuk kode booking. Suara pertengkaran Umay dan Sasa sama sekali tak mengusik lamunannya.


Beberapa hari ini, anak-anak di kelas dan klub ramai membahas plot twist Eyes of Darkness. Film laga superhero yang sedang tayang di bioskop. Ia berencana nonton sejak jauh-jauh hari, namun orang yang diajak menolak.


“Sori, gue nggak bisa.” Gadis berwajah tirus yang hari itu memakai jepit rambut gocengan pemberiannya menggeleng tanda menolak.


“Aku yang bayar,” sahutnya cepat namun segera diralat. “Bukan maksudk__”


“Bukan masalah uang.” Gadis itu kembali menggeleng. “Tabungan hasil jualan kue buatan nyokap lo di market day masih utuh. Bisa buat beli tiket sama popcorn. Gue nggak semiskin itu, Reka.”


“Ya, terus, kenapa nggak mau?” Ia menuntut jawaban. “Aku nggak ada waktu lagi selain hari Minggu besok. Mulai weekend depan, pelatih nambah jam latihan di hari libur.”


“Iya, tahu.” Gadis itu menampakkan wajah kesal seperti biasanya. “Popprov udah deket. Lo mesti sering latihan.”


Ia tersenyum senang. “Jadi, hari Minggu … bisa?”


Gadis itu lagi-lagi menggeleng. Namun kali ini sambil melotot. “Lo ngerti nggak, sih? Kita nggak boleh jalan berdua. Anak-anak jangan sampai tahu tentang kita! Gue capek jadi bulan-bulanan anak-anak gara-gara elo! Masa nggak ngerti juga, sih?”


“Mereka nggak akan tahu. Aku jamin kit__”


“Susah ya, ngomong sama elo? Batu banget!” Gadis itu memberengut. “Mending lo ajak Tanvi atau Driti tuh, mereka berdua ngarepin diajak nonton sama lo.”


“MAS REKAA!”


Ia terhenyak mendengar namanya diteriakkan oleh Sasa. Disusul benda berat yang tiba-tiba menjatuhi punggungnya.


“Bang Umay nakal, nyembunyiin mainan Sasa!” pekik Sasa sambil menggelayuti punggungnya. “Mainan rumah-rumahan yang dibeliin Mas Reka ituu tuh!”


“May!” Terdengar suara berat Icad yang sedang memunggungi mereka menghadap meja belajar. Anak itu setiap hari pekerjaannya hanya membaca dan membaca, membosankan sekali. “Balikin mainan Sasa.”


Umay yang cekikikan memanjat lemari tak menggubris perintah Icad. Malah semakin menyembunyikan mainan Sasa di atas lemari dengan mendorongnya dalam-dalam.


Ia menyimpan ponsel di atas tempat tidur lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil mainan Sasa tanpa menoleh pada si jahil Umay.


“Yah, Mas Reka! Jangan diambil! Jangan! YAH!” Umay memprotes dan berusaha merebut mainan kembali, namun ia lebih dulu memberikannya pada Sasa.


“Yeyeyeye! Lalalala!” Sasa meleletkan lidah ke arah Umay yang sedang mengomel. “Makasih, Mas Reka.”


Ia tak meladeni keriuhan Sasa dan kembali meraih ponsel lalu tiduran di atas kasur. Memandangi kode booking dua buah tiket yang terlanjur dibeli dan punggung Icad secara bergantian.


“Cad, kamu udah nonton Eyes of Darkness?” tanyanya sambil lalu.


Sementara di kejauhan, tawa Sasa dan Umay mulai terdengar membahana. Dua adiknya itu, sebentar bertengkar, sebentar baikan. Bertengkar kok sebentar, begitu ledek ayah tiap kali mendapati Sasa menjerit-jerit karena kejahilan Umay. Bertengkar terus bisa nggak? Tantang ayah yang langsung membuat Sasa dan Umay mengkerut.

__ADS_1


“Belum.”


“Mau nonton?” tawarnya.


Sayang, kalau tiket yang sudah dibeli tak dipakai nonton. Harapan satu-satunya ada pada Icad. Lagipula, ia tak mungkin mengajak si jahil Umay. Selain berisik dan terkadang memalukan saat berada di tempat umum, Eyes of Darkness diperuntukkan bagi penonton berusia 13 tahun ke atas. Sedangkan Umay belum 13 tahun. Ayah selalu menegaskan, mereka berempat bebas menonton film apapun asal sesuai peruntukkan.


“Males.”


Ia menarik napas panjang. “Aku punya dua tiket buat hari Minggu. Kira-kira … temen kamu ada yang butuh nggak? Mau kulepas setengah harga.”


Icad yang semula tak acuh mulai menoleh. “Di mana?”


Ia menyebut nama Mall favorit. Terletak cukup jauh dari rumah memang. Tapi siapa mau menolak rezeki tiket nonton saat weekend di setengah harga?


“Itu Mall orang kaya,” jawab Icad kembali memutar bahu memunggunginya. “Boni sama Kioda bakalan plonga plongo di sana.”


Ia mendecak. “Mana ada Mall dilabeli golongan tertentu. Tempat publik bebas diakses semua orang tanpa kecuali.”


Icad lantas menyebut nama Mall yang berada tak jauh dari rumah mereka. “Kalau bioskop di Mall itu, aku bantu tawarin ke temen-temen. Pasti banyak yang gercep.”


“Mubazir dong, tiketku.” Ia menggerutu.


“MAS REKAA!” teriakan nyaring Sasa kembali terdengar memasuki kamar mereka. Kali ini gadis cilik berpita itu hampir menubruknya di atas tempat tidur. “Bang Umay nakal lagi!”


“Sasa nggak seru, ah!” Umay dengan suara ngos-ngosan menyusul masuk ke dalam kamar. “Senengnya ngadu sama mas Reka. Payah!”


“Jangan bikin Sasa teriak-teriak, May!” tegur Icad yang tak diindahkan Umay. “Berisik, tahu!”


“Biarin, weeeek!” Sasa yang telah naik ke atas tempat tidurnya meleletkan lidah panjang-panjang. “Habis Bang Umay nakal, sih. Biar dimarahin sama mas Reka sama abang Icad!”


“Sini!” Umay melambaikan tangan ke arah Sasa. “Mau main lagi nggak? Sekarang Abang nggak akan jahil lagi. Ayo!”


Ia yang tak menghiraukan keributan Sasa dan Umay hanya bisa melongo ketika Sasa dengan satu lompatan berhasil melewati tubuhnya untuk turun ke lantai.


“Busyet!” sungutnya namun merasa lega sebab tak sampai terinjak oleh Sasa.


“Ajak mama aja,” gumam Icad hampir tak terdengar.


Ia yang tak yakin telinganya berfungsi dengan baik hanya ber hah?


“Mama belum pernah nonton di bioskop, kecuali bioskop pasar malem waktu aku masih TK,” lanjut Icad masih setia dengan gumaman.


“Gimana, gimana?” Ia bangkit dari tidur dan mendekati meja belajar. “Ngajak mama?”


Icad menoleh seraya mengangguk. “Kalau nggak salah, om Tama juga belum pernah ngajak mama nonton bisokop, kan?”


“Mama juga kemarin sempat sedih karena Lombok Abang.” Icad menatapnya sungguh-sungguh. “Kalau diajak nonton dan jalan-jalan, mungkin bisa bikin mama senyum lagi.”


Ia secara tak sengaja mengetahui beberapa pesan buruk yang masuk ke sosial media Lombok Abang ketika hendak membantu teh Yuni mengunggah video terbaru. Ia sangat marah dan hampir membalas pesan-pesan tersebut dengan makian. Tapi teh Yuni melarang.


“Saya juga maunya balas marah-marah ke mereka, Mas Reka.” Teh Yuni memasang wajah menyesal. “Tapi kata ibu, jangan. Sudah, biarkan saja.”


Ia lantas menceritakan kekesalan tentang ulah orang tak bertanggung jawab di sosial media Lombok Abang pada Icad. Dan jawaban yang diberikan sama seperti ucapan mama ke teh Yuni.


“Kalau mama bilang biar, ya biar.”


Ia mengernyit memikirkan kemungkinan mengajak mama seperti usulan Icad. Kira-kira, mama mau diajak nonton atau tidak, ya?


***


Pocut


“Mama pakai baju ini nggak apa-apa, Reka?” tanyanya sambil memperlihatkan blouse berwarna peach beraksen tenun ikat hadiah dari bu Niar dan rok berbahan jeans oleh-oleh pemberian Anjani dari Bandung.


Reka mengangguk usai memperhatikan penampilannya.


Semalam, ia terkejut ketika Reka menghampirinya di dapur usai makan malam. Ia sempat was was dan berpikir apakah Reka terlibat masalah lagi sekolah? Sebab Tama tak akan bisa membantu menyelesaikan permasalahan karena sedang dinas luar hingga dua hari ke depan.


“Mama besok mau nonton nggak sama Reka? Kalau nggak mau, ya udah,” ucap ABG bertubuh jangkung itu terburu-buru.


Ia hanya terlolong saking tak menyangka akan mendapat pertanyaan demikian. “Non ton?”


Seumur-umur, bisa dihitung dengan jari satu tangan, momen ia menonton film di bioskop. Dan kesemuanya bersama almarhum bang Is.


(Ia mendadak gugup tiap kali mengingat sosok mendiang. Lantunan doa senantiasa terucap tanpa henti, berharap almarhum tenang di sana. Abang, beristirahatlah di tempat terbaik di sisi Allah.)


Jadi, ketika Reka memberi penawaran, tanpa berpikir ia langsung menyetujui.


“Wah, bapaknya kalah set nih sama anak ingusan,” seloroh Tama melalui sambungan ponsel ketika ia meminta izin hendak pergi nonton bersama Reka. “Kalau untuk sat set begini, darahku mengalir derassss di nadinya.”


Ia kembali gugup ketika taxi berhenti di lobby Mall yang pernah dikunjunginya bersama Tama. Ia hampir membuka pembicaraan dengan Reka, untuk mengurai kecemasan yang kerap kali muncul tiap berkunjung ke tempat elite. Namun uluran lengan yang menawarkan tumpuan, perlahan mulai menenangkannya. Mereka lantas berjalan beriringan menyusuri lantai Mall menuju bioskop dengan tangannya menggandeng lengan Reka.


“Aku udah beli via online,” jawab anak laki-laki jelang remaja yang siang ini terlihat begitu tampan dalam balutan kaos putih berpadu kemeja kotak, ketika ia bertanya mengapa mereka tidak antre membeli tiket.


“Tinggal diredeem,” sambung pemuda tampan itu yang tanpa rasa malu terus menggandeng tangannya melewati sekumpulan remaja seusia di ruang tunggu cinema.

__ADS_1


“Mas nggak malu gandeng tangan Mama?” tanyanya ingin tahu. “Yang lain datang ke bioskop sama pacar, Mas malah sama emak-emak.”


“Enggak lah, kenapa mesti malu?” Namun sejurus kemudian Reka mengerling ke arahnya. “Memang Reka udah boleh punya pacar?”


Ia hanya tertawa. “Oh, kalau itu harus mengikuti aturan yang dititahkan bos besar.”


Syukurlah Reka tak lagi bertanya, malah menawari cemilan. “Mama mau popcorn rasa apa?”


“Yang enak yang mana, Mas?” Adalah jawaban paling standar yang bisa diberikan.


“Semua enak.” Reka tertawa.


“Yang paling Mas Reka suka, apa?” Ia bersikeras meminta pendapat sang putra sambung.


Reka lantas memesan popcorn rasa caramel dan cookies and cream ukuran paling besar. “Kalau minumnya apa, Ma?”


Ia tersenyum. “Yang penting nggak ada unsur kopinya. Mama bisa pusing kalau minum kopi.”


Sebenarnya, akhir-akhir ini ia sering merasa pusing meski tak pernah meminum kopi. Entahlah, setiap pagi jelang siang di jam yang sama, tiba-tiba pening menyerang tanpa diketahui penyebabnya. Dan ia harus segera menghentikan seluruh aktivitas lalu meringkuk di atas tempat tidur agar pening segera menghilang.


Yuni sempat mencurigai kecemasannya tentang Lombok Abang berpengaruh buruk terhadap kondisi kesehatan. Hingga menghubungi cing Ella agar memanggil tukang pijat langganan kampung Koneng untuk memijatnya. Setelah dipijat, ia memang merasa lebih segar. Namun keesokan hari, pening kembali melanda.


“Ini film ketiga dari Darkness Universe,” terang Reka ketika mereka telah duduk memandang layar.


Ia tersenyum mengangguk dan mencoba menikmati adegan demi adegan penuh laga yang ditampilkan. Helaan demi helaan berkali-kali terdengar dari para penonton yang terpukau akan kecanggihan efek. Termasuk Reka. Ketika melirik ke samping, putranya itu sedang melongo menyaksikan layar.


Ia tak tahu perasaan apakah yang sejak awal melingkupi sanubari lantas menjalar ke segala penjuru. Seperti sebuah penghormatan, cinta, dan pengakuan menjadi orang tua sesungguhnya, bercampur baur menjadi satu.


Dahulu, ia langsung mengucap syukur manakala Reka mendatangi kamarnya dan memanggil dengan sebutan mama. Sekarang, ia harus melakukan hal yang sama, sebab perlakuan manis Reka terhadapnya terasa sangat menyentuh. Bahkan mungkin menjadi momen yang takkan terlupakan.


***


Surabaya


Tama


Malam ini, ia masih berada di sebuah hotel di Surabaya guna menyelesaikan urusan kasus om Jusuf, ketika ponsel dinasnya bergetar.


Incoming Call


Mama


Ia tak mengacuhkan, sebab suasana di ruangan sedang memanas. Amarah beserta sumpah serapah mengemuka. Namun pada panggilan ketiga, ia tak lagi bisa meminggirkan mama. Karena tak biasanya sang ibunda menelepon nomor dinas, kecuali ada hal penting yang harus disampaikan.


“Rik, metu sek.” Ia menepuk bahu mantan bawahannya seraya memperlihatkan nama mama di layar ponsel. “Penting.”


Erik terlihat menyayangkan pilihannya keluar dari arena pertempuran mental melawan antek-antek Parawihardja. Namun pria itu tak bisa menghalangi niatnya menerima panggilan di luar ruangan.


“Ya, Ma?”


“Tama,” Suara mama terdengar penuh kekhawatiran. “Kamu di mana?”


“Luar kota, Ma. Ada apa? Mama sehat-sehat aja, kan?”


“Mama sehat, alhamdulillah Mama sehat.” Suara di seberang terdengar semakin cemas. “Pocut ….”


“Kenapa Pocut?” Ia hampir berteriak antara kaget dan tegang.


“Tadi sore Reka nelepon Mama, katanya lagi di Mall.” Mama menyebut nama Mall langganan keluarga mereka.


“Iya, terus? Pocut memang bilang hari ini mau nonton sama Reka.” Ia belum bisa menebak hubungan Reka menelepon dengan kecemasan mama tentang sang istri.


“Iya, mereka pergi nonton berdua.” sambung mama namun dengan suara yang lebih tertata. “Kata Reka, Pocut tiba-tiba menggigil kedinginan. Sama Reka diantar ke toilet, terus Pocut di sana muntah-muntah. Sampai film selesai, Reka masih nunggu di depan toilet wanita. Pocut bolak-balik muntah terus.”


“Iya, terus?” Ia mengangkat tangan memberi kode pada Erik yang menyusul ke luar ruangan. “Bentar lagi, Rik!”


Erik menunggu di depan ruangan tanpa bisa menyembunyikan raut kecemasan. Pertemuan mereka dengan utusan Parawihardja kali ini benar-benar menguras energi dan emosi.


“Terus Mama minta mereka ke rumah sakit terdekat.” Mama mulai bisa menceritakan dengan lancar. “Mama nyusul dianter Cipto. Rekomendasi dokter UGD harus dirawat.”


“Iya, Ma.” Ia kembali mengangkat tangan ke arah Erik yang semakin gelisah. “Makasih udah berkabar, Ma. Tama masih ada urusan yang belum selesai. Besok baru ke Jakarta. Tolong titip Poc__”


“Tama?” Mama menyela kalimatnya. “Pocut hamil enam minggu dan pendarahan. Kamu kalau bisa ….”


Ia tak lagi mampu mendengar serangkaian ucapan mama. Kepalanya lebih dulu dipenuhi suara-suara menakutkan yang terngiang, berulang seperti teror mendatangkan kenangan buruk.


Pocut hamil dan pendarahan.


Pendarahan.


Pendarahan.


“MAS?”


Ia terperangah mendengar teriakan Erik.

__ADS_1


“Ditunggu pak Aston di dalam.”


__ADS_2