Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
THE LAST : Matahari di Langit Timur (2)


__ADS_3

(lanjutan dari sebelumnya)


Mereka bahkan tak sempat saling bicara. Sebab seseorang lebih dulu menghubungi ponsel dinas Tama dan melaporkan jika kantor resor dilempari b o m mo lo tov. Kasus te ror pertama yang dihadapi Tama setelah menjabat sebagai kepala resor baru. Selain te ror serupa yang menyasar petugas kepolisian dalam sebulan terakhir.


“Hati-hati, Mas,” ucapnya parau saat melepas kepergian Tama di ruang tamu.


Tama memeluknya sekilas seraya berkata, “Ada Martino berjaga di depan. Anak-anak di asrama sudah siaga. Kalian aman dan aku usahakan pulang dengan selamat.”


Itulah kali terakhir Tama merengkuhnya. Ia bahkan tak lagi melihat sang suami tersenyum, apalagi melontarkan candaan menggelikan yang memancing tawa menghangatkan suasana seperti yang kerap dilakukan. Tama hanya memperlihatkan sikap hangat pada Sasa seorang, selebihnya diam, serius, kaku, tegang. Pun setelah eksekutor pe nem bakan berhasil tertangkap. Dan Tama mengetahui motif utama memang mengincarnya sebagai kepala resor baru agar tak melangkah terlalu jauh dalam mengungkap kasus korupsi yang menyeret nama sejumlah pejabat daerah penyelenggara pemerintahan.


Tama seolah tertarik ke dunia lain yang tak pernah diketahuinya. Hubungan mereka tak lagi hangat. Komunikasi yang terjalin seadanya, seperlunya, seolah hanya untuk menggugurkan kewajiban karena tinggal satu atap.


Keseluruhan hidup Tama terlalu dipenuhi tugas dan pekerjaan, selain dua hal tersebut tak memiliki tempat apalagi kesempatan. Padahal ia juga tengah mengalami kesulitan mendampingi anak-anak menyesuaikan diri. Mendampingi Icad yang bersiap menghadapi ujian nasional. Dalam suasana kurang menyenangkan.


Apalagi setelah Tama ditugaskan ke dalam operasi Madyasta Raya. Operasi mili ter gabungan TNI Polri untuk memburu jaringan Pem be rontak Indonesia Timur yang masih bersembunyi di hutan pegunungan Poso. Sikap sang suami semakin dingin, asing, seolah mustahil untuk diraih.


Tama kerap pulang dalam keadaan emosi memburuk, baju dipenuhi bau asap rokok, mengalami kesulitan tidur, selalu bersikap tegang, dan memiliki hobi baru memarahi anak buah yang tak bersalah.


Di titik inilah ia, sebagai pendamping hidup merasa, timbunan sisi emosional Tama menjadi tak terkendali hingga empunya bahkan tak menyadari betapa emosi yang ditekan justru semakin membahayakan. Dan gugurnya dua anggota satgas Madyasta Raya dalam adu tem bak dengan pem ber ontak meruncingkan sikap kaku Tama. Sang suami bak sebuah raga tanpa jiwa. Kosong, rapuh, sekaligus tak tersentuh.


Ia berusaha meraih Tama, namun hasilnya tak seperti yang diharapkan.


“Ada bekas da rah?” ucap Tama khawatir setelah sekian lama tak menunaikan kewajiban. Ia telah berusaha keras membuang seluruh rasa malu dengan mendekat terlebih dulu. Meyakinkan Tama jika pria itu masih memiliki tempat untuk berlabuh dari hiruk pikuk dunia dan seisinya.


Ia menggeleng tak mengerti. “Ini bukan jadwalnya.” Ia sungguh tak mengerti mengapa bisa terdapat no da merah padahal tak merasa kesakitan atau sejenisnya. Tama memperlakukannya dengan lembut, manis, dan menggebu seperti yang sudah sudah. “Baru seminggu suci, masa sudah haid lagi?” Ia balik bertanya semakin merasa kebingungan.


“Besok periksa ke rumah sakit,” ujar Tama sambil lalu tanpa melihat ke arahnya. “Jangan membantah dan beralasan. Aku sedang banyak urusan. Kamu harus bisa jaga diri dan anak-anak.”


Ia, entah mengapa ingin menangis mendengar sederet kalimat kaku dan menusuk yang baru saja dilontarkan. Ia tak ingin menyalahkan siapapun, terlebih keadaan. Namun sikap dingin Tama yang bertambah-tambah tak ayal meninggalkan goresan.


“Saya belum bisa memastikan penyebab Ibu mengalami pendarahan setelah berhubungan,” terang dokter wanita yang memeriksanya di rumah sakit. “Hasil pemeriksaan dalam, bagus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tekanan darah Ibu cukup tinggi, 170/110. Dan ada riwayat pemakaian alat kontra sepsi non hormonal untuk pertama kali.”


“Sekarang, saya beri obat untuk menurunkan tekanan darah,” lanjut dokter tersebut. “Kalau tidak ada perubahan, tetap terjadi pendarahan, kemungkinan akibat ketidakcocokan alat kontra sepsi. Pilihan hanya dilepas lalu mengganti dengan jenis kontra sepsi yang lain.”


Ia lantas menyadari, tak seorangpun bisa mengetahui, hati siapa lebih bersedih dibanding yang lain saat menghadapi kehilangan. Tak seorangpun bisa mengerti, batin siapa lebih terluka dibanding yang lain saat keburukan melanda. Tak seorangpun bisa memahami, perasaan siapa lebih hancur dibanding yang lain saat melewati masa sulit.


Ia dan Tama sama-sama terluka. Rentetan kejadian beruntun mulai dari penculikan, kematian putra pertama mereka, tuduhan menerima gratifikasi, dicopot dari jabatan, dipindah ke luar pulau, penembakan rumah dinas, dan operasi militer dengan taruhan nyawa. Kesemua kesedihan tersebut terlalu panjang dan rumit. Tama mungkin sudah merasa lelah. Ia pun hampir kehabisan pengharapan. Tetapi apakah ia harus menyerah? Di titik ini? Setelah semua yang mereka lalui bersama?


Secercah harapan hadir di bulan ke enam ketika operasi Madyasta Raya berhasil melumpuhkan satu dari tiga pimpinan pem be rontak serta menangkap dua belas pengikutnya. Keberhasilan Satgas menjalankan operasi menghasilkan surat pemindah tugasan untuk Tama. Kali ini ke tempat yang sesuai dengan tanda kepangkatan komisaris besar polisi, menjadi kepala resor kota Palu.


Namun suasana aman, nyaman, dan keindahan kota Palu tak berhasil menyentuh hati Tama. Kondisi emosional sang suami justru semakin memburuk. Tama masih mengalami kesulitan tidur, merokok sepanjang waktu, dingin, tak acuh. Pun setelah kehadiran bu Niar dan mamak yang mengunjungi rumah dinas mereka di kota Palu. Tama bergeming semakin tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia asing yang tak dikenal dan tak bisa diraihnya.


Ia sampai tak memiliki jawaban ketika bu Niar memeluknya saat hendak pulang ke Jakarta. “Tama kenapa? Kalian ada masalah? Tama ibarat duplikat mas Setyo. Dari perawakan, sifat, sikap, mereka banyak kesamaan.” Bu Niar menghela napas. “Dulu sepulang dari tugas di Aceh sikap mas Setyo juga begitu, mirip-mirip Tama tadi. Coba bujuk Tama untuk menemui ahlinya ya, Pocut.”


Membujuk Tama? Saling berbicara saja hampir tak pernah. Sikap Tama selama di Poso dan Palu sebatas menggugurkan kewajiban sebagai seorang suami dan ayah, tanpa pernah benar-benar saling bicara dengannya, seperti dulu, sebelumnya, masa-masa indah yang kini menjadi kenangan.


Pada akhirnya, ia hanya bisa mengusahakan sebaik-baik persangkaan. Melayani suami, mendampingi anak-anak, melakukan kegiatan sebagai istri perwira, menerima pesanan kue kering dan ayam tangkap untuk mengisi waktu luang. Ia berusaha mengalihkan kekecewaan terhadap sikap Tama agar tak merugikan ikatan suci di antara mereka.


Tujuh bulan berlalu tanpa perubahan berarti, Tama kembali dipindah tugaskan ke Kepolisian Daerah Maluku. Jabatan Direktur Reserse Kriminal Umum kembali diemban. Namun Tama tak jua menunjukkan perubahan sikap. Bahkan di suatu akhir pekan, ketika baru pulang dari giat bakti sosial bersama ibu-ibu Kemala, ia mendapati Tama tengah menyidang Icad di ruang belakang. Tama tak berteriak ataupun membentak, namun memerintahkan Icad untuk menghabiskan sebungkus rokok dalam satu waktu membuatnya tertegun.


Ia berdiri mematung di pintu dapur, Sasa duduk bersimpuh di sudut ruang belakang sambil terisak, mungkin tak tega melihat abang kesayangan dimarahi sedemikian rupa oleh sang ayah. Sedangkan Icad terlihat menunduk berusaha menyulut sebatang rokok.


“Kamu memang sudah SMA, tapi merokok bukan ajaran Papa.”


“Abang nggak merokok Papa,” protes Umay yang luput dari penglihatannya. Putra keduanya itu ternyata sedang berdiri di balik pot bunga sambil menantang amarah Tama. “Rokok itu bukan punya Abang.”


“Papa percaya dengan apa yang terlihat, May,” jawab Tama datar. “Rokok itu jatuh dari tas Abang, masih berani menyangkal?”


“Iya, tapi rokok itu bukan punya Abang!” seru Umay mempertahankan pendapat.

__ADS_1


“Sekarang berani berbohong?” Suara Tama meninggi.


“Aku nggak bohong!” Kali ini Umay hampir berteriak.


“Udah! Udah!” pekik Sasa sambil menangis seraya memukul-mukul paha dengan kedua telapak tangan. “Jangan pada marahan! Sasa nggak suka kalau pada berantem begini!”


Sementara Icad yang tengah mengisap rokok terbatuk-batuk, hingga harus berlari ke kamar mandi lalu muntah-muntah di sana.


“Abang bawa rokok buat dikasih ke tukang palak! Abang nggak mau berantem, makanya ngasih rokok! Abang nggak pernah merokok!”


Ia bisa mendengar derit napas Umay yang tersengal setelah mengungkap sebuah rahasia. Tama hanya terdiam. Sementara isakan Sasa dan suara muntah-muntah Icad menjadi penutup suasana sore kelabu.


Malam hari, Tama menghampirinya meminta maaf. “Aku terlalu keras sama anak-anak.”


Ia cukup memahami posisi Tama sebagai kepala keluarga. Kewajiban mendidik anak jelas bukan tugas main-main karena kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Tapi emosi yang Tama tunjukkan pada anak-anak sudah di luar batas kewajaran. Apakah ini menjadi waktu yang tepat membujuk Tama pergi menemui ahlinya seperti saran bu Niar?


“Sebenarnya apa yang Mas rasakan?” Ia menatap wajah suram sang suami. “Kenapa nggak membicarakannya denganku? Setahun terakhir juga bukan waktu yang mudah untukku dan anak-anak. Pindah ke tempat baru, suasana baru, tapi mengapa aku merasa … Mas membiarkan kami menghadapi semuanya sendiri? Jika ada sikapku yang mengecewakan, tolong beritahu. Kalau ada perilaku anak-anak yang tak sepantasnya, tolong tegur aku. Kalau tugas dan tanggung jawab Mas sedang berat di luar sana, aku siap mendengarkan. Mungkin tak bisa membantu. Tapi sejak kita pindah ke Poso Mas seola__”


Tama lekas meraihnya ke dalam rengkuhan dan ia bisa merasakan, sepasang lengan kokoh yang melingkupinya itu berguncang.


***


Dara merekomendasikan Tama untuk mengunjungi senior kenalannya, seorang istri perwira menengah TNI AD yang membuka praktek klinik psikologi di kota Ambon. Tama bahkan selalu mengajaknya saat mengikuti sesi konseling. Dan dari sekian pengisian kuesioner serta perbincangan di meja konseling, ia akhirnya bisa memahami perubahan sikap sang suami selama setahun terakhir.


Musibah di Jakarta, karier yang terancam, perpisahan dengan Reka, insiden pe nem bakan, penye rangan rumah dinas, mendapati dua anggota Satgas ter tem bak di depan mata, menenggelamkan Tama ke dalam kegelapan paling menggelisahkan.


Dan upaya yang dilakukan perlahan mulai membawa Tama kembali. Meski tak sepenuhnya sama seperti sedia kala. Namun pengharapan selalu ada. Kelak suatu saat nanti, pria itu akan kembali menjadi Tama seutuhnya.


Seperti suasana pagi di akhir pekan ini. Suara celetukan gelak tawa Sasa, Umay, serta gumaman Icad ramai mewarnai ruang tengah. Video call yang mereka lakukan bersama uti, trio Arka Yasa Lana juga Aran di Jakarta, serta Reka di Halmstad terdengar sangat menyenangkan.


“Mas Reka! Mas Reka! Di sana jam berapa?” Sasa masih menjadi yang paling ceriwis. 


“Jam empat pagi.”


“Di sini lagi summer, jam empat pagi udah terang benderang.”


“Kalau jam empat udah siang, berarti salat Subuhnya jam berapa, Mas?” Lagi-lagi Sasa mendominasi percakapan. Dengan latar suara Aran dan Lana yang tengah mengobrol sendiri.


“Err, jam berapa, ya?” Reka malah balik bertanya.


“Ih, masa lupa?” protes Sasa.


Ia tersenyum menggeleng menanggapi keriuhan di ruang tengah. Meletakkan nampan berisi segelas minuman temulawak dan sepiring roti kenari hangat ke meja ruang tamu. Lalu duduk di sebelah Tama yang sedang membaca buku baru kiriman dari Sada.


“Aduh, minuman ini lagi?” keluh Tama sambil menarik kacamata ke atas dahi dan menyimpan buku di meja. “Nggak ada yang lain apa?”


Ia kembali menyunggingkan senyum, tak menanggapi keluhan sang suami. Suara celotehan dan gelak tawa anak-anak masih terdengar menghiasi ruang tengah. Tiupan angin sepoi-sepoi pukul sembilan pagi waktu bagian timur berdesir perlahan menggemerisikkan dedaunan. Pandangannya lalu tertumbuk pada seribu bangau kertas warna-warni yang melayang-layang di atas jendela ruang tamu. Berhiaskan sinar mentari dari langit timur yang beranjak sepenggalah.


Ia masih tersenyum saat menoleh ke samping, di mana Tama tengah melanjutkan membaca buku sambil menyantap roti kenari hangat. Sementara di atas meja, gelas berisi minuman temulawak telah berkurang setengahnya. Ia lantas menyandarkan kepala di bahu bidang itu. Merasai ketenangan yang menenteramkan. Menghirup kesegaran matahari di langit timur yang menyejukkan.


***


Keterangan :


Madyasta : berada di tengah (bahasa Sansekerta)


Kata yang diberi spasi, misal : ter tem bak, da rah, pem be ron tak dll, sengaja ditulis seperti itu agar lolos review. Bab ini berkali-kali gagal review karena terdapat kata yang oleh sistem terdeteksi mengandung keke rasan dan sek sua litas 🥶🤧


***

__ADS_1


Akhirnya, alhamdulilah kita berada di penghujung kisah Renjana Senja Kala 🥰.


Tuntas sudah janji menamatkan RSK sebagai hadiah bagi pembaca tersayang atas pencapaian BP 🥰🙏.


Lunas ya, readers tersayang ❤️.


Sekaligus tak bosan-bosan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan terbaik yang telah diberikan. Renjana Senja Kala tidak akan tamat tanpa dukungan dan prasangka baik pembaca tersayang semua.


Dan teruntuk pembaca tersayang di mana pun berada, yang telah menabung poin selama 9 bulan untuk RSK, yang menyerahkan semua vote untuk RSK, yang memberikan pundi-pundi poin untuk tips RSK, yang mengebom dengan poin hingga RSK kembali berada di top ten rank, terima kasih tak terhingga.


Tiada balasan dari kebaikan selain kebaikan itu sendiri.


Terakhir, saya akan menjawab beberapa pertanyaan ☺.


1.     Tanya (T) : RSK endingnya tidak jelas seperti dipaksakan, RSK dikorbankan demi BSK.


Jawab (J)  : Tentu tidak, pembaca tersayang. Tidak ada cerita yang dikorbankan, tidak ada ending yang dipaksakan. Akhir kisah RSK sudah jelas, dalang sebenarnya penculikan Reka-Sasa juga ditulis meski samar.


Anggapan ini menjadi catatan penting bagi saya untuk meningkatkan teknik menulis secara tersirat yang maknanya mudah dipahami.


2.     T : BSK singkatan dari apa? Akan tayang di mana? Apakah lanjutan dari RSK?


J : Kepanjangan BSK bisa diketahui saat release. Tempat terbit BSK belum tahu di mana. BSK bukan lanjutan dari RSK, tidak ada Pocutama & anak-anak di dalamnya, keterkaitan RSK dengan BSK hanya kasus yang menimpa Tama. Selebihnya, semua baru termasuk tokoh.


3.     T : Kapan BSK release?


J : Setelah saya menyelesaikan BP dan SY, selama dua judul tersebut belum selesai direwrite, BSK tidak akan release.


Sebagai gambaran, deadline dua judul tersebut di bulan Juni dan Juli, jadi wayahna kalau pereleasan BSK masih harus menunggu cukup lama.


Dan saya baru akan merelease BSK setelah cerita selesai ditulis. Mangkraknya RSK mengajarkan banyak hal. Ilmu mahal yang luar biasa.


4.     T : SY tayang di platform mana?


J : SY tidak tayang di platform mana pun. Dan SY di lapak kuning sudah tidak bisa dibaca sebab terhapus oleh system saking lamanya tidak update.


5.     T : Apakah Sephinasera masih di NT?


J : InsyaAllah masih, tapi belum tahu kapan akan release cerita baru. Rumus : jangan ditunggu ☺.


6.     T : Kapan RSK naik cetak?


J : Tidak tahu, pembaca tersayang. Keputusan naik cetak sepenuhnya berada di tangan NT. Jadi, kalau ingin RSK dicetak, bisa menyampaikan aspirasinya ke NT.


7.     Terakhir :


Selama merewrite BP dan SY, kemungkinan … mungkin loh ya, bukan janji ini … akan merelease karya baru di platform KK berupa :


(1) Cerita pendek gratis


Kenapa gratis tapi bukan di NT? Karena syaratnya harus diposting di sana ☺.


(2) Sejenis novela (maksimal 10 bab, tema ringan) berbayar.


Sebagai katarsis jika mulai jenuh menghadapi dunia BP dan SY. Informasi lengkapnya akan dishare di Instagram Sephinasera dan Sahabat Sephinasera.


Sekali lagi terima kasih banyak atas semua kebaikan yang luar biasa, mohon maaf untuk semua kekurangan dan kesalahan, sampai jumpa di kesempatan terbaik lainnya.


 

__ADS_1


Love ❤️,


Sephinasera.


__ADS_2