Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 104. Kau Adalah Hidupku, Lengkapi Diriku


__ADS_3

Kau Adalah Hidupku, Lengkapi Diriku


-diambil dari lirik lagu berjudul "Sempurna" yang dinyanyikan oleh Andra and The Backbone-


***


Bersamamu Kembali


Lembang


Pocut


Hari Pertama


"Silakan tanda tangan di sini," ucap seorang petugas yang menyambut kedatangannya di meja resepsionis.


Ia segera memeriksa buku tamu yang terbuka lebar sebanyak dua halaman, masing-masing bertuliskan Polri dan TNI. Kemudian memilih memusatkan perhatian pada tulisan Polri, yang daftar namanya disusun berdasar urutan abjad. Tanpa kesulitan berarti, ia akhirnya berhasil menemukan nama Tama di sana.


....


47. KBP. Wiratama Yuda, S.I.K, M.Si.


....


Usai membubuhkan tanda tangan, petugas lainnya dengan cekatan menyerahkan selembar pamflet beserta sebuah paperbag berwarna senada.


"ID cardnya bisa langsung dipakai ya, Bu," terang petugas. "Setelah ini, silakan ke meja selanjutnya. Kombes Wiratama Yuda ada di kelompok lima."


Ia tersenyum mengangguk. "Terima kasih."


Sambil mengantre di depan meja nomor 5, ia memandangi pamflet berwarna dasar kombinasi antara putih tulang dan merah muda dengan aksen gambar bunga yang cantik di setiap sudutnya bertuliskan,


...Kegiatan...


...Istri Peserta Didik...


...Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi...


...Ke xx Tahun xxxx...


...Dalam Rangka...


...Penutupan Pendidikan...


Sementara di depannya, tiga orang wanita sedang saling bersalaman dan berpelukan. Seperti sahabat lama yang baru dipertemukan kembali. Ia bahkan ikut tersenyum-senyum sendiri menyaksikannya.


"Kelompok 5?" Sapa wanita yang berdiri di belakang meja nomor lima, begitu tiga orang tersebut berlalu. "Silakan tanda tangan di sini."


Ia beranjak maju dan meraih bolpen yang tersimpan di atas meja.


"Akhirnya," ucap wanita di belakang meja seraya tersenyum. Usai memperhatikan di kotak mana ia membubuhkan tanda tangan. "Bisa ketemu juga dengan Bu Wiratama."


"Alhamdulillah." Ia balas tersenyum seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman. "Apakabar, Ibu ...." Sambil melirik emblem nama dan berusaha keras menggali ingatan. "Hanafi?"


Wanita di depannya tertawa. Mereka pun saling berpelukan.


"Panggil Pocut saja, Teh Cucu," bisiknya. "Seperti biasa."


Teh Cucu Saodah, begitu yang ia kenal. Merupakan istri dari KBP Hanafi Moeis, pengurus senat sekolah staf dan pimpinan tinggi yang didapuk menjadi ketua ibu-ibu di kelompok 5. Mereka telah saling mengenal sejak bulan pertama para suami menempuh pendidikan. Namun belum pernah sekalipun bersua. Baru sebatas beranjangsana melalui fitur grup chat.


"Ini sedang setelan resmi," seloroh teh Cucu. "Kalau di grup chat beda lagi."


Setelah menerima paper bag kedua dari teh Cucu, ia segera bergabung dengan para istri dari kelompok 5. Mereka sempat saling bercengkerama sebentar sebelum sama-sama beranjak menuju aula. Tempat di mana giat pembekalan dari ketua bhayangkari gabungan lembaga pendidikan dan latihan akan diselenggarakan.


"Setiap dari kita harus siap mendukung tugas suami sebagai seorang perwira tinggi yang memiliki integritas," ujar ibu ketua bhayangkari gabungan di atas mimbar. "Bukan malah membebani suami dengan sikap hedon dan berlebih-lebihan." ©


"Kita dukung suami menjadi pengayom masyarakat yang mengedepankan kejujuran, kesederhanaan, keteladanan, serta keikhlasan."


Dan acara giat pembekalan diakhiri dengan bermain angklung bersama.


"Assalamu'alaikum, salam sejahtera untuk seluruh hadirin, para istri peserta didik sekolah pimpinan tinggi," ucap seorang wanita cantik berkebaya Sunda yang berdiri di atas panggung.


"Perkenalkan, Saya Haida dari Saung Angklung Udjo, ingin mengajak hadirin semuanya di sini untuk bermain angklung bersama," sambung wanita cantik tersebut seraya mengangkat sebuah angklung. "Sudah dapat angklung semuanya, Ibu-ibu?"


Kemudian Haida mulai menerangkan cara memegang angklung yang benar, posisi menggetarkan angklung yang tepat, tentang bunyi suara pendek, suara panjang, nomor angklung yang dipegang masing-masing, dan bagaimana mereka harus membunyikannya sesuai aba-aba yang diberikan.


"Sudah cukup latihannya ya, Ibu-ibu," Haida mulai memberi aba-aba. "Mari kita nyanyikan sebuah lagu."


Haida mengangkat tangan kanan ke atas dengan jari memperlihatkan angka 5, 3, 4, suara pendek, suara panjang, dan seterusnya. Tanpa terasa, angklung yang mereka mainkan telah mengalunkan nada sebuah lagu daerah yang sangat apik. Menggema memenuhi udara di seluruh ruangan aula.


Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang


(Terbang melesat tinggi, jauh di awang-awang)


Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang


(Merentang sayapnya, tegak tanpa ragu)


...........


(Manuk Dadali, Cipt : Sambas Mangundikarta)


Selepas acara giat pembekalan, mereka ber dua belas yang telah mengganti seragam dengan baju bebas, memulai petualangan menelusuri keindahan Paris Van Java. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya melalui obrolan di grup chat sejak seminggu lalu. Pemandunya siapa lagi kalau bukan empunya kota Bandung, teh Cucu Saodah.


"Kita ngebrunch di tempat cozy dulu ya, ladies," seloroh teh Cucu seraya mempersilakan mereka menaiki mobil sejenis kendaraan travel. Memiliki ruang yang cukup lega dengan empat baris kursi penumpang di bagian belakang. Lebih dari cukup untuk menampung mereka semua.


Jika diingat-ingat, ini akan menjadi rekreasi pertamanya bersama rekan sejawat. Tanpa anak-anak, suami, ataupun kerabat. Rasanya seperti ... menjadi seorang gadis kembali. Saling bercengkerama, bercanda, tertawa, bercerita dan berbagi kisah seolah tiada beban. Tanpa harus dikejar waktu agar tak terlambat menjemput anak-anak pulang dari sekolah. Tak perlu mencemaskan apakah sudah tersedia makan siang di rumah atau belum. Dan tak mesti memikirkan apakah uangnya di dalam dompet cukup atau tidak untuk membiayai perjalanan ini.


Ia seperti ... menjadi seseorang yang lain. Bukan lagi Pocut tukang masak yang pemalu, kikuk, minderan dan selalu cermat (cenderung pelit) dalam membelanjakan uang. Rasanya memang cukup menyenangkan, namun ada sesuatu yang masih mengganjal. Seperti ... merasa sunyi di tengah keramaian. Entah apa sebabnya, ia pun tak mengerti.


Dan untuk menetralisir rasa gundah agar tak terus-terusan menganggu, ia memilih untuk memeriksa isi dua buah paperbag yang dibagikan. Sementara teman-teman yang lain masih asyik bercerita sembari bercanda.


Paperbag pertama selain berisi ID card, juga terdapat buku petunjuk dan susunan acara, buku agenda, buku kegiatan pendidikan sekolah pimpinan tinggi, satu stel seragam olahraga, scarf, serta souvenir cantik. Sedangkan paperbag kedua berisikan kaos, topi, jaket, tas berjenis waistbag, juga souvenir unik.


"Orang Jekardah pendiam banget ternyata," seloroh teh Cucu seraya mengerling ke arahnya. "Nggak jauh beda kalau di grup chat. Cicing (diam) nggak ada suaranya."


Ia hanya tersenyum. "Sudah diwakili sama yang lain, Teh."


Tak sampai setengah jam kemudian, mobil menepi di suatu tempat yang ramai pengunjung. Ditandai dengan banyaknya jumlah kendaraan terparkir.


Dago Bakery Punclut, begitu nama yang tertera di sebuah papan berwarna cokelat. Seolah menyambut kedatangan mereka dengan suasana lain di daerah pegunungan. Seperti hendak memasuki bangunan bergaya kastil kerajaan Eropa pada jaman dahulu.


"Kalau malem, beuh, keren banget." Teh Cucu mengacungkan jempol. "Nggak papa ya, kita datangnya tengah hari bolong. Malamnya nanti bareng suami masing-masing biar lebih romantis."



source photo : instagram Dagobakerypunclut


Mereka sempat berfoto bersama di setiap sudut yang menarik. Mulai dari kastil bergaya Eropa, haluan kapal, sampai tepian pagar dengan pemandangan indah yang menghampar di belakangnya. Sebelum mulai menyantap menu brunch pilihan.


Dari Dago Bakery Punclut, teh Cucu mengajak mereka menuju ke tengah kota. Mengelilingi dan menikmati suasana jalanan utama kota Bandung dari atas Bandros (Bandung tour on bus).



source image : wisatabdg.com


"Habis keliling, panas-panasan, kita ngadem ke yang seger-seger." Dengan antusias, kemudian teh Cucu mengajak mereka menikmati kesegaran susu, yoghurt, serta hidangan berbahan dasar susu lainnya yang tak kalah lezat di BMC (Bandoengsche Melk Center).



source image : Aji Fauzi (google)


Ketika ia tengah menikmati segelas kefir rasa strawberry yang menyegarkan, ponselnya bergetar pertanda sebuah pesan masuk.


Papa Tama : 'Masih jalan sama ibu-ibu, Ma?'


Papa Tama : 'Enjoy life.'


Ia tersenyum sendiri membaca pesan yang sebenarnya sangat biasa itu. Namun entah mengapa membuat hati perlahan-lahan menghangat. Dengan tanpa berpikir, ia pun mulai mengetikkan balasan.


Pocut : 'Loen rindu (aku rindu).'


---------------- 


Hari Kedua


Giat hari kedua diawali dengan foto bersama, dilanjutkan pembekalan yang kali ini diikuti bersama suami masing-masing.


"Iki ta, bojo anyarmu (ini istri barumu), Tam?" Sapa seorang pria yang tengah berjalan melewati tempat duduk mereka. "Uayune ngunu (cantik sekali)."


Ia yang tak mengerti maksud dari ucapan tersebut tersenyum mengangguk. Sedangkan Tama langsung tergelak.


Namun, itu barulah awalan. Sebab beberapa pria yang memasuki ruangan aula di barisan belakang, sempat berhenti di samping mereka dan menyapa Tama hingga suaminya itu tergelak berkali-kali.


'Wiih, Tama sudah didampingi nyonya sekarang."


"Akhirnya, buaya yang satu ini laku juga."


"Iket yang kenceng, Tam. Jangan sampai lepas kayak yang pertama."


"Siap. Laksanakan." Tanpa rasa canggung sedikitpun, Tama menjawab seluruh candaan rekan-rekannya dengan selorohan. Seperti sudah menjadi hal yang biasa.


"Jangan diambil hati," bisik Tama di telinganya secara tiba-tiba. "Mereka cuma bercanda."


Ia tersenyum mengangguk. Tak pernah menyangka jika selama menyandang status duda, Tama yang berpenampilan kaku dan garang, ternyata menjadi bahan candaan rekan-rekannya.


Namun dari sekian banyaknya selorohan yang datang menghampiri, ada satu pengecualian. Tama bahkan memperkenalkannya secara langsung.


"Bang Zain, kakak asuh panutan." Tama menyalami pria tersebut sembari menundukkan kepala.


"Wah, adik asuh terkeren ini." Pria tersebut balas menepuk bahu Tama. "Menyalip di tikungan tajam tanpa rem."


Kemudian pria bernama Zain dan Tama tergelak bersama tanpa ia memahami maksud dari candaan yang dilontarkan.


"Kenalin, istriku." Zain meraih bahu seorang wanita cantik yang sedari tadi berdiri di sebelah.


Ia dan wanita itu pun kemudian berjabat tangan sembari saling menyebutkan nama dan melempar senyum. Begitu pasangan tersebut berlalu, Tama langsung berbisik di telinganya. "Istri bang Zain asli Aceh."


Matanya langsung berbinar. Rasanya seperti perantauan yang berhasil menemukan teman sekampung di tempat asing. "Iya, Mas?"


Tama mengangguk. "Nanti deh, coba ngobrol di belakang."


Ketika acara inti dimulai, tanpa pernah menyadari, diam-diam Tama meraih tangannya lalu meletakkan di atas pangkuan sembari menautkan jemari.


"Suami istri harus memiliki komitmen untuk saling mendukung, saling membantu, saling menguatkan dalam setiap keadaan," ungkap ibu ketua umum. ®


Dan ia baru menyadari ketika Tama semakin mengeratkan genggaman di antara mereka. Ia pun menoleh tepat di saat Tama juga sedang melihat ke arahnya.


"Selamat kepada seluruh peserta didik yang akan diwisuda. Semoga ilmunya bermanfaat di tempat dinas masing-masing. Dan semoga bisa menjadi pemimpin yang amanah serta bijaksana." ∆

__ADS_1


Mata mereka masih saling bertaut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun begitu suara tepuk tangan menggema memenuhi udara di seluruh ruangan aula, ia dan Tama sama-sama menyunggingkan seulas senyum.


Senyuman penuh cinta.


--------------- 


Hari Ketiga


Tema hari ketiga adalah kebersamaan. Seluruh peserta didik sekolah pimpinan tinggi beserta istri masing-masing mengikuti acara jalan sehat bersama. Mereka menempuh jarak sejauh hampir 5 km, melintasi jalan setapak, kebun, juga ladang. Menuju mata air alami yang terkenal dengan keindahannya, pusat kehidupan masyarakat setempat.


"Cape, nggak?" Tama menyeringai ke arahnya ketika melalui jalanan menanjak yang cukup terjal.


Ia menggeleng padahal sudah hampir kehabisan napas. Berjalan kaki jarak jauh bukanlah hal asing baginya. Namun entah mengapa, kali ini kondisi tubuh seperti tak mendukung. Ia merasa cukup kewalahan dan kelelahan.


"Seru, kan?" Tama seolah memiliki cadangan napas yang luar biasa. Suaminya itu sama sekali tak terlihat ngos-ngosan, bahkan masih bisa tersenyum lebar. "Kapan-kapan kita ajak anak-anak tea walk."


Ia tak menjawab. Lebih memilih berhenti berjalan untuk mengambil napas dalam-dalam.


Ketika ia masih kerepotan mengatur napas, satu telapak tangan lebar dengan arloji sport warna hitam yang melingkar di pergelangan, terulur tepat di hadapannya.


"Hold my hand (pegang tanganku)." Tanpa menunggu, Tama sudah lebih dulu meraih dan menggenggam tangannya. "Hold me tight (pegang erat-erat)."


Dan sisa perjalanan menuju mata air, mereka lalui tanpa pernah saling melepaskan genggaman. Hal kecil yang sangat sederhana cenderung biasa namun memiliki kekuatan luar biasa.


Kebagiaan nyang seubetoi (kebahagiaan yang sebenarnya).


Acara pamungkas hari ini ditutup dengan bermain golf bersama. Ia yang tak bisa, tak pernah, bahkan tak memahami arti dari permainan golf, hanya diam duduk menunggu Tama menyelesaikan permainan. Dari kejauhan, ia bisa melihat keluwesan Tama saat mengayunkan stick. Sepertinya, olahraga golf bukan hal asing bagi suaminya itu.


Namun ada satu kebetulan menyenangkan, ketika ia mulai merasa bosan dan tengah melamunkan anak-anak sembari memandangi spanduk besar di atas panggung yang bertuliskan,


...Gathering Kelulusan...


...Sekolah Pimpinan Tinggi Dikreg xx...


...Parahyangan Golf...


Seseorang datang menghampiri. "Awak Aceh cit (dari Aceh juga)?"


Ia tersenyum mengangguk. Merasa senang kedatangan teman mengobrol dengan bahasa ibu yang sama. Ialah Cut Nanda, istri bang Zainal Arifin yang kini tengah bertugas di Banda Aceh. Dan berbicara menggunakan bahasa yang selalu dirindukan, serta merta membangkitkan setiap kenangan di masa silam.


"Na thom wo gampong (masih sering pulang kampung)?" Cut Nanda memandangnya penuh rasa ingin tahu.


Ia menggeleng. Sejujurnya sangat ingin, namun tak ada lagi tempat yang bisa dituju. Kecuali makam ayah dan bang Risyad. Sebab bang Umair dan kerabat dekat keluarga mereka lainnya sudah tak diketahui lagi keberadaannya.


"Peu hana rindu keu nanggro tanyo (apa nggak rindu kampung)?" Cut Nanda kembali bertanya.


Ia, lagi-lagi tak bisa menjawab. Hanya memandang nanar jauh ke atas panggung. Di mana beberapa orang terlihat tengah sibuk mempersiapkan sejumlah alat musik.


Cut Nanda masih mengajaknya mengobrol. Namun ia tak lagi bisa berkonsentrasi. Kepalanya sudah terlanjur dipenuhi oleh bayangan sepenggal kisah di masa lalu. Dan yang paling mencuat ke permukaan adalah kenangan ketika ia pulang sekolah digendong oleh bang Risyad. Merasakan kembali saat-saat menyandarkan kepala ke punggung kokoh sang abang. Tak menghiraukan suara tembakan yang terdengar bersahutan dari kejauhan.


Buliran bening bahkan mulai menggenang di pelupuk mata. Ia benar-benar tak mampu menguasai diri dari serbuan kenangan yang menyedihkan. Untung saja Tama sudah menyelesaikan permainan dan mengambil duduk di sebelahnya. Hingga ia bisa menghapus sudut mata secara diam-diam.


"Wah, reuni, nih?" Seloroh Tama seraya menyambut botol air mineral yang diangsurkannya. "Makasih, sayang."


Ia sempat terpana mendengar cara Tama memanggilnya. Ketika menoleh, pria dengan keringat meleleh di sepanjang garis cambang itu sedang mengedipkan sebelah mata. Ish.


"Wah, ini nih, bedanya pengantin baru sama pengantin baruuuu," seloroh Zain yang turut mendudukkan diri di samping Cut Nanda.


Membuat Tama menghentikan tegukan air mineral hanya untuk tertawa. "Abang juga masih kelihatan seperti pengantin baru."


Zain terbahak. "Baru lima belas tahun sama lima belas hari, jelas beda jauh lah. Nggak kuat nyaingin mesranya."


Dua pria itu kembali terbahak. Sedangkan ia dan Cut Nanda hanya saling melempar senyum.


"Aceh dipat (Aceh di mananya)?" Zain beralih menyapanya.


Obrolan pun kembali mengalir tak berkesudahan. Zain, meski bukan putra asli Aceh, namun fasih berbahasa Aceh. Dengan penuh semangat, Zain menceritakan keadaan terkini serambi Mekah dari sisi yang menyenangkan. Hingga ia ikut tertawa tiap kali Zain melempar lelucon.


Hanya Tama yang tak ikut tertawa. Suaminya itu bahkan bertanya dengan nada menuduh meski sambil bercanda. "Ini nggak lagi ngomongin orang, kan? Jangan-jangan gua lagi yang diomongin."


"Pastinya!" Zain balas bercanda dengan mengiyakan tuduhan Tama. "Kita kulitin di depan mata."


Meja mereka kembali dipenuhi gelak tawa. Sementara dari atas panggung mulai terdengar irama musik enerjik. Dengan suara serak-serak basah menggoda yang membangkitkan bulu roma.


"Selamat sore menjelang petang hadirin sekalian, bapak ibu dari sekolah pimpinan tinggi."


"Kami, duo lebah madu siap menghibur bapak ibu semuanya setelah lelah bermain golf. Tarik, Maaang."


Ia dan Tama secara refleks saling berpandangan seraya mengu lum senyum tertahan. Demi mengetahui siapa yang sedang berdiri di atas panggung.


"Sebelum menyanyikan lagu pertama, boleh dong, saya curhat dikit ya, Pak, Bu." Personel duo lebah madu yang berpenampilan paling mengundang tertawa sendiri di atas panggung.


"Kita diundang buat nyanyi apa curhat, Say?" Seloroh personel yang satu lagi sembari terkikik manja. "Curhat apa, siiih? Jadi senapsaran, dweh."


Sementara itu, musik pembuka khas pertunjukan dangdut campur remix terus dimainkan oleh band pendamping.


"Tadi di belakang, akyu sempat lihat calon jenderal favorit kita lho, Say."


"Ah, serius, Beb?" Personel berambut pirang jelas terkejut secara berlebihan dan jauh dari kesan natural. "Sapose indang (siapa dia)?"


"Dua rius." Personel berpenampilan mengundang langsung menunjuk tangan ke arah meja mereka. "Selamat datang, kami ucapkan spesial untuk bapak dan Ibu Winata Yuda ...."


Tepuk tangan dan gelak tawa langsung terdengar riuh rendah memenuhi seluruh ruangan. Tak ketinggalan Tama dan Zain yang tertawa sumbang.


"Ibunya harus disebut juga ya, Beb?" Namun rupanya, duo lebah madu sama sekali tak menghiraukan tawa para hadirin yang semakin menggelegar.


"Aduh, jangan ya, Bu." Si rambut pirang memasang wajah memelas. "Kami hanya bercanda, Bu. Ampun, Bu."


Gelakan tawa dan selorohan menggoda para hadirin semakin menjadi, riuh rendah saling bersahutan.


"Salah nama, Mba!" Seru seseorang dari meja di bagian belakang. "Bukan Winata!"


"Selebriti mah beda," seloroh yang lain. "Dinoticenya sama harteis."


"Habis diapain tuh, Tam? Masih keinget aja! Buahahaha!"


Tama semakin tergelak sambil terus menggelengkan kepala.


Dan di atas panggung, duo lebah madu kembali terkikik seraya mengerling manja. "Aduh, salah sebut nama ya, pak Jenderal?"


"Saking terpesonanya sampai salah nama," imbuh sang rekan dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan kelancangan kami, Bapak ... Ibu ... selamat menikmati persembahan lagu berikut."


"Spesial untuk bapak jenderal favorit." Personel berpenampilan paling mengundang masih sempat mengedipkan sebelah mata sebelum mulai bernyanyi.


'Kelakuan si kucing garong


kalau lihat mangsa mengeong


Main sikat main embat


mangsa yang lewat'


(Kucing Garong, Cipt : Dede S)


Gelakan tawa dan selorohan masih saja terdengar. Bahkan hingga duo lebah madu mempertontonkan atraksi menarik yang bisa membuat seluruh pria normal menahan napas, orang-orang masih saja mencandai Tama. Namun yang menjadi bahan tertawaan justru sedang menatapnya lekat-lekat.


Sunggoh, linto lon nyang mempeusona (sungguh, suami yang memesona).


--------------- 


Hari Keempat


Kemeriahan dan kemegahan malam pengantar tugas sudah terasa sejak pintu masuk gedung tempat diselenggarakannya acara. Rangkaian bunga segar, lampu hias, serta ornamen menarik yang bertebaran di setiap sudut turut menambah suasana menjadi kian semarak.


Namun hal paling tak disangka adalah kemunculan seorang pria yang menyapanya juga Tama. Ketika mereka tengah beramah tamah di antara para hadirin.


"Selamat atas kelulusannya, Bapak, Ibu." Pria berjas hitam yang berpenampilan layaknya seorang artis papan atas itu tersenyum mengangguk sembari menyalami Tama.


"Terima kasih." Tama sempat menoleh ke arahnya sebelum bertanya dengan keheranan. "Apa kita saling mengenal?"


Pria berjas hitam masih tersenyum. "Sepertinya belum, Bapak. Tapi saya mengetahui siapa Bapak, karena putri kita berdua bersekolah di tempat yang sama. Perkenalkan, saya Gazwan Gandalas."


Dan ia terkejut sekaligus tak mengira, begitu menyadari jika pria bak artis ini bukanlah sosok asing. Gazwan Gandalas, jelas telah mengukuhkan diri menjadi satu dari sedikit pria yang selalu menjadi bahan pembicaraan hampir semua ibu-ibu di sekolah. Tentu saja karena ketampanan dan penampilan menarik yang dimiliki.


Tapi rupanya, pertemuan tak sengaja ini hanyalah sebuah permulaan. Sebab di belakang Gazwan, kembali muncul seseorang yang lebih mengejutkan. Dan tentu saja sangat mereka kenal.


"Malam, Mas Tama. Apakabar?" Wanita cantik bertubuh semampai dengan penampilan elegan itu memperlihatkan senyum paling memikat.


***


Samara


Pertemuan tak sengaja mereka di area waterpark menjadi kali terakhir yang sangat mengesalkan. Sebab sejak siang itu, jalinan komunikasinya dengan Tama yang telah bias benar-benar terputus.


Ia tak lagi bisa menghubungi ataupun menemukan keberadaan Tama. Pria gagah suamiable itu bak hilang ditelan bumi.


Panggilannya tak pernah diangkat. Pesannya tak pernah dijawab. Nekat menyambangi ke kantor pun tak pernah bisa menembus hadangan petugas di lantai satu.


"Maaf, Mba, pak Kapolres sedang dinas luar."


"Maaf, bapak sedang rapat."


"Bapak tidak ada di tempat."


"Bapak tidak bisa diganggu."


Begitu jawaban standar yang selalu diterimanya.


Menghubungi Devano, 11 12. Meski ia mencoba merayu, pemuda itu tetap bergeming tak mau membuka mulut memberitahukan keberadaan sang komandan.


Ini membuatnya hampir gila. Bagaimana mungkin ada pria yang secara sadar menolak pesona seorang Samara? Kecantikan dan kemolekannya jelas tak perlu dipertanyakan, jauh di atas rata-rata. Kecerdasan? Ia baru saja menyelesaikan double degree meski di universitas swasta. Prestasi? Tak perlu diragukan lagi. Berapa banyak orangtua dari kalangan terpandang yang menginginkannya menjadi menantu mereka.


Tapi Tama? Duda beranak satu itu benar-benar lain daripada yang lain. Tak sekalipun menunjukkan ketertarikan. Ini jelas melukai harga dirinya sebagai seorang wanita yang terbiasa dipuja.


Ia benar-benar menyesal, sebab pertemuan pertamanya dengan Tama tak dimanfaatkan dengan maksimal. Padahal secara hitungan, ia sangat bisa menjerat Tama di detik pertama, saat itu juga. Namun kesombongan telah menggagalkan seluruh impian. Mengira Tama akan tertarik dan mengejar-ngejar seperti yang lain. Nyatanya, jauh panggang dari api. Bukannya tertarik, Tama justru terang-terangan menghindar dan semakin menjauh.


Dan hatinya semakin tak bisa menerima kenyataan ketika mendengar rencana pernikahan Tama. Dengan seorang janda tak dikenal tanpa prestasi? Yang benar saja, jelas bukan saingan sepadan apalagi menyentuh levelnya. Jauh.


Sejak saat itu, ia bertekad suatu saat bisa menaklukkan pria dengan posisi yang sama seperti Tama. Calon pejabat tinggi negara. Ia tahu ia sangat mampu untuk hal ini.


"Bulan depan, weekend ketiga masih free." Suatu pagi, Rachmi sang manajer memberitahunya. "Ada tawaran MC di acara petinggi polri. Yes or no?"


Yes, tentu saja. Acara yang diselenggarakan oleh korps cokelat membuka kesempatan besar mempertemukannya dengan orang selevel Tama. Jalan lebar telah terbuka dengan sendirinya. Betapa keberuntungan sedang menaungimu, Samara.


"Eh, gila. Itu bukannya papa baru si Sasa?" Namun keterkejutan Gazwan, partner MCnya malam ini di backstage, kembali membangkitkan memori usang.


"Sasa?" Ia mengernyit memperhatikan pria yang memiliki penampilan amat mirip dengan Tama. Tengah berdiri di antara para perwira tinggi lainnya sembari bercakap-cakap.


"Temen sekolah anak gue." Ternyata Gazwan juga masih memperhatikan gerik Tama.

__ADS_1


"Anak lo sekolah di mana?" Ia terus memperhatikan sosok tegap di kejauhan. Ingin memastikan jika itu benar-benar Tama. "Bisa temenan sama anak perwira tinggi."


Gazwan tertawa. "Mantan bini gue milih nyekolahin anak di sekolah pinggiran biasa. Tahu deh alasannya apa. Yang penting nggak ngebebanin gue."


"Samperin, yuk." Gazwan melempar ide. "Kapan lagi bisa kenalan sama calon jenderal."


Dan di sinilah ia, tersenyum memandang Tama yang terkejut melihat kehadirannya.


Namun kepongahannya menyapa Tama harus dibayar mahal. Sebab pria itu benar-benar tak menganggap sekaligus mengacuhkan keberadaannya. Bahkan mempertontonkan kemesraan yang membuat hati wanita manapun pasti mendidih.


"Setelah tadi, kita menyaksikan penampilan spesial dari ketua senat," ujar pria berseragam kedua yang didaulat maju ke atas panggung. "Sekarang giliran kandidat kuat lulusan terbaik, KBP. Wiratama Yuda."


Tepuk tangan langsung menggema di seluruh penjuru. Disusul tata lampu yang menyorot langkah Tama menjemput wanita di meja baris kedua.


'Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah


Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu'


..........


(Sempurna, Andra and The Backbone)


"Ngelihatinnya biasa aja, dong," bisik Gazwan setengah meledek. "Kayak gunung mau meletus."


"Jangan ngaku cantik kalau nggak bisa menggaet Kombes beristri," gumamnya dengan mata terkunci pada sosok Tama.


"Canda, lo!" Gazwan tertawa sumbang.


Ia langsung menoleh. "Apa muka gue kelihatan bercanda?"


Gazwan terperangah, lalu menyeringai. "Kalau ngimpi jangan ketinggian, ah. Ntar nyesek."


Ia menatap Gazwan dengan mata berkilat. "Lo pikir Kombes cuma dia doang? Ada puluhan Kombes di ruangan ini, bahkan di luar sana. Dan gue cuma butuh satu."


***


Pocut


Hari Kelima


Kehadiran tak terduga Samara memang cukup mengejutkan. Namun tak mempengaruhi apapun. Cara Tama memperlakukannya tetaplah sama, tak ada yang berubah. Bahkan lebih lebih.


Tama sama sekali tak membahas Samara ataupun membesarkan hatinya dengan kalimat penuh cinta yang memabukkan. Namun sikap Tama yang menyanyikan lagu untuknya. Menggenggam erat tangannya sembari sesekali meraih bahunya di sepanjang acara. Mengajaknya berdansa untuk kali pertama. Memperkenalkannya pada semua orang dengan penuh kebanggaan. Menjadi bukti nyata isi hati yang tak terbantahkan.


Dan acara yang mereka ikuti di hari kelima ini adalah family gathering. Sejak pagi, ia beserta Tama menunggu kedatangan anak-anak di sebuah hotel yang berada di Cikole. Sementara beberapa rekan Tama yang lain sudah berkumpul bersama keluarga masing-masing sejak hari kemarin.


"Mama!" Sasa langsung melompat memeluknya begitu turun dari mobil. "Sasa kangeeen."


Umay juga memeluknya meski sambil cengengesan. Sementara Icad dan Reka cukup bersalaman. Sebelum ketiganya tenggelam dalam obrolan bersama Tama.


"Mama kok lama sih perginya?" Sasa terus menggelayut kemanapun ia pergi. Meski Tama sedari tadi berusaha menggoda.


"Kan tiap hari Mama nelepon Sasa." Ia pura-pura mengernyit. "Sasa juga semenit sekali kirim pesan ke Mama. Saking seringnya."


"Hihihi." Sasa tertawa dengan kenesnya. "Sampai Abang sama Mas kesel ke Sasa."


"Sasa!" Kemudian Sasa mempraktekkan gaya Icad mengomel. "Kalau habis pinjam hp kembaliin, jangan digeletakin sembarangan."


"Sasa!" Kali ini Sasa menirukan Reka. "Hp mas mana?" Lalu Sasa kembali cekikikan. "Ternyata Sasa lupa naroh. Trus orang serumah pada nyariin semua, deh. Termasuk nenek, teh Yuni, pak Agus. Hihihi."


Ia menggelengkan kepala. "Kalau pinjam ke orang, harus langsung dikembalikan, Sa. Besok pinjam hp nenek saja, ya."


"Besok?" Mata Sasa membulat. "Besok kan Mama pulang ke rumah sama Sasa?"


Ia tersenyum seraya merapikan rambut Sasa yang berantakan. "Mama belum bisa pulang, Sa. Masih tiga hari lagi di sini. Sampai semua urusan papa selesai."


Sasa memberengut dan merajuk. Namun dalam sekejap kembali ceria sesaat setelah memasuki area outbound. Bermain games seru bersama teman sebaya, menjajal wahana flying fox, menyusuri trek sepeda BMX yang cukup menantang mengikuti Umay, menaiki ATV bersama Tama. Dan terakhir, mengikuti ketiga kakaknya bermain paint ball. Meski belum berhasil memenangkan permainan. Kalah dari keluarga Kolonel Pnb Diaz Gustaman, Danlanud (komandan landasan udara) dari Surabaya.


Keriaan hari ini ditutup dengan makan malam bersama. Di tengah udara dingin khas pegunungan yang cukup menusuk tulang. Sembari saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Lambat laun mulai menghangatkan suasana malam dengan aroma kekeluargaan yang menyenangkan.


"Anak saya empat," ujar Tama di depan semua orang. Seraya menggenggam tangannya erat-erat. Dengan anak-anak yang berdiri di samping mereka.


"Yang paling besar namanya Risyad." Tama menunjuk ke arah Icad. "Lalu Reka. Dua-duanya sudah SMP."


"Umair dan Rumaisha." Tama menepuk bahu Umay dan mengusap puncak kepala Sasa. "Masih SD."


"Jos gandos, Tam!" Seloroh seseorang. Disusul seruan candaan yang lain.


"On the way enam, Ndan," jawab Tama dengan penuh percaya diri dan senyum terkembang.


"Yang kelima aja belum, main sikat enam!" Orang-orang mulai berkomentar.


Tama terus saja tersenyum. "Yang kelima sudah release kemarin. Failure (gagal). Its okay, ini yang terbaik. Mohon doanya rekan semua."


Suara oh panjang serentak terdengar, tepat disaat Tama kian mengeratkan tautan di antara jemari mereka berdua. Entah genggaman yang ke berapa. Ia sendiri lupa untuk menghitungnya. Saking sudah terlampau sering. Yang diam-diam ia artikan sebagai bahasa kalbu andalan Tama, bahwa mereka berdua akan baik-baik saja. Apapun, bagaimanapun, dan seperti apapun jalan berliku yang akan mereka hadapi di depan sana.


Menjelang tidur, Sasa yang sudah terkantuk-kantuk berbisik di telinganya. "Hari ini Sasa seneng banget. Makasih, Mama."


"Bilang makasih juga ke papa," jawabnya seraya membelai rambut Sasa. "Karena mengajak kita semua ke sini."


Mata Sasa telah terpejam, namun masih sempat bergumam pelan. "Makasih, Papa."


Akan tetapi yang diberi ucapan terima kasih tak bisa menjawab. Sebab sejak beberapa menit lalu sudah lebih dulu terlelap. Di atas kasur extra bed yang ditiduri beramai-ramai bersama Reka, Icad dan juga Umay.


 ---------------


Jakarta


Malam Pertama


"Kira-kira, istriku mau ngajak honeymoon ke mana, nih?" Tama sudah memberinya tatapan mendalam bahkan sebelum ia selesai mengatur napas.


Ini menjadi malam pertama Tama berada di rumah usai menjalani pendidikan, namun suaminya itu benar-benar telah kembali seperti semula. Tak ada masa rehat apalagi penyesuaian. Gelora menggebu yang Tama miliki dalam waktu singkat berhasil menyeretnya terhanyut ke dalam pusaran arus paling melenakan.


"Nggak kemana-mana, Mas," gelengnya begitu bisa bernapas secara normal. "Kita cuma punya waktu seminggu."


Tama telah dipindahtugaskan secara resmi ke Polda Metro. Dan mereka hanya memiliki waktu seminggu untuk keluar dari rumah dinas.


"Kita harus cari rumah kontrakan, pindahan rumah, dan seminggu?" Ia menggelengkan kepala. "Terlalu sempit waktunya."


Tama masih menatapnya. "Staycation juga enggak?"


Ia menggeleng. "Selesaikan urusan pindah rumah dulu."


Tama mengusulkan untuk mencari rumah di daerah sekitaran kampung Koneng. "Biar anak-anak bisa pergi ke rumah nenek setiap waktu."


Meski itu berarti, Tama dan Reka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menuju ke kantor dan sekolah masing-masing.


"Nggak masalah," jawab Tama yakin ketika ia mengemukakan kekhawatiran.


"Jauh dekat sama saja. Bagiku yang terpenting pulang ke rumah bisa ketemu sama kamu dan anak-anak," sambung Tama seraya mengecup keningnya dalam-dalam.


Ia pun setuju. Sebab di luar jarak tempuh yang cukup jauh, ia merasa nyaman berada di sekitaran kampung Koneng. Selain lingkungan yang sudah teramat familiar, ia juga merasa tak tega jika harus membiarkan mamak menempati rumah seorang diri.


Namun mencari tempat tinggal yang bisa memenuhi kebutuhan sekaligus sesuai dengan keinginan ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Rumah incaran Tama di sepanjang jalan utama Basmol tak satupun yang dikontrakkan. Sementara deretan rumah dijual tak ada yang menarik perhatian Tama.


"Nggak harus bangunan baru." Tama menggeleng. "Aku cuma perlu tanah yang luas. Biar lebih mudah ngaturnya."


Dan di hari ketiga, Tama memutuskan untuk mengambil penawaran dari seorang rekan. Rumah sewaan yang cukup memenuhi syarat dan bisa memenuhi kebutuhan mereka tentang suatu tempat tinggal di daerah Tomang.


"Untuk sementara," ujar Tama. "Aku masih ingin kita punya rumah di sekitaran kampung Koneng."


Proses berkemas, pindahan, merapikan rumah memakan waktu hampir tiga hari penuh. Dan sebelum batas waktu menempati rumah dinas berakhir, mereka telah resmi pindah ke rumah sewaan di Tomang.


Rasanya seperti memulai hidup baru di tempat yang baru. Cukup asing dan sedikit mendebarkan. Mungkin ini yang dimaksud dengan mendampingi suami kemanapun bertugas. Sewaktu-waktu harus siap berpindah tempat tinggal tanpa bisa memilih sesuai keinginan.


Dua hari menempati rumah Tomang, Tama resmi menjalani proses serah terima jabatan di Polda Metro. Dilanjutkan upacara pisah sambut di Mapolres.


Ia mendampingi Tama menyambut kedatangan Kapolres baru. Yang kini tengah berjalan di atas karpet merah melewati jajaran anggota yang berbaris memanjang dalam tradisi pedang pora.


"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para perwira dan seluruh anggota," ujar Tama usai resmi mengantarkan Kapolres baru ke dalam ruangan. "Atas dukungan yang diberikan selama saya menjabat sebagai Kapolres."


"Teruslah mengabdi dengan menjunjung tinggi integritas, loyalitas, totalitas," sambung Tama. "Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas."


"Tetap fokus pada visi kita, profesional, modern, terpercaya." Tama mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Sekaligus mohon doanya, semoga saya bisa mengemban tanggung jawab di tempat yang baru."


Begitu acara pisah sambut selesai, Devano secara khusus datang menghampiri. Sesaat sebelum mereka beranjak menuju kantor Tama yang baru. "Terima kasih banyak atas bimbingannya selama ini, Pak."


"Saya akan selalu mengingat seluruh pesan Bapak dan siap menjalankan setiap tugas sebaik-baiknya," sambung Devano dengan kepala tertunduk dan gerik penuh hormat, meski mereka tak lagi berada di acara resmi.


"Apa saja pesan saya?" Tama menyeringai. "Emang hafal kamu?"


Ia langsung memperingatkan Tama melalui pandangan mata agar tak mempermainkan Devano.


"Siap, ingat, Pak."


"Coba sebutin. Satu aja, nggak usah semuanya. Bisa habis waktu saya."


Ia kembali memperingatkan Tama, namun suaminya itu jelas pura-pura tak melihat. Justru mengu lum senyum dengan wajah jahil.


"Favorit saya, Pak. Satu keteladanan, jauh lebih baik dari 1000 omong kosong!" √


"Bagos." Tama mengangguk. Namun sejurus kemudian, senyum tertahan di wajah Tama berubah menjadi ledakan tawa.


Dan ia hanya bisa menggeleng melihat bagaimana Tama merangkul bahu Devano sambil berbisik. "Kerja yang bener. Jangan pacaran teros. Harus bisa dibanggakan sama orang tua."


"Siap, Pak."


Selanjutnya, ia tak bisa menebak ketika Tama tiba-tiba melepas arloji yang sedang dipakai. Kemudian menyerahkannya pada Devano. "Nih, buat kamu."


Ia mendesah tak percaya melihat ulah spontan Tama. Seharusnya mereka bisa memberi kado yang lebih baik sekaligus mengesankan. Apalagi Devano memiliki jasa yang cukup besar dalam perjalanan kisah mereka berdua. Bukan memberi arloji bekas pakai.


"Terima kasih banyak, Pak." Namun wajah sumringah Devano mematahkan kejengahannya tentang sikap seenak perut Tama.


"Pakai yang bener." Tama masih saja berkata ketus. "Nanti malam ditunggu di rumah. Jangan sampai telat."


***


Keterangan :


© ∆ : dikutip dari berita yang dimuat di ntmcpolri.info edisi November 2019


Brunch : singkatan dari breakfast (sarapan) and lunch (makan siang)


® : dikutip dari berita yang dimuat di lemdiklat.polri.go.id edisi November 2019


√ : dikutip dari ucapan Jenderal (Purn) Idham Azis (Kapolri tahun 2019-2021) dalam upacara penutupan Pendidikan Sespimti Polri 2 Desember 2019


***

__ADS_1


__ADS_2