
Found You Without Looking
(Menemukanmu Tanpa Mencari)
***
Jakarta
Tama
Ia sedang mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh Sakti, Kasubbag pengendalian anggaran. Sambil memeriksa berkas laporan realisasi. Ketika ponsel dinas yang tersimpan di atas meja berbunyi nyaring.
Devano Calling
"Ya!"
Ia mengangkat panggilan pada dering ketiga. Setelah Sakti menyelesaikan penjelasan laporannya.
Detik itu juga ia langsung mendecak kesal. Mendengar penuturan Devano melalui sambungan telepon.
"Sampai sini dulu," ujarnya ke arah Sakti yang masih berdiri menunggu.
"Besok pagi LAKIP sudah harus ada di meja saya," lanjutnya dengan ponsel masih menempel di telinga kiri. Sementara tangan kanannya bergerak cepat menandatangani lembar terakhir laporan.
"Siap, Pak," Sakti mengangguk mengerti.
Di belakang Sakti menyusul Gilang, Kasubbag Sarpras. Menyerahkan laporan inventarisasi senjata api dan amunisi yang dimintanya.
"Saya pelajari dulu," gumamnya sekilas, sambil membaca laporan lembar pertama.
Gilang mengangguk. Langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, ia kembali berkonsentrasi pada panggilan Devano.
"Di mana?"
Lagi-lagi ia mendecak mendengar jawaban Devano. Anak itu benar-benar tak bisa diandalkan! Gerutunya sambil meletakkan kembali laporan inventarisasi dan bersiap untuk pergi.
"Saya ke sana sekarang!" gumamnya cepat.
Devano, sudah bosan hidup rupanya!
***
Devano
Ia pikir semua akan berjalan lancar. Setelah dua hari sebelumnya, dengan berbekal selembar kartu Visa platinum milik Pak Tama. Ia harus berpusing ria mengelilingi Mall. Mencari barang-barang yang diinginkan oleh Pak Tama. Tetapi pada akhirnya, bukan ucapan terimakasih yang diterima.
"Ini apa?" Pak Tama mulai membongkar satu per satu barang yang dibelinya dengan kening mengerut. Setelah ia menunggu cukup lama di ruangan. Menanti kedatangan Pak Tama dari kegiatan di luar.
"Itu model terbaru," jawabnya cepat. "Paling up to ...."
Pak Tama menatapnya tajam, "Nggak bakalan kepakai sama Pocut."
"Date ...." Gumamnya dengan perasaan tak enak. Sebab sesuatu yang buruk mulai terbayang di pelupuk mata.
"Kamu sudah saya kasih instruksi ... masih saja salah!"
Ia harus menelan saliva dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sudah menjadi lagu wajib dan alur paten. Jika semua hal yang berhubungan dengan Bu Pocut, akan membuat pimpinannya ini uring-uringan. Serba salah. Seandainya ada pilihan serba betul, ia tentu akan berusaha memperolehnya dengan cara apapun.
"Kasih ke ibu kamu!" Hanya dalam satu sapuan, Pak Tama meraup seluruh paperbag yang bertuliskan brand ternama dari atas meja. Lalu memberikan padanya.
"Ibu saya tidak tinggal di Jakarta, Pak."
Pak Tama semakin mengerut, "Kasih ke kakak perempuan kamu, saudara, pacar, terserah!"
Ia menggenggam paperbag dengan ragu. Pikirannya mulai berkelana hingga mengerucut ke satu hal paling krusial menyangkut hajat hidup.
"Izin bertanya. Ini ... tidak pakai potong gaji kan, Pak?"
Pak Tama hanya mendengus. Mengabaikan prasangka buruknya. Bahkan tak menjawab kekhawatirannya. Sebab sudah berkonsentrasi penuh di depan MacBook milik pribadi dengan kening berlipat.
Dan berdalih tak memiliki waktu yang cukup. Pak Tama akhirnya memutuskan untuk membeli barang yang diinginkan melalui aplikasi online shop merek branded.
Tapi rupanya, Pak Tama tak pernah jera untuk meminta pendapat. "Bagusan mana, Van?"
Ia langsung memperhatikan tampilan seluruh model, yang terpampang di layar MacBook dengan seksama. Kemudian mengira-ngira, jika baju-baju tersebut dipakai oleh Bu Pocut. Kira-kira, manakah yang bisa membuat Pak Tama kehilangan akal sehat, saat melihat Bu Pocut mengenakannya?
Ia tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan wajah serius Pak Tama kehilangan akal sehat. Karena penampilan seorang wanita. Sepertinya akan menjadi momen yang sangat menyenangkan. Harus didukung penuh.
Think fast, Devano!
"Nomor tiga." jawabnya yakin. Jelas nomor tiga adalah pilihan paling tepat. Di mana tubuh ramping dan wajah cantik Bu Pocut, akan makin terlihat sempurna dalam balutan long dress elegan berwarna pastel.
Akan tetapi, reaksi Pak Tama sudah default template (pola bawaan) dari asalnya.
"Selera kamu payah!" Gerutu Pak Tama, yang lebih memilih busana nomor satu. Kemudian memasukkannya ke dalam keranjang pembelian.
Gimana baiknya menurut bapak saja, batinnya ikut menggerutu.
Urusan dress wanita selesai. Pak Tama beralih pada pilihan baju anak-anak. Dan ini mencuatkan ide menarik di kepalanya.
"Kenapa nggak pilih baju couple saja, Pak? Yang sekeluarga."
Pak Tama mengernyit, dengan mata tetap terfokus ke depan layar MacBook.
"Banyak butik busana muslim yang mengeluarkan koleksi Lebaran series untuk seke ...."
Pak Tama menjentikkan jari dengan wajah riang, "Tumben kamu pintar."
Ia tersenyum lebar. Devano gitu lho. Entah sudah berapa lusin jumlah barang couple yang tersimpan di dalam lemarinya. Mulai dari kaos, sweater, sepatu, bahkan jam tangan.
Ia menahan tawa. Yakin 100%, jika Pak Tama tak pernah mengalami episode couple an dengan pasangan.
"Pastikan semua barang yang saya pesan, sudah ada di ruangan ini besok siang," titah Pak Tama usai menyelesaikan seluruh prosedur pembelian.
"Kalau sampai ada barang yang belum datang. Kamu proaktif. Tracking ke kurirnya ... hubungi olshopnya ... lakukan apa yang harus kamu lakukan."
"Baik." Ia mengangguk mengerti.
"Saya kirim juga ke Surabaya," sambung pak Tama. "Ke alamat rumah mantan istri saya. Saya minta laporan kalau barang sudah diterima."
"Siap, Pak."
"Satu lagi ...." Pak Tama mengangsurkan MacBook ke arahnya. "Saya baru pilih untuk anak."
__ADS_1
"Untuk mantan ... kamu yang pilih."
Ia menerima MacBook sambil melongo.
"Profilnya mirip ...." Pak Tama berpikir sejenak. Lalu menyebut nama salah seorang artis A list. "Pastikan kamu nggak keliru pilih size."
Ia menelan saliva membayangkan wajah artis tersebut. Pikirannya langsung menebak-nebak. Kira-kira, pria hebat mana yang membuat mantan istri Pak Tama bisa berpaling dan mendua.
"Kita buktikan kemampuan kamu di sini." Pak Tama menyeringai. "Kalau mantan sampai mau pakai baju pilihan dari kamu, berarti ...."
Pak Tama mengacungkan jempol, "Kamu mantap!"
"Pak Devano?"
Lamunannya buyar seketika saat bu Pocut berkali-kali memanggil namanya. Bayangan tentang bagaimana ia memilih baju untuk mantan istri Pak Tama langsung menguap.
"Kalau begini, saya makin nggak bisa menerima barang-barang itu."
"Pak Tama berniat baik pada Ibu." Ia coba bernegosiasi secara halus.
Bu Pocut terlihat mengembuskan napas panjang seraya mengerutkan dahi. "Saya tahu. Bukan itu alasannya."
"Jadi nggak ada masalah den ...."
"Saya nggak ingin berhutang budi," sergah bu Pocut cepat.
"Sekarang izinkan saya keluar. Biar saya pulang sendiri. Tak perlu diantar."
***
Tama
Ia mendecak kesal begitu menemukan Devano sedang berdiri di tempat parkir tanpa ada tanda-tanda Pocut di sekitar.
"Mana?"
Devano mendadak gagap, "Baru saja pergi, Pak."
"Kenapa nggak kamu tahan?" Ia semakin mendecak. "Kan saya bilang mau ke sini?"
"Iya, Pak. Saya sudah bilang. Tapi Bu Pocut memaksa untuk pulang sendiri. Saya ti ....
"Pergi ke mana?" Tanyanya cepat.
Devano menyebut satu arah. "Mungkin sedang menunggu Taxi atau Kopaja ...."
Ia memperhatikan arus lalu lintas di depan kantor yang semakin padat. Lalu merogoh seluruh saku dan kantung baju. Mencari-cari kunci mobil.
"Aduh!" Ia langsung menggerutu begitu menyadari tak membawa kunci mobil. Sepertinya masih tertinggal di atas meja.
"Pinjam mobil. Kunci mana kunci?" Pintanya pada Devano. Waktu untuk mengambil kunci ke ruangannya cukup memakan waktu. Keberadaan Pocut bisa jadi tak terkejar lagi. Ia tentu harus bergerak cepat.
Devano menyerahkan kunci mobil tapi sambil berkata, "Sebaiknya jangan pakai mobil ini, Pak."
Ia tak menghiraukan. Langsung meraih kunci dari tangan Devano lalu naik ke dalam mobil.
"Bu Pocut pergi ke ar ...."
Ia segera menyalakan mesin.
"Pak!" Devano masih berusaha mencegah. Tapi ia sudah keburu melajukan kemudi keluar dari halaman kantor.
Ia memperhatikan trotoar yang dipenuhi oleh lalu lalang orang. Berharap bisa menemukan Pocut di antara mereka. Tapi hasilnya nihil. Pocut tak terlihat di manapun.
Sementara sejumlah kendaraan mulai berlomba membunyikan klakson. Memprotes laju mobilnya yang berjalan lambat. Membuatnya segera membuka kaca jendela lebar-lebar. Memberi tanda jika mereka bisa langsung mendahului.
"Di mana ... di mana ...." Gumamnya sambil memperhatikan satu per satu orang yang berjalan di atas trotoar.
Dan ia langsung menepuk kemudi begitu mendapati Pocut sedang berjalan tergesa menaiki jembatan penyeberangan.
"Finally (akhirnya)!" Ia langsung menepikan mobil. Lalu bergegas keluar berusaha mengejar langkah Pocut.
***
Pocut
Seseorang terdengar meneriakkan namanya. Tapi ia bergeming. Tak mungkin ada orang yang mengenalnya di tempat umum begini. Selain berjarak cukup jauh dari rumah, juga termasuk daerah asing. Bukan merupakan tempat yang sering dilewatinya.
Ia baru berhenti ketika seseorang dengan napas tersengal berhasil menyejajarkan langkah tepat di sampingnya.
"Tunggu!"
Ia mendesah tak percaya begitu mengetahui jika orang tersebut adalah Tama.
"Kenapa ke sini?" Tanyanya spontan. Saat menyadari tatapan heran sebagian besar orang yang melintas di atas jembatan penyeberangan. Memperhatikan mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
Beberapa bahkan sengaja berhenti. Berdiri berkerumun hanya untuk saling berbisik. Para pria memandangnya iba. Sedangkan sejumlah wanita menghujaminya dengan tatapan penuh kecurigaan. Tetapi dalam waktu yang sama, mereka beralih menatap Tama dengan penuh kekaguman.
Perasaan tak nyaman mulai menjalar. Wajahnya langsung merah padam akibat malu. Semua orang pasti mengira, ia adalah penjahat yang sedang diburu polisi.
"Saya antar pulang." Tama mengulurkan tangan kanan.
Ia menggeleng. "Terima kasih. Saya bisa pulang sendiri."
"Siapa sih?"
Kasak kusuk orang-orang di sekitar mereka semakin menjadi.
"Pencopet kali."
"Apa penipu?"
"Dasar nggak tahu malu."
"Sampai jadi TO polisi."
"Nggak nyangka ya ...."
"Kasihan ...."
Ia menelan ludah dengan susah payah. Lehernya mendadak tercekik. Tak mampu bereaksi. Tapi Tama bergeming. Tetap menunggu seraya terus mengulurkan tangan. Sama sekali tak terganggu dengan kasak kusuk orang di sekitar mereka.
Hati memerintahkan untuk membalikkan badan dan segera berlari menjauh. Tapi akal sehat menolak mentah-mentah. Menahan langkahnya untuk terpaku di tempat.
Karena jika ia melakukan hal itu, niscaya semua orang akan semakin percaya jika dirinya bersalah. Kemudian meneriaki atau bahkan mengejar langkahnya karena dianggap melarikan diri dari polisi.
__ADS_1
Apa yang harus dilakukannya?
"Saya antar pulang." Tama kembali menggumamkan kalimat yang sama. Sementara kerumunan orang yang berhenti untuk melihat mereka semakin bertambah. Kasak kusuk suara sumbang kian tak terkendali.
"Padahal nggak kayak penjahat."
"Tapi sampai dikejar pakpol."
"Kalau bukan nyuri, klepto, bawa kabur duit arisan ...."
"Fixed ini sih penipu."
"Sayang banget ... cantik tapi nipu."
"Dia bukan penipu," sambar Tama dengan suara yang begitu tenang. Seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Tapi pencuri ...." Imbuh Tama berhasil mengejutkan semua orang. Termasuk dirinya.
Ia bahkan langsung terkesiap saking kaget dan tak menyangka Tama akan berkata demikian.
"Pencuri hati saya ...." Pungkas Tama cepat dengan senyum diku lum.
"Ahhh ...." Pekikan tertahan langsung terdengar. Beberapa orang tersenyum lebar lalu terkekeh-kekeh. Sebagian lainnya menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Acara TV kali."
"Fixed reality show gaje."
Kasak kusuk kembali terdengar.
"Settingan nih pasti."
"Kamera di sebelah mana ... kamera di sebelah mana?"
"Cosplay seragam polisinya kek asli ya?"
"Tapi pakpolnya ganteng banget ... aku juga mau ikut settingan begini ...."
"Kira-kira tayang di TV mana?"
Tama masih tersenyum memandanginya yang berdiri mematung tak bisa berkutik. Rasa ingin marah, dongkol, kesal, malu, tapi juga heran. Campur aduk menjadi satu.
"Bubar! Bubar!" Seru orang-orang. Mungkin merasa kecewa karena telah salah sangka. Namun beberapa sambil tertawa. Suara cekikikan para wanita bahkan jelas terdengar.
"Dilarang merekam, Adik-adik." Sembari terus menatapnya, Tama mengingatkan sekumpulan gadis remaja yang sedang memfokuskan kamera ponsel ke arah mereka berdua.
Dari mana Tama tahu ada orang yang sedang merekam? Ia mendesah tak percaya. Apa Tama juga memiliki sepasang mata di belakang kepala?
"Huuuu ...." Para gadis langsung menyerukan protes.
"Tidak boleh merekam tanpa izin!" Ulang Tama tegas. Kembali menyapukan pandangan ke sekeliling. "Bisa kena UU ITE."
"Yaelah, santai napa, Om?"
"Pelit amat."
"Adegan uwu nih, Om. Harus diabadikan ...."
Dengan wajah merah padam menahan malu, ia buru-buru berjalan mendahului Tama. "Kita pulang sekarang."
Tama tersenyum penuh kemenangan. Sebelum benar-benar berlalu, sudut matanya sempat menangkap reaksi Tama yang melambaikan tangan ke arah para gadis.
"Uuuhhh ...."
"Om, hadap sini, Om!"
"Cheers dulu, Om ...."
Ia berjalan cepat berusaha melewati kerumunan gadis remaja dengan kepala tertunduk. Tapi Tama malah memanggil namanya.
"Pocut!"
Langkah panjangnya langsung terhenti.
"Mobil saya di sebelah sini. Kamu salah jalan."
Ia langsung berbalik arah. Dengan kepala tetap tertunduk berjalan cepat melewati Tama. Di bawah tatapan geli dan senyum tertahan semua orang.
"Sukses sama Tante ya, Om," seloroh para gadis remaja sambil cekikikan.
Tawa riuh rendah mereka bahkan masih terdengar hingga ia berjalan menuruni tangga jembatan penyeberangan.
Hawa panas sontak merebak menghiasi keseluruhan wajahnya. Sekarang pasti kedua pipinya sudah merah padam saking malunya. Tapi Tama sama sekali tak terganggu dengan reaksi orang-orang ataupun merasa malu. Tama bahkan sudah berjalan santai, tepat di sebelahnya.
Begitu mereka berdua menginjak deretan anak tangga terakhir. Telinganya menangkap gumaman tertahan yang berasal dari Tama. Membuatnya refleks mengangkat pandangan. Dan menemukan kerumunan orang tepat di bawah jembatan penyeberangan.
"Ada apa?" Tanyanya saat melihat beberapa orang petugas dari polantas (polisi lalu lintas) dan Dishub menghentikan laju sejumlah kendaraan.
Tama tak menjawab. Langsung berjalan menuju mobil berwarna hitam yang tengah diperiksa oleh dua orang petugas.
"Selamat sore, Pak. Kami dari Satlantas Polres Me ...." Petugas polantas yang menyapa tertegun begitu melihat wajah Tama dari jarak dekat. Segera bersikap tegap untuk memberi hormat.
Tama hanya mengangguk. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, langsung merogoh saku lantas mengeluarkan dompet.
"Maaf, Pak ... kami ...."
"Lakukan saja tugas kamu," sahut Tama cepat seraya menyerahkan SIM pada petugas tersebut.
"Siap, Pak." Petugas yang terlihat grogi itu kembali menghormat sebelum mengambil SIM dari tangan Tama.
"Izin menjelaskan. Bapak telah melanggar rambu larangan berhenti," terang petugas gugup. Sambil menunjuk rambu lalu lintas bertuliskan huruf S bersilang merah tepat di samping mobil Tama terparkir.
"Berhenti saja dilarang. Apalagi untuk parkir. Tidak diperbolehkan dan akan dikenai denda."
"Ditambah melanggar aturan ganjil genap." Petugas tersebut menunjuk plat nomor mobil Tama dengan wajah kurang nyaman.
"Izin untuk memberi surat tilang."
Tama mengangguk.
"Bisa pinjam STNKnya?"
***
Keterangan :
__ADS_1
LAKIP. : Laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
Sarpras. : Sarana dan prasarana