
Di Persimpangan Dilema
(diambil dari judul lagu yang dinyayikan oleh Nora, penyanyi asal Malaysia)©©
***
Jakarta
Pocut
Ia sedang melipat cucian yang baru diangkat dari jemuran, ketika ponsel di atas meja bergetar tanda panggilan masuk.
Kakak Anjani memanggil ....
Ia mengembuskan napas panjang begitu melihat nama yang tertera di layar. Lalu melirik Sasa yang tengah terlelap. Setelah seharian kelelahan menunggu dua kakaknya pulang ke rumah.
"Abang pergi ke mana sih, Ma?" Sasa berkacak pinggang dengan wajah cemberut. "Kok nggak pulang-pulang?"
"Padahal Sasa udah main sepeda, udah baca buku hadiah dari om Tama, udah bobo siang." Sasa semakin cemberut. "Tapi abang belum pulang juga."
"Apa jangan-jangan ...." Sasa memasang wajah curiga. "Abang piknik tapi nggak ngajak-ngajak Sasa?"
"Kalau gini Sasa kesel, ah!" Sasa mulai merajuk. "Sasa ngambek!"
Ia melirik jam dinding. Sudah lewat waktu ashar. Tapi Icad, Umay, dan pak Agus tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
Sementara sesiangan tadi, Tama mengiriminya sejumlah foto saat berada di arena bermain.
Boys day out, begitu tulisan Tama, tepat di bawah foto yang sedang menaiki bombom car.
Tama dan Umay sama-sama memasang senyum lebar dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi ke atas. Sementara Icad hanya memasang wajah datar.
Abang .... Batinnya sambil menghela napas panjang.
Juga sejumlah foto lain yang diambil Tama ketika Icad dan Umay tengah asyik bermain balap motor, balap mobil, tembak-tembakan. Di foto-foto itu terlihat jelas, ekspresi wajah Icad yang lepas dan ceria. Terbahak bersama Umay seolah tanpa beban. Jauh berbeda dengan yang ditampakkan Icad saat berfoto bersama Tama.
Kakak Anjani memanggil ....
Ia tersentak dari lamunan. Segera meraih ponsel di atas meja. Karena ini menjadi dering ketiga setelah dua panggilan sebelumnya tak terangkat.
"Assalamu'alaikum?"
"Belum tidur?"
Ia menggelengkan kepala mendengar ucapan tanpa basa-basi Tama.
"Pocut? Halo?"
"Belum," jawabnya seraya melirik jam dinding. Baru pukul delapan kurang seperempat. Masih terlalu sore untuk tidur. Lagipula, pekerjaan rumahnya juga belum selesai. Masih harus melipat baju dan merapikan dapur.
"Anak-anak lagi apa?"
Ia menghela napas. Dari arah ruang tamu terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring. Dilatarbelakangi suara tayangan televisi. Dan mamak yang mengingatkan,
"Umay, tolong kecilkan suaranya. Ini terlalu keras."
"Abang dan Umay sedang makan," jawabnya singkat.
"Sasa?"
Ia melirik Sasa yang tengah tertidur pulas sambil memeluk boneka little pony warna ungu.
"Sudah tidur."
Tadi, ketika Icad dan Umay akhirnya muncul di teras rumah, Sasa yang sedang bermain boneka barbie bersama Zhie langsung berlari menghambur. Menyambut kedatangan kedua kakaknya.
"Abaaaang!"
Lalu berkacak pinggang dengan wajah kesal. "Kok pulangnya sore? Perginya lama banget. Tapi Sasa nggak diajak. Curang!"
Sasa sudah hampir menangis karena marah. Untungnya, Icad segera mengulurkan sebuah boneka kuda warna ungu setinggi tubuh Sasa.
"Ini ... buat Sasa."
Tangis yang sudah berada di ujung tanduk seketika tak jadi mengalir. Saat melihat boneka yang diulurkan Icad.
"Separkel?" Sasa langsung meraih boneka kuda warna ungu dari tangan Icad dan memeluknya erat-erat. "Makasih, Abang ... udah bawain Sasa boneka separkel gedeee ... hihihi ...."
"Itu bukan dari Abang," gumam Icad tak jelas.
"Tapi hadiah dari om," sahut Umay dengan suara yang terlalu lantang. "Om Tama."
Detik itu juga tangis Sasa langsung pecah. Berlari menghampirinya sambil terisak-isak. "Sasa nggak diajak! Huaaa! Huaaa! Huaaa!"
"Sasa suka nggak bonekanya?" Suara Tama terdengar tersenyum. "Umay bilang, itu boneka favorit Sasa setelah barbie."
Ia kembali memandangi Sasa yang memeluk boneka little pony erat-erat. "Alhamdulillah ... Sasa suka sekali. Terimakasih banyak."
"Seharusnya jangan repot-repot. Hadiah buku di pagi hari sudah lebih dari cukup."
Tama menghela napas. "Apa kamu selalu sungkan seperti ini ke semua orang?"
Ia tak menjawab.
"Tolong jangan bersikap seperti kita adalah orang lain."
Ia mengembuskan napas panjang. "Maaf ...."
Tama tertawa kecil. "Dan jangan meminta maaf kalau kamu nggak melakukan kesalahan."
Ia mengerut. "Maaf ... saya ...."
"Hei." Suara Tama terdengar melembut. "Ayo, kita menikah besok?"
"Maaf ... saya ... apa?" Ia tersentak saat menyadari pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh Tama.
Tama kembali tertawa. "Kita menikah besok."
Ia hanya diam tak menjawab. Merasa jengah dengan cara Tama bercanda yang menurutnya sama sekali tak lucu.
"Diam artinya ya," seloroh Tama.
Ia tetap tak menjawab.
Kemudian di seberang sana terdengar helaan napas yang cukup panjang. "Icad no, Umay yes," gumam Tama. "Sasa dan Mama ... absolutely yes ...."
Ia memejamkan mata.
"Reka masih abu-abu." Suara Tama mulai melemah. "Aku minta waktu. Mungkin baru ... minggu depan bisa ke Surabaya. Bicara dengan Reka."
Ia mengangguk. Padahal Tama tak mungkin bisa melihatnya.
__ADS_1
"Kamu nggak keberatan?"
"Tentang?"
"Menunggu sampai aku selesai bicara dengan Reka?"
Lagi-lagi ia mengangguk. "Memang sudah seharusnya."
"Hubungan kami cukup rumit. Bisa jadi ... perlu waktu lebih untuk memberi pemahaman pada Reka."
"Begitu lebih baik." Ia tentu sangat memahami situasi yang harus mereka hadapi. Sebab sampai saat ini, Icad belum bisa menyukai Tama.
"Abang tetap nggak suka sama om itu." Geleng Icad saat menyerahkan paperbag berlogo perusahaan kue ternama sebagai buah tangan padanya. "Baik bukan berarti harus suka, kan?"
"Aku ingin semua masalah tuntas sebelum kita memulai."
"Iya."
"Ah ... nggak sabar rasanya, mempertemukan kamu sama Reka."
Ia tersenyum. Teringat akan sosok bocah laki-laki seusia Icad, yang sempat ditemuinya di meja makan rumah bu Niar.
"Jadi ... kapan kita jalan bertiga sama Sasa?"
Senyumnya berubah menjadi kerutan.
Ia tak pernah menyangka, jika ini akan menjadi obrolan mereka yang terakhir.
Selama seminggu lebih, Tama mendadak hilang bagai ditelan bumi. Tak lagi menelepon, apalagi mengirim pesan sekedar bertanya kabar. Seperti yang kerap dilakukan semenjak pertemuan mereka di hari lebaran silam.
Justru Umay yang selalu memberinya informasi. "Ma, ada om di TV!"
"Polisi akhirnya berhasil meringkus pelaku perampokan toko emas beserta pembunuhan di Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat." ®
"7 pelaku berhasil ditangkap." Seorang pria yang sangat mirip dengan Tama tiba-tiba muncul di layar televisi.
"3 diantaranya tewas tertembak karena melawan petugas."
"Dari tangan tersangka diperoleh barang bukti 15 senjata api, 14 bom pipa, 34 butir peluru kaliber 9 mm, 2 unit sepeda motor, 10 Kg emas dan 7 buah kunci sepeda motor."
Ia menelan ludah. Itu memang Tama sungguhan.
"Om keren ya, Ma?" Umay melotot di depan layar televisi tanpa berkedip.
Selanjutnya seperti langganan, hampir setiap saat Umay memanggilnya dari depan layar televisi.
"Ma! Itu ada om!"
"Kapolres Jakarta ... menegaskan bahwa kasus mafia tanah yang menyeret sejumlah nama pejabat pertanahan DKI dan Kementerian ATR (Agraria dan Tata Ruang), kini telah ditangani oleh Polda Metro Jaya." ∆
"Sudah dilimpahkan ke Polda Metro." Wajah Tama kembali muncul di layar televisi. "Sedang ditangani oleh tim dari polres Jakarta ... dan Polda Metro."
Namun yang paling menyita perhatian dan menggemparkan berita nasional adalah kasus pembunuhan seorang hakim agung.
"Jum'at pagi, hakim agung Syafiudin tewas diberondong 4 tembakan peluru oleh orang tak dikenal, saat melintas di Jalan Kemanggisan Utama, Palmerah, menuju kantornya." ✓
"Hakim agung tewas di tempat setelah timah panas menembus lengan, dada, dan rahang kanan."
"Dua hari lalu, hakim Syafiudin baru menjatuhkan vonis pada kasus korupsi Asuransi Paramayoga, yang merugikan negara hingga 10 triliun rupiah."
"Sudah dibentuk tim dengan Polda Metro." Tama kembali muncul di layar televisi. "Kami bergerak sesuai arahan dari pimpinan."
Ia menghela napas panjang. Ya, sepertinya Tama memang sedang disibukkan oleh banyak tugas. Alasan utama mengapa tak berkabar hingga seminggu lebih. Komunikasi di antara mereka mendadak putus di tengah jalan. Dan saat melihat wajah Tama muncul di layar televisi ia merasa, jika mereka adalah dua orang asing yang tak pernah saling mengenal. Terpisahkan dunia yang jauh berbeda.
"Mengapa gelisah?" Mamak seolah mengetahui isi hatinya.
Ia hanya diam tak menjawab. Merasa jengah jika mamak mengetahui kegelisahannya disebabkan oleh Tama. Sungguh memalukan. Mereka bahkan belum memiliki ikatan apapun. Tapi ia sudah merasa diabaikan.
"Mungkin ini jalan ... supaya kau bisa lebih mempersiapkan diri." Mamak tersenyum.
Ia langsung terhenyak. Apakah ini yang dimaksud dengan ucapan Tama tentang,
"Kamu harus siap. Saya bisa berhari-hari nggak pulang ke rumah. Atau pulang tapi tinggal nama."
Di kesunyian malam, hati mulai bertanya, apakah pantas tertidur sembari memeluk buku milik pria yang teramat dicintainya. Namun hati tertuju pada pria lain?
Ia merasa telah menjadi wanita yang tak berperasaan.
Tapi rupanya, bukan Tama yang harus dikhawatirkan. Karena beberapa hari kemudian, masalah sebenarnya datang menghampiri.
"MA! Ada tamu!" Teriak Umay ketika minggu pagi ini ia sedang memasak di dapur.
Dan tak pernah menyangka, akan menjumpai senyum pak Raka di depan pintu.
***
Raka
Seusai sungkeman keluarga, mama tiba-tiba lemas dan terjatuh di ruang makan.
"Terdapat penyumbatan di otak (iskemik) yang dipicu karena hipertensi, tingginya kolesterol dan penggumpalan darah," terang dokter yang menangani mama.
Hipertensi sudah mama derita sejak sepuluh tahun silam. Sementara kolesterol mencapai angka 443, dari standar normal maksimal 200. Berarti sudah dua kali lipat di atas batas normal. Sementara penggumpalan darah karena kurang minum air putih.
Serangan stroke pertama mengakibatkan anggota badan mama yang sebelah kanan, tangan dan kaki mengalami kelumpuhan. Tak bisa digerakkan.
Berbicara pun sulit. Mama bahkan memerlukan waktu cukup lama untuk mengerti dan merespon ucapannya. Dan selama seminggu, mama hanya bisa berkomunikasi menggunakan isyarat.
Ia menunda kepulangan ke Jakarta. Melimpahkan tugas dan tanggungjawab yang berhubungan dengan Selera Persada kepada Iren. Termasuk mencari nanny inval untuk Shaina. Karena ia harus stand by merawat dan menunggui mama di rumah sakit. Sebab dua kakaknya yang menetap di Muenchen dan Brussel tak bisa mudik lebaran tahun ini.
Hari ke sepuluh setelah serangan stroke, mama akhirnya bisa mengerakkan jari kaki kanan dan jari telunjuk kanan. Ini tentu sangat membahagiakan. Memberi harapan jika mama bisa segera sembuh.
Hari ketigabelas, mama diperbolehkan dirawat mandiri di rumah. Namun masih harus mengonsumsi obat antihipertensi, antikolesterol, pengencer darah, nutrisi otak, dan vitamin. Termasuk melakukan sejumlah fisioterapi.
Perlahan namun pasti, kondisi mama semakin membaik. Perpaduan antara obat-obatan yang dikonsumsi dan terapi mulai membuahkan hasil.
Sedikit demi sedikit, ucapan mama mulai jelas walau lirih dan terbata. Mama juga bisa menggerakkan tangan ke atas, meskipun dengan susah payah. Dan bersemangat untuk belajar berjalan menggunakan alat bantu.
"Sebelum mama pergi ...." Mama berbicara terbata-bata sambil menatapnya dengan mata berkaca. "Bawalah seseorang ke rumah ini."
"Seseorang yang kamu cintai. Wanita yang ingin kamu nikahi."
Ia tersenyum. "Mama sembuh dulu. Nggak usah mikir macam-macam."
Tapi mama justru mencengkeram lengannya. "Anak Mama sekarang cuma kamu, Raka. Dua kakak kamu memilih tinggal jauh tak memedulikan Mama ...."
"Mama ingin sebelum pergi ... bisa melihat kamu bahagia ... Shaina dapat ibu sambung yang baik ... biar Mama tenang ...."
Ia mengembuskan napas panjang. "Mba Galuh sama Mba Sari bukan meninggalkan Mama. Tapi memang harus menetap di sana ...."
"Mba Galuh sama Mba Sari ... setiap hari selalu mengkhawatirkan Mama. Menanyakan kabar dan kemajuan Mama. Mengirimkan biaya untuk kesembuhan Mama ...." Imbuhnya berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Tapi Mama justru menatapnya dengan airmata berlinang. "Tapi mereka nggak seperti kamu, Raka ... mau ngopeni (mengurus) Mama ... sampai-sampai mengorbankan hidup kamu sendiri ...."
"Ayo ... bawa ke sini ... Mama restui siapapun orangnya ...."
Ia tentu tak sampai hati untuk menceritakan niat melamar Pocut. Dalam keadaan sehat dan segar bugar saja, mama tak menyukai Pocut. Apalagi dalam kondisi tidak stabil, belum pulih, dan menjalani berbagai terapi.
"Apa wanita yang pernah Mama temui di rumah mas Setyo?" Tebakan mama membuatnya tercenung.
Mungkinkah ... ini jalan untuknya?
"Mama masih ingat?"
Mama mengusap lengannya pelan. "Mama nggak mau kamu salah memilih, Raka. Mama nggak ingin hidup kamu buruk hanya gara-gara wanita."
"Mama ingin kamu mendapatkan yang terbaik."
"Sekarang ... Mama percaya siapapun yang menjadi pilihan kamu."
"Kalau memang sudah mantap ... bawa ke rumah ini menemui Mama ...."
Ia tersenyum lega. "Termasuk Pocut?"
Mama mengangguk. "Jadi ... namanya Pocut? Yang hanya lulusan SMK dan ibu rumah tangga itu?"
Ia hanya bisa tertawa dan menggeleng tak percaya. Lalu memeluk mama dengan perasaan membuncah. Lega luar biasa.
Ia masih tinggal di Malang sampai kondisi mama lebih stabil. Sekaligus menyeleksi dua orang perawat paling handal dan terpercaya untuk merawat mama. Sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Menyelesaikan urusan dan tugas di Selera Persada yang sempat tertunda. Dan mengunjungi kerabat almarhum ayahnya yang masih memiliki garis keturunan Aceh.
Om Hasan, begitu biasa disapa. Adalah suami adik sepupu ayah dari garis keturunan nenek. Entahlah, ia kurang memahami urut-urutan detail silsilah. Yang pasti baginya, om Hasan menjadi satu-satunya orang yang dituakan dan bisa membantunya melamar Pocut.
"Udah yakin, nih?" Om Hasan masih mencandainya. Sebab mereka pernah beberapa kali tak sengaja bertemu di acara resmi, saat ia tengah menggandeng wanita lain, pastinya bukan Pocut.
Ia tersenyum lebar. "100% haqul yakin, Om."
***
Pocut
Ia tertegun saat melihat pak Raka dan seorang pria telah berdiri di depan pintu.
Dan semakin termangu karena pak Raka langsung mencari keberadaan mamak.
Ia sampai harus meminta tolong Umay untuk memanggilkan mamak yang sedang mengaji tahsin di madrasah.
"Mohon maaf sebelumnya, jika kedatangan kami kemari cukup mengejutkan." Pria berambut putih yang duduk di sebelah pak Raka mulai angkat bicara.
"Perkenalkan ... nama saya Hasan. Lahir dan besar di Bireun. Tapi sejak dua puluh tahun lalu sudah menetap di Jakarta."
"Sama sepertinya dengan keluarga ibu ...." Pria itu menoleh ke arah pak Raka yang membisikkan sesuatu.
"Seperti keluarga ibu Cut Rosyida ... yang juga berasal dari tanah rencong."
Mamak mengangguk takzim.
"Saya ... masih terhitung kerabat dengan Raka ini." Lalu tersenyum. "Istri saya adalah adik sepupu dari almarhum ayah Raka."
"Mungkin ... ini cukup sebagai pengantar."
"Sekarang ... sebagai perwakilan dari putra kakak sepupu saya, Raka. Ingin menyampaikan niat baik kepada keluarga ibu Cut Rosyida ...."
"Untuk meminang putri ibu yang bernama ...."
"Pocut Halimatussadiah ...." Jawab pak Raka seraya tersenyum.
Detik itu juga ia merasa terhempas ke tengah lautan. Terombang ambing di antara ganasnya ombak yang mampu menghancurkan karang. Lalu tenggelam di kedalaman dan tak bisa muncul lagi.
Ia sudah pernah berada di posisi yang sama seperti sekarang ini. Bahkan berulangkali. Tapi bukan untuk dua pria yang memiliki hubungan kekerabatan. Dengan satu di antaranya telah menitipkan asa yang cukup mendalam, Tama.
Mamak tertegun menatapnya. Sebelum berucap dengan penuh kehati-hatian. "Mohon maaf sebelumnya. Tapi kami harus menyampaikan."
"Beberapa waktu lalu ... pernah ada yang datang kemari menyampaikan niat baik."
Ia menunduk sambil menjalin jemari dengan gelisah.
"Apakah meminang secara resmi?" Tanya pak Hasan.
Mamak menoleh ke arahnya. "Baru menyampaikan niat baik."
"Berarti belum meminang?" Pak Hasan mulai berwajah serius.
Mamak menghela napas. "Belum ...."
"Ya." Pak Hasan mengangguk-angguk. "Kami sangat mengerti dan memahami. Secara etika, pinangan yang datang sebelumnya tentu harus lebih diutamakan."
"Tapi kalau baru berupa niat baik ... bukankah belum terhitung resmi seperti yang kami lakukan sekarang ini?"
Mamak mengangguk. "Betul. Kami hanya ingin menyampaikan ... supaya pak Hasan dan pak Raka mengetahui keadaan yang sebenarnya."
"Terimakasih banyak untuk keterbukaan ini." Pak Hasan tersenyum lega. "Kami sangat menghargainya."
"Sekarang mungkin ... tinggal menunggu jawaban atas pinangan kami ...."
Ia menjalin jemari dengan gelisah. Napasnya berubah satu-satu seperti terhimpit beban. Dan kepalanya dipenuhi kebimbangan yang meresahkan.
"Saya ...." Ia menatap mamak yang juga sedang memandanginya.
"Saya ... mensyaratkan 100 mayam ...."
***
Keterangan :
©©. : judul lagu diambil karena sesuai dengan isi bab, tidak ada keterkaitan dengan makna lagu yang sebenarnya.
®. : dikutip dari berita Liputan6.com edisi Desember 2013
∆. : dikutip dari berita detik.com ediai Juni 2021
√. : dikutip dari berita mnews edisi Juli 2020, dengan sedikit penyesuaian
Mayam. : bisa diartikan sebagai mahar (jeulame), satuan hitungan emas di masyarakat Aceh.
Jika dikonversikan dengan gram, satu Mayam diperkirakan bernilai sekitar 3,33 gram. Jadi, seumpama emas per gramnya dinilai sebesar Rp 500 ribu, maka satu Mayam adalah sekitar Rp 1.6 juta.
Tidak ada ketentuan untuk menentukan berapa jumlah mahar untuk meminang gadis Aceh. Namun sebagian masyarakat percaya, jumlah mahar ditentukan dari berbagai sisi. Mulai dari paras, keturunan, pendidikan hingga status sosial.
Tradisi mayam mengandung banyak nilai. Salah satunya adalah simbol dari kesungguhan pria dalam mendapatkan wanita yang dicintainya.
(penjelasan tentang mayam : dari berbagai sumber).
***
__ADS_1