
Selamat malam, readers tersayang
Kita bertemu lagi di lapak RSK 🥰
Apa kabarnya semua? Semoga senantiasa berada dalam lindungan dan kebahagiaan, aamiin.
Sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih atas kebaikan hati readers tersayang yang budiman, telah berprasangka baik dan bersedia menanti dalam ketidakpastian selama 9 bulan. Juga atas segala keantusiasan yang begitu indah kembali mengikuti bab terbaru RSK selepas mangkrak,
bahkan meskipun rumus bakbuk satset end dikeluarkan, masih tetap berprasangka baik dan menerima dengan legowo.
Saya sisipkan sedikit extra, sedikiiiiit saja ya, readers tersayang. Benar-benar sedikit, don’t expect too much ☺🙏.
Setiap akhir pekan di hari Sabtu selama bulan Juni, akan ada up extra.
1. Sabtu, 11 Juni 2022, Pukul 19.21 : Dibuang Sayang
2. Sabtu, 18 Juni 2022, Pukul 19.21 : Dibuang Sayang
3. Sabtu, 25 Juni 2022, Pukul 19.21 : Välkommen till Halmstad
4. Kamis, 29 Juni 2022, Pukul 19.21 : Matahari di Langit Timur
Catatan :
Jam tayang terkadang tidak sesuai dengan setting waktu yang tertera. Ada delay di luar kuasa author ☺.
Untuk extra pertama adalah, episode dibuang sayang.
Selamat membaca ❤️.
***
(1)
You're Mine : I'm Yours
(Kau milikku : aku milikmu)
Jakarta
Tama
Ia akhirnya mengungsi ke kamar Cakra, karena Sasa terus-menerus memintanya untuk keluar. Meski Pocut sudah memberi pengertian jika mereka berdua telah menikah.
Sasa bahkan memberinya tatapan penuh permusuhan. Satu hal yang tak pernah diterimanya. Selama ini, Sasa selalu bersikap manis dan penuh atensi. Tapi begitu ia dan Pocut resmi menjadi suami istri, Sasa berubah menjadi palang pintu terkokoh. Anak-anak memang tak mudah ditebak.
"Maaf," ucap Pocut sambil menyerahkan celana panjang dan baju taqwa padanya. "Sepertinya Sasa belum mengerti kalau ...."
Ia menerima pemberian Pocut tanpa bermaksud melanjutkan kalimat. Lebih memilih melepas baju meukasah dengan gerakan cepat. Membuat Pocut mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah merona. Memancingnya untuk meraih tangan Pocut lalu m
Author :
Too early untuk membuat Akak Pocut merona. NEXT!
***
(2)
Bu Niar
Selepas subuh seperti biasa ia membaca Al-Quran barang setengah jam. Kebiasaan yang rutin dilakukan sejak mas Setyo berpulang. Karena dengan membaca ayat-ayat suci beserta terjemahnya, hati terasa lebih nyaman dan lapang. Seolah menjadi tameng kuat baginya untuk menjalani hari yang tersisa tanpa belahan jiwa.
"Ma," bisik Anja sembari setengah memeluknya dari belakang. "Barusan Reka nelepon."
Ia langsung menghentikan bacaan begitu berada di akhir ayat. Naluri keibuan tiba-tiba muncul ke permukaan tanpa bisa dicegah.
"Apa katanya?" Ia menunggu jawaban Anja dengan harap-harap cemas. Berusaha keras mengalihkan rasa khawatir yang mulai menguar tajam.
Ia tahu pasti jika dua minggu ini Tama sedang melakukan kunjungan ke Papua sebagai rangkaian pendidikan pimpinan tinggi. Dan ia juga tahu jika kemarin siang Pocut baru saja melakukan debut live YouTube bersama Grace Lander. Idealnya semua dalam keadaan baik-baik saja.
Anja mengeratkan pelukan sembari berbisik di telinganya. "Semalam kak Pocut jatuh di dapur. Dokter bilang patah tulang selangka."
Sembari terus menggumamkan istighfar, ia langsung berkemas menuju ke rumah dinas Tama dengan diantar oleh Cipto.
"Tidak apa-apa, Ma." Pocut yang terlihat lebih pucat dari biasanya berusaha menenangkan. "Semalam sudah rontgen dan CT Scan. Semua baik-baik saja."
Namun apa yang diucapkan Pocut berbanding terbalik dengan penjelasan dokter spesialis orthopedi yang mereka temui.
__ADS_1
"Cedera yang Ibu alami cukup parah. Tulang yang patah sangat menonjol. Sudah mengenai jaringan di sekitar patahan. Dikhawatirkan bisa semakin merobek jaringan kulit jika tidak segera dilakukan tindakan."
Dokter pun menjadwalkan operasi pemasangan pen tulang selangka Pocut dilakukan pada siang hari.
"Maaf, Ma, jadi merepotkan." Pocut memberinya tatapan sungkan.
Tapi ia menggeleng. "Siapkan diri untuk operasi, ya. Jangan memikirkan hal yang tak penting."
Ia dan Reka duduk menunggu dengan gelisah begitu Pocut dibawa masuk ke ruang operasi. Reka bahkan berkali-kali meneguk minuman isotonik dengan ekspresi gugup.
"Apa aku telepon ayah aja?" Reka menatapnya gelisah.
Ia menggeleng. "Nanti dulu. Kita ikuti apa kata mama, ya."
"Tapi kalau ta__ m-maksudku ... kalau jatuhnya mama Pocut ngaruh ke ini gimana, Uti?"
Ia keheranan melihat Reka mengusap perut. "Ini apa?"
Dan jawaban Reka membuatnya terperanjat. "Tante Pocut lagi hamil, Uti."
Author :
Kasihan kalau semua hal dibebankan ke Reka, ya. Menginformasikan kehamilan Akak Pocut saja harus Reka. Mengeksploitasi anak nih, authornya 😤🧐.
NO. NEXT!
***
(3)
"Mohon arahan Pak, apakah ... ibu Pocut ... target Bapak saat ini?" Tanyanya hanya ingin memastikan. Mengesampingkan kemungkinan akan memancing kemarahan Pak Tama.
Tapi Pak Tama tidak marah, hanya mendecak dengan mimik menyepelekan. "Pakek nanya!"
Author :
Sudah ya, jangan membuat hidup Devano di dunia RSK makin susah. Ada mamaknya baca di sini soalnya 🙈. Ampun, Mamak Devano 🤗✌️.
Di universe lain, Akang Devano udah jadi Kapolsek, Mam 🥰
#Devanobikinmamabangga ❤️
***
"Saya senang Mama di rumah. Tapi saya nggak senang karena banyak tamu yang datang," jawab Icad singkat, padat, dan jelas.
"Tamu siapa?" tanyanya tak mengerti. "Nyari Mama kamu?"
Icad mengangguk.
"Laki-laki?"
Lagi-lagi Icad mengangguk.
Tawa sumbangnya hampir meledak. Tapi masih bisa ditahan.
Author :
Ini waktu scene di mana, ya? 🤔
***
(5)
Pocut
Ini menjadi kali pertama ia dipanggil ke sekolah karena anak-anak terkena masalah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mamak yang sesungguhnya manakala Agam masih bersekolah di SMA Pusaka Bangsa. Sebab tak terhitung berapa kali ibu mertuanya itu dipanggil pihak sekolah karena kelakuan buruk Agam.
“Sekolah menjatuhkan skorsing terhadap ananda Teuku Risyad Ishak dan ….”
Ia tak menyanggah, tidak pula membantah. Apapun alasan yang dikemukaan Icad perihal penyebab perkelahian dan pihak yang memulai terlebih dahulu, baginya berkelahi di lingkungan sekolah tetaplah sebuah kesalahan yang melahirkan konsekuensi. Terima saja apapun keputusan sekolah.
Namun hadangan orang tua siswa yang hidungnya patah akibat dipukul Icad seusai rapat berakhir di depan ruang Kesiswaan cukup mengejutkan.
“Saya tidak terima anak saya dipukul sampai terluka parah.” Wanita berpenampilan elegan itu menunjuk-nunjuk wajahnya dengan berang. “Saya sebagai orang tuanya saja enggak pernah memukul, bagaimana bisa siswa dari keluarga pinggiran seperti kamu melukai anak saya?”
“Sudah, Ma.” Pria yang diketahuinya sebagai suami sang wanita, yang sepanjang rapat bersama Waka Kesiswaan hanya berdiam diri membiarkan sang istri marah menggebu-gebu, bermaksud baik dengan menenangkan.
__ADS_1
Namun tangan pria tersebut justru ditepis. “Mama nggak rela, Pa, anak kita diperlakukan semena-mena!” Lalu wanita itu kembali memelototinya. “Kamu nggak tahu siapa suami saya? Berani-beraninya mukul anak polisi! Saya buat laporan atas penganiayaan, habis kamu!”
“Mama?” Pria berkemeja putih itu menoleh sekilas ke arahnya seakan meminta maaf. “Persoalan sudah selesai. Jangan melebar ke mana-mana. Ayo, pulang.”
Untuk kedua kalinya wanita elegan itu menepis ajakan. Lebih memilih terus menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan wajah berang. “Saya tidak puas dengan hukuman skorsing! Siswa nakal seperti anak kamu harus dikeluarkan dari sekolah ini! Saya aka__”
”Ada apa ini?” Suara berjenis bass yang pernah didengarnya tiba-tiba menghentikan amarah sang wanita elegan. “Pocut, ada apa?”
Ia yang merasa cukup lelah mendengar bagaimana wanita itu marah-marah, menjadi kian lelah begitu menangkap bayangan tanda melati tiga di bahu orang yang baru saja bertanya. Tidak.
Terlebih ketika pria berkemeja putih langsung tegak memberi hormat dan berbasa-basi dengan teramat ramah. Dan wanita di sebelahnya tak lagi memasang wajah sangar.
Author :
Jadi, awal mula Pocutama bisa ngobrol berdua karena kasus Icad berkelahi. Tapi too much, too Cinderella, dan too drama ya, Mams. Sepertinya agak tydack mungkin seorang Kapolres di Jekardah mengunjungi sekolah yang lokasinya bukan di tengah kota untuk melakukan sosialisasi tertib berlalu lintas dan anti narkoba 🙈🙏.
So, skip, NEXT!
***
(6)
Pocut
Ia membuka pintu depan dan terkejut mendapati seorang anak laki-laki berpostur jangkung yang berdiri di baliknya. Reka?
“Nggak ada yang tahu saya datang ke sini, termasuk ayah,” ucap Reka dengan mata terus melihat ke bawah. “Saya cuma ingin bilang ke Tante kalau ayah ….”
Ia memandang anak seusia Icad itu dengan perasaan bergejolak. Antara terkejut dengan keberanian yang nampak, kagum akan kebesaran hati yang ditampilkan, sekaligus merasa tak tega jika jawaban yang diberikan adalah penolakan.
Ya, tentu saja ia harus menolak pria itu. Mana mungkin ia ….
Author :
Jadi awalnya, yang pertama nyatakan cinta Tama ke Akak Pocut itu Reka.
Duh, Reka lagi. Maafkan author ya, nak 🥺🙏.
Ceritanya sebagai bentuk penyesalan Reka karena selama ini telah membenci Tama. Jadi Reka ingin membantu sang ayah menemukan cintanya, begitu.
Tapi, terlalu drastis rollercoasternya ya, Mams. Agak kurang masuk akal bagi anak seusia Reka yang karakternya cuek, tak banyak bicara dan masih trauma dengan perceraian orang tua, bisa menjadi penyambung lidah pernyataan cinta sang ayah.
NO, NEXT!
***
(7)
Tama
Ia telah berhitung dan memikirkan masak-masak permintaan Pocut. Bahkan tanpa wanita itu meminta pun ia sebisa mungkin akan memberikan yang terbaik. Hanya saja untuk saat ini, ia memerlukan sedikit sokongan. Perceraian dengan Kinanti cukup menguras pundi-pundi keuangannya. Hampir seluruh simpanan ia berikan demi mengganti waktunya yang hilang untuk Reka dan kebersamaan keluarga mereka yang harus musnah. Dan seseorang yang paling bisa diandalkan di saat seperti ini tak lain tak bukan,
“Da, bisa bantu gua?”
“Yo, siap!”
Tanpa rasa malu, ia menceritakan kesulitan pada sang adik. Sebab jika persyaratan 100 mayam adalah pintu utama untuk memiliki hati wanita pujaan, bukankah ia harus bergegas? Ia bahkan akan memberikannya tiga kali lipat dari yang diminta.
“Ah, gila! Malu-maluin aja nih sampai yang menyatakan cinta harus dari anak-anak.”
Tapi Sada justru mengejek hal teknis tentang pernyataan cinta. Bukannya langsung membahas masalah perduitan.
“Ini termasuk trik jitu atau prediksi menuju kegagalan?” Sada masih saja bercanda. “Gua pikir sense of love lu udah mati, Mas. Saking lamanya nggak diasah. Buahahaha!”
Ia menelan mentah-mentah semua ocehan menyebalkan Sada. “Bisa bantu atau cukup puas di level ngegeprek?”
“Berapa?” Nada suara sang adik berubah serius.
Author :
Awalnya, Akak Pocut menolak Tama mentah-mentah. Mau menerima Tama dengan syarat 100 mayam. Sedikit tydack nyambung ya, Mams, untuk karakter seorang Pocut yang kurang memiliki rasa percaya diri bisa seberani itu memberikan syarat.
Jadi, kita hadirkan pak Raka sebagai ‘perantara’ terbitnya angka 300 mayam biar lebih smooth 🙈. Ngapunten nggeh, pak Raka, sudah jadi second option 🙏.
SKIP, NEXT!
__ADS_1
Kita lanjut minggu depan ya, readers tersayang.
Terima kasih banyak sudah membaca ❤️.