
Jakarta
Anja
Untuk ke sekian kali, Aran terbangun di waktu sahur. Jika sebelumnya Aran mau bermain sendiri, hingga ia bisa sahur dengan tenang. Namun kali ini berbeda. Aran sedikit rewel. Ia bahkan harus menyuapi Cakra agar tak terlambat bersantap sahur. Karena Aran hanya mau digendong Cakra, tak mau yang lain.
Jadi ketika jelang Subuh Aran mulai terkantuk-kantuk, ia bernapas lega dan Cakra bisa mengikuti salat berjamaah di masjid.
Tapi ternyata, Aran belum benar-benar tertidur nyenyak. Karena saat ruku rakaat kedua, bayi gempalnya itu mulai merengek.
Untung ada teh Cucun yang sedang tidak salat. Bisa segera menemani dan menenangkan Aran. Yang begitu ia mengucap salam langsung menangis keras. "Uma ... huakhakhakhak ...."
"Abang ke mana sih?" Gerutunya berkali-kali karena Cakra tak kunjung pulang. Padahal Aran sedari tadi terus menangis sambil sesekali merengek memanggil Cakra, "Yah ... Ayah ...."
Ia menggendong dan menepuk-nepuk pan tat Aran sambil melongokkan kepala keluar. Berharap Cakra segera muncul. Tapi hasilnya nihil. Suasana pagi yang masih gelap tetap sunyi. Tak ada tanda-tanda kepulangan seseorang ke dalam rumah.
"Sama Yangti sini ...." Mama mengulurkan tangan, namun Aran tak menggubris.
Pun teh Dara yang turut menghibur, "Aran diajak main sama Kak Lana, tuh ...."
"Aran, main yuk!" Lana yang sepanjang acara makan sahur tadi merengek-rengek karena masih mengantuk, sekarang sudah cerah ceria.
Tapi Aran justru semakin rewel dan akhirnya kembali menangis keras.
"Cakra mana, Mas?" Tanya teh Dara begitu mas Sada dan Arka muncul di depan pintu.
"Masih di masjid. Kenapa?"
"Aran nangis nih, nyariin ayahnya." Teh Dara mengusap kepala Aran.
"Ntar aku panggilin." Mas Sada langsung berlalu.
Tapi definisi dari 'ntar aku panggilin' tak berbanding lurus dengan ekspektasi. Karena Cakra tak kunjung muncul. Termasuk kedua kakaknya.
"Kayaknya mereka lagi ngobrolin sesuatu deh, Ja," tebak teh Dara sembari terus mengusap rambut Aran, yang akhirnya bisa tenang dan mau nen.
"Ngobrolin apa sampai lama begini?" Gerutunya sambil membuai Aran yang hampir terlelap. Merasa kesal karena Cakra tak juga kelihatan batang hidungnya. Padahal kesempatan untuk mengeratkan bonding ayah anak antara Cakra dan Aran cukup langka. Tak bisa dilakukan setiap hari. Tapi begitu ada kesempatan, Cakra malah entah ke mana.
"Sampai matahari nongol nggak pulang-pulang," sambungnya masih bersungut-sungut.
Tapi teh Dara tak menjawab. Hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Dan ia langsung memberondong Cakra dengan omelan, begitu wajah bersih yang sedari tadi ditunggu muncul dari balik pintu kamar.
"Abang ke mana aja? Nggak pulang-pulang. Aran nangis nih nyariin."
"Aku kan udah pernah bilang, kalau lagi di rumah ... Abang manfaatin kesempatan buat bangun bonding sama Aran."
"Aku nggak mau nanti Aran manggil Om ke Abang gara-gara jarang ketemu."
Cakra hanya bisa terbengong-bengong. Jelas tak siap menerima luapan kekesalan yang cukup berlebihan darinya.
"Tidur begitu?" Cakra masih bengong sambil menunjuk Aran yang sedang pulas.
"Sekarang," sungutnya. "Tadi rewel banget."
Cakra terkekeh. "Aran apa Bundanya yang rewel?"
"Ih?" Ia melotot tak percaya karena Cakra justru bercanda untuk hal yang menurutnya serius. Baginya, ikatan emosional antara anak lelaki dan ayah sangatlah penting.
Tapi Cakra tak menanggapi. Malah membuka kopiah dengan santai. Menyimpannya di gantungan. Lalu mengerling ke arahnya dengan wajah menggoda. "Jangan ngambek. Nanti puasanya batal."
Ia hanya mendecih. Namun tetap memperhatikan Cakra yang kini sedang menggantungkan baju koko kemudian melipat sarung.
"Barusan mas Tama ngajak ngobrol ...." Gumam Cakra sambil menyampirkan sarung yang telah dilipat ke sandaran kursi. Menumpuk di atas mukenanya.
"Ngobrol?" Ia yang awalnya berniat kembali mengomel mendadak teringat sesuatu. "Tumben. Sejak kapan kalian akrab?"
Cakra tertawa.
"Eh, Abang nggak bikin salah, kan?" Lanjutnya setengah menuduh. "Mas Tama ngobrol apaan sampai matahari terbit? Bertiga sama mas Sada? Bukan ngomongin aku, kan?"
Cakra masih tertawa. Namun kali ini sambil mengusap kepalanya. "Neng ... Neng ...."
"Ngobrol apaan?" Ia kian mengernyit curiga karena Cakra hanya tersenyum-senyum simpul.
Dan ketika tiba-tiba Cakra mendudukkan diri di sebelahnya dengan gerakan cepat. Ia langsung merengut. "Pelan-pelan Abang, ih! Nanti Aran bangun. Udah susah susah nidurin juga!"
Cakra meniup poninya sambil tertawa. "Ada hot news ...."
Matanya langsung membeliak. Tak jadi mengomel meski embusan napas Cakra menerpa wajahnya. "Hot news apaan?"
"Dulu ... kita berdua sempat nebak ...." Cakra justru berteka-teki.
"Nebak apaan?" Ia semakin penasaran.
"Waktu mas Tama ke Jakarta, tapi nggak pulang ke rumah."
"Terus?" Ia menunggu ucapan Cakra selanjutnya dengan hati berdebar.
"Di hari yang sama ... kak Pocut nelepon sambil marah-marah. Karena mas Tama tiba-tiba nyamperin Sasa di rumah sakit."
Ia kian mengernyit tak mengerti.
"Barusan di masjid ... mas Tama bilang ... mau melamar kak Pocut ...."
Pikirannya masih berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Cakra. Sampai-sampai hanya bisa melongo saking terkejutnya.
"Malah bengong." Cakra terkekeh sambil meniup matanya lagi.
Membuatnya tergeragap karena embusan napas Cakra terasa hangat menerpa wajahnya. "Serius? Yang bener?"
Cakra mengangguk sambil tersenyum lebar. "Surprisingly ...."
Ia masih ingat betul, kali pertama bertemu dengan kak Pocut. Saat itu, ia dalam keadaan kacau balau penuh amarah. Karena hamil dan kehilangan uang 6 juta yang melayang percuma di tempat aborsi. Membulatkan tekadnya untuk gagah berani menagih uang yang hilang pada si pembuat masalah, yaitu Cakra.
"Maap ... maap ...." teriak bocah laki-laki yang menabraknya sambil terus berlari dan tertawa-tawa.
Disusul teriakan dari dalam rumah, "Umay! Sasa! Kalia ...." Namun langsung terpotong begitu melihatnya berdiri di teras.
"Cari siapa?"
Ia sempat bengong. Sebelum menjawab dengan gugup dan kaku. "C-cakra ada?"
Namun kekhawatirannya perlahan mulai sirna, ketika wanita itu tersenyum ramah. Kemudian mempersilakannya masuk ke dalam rumah.
"Jauh ya jalan ke sini? Nyasar berapa kali?"
Ia langsung mengambil kesimpulan, jika kakak ipar Cakra selain berparas cantik juga memiliki sikap yang menentramkan.
"Abang jawab apa ke mas Tama?" Tanyanya ingin tahu.
Cakra tersenyum dengan mata menerawang. Tak langsung menjawab. Sejurus kemudian baru bergumam pelan. "Tolong jaga kakak saya, Mas."
__ADS_1
Matanya mendadak memanas mendengar jawaban Cakra.
Ia tentu tak pernah lupa. Saat ucapan kak Pocut secara tak terduga berhasil menyentuh hatinya.
"Beginilah keadaan kami. Bukan siapa-siapa."
"Agam tak punya apa-apa untuk membahagiakan Anjani."
Membuatnya tak lagi memandang Cakra sebelah mata karena image yang terlanjur melekat. Dari Cakra, siswa tak memiliki masa depan langganan ruang kesiswaan yang membuatnya naik pitam. Menjadi Cakra, siswa berprestasi namun terkucilkan yang membuat hatinya mencelos.
Terlebih saat kak Pocut menepuk lengannya perlahan. Seraya tersenyum menenangkan tatkala ia harus menonton kedekatan hubungan yang ditunjukkan oleh Cakra dan Salma.
"Jangan salah paham dengan keakraban mereka, ya. Agam pasti tetap bertanggungjawab atas perbuatannya ke Anjani."
Kak Pocut bahkan memeluknya erat sembari berbisik lirih. "Maafkan Agam ya Anjani .... Maafkan Agam ...."
Tapi lamunan tentang kak Pocut harus buyar, ketika sebuah telapak tangan terasa hangat mengusap rambut juga pipinya.
"Malah nangis." Cakra tersenyum. "Gimana Neng cantik ... acc nggak?"
***
Pocut
Suasana rumah usai salat tarawih cukup sepi. Agam masih berada di madrasah. Sedang membagikan bingkisan Idul Fitri dari keluarga besar Setyo Yuwono untuk para tetangga. Kegiatan yang rutin dilakukan sejak Agam menikah dengan Anjani.
Termasuk Icad, Umay, dan Sasa, yang antusias mengekori setiap gerik yahbitnya.
Sementara mamak tengah berbincang dengan Anjani di ruang tamu. Dan ia memilih untuk membereskan dapur.
Ia sedang mencuci piring ketika seseorang berjalan mendekat.
"Dekgam sudah tidur?" Ia tersenyum begitu menyadari, ternyata Anjani yang berdiri di sebelahnya.
Anjani balas tersenyum seraya mengangguk. Lalu menunjuk ke arah tumpukan piring dan mangkuk yang belum dibilas. "Aku bantu ya, Kak."
Ia menggeleng. "Sudah. Tak usah. Duduk saja di depan dengan mamak."
Tapi Anjani telah lebih dulu meraih piring dari tumpukan paling atas. Lalu membuka keran dan mulai membilasnya.
Ia yang sedang menyabuni sendok mau tak mau sedikit bergeser ke samping, agar Anjani tak kesulitan membilas piring di bawah kucuran air keran.
"Menantu macam apa aku ini? Tiap datang ke rumah mamak cuma numpang makan dan tidur. Tak pernah bantu berbenah." Anjani menoleh ke arahnya sambil menggelengkan kepala dengan mimik lucu.
Ia tertawa. "Memang tak ada yang perlu dibantu."
Anjani merengut sambil menunjuk isi bak cuci piring. "Ini. Cucian numpuk."
"Mana tadi Aran numpahin kolak ke piring Abang yang udah ada nasinya." Anjani semakin merengut. "Sampai harus ganti piring dua kali."
"Belum ngobokin gelas minuman cutngoh sama popoya ...."
Ia tersenyum. "Anak seusia dekgam memang sedang lasak-lasaknya."
Tapi ia mendadak tercekat saat mengucap kata 'lasak'. Karena mengingatkannya pada seseorang.
"Lebih nyaman di telinga, daripada harus dengar rengekan anak lasak."
Ucapan bang Is di terminal Muarabungo belasan tahun silam, langsung berputar memenuhi kepalanya.
"Ya, Kak?"
"Hah?" Ia tergeragap dan menoleh ke arah Anjani. Karena tak tahu apa yang ditanyakan. "Kenapa Anjani?"
Ia tertawa sambil menggeleng. Segera menuntaskan kegiatan menyabuni sendok. Kemudian membuka keran untuk ikut membilas.
"Ngelamunin apa, Kak? Atau ... ngelamunin siapa?" Anjani tersenyum menggoda.
Entah apakah pendengaranannya sedang sensitif. Tapi pertanyaan Anjani terdengar seperti tuduhan baginya. Namun belum sempat menjawab, Anjani telah kembali berucap.
"Eh, Kak ...."
"Hmm ...."
"Di depan ada banyak bingkisan."
Ia mengangguk.
"Tadi aku sempat lihat ... ada dari Raka Prasasti. Itu ... om Raka Selera Persada, kan?"
Ia pura-pura sibuk membilas. Tak ingin menjawab.
"Kok belum dibuka bingkisannya, Kak?"
Ia segera mengambil alih tumpukan mangkuk yang belum sempat dibilas oleh Anjani. Lalu membersihkan sisa sabun di bawah air mengalir dengan gerakan cepat.
"Om Raka itu anaknya sepupu papa ...."
Ia bergeming. Tetap membilas tanpa berusaha menimpali celotehan Anjani.
"Jadi ... kakek aku sama kakek om Raka kakak adik gitu, Kak." Tapi Anjani seolah tak membutuhkan respon darinya. Terus saja bercerita.
"Harusnya manggil mas ya ... bukan om ...." Anjani tertawa sendiri. "Kan secara urut-urutan trah ... level kita sama. Generasi ketiga."
"Jadi waktu itu lagi pertemuan keluarga. Terus ... Reka kan cucu pertama papa tuh. Lagi belajar ngomong. Manggilnya om kalau ke om Raka."
Ia berusaha tak gugup saat membilas mangkuk terakhir. Tapi gagal. Sebab konsentrasinya langsung terpecah saat mendengar nama Reka disebut.
"Sejak saat itu ... kita semua jadi manggil om ke om Raka. Ngikutin cara Reka manggil." Anjani terkekeh. "Keterusan deh sampai sekarang. Begitu ceritanya."
"Eh, ya ampun ...." Anjani terperanjat begitu melihatnya menutup keran usai mencuci tangan. "Udah beres cuciannya, Kak?"
Ia tersenyum mengangguk. "Beres. Anjani mau makan kolak lagi?"
Ia kemudian berjalan ke arah kompor dan menyalakannya. "Kakak hangatkan dulu."
"Nunggu abang pulang, deh," jawab Anjani sambil mengekorinya ke depan kompor.
Ia mengangguk.
"Menurut kakak ...." Tapi Anjani sepertinya tidak sedang memikirkan kolak tawarannya. "Gimana om Raka?"
Ia tertawa. "Gimana apanya?"
"Tipe om om ganteng pastinya." Anjani ikut tertawa sambil mengacungkan jempol.
"Om Raka orangnya baik, sih," lanjut Anjani cepat. "Istrinya meninggal waktu melahirkan Shaina. Terus sampai sekarang ... masih betah sendiri."
"Lagian susah nyari istri yang benar-benar sayang sama Shaina." Anjani mengangkat bahu.
"Waduh, kenapa kita ngomongin om Raka, ya?" Anjani mendadak menepuk dahi sembari tertawa. "Ini malah jadi aku yang nervous ...."
Ia menoleh heran. Dan mendapati Anjani sedang meringis malu.
__ADS_1
Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu mematikan kompor karena kolak telah cukup dipanaskan.
"Kak!" Namun Anjani tiba-tiba meraih tangannya. "Aku mau ngobrolin sesuatu."
Ia yang awalnya bermaksud mengambil mangkuk untuk wadah kolak hanya bisa tertawa. "Kan dari tadi udah ngobrol."
Anjani kembali meringis. "Tentang mas Tama."
Tawanya langsung terhenti.
Dan keanehan yang terjadi adalah, ia sama sekali tak menolak ketika Anjani menarik tangannya agar keluar dari dapur. Lalu memasuki kamar Agam. Melewati mamak yang sedang merajut di ruang tamu.
Anjani bahkan menutup pintu kamar Agam rapat-rapat.
"Anjani ...." Ia mengernyit saat Anjani memintanya untuk duduk di kursi.
"Abang nggak tahu aku bakal ngobrolin ini sama Kakak ...." Anjani mendudukkan diri di atas kursi plastik yang sepertinya telah diambil lebih dulu dari dapur. "Apalagi mas Tama."
"Ih, mas Tama nggak cerita apa-apa ke aku tahu, Kak. Ngeselin banget. Malah ceritanya ke abang coba."
"Emang aku dianggap apa? Dilewatin gitu aja."
"Dikira aku nggak bisa bantu kali. Jadi dicuekin."
Ia semakin mengernyit melihat Anjani mengomel.
"Ini antara ... kita berdua?" Anjani kembali serius dengan menatapnya lekat-lekat.
Ia tak sempat menjawab, karena Anjani sudah keburu meletakkan sebuah benda berbentuk kotak berwarna hitam bertuliskan Photograph Album.
Anjani sempat mengusap sampul berwarna hitam itu sebelum membukanya.
"Lucu, ya?" Gumam Anjani seraya mengusap lembar pertama. Berisi foto seorang bayi laki-laki berkulit merah berbalut kain batik. Dengan tulisan di bawahnya,
Wiratama Yuda
(arti nama : pria pemberani yang pandai bersiasat)
Lhokseumawe, 7 Desember 198x
Dan ia tak kuasa menahan senyum ketika Anjani membuka lembar berikut.
Menampakkan foto seorang bayi bertubuh gempal. Tengah tengkurap di atas meja tanpa mengenakan baju.
Lalu foto balita berbaju kodok. Sedang tertawa lebar di depan kue ulang tahun dengan sebuah lilin yang menyala.
Foto berseragam khas taman kanak-kanak bertuliskan,
Hari pertama Tama masuk TK
Padang, 12 Juli 198x
Foto anak laki-laki mengenakan seragam merah putih dengan tulisan,
Hari pertama Tama masuk SD
Curup, 15 Juli 198x
Foto anak laki-laki menaiki sepeda warna hitam bertuliskan BMX berhiaskan rumbaian pita warna merah putih dengan keterangan,
Tanjung Karang, 17 Agustus 198x
"Mama sendiri yang membuat album foto kenangan kami bertiga." Anjani tersenyum. "Dari lahir, bisa tengkurap, setiap hari pertama kami masuk sekolah baru, sampai hal-hal berkesan lainnya. Seperti ini nih ...."
Anjani menunjuk foto seorang anak laki-laki berseragam merah putih membawa piala dengan tulisan tercetak di atas foto,
Juara Lomba Siswa Teladan tingkat SD Kabupaten Pandeglang tahun 199x.
Foto anak laki-laki berseragam pramuka lengkap.
Juara I LT III Kota Malang tahun 199x.
Foto seorang anak laki-laki mengenakan kemeja kotak-kotak dengan dalaman kaos warna putih yang sedang beraksi di belakang drum.
Pesta Perpisahan Siswa/Siswi kelas III SMP Negeri ... Malang tahun 199x.
Foto dengan wajah yang semakin mirip dengan versi masa kini namun berpostur lebih kurus. Mengenakan seragam Pramuka lengkap dengan tanda hijau di atas bahu sebelah kanan dan kiri.
Pelantikan Dewan Ambalan ... SMA Pemuda Nusantara.
Magelang, Agustus 199x.
Foto di depan gerbang tinggi warna cokelat bertuliskan Akademi Kepolisian.
Beberapa foto liburan ke tempat-tempat indah di seluruh penjuru dunia bersama dua adiknya, Sada dan Anjani.
Juga foto sekeluarga.
Dan foto yang membuatnya tersadar adalah, foto seorang pemuda mengenakan seragam lengkap diapit pak Setyo dan Bu Niar dengan latar Istana Negara.
Pelantikan Prasetya Perwira TNI Polri
Istana Negara, Jakarta, Juli 2xxx.
Begitu keterangan yang membuat senyum terkembangnya langsung sirna. "Anjani?"
Anjani meraih tangannya lalu menggenggam erat. "Ini mungkin sedikit aneh ...."
"Tapi aku lega karena ternyata ... mas Tama masih punya mata yang sehat. Belum rabun ...." Anjani tertawa.
Namun ia menggeleng.
"Juga bisa berpikir jernih." Anjani menyentuh pelipis dengan wajah serius. "Nggak kena mental breakdown setelah gagal sama mba Kinan ...."
Ia menelan ludah dengan gugup.
Namun sejurus kemudian Anjani justru bersungut. "Ah ya ... mana mungkin orang macam mas Tama kena mental breakdown. Yang ada galakan dia dibanding masalah yang datang."
Ia semakin gugup.
"Tapi Kakak tenang aja ...." Anjani tersenyum. "Meski terkesan galak dan angker ... mas Tama aslinya baik kok. Kadang lucu juga."
Andai saja Anjani mengetahui kejadian, saat Tama mengejarnya di jembatan penyeberangan tempo hari. Bisa jadi pendapat Anjani tentang kakak sulungnya itu akan berubah total.
Anjani semakin erat menggenggam tangannya. "Aku bahagia banget kalau Kakak sama mas Tama bisa bers ...."
"Anjani ...." Ia segera memotong ucapan Anjani. "Ka ...."
Tapi kalimatnya tertahan di udara, karena tiba-tiba suara riuh anak-anak terdengar memasuki ruang tamu. Juga Agam yang mengucap salam.
"Assalamualaikum ... wah, sepi. Pada ke mana, Mak? Aran mana?"
Anjani langsung menutup album foto lalu menggenggamkan padanya. "Titip mas Tama, Kak."
__ADS_1
***