Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 106. Too Good To Be True


__ADS_3

Jakarta


Pocut


Adakah perubahan yang terjadi setelah Tama dipindah tugaskan? Hampir pasti kesibukan sang suami yang semakin bertambah seiring kian besar tanggung jawab yang diemban. Perbandingannya begini, jika dua hari ke belakang Tama bisa salat Maghrib berjamaah di rumah, maka hari selanjutnya sang suami akan pulang larut malam, atau dini hari ketika alarm salat malamnya berbunyi atau bahkan tak pulang sama sekali.


Perbedaannya sekarang, Tama kerap memberi kabar terlebih dahulu. Kalaupun tidak, ia yang akan bertanya sekedar memastikan keadaan sang suami baik-baik saja. Sebab dengan kesibukan luar biasa dalam menunaikan tugas, ia berkewajiban menjaga keseimbangan hidup sang suami. Jangan sampai tingkat stres yang tinggi dan beban kerja yang berat berpengaruh buruk terhadap kondisi kesehatan. Ia mungkin tak berpendidikan tinggi, namun memahami betul betapa kesehatan adalah modal utama paling berharga.


Setiap harinya untuk menyambut Tama bangun tidur, ia telah menyediakan segelas air hangat di atas nakas. Lantas sepulang salat Subuh berjamaah di masjid, biasanya sang suami jogging di sekitar kompleks atau pemanasan ringan di halaman rumah. Sebagai pelepas dahaga, ia menyiapkan segelas air hangat bersama sepiring buah potong, terutama pepaya.


“Kopi mana kopi? Atau teh, deh!” seru Tama saat tak menjumpai minuman kesukaan. “Yuni nggak bikin gorengan?”


Ia menggeleng. “Nggak ada kopi atau teh sebelum sarapan. Dan nggak ada gorengan di pagi hari.”


Dulu, ketika mengikuti kelas kepribadian secara rutin, ia kerap mendengar bagaimana Jack menjelaskan perihal pola makan dan asupan gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Rupanya di balik tampilan necis pemuda awal tiga puluhan itu tersembunyi latar seorang ahli gizi. Hilda dan Cesilia menjadi yang tergiat bertanya. Sementara ia cukup menjadi pendengar, merangkum informasi penting apa saja tentang pemenuhan gizi bagi tubuh yang bisa dimanfaatkan untuk diri. Yang akhir-akhir ini mulai ia terapkan di rumah, meski mendapat protes keras terutama dari Tama yang merasa terusik kebiasannya.


“Mulutku asem nih, kalau pagi nggak ngopi,” tawar Tama dengan gaya memaksa.


Namun ia bergeming. “Mas mau sehat atau mau enak?”


Bukan Tama namanya kalau tidak mencari alasan. “Tenang, May, Papa di rumah memang nggak ngopi. Tapi di kantor … hahaha!”


Umay dan Tama terbahak bersama. Reka seperti biasa tak acuh, tengah mengambil kotak bekal kosong kedua untuk diisi makanan. Icad khusyu menyantap sarapan. Sedangkan Sasa menggeleng tak setuju.


“Kalau nanti Papa minum kopi di kantor, alarm pertanda mama bunyi loh, Pa," celetuk putrinya itu dengan wajah serius. "Bisa ketahuan sama mama."


“Ah, masa?” Tama mengusap puncak kepala Sasa. “Secanggih itu Mama kita?”


“Iya.” Sasa mengangguk yakin. “Orang waktu bang Umay diam-diam beli minuman anak gede, trus disembunyiin di kolong tempat tidur, mama tahu loh, Pa. Dijewer kan, Abang. Hihihi. Apa Papa mau dijewer juga sama Mama?”


“Sasa!” bisik Umay sambil melotot. “Kenapa Sasa menjatuhkan Abang di depan banyak orang? Kan jadi ketahuan rahasia besarku.”


Sasa hanya mengendikkan bahu. Sementara ia bisa menangkap air muka sang suami yang berubah waspada begitu mendengar penuturan Sasa. “Minuman anak gede yang mana, Sa?”


“Itu! Yang suka diminum mas Reka, Moma Mola. Hihihi.”


“SASA!” Umay memberengut setengah marah.


Tawa Tama langsung meledak. “Nggak apa-apa kalau Umay sama Sasa sesekali nyobain Moma Mola. Biar tahu rasanya, kan? Daripada penasaran.”


Kini gantian ia yang waspada. Sementara Umay ber yes ria dan Sasa menggeleng yakin. “Pahit, Papa. Enggak enak.”


“Nggak ada minuman bersoda di rumah.” Ia memberi penekanan tentang aturan yang berlaku. “Berlaku untuk Mas Reka, Abang, Umay, Sasa. Mama sudah sediakan susu dan jus setiap hari.”


“Yah, aku jadi ikutan kena.” Reka mengeluh, namun sembari memasang wajah kocak.


“Gara-gara Sasa comel, Mas!” Umay bersemangat mengadukan sang adik. “Omelin Sasa, Mas. Omelin!”


Reka yang telah selesai memenuhi kotak bekal dengan nasi dan lauk tersenyum seraya mengusap kepala Sasa, persis seperti yang Tama lakukan. “Sasa mau minta oleh-oleh apa kalau Mas pulang sekolah nanti?”


“YAH!” Umay mendadak kecewa berat melihat sang kakak justru berpihak pada Sasa. “Kok malah dikasih oleh-oleh sih, bukannya diomelin? Giliran aku aja bikin ulah, langsung dimarahin.”


Tawa berderai kembali pecah di meja makan. Kali ini Icad pun ikut tersenyum.


“Jangan terlalu keras sama anak-anak,” bisik Tama ketika ia pergi ke dapur mengambil kotak bekal untuk Umay dan Sasa. Pria itu rupanya mengekor di belakang. “Makin mereka penasaran, makin mereka ingin mencoba. Lagian cuma Moma Mola in__”


“Cuma Moma Mola?” Ia menoleh tak setuju. “Kalau setiap pelanggaran kecil dianggap cuma, lantas dilakukan berulang kali hingga tak jelas lagi mana boleh mana tidak. Bagaimana bisa aturan ditegakkan? Lama-lama hal besar pun dianggap tidak apa-apa berlindung di balik kata cuma.”


Pupil menawan di hadapan perlahan mulai membesar. Namun wajah sang empunya menyiratkan kelembutan. “Mama kenapa? Ada masalah apa? Dari tadi ngomel terus. Sini cerita sama Papa.”


Ia mengernyit tak suka mendengar ucapan Tama. Tapi tak mampu menutupi desakan hawa panas yang tiba-tiba melingkupi keseluruhan wajah. Gabungan antara tersanjung, tersipu, namun masih sedikit kesal akan pembawaan santai Tama perihal aturan untuk anak-anak, menjadi perpaduan sempurna sikap salah tingkahnya.


“Masalahnya usia Mas sudah memasuki masa-masa harus lebih memperhatikan kesehatan.” Syukurlah, ia masih memiliki jawaban. Malu rasanya tertangkap salah tingkah oleh suami sendiri. “Mas tahu sendiri, rekan seusia Mas sudah dua yang kena serangan jantung. Aku coba mengusahakan gaya hidup Mas menjadi lebih sehat, biar bisa panjang umur ….”


Tama tersenyum seraya menangkup kedua pipinya, namun dengan kekuatan penuh hingga ia berusaha melepaskan diri agar wajah tak jadi kebas. “Iya, istriku sayang. Siap, laksanakan. Nggak ngopi kecuali udah sarapan. Jadi, aku bakal sarapan berkali-kali dalam sehari. Biar bisa sering-sering ngop__”


Ia yang merasa kesal karena Tama terus meledek bermaksud mencubit perut sang suami tapi ….


“Mamaa, aku udah selesai mak__” Tiba-tiba Sasa muncul di dapur sambil membawa piring kosong bekas sarapan. “Ish! Ish! Ish!” Putrinya itu menggeleng dengan dahi mengkerut seperti profesor sedang berpikir. “Mama sama Papa ini, ya. Kemarin habis salat, malah pelukan, bukannya ngaji. Sekarang di dapur, malah pacaran. Mau jadi apa kalau besar nanti? Ck ck ck!”

__ADS_1


Tama terlihat tak kuasa menahan tawa, sedangkan ia masih bisa memasang raut tegas. “Sasa, boleh kalau bicara yang bagus?”


Tama yang masih terkekeh bergegas meraih bahu Sasa, lantas mengajak putrinya itu berjalan menjauhi dapur. “Ayo, Sa, Mama kita lagi mode galak. Jangan dekat-dekat, nanti Sasa bisa kena omel.”


Ia terhenyak mendengar gurauan Tama. Mode galak? Apakah ia memang segalak itu? Dan ia tak pernah berhenti memikirkan gurauan sang suami ketika memenuhi kotak bekal Sasa dan Umay dengan lauk, ketika mengingatkan Tama tentang ponsel dan dompet agar tak tertinggal saat hendak berangkat ke kantor, ketika melambaikan tangan pada anak-anak yang hendak pergi ke sekolah, bahkan masih memikirkannya saat membantu Yuni merapikan meja makan.


“Apa sekarang saya berubah, Teh?” gumamnya pada Yuni namun lebih seperti pertanyaan untuk diri sendiri. Selepas Tama dan anak-anak pergi, rumah berubah sepi. Tinggal mereka bertiga, ia duduk di kursi dapur, Yuni mencuci piring, sementara Agus menyiangi tanaman di halaman depan.


Yuni yang sedang mencuci piring di dapur menoleh. “Berubah apanya, Bu? Menurut saya masih seperti biasa. Malah makin cantik, Ibu.”


“Saya jadi cerewet dan galak, begitu?” Ia termangu memandangi buku catatan menu makan keluarga selama sebulan. “Akhir-akhir ini saya memang merasa sedikit ….” Ia terdiam sejenak. “Apa, ya? Cukup tegang, mungkin?”


***


Yuni


Ia segera menghentikan kegiatan mencuci piring dan bergabung dengan bu Pocut di meja dapur.


“Ibu, sebelumnya saya minta maaf.” Ia sudah membatin hal ini sejak lama, namun sungkan untuk membicarakannya. Ia bahkan sering mengobrolkan masalah ini dengan a Agus. Tapi belum menemukan solusinya. “Apa Ibu sudah cerita ke bapak tentang Lombok Abang? Mungkin ibu jadi tegang karena kepikiran masalah di Lombok Abang.”


Sosial media yang dibuat oleh mas Reka untuk mengunggah resep masakan bu Pocut semakin hari kian bertambah pengikutnya. Terakhir semalam, ia cek sudah lebih dari lima belas ribu pengikut. Namun yang tak pernah disangkanya adalah, dengan semakin dikenal luasnya bu Pocut dan Lombok Abang, ternyata semakin banyak masalah yang muncul. Permasalahan yang bahkan tak pernah dibayangkan sebelumnya.


Mulai dari resep bu Pocut diakui oleh orang lain tapi justru bu Pocut yang difitnah, komentar buruk yang tidak berhubungan dengan unggahan resep masakan, dianggap sombong dan lupa diri usai bu Pocut tampil di chanel YouTube Grace Lander, hingga setiap warga dunia maya yang mengunggah kembali resep bu Pocut dituduh sebagai pegawai Lombok Abang, yang ujung-ujungnya memicu pertengkaran di dunia maya. Padahal satu-satunya orang yang menggawangi Lombok Abang adalah ia sendiri. Yang baru bisa membalas pesan di malam hari setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai. Tidak ada orang lain apalagi banyak orang yang acap kali dituduhkan.


Dan dari sekian masalah yang muncul, ia paling tak habis pikir dengan orang yang mengirim pesan kemarahan beserta kebencian padahal mereka tak pernah bertemu apalagi mengenal bu Pocut. Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa membenci dan menulis pesan dengan seburuk-buruknya kalimat pada orang yang tak pernah dikenal sebelumnya?


Benar-benar hiruk pikuk sekali dunia maya.


“Enggak mungkin saya cerita hal seperti itu ke bapak, Teh.” Bu Pocut tersenyum. “Bapak sudah banyak tugas dan pekerjaan.”


“Tapi orang itu harus diberi pelajaran, Bu.” Ia menyayangkan sikap lemah lembut bu Pocut yang tidak pada tempatnya. “Belum tahu dia kalau Ibu ini istri seorang perwira tinggi, punya jabatan di Polda Metro, mertua ibu saja manta__”


“Bapak masih pamen, Teh, belum pati.” Bu Pocut menggeleng. “Dan ini masalah saya sendiri, bukan masalah bapak. Jadi saya tidak boleh berlindung di balik kemuliaan yang dimiliki bapak.”


“Saya ya saya,”sambung bu Pocut dengan wajah yang menyiratkan kesabaran. “Cuma ibu rumah tangga biasa yang kebetulan suka memasak. Kalau memang ada masalah yang diakibatkan karena kesukaan saya memasak, harus saya hadapi sendiri. Bukan memanfaatkan posisi bapak di mata masyarakat.”


Ia menarik napas panjang mendengar ucapan bu Pocut. Alasan mulia tentang tidak memanfaatkan jabatan yang dimiliki suami. Tapi baginya, menghadapi orang-orang aneh di luar sana, terutama di jagat maya, menunjukkan siapa diri kita menjadi hal yang diperlukan. Ia bisa menarik kesimpulan demikian sebab sosial media milik teman bu Pocut yang bernama Grace Lander, tak pernah didapati komentar buruk atau orang mencari masalah. Menurutnya, itu karena warga dunia maya mengetahui dalam setiap postingan Grace Lander yang berasal dari keluarga berada, bukan orang sembarangan, memiliki harta berlimpah, hidup di lingkungan selebritas. Warga dunia maya jelas akan berpikir dua kali jika ingin mencari masalah dengan Grace Lander. Kecuali orang aneh yang nekat.


“Tapi mungkin … maaf maaf ini, Bu, bukan saya lancang. Mungkin Ibu bisa bercerita ke orang lain selain bapak.” Ia tetap menginginkan bu Pocut menceritakan masalah di sosial media Lombok Abang agar orang lain terutama khalayak bisa mengetahui duduk persoalan sebenarnya. Ia tak rela bu Pocut menjadi bulan-bulanan orang tak dikenal di dunia maya. Amat sangat tak rela.


Bu Pocut sempat terdiam lama sebelum akhirnya kembali tersenyum. “Makasih banyak, Teh, sudah jadi teman ngobrol saya pagi ini. Saya jadi sadar kenapa akhir-akhir ini bawaannya selalu ingin marah. Ada yang tidak cocok sedikit, langsung tegang. Ada yang tidak sesuai sedikit, langsung muncul kekhawatiran berlebih. Mungkin memang benar kalau saya kepikiran Lombok Abang. Tapi saya nggak menyadarinya.”


Ia bernapas lega mendengar kalimat panjang yang diucapkan bu Pocut. Akhirnya. “Jadi, Ibu mau cerita ke bapak kan, Bu? Biar yang julid dikasih pelajaran.”


Bu Pocut tertawa kecil seraya menggeleng. “Enggak, Teh, saya tetap nggak akan cerita ke bapak. Kasihan bapak udah capek ngejar penjahat, masih harus dengerin cerita remeh khas wanita.”


“Yah, Ibu ….” Ia kembali kecewa.


“Tapi dari obrolan kita tadi, saya jadi ingat nasehat mamak.” Bu Pocut terlihat menerawang. “Sedihnya, mengapa selama ini saya melupakan nasehat itu sampai terbawa suasana tak mengenakkan.”


“Apa hubungannya dengan nenek Aden, Bu?” Ia menjadi penasaran.


“Mamak pernah bilang, tersebarnya fitnah keburukan tentang kita, dihina atau direndahkannya kita oleh orang lain, itu sudah ketetapan Allah.” Bu Pocut masih menerawang. “Semua yang terjadi di dunia ini yang menimpa kita, baik itu kebaikan atau keburukan, selalu ada rahmat Allah di dalamnya.”


“Tapi kan, Bu ….” Ia tak sabar ingin memotong ucapan bu Pocut. “Orang-orang yang seenaknya bicara hal yang tidak pernah Ibu lakukan harus tahu kalau perbuatannya salah dan menyakiti orang lain.”


Bu Pocut menggeleng. “Itu biar jadi urusan mereka, Teh. Bukankah perbuatan sekecil apapun di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya? Kita tidak perlu ikut menghakimi.”


Ia melongo mendengar jawaban bu Pocut.


“Sudah, terima saja memang ini jalan hidup yang harus saya jalani. Dihinakan bukan berarti hina. Marah dan protes pun tak berguna karena sudah terjadi.” Bu Pocut terlihat menarik napas lega. “Ridho saja. Pasti ada kebaikan dalam setiap kejadian. Kita saja yang belum mengetahui.”


***


Pocut


Sejak mengobrol dengan Yuni tempo hari, ia merasa lebih ringan dalam menjalani hari. Ia memang tak mengambil hati setiap keriuhan di sosial media Lombok Abang, tapi rupanya alam bawah sadar lebih dulu menyerap energi negatif yang ditimbulkan. Ia menyadari jika beberapa waktu belakangan kurang berserah diri terhadap setiap ketetapan Allah, hingga masalah yang tak seharusnya menjadi masalah justru menimbulkan masalah. Mungkin kehidupan yang semakin dipenuhi kemudahan dibanding masa lalu mulai melenakannya.


Padahal sejatinya, ia sudah sering dihina dan dipermalukan di dunia nyata. Dari dituduh merebut suami orang hingga dipandang sebelah mata sebab keterbatasan tak memiliki kedudukan dunia. Seharusnya ia sudah terbiasa dihinakan, bukan? Namun pengalaman baru mendapat ujaran kebencian di dunia maya tak dipungkiri meninggalkan jejak tak mengenakkan di hati.

__ADS_1


Semua kekotoran hati tentu saja harus segera dibersihkan. Caranya dengan menghentikan dan menutup jalan menuju keriuhan saat ini juga. Ia yang semula tertarik akan tawaran Grace menjadi bintang tamu di acara memasak televisi nasional, akhirnya tak jadi mengambil kesempatan.


“Lho, kenapa?” Justru Tama yang terkejut mendengar keputusannya. “Ini kesempatan bagus untuk berkembang. Kenapa tiba-tiba berubah? Kemarin istriku sayang masih semangat mau keluar di TV, kenapa sekarang malah lemes?”


Ia menggeleng. “Aku belum siap, Mas. Lagipula, rasanya belum pantas menjadi bintang tamu sekelas acara televisi nasional. Masih banyak chef ternama yang lebih ahli dan orang terkenal yang pandai memasak, mereka lebih cocok menjadi bintang tamu. Siapa saya, Mas? Hanya ibu-ibu biasa ya__”


“Lho, siapa Mama?” Tama memotong ucapannya. “Jelas lah pendamping hidup Bapak Wiratama Yuda sampai akhir hayat. Begitu kok pakai ditanyain segala.”


Ia yang semula serius tak kuasa menahan senyum. “Aku belum siap, Mas. Yang lain saja dulu.”


“Istriku sayang.” Tama meletakkan buku tebal yang tengah dibaca ke atas nakas. “Keberhasilan seseorang itu dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya keberuntungan. Pertama, Mama suka masak dan punya cita-cita menyebarluaskan masakan khas daerah. Sekarang, suamimu yang hina ini ….”


“Mas?” Ia sering jengah manakala candaan Tama terlalu dilebihkan.


“Berteman sama pemilik stasiun televisi.” Tama tak menghiraukan protesnya. “Dan Mama berteman sama influencer yang … hmm, kayaknya lagi dibidik si Armand nih jadi korban selanjutnya.” Sang suami malah bicara sendiri mengomentari perilaku Armand. “Kayaknya program masak ini bisa tayang reguler karena Armand lagi pendekatan sama … siapa tuh nama teman Mama?”


“Ci Grace.”


“Huh, manuver receh gini sih gampang ditebak.” Tama kembali bergumam sendiri. “Begitu pakai nyepet gua tiap ketemu. Brengsek lu, Mand.”


“Mas?” Ia menaikkan alis mendengar kata terakhir Tama. “Tolong, kalau di rumah, bahasa seperti itu dilupakan dulu. Nanti jadi kebiasaan ngomong kata-kata sejenis itu di depan anak-anak.”


Tama meringis lebar-lebar seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. “Baik, Ibu komandan, barusan kelepasan. Siap, menerima hukuman!”


Ia hanya mendesah melihat ulah jenaka sang suami. “Nggak apa-apa kan, Mas, kalau aku menolak tawaran ini? Nggak akan mempengaruhi persahabatan Mas dengan Armand?”


“Armand gampang.” Tama mengibaskan tangan dengan ekspresi santai. “Justru Mama yang harus mengkhawatirkan persahabatan dengan cewek barunya Armand.”


“Ci Grace pasti paham alasanku, Mas.” Ia menghela napas lega. “Karena aku bilang, nggak menutup kemungkinan di lain waktu bisa jadi bintang tamu. Saat aku sudah siap.”


“Oke, deal.” Tama mengacungkan jempol sembari melompat bangkit menekan saklar hingga membuat keadaan kamar gelap gulita. Hanya tersisa pendaran cahaya dari lampu teras samping. “Aku juga siap menerima hukuman.”


“Mas?”


“Hukuman yang tadi lho, karena nyebut Armand brengsek.”


“MAS!”


“Emang beneran brengsek dia!”


Tak ada yang tersisa di rumah selain kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan, canda tawa. Anak-anak yang manis dan menyenangkan tiap kali dipandang. Suami yang meski sibuk setengah mati, namun senantiasa menyempatkan waktu membersamai keluarga. Sekecil perkara mengambil alih tugas Agus mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Atau menyambangi rumah bu Niar dan mamak di hari libur. Sudah sangat membahagiakan hatinya sebagai seorang istri.


Namun bukan Wiratama Yuda namanya kalau tak melengkapi hari dengan kejutan. Seperti siang ini. Selepas Dhuhur, ia sedang menunggu anak-anak pulang sekolah sambil membuat adonan kue tatkala terdengar deringan ponsel.


“Assalamu’alaikum, Mas, ada apa?” Ia segera menyambar benda pipih berwarna perak di atas meja. Sudah dua hari Tama tak pulang ke rumah. Ia menjadi sangat ingin tahu mengapa sang suami menelepon di siang bolong.


“Ma, aku tunggu di ….” Tama menyebut nama hotel berbintang yang terletak tak jauh dari markas besar korpsnya. “Nanti ada yang jemput ke rumah, namanya Nurdian. Ditunggu, ya.”


Ia masih mengernyit mencoba memahami pesan cepat yang diberikan Tama ketika Yuni memanggil namanya.


“Ibu, ada tamu di depan. Namanya mas Nurdian. Katanya suruhan bapak.”


“Apa ada hal penting, Pak?” tanyanya penasaran pada petugas berusia muda yang beberapa kali ia dapati menyetiri Tama. Sambil berusaha mengingat-ingat jadwal pertemuan istri-istri anggota dan jadwal pertemuan lainnya. Tapi rasanya tak ada jadwal yang terlewat.


“Tidak tahu, Bu,” jawab Nurdian lugas. “Saya hanya disuruh bapak untuk menjemput Ibu.”


Seorang petugas hotel menyambut kedatangannya sekaligus mengantar hingga ke kamar bernomor persis seperti yang Tama sebutkan. Ketika ia hendak menumpahkan rasa penasaran yang memuncak, tama justru merentangkan tangan lebar-lebar menyambut kedatangannya.


“Akhirnya, Ibu Pocut sampai di sini juga.”


“Mas?” Ia sontak menghentikan langkah, bukannya menghambur ke dalam rengkuhan. “Ada acara atau kegiatan apa? Apa ada jadwal yang terlupa? Tapi aku ingat-ing__”


“Acara kita berdua, lah.” Sepasang lengan telah melingkupi bahunya. “Aku belum bisa pulang hari ini, Tapi udah kangen berat sama yang satu ini.” Sebuah sapuan hangat tiba-tiba melintas melewati dahinya.


“Memanfaatkan jam istirahat sebelum nanti ke bandara,” sambung suara yang embusan napasnya hangat meniup-niup wajahnya. “Healing tipi-tipis. Memang anak muda saja yang bisa staycation. Kita juga bisa.”


***


Keterangan :

__ADS_1


Pamen : perwira menengah


Pati. : perwira tinggi


__ADS_2