Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 45. A Man Who Runs to God


__ADS_3

A Man Who Runs to God


(Pria yang mendekatkan diri kepada Tuhan)


***


Jakarta


Tama


Matanya memandangi deretan tanaman bunga koleksi mama. Tetapi pikirannya justru dipenuhi oleh bayangan wajah Pocut.


Wanita yang begitu menarik perhatian. Mewarnai masa kelam keterpurukannya, usai fase kegagalan bersama Kinan. Dan berhasil membangunkan jiwa pemburu yang mengalir deras di nadinya. Hasrat kuat ingin menaklukkan.


Tetapi sikap Pocut yang tak gampang silau, tak mudah tergiur, dan tak pernah terpengaruh dengan gemerlap dunia yang digenggamnya. Membuatnya merasa sedikit kesulitan untuk memutuskan strategi langkah selanjutnya.


Benar kata mama. Hati hanya bisa diraih dengan hati. Ditambah kenyataan jika Pocut sama sekali tak menaruh minat dengan segala yang disandangnya. Predikat duniawi yang selama ini menjadi magnet pemikat utama banyak wanita, namun itu semua tak berlaku bagi Pocut.


Ia menguap sambil meregangkan kedua tangan ke atas dengan penat. Tidur bisa menjadi pilihan terbaik. Cara alami menyegarkan kepala pening saat menemui jalan buntu. Sebab sampai detik ini, ia benar-benar belum tahu harus mulai dari mana, kapan, dan dengan cara apa untuk meraih hati Pocut.


Ia pun segera menggerus batang rokok yang terakhir. Lalu beranjak ke dalam rumah. Berjalan cepat menyusuri ruang tengah menuju ke arah tangga. Tetapi langkahnya mendadak terhenti di depan pintu ruang perpustakaan.


"Hati hanya bisa diraih dengan hati."


Ucapan mama kembali berputar-putar di kepalanya.


"Sekiranya kamu sudah siap dengan semua hal yang mungkin terjadi. Segeralah minta pertolongan ... pada yang menggenggam dan menguasai hati setiap manusia."


Dalam sekejap berhasil menerbangkan rasa kantuk. Menyibak tabir yang selama ini menyelimuti logika berpikirnya. Tentang apa yang seharusnya dilakukan sejak kali pertama. Yaitu meminta pertolongan pada sang penggenggam hati setiap manusia.


Sebab Pocut adalah pribadi yang unik, lain daripada yang lain. Jauh berbeda dibandingkan sejumlah wanita yang pernah dikenalnya, bahkan termasuk Kinan. Ia tentu harus mengupayakan dengan lebih bersungguh-sungguh. Sebab mengandalkan kemampuan diri sudah tak memungkinkan lagi.


Akhirnya dengan tanpa berpikir, langkahnya berbelok memasuki ruang perpustakaan. Berjalan cepat menuju rak buku setinggi langit-langit milik almarhum papa. Mengerahkan mata nyalangnya untuk mencari judul yang diinginkan. Meneliti satu per satu deretan buku yang ada.


Beberapa menit kemudian, barulah ia berhasil menemukan dua yang paling dibutuhkan. Yaitu,


Buku Tuntunan Salat Lengkap.


Buku Panduan Salat Istikharah.


Saat berjalan menuju mushola di samping rumah, ia coba mengingat, kapan kali terakhir memanjatkan doa dengan segenap hati? Memasrahkan diri sepenuhnya pada ketetapan Yang Maha Kuasa. Merasa diri kecil tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah.


Tetapi sampai langkahnya terhenti tepat di depan tempat wudhu mushola, ingatannya belum juga berhasil menemukan jawaban.


"Huft ...." Ia mengembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepala.


Seangkuh inikah ia? Bahkan memanjatkan permohonan untuk kebaikan diri pun jarang dilakukan. Sungguh sangat merisaukan.


Usai bersuci, ia sempat memandang jam berbentuk Ka'bah yang menempel di salah satu sisi dinding mushola. Tepat tengah malam.


Lalu duduk terpekur di atas karpet. Mulai membaca isi buku panduan salat istikharah.


Dengan mengandalkan otak mampet dan kepala pening, ia berusaha menghafalkan doa panjang di penghujung salat. Agar tak harus membaca buku kala nanti memanjatkan permohonan yang sesungguhnya.


Dan hati rapuhnya langsung tersentuh. Tatkala mendapati betapa dalamnya arti doa yang akan dipanjatkan.


Ya Allah, jika hal ini baik baginya, agamanya, kehidupannya. Untuk saat ini maupun masa yang akan datang. Mohon tetapkanlah dan mudahkan.


Tetapi jika hal ini buruk baginya, agamanya, kehidupannya. Untuk saat ini maupun masa yang akan datang. Mohon hindarkanlah darinya.®


Ia merasa lega bukan main. Ketika akhirnya berhasil melafalkan untaian doa dengan takzim. Tetapi harus buyar oleh sentuhan di bahu.


"Tam! Tama!"


Matanya sontak menyipit karena dalam waktu singkat harus terpapar cahaya lampu yang cukup menyilaukan.


"Bangun! Waktunya sahur!"


Ia harus mengerjap beberapa kali agar bisa melihat dengan jelas, sosok yang sedang menepuk bahu berusaha membangunkannya.


"Kenapa tidur di sini?"


Ia akhirnya bisa melihat wajah mama dengan jelas. Yang kini tengah memandanginya dengan tatapan penuh selidik.


Ia pun berusaha bangkit dan mendudukkan diri. Tepat ketika mama berhasil mendapati dua buah buku, yang semalam diambilnya dari perpustakaan.


Ia menguap untuk menetralisir kecanggungan. Menyiapkan sejumlah jawaban jika mama bertanya.


Tapi rupanya mama tak tertarik untuk membahas tentang buku. Mama hanya tersenyum seraya menepuk bahunya perlahan. Lalu beranjak pergi meninggalkan mushola.


"Mas ngapain tidur di mushola?" Selidik Anja yang sudah duduk di meja makan dengan kening mengernyit.


Ia hanya menyeringai seraya mencubit hidung Anja, "Mau tahu aja!"


"Aduh!" Anja menggerutu sambil mengusap hidung yang barusan dicubit.


Lalu ia menarik kursi dan mendudukkan diri di sebelah Anja. Sementara Sada yang telah duduk tepat di seberangnya, balas menyeringai.


"Aneh ya, Ja?" Seloroh Sada membuka konfrontasi. "Terlalu khusyu salat tahajudnya nih. Sampai ketiduran di mushola."


Anja mengangguk setuju, namun sedetik kemudian menatapnya penuh selidik. "Sejak kapan Mas Tama rajin salat tahajud? Kayaknya aku ketinggalan sesuatu deh."


"Ngaco!" Ia hanya tertawa sumbang menanggapi kecurigaan Anja. "Naga-naganya underestimate banget nih."


Anja nyengir kuda.


"Sejak saat itu doooong ...." Justru Sada yang menjawab. Lengkap dengan tawa meledek. "Semenjak hari itu ... hati ini miliknya ...."


Tapi tingkah menyebalkan Sada langsung terhenti. Karena Dara keburu menepuk bahu sang suami disertai tatapan memperingatkan, "Mas ...."


"Sindir teros!" Ia mendengus pura-pura tak peduli.


Membuat Sada langsung terbahak dengan penuh kepuasan. Sementara Cakra hanya memandangi mereka bertiga dengan wajah keheranan.


Ia bersantap sahur dalam diam. Sesekali menanggapi obrolan mama. Sambil menggoda Aran yang ikut bangun namun tak mau lepas dari buaian Cakra. Maunya digendong terus.


"Aku suapin, ya." Anja menawarkan diri. Bersiap menyuapi Cakra yang tengah menenangkan Aran.


Sedangkan Sada sibuk menjawab pertanyaan Yasa. Dan Dara membujuk Lana yang menangis karena masih mengantuk. Hanya Arka yang paling tenang menikmati makan sahur tanpa drama.


"Tambah makannya, Mas." Ia menyorongkan piring berisi lauk ke arah Arka.

__ADS_1


Tapi Arka menggeleng, "Kenyang."


Ketika ia sedang mencuci tangan di dapur. Cakra berjalan melewatinya dengan wajah dan rambut basah seusai berwudu.


"Mau ke mana?"


Cakra sempat mengernyit sebelum menjawab, "Masjid, Mas."


"Bareng," sahutnya cepat.


"Aku juga!" Sada yang sudah siap memakai sarung dan baju taqwa turut menyahut. "Mas Arka ... yok kita salat ke masjid yok ...."


Ketika mereka berempat berjalan keluar dari gerbang rumah. Pada saat yang sama, om Hartadi dan Dipa juga baru keluar dari pintu gerbang.


"Tama!"


Om Hartadi langsung merangkul bahunya. Seumur-umur menginap di rumah mama, baru kali ini ia mengikuti salat subuh berjamaah di masjid.


"Nanti kultum ya," gumam om Hartadi yakin. "Biar kubilang sama DKM."


"Om!" Ia tertawa sumbang. "Bad idea (ide buruk)."


"Setuju!" Sada mengacungkan jempol dengan wajah sumringah. Adiknya yang satu ini pasti girang bukan kepalang saat ia tersudut harus melakukan hal yang diluar kemampuan.


"Kapan lagi ada komandan mampir ke masjid kita. Ya nggak?" Om Hartadi menoleh ke arah Sada. Yang kembali mengacungkan jempol dengan ekspresi menyebalkan.


"Nggak melulu ngomongin agama," om Hartadi menggeleng. "Bicara sesuai kapasitas kamu."


"Sekarang masjid di sini semakin ramai. Banyak jemaah dari luar kompleks," terang om Hartadi. "Pasti banyak yang belum mengenal kamu."


Rupanya om Hartadi tak main-main dengan tawaran kultum. Karena usai berdzikir selepas salat, namanya dipanggil untuk maju ke depan.


"Kami persilakan ... bapak Kapolres Metro untuk menyampaikan sepatah dua patah kata," ucap salah seorang DKM melalui microphone.


Dan sebelum beranjak, ia sempat berbisik pada Cakra yang duduk di sebelah.


"Tunggu saya. Jangan pulang dulu."


Cakra mengangguk.


Saat berbicara di depan, ia mengajak para jemaah yang hadir untuk turut serta menjaga keamanan dan ketertiban. Terutama di bulan suci Ramadan. Ajakan yang sering digaungkannya saat berhadapan dengan orang banyak.


Setelah turun dari mimbar, ia sempat berbincang sebentar dengan om Hartadi dan ketua DKM. Sebelum akhirnya menghampiri Cakra, yang masih duduk menunggu di shaf terdepan. Meski jemaah yang lain sudah membubarkan diri masing-masing.


"Ada apa, Mas?"


Akhir-akhir ini, ia tak lagi bersikap kaku terhadap Cakra seperti sebelumnya. Tapi Cakra masih saja grogi jika berhadapan dengannya.


Padahal dalam beberapa menit ke depan, kemungkinan besar keadaan akan berbalik arah. Gantian ia yang grogi menghadapi Cakra.


Ia berdehem sebelum berkata dengan mimik tegang, "Saya tertarik sama kakak kamu."


Cakra memandangnya tak mengerti.


"Kakak ipar kamu," ralatnya cepat.


Tapi Cakra tetap memandangnya dengan ekspresi kebingungan.


Cakra tertawa bingung, "Iya, Mas, betul. Kak Pocut mamanya Sasa, Umay, dan Icad."


Ia mengangguk setuju.


"Tapi apa hubungannya dengan ...." Kening Cakra mengernyit keheranan.


Ia balas mengernyit, "Tertarik ... ingin lebih dekat ... ngerti kan maksud saya?"


Tapi Cakra menggeleng.


"Perlu bantuan?" Sada yang entah muncul dari mana, tiba-tiba sudah mendudukkan diri di sebelah Cakra.


"Sori ... barusan pulang dulu nganterin Arka. Habis itu ngobrol sebentar sama om Hartadi dan jajaran sesepuh kompleks," seloroh Sada tanpa diminta.


"Eh, udah sampai mana?" Sambung Sada cepat. Tak memberinya kesempatan untuk menyiapkan counter attack.


Cakra hanya menggeleng dengan ekspresi wajah yang semakin bingung.


"Belum sampai ke mana-mana?" Sada menyeringai. "Berbelit nih pasti ngomongnya."


Ia terpaksa berdehem untuk mengerem Sada, namun tak mempan. Karena Sada sudah lebih dulu mengoceh dengan penuh percaya diri.


"Cakra, Mas Tama ini sudah jatuh cinta sama Pocut. Dan berniat untuk melamar. Begitu, Mas?" Sada mengerling ke arahnya dengan mimik serius.


"Sekarang Mas Tama minta ijin sama kamu ... kira-kira kamu merestui nggak kalau Mas Tama menikah dengan Pocut," sambung Sada tanpa tedeng aling-aling.


Ia mendesis sebal. Sementara Cakra malah menampakkan wajah shock. Melongo memandanginya dan Sada secara bergantian.


"Kaget kan?" Sada terkekeh. "Kaget lah pasti. Nggak mungkin enggak."


"Nggak nyangka kan?" Lanjut Sada dengan gaya provokatif. "Jangankan kamu. Aku aja nggak nyangka."


"Beuh." Kali ini Sada menggeleng. "Nggak nyangka banget."


Cakra masih memandanginya dengan ekspresi aneh, namun tak lama kemudian ketegangan berangsur mengendur. Kini Cakra mulai bisa menahan senyum. Beralih mengulum senyum. Lalu tertawa seraya menggelengkan kepala.


"Oke, Cakra." Sada menepuk bahu Cakra dengan sumringah. "Hari pembalasan telah tiba."


"Do what you want (lakukan apapun yang kamu inginkan)." Kali ini Sada mengedipkan sebelah mata dengan tengilnya. "Kendali ada di tangan kamu."


"Dan ingat satu hal ...." Sada mengacungkan telunjuk tangan kanan dengan wajah berapi-api. "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang."


"Mau ketawa bareng? Sini aku temani," pungkas Sada dengan penuh kepuasan.


Sementara Cakra kembali tersenyum simpul. Lalu tertawa. Tersenyum lagi. Kemudian tertawa. Begitu seterusnya.


Sialan.


Ia ingin memiting Sada, namun yang ada justru ikut tersenyum. Senyum penuh kelegaan. Sebab satu palang pintu telah terlewati. Tinggal melangkah menuju pintu berikutnya. Semakin yakin.


***


Pocut

__ADS_1


Hari ini adalah jadwal terakhirnya mengantar pesanan takjil ke kantor Polres Metro. Dan langsung terperanjat ketika harus berpapasan dengan Tama di tangga menuju ke lantai 2.


Ini akan menjadi pertemuan pertama mereka setelah acara keluarga di rumah Bu Niar tempo hari. Terus terang, rasa canggungnya kian bertambah berkali lipat.


Tapi Tama bersikap tenang dan biasa saja. Berjalan cepat menuruni tangga berdampingan dengan sejumlah pria berseragam tentara.


Tama bahkan sempat tersenyum mengangguk ke arahnya. Saat mereka bersilangan jalan di anak tangga yang ke lima. Sebelum kembali berbincang dengan para tentara.


"Pak Devano sedang mendampingi tamu," ujar petugas yang membantunya menyusun takjil di ruang rapat.


"Ibu silakan tunggu di sini. Sebentar lagi pak Devano datang."


"Apa saya harus menunggu? Nggak bisa langsung pulang?" Sore ini ia memang merasa sedikit kehilangan karena tak lagi dikuntit oleh Devano. Tapi bukan berarti ingin bertemu dengan petugas muda itu.


"Iya, Bu." Petugas di depannya mengangguk. "Ibu diminta untuk menunggu."


"Kira-kira ada urusan apa lagi, Pak?"


"Wah, nggak tahu saya, Bu."


Cukup lama ia duduk menunggu di ruang rapat. Selain merasa tak enak karena beberapa petugas lalu lalang keluar masuk ke dalam ruangan. Ia juga khawatir harus berbuka di jalan karena terjebak macet. Sebab pulang terlampau petang.


"Maaf, Ibu sudah lama menunggu?"


Ia akhirnya bisa bernapas lega melihat kemunculan Devano di ruang rapat.


"Barusan saya mendampingi bapak menerima tamu dari Kodim."


Ia mengangguk. Teringat pertemuan dengan Tama dan sejumlah tentara di tangga tadi.


"Ada apa, Pak?" Tanyanya gelisah. "Kenapa saya harus menunggu?"


Devano tersenyum ramah, "Karena saya yang akan mengantar ibu pulang."


Ia mendesah tak percaya, "Padahal saya bisa pulang sendiri. Tak harus diantar."


Senyum Devano kian ramah, "Ini tugas negara."


Sebenarnya ia ingin bersikeras menolak. Tapi akhirnya, mau tak mau mengikuti permintaan Devano.


Kini Devano tengah membukakan pintu sebelah kiri untuknya. Begitu masuk ke dalam, matanya langsung menangkap bertumpuk-tumpuk box kemasan cantik yang tersimpan rapi di bangku kedua.


"Mau sekalian jalan antar parcel, Pak?" Tanyanya begitu Devano menyalakan mesin.


Tapi Devano justru terlihat bingung, "Parcel apa, Bu?"


Ia menunjuk kursi di belakang.


"Oh," Devano tertawa. "Itu punya Ibu."


Ia langsung menoleh ke arah Devano, "Maksudnya?"


"Saya diperintahkan Bapak untuk mengantar Ibu pulang," jawab Devano yang tengah bersiap melajukan kemudi. "Sekalian membawakan hampers untuk Ibu dan keluarga."


Ia masih menatap Devano dengan kening mengerut.


"Bapak yang memilih sendiri hampersnya," sambung Devano dengan mimik lucu. "Dua hari dua malam saya ikut lembur ... memilih hampers yang cocok untuk Ibu."


"Bapak sampai galau milihnya," imbuh Devano seraya tersenyum lebar. "Semoga Ibu suka dengan hampersnya."


"Maaf." Ia menelan ludah dengan cepat dan jantung berdebar-debar. "Jangan jalan dulu."


"Gimana, Bu?" Devano yang telah memasukkan persneling menoleh heran. "Ada yang ketinggalan?"


Ia menggeleng dengan gugup, "Saya nggak bisa menerima hampers sebanyak itu."


Tapi Devano justru tersenyum, "Ini baru setengahnya lho, Bu. Masih ada hampers yang belum diantar sama kurir."


"Kalau begitu saya lebih nggak bisa menerima."


"Bu?" Suara Devano terdengar penuh kehati-hatian.


"Biar saya pulang sendiri."


"Wah?" Wajah Devano mendadak panik. "Jangan. Biar saya antar sampai ke rumah."


Ia segera membuka seat belt dan bersiap untuk turun.


"Bu?"


"Terima kasih. Saya pul ...."


Klek.


Tiba-tiba terdengar bunyi menutup yang serempak.


"Maaf, Bu Pocut. Tidak bisa." Devano menggeleng.


Tapi ia sudah meraih handle pintu. Bermaksud untuk membukanya, namun ... ugh ... tak bisa dibuka.


Ia mencoba sekali lagi.


Tetap tak bisa.


"Pak Devano?"


Devano berucap gugup, "Maaf, Bu. Saya terpaksa melakukannya. Karena tugas ini tak boleh gagal."


Ia mendesah tak percaya, "Baik. Saya mau diantar pulang. Tapi saya nggak mau menerima hampers sebanyak itu."


Lagi-lagi Devano menggeleng, "Ini tugas combo. Tak bisa dipisahkan."


"Gagal satu artinya gagal semua," imbuh Devano dengan wajah memelas. "Semoga Ibu bisa membantu saya."


***


Keterangan :


Salat istikharah : adalah salat sunah yang dikerjakan untuk meminta petunjuk Allah, bagi mereka yang berada di antara beberapa pilihan dan merasa ragu. Untuk memilih atau saat akan memutuskan sesuatu hal.


®. : dikutip dari arti doa setelah salat Istikharah

__ADS_1


__ADS_2