Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 97. Your Words Don't Define Who I Am


__ADS_3

Your Words Don't Define Who I Am


(Kata-katamu tak mendefinisikan siapa diriku)


***


Jakarta


Reka


Tak memiliki teman bukanlah akhir dari segalanya.


Sejak masih tinggal di Surabaya, ia sudah terbiasa menyendiri. Tak pernah bergantung pada banyaknya teman yang dimiliki. Bahkan meski tergabung dalam sejumlah grup chat yang ramai, namun teman sesungguhnya hanyalah Filio seorang. Teman sejak berseragam taman kanak-kanak sampai mereka bergabung di klub renang yang sama. Itu saja tak pernah berubah apalagi bertambah.


Ia bukannya tak mau berteman. Ingin rasanya hidup normal seperti anak-anak pada umumnya. Memiliki geng pertemanan yang solid. Berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Tiap weekend jalan ke Mall beramai-ramai. Atau sekedar nongkrong membahas hal absurd sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi tak pernah berhasil. Kebanyakan anak-anak malas untuk berteman akrab dengannya. Menurut Filio, itu karena ia terlalu angkuh dan abai.


"Kon melete, ketoro teko raimu (kamu terlalu sombong. Kelihatan di wajahmu)."


Filio keliru. Pun semua orang yang menganggapnya sombong berdasar ekspresi wajah. Ia hanyalah pemalu yang kurang bisa berkomunikasi. Sesederhana itu.


Tapi mungkin, dunianya memang sudah ditakdirkan hitam dan putih saja bukan berwarna-warni. Sejak duduk di bangku SD, ia sudah sering menjadi sasaran bulan-bulanan olokan. Apa saja bisa menjadi bahan. Ayah yang tak pernah terlihat. Bunda yang terlalu sibuk. Mbah uti yang sering memarahi teman-teman jika mengejeknya. Paklek Miko yang berkebutuhan khusus. Semua tanpa kecuali.


Dari candaan biasa yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sampai cemoohan berujung hinaan yang membuatnya meradang namun hanya bisa menangis karena tak mampu melawan. Hingga seiring berjalannya waktu, kemampuan untuk mempertahankan diri mulai tumbuh dan mengakar kuat. Tak lagi pasrah ataupun menangis tiap kali dirundung. Tapi langsung mengamuk lalu menghantam siapapun orangnya tanpa mengenal rasa takut.


Sering ia pulang ke rumah dalam keadaan babak belur dan berdarah. Rasanya seperti mendapat double jab (pukulan lurus ke muka) yang menghasilkan dua bekas luka sekaligus. Fisik dan hati. Tapi lama kelamaan menjadi terbiasa. Tak lagi jengkel atau mengamuk jika dicemooh. Sebab sudah tak tahu lagi bagaimana caranya mengekspresikan rasa sakit hati.


Jadi ketika harus pindah sekolah ke Jakarta, ia sama sekali tak merasa terganggu meski belum memiliki teman. Hanya tak pernah menyangka jika para cowok di sekolah baru akan begitu membencinya. Sementara para cewek malah melimpahinya dengan perhatian.


"Lo anak baru berani macam-macam?" Menjadi sambutan hangat pertama untuknya dari dua anak paling berpengaruh di angkatan mereka, Agler dan Edgard.


Padahal ia tak melakukan apapun. Tak pernah bergaul dengan siapapun. Orang yang sering mengajaknya mengobrol hanyalah miss Angeline sang wali kelas.


"Reka suka berenang?" Tanya miss Angeline di hari pertama masuk sekolah. Memandanginya dengan mata berbinar seperti baru menemukan harta karun dari dalam perut bumi.


"Suka."


"Apa cita-cita Reka di bidang renang?"


Ia ingin seperti Michael Phleps, perenang idolanya. Tapi yang terucap justru, "Nggak ada."


Miss Angeline tersenyum sambil mengangkat buku induk miliknya. "Daftar kejuaraan yang pernah Reka menangkan tak cukup ditulis dalam satu lembar. Miss berharap akan segera bertambah di lembaran berikutnya."


"Sekolah akan memberi dukungan terbaik. Setelah ini Miss akan menghubungi coach Reka untuk memastikan kegiatan akademik dan renang bisa seiring sejalan."


Dan pak Engkos, pesuruh sekolah.


"Sukanya kok nongkrong di tempat sepi begini, Den? Ke kantin tuh, rame."


"Males."


"Lho, aneh? Sering dipanggilin namanya sama cewek-cewek cantik kok malah males."


Ia juga berusaha untuk tak terlihat dan tak menarik perhatian. Jam istirahat lebih sering dihabiskan di perpustakaan untuk membaca buku biografi para olahragawan sukses dunia. Bahkan kotak berpita yang menumpuk di dalam laci pun tak pernah disentuhnya.


"Hai, Reka." Seorang gadis tiba-tiba menyapa. "Kita sekelas tapi elo kok cuek, sih?"


Ia hanya menatap jepitan kupu-kupu di rambut gadis tersebut. Tak berminat untuk menjawab. Sebab scene seperti ini sudah sering dialaminya sampai merasa bosan sendiri.


"Gift dari gue udah dibuka belum? Suka nggak?"


Ia memandang lurus ke depan. Di mana gadis berwajah cemberut yang pernah ditemuinya di resepsi pernikahan ayah baru masuk ke dalam kelas sambil tertawa-tawa.


"Aku nggak suka gift," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari si wajah cemberut.


"Trus, lo sukanya apa, dong?"


Ia masih memandang si wajah cemberut yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. "Nggak ada yang suka."


"Termasuk nggak suka ke gue? Really, Reka?"


Ia bisa mengambil kesimpulan jika hidup di Jakarta sama membosankannya dengan di Surabaya. Yang membedakan hanyalah keriuhan di rumah. Baru kali ini ia menjumpai ada anak se sok tahu dan banyak omong seperti Umay. Baru kali ini pula ia menemui gadis cilik seceriwis dan secentil Sasa. Ia bahkan tak pernah bisa menolak jika Sasa memaksanya ikut bermain bersama.


Selain itu nothing special.


Ayah, meski sekarang telah berubah. Menjadi suka bercanda dan lebih banyak tersenyum. Namun mereka tak pernah benar-benar saling bicara. Jarak yang membentang masih terlalu lebar.


Tante Pocut memang selalu bersikap baik dan lemah lembut padanya. Setiap hari memanjakan perutnya dengan masakan dan hidangan lezat. Sampai pelatih menambah porsi latihan khusus dibanding teman yang lain untuk menjaga berat badan tetap ideal. Namun Tante Pocut jelas terlalu berhati-hati tiap kali mengajaknya bicara. Ia seperti orang asing yang sedang menumpang hidup di rumah baru ayah. Merasa sendiri.


Dan Icad tak jauh berbeda. Masih sama pendiamnya seperti kali pertama mereka bertemu.


Namun sikap menghindarnya di sekolah justru memantik permasalahan baru dan memicu permusuhan.


Suatu hari saat ia sedang membantu pak Engkos menyalakan sprayer elektrik di dalam green house milik sekolah, sekelompok anak datang mendekat.


"Gue udah ngewarning, tapi lo malah belagu!"


"Berani ngegebet Driti lo?"


Ia tak tahu siapa Driti. Wajah cewek-cewek yang sering menyapanya terlihat sama satu dengan yang lain. Ia tak bisa membedakan mereka dan kesulitan untuk mengingat nama. Tapi tuduhan sengak Agler berhasil menyentil egonya.


"Kalau iya, kenapa?"


Agler langsung merangsek meninjunya tapi ia keburu menghindar.


"Berani nyentuh Driti, gue abisin lo!"


"Heh, N jing!" Edgard ikut menunjuk-nunjuk mukanya. "Lo bebas deketin siapapun kecuali Driti!"


Ia menyeringai. "Kalau Driti sukanya sama gue, masalah buat lo?"


BUG!


Kali ini ia tak bisa menghindar karena hantaman Agler berlangsung sangat cepat.


Namun ia masih bisa menyeringai meski dengan rahang kaku dan pegal bekas dihantam. "Bisanya main keroyokan!"


"Makin jadi si an jing!" Wajah Agler semakin merah padam. Mulai mengambil ancang-ancang untuk memukulnya lagi. "Ngajak ribut, lo!"

__ADS_1


Tapi ia masih punya waktu untuk menyeringai dengan sinis. "Satu lawan satu kalau berani."


"Cari mati, lo!"


"Hajar, Gler!"


"Abisin!"


"Jan kasih ampun!"


Semua yang berada di sana mulai mengelilinginya sambil menyerukan sumpah serapah.


Namun ia masih ingin bicara meluapkan kejengkelan. "Lo insecure takut kesaing sama gue, itu salah gue? Driti lebih milih gue daripada lo, itu salah gue juga? Cemen!"


Begitu ia menyelesaikan kalimat terakhir, pukulan pertama langsung mendarat tepat di rahang kanan. Menyusul tendangan, sepakan, injakan. Namun teriakan panik pak Engkos berhasil menghentikan perkelahian yang tak seimbang.


Sama sekali tak menyangka akan berbuntut panjang. Bahkan berujung pada perkelahian sengit sebab tingkah Agler and the gank sudah melampaui batas. Mereka memberi hinaan terburuk untuk orang-orang dalam hidupnya. Bahkan menyebarkan ke seluruh penjuru sekolah.


Sebutan untuk bunda menjadi yang paling melukai hati. Sebab ia tahu pasti jika sampai saat ini bunda masih berjuang keras untuk berdamai dengan diri sendiri. Bahkan paham betul jika bunda menyesali semua yang telah terjadi meski tak kuasa memperbaiki apalagi mengubah keadaan.


Sementara tante Pocut, ia tak pernah melihat keanehan selama mereka tinggal bersama. Ia bahkan belum pernah melihat rambut tante Pocut lagi selain di hotel usai resepsi pernikahan beberapa waktu lalu. Selama berada di rumah, tante Pocut selalu memakai baju panjang dan kerudung sepanjang hari. Saking penasarannya ia coba bertanya pada Sasa.


"Ih, Mas Reka lucu, deh. Masa gini aja nggak tahu? Mama kan malu kalau sampai kelihatan rambutnya sama pak Agus." Sasa menggeleng. "No no no, nggak ada yang boleh lihat rambut mama kecuali papa. Hihihi ...."


Ia tak mengerti maksud dari jawaban Sasa. Sebegitu berharga kah rambut tante Pocut sampai-sampai hanya ayah yang boleh melihatnya. Ya, meski ia juga mengakui kalau rambut tante Pocut memang indah berkilau.


Dan ia tak merasa menyesal meski hantamannya berhasil mengirimkan Agler dan Edgard ke rumah sakit sekaligus menghasilkan skorsing. Sebab ia yakin 101% setelah kejadian ini, tak ada yang berani mengganggunya lagi.


"Kapan masuk sekolah?" Tanya ayah ketika pagi ini seusai salat subuh mengajaknya jogging keliling kompleks. Hanya berdua saja tanpa Icad dan Umay.


"Lusa," jawabnya singkat.


Bersamaan waktunya dengan ayah yang tak lagi berlari-lari kecil. Berjalan lambat sambil bergumam pelan. "Kayaknya lutut ayah mulai kopong."


Ia pun mengikuti ayah berjalan kaki biasa.


"Hari ini Ayah harus ke Lembang lagi."


Ia mengangguk.


"Nggak sempat ke sekolah untuk menyelesaikan masalah kemarin."


Ia menghentikan langkah. "Nggak usah datang. Udah selesai."


"Apa di sini hanya Ayah yang nggak tahu masalahnya?"


Ia hanya menunduk. "Masalah biasa."


"Mereka bilang apa tentang bunda dan mama?"


Ia masih menunduk. "Nggak penting. Udah impas dibalas sama pukulan."


"Dengan dua jahitan?" Ayah tertawa.


"Dengan dua jahitan." Mau tak mau ikut tersenyum.


Ia menggeleng. "Ribet kalau mesti pindah lagi."


Meski sekolah di Pusaka Bangsa rasanya tak menyenangkan. Namun pindah bukanlah jalan keluar. Ia ingin menunjukkan arti dari keberanian. Berani berbeda, berani melawan perundungan, berani bertahan. Anak-anak Pusaka Bangsa jelas salah memilihnya sebagai mangsa.


Helaan napas ayah terdengar berat. "Ingat sama teman Ayah yang namanya om Riyadh?"


Ia menggeleng. Teman ayah cukup banyak. Sangat banyak malahan. Ia tak bisa mengingat dan menghapal mereka satu per satu.


"Dulu kami pernah satu sekolah. Tapi om Riyadh nggak betah dan memilih kabur." Ayah tersenyum. "Bisa bayangin kabur dari sekolah berasrama milik pemerintah?"


"Seru?" Ia memandang ayah.


"Double killed." Ayah masih tersenyum. "Nyusun strateginya sampai 7 hari 7 malam."


Ia tak bisa membayangkan kabur dari sekolah berasrama. Pastinya tak semudah saat ia kabur dari Surabaya ke Jakarta.


"Dan ketangkap sama pengasuh." Mata ayah menerawang.


Ia pun mulai tertarik untuk mendengarkan cerita.


"Dibawa pulang ke asrama. Dihukum. Dibotakin. Habis itu om Riyadh." Ayah memandangnya. "Tapi nggak kapok. Bulan depannya, kabur lagi. Nggak ada rasa takut padahal ayahnya Danrem (komandan Korem)."


Ayah masih memandangnya. "Ya, om Riyadh kabur karena nggak mau sekolah di SMA semi militer yang ujung-ujungnya jadi tentara seperti keinginan ayahnya."


"Kabur yang ketiga baru berhasil," sambung ayah. "Langsung DO, diusir dari rumah, sama ibunya dikirim sekolah di kampung, hidup sama keluarga pembantu rumah tangganya. Begitu lulus langsung masuk fakultas impian di Bandung, arsitektur. Lanjut kuliah master ke Amerika. Kerja dan tinggal di sana sampai bertahun-tahun lamanya. Baru pulang ke Indonesia setelah sang ayah sakit-sakitan karena menyesal telah mengusir anaknya."


"Ayah nggak mau seperti itu." Ayah menatapnya tajam. "Ayah nggak mau waktu kita hilang hanya karena keegoisan dan kekurangpahaman ayah tentang keinginan Reka."


"Ayah sudah kehilangan masa kecil Reka." Ayah menepuk bahunya. "Nggak mau kehilangan lagi. Ayah ingin melihat Reka dan adik-adik tumbuh dewasa. Ayah ingin ada di sana melihat semuanya. Tanpa kecuali."


Ia menunduk. "Aku bukan om Riyadh."


Ayah tertawa. "Tapi bisa konsekuen seperti om Riyadh?"


Ia memandang ayah.


"Konsekuen dengan pilihan Reka tetap sekolah di Pusaka Bangsa? Yakin bisa melalui semua apapun yang terjadi? Ini penawaran terakhir. Karena Ayah jarang memberi kesempatan dua kali."


Ia menghela napas.


"Ayah ikuti keinginan dan cita-cita Reka. Apapun itu. Nggak harus jadi ini, jadi itu. Ayah cuma minta satu hal. Harus yakin, konsekuen, konsisten. Kalau ragu, mendingan mundur dari sekarang."


Ia menelan saliva.


"Sekarang, kalau Reka tetap memilih sekolah di sana. Apa Reka bisa menjamin nggak akan berubah pikiran? Sanggup sekolah di sana selama dua tahun sampai lulus? Bisa melalui setiap hari di sana? Yakin dengan keputusan yang dibuat?"


Ia kembali menelan saliva.


"Ayah beri waktu untuk berpikir. Kalau sudah ada keputusan bisa langsung telepon Ayah." Ayah meraih bahunya dan mereka kembali berjalan beriringan.


"Jam delapan nanti, wali kelas dan orang yayasan akan datang ke rumah."

__ADS_1


"Yah?" Ia menghentikan langkah dan melepaskan diri dari rangkulan ayah.


"Ayah ingin membuat semuanya menjadi jelas."


"Udah jelas. Mau diapain lagi?" Ia tak setuju ayah mengundang miss Angeline ke rumah.


"Kita lihat nanti."


"Jangan aneh-aneh, Yah. Miss Angeline itu wali kelas terbaik."


"Nggak akan diapa-apain." Ayah terkekeh. "Tenang aja."


"Nggak percaya."


"Nggak masalah."


Ia tertawa meski merasa sebal.


Ayah kembali merangkulnya. Kali ini lebih erat. "Harga diri memang penting. Ayah bangga kamu membela nama baik bunda dan mama. Tapi kadang, orang melihatnya sebagai kesombongan."


Ia mengangguk.


"Di manapun kita berada, akan ada orang yang sangat menyukai kita. Berlaku sebaliknya, ada orang yang akan membenci kita meski tanpa alasan. Kamu harus bisa menghadapi kedua-duanya."


Ia kembali mengangguk. Hatinya mulai diliputi kehangatan. Ternyata seperti ini rasanya memiliki ayah. Menyenangkan. Luar biasa menyenangkan.


"Ingat kisah pria dan keledai." Ayah terus saja berbicara. "Anak saja yang naik keledai, orang menganggap anak tak tahu diri. Ayah saja yang naik keledai, orang menganggap tak sayang anak. Ayah dan anak sama-sama naik keledai, orang menganggap menyiksa binatang. Nggak ada satupun yang naik keledai, orang menganggap bo doh karena nggak memanfaatkan fasilitas."


Ayah menepuk bahunya. "Begitulah hidup. Apapun yang kita lakukan, sebaik apapun yang kita usahakan, selalu ada celah bagi orang lain untuk menganggap kita buruk."


Ia mengangguk mendengar ucapan panjang lebar ayah. Sembari berharap perjalanan menuju ke rumah masih panjang. Sebab masih ingin mendengar ayah berbicara panjang lebar. Rasanya sungguh menyenangkan. Sangat menyenangkan.


"Mama bilang, kamu belum punya teman."


Ia tak menjawab.


"Sekali-kali ikut arus nggak apa-apa. Jangan sendirian terus. Bukan untuk ikut-ikutan atau menghilangkan jati diri. Tapi sosialisasi itu penting. Sesekali ajaklah teman sekolah atau klub ke rumah. Nyobain masakan mama yang lezat."


Ia menghela napas.


"Atau jalan ke Mall ramai-ramai." Ayah menoleh. "Udah berapa cewek yang nembak?"


Ia menyeringai lalu tertawa sumbang.


"Kalau ketawa berarti banyak." Ayah mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah jenaka. "Memang kamu itu duplikat Ayah banget. Waktu SMP juga Ayah banyak yang naksir, ngasih surat, kado ...."


"Yah?" Ia menggerutu.


"Lho, nggak percaya?"


"Percaya ... percaya." Ia berusaha melepaskan diri dari rangkulan ayah karena merasa geli.


"Tapi wajah kamu nggak mencerminkan ucapan." Ayah menunjuk wajahnya dengan kening mengerut.


"Terserah." Ia masih tertawa dan berjalan mendahului ayah.


Sayangnya di kejauhan mulai terlihat pagar rumah dinas. Dan sebelum mereka memasuki halaman rumah, ayah kembali berkata.


"Reka, kamu harus tahu, their words don't define who you are, right?"


Ia memandang ayah. Ingin memeluk pria berkaos putih dan celana training hitam yang tengah berdiri di hadapannya sekarang juga. Tapi masih bisa ditahan. Ia hanya mengangguk dan terus mengangguk. Sampai sapaan riang Sasa memulihkan kesadarannya.


"Papa sama mas Reka kok lama banget, sih, kemana aja? Curang ah, Sasa nggak diajak."


Tepat jam 8 pagi miss Angeline dan dua orang pria yang baru kali ini dilihatnya datang ke rumah. Duduk di ruang tamu bersama ayah dan tante Pocut sampai ia terkantuk-kantuk selama menunggu. Pertemuan yang lumayan memakan waktu entah sedang membicarakan apa.


Ketika pamit pulang, miss Angeline menepuk bahunya sembari tersenyum. "Lusa, kita ketemu lagi di sekolah, Reka."


Ia mengangguk.


Sebelum siangnya kembali ke Lembang, ayah sempat berkata. "Ayah tunggu teleponnya. Kapanpun Reka berubah pikiran, langsung pindah sekolah."


Ia menelan saliva. "Di sini aja. Nggak usah pindah."


Dua hari kemudian, ia telah kembali bersekolah. Dengan semangat baru, menjadi Reka yang baru. Seperti yang dinasehatkan ayah tempo hari. Kuncinya keyakinan.


Dan ia terkejut karena tak bisa memasukkan tas ke dalam laci meja.


"Selama lo diskors, banyak yang nyimpen kado di situ, tuh." Tunjuk Javas ke arah lacinya setengah meledek. "Lama-lama bisa bikin fans club, Reka lovers. Hahaha!"


Ia hanya menghela napas sambil meraih satu kotak terluar. Berwarna biru tua tanpa pita. Namun terdapat stiker aesthetic bergambar black marlin di sebelah kanan atas. Dengan tempelan post it warna biru muda di bawahnya.


To : Reka


From : Kejora


Ia langsung memandang bangku nomor dua di baris ketiga. Tempat duduk gadis berwajah cemberut yang bernama Kejora.


Tumben, batinnya sambil menyeringai.


"Dari siapa aja? Member gank ciwi-ciwi nge-hits ada pasti?" Rupanya Javas masih mengikuti gerak-geriknya. "Kalau lo nggak suka, jadiin give away aja buat anak sekelas. Pasti rame."


"Nerr banget." Kane ikut nimbrung. "Atau mau disedekahkan juga boleh. Boleh banget."


Ia hanya tertawa. "Nggak, lah. Biar di sini sampai diambil lagi sama yang ngasih."


Javas dan Kane menggerutu. "Payah, lo."


Dan sebelum miss Lestari, guru matematika mereka masuk ke dalam kelas. Ia masih sempat menyimpan kotak berwarna biru tua ke dalam tas. Sedikit aneh dan cukup menegangkan khawatir terpergok oleh orang lain. Ia cukup penasaran mengapa si wajah cemberut tiba-tiba memberi bingkisan.


"Hai, Reka, welcome back di sekolah." Gadis berjepit rambut kupu-kupu kembali menyapanya di jam istirahat. "Lo mau nemenin gue ke kantin, nggak?"


Ia sempat mengusap tengkuk dengan canggung sebelum menjawab. "Boleh."


Sesekali mengikuti arus. Jangan sendirian terus. Sebab sosialisasi itu penting, batinnya seraya tersenyum mengingat ucapan ayah.


***

__ADS_1


__ADS_2