
"Enough."
Para preman itu terlihat terkejut melihat kedatangan orang itu.
"Pergi sekarang atau, lo gak bakal pernah bisa kabur." Kata orang itu tajam.
Preman itu tentu saja tahu siapa orang didepannya. Seorang laki laki yang mempunyai tubuh jangkung, dan tatapan yang sangat tajam. Beberapa kali mereka mendengar berita tentang laki laki remaja ini yang katanya sangat hebat dalam memimpin gengnya, begitu juga dengan sifat tempramental miliknya yang bisa saja membuat laki laki itu mudah membunuh orang lain.
Tentu saja mereka tidak akan pernah menang melawannya ini meski laki laki ini hanya datang sendiri.
"Maaf, maaf, ka-kami pergi sekarang." Kata preman itu ketakutan kemudian mereka berlari pergi meninggalkan Azella yang diam tidak paham.
"Dasar ceroboh." Ucap laki laki yang menolongnya yang membuat Azella menatap laki laki itu tajam.
"Apa? Mau marah? Mau ngelawan? Dasar keras kepala." Lanjut laki laki itu saat melihat tatapan tajam Azella.
"Maaf udah ngerepotin dan makasih."
Laki laki itu menatap sinis Azella dari atas sampai bawah.
"Ini yang terakhir gue nolongin lo, jangan suka ngerepotin orang terus. Berfikir yang cerdas, hal yang lo lakuin bisa bahayain diri lo." Ucapnya sebelum berjalan duluan keluar dari gang sempit tersebut.
"I-iya. Sekali lagi, thanks Rigel." Jawab Azella langsung menyusul Rigel, takut takut preman yang tadi datang menghampirinya lagi ketika laki laki ini meinggalkannya. Kan tidak lucu.
Azella heran, sebenarnya Rigel jahat atau baik sih? Kenapa laki laki ini diberitakan diluar sana sangat jahat, eh, tidak, maksudnya sangat kejam dan tiada ampun. Tapi kenapa sekarang Rigel mau menolongnya? Sangat susah ditebak. Kadang bisa baik, kadang bisa jahat. Azella tidak mengerti lagi.
"Kakak baik." Panggil seseorang dari sebrang jalan mampu membuat Azella dan Rigel memfokuskan pandangannya kepada dua anak kecil yang tadi dirampok oleh para preman itu.
"Eh, kalian gak apa apa kan?" Tanya Azella berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan anak anak itu.
"Gak apa apa kak, makasih banyak kak udah nolongin Bimo sama adik Bimo." Sahut anak laki laki itu.
Azella hanya memberikan senyum manis, kemudian melirik anak perempuan yang sedari tadi hanya menunduk.
"Hei, cantik, nama kamu siapa?"
"Ki-kia kak." Jawabnya sedikit takut.
"Jangan takut gitu sama kakak, kalian tinggal dimana?"
"Kita tinggal sama nenek, cuma nenek lagi sakit jadi gabisa kerja buat kita." Jawab Bimo.
"Astagaa, kalian tinggal jauh dari sini?"
"Enggak kak, cuma diujung jalan itu." Tunjuk Bimo pada sebuah gang sempit di ujung jalan.
Azella menghela nafasnya prihatin. Saat hendak mengambil dompetnya, Azella baru ingat bahwa dompet dan belanjaannya tadi ditaruh dipinggir jalan dan sekarang itu hilang tanpa sisa.
"Em, kalian ada liat barang tadi disini?" Tanya Azella sambil menunjuk aspal.
"Enggak kak"
"Nih, ambil buat bekel kalian, buat biaya pengobatan nenek. Jangan ngamen atau ngemis, kalian gak pantes ngelakuin itu." Kata Rigel yang sejak tadi diam, sambil mengulurkan beberapa jumlah uang yang berwarna merah yang lumayan tebal.
Azella speechless dengan kelakuan laki laki disampingnya, sungguh diluar dugaan.
"Ih, kakak jangan repot repot, nenek gak pernah ngajarin kami minta minta sama orang asing." Jawabnya polos.
"Terus, kalau ngamen sama ngemis itu diajarin?" Tanyanya dengan nada datar yang membuat kedua anak itu sedikit takut.
Azella menyikut perut berotot milik Rigel.
"Em, gini, kalian ambil aja dulu uang ini, nanti kalau kalian udah besar, udah pada sukses, kalau waktu masih memungkinkan kalian bisa balikin lagi sama kakaknya ini." Kata Azella lembut.
"T-tapi nanti nenek marah." Kata anak gadis kecil itu polos.
"Nenek tahu kalian ngemis sama ngamen?" Tanya Azella.
"Enggak kak."
"Nah, nenek kalian bakal lebih marah, lebih sedih kalau cucunya ngamen sama ngemis gini." Ucap Azella berusaha membujuk anak anak itu.
Akhirnya Bimo menerima uluran uang yang diberikan.
Kedua anak itu tersenyum lebar, terlihat sangat bahagia, duh Azella menjadi ikut terharu.
"Wah, banyak banget kak. Terimakasih kakak. Kalian cocok banget, satunya cantik, satunya ganteng. Dan juga sama - sama baik banget. Semoga kalian bahagia sampai kakek nenek."
Azella speechless saat mendengar ucapan Kia, begitu juga laki laki disampingnya yang sepertinya juga sedikit terkejut.
"Kami pulang dulu ya kak. Sampai ketemu lagi." Ucap Bimo sambil menggandeng tangan adiknya dan berjalan menuju rumah dengan berlompat lompat bahagia.
"Ini." Azella terkaget ketika Rigel memberikan tas dan barang belanjaannya yang tadinya hilang.
"Loh? Kok bisa ada di lo?" Tanyanya bingung sambil mengambil barang miliknya.
"Makanya jangan ceroboh." Ucapnya kemudian masuk kedalam mobilnya.
Azella memegang kepalanya yang seketika pening. Baru teringat bahwa kepalanya tadi terbentur aspal dan cukup membuatnya menjadi memar dan sedikit berdarah.
Azella meringis pelan, kepalanya cukup pusing, belum lagi lengannya memerah karena diseret, dan sekarang baru terasa tubuhnya sakit semua.
"Sakit kan lo? Makanya gausah sok jadi pahlawan."
Azella mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan Rigel.
"Iya, gue salah, gue ceroboh, gue keras kepala. Makasih udah sering ingetin." Kata Azella kesal disamping mobil Rigel. Karena laki laki itu sudah berada didalam mobilnya.
"Lo gak niat pulang?" Tanya Rigel membuka kaca mobilnya untuk melihat gadis itu.
__ADS_1
"Niat. Sekarang gue mau pulang." Kata Azella kemudian berlari kearah mobilnya yang sebenarnya cukup jauh diujung jalan.
Rigel masih memperhatikan gadis itu dengan menggelengkan kepalanya pelan. Satu kata untuk Azella, Gila.
Tadi Rigel bersama teman temannya memang misah saat dipulangnya, Rigel mengantar Cello dan Seven. Sedangkan sisanya ada dimobil Frans. Dan setelah mengantar mereka, Rigel tidak sengaja melihat tiga preman jalanan terlihat menghadapi seorang gadis remaja. Rigel memarkirkan mobilnya jauh dari lokasi dan setelah beberapa saat melihatnya akhirnya Rigel tersadar bahwa itu Azella. Entahlah kenapa diantara ribuan manusia harus gadis itu yang ditangkap keberadaannya oleh Rigel.
Awalnya Rigel berniat bodoamat dan tidak peduli, namun entah kenapa pikiran dan hatinya tidak sejalan, sektika kakinya membawanya kearah preman itu sedang menyeret Azella yang terlihat memberontak. Dan langsung saja melemparkan tendangan mematikan miliknya sehingga preman itu langsung oleng.
Rigel kembali menggelengkan kepalanya heran, Azella dengan percaya diri memakai pakaian seperti itu ingin melawan preman? Hell, sangat ceroboh.
Tinn....
Rigel melirik mobil Azella yang lewat disampingnya, tidak lama kemudian Rigel juga menjalankan mesin mobilnya mengikuti mobil milik Azella. Rigel hanya mengikuti kata hatinya saja.
..._________________...
Azella's Room
08.00
Azella memejamkan matanya lelah hari ini gadis itu tidak masuk sekolah karena lebam dikepalanya, entah bagaimana nanti dia menjelaskan kalau Sienna dan Zia bertanya. Masalahnya lebamnya tidak di satu sisi saja, tapi baru Azella obati semalam ternyata dari unung kanan sampai ujung kiri keningnya terluka dan membiru. Sialan memang.
Setelah mengabari Sienna dan Zia lewat chat bahwa sedang sakit dan tidak bisa sekolah, maka gadis itu lanjut berselancar disosial media miliknya.
Tok..tok..tok..
Azella melirik pelan pintunya yang diketuk dengan tidak manusiawi. Sudah bisa ditebak siapa pelakunya.
"Masuk." Teriaknya keras.
Atlas, kakaknya masuk kedalam kamar Azella sambil melipat tangannya didepan dada.
Laki laki jangkung yang memakai hoodie berwarna maroon ini menatap adiknya dengan datar.
"Bolos?" Tanya Atlas singkat.
"Menurut lo?"
"Lemah." Azella yang sedang melihat ponselnya sontak saja langsung menatap kakaknya sengit.
"Gue dikeroyok, anjir." Kata Azella tidak santai.
"Bego, kenapa lo ga minta tolong?"
"Lo gak tau keadaan gue waktu itu, lo kan cuma mata matain gue doang dari jauh. Mana pernah mau nolongin. Jangan pikir gue gak tahu ya, mobil putih yang sering ngikutin gue itu orang suruhan lo."
Atlas mengangkat alisnya singkat, "Bagus." Responnya.
"Gitu doang?"
"Bangun, sarapan dibawah, lebam cuma dikepala aja, manja banget lo." Kata Atlas kemudian meninggalkan kamar Azella dengan keadaan pemiliknya yang siap melemparkannya dengan bantal. Tidak tahukah kakaknya bahwa sekarang badan Azella pegal semua?
Kakinya masih nyeri mungkin setelah ini Azella harus memanggil salon langganannya kerumah sudah lama dia tidak perawatan, sekalian massage.
Azella melihat kakaknya sudah duduk diruang makan lengkap dengan makanan yang tersaji diatas meja.
Mereka sarapan dengan tenang dan tidak ada percakapan apapun diantara keduanya, kecuali sendok dan garpu yang saling bersahutan.
"Lo ada hubungan apa sama Rigel?" Tanya Atlas tiba tiba yang membuat Azella hampir tersedak jika tidak spontan mengambil air minum.
"Gak ada, gue aja kenal baru."
"Kenapa dia terus nolongin lo?" Tanya Atlas lagi.
"Kok lo mendadak jadi kepo sih? Biasanya juga bodoamat sama urusan gue." Ucap Azella heran.
"Jangan cari masalah sama Rigel."
"Gue gak ada cari masalah"
Atlas menatap Azella tajam.
"Dengerin omongan gue kali ini, kalau bisa lo jangan terlalu deket sama dia, sebelum lo gak bisa menjauh lagi."
"Lo takut juga sama Rigel?"
"Bukan gitu Zell, maksud gue jangan sampai urusan bisnis Papa kacau gara gara kamu. Papa sama orang tuanya Rigel juga temen baik. Dan setau kakak, Rigel bukan tipe orang yang suka cari masalah duluan, jadi ya kalau yang kakak amatin kamu duluan yang cari masalah sama dia." Atlas jika sudah memakai panggilan aku-kamu berarti sudah sangat serius, dan tidak bercanda dengan kata katanya kepada Azella.
"What the ****. Kurang kerjaan banget gue cari masalah sama dia, lo gak tau semua kak, bukan gitu kejadiannya, dia duluan yang ngeselin di sekolah."
"Up to you, kakak udah peringatin ya kamu." Kata Atlas kemudian memijit jidatnya yang terasa pusing memikirkan Azella, kemudian laki laki itu meninggalkan adiknya sendiri.
"Emang kenapa sama Rigel? sekali kali harus ada yang lawan dia, jangan diterusin gitu, nanti jelek masadepannya, kalau masadepannya jelek gak ada yang mau nikah sama dia, kalau gak ada yang mau nikah sama dia kan sayang warisannya nanti." Monolog Azella sendiri, entahlah kacau memang pikirannya semenjak mengenal Rigel.
...________________...
"Babi, gue lagi ngegame malah ditelpon. Bang-"
"Sat" kata Cello melanjutkan ucapan Vixtor yang terpotong entah karena apa.
"Bangsat, gitu kan? Lanjutin ngumpatnya jangan setengah setengah, nanti dosanya juga setengah." Lanjut Cello lagi.
"Eh monyet, itu emak gue yang nelpon bego." Kata Vixtor yang mendapat balasan tawa dari Cello.
"Liat Cell, temen lo, emaknya dikatain bangsat sama bego." Komentar Seven.
Kemudian Cello dan Seven tertawa bersama.
"Bajingan." Umpat Vixtor.
__ADS_1
Saat ini mereka sedang berada dikelas yang kosong karena semua sudah kekantin, sedangkan mereka malah diam dikelas dan seketika malas kemana mana secara bersamaan.
Yuan? Laki laki itu sudah mulai menjadi dirinya sendiri, hanya saja ketika membuka ponselnya raut wajahnya kembali menjadi serius, seperti saat ini. Laki laki itu sedang sibuk dengan ponselnya terlihat chatting dengan seseorang. Entahlah teman temannya tidak mau terlibat terlalu jauh kecuali Yuan sendiri yang bercerita.
Frans, laki laki itu sedang membaca buku tebal, entahlah buku apa yang jelas sempat diintip oleh Cello halamannya sampai 4000 lebih. Gila memang.
Sedangkan Rigel sangat asik dengan dunianya yang selalu dilakukannya, merokok dan mendengarkan musik lewat earphone miliknya.
"Bulan ini, kalian harus temenin gue." Kata Frans tiba tiba yang membuat semua bingung dengan ucapan tidak jelas laki laki itu yang tiba tiba minta ditemani.
"Kemana," tanya Cello sambil mengerutkan alisnya.
"Ke acara sweet seventeen Zia."
"H-ha?" Bingung Seven.
"Mana undangannya?" Tanya Yuan.
"Belum disebar." Sahut Frans santai.
"Emang lo yakin lo diundang?" Tanya Cello sedikit ragu, bukankah Zia sangat menghindari Frans?
"Gak tahu."
"Anjing, babi. Punya aja gue temen sepercaya diri ini." Komentar Vixtor.
Rigel mengerutkan alisnya sebentar dan memperhatikan teman temannya itu. Kemudian tidak lewat lima detik, kembali keekspresi sebelumnya. Datar.
Memang laki laki itu mendengarkan musik, tapi suara dari teman temannya juga bisa didengar karena volume musiknya tidak terlalu kencang.
Rigel kembali melihat teman temannya ketika Rigel merasa diperhatikan.
"Lihat nanti." Katanya singkat, mengerti akan pertanyaan teman temannya tentang sweet seventeen Zia.
..._________________...
Azella menghentakkan kakinya kesal ketika kakaknya mengatakan tidak akan pulang malam ini karena ada kesibukan.
Tentu saja Azella sangat tahu apa maksud kesibukan kakaknya, bukan tentang perusahaan tentu saja, tapi tentang teman temannya di club malam, tentang hobinya balapan mobil.
Ah, kenapa Azella tidak meminta Zia dan Sienna untuk menginap dirumahnya? Sepertinya akan menyenangkan, kemudian gadis itu segera membuka grup chatnya bersama mereka.
Zia bar-bar (03)
^^^AzellaQierra^^^
^^^Guys, kumpul yuk dirumah gue, nginep juga boleh, lagi sepi nih:( ^^^
SiennaRaendra
Heh, lo lagi sakit anjir.
^^^AzellaQierra^^^
^^^Nanti gue ceritain deh yang sebenernya.^^^
ZiaRevertan
JADI LO GAK SAKIT?!
^^^AzellaQierra^^^
^^^Sakit sih, tapi gak.^^^
ZiaRevertan
H-hah?
SiennaRaendra
Gue sih gass, males juga dirumah.
ZiaRevertan
Hayuk, yakali ga. Kita pajamas party aja.
^^^AzellaQierra^^^
^^^(Share loc)^^^
^^^Bilang kalau udah otw ^^^
ZiaRevertan
Oh deket dari rumah gue cuma 25 menit.
SiennaRaendra
Deketan gue anjir, 15 menit.
^^^AzellaQierra^^^
^^^Wkwkwk, gue tunggu.^^^
SiennaRaendra
Okay
ZiaRevertan
__ADS_1
Siip