
Refvino berdiri dengan kaku, matanya terbelalak tidak percaya. Perlu 15 detik sebelum Refvino berjongkok dan menaruh kepala Azella yang tidak sadarkan diri dipanngkuannya.
Kejadian tadi sangat cepat, Refvino bahkan tidak sadar kapan Azella menariknya dan membuatnya terlindungi dari dua peluru yang hampir bersarang dibahunya.
Brakkk....
Refvino melihat pintu yang kembali dibuka dengan paksa. Disana, datang Maxenzie, Atlas, Aksel dan Rigel.
Semua terkejut melihat Azella yang terbaring tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah.
Rigel dengan emosi langsung menendang wajah Refvino dengan keras, sedangkan Refvino yang masih shock langsung ambruk ketanah dengan darah diwajahnya.
Maxenzie yang tidak bisa berfikiran jernih menembak Lowen dengan pistol yang dibawanya, Lowen malah tertawa ketika bahu sebelah kanannya tertancap peluru.
"Rig, bawa Azella kerumah sakit, dia lebih butuh itu." Ujar Aksel ketika Rigel ingin kembali menyerang Refvino.
Rigel melangkah kearah Azella yang terbaring tidak sadarkan diri. Laki-laki itu menggendong Azella dengan bridal style.
Maxenzie menatap Lowen dengan pandangan tajam yang menyiratkan emosi didalamnya. Dendam lama, emosi lama, cerita lama, dan semua hal masalalu yang sudah mati diingatan mereka, sekarang semua kembali hidup lagi ketika dimana kedua pasang mata itu saling menatap dengan tajam.
"Pergi keneraka bajingan." Ujar Maxenzie emosi dan menendang kepala Lowen dengan kakinya.
"Lo berani nyentuh keluarga gue, jangan harap lo bisa hidup dengan tenang."
Bugh!!!
Bugh!!!
Bugh!!!
Maxenzie memukul Lowen berkali-kali, namun laki-laki itu tidak membalas sama sekali pukulan Maxenzie, malah Lowen terkesan pasrah.
"Kill me, tapi lo bakal nyesel setelah tau fakta yang akan gue ungkap." Ujar Lowen diakhiri kekehan khasnya.
Maxenzie menatap laki-laki yang dulunya menjadi sahabat dari istrinya ini dengan tajam. Maxenzie bukan seseorang penyabar. Bahkan Maxenzie termasuk orang yang memiliki tingkat emosi yang tinggi.
"Anjing,"
Bugh!!!
Atlas melempar Refvino yang babak belur disamping Lowen yang juga tidak kalah berbeda dengan kondisi Refvino.
"Mampus kalian." Ucap Atlas emosi.
"Refvino anjing lo, tega lo sama Azella, percuma Altheo punya sahabat kaya lo. Pasti dia nyesel banget pernah minta lo jagain Azella tapi lo malah yang bawa Azella ketitik ini."
"Lo gak punya hati, lo tau Azella gimana, lo tau dia gak salah, kenapa lo gak berusaha lindungi dia, apa segitu enggak berartinya pesan Altheo, dia sahabat lo, dia bilang tolong ikut jagain Azella kalau dia gak ada, tapi apa, ternyata lo sendiri yang buat Altheo mati, lo yang bunuh sahabat lo sendiri Ref."
Refvino menyeka darah yang mengalir didahinya agar tidak mengenai matanya, laki-laki itu tidak memiliki kosa kata untuk menjawab pertanyaan Atlas.
Sejak kecil Refvino diajarkan bahwa Lowen adalah ayahnya yang baik. Dan memang benar Lowen tidak pernah memperlakukannya dengan kasar bahkan sampai main tangan. Refvino disayang dan dimanja. Hingga akhirnya Refvino berjanji akan menuruti semua perintah Lowen.
Puncaknya ketika Refvino tidak diijinkan memakai nama aslinya didepan publik, nama lahirnya adalah El Fanderson atau Ello Vando Fanderson. Ternyata alasannya karena Lowen menjadikannya sebagai alat untuk menghancurkan keluarga Qierra.
Sialnya dulu Refvino menurut dan tidak merasa curiga, tapi, ketika Refvino sengaja dikenalkan secara tidak langsung dengan keluarga Qierra, tepatnya Altheo. Sejak saat itu Lowen menggali informasi dari Refvino dan mulai menyusun rencana.
__ADS_1
Refvino yang semakin dewasa semakin paham dirinya dimanfaatkan untuk hal yang salah menjadi mulai membangkang dan membuat Lowen kesal.
Lowen mulai memperlakukannya dengan kasar dan berubah total menjadi kejam kepadanya. Dan saat kejadian dimana Altheo kecelakaan dan meninggal disanalah Refvino mulai membenci Lowen. Refvino tertekan san menjadi sedikit tempramental dan mudah terpancing emosi.
Lama kelamaan Refvino bersandiwara dihadapan Lowen seolah mengikuti semua rencana yang disiapkan. Tapi sayangnya, Refvino memiliki perasaan kepada Azella, itulah yang membuat Refvino kembali buta, dan akhirnya membuat Azella sampai berada di titik ini, meski Refvino sangat menyesali perbuatan itu lebih dari apapun yang pernah dirasakannya.
Masih ingat dengan kasus Jerry? Tidak lain dan tidak salah itu adalah ulah Refvino atas suruhan Lowen.
Lowen tersenyum miring, laki-laki itu berdiri dengan seringainya. "Meski gue mati hari ini, tapi gue jamin hidup lo bakal kacau-"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Argh!"
Suara teriakan Lowen menggema ketika tulang kakinya dipatahkan oleh Maxenzie.
Atlas mundur beberapa langkah menyaksikan Papanya yang terlihat sangat emosi.
"Bajingan!" Teriak Maxenzie yang kehabisan kesabarannya.
"Seharusnya dulu gue musnahin lo dari dunia!"
"Bunuh gue sekarang, tapi sedetik sebelum itu biar gue ungkap satu fakta." Jawab Lowen dengan tenang, padahal seluruh permukaan wajahnya sudah terciprat darahnya sendiri.
"Bunuh gue Max, asal lo tahu, Altheo meninggal karena gue, sekarang Azella juga akan meninggal karena gue. ADIK GUE PASTI SENENG DISANA!" Ucap Lowen yang terlihat mulai kehilangan kewarasannya.
Melihat Azella tertembak didepan matanya membuatnya benar-benar merasa tidak berguna dan tidak berhak untuk bernafas didunia.
"Bunuh gue, tolong!"
"****!" Umpat Aksel menahan amarahnya manusia macam apa saja yang berdiri didepannya?
Dor!
Maxenzie menembak Lowen lagi dibagian perutnya, Lowen memegangi perutnya dengan tawa yang tidak berhenti keluar dari bibirnya seoalah dia bisa mati dengan puas.
Bugh!
Tidak kalah dengan Papanya Atlas memukuli Refvino yang pasrah dengan membabi buta, tidak bisa dibayangkan bagaimana Refvino ternyata menghancurkan hidup adik-adiknya dengan mudah, dan gilanya Atlas menerima kehadiran Refvino dengan tangan terbuka. Sialan.
Aksel melirik Maxenzie yang menginjak dada Lowen.
"Om cukup, Biar Aksel yang urus sisanya, Azella perlu Om."
Maxenzie menurunkan kakinya kemudian melirik Lowen dengan kebencian, "Jangan dipercepat kematiannya, biarkan dia mati dengan kesakitan." Ucapnya bengis.
"Atlas cukup, kita kerumah sakit sekarang." Ujar Maxenzie melihat Atlas yang telah membuat Refvino setengah sadar, bahkan hampir pingsan.
"Wait Dad."
Atlas mengeluarkan pistolnya kemudian mengarahkannya kepada Refvino. Refvino yang melihat itu hanya tersenyum miris, tidak apa, Refvino samgat ingin mati memang.
__ADS_1
"Bunuh gue Las." Lirihnya.
Atlas sudah memposisikan pistolnya mengarah kekepala Refvino, namun sebelum itu Lowen tertawa yang membuat mereka semua mengalihkan perhatiannya kepada Lowen.
"Hahaha, Maxenzie, anak-anakmu saling bunuh." Ujarnya senang.
Maxenzie mengerutkan alisnya dan menatap Lowen dengan tajam.
"**** off!" Jawab Maxenzie acuh.
"Cepat Atlas." Katanya kemudian ingin melangkah keluar.
"Maxenzie." Panggil Lowen.
Dorr!
Atlas terlihat sedikit bimbang setelah menembak Refvino dibagian perut laki-laki itu. Refvino sedikit terkejut memegang perutnya yang tertancap peluru. Entah kenapa Atlas tidak jadi menembaknya dibagian kepala. Mungkin Atlas ingin Refvino mati seperti Lowen.
Maxenzie melirik Refvino sebentar, anak yang sering bersama dengan anak keduanya itu cukup dekat dengan keluarganya. Tapi Maxenzie yang jarang terlihat dimansion tidak begitu akrab dengan anak itu. Tapi Maxenzie tahu, ketiga anaknya akrab dengan Refvino ini.
"Aksel urus mereka."
"Kau tidak ingin mengurus anakmu Maxenzie? Bahkan disaat dia sekarat dan ingin mati?" Tanya Lowen ambigu padahal perutnya sudah sangat sakit. Bahkan Lowen bisa merasakan sebentar lagi dia benar-benar akan mati.
"Diam bajingan." Jawab Maxenzie acuh dan berjalan keluar.
"REFVINO JUGA ANAK LO MAX, GUE
NUKAR DIA SAMA ALTHEO, JADI ALTHEO BUKAN ANAK KANDUNG LO, ANAK KANDUNG LO YANG SEBENARNYA LAGI SEKARAT DISINI."
Maxenzie menghentikan langkahnya, begitu juga Atlas, dan Aksel yang berhenti dari kegiatannya yang ingin menghubungi anak buah Maxenzie yang lain.
Sebentar, apa tadi katanya?
Maxenzie melangkahkan kakinya masuk kembali, emosinya benar-benar diuji oleh bajingan ini.
Bugh!
Bugh!
Maxenzie menendang Lowen dengan tidak manusiawi, luka diperutnya diinjak sehingga sepatu Maxenzie penuh dengan darah.
"****, apa aja yang lo lakuin sama keluarga gue?" Tanya Maxenzie penuh emosi.
"Gue siap mati Max, gue siap mati setelah hidup lo kacau." Lirih Lowen dengan sisa nafasnya.
Maxenzie menurunkan kakinya dari perut Lowen, kemudian menendang sekali lagi Lowen yang sudah tidak bernyawa. Sepertinya Lowen memang sudah menyusun skenario ini bahkan kematiannya sendiri. Tapi ini sukses membuat pikiran Maxenzie kacau.
"ARGH" Teriaknya.
Maxenzie melirik Refvino yang juga meliriknya dengan sayu.
"Aksel bawa dia kerumah sakit." Ucapnya setelah sekian lama hening.
Sedangkan Atlas menatap tidak percaya atas semua yang telah terjadi. Sialan, kenapa semaesta benar-benar mempermainkan hidupnya.
__ADS_1
"Atlas ayo," Ajak Maxenzie yang membuat Atlas mengangguk dan mengikuti langkah Papanya.