
Mentari pagi mulai menunjukkan wujudnya diatas sana, hari sabtu, dimana seharusnya orang-orang bisa liburan karena sudah memasuki weekend.
Seorang gadis semakin mengeratkan selimutnya diantara dinginnya ac. Dan juga suasana diluar sana yang mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Dan gadis cantik yang melamun sejak jam 2 dini hari tadi itu masih setia dengan posisinya. Meski awalnya gadis itu sempat tertidur dari jam sepuluh. Namun terjaga beberapa kali membuatnya memutuskan untuk tidak tidur semalaman.
Azella, gadis itu diam berbaring diranjangnya menghadap ketelevisi didepannya yang menyala menampilkan film barat. Namun Azella tidak menonton sama sekali. Pikirannya justru melayang jauh.
"Kalo gue minta lo jauhin Rigel, bisa?"
Kata kata dari Atlas masih terngiang ngiang dipikirannya. Entah kenapa Azella merasa sulit untuk melakukannya. Namun jika Azella tidak menolak Azella takut Atlas akan marah lagi padanya.
Tapi sungguh, dirinya tidak sanggup menjauhi laki laki yang padahal bukan siapa siapanya. Ada perasaan janggal yang membuat Azella sesak tidak karuan.
Azella kembali menutup wajahnya dengan tangan. Terus menangis, entah kenapa nasibnya tidak pernah baik.
Azella menatap matahari yang sudah mulai tinggi. Azella tidak memiliki inisiatif untuk beranjak dari tempat tidurnya. Malah Azella memilih kembali berbaring meski perasaannya kacau.
Ting....
Notifikasi dari ponselnya membuat Azella tersadar dirinya tidak ada membuka benda itu dari semalam.
Tangannya yang lemas menggapai ponsel itu dengan malas.
RefvinoElvand
Zell, nanti gue jemput jam 2 ya?
Azella memejamkan matanya yang Azella yakin sudah bengkak karena menangis terus. Tidak ingin kemana mana hari ini, dengan tidak enak Azella mengetikkan beberapa balasan kepada Refvino.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Kak, maaf banget...^^^
^^^Gue lagi gak enak badan:(^^^
^^^Next time aja yaa..^^^
RefvinoElvand
Eh, Beneran?
Atau gue jenguk ke mansion boleh?
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Nggak usah Kak, gue cuma perlu istirahat aja sekarang..^^^
RefvinoElvand
Beneran?
Yaudah next time aja ya..
Get well soon!
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Thanks ^^^
Azella tidak memperhatikan chat yang lain yang banyak masuk diponselnya gadis itu kembali melempar ponselnya asal.
Tok...tok...tok..
"Siapa?" Tanya Azella serak.
"Nona, anda ingin sarapan apa pagi ini? Maaf saya mengganggu."
Azella memijit keningnya yang terasa pusing. Azella melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas.
Sangat terlambat untuk sarapan.
"Nanti saya turun." Teriak Azella supaya maid yang dibelakang pintu dapat mendengarnya.
"Baik nona, saya permisi." Kata terakhir maid tersebut yang didengar oleh Azella.
Ting....
Ting....
Ting....
Azella tidak memperdulikan notifikasi yang masuk kedalam ponselnya. Sudahlah Azella sangat malas dan lelah saat ini.
Tok...tok...tok...
"Siapa?" Tanya Azella lelah.
"Buka Zell."
Azella memejamkan matanya ketika mendengar suara Atlas dibalik pintu.
"Masuk aja, gak dikunci."
Atlas membuka pintu dengan pelan, laki laki jangkung yang memiliki rambut coklat terang dengan aksen sedikit merah diujungnya menatap Azella dengan pandangan penuh Arti.
"Ini cerita lo lagi ngambek sama gue makanya lo nyiksa diri lo sendiri?" Tanya Atlas langsung.
Azella melirik Atlas dan mengusap pipinya yang mulai kembali dibasahi oleh air mata.
"Nggak." Jawabnya lirih.
"Apa? Gak denger gue!" Seru Atlas.
"Gue nggak ngambek, gak marah, gak apa apa." Ucap Azella dengan nada tegas.
"Terus ngapain nangis?"
"Pengen aja." Cicit Azella pelan.
"Bangun, mandi, turun makan."
"Nanti."
"Nanti nanti mulu. Nanti lo sakit yang ada."
"Enggak."
"Ck, serah Zell!" Jengah Atlas.
"Senin nanti gue udah siapin sopir, inget ya jauhin Rigel! Itu peringatan, sekaligus perintah."
Azella berbalik memunggungi Atlas. Gadis itu menangis dalam diam.
"Inget makan." Ucap Atlas sebelum meninggalkan kamar Azella pagi itu.
...________________...
Hari senin pagi, hari dimana orang orang mulai sibuk kembali kepada rutinitas mereka masing masing.
Mentari yang menyembunyikan sinarnya pagi ini memberikan kesempatan kepada rintik hujan untuk menyapa bumi.
Suasana sekolah SMA Antariksa, salah satu yang terkena dampaknya. Para siswa berlarian di halaman mencari kelas masing masing agar tidak kebasahan.
Padahal, jika mau berjalan jauh sedikit, dan mau mengikuti koridor, meski jalannya memutar tapi terlihat lebih baik daripada langsung berlarian menyebrangi lapangan namun tetap saja terkena rintik hujan.
Bukan hanya itu, pagi ini seorang gadis cantik melangkahkan kaki jenjangnya dengan malas dikoridor. Gadis itu tidak berniat hujan hujanan seperti siswa yang lain.
"Zell!!"
Mendengar namanya dipanggil, sontak saja gadis itu berhenti melangkah dan mengeluarkan senyum kecilnya. Memulai pencitraannya.
"Eh, Hai Clar." Sapa Azella ketika melihat Clarine, ketua extra dance.
"Gue denger katanya lo sakit ya?"
"Oh iya astaga, gue gak ada bilang apa apa ya sama Bu Claudia. Gue lupa banget." Ucap Azella terkejut, dia benar benar lupa bahwa dirinya termasuk anggota dance.
"It's okay Zell. Bu Claudia udah tau kok dari wali kelas lo."
"Jadi gimana? Kapan latihan lagi?" Tanya Azella.
"Kamis ini sih, kalau lo udah sembuh dateng aja kelapangan outdoor yang biasa kita pakek latihan."
"Oh iya nanti gue pasti dateng kok." Jawab Azella tidak enak.
"Okay, gue duluan ya. Bye!" Kata Clarine kemudian melangkah lebih dulu.
Azella tersenyum ramah, namun menghilangkannya dengan raut wajah horizontal ketika melihat Clarine sudah jauh dihadapannya. Tidak, bukanya Azella tidak menyukai Clarine hanya saja Azella memang tidak dalam mode mood yang baik.
Azella melangkah kembali dan berbelok di kordor kearah kanan untuk mencari kelasnya.
Berdepatan dengan itu Azella melihat Cello yang tersenyum lebar berjalan berlawanan arah dengannya.
Azella menghela nafas malas, kenapa Cello selalu terlihat ketika moodnya tidak baik? Kan jadinya suasana hatinya semakin memburuk pagi ini.
__ADS_1
"Azella cantikkk!!!." Sapa Cello ceria. Berbading terbalik dengan Azella yang terlihat ingin memakannya saat itu juga.
"Kenapa? Kok gitu banget muka lo waktu natap muka gue? Ada yang aneh?" Tanya Cello sambil bercermin diponselnya.
"Gak."
"Dih, singkat banget, mau jadi kembaran Rigel?"
Azella memandang Cello dengan pandangan datar. "Lo ngapain dari sana? Itu kan kelas IPA, lo kan IPS." Tanya Azella ketika sadar Cello datang dari koridor kelas IPA.
"Hehehe, biasa Zell, gue tadi nyamperin pacar, gebetan, calon pacar, calon gebetan sama—"
"Shut up!!" Peringat Azella yang membuat Cello auto cengengesan.
"Aduh, pagi pagi kenapa muka lo udah bad mood gitu? Perlu gue cariin Rigel, hm?" Tanya Cello sambil menaik turunkan alisnya.
Azella menatap Cello dengan kesal. "Apaan sih, lo ngeselin banget." Ucap Azella yang semakin menatap Cello dengan tajam.
"H-hah?" Cello ternganga tidak paham, dibagian manaya dia salah.
Azella kemudian berjalan melewati Cello tanpa menatap laki laki itu.
Sedangkan Cello merasa Azella sedang tidak mood dan juga aura perempuan itu tidak seperti biasanya. Cello merasa asing sekarang.
"Sebelas duabelas sama Rigel ya ternyata." Gerutu Cello sendiri.
..._________________...
"Kenapa muka lo?" Tanya Seven ketika melihat Cello datang dengan wajah masam.
"Muka gue ngeselin gak sih?" Tanya Cello kepada Seven.
"Banget lah! Sukur kalo lo udah sadar." Jawab Seven sambil tertawa senang.
"Serius bangsat."
"Gue gak bercanda babi."
"Apa nih? Ngapain pagi pagi udah ribut?!" Tanya Vixtor sambil menaruh tasnya diatas meja. Laki laki itu membuka seluruh kancing seragamnya dan menyisir rambutnya yang sedikit basah karena terkena rintikan hujan kebelakang.
"Vix, muka gue ngeselin gak sih?" Tanya Cello lagi.
"Bhahahahaha, banget." Jawab Vixtor.
"Beneran?!"
"Iya ngab, lo ngapain nanya begituan?" Ujar Yuan yang sejak tadi menyimak.
"Frans, muka gue beneran ngeselin?" Tanya Cello tidak puas, dan mengabaikan pertanyaan Yuan.
Frans melirik Cello dari atas kebawah.
"Buset." Komentar Cello melihat gelagat Frans. "Muka gue nyebelin ga?" Tanya Cello lagi
"Iya."
"Anjeng." Sahut Cello jengah.
"Kenapa sih?!" Tanya Seven penasaran.
"Gue heran, setiap ketemu sama Azella gue kena marah mulu, kalo ga dimarahin ya mukanya datar banget." Curhat Cello yang justru membuat mereka semua tertawa.
"Lucu ya," Ucap Cello jengah.
"Azella gak suka sama lo, simple." Sahut Frans.
"Kalo itu sih iya, dia kan sukanya sama Rigel." Ucap Vixtor sambil mencolek bahu Rigel yang sejak tadi fokus kepada ponselnya.
"Ini juga, kenapa lo?" Tanya Seven melihat raut wajah Rigel yang sangat datar.
Rigel mengidikkan bahunya acuh.
"Ampun dah punya temen gajelas semua." Ucap Yuan pada dirinya sendiri.
"Rig, Azella kenapa ya sama gue?" Tanya Cello iseng.
Rigel menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, laki laki itu juga masih menampilkan wajah datarnya.
"Yaelah temen nanya tu dijawab." Ucap Cello.
"Gak tau!" Jawab Rigel singkat terkesan tidak peduli.
Rigel sendiri saja bingung dengan gadis itu, entah kenapa pesannya tidak pernah dibalas, telpon tidak pernah diangkat, ditambah lagi sialnya Rigel belum ada waktu untuk ke mansion gadis itu, karena kemarin Rigel harus belajar tentang saham perusahaan lebih dalam bersama asisten ayahnya.
"Azella udah sekolah anjir, gak usah galau gitu." Ujar Vixtor heran menatap Rigel yang sepertinya sedang emosi.
Sedangkan Rigel menatap Vixtor dengan tajam.
****, tidak mungkin kan gadis itu tidak melihat ponselnya selama seharian punuh? Ini bahkan lebih dari sehari Azella tidak menjawab pesannya. Pasti ada hal lain.
Rigel mendengus kasar dan menyimpan ponselnya.
Sahabatnya hanya saling melirik tidak mengerti apa yang terjadi dengan Rigel, ditambah laki laki itu yang sepertinya tidak mood melakukan apapun, salah satunya menjawab pertanyaan dari siapapun.
...__________________...
Kring......kring....kring.....
Jam istirahat pertama di SMA Anatariksa sedang berlangsung, para siswa dan siswi mulai berhamburan kekantin.
Begitu juga dengan tiga gadis cantik yang sudah duduk anteng dikantin, karena kelas mereka sudah dapat istrirahat lebih dulu daripada kelas yang lain.
"Ini bagus, tapi gak cocok sama kulit gue nih."
"Enggak, coba aja dulu warnain Zi, nanti nyatu kok kalo udah jadi."
"Ih, engga, Zell gue pakek warna ini gimana, cocok ga?" Tanya Zia.
Azella yang saat itu mengaduk bakso ayamnya dengan malas kemudian menoleh kepada ponsel yang ditunjukkan oleh Zia.
"Cocok." Jawabnya kemudian.
"Ih engga, emang iya?"
"Iyaa, Azella aja udah bilang cocok." Jawab Sienna.
Azella menggelengkan kepalanya heran. Zia yang selalu heboh dalam memilih apapun, termasuk warna cat kuku yang sekarang menjadi perdebatannya.
Azella mengalihkan perhatiannya kepada segerombolan laki laki yang baru saja memasuki area kantin.
Tentu saja mereka selalu berhasil menjadi pusat perhatian. Siapa lagi jika buka Rigel dan sahabatnya.
"Uhuk, ganteng banget ya Zi, sampai bengong gitu lho temen kita liatinnya." Ujar Sienna yang membuat Azella langsung mengalihkan perhatiannya.
"Apasih." Sewotnya.
"Yaelah Zell, ngaku aja tadi lo merhatiin Rigel kan?" Tebak Zia yang tepat sasaran.
"Ih gak ya!" Elak Azella.
"Hubungan lo sama Rigel apa sih sebenernya?" Tanya Sienna yang sukses membuat Azella berhenti menggerakkan sendok ditangannya.
"Bukan siapa siapa." Jawabnya. Namun dalam hatinya ada rasa tidak puas dengan jawabannya sendiri.
Sedangkan Zia dan Sienna yang mendengarnya mulai terkikik geli.
"Mana ada Zell, udah pakek aku kamu juga lo." Kekeh Zia.
"Emang bener kok gak ada hubungan apa apa." Jawab Azella jengah.
"Iya, sekarang gak ada, gak tau besok besok kan? Hahahaha." Ujar Sienna.
Azella hanya diam, malas berdebat dengan teman temannya.
"Zell." Bisik Sienna.
Azella hanya menatapnya dengan alis terangkat.
"Rigel merhatiin lo."
Mendengar hal itu membuat Azella menghela nafas lelah. Azella kan harus menghindari Rigel. Itu kan yang diinginkan Atlas. Dan juga Azella tidak mau terus terusan melanggar peraturan Atlas.
Tapi bagaimana bia jika orang terdekatnya disini saja terus mebahas laki laki tersebut.
"Lo kenapa Zell? Kok gak semangat kayak biasanya?" Tanya Zia.
"Iya, lo aneh banget. Kenapa? Masih sakit?" Ujar Sienna membenarkan perkataan Zia.
Azella hanya menghela nafas jengah. "Jangan bahas Rigel lagi ya, gue gak suka sama topiknya. Atau kalau kalian mau bahas berdua aja gapapa." Sahut Azella kemudian.
Zia dan Sienna speechless mendengarnya, tidak menduga Azella ternyata mempermasalahkan hal itu. Biasanya Azella akan biasa saja kan jika membahas hal itu.
"Kenapa? Lo gak nyaman ya?" Tanya Sienna.
Azella hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Udah, gausah bahas dia, lagian gak penting, gimana nih jadinya warna cat kuku gue?" Tanya Zia mengalihkan perhatian.
Benar juga, Rigel tidak terlalu penting untuknya kan?
Lagipula Azella masih bisa bernafas dengan baik jauh sebelum Rigel masuk kedalam hidupnya, begitu juga seharusnya sekarang kan? Laki laki itu tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan Azella.
Oke Azella, mulai detik ini lupakan seseorang yang namanya Rigel Antariksa!!
...___________________...
"Lo suka sama adik gue?"
Rigel melirik laki laki didepannya dengan malas ketika melemparkan pertanyaan itu kepadanya.
"Lebih dari itu." Jawab Rigel tegas.
"Gue gak pernah ngarep punya adik ipar arogan kayak lo! Meski latar belakang lo oke sekalipun!"
"Lo pikir gue seneng punya kakak ipar kayak lo?" Ucap Rigel penuh penekanan dengan tatapan horizontalnya yang tidak pernah berubah.
"Emang adik gue mau sama lo?" Ejek laki laki itu terkekeh pelan diakhir kalimat.
"Gak ada yang bisa nolak gue." Cetus Rigel bangga. Tapi memang kenyataannya begitu sih.
"Tapi Azella belum pernah bilang dia suka sama lo. Dia aja kayaknya gak ngerti sama yang namanya cinta. Lo jangan terlalu berharap." Tekan laki laki itu lagi.
Rigel menatap tajam orang didepannya.
"Lo bisa tanya Azella sendiri, gue selalu ada buat dia, gak kayak lo."
"Cih, denger ya gue—"
"Stop! Jangan berantem gini, kan tadi mau bahas Azella ngab." Ucap Aksel sambil melihat Rigel dan satu orang lagi yang sebenarnya sifatnya tidak jauh beda dengan Rigel, yaitu Atlas.
Aksel sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan tidak penting dari dua orang yang sayangnya penting ini. Sialnya karena dirinya masih ada rapat malam ini, jadi mau tidak mau Aksel harus menghentikan perdebatan tidak bermutu ini. Hari senin memang sangat melelahkan.
"Jadi apa?" Tanya Atlas malas. Tidak mengerti kenapa Aksel mengajaknya bertemu dengan Rigel. Tapi ini bukan pertmuan pertama mereka karena Atlas dan Rigel pernah pertama kali bertemu di rapat rapat penting. Sayangnya Atlas yang paham bagaimana arigan dan kejamnya Rigel didunia bisnis, membuatnya was was jika Rigel dekat dengan adiknya, Azella. Ya mesku tidak bisa ditutupi Rigel ini memang sangat cerdik dan jenius.
"Lo kenal sama El Fanderson?" Tanya Rigel to the point.
Atlas menaikkan alisnya tidak begitu tertarik. "Anaknya Lowen Fanderson kan?"
"Iya. Lo pernah liat dia secara nyata?"
"Kenapa? Belum pernah, kayaknya anaknya anti sosial."
Rigel smirk tipis disudut bibirnya. "Lo salah besar. El Fanderson ada disekitar kita. Tapi dia pakai nama samaran."
"Hubungannya sama Azella apa?" Atlas merasa pembahasan Rigel kemana mana.
"Orang yang nyuruh Jerry nyelakain Azella itu El Fanderson."
"Bangsat!" Umpat Atlas.
"Beneran Las, gue udah ketemu juga sama Jerry." Ucap Aksel membenarkan.
"Tapi siapa yang pakai indentitas palsu?" Tanya Atlas tidak habis pikir. Bahkan Azella tidak pernah berbuat masalah dengan keluarga Fanderson. Jadi bagaimana bisa Azella menjadi target dari El Fanderson?
"Itu masih gue cari tau." Jawab Rigel.
"Kalau semisal dia beneran ada disekitar Azella berarti Azella perlu pengawasan lebih ketat." Ujar Atlas.
"Gue bakal jagain Azella." Ucap Rigel mantap.
"Hm." Balas Atlas sedikit tidak rela jika Azella memiliki orang baru dihidupnya. Aksel saja sudah membuatnya jengah. Sepupunya itu 24 jam menempeli Azella. Tapi Atlas tidak masalah jika itu Aksel karena jelas hungan mereka saudara.
Em, tapi hanya saja Rigel benar benar orang asing yang tidak mungkin menganggap Azella sebagai saudara kan? ****, adik kecilnya sudah tumbuh lebih cepat dari perkiraan Atlas.
"Jadi gimana Las? Lo beneran nyuruh Azella jauhin Rigel waktu itu?" Tanya Aksel.
Rigel menatap Aksel dengan tajam kemudian beralih ke Atlas. "Lo cari masalah sama gue?"
Pantas saja gadis itu tidak membalas pesannya sampai sekarang, dan lagi dikantin tadi Azella bahkan tidak meliriknya sama sekali. Sialan memang Atlas ini.
"Gue iseng aja ngomong gitu, gue gak suka adik gue deket sama bajingan kayak lo." Ucap Atlas melirik Rigel dengan malas.
"Terus gimana? Azella bilang apa?" Tanya Aksel menuntut.
"Dia gak jawab dia lari kekamar. Terus kemarin gue liat nangis mulu." Ucap Atlas jengah sendiri dengan sifat Azella.
Kenapa Azella menjadi manja seperti itu sih? Atau Atlas yang telat sadar bahwa sifat Azella memang manja? Tapi tidak separah itu, apa ada pengaruhnya dengan Rigel? Hell.
Sedangkan Rigel berdecak malas mendengarnya. Andai saja Atlas bukan orang penting dalam hidup Azella, mungkin sekarang sudah tinggal nama.
"Terus gimanaa?" Tanya Aksel lagi.
"Gimana lo bisa yakin El Fanderson beneran ngincer Azella? Kan Azella gak ada buat masalah sama siapa siapa." Tanya Atlas.
"Ini dia, lo inget, katanya dulu bokapnya El ini suka banget sama mama lo. Ini kata bokap gue ya. Tapi mama lo gak tau. Jadinya papanya El nikah sama mamanya El yang sekarang tapi gak berdasarkan suka."
Atlas mengangguk mengerti, Papanya juga sempat menceritakan hal tersebut kepadanya. Tapi sampai sekarang Mamanya belum tahu.
"Lowen Fanderson nikah sama Felis kan?"
"Iya, terus lahir El. Tapi anehnya mereka gak pernah keliatan lagi. Yang keliatan sekarang lebih ke Lowen. Dia tertutup sama kehidupannya. Media aja dibayar." Jawab Aksel.
"Berarti kita harus cari tau siapa El Fanderson diantara kita." Ucap Atlas. "Secara gak langsung ini dendam dari bokapnya juga kan?" Tanya Atlas.
Rigel mengangguk membenarkan.
"Kalian lanjutin ya, gue ada rapat nih, gue duluan ya." Ucap Aksel kemudian meninggalkan kedua manusia arogan itu dalam satu meja.
"Lo beneran tulus sama Azella?" Tanya Atlas sekali lagi setelah melihat Aksel menjauh dari mereka.
Rigel meminum champagne miliknya beberapa kali. "Iya."
"Lindungin dia dari apapun, lo bener gue gak selalu bisa ada dideket dia." Ucap Atlas tanpa memandang Rigel. Laki laki itu masih tidak rela mengatakan hal tersebut.
"Tanpa lo minta."
"Dan lo harus tau, Azella itu anaknya sok kuat, padahal lemah, dimarahin dikit nangis, dikasarin dikit nangis, dibilangin halus aja bisa kebaperan." Atlas tersenyum tipis usai mengatakan hal tersebut.
"Dia manja, tapi itu buat kita semua sayang sama dia." Lanjut Atlas dan kali ini pandangannya mengarah kepada Rigel seutuhnya.
"Termasuk Altheo kan?" Tanya Rigel yang langsung membuat Atlas menghela nafas jengah.
"Azella terpukul banget soal itu." Ujarnya.
"Gue tau, dan lo selalu menutup mata soal itu." Balas Rigel tepat sasaran.
"Kalau itu gue akui bener. Tapi gue juga trauma, gue gak mau hal itu keulang lagi."
"Lo sadar mental Azella jadi korbannya?"
"Sadar. Karena hal itu juga jadi sisi lain gue jarang sama Azella. Gue takut gak bisa mengekspresikan diri gue dengan baik. Gue bukan kakak yang baik Rig. Lo coba jadi pasangan yang baik buat dia."
Rigel menggeleng pelan. "Gue belum mau buru buru. Nanti Azella ngerasa gue terlalu cepet, dianggap gak serius."
"Mana ada, gue yakin dia nangis waktu gue suruh jauhin lo."
Rigel memainkan lidahnya didalam rongga bibirnya. Entah kenapa dirinya ingin tersenyum lebar ketika mendengar Azella menolak menjauhinya bahkan sampai menangis.
"Gue pulang dulu. Next time kalo ada info chat gue lagi. Gue juga bakal cari tau." Ucap Atlas berdiri. "Oh iya, gue gak bakal ngomong apa apa lagi tentang hal ini." Ujar Atlas sebelum melangkah pergi.
Laki laki itu melirik Rigel yang juga menatapnya. Bisa dilihat Rigel tidak mungkin tidak mempertanggungjawabkan ucapannya.
"Kalo lo serius, samperin aja Azella kemansion." Ucapnya kemudian berjalan menjauhi Rigel yang masih duduk anteng ditempatnya.
Rigel menggeleng kecil, sialan, dirinya seperti anak anak yang senang diberikan permen.
Rigel tadi sebenarnya ingin membahas tentang Alteo dengan Atlas, tapi entah kenapa melihat Atlas sendiri ketakutan dengan topik itu membuat Rigel menjadi mengurungkan niatnya. Mungkin yang satu itu Rigel akan atasi sendiri.
Jika tentang Azella yang diincar oleh El Fanderson itu Rigel tidak berani mengambil resiko, bagaimanapun jika banyak yang melindungi Azella justru akan semakin baik.
Rigel berdiri dari duduknya. Mengambil kunci mobilnya dan meletakkan sejumlah uang diatas meja kemudian meninggalkan cafe tersebut.
Laki laki itu masuk kedalam mobilnya dan memandang rintik hujan yang jatuh membasahi kaca bagian depan mobilnya. Rigel belum berniat menjalankan mobilnya. Laki laki itu bersandar dengan tangan kanan yang memainkan stir mobil.
Pikiran Rigel melayang memikirkan apa yang dilakukan Azella malam ini.
Jika diibaratkan, perasaan Rigel sama seperti hujan, rela terjatuh untuk Azella. Dari awalnya yang tidak ada apa apa, hingga perlahan turun gerimis, sampai akhirnya turun dengan deras tanpa bisa Rigel hentikan.
Dan juga diikuti debaran debaran jantung yang berlomba lomba. Bedanya, jika hujan ada kalanya akan berhenti. Tapi perasaan Rigel, tidak akan pernah bisa berhenti.
Rigel tidak perlu payung untuk Azella, karena Rigel akan membawa Azella berlari diatara hujan bersamanya. Tenggelam dan dikelilingi perasaan yang sama.
Astaga, Rigel sudah benar benar gila sekarang. Hanya karena satu gadis yang akhir akhir ini mengisi penuh hatinya. Azella dan hanya Azellanya.
Jangan tanyakan darimana asal perasaan ini. Rigel sendiri juga tidak mengerti, tapi melihat betapa sengajanya takdir membuat mereka bertemu diantara banyaknya kesempatan, membuat Rigel yang awalnya biasa saja menjadi tidak biasa jika berhadapan dengan gadis itu.
Entah kenapa melihat gadis itu yang selalu ceroboh dan kadang memancing emosinya membuat Rigel tergerak untuk ingin selalu melindungi gadis itu. Ya, kira kira singkatnya begitu.
Dimalam ini, disuasana yang cukup dingin ini, dimana hujan datang membasahi bumi. Didalam cakrawala galaksi bima sakti juga disaksikan langit dan bumi.
Rigel mengakui, dirinya sangat mencintai dan merindukan segala hal tentang Azella.
__ADS_1