
Acara berlangsung dengan lancar, hingga saat ini sedang berlangsung acara hiburan. Dimana diatas panggung sudah ada seorang yang bernyanyi yang memang diundang untuk menghibur.
"Haii, yaampun, thank you udah dateng." Ucap Zia menghampiri Rigel dan teman-temannya, tidak lupa disana ada Sienna dan Azella.
"By the way, Rigel sama Azella jadi pusat perhatian malam ini. Gue gak tau apa yang terjadi diantara kalian. Tapi tamu disini banyak yang nanya tentang kalian." Cetus Zia heboh seperti biasanya.
Azella hanya tersenyum kaku menanggapinya. Sedangkan Rigel belum mengalihkan matanya dari Azella.
"Happy birthday Ziaa, yaampun akhirnya lo legal juga." Kata Sienna sambil memeluk singkat Zia.
Sienna saat itu tampil anggun sama seperti Azella menggunakan dress cantik yang pas ditubuhnya.
Zia membalas pelukan hangat Sienna, "Thank you Na, gue seneng banget."
Zia kemudian melepaskan pelukannya dan beralih kepada Azella.
"Happy birthday Zia." Ucap Azella dan memeluk Zia hangat.
"Thank you, gue seneng banget kalian bisa dateng." Ucapnya.
"Lo cantik banget malam ini Zell." Puji Zia melihat penampilan Azella.
Azella tersenyum simpul. "Lo lebih cantik Zi, anggun banget gak kayak biasanya." Diakhiri kekehan pelan.
"Iya bener banget, jarang jarang lo pakai dress anggun gini." Ucap Sienna menyetujui.
Seven mirik Frans yang sejak tadi menatap Zia.
"Kayaknya temen gue mau ngomong sesuatu." Ucap Seven sambil melirik Frans.
Cello kemudian menatap Frans dengan pandangan menggoga. "Ciee, duh gue jadi kebelet pipis, Vix anterin gue." Ucapnya sambil menarik Vixtor menjauh.
Yuan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cello. "Gue mau cari makanan." Ujarnya kemudian pergi dari sana.
"Sayang, temenin aku cari minum yuk." Ajak Seven dan merangkul Sienna menjauh.
Tersisalah Azella, Rigel, Frans dan Zia. Rigel yang biasa saja sedangkan Azella yang canggung. Bingung harus bagaimana.
Seketika Rigel menarik tangan Azella, "Ikut gue." Ucapnya tanpa sadar menggenggam tangan Azella lembut.
Tersisalah Frans dan Zia yang masih tidak mengeluarkan suara sejak tadi.
...______________...
"Mau minum?" Tawar Rigel kepada Azella ketika Rigel mengambil anggur merah di deretan minuman yang disediakan.
"Em, boleh."
"Mau apa? Cocktails atau mocktails?"
"Cocktail." Jawab Azella singkat kemudian tangannya meraih Elderflower Rose Vodka Cocktail.
Dengan tiga tetes lemon juice, dan 1 oz Pink grapefruit juice, ditambah campuran 1/2 oz Elderflower liqueur, 1 oz Hangar rose vodka, 1 oz Sparkling rose, dry. Tidak lupa 1 Thyme sprig or mint, leaf. Minuman yang memang kerap kali menjadi minuman favorite Azella.
"Rigel, thank you soal tadi. Nanti biar gue dijemput sopir aja." Ujar Azella tiba tiba.
Jantung gue kedengeran gak ya dag dig dug nya... Batin Azella bertanya-tanya.
Rigel nenatap Azella sambil mengerutkan alisnya.
"Kenapa? Gue aja yang nganter." Ucapnya tanpa beban. Tanpa tau bahwa jantung Azella hampir meloncat keluar mendengarnya.
Azella menggelengkan kepalanya pelan, "Eh, gak usah, gue udah banyak ngerepotin lo." Katanya sambil sesekali menegak minuman miliknya.
"Gue gak merasa direpotin." Tandas Rigel cepat.
"T-tapi."
"Gak ada tapi tapian Azella." Potong Rigel cepat.
Rigel kembali nenarik tangan Azella lembut mengajaknya naik kelantai atas dari hotel ini menggunakan lift.
Gila! Rigel main tarik-tarik tangan gue aja, gatau apa jantung gue juga ketarik tarik. Teriak Azella dalam hati.
"Kemana?" Tanya Azella bingung.
"Lantai atas."
"Emang boleh?"
Rigel tidak menjawab pertanyaan Azella laki laki itu memencet tombol lift dengan lihai.
Ting........
"Ini ruangan apa Rigel?" Heran Azella.
__ADS_1
"Private room."
Azella speechless, pantas saja sepi.
"Hotel ini 50% sahamnya punya Diego'Group." Ujar Rigel menjawab kebingungan Azella.
Azella menatap sekitar dan mulai berjalan mendahului Rigel, "Gue boleh kesana?" Tanya Azella menunjuk ruangan yang sepertinya rooftop hotel ini.
"Boleh."
Azella langsung melangkahkan kakinya kearah sana.
Cekrek.....
Rigel mengangkat ujung bibirnya singkat melihat bidikan kamera ponselnya.
"Rigel...." Panggil Azella yang membuat laki laki itu melangkahkan kakinya menyusul gadis itu.
"Kenapa?"
"Beautiful view." Jawab Azella kagum melihat pemandangan kota dari lantai atas.
"Lo suka?" Tanya Rigel. Laki laki itu memperhatikan wajah Azella dengan intens. Entah kenapa ada rasa nyaman tersendiri ketika memperhatikan gadis ini dengan sedekat ini.
Azella menganggukkan kepalanya beberapa kali menjawab pertanyaan Rigel, "Suka banget, jarang banget gue pergi ke privat room gini." Kata Azella lirih namun masih didengar dengan baik oleh Rigel.
"Azella, dinner with me?" Tanya Rigel setelah sekian lama hening.
"H-hah? Gimana?" Tanya Azella bingung.
"Have dinner with me. Tonight." Jelas laki laki itu dengan tatapan yang terasa menembus retina mata Azella saking tajam dan intensnya.
**** you Rigel! Tanggung jawab gue mau terjun bebas rasanya. Batin Azella lagi.
Rigel menunjuk sebuah meja yang ditata sangat rapi. Entah kapan laki laki itu menyuruh pelayan menyiapkannga. Tapi entah kenapa berisi taburan bunga mawar dan lilin yang menghiasnya.
Azella menyipitkan matanya merasa ini sedikit berlebihan. "Rigel, tapi menurut gue, ini terlalu berlebihan." Ujarnya sedikit tidak nyaman. Iya, untuk ukuran dinner dirinya dan Rigel yang hanya berstatus teman baru, ini tentu saja sangat berlebihan. Ini seperti dinner untuk pasangan kekasih.
Rigel mengidikkan bahunya acuh. "Kayaknya pelayan disini ngira kita kencan." Jawab Rigel acuh.
"Duduk." Ajak Rigel berjalan terlebih dahulu mendekati meja dinner itu.
Azella merasa tidak bersama Rigel yang biasanya. "Kenapa lo ngelakuin semua ini?" Tanya Azella sambil menduduki kursinya.
Rigel memperhatikan gadis itu lekat, entah kenapa timbul rasa tidak enak ketika melihat respon Azella ketika dirinya mengatakan kalimat terakhirnya. Tapi Rigel harus jujur, diantara cahaya lilin dan lampu perkotaan yang terpantul dari jendela transparan ini, Azella menjadi sangat cantik dan bersinar. Tanpa sadar Rigel memperhatikan Azella sangat lama, dan berkali kali. Membuat laki laki itu memejamkan matanya menghindari pemikirannya yang aneh aneh sejak tadi.
"Azella." Panggil Rigel akhirnya sambil mengangkat minumannya, mengajak Azella bersulang.
Azella hanya mengikuti keinginan laki laki itu.
"Wait. Gue mau foto." Kata Azella kembali semangat.
Rigel heran dengan perubahan mood gadis itu namun laki laki itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Habis dinner kita turun kebawah ya?" Ajak Azella. Sedangkan Rigel hanya mengangguk saja.
Duh, ni cowok kenapa ganteng banget dari deket gini sih! Bikin jantung gue kelabakan aja. Mana harum lagi, kalau dia kentut pasti ketutup sama bau parfumnya. Gerutu Azella dalam hati.
..._____________...
"Kalian kemana aja? Sampai sejam lebih kita nungguin." Tanya Cello langsung ketika melihat Azella dan Rigel berjalan menemui mereka.
Azella hanya diam, bingung harus menjawab apa.
Rigel juga tidak memperdulikan pertanyaan Cello.
"Zia, gue balik duluan ya, masih ada acara habis ini. Happy birthday sekali lagi." Kata seorang laki laki yang tiba tiba datang menghampiri Zia.
Dan, laki laki itu rupanya adalah laki laki yang sama dengan laki laki yang mengobrol dengan Azella tadi.
"It's okay, thanks udah dateng." Jawab Zia.
Seketika laki laki itu melirik sekitar dan melihat Azella.
"Eh, Zella? Mau gue sekalian anter pulang?" Tanya laki laki itu.
"No, she is with me." Jawab Rigel datar entah menapa disini Rigel terlihat tidak suka dengan laki laki ini.
Sedangkan Laki laki itu menatap Rigel sesekali menatap Azella meminta kepastian.
Dan Azella sendiri masih dalam mode speechless karena jawaban Rigel. Akhirnya dengan kaku Azella mengangguk.
"Duluan aja Ref. Hati - hati." Ujar Azella ketika dirinya merasa menjadi pusat perhatian antara teman teman Rigel dan juga Zia dan Sienna yang melihatnya penasaran.
"Okay, see you minggu depan." Kata laki laki itu sebelum meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Lo kenal temen bisnis Papa gue? Siapa lo Zell?" Tanya Sienna kepo. Namun pertanyaannya mewakili pertanyaan mereka semua.
Akhirnya ada yang nanyain. Kata Cello dalam hatinya senang.
"Friend." Kata Azella singkat. Tidak ingin memperpanjang masalah itu.
Cello mengendurkan lagi bahunya ketika mendengar jawaban Azella, tadi awalnya Cello semangat ingin mengetahui siapa laki laki itu, tapi jawaban Azella mematahkan harapannya.
Yuan memperhatikan Cello dengan aneh. "Kenapa lo?" Tanya Yuan.
"Gak apa apa." Jawab Cello malas.
"Kalian mau minum gak?" Tanya Zia. "Gue panggilin pelayan ya, biar dibawain minum kesini." Kata Zia tanpa menunggu jawaban teman temannya, kemudian gadis itu memanggil seorang pelan dan menyuruhnya menyiapkan minum. Tentu saja bukan air putih, teh, atau kopi.
Lima belas menit kemudian, diatas meja sudah tersaji vodka, wine, tequila, whisky, dan lain lain.
Rigel dan teman temannya tentu saja menikmati minuman yang berada disana. Bahkan mata Yuan sudah memerah karena minum terlalu banyak.
Jika ditanya siapa yang paling kuat minum alkohol, jawabannya Rigel dan Cello. Sedangkan yang ada ditingkat tengah Vixtor, Seven dan Frans, namun Yuan, adalah laki laki yang tidak terbiasa meminum alkohol dengan kadar yang tinggi. Laki laki itu bisa langsung pingsan dan muntah.
Azella hanya duduk disamping Rigel yang sudah menanggalkan jassnya meninggalkan kemeja putih miliknya. Azella melihat Sienna yang sedang diganggu oleh Seven, laki laki itu mengacak - acak rambut milik kekasihnya gemas. Entah kenapa kadang mereka sangat mesra kadang juga kelihatan seperti tidak ada hubungan apa - apa. Sedangkan Zia dan Zio sudah pergi sejak tadi untuk menyambut tamu yang lain.
Azella menggelengkan kepalanya menghalau asap rokok Rigel yang sekali duakali menerpa wajahnya. Azella hanya menggelengkan kepalanya melihat Rigel yang sangat kuat meminum alkohol.
"Bosan?" Tanya Rigel.
Azella melihat laki laki itu yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan alkohol.
"Biasa aja." Cetusnya santai.
"Kalau bosen bilang." Pesan Rigel sebelum laki laki itu menarik pinggang Azella hingga tidak menyisakan jarak diantara mereka.
Yatuhan, Rigel kesambet apa sih!
"Banyak yang liatin lo. Pakai jass gue." Kata Rigel perhatian sambil menaruh jassnya diatas pangkuan Azella untuk menutupi paha gadis itu yang terekspos karena potongan bajunya. Rigel sesekali memberi tatapan tajam kepada orang yang melirik Azella nakal. Seolah menunjukkan bahwa Azella adalah miliknya. Entahlah, Rigel sendiri tidak mengerti kenapa melakukan hal itu.
"Gak usah Rig, gue udah biasa." Ucap Azella cepat hendak menyingkirkan jass laki laki itu.
"Pakai, atau gue cium disini."
"Hah?"
"Pakai." Kata Rigel dan tangannya terulur merangkul bahu gadis itu.
Azella merasa sangat tidak nyaman, entah kenapa Rigel sangat bahaya baginya kali ini. Takut takut Rigel terlihat baik baik saja tapi nyatanya mabuk parah.
Azella pelan pelan menurunkan tangan Rigel dari bahunya. Dan sebelum hal itu terlaksana pemilik tangan sudah menatapnya tajam.
"Rigel, ini gak perlu." Cicit Azella pelan.
Rigel melirik sekitar. "Lo gak liat mereka natap lo dengan pandangan mesum?" Tanya Rigel sarkas.
Azella melirik sekitarnya, memang banyak laki laki yang meliriknya nakal, tapi ini bukan kali pertamanya diberikan lirikan seperti itu, dan juga di London, dirinya sudah biasa dengan hal hal begitu.
Malah, Azella tidak nyaman dengan perlakuan Rigel kepadanya.
Rigel mengeluarkan ponselnya mengecek data saham yang Azella tidak mengerti, bukan Azella mengintip tapi saking dekatnya jarak mereka hingga Azella bisa melihat isi dari ponsel laki laki itu.
"Rigel sama Azella makin go public." Ucap Vixtor yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Seketika teman temannya cukup kaget melihat Azella dan Rigel yang duduk berdekatan ditambah Rigel menaruh jass mahalnya diatas paha Azella dan tangan kirinya dengan apik merangkul Azella mesra. Hell. Kiamat sudah dekat? Rigel pertama kali seperti ini, tepatnya seposesif ini kepada yang bahkan bukan miliknya.
Cello ikut memperhatikan mereka dengan intens, padahal yang diperhatikan tidak memperdulikan sedikitpun.
"Apaan go public, emang mereka pacaran?" Tanya Cello. Laki laki itu meminum vodkanya lagi kemudian bertanya, "Kalian ngapain aja ngilang sejam?" Tanya Cello masih penasaran.
"Kalian pacaran?" Tanya Sienna yang ikut penasaran, perempuan itu menatap Azella penuh arti.
Azella menggigit bibir bawahnya, entah kenapa suasana disini semakin membuatnya tidak nyaman. Dan sepertinya hal itu diketahui oleh Rigel. Laki laki itu menatap Azella penuh arti.
"Mau minum?" Tanya Rigel mengabaikan teman temannya.
Azella menatap Sienna dengan pandangan penyesalan yang dimengerti oleh Sienna. Gadis itu mengangguk mengerti keadaan Azella yang tidak nyaman.
"Azella." Panggil Rigel lagi.
"H-hah? Kenapa?"
"Mau minum?" Ulang Rigel kali ini dengan nada tegas.
Azella menggeleng cepat menjawabnya.
"Jangan dipikirin, mereka emang suka gitu." Ucap Rigel tepat ditelinga Azella, yang sukses membuat gadis itu menahan nafasnya.
Buset, gue gak kuat.
__ADS_1