
Anza Night Club
20.00
Suara musik dj menggema ditempat Rigel dan teman - temannya saat ini berkumpul. Club malam, itulah nama tempat yang saat ini didatangi mereka. Bukan hanya teman teman Rigel saja, tapi seluruh anggota Antariksa Gang juga bisa datang kesana.
"Cello udah bangun belom ya?" Celetuk Vixtor tiba - tiba.
"Kebo dia, mungkin nginep disekolah." Sahut Yuan.
Ting..... ting... ting...
"Cello ngechat gue nih." Kata Seven sambil membaca chat dari Cello.
CelloAgrav
BANGSAT, Tega banget lo ga bangunin gue VenðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Gimana kalo gue diculik setan🥲🥲🥲
Mana udah sepi banget lagi. Tega loðŸ˜ðŸ˜
^^^SevenVarran ^^^
^^^Gue gak berani Cell, Rigel gak ngasik ijin buat bangunin lo bhahahaha🤣^^^
CelloAgrav
GAK LAGI GUE NGELUH SAMA RIGEL!!!
ANJING EMANG.
^^^*SevenVarran*** *^^^
^^^Ngapain lo typing gitu di chat gue, sana typing di grup.*^^^
CelloAgrav
GA BERANI, ADA RIGELðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
^^^SevenVarran ^^^
^^^(Share loc)^^^
^^^Sini cefat^^^
CelloAgrav
Asw, gue menderita kalian malah dugem
^^^SevenVarran ^^^
^^^🤣🤣🤣🤣^^^
"Dia udah bangun?" Tanya Yuan.
Seven hanya mengangguk menjawab pertanyaan Yuan. "Dia ngamuk sama gue bahahahha."
"Suruh dia kesini." Suruh Rigel. Laki laki itu sedang menyesap rokoknya ditemani beberapa minuman dimejanya.
Jangan lupakan kedatangan mereka disana sejak awal memang sudah mencuri perhatian. Banyak wanita yang melihat mereka dengan tatapan menggoda, tapi tidak ada yang berani mendekat semeter pun kemeja mereka.
Apalagi Rigel, laki laki itu tidak pernah menatap wanita wanita itu barang sedetikpun.
...______________...
"Azella"
Azella yang sedang memainkan ponselnya dengan santai diatas ranjangnya mendadak mengalihkan pandangannya pada pintu kamarnya.
"Masuk aja, gak dikunci."
Atlas, kakaknya masuk dengan pandangan khas baru bangun tidur.
"Papa sama Mama udah dateng, mereka lagi dibawah dinner, lo disuruh turun." Kata Atlas kemudian pergi begitu saja.
Hati Azella bersorak senang. Sudah lama dirinya menanti kedatangan orangtuanya. Azella sangat merindukan mereka tentu saja.
Azella bergegas bangun dari ranjangnya dan segera turun kebawah.
Disana, dimeja makan Azella melihat orangtuanya duduk bersama sedang makan malam.
"Mama, Papa. Kalian kapan pulang?" Tanya Azella ketika sampai didepan kedua orangtuanya.
"Duduk Azell, makan dulu." Ajak Mamanya.
Azella menurut, mereka makan dengan hening. Azella menghabiskan makannya dengan cepat agar segera bisa segera mengobrol dengan orangtuanya.
"Papa udah selesai. Mau ngerjain kerjaan kantor diatas." Kata Papanya kemudian berdiri dan mengecup kening Azella dan Mamanya sebelum pergi dari meja makan.
Azella menatap Papanya sendu, padahal tadi Azella berharap banyak hal yang akan mereka lakukan bersama. Tapi nyatanya disinipun Papanya tetap bekerja, lalu apa gunanya pulang.
Azella tersenyum miris sambil menghabiskan makanannya yang sisa setengah. Tadinya Azella ingin cepat selesai makan. Tapi sekarang Azella tidak nafsu makan.
"Mama udah selesai?" Tanya Azella ketika melihat piring Mamanya sudah kosong.
"Udah, kenapa?"
"Engga, mungkin Mama mau istirahat." Saran Azella.
"Em, engga dulu, Mama masih ada kerjaan juga, tapi nanti aja, kamu gimana sekolahnya? Mama udah bawain oleh - oleh banyak. Nanti suruh maid bawa kekamar kamu."
"Sekolahnya baik baik aja. Azella punya dua teman baru." Jawabnya senang. "Mama baru sampai?" Tanya Azella kemudian.
"Em enggak, Mama udah sampai tadi pagi disini, tapi tadi ada rapat bentar jadinya kemansion baru sekarang." Jawab Mamanya sambil menatap layar ipadnya serius.
Azella menatap Mamanya miris. Entah kenapa semakin hari mereka semakin berubah.
"Oh yaudah, kayaknya Mama sibuk. Azell kekamar aja ya."
"Iya sayang, selamat malam." Sahut Mamanya tanpa menatap Azella sedikitpun.
"Selamat malam, Mama."
Azella segera berjalan masuk kedalam kamarnya, bahkan dia tidak sengaja menabrak Atlas. Namun Azella abaikan begitu saja. Azella sebenarnya sangat sedih, padahal hal ini sudah sering terjadi, harusnya Azella tidak berekspetasi terlalu tinggi kepada orangtuanya. Mungkin karena Azella pms jadinya semua kena imbas. Emosionalnya sangat tidak stabil.
Ting...
AkselHallizton
Keluar yuk.
AzellaQierra
:")
AkselHallizton
Gue udah tau mereka dateng, tapi gue gak mau ngerusak mood lo.
AzellaQierra
Jemput gue
AkselHallizton
Kan gue masi nginep di mansion lo:)
Azella hanya membaca saja pesan terakhir dari Aksel, kemudian gadis itu pergi bersiap siap. Sepertinya dirinya memang perlu jalan jalan keluar.
Azella bersiap - siap sekitar 45 menit kemudian turun menemui Aksel yang sudah menggunya dimobil.
Azella melangkahkan kaki keruang tamu saat melihat Mamanya duduk disana.
"Maa, Azell mau keluar ya sama Kak Aksel."
Angela, Mamanya meliriknya sebentar dengan senyuman tipis. "Iyaa, hati - hati ya, tadi Aksel juga udah bilang sama Mama." Ucapnya sebelum kembali memperhatikan layar MacBook miliknya.
"Iya Ma." Jawab Azella pendek kemudian segera menemui Aksel.
Azella berjalan kehalaman depan dan melihat Aksel bersandar dimobilnya sambil merokok.
"Yukk." Ajak Azella. Namun entah kenapa ketika Aksel mengalihkan netranya kearah Azella. Laki - laki itu malah tersedak asap rokoknya sendiri.
Uhuk.. uhukk...
"ZELL, lo ngapain pakek baju begituan."
Azella mengerutkan dahinya heran, tumben sekali Aksel mengomentari penampilannya.
"Kenapa? Biasa aja kok." Ucap Azella memperhatikan penampilannya dari atas kebawah.
Biasa saja kan penampilannya? Ck, Aksel saja yang suka berlebihan.
Aksel membuang sisa rokoknya kebawah kemudian menginjaknya. "Zell, ini di Jakarta, astagaaa."
__ADS_1
"Emang siapa yang bilang ini di London?" Tanya Azella kesal.
"Bukan gitu, gimana nanti penilaian orang kalau lo pakek baju begituan bego." Ketus Aksel.
"Ih biarin aja, gue mana pernah ngurusin penilaian orang. Lagian sejak kapan lo sibuk ngurusin opini orang? Lo aja sering ciuman sama cewek depa-"
"Emang keras kepala ya lo. Cepet ganti." Titah Aksel memotong pembicaraan Azella.
"Gak mau." Tolak Azella.
"Azella."
"Udah bagus, gak mau ganti baju, titik."
"Zell."
"Enggak."
"Zell ganti atau.."
"Atau apa?"
"Atau gue yang gantiin."
Bugh..
"HEH, ngomong yang bener." Ketus Azella sambil menedang kaki Aksel.
"Makanya ganti Zell."
"Gak, gue gak mau ya, kalo lo gak mau pergi bareng gue, mending gue pergi sendiri."
"Zell."
"Oke, gue pergi sendiri." Sahut Azella hendak berjalan kearah mobilnya.
Namun baru saja dua langkah, suara Aksel kembali masuk kedalam indera pendengarannya.
"Ck, yaudah masuk." Pasrahnya sambil membukakan Azella pintu.
Azella tersenyum sombong, gadis itu langsung masuk kedalam mobil Aksel dan menyilangkan kakinya. Menatap Aksel dengan angkuh.
"Yaudah, kita makan dimana?" Tanya Aksel memijat keningnya yang terasa pening.
Azella memanyunkan bibirnya kesal. "Kok makan? Kan kita mau ke club."
Sungguh, Aksel bisa mati muda. Bagaimana mungkin membawa Azella ke club dengan pakaian begitu?!
"Gak ya, buat yang satu itu enggak." Tegasnya.
"Kan ada lo."
"Ogah, lo nangis juga gue gak bakal ajak kesana."
"Oh, yaudah, gue sendiri." Ucap Azella hendak membuka pintu mobil Aksel.
"Heh, sumpah ya, jangan bikin gue mati muda Zell, gimana gue mau ngajak lo ke club kalo pakaian lo kayak gitu?!"
"Yakan gue bisa jaga diri."
Rasanya Aksel ingin membenturkan kepalanya kestir mobil miliknya.
"Zell gue tau lo lagi perlu hiburan, tapi mending kita ke cafe aja." Bujuk Aksel.
Azella menatap Aksel dengan sinis, tidak menyetujui dan tidak menolak. Ngambek. Ya Azella sedang dalam mode ngambek.
"Ini jam sembilan Zell, 30 menit aja ya?" Tanya Aksel mengalah.
"Satu jam." Cicit Azella.
"Zell-"
"Dua ja-"
"Oke satu jam." Putus Aksel cepat, kemudian menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju salah satu club dengan perasaan kesal. Sedangkan gadis disebelahnya bersorak senang.
...____________________...
Cello datang dengan muka masam menemui teman temannya yang sudah duduk disebuah meja VVIP di club tersebut.
Dari lantai dua ini mereka bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi dilantai bawah.
Baru saja Cello mendudukkan dirinya. Yuan sudah mendekatkan sebotol Champagne kehadapannya.
Namun Cello hanya menatapnya sekilas.
Cello hanya mendengus malas mendengar pertanyaan Vixtor. Kemudian tatapan laki laki itu beralih menatap Rigel yang juga menatapnya.
"Sumpah Rig, gue gak bakal ngeluh lagi kalo lo ngajakin latihan basket, 24 jam gue siap." Ucapya sambil menatap Rigel memelas.
Rigel meminum Vodka miliknya. "Pacar aja banyakin, ditinggal dikelas sendirian takut." Sindirnya pedas.
"Kan serem Rig, tar kalo ada setannya beneran gimana?"
"Bahahahaha yang ada setan disana takut sama lo." Komentar Seven.
Cello hanya mendengus kesal, jika sudah semua menertawakannya tidak ada cara lain selain mengalah.
"Eh, liat arah jam delapan." Kode Yuan.
Mereka mengalihkan pengelihatannya sesuai arahan Yuan. "Anjir, mantul - mantul." Komentar Vixtor.
"Mantep gak tuh." Tanya Cello yang matanya tidak beralih sedikitpun. Disana, seorang gadis berbaju ketat berwarna gold sedang menari bersama alunan musik dj.
"Mata lo gercep aja." Cetus Seven, sedangkan Yuan tersenyum bangga.
Cello masih menatap gadis itu hingga tidak sengaja matanya menangkap seorang gadis lain menggunakan tanktop hitam dan rok ketat. Awalnya Cello berbinar memandang body wanita itu sebelum matanya melihat wajahnya. Tidak lama Cello mata membola kaget. Sialan, apa dirinya menghayal.
"Azella." Ucapnya yang membuat teman - temannya mengalihkan perhatiannya kepada Cello. Tentu saja Rigel melakukan hal yang sama.
"Hah? Apa? Lo ngomong apa?" Tanya Yuan, suara musik Dj yang kencang membuat Yuan ragu akan pendengarannya.
"AZELLA ITU ANJIR." Teriak Cello heboh setelah memastikan dirinya tidak salah lihat. Untung saja jarak mereka jauh antar meja. Dan juga tidak banyak yang duduk dilantai dua.
"Manaa." Tanya Vixtor tidak kalah heboh.
"ITU, SAMA COWOK." Tunjuk Cello.
Akhirnya mereka semua melihat Azella yang sedang duduk dimeja VVIP juga, dan tidak lupa disana Azella ditemani dengan seorang laki - laki.
"Azella tidak sepolos yang kita kira, Man." Celetuk Seven.
Yuan mengangguk setuju. "Menurut gue karna dia pernah tinggal di London, jadi yagitu pergaulannya."
"Tapi gue salah fokus anjir sama cowok yang disampingnya. Liat, posesif banget itu ngerangkul Azella." Celetuk Vixtor.
"Itu pacarnya?" Tanya Cello.
"Mungkin?" Kata Seven ragu, "Tapi Sienna bilang Azella jomblo." Lanjutnya lagi.
Namun, tanpa mereka sadari, Rigel sejak tadi menatap tajam Azella dan laki laki yang disampingnya. Bahkan tangannya menggenggam gelas vodka miliknya dengan sangat kuat.
Prang....
"Eh mati gue." Kaget Cello.
Seketika mereka semua mengalihkan perhatian kepada Rigel yang memecahkan sebuah gelas. Bahkan Raut wajah laki laki itu tetap datar. Hanya saja matanya tidak pernah teralih dari Azella.
"Rig, lo kenapa?" Tanya Seven terkejut melihat gelas yang pecah ditangan Rigel.
Seketika Cello membulatkan matanya seperti teringat sesuatu. "Rig, lo ditikung." Celetuknya cepat.
Hal itu membuat teman teman Rigel yang lain paham, Rigel sedang emosi ternyata.
"Enggak, lo jangan nyebar gosip dulu, pastiin itu siapa, bisa aja abangnya kan." Cetus Yuan.
"Liat deh, Azella kayak gak nyaman gitu, berkali kali dia berusaha nurunin tangan cowok itu." Ucap Seven memperhatikan.
"Jangan jangan dia digangguin sama orang brengsek lagi." Kata Cello membuat suasana sedikit tegang.
"Kita liar aja dulu dari sini. Nanti kalo gimana baru kita kesana." Saran Seven.
Mereka semua menatap Rigel yang sekarang membuka tiga kancing kemejanya dan mulai menyalakan rokok miliknya. Bahkan Rigel masih tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Azella.
...___________________...
"Ih, Aksel sumpah ya, lo kenapa sih?" Tanya Azella kesal karena Aksel merangkulnya terus. Azella tentu tidak nyaman karena pergerakannya cukup terganggu. Bayangkan Aksel merangkulnya selama 30 menit. Sialan memang.
"Biarin Zell, biar gak ada yang berani gangguin lo." Ucapnya.
"Iya, tapi lepasin dulu kenapa sih." Jengah Azella.
Sungguh, semenjak baru menginjakkan kaki di club ini, Aksel sudah mewati - wanti Azella agar tidak menghilang dari pandangannya. Laki - laki itu juga merangkulnya untuk berjaga jaga jika ada orang brengsek yang mendekati Azella. Nah, Azella mungkin bisa menerima tadi ketika mereka berjalan dilantai bawah. Tapi sekarang mereka sudah aman di VVIP jadi harusnya tidak usah merangkul lagi kan. Sungguh Azella merasa seperti anak kecil.
"Lepas, Aksel." Paksa Azella sambil mencubit lengan Aksel dengan keras.
"Anjing, sakit Zell." Keluh Aksel dan melepaskan rangkulannya.
__ADS_1
"Biarin, gue kesel sama lo." Ketus Azella.
Aksel tidak lagi menghiraukan perkataan Azella. Laki laki itu mulai meminum - minumannya sambil menikmati musik yang tersedia.
Azella juga melakukan hal yang sama, dirinya memang perlu melupakan kejadian itu sejenak, meski tidak mungkin hilang sempurna, tapi setidaknya bisa dilupakan sejenak.
"Zell."
Azella hanya menatap Aksel sambil menaikkan sebelah alisnya bertanya.
"Jangan selalu ngerasa bersalah, please lah."
"Tapi emang gue yang salah. Andai aja gue gak-"
"Zell, udah, tolong jangan nyiksa diri lo sendiri. Percaya deh, semua juga terluka karena kejadian itu." Tutur Aksel.
"Dan dalangnya itu gue."
"Bukan lo. Zell berapa kali gue harus jelasin."
"Terus kalo bukan gue, kenapa orang orang jadi berubah perlakuannya sama gue? Kenapa?"
Aksel terlihat berfikir sebentar sebelum menjawab. "Mungkin karena mereka belum terbiasa Zell." Jawabnya kemudian.
"Itu udah 4 tahun. Apanya yang belum terbiasa? Gue makin menderita iya. Mental gue terganggu jadinya. Gue selalu merasa bersalah tiap malem, gue selalu ngerasa posisi gue salah, apa yang gue lakuin salah. Makin kesini gue makin salah." Kata Azella pelan.
"Gue pengen ngomong sama mereka, tapi mereka ada waktu sama gue aja enggak. Mana pernah, pulang aja kayaknya kalo sempet. Beda banget, beda sama dulu. Gue jadi ngerasa sekarang hampa, gak ada yang peduli sama gue, mereka cuma bahagiain gue dibalik kata 'kerja buat kebutuhan kamu sama kakak kamu' padahal ya, gue gak perlu harta sebanyak itu, gue perlunya mereka dirumah, dengerin gue, sama kayak dulu waktu dia masih ada." Lirih Azella.
"Zell." Tegur Aksel.
"Iya kan, gue jadi mikir harusnya waktu itu gue aja yang ma-"
"Azella." Peringat Aksel dengan suara tegasnya. Pertanda laki laki itu tidak suka dengan perkataan Azella.
"Udah, gak usah dibahas." Tandas Aksel akhirnya ketika melihat mata gadis itu berkaca - kaca.
Azella hanya mengidikkan bahunya lelah.
Azella meninum beberapa kali cocktail miliknya. Aksel juga melakukan hal yang sama, bedanya sekarang dibibir laki laki itu sudah terselip rokok.
"Ngerokok enak ga?" Tanya Azella tiba - tiba.
Aksel menatap Azella tajam. "Gak." Cetusnya, tau pemikiran Azella.
"Gue cobain boleh?"
"Gak, dibakar nanti gue sama Papa lo."
"Papa mana peduli."
"Bego. Papa lo sayang kali Zell sama lo."
"Lo jangan ngehibur gue."
"Ck, bocah keras kepala." Tandas Aksel akhirnya malas berdebat.
"Zell yuk pulang." Kata Aksel ketika melihat kondisi semakin tidak baik, karena sudah larut, apalagi banyak yang mencuri pandang kearah Azella.
"Bentar lagi." Pinta Azella pelan.
"Enggak Zell, liat udah gak kekontrol kondisinya." Kata Aksel memperhatikan sekitar. Aksel berdiri dan menarik tangan Azella dengan paksa. Namun gadis itu tetap keras kepala dan tidak mau berdiri. Aksel mulai kehabisan kesabaran.
"Zell, jangan buat gue marah." Peringat Aksel.
"Bentar lagi, gue males pulang."
"Gak ada bentar - bentaran. Bangun." Cetus Akasel menarik lengan Azella untuk bediri.
Azella hanya menatap Aksel dengan malas. Kemudian ikut berdiri, namun-
Bugh....
Mata Azella membola kaget ketika melihat Aksel yang terjatuh kelantai.
"Oh my, ****, what are you doing?" Tandas Azella marah kepada orang yang memukul Aksel.
Azella segera membantu Aksel berdiri. Jangan lupakan mereka yang saat ini menjadi pusat perhatian.
"Azella, menjauh dari dia." Peringat orang itu menatap tajam Azella yang menolong Aksel.
"Rigel. Lo kenapa sih, dateng dateng langsung emosi." Tandas Azella menghiraukan suruhan Rigel sebelumnya.
"Jangan buat gue ngulang perkataan gue untuk kedua kalinya." Cetus Rigel.
Untungnya karena saham club itu sebagian besar milik Antariksa Grup jadinya ruangan VVIP atas berhasil dikosongkan oleh bodyguard yang berjaga disana. Sehingga tidak ada yang mendengar keributan mereka.
"Rigel di-"
"Lo punya hak apa ngatur Azella?" Tanya Aksel tiba - tiba.
Rigel semakin emosi mendengar pertaan tersebut, nafasnya naik turun, bahkan tangannya mengepal semakin erat. Teman temannya yang lain berusaha menenangkan, namun mereka sadar, jika Rigel sudah emosi, jika kita mendekat seinci saja kearahnya akan langsung menjadi pelampiasannya.
"Zell, ayo pergi." Ajak Aksel sambil melirik sinis Rigel yang masih terdiam.
Azella hanya menghela nafas pasrah. Azella menatap teman - teman Rigel meminta pertolongan, dan teman - teman Rigel menggeleng tidak tau harus bagaimana.
Akhirnya Azella memilih berjalan bersama Aksel untuk pulang, Azella melirik Rigel sejenak, dan jujur melihat Rigel yang begitu marah membuat Azella menjadi sedikit takut.
Bugh.....
Bugh...
Bugh....
"RIGEL STOP!" Teriak Azella ketika Rigel tiba tiba memukul Aksel dari belakang. Dan Aksel yang tidak terima ikut membalas pukulan Rigel. Sayangnya Rigel seperti memakai pelindung besi, tubuhnya tidak goyah sama sekali meski Aksel melawannya.
"STOP!" Teriak Azella sekali lagi, jantung gadis itu berdebar dengan sangat kencang.
"Udah, please udah, gue takut." Lirih Azella.
Akhirnya mereka berhenti dengan Rigel yang berdiri sedangkan Aksel berbaring dilantai.
"Azella." Peringat Rigel ketika Azella hendak membantu Aksel.
"Rigel, dia ini Aksel-"
"Azella udah cukup. Kita pulang sekarang." Kata Aksel dingin.
"Azella, stay here." Ucap Rigel yang sukses membuat Azella bingung. Sebenarnya Azella bisa saja pulang bersama Aksel, tapi bagaimana jika laki - laki ini mengajak Aksel berkelahi lagi.
"Apa hak lo ngatur Azella? Lo siapanya hah?" Tanya Aksel emosi.
"Aksel-"
"Shut the hell up!." Kata Aksel memotong ucapan Azella.
"Lo yang siapanya bangsat." Umpat Rigel kesal.
Aksel menaikan sebelah alisnya, menarik.
"Gue? Of course, gue orang yang deket sama Azella."
Bangsat, gue niat kesini nyari ketenangan malah dapet beginian. Rutuk Azella dalam hati.
"Aksel, udah, ayo pulang." Ajak Azella.
"Azella." Peringat Rigel dengan tegas.
"Man, Azella aja mau pulang sama gue, lo gak usah ganggu, apalagi lo bukan siapa - siapanya." Cetus Aksel tajam.
Aksel menarik tangan Azella dan menyeret gadis itu untuk mengikuti langkahnya.
Aksel mengusap darah yang mengalir dari pelipisnya.
****, sakit juga pukulannya. Batin Aksel kesal.
Bugh...
Bugh....
"****, i don't care about you. Azella is my girl. And don't ever dream of owning her, or I'll take you to hell." Kata Aksel tajam dan penuh emosional sambil memukul Aksel yang berada dibawahnya
****, jantung gue bisa copot. Batin Azella berteriak.
"STOP!!" Teriak Azella kesal.
Kesal karena Aksel dan Rigel sama sama tidak mau mengalah, Aksel yang suka membuat orang kesal dan terpancing emosi, sedangkan Rigel yang emosional tinggi. Apalagi teman teman Rigel yang anteng menonton sejak tadi tanpa ada niatan memisahkan.
"Udah cukup." Lerai Azella lagi.
Rigel menjauh dari Aksel dan mendekat kearah Azella, laki laki itu langsung membuka jaketnya dan memasangkan dibahu Azella.
"Lo masih jauh dibawah gue, lo pacarnya? Tapi Azella gak pernah cerita. Cih." Ledek Aksel.
"Aksel udah, cukup." Ujar Azella, ketika melihat Rigel yang mulai emosi kembali. Azella menahan tangan Rigel yang hendak menghampiri Aksel kembali. Sedangkan Aksel masih menatap Rigel dengan tatapan permusuhan.
"Rigel, gue gak ngerti lo kenapa. Lo tiba tiba mukul abang gue. Dan ya, dia Aksel, Aksel Hallizton my cousin, anaknya kakak Mama gue."
__ADS_1