RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[26 | Harus Bagaimana?]


__ADS_3

Azella menatap pantulan dirinya dicermin, gadis itu sudah lengkap dengan pakaian sekolahnya, ditambah dengan luaran jaket jeans miliknya, karena pagi ini hujan belum juga reda, terhitung dari satu minggu yang lalu dimana Azella yang mulai menjauhi Rigel.


Tapi anehnya, Azella tidak lagi mendapat pesan chat atau telpon lagi dari laki laki itu. Bakan mereka jarang berpapasan disekolah. Harusnya Azella biasa saja, harusnya. Tapi entah kenapa hatinya menjadi bergetar nyeri tidak karuan.


Entahlah, tapi Azella merasa Rigel seperti ikut-ikutan menjauhinya juga. Apa laki laki itu peka Azella menjauhinya? Tapi apa juga yang Azella harapkan. Urusan mereka sudah selesai. Tidak ada lagi hal penting yang mengharuskan mereka bertemu.


Entah kenapa sekarang Azella berharap mereka dipertemukan secara tidak sengaja lagi oleh takdir. Walau dulu Azella menyesal ketika menginjakkan kakinya selalu saja ada Rigel disektiarnya.


Azella menggelengkan kepalanya, hal biasa yang dilakukannya ketika pikirannya sudah kemana mana.


Azella berjalan mengambil tas sekolahnya dan juga mencabut ponselnya yang dicharger. Kemudian turun keruang makan. Disana hanya ada Atlas lengkap dengan makanan yang sudah tersaji diatas meja.


"Kenapa muka lo?" Tanya Atlas melihat Azella yang turun dengan muka malas.


"Kenapa emang?"


"Lo kayak gak ada semangat hidup."


"Emang."


Atlas melirik Azella tajam ketika gadis itu mengeluarkan jawabannya.


"Ngomong yang bener." Peringat Atlas.


Azella mengidikkan bahunya acuh, pikirannya melayang lagi kepada sosok Rigel. Ayolah, ini terlalu sulit untuknya ternyata.


"Lo kenapa sih?! Kemarin kemarin lo manja banget, cengeng, sekarang udah balik lagi kayak dulu, pemarah, sensian." Tukas Atlas kesal.


"Oh." Jawab Azella lagi sambil menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


Atlas menghela nafas jengah.


"Gue berangkat." Ucap Azella tiba tiba yang membuat Atlas melihat sarapan Azella yang hanya dimakan sedikit.


"Abisin dulu Zell."


"Gak."


Jawab Azella singkat kemudian menjauh.


"Emang enak digituin, salah sendiri lahir jadi manusia es." Rutuk Azella kesal.


Gadis itu memasuki mobil pribadinya yang dikendarai oleh sopir, biasalah peraturan Atlas.


"Cepetin dikit ya pak, saya udah mau telat." Ucap Azella melirik jam tangannya.


"Baik nona."


Benar saja, jam delapan kurang 5 menit Azella sudah tiba didepan gerbang SMA Antariksa. Gadis itu berjalan masuk kedalam area sekolah.


Namun Azella seketika berhenti ketika didepan sana ada seseorang yang tidak bisa dipungkiri selalu hinggap dipikirannya.


Rigel Antariksa.


Ini pertama kalinya mereka berpapasan lagi setelah kejadian dikantin, yang kata sahabatnya, Rigel memperhatikannya tapi Azella tidak melirik sedikitpun. Apa laki laki ini berniat balas dendam?


Laki laki jangkung itu berjalan lurus berlawanan arah dengannya. Azella menatap sepatunya kemudian mengeratkan jaket jeans yang dipakainya. Udara diluar masih terasa sangat dingin, angin yang kencang membuat rambut Azella yang terurai bergoyang goyang.


Azella kemudian melangkah kedepan dan sedikit meminggirkan posisinya agar tidak bertabrakan dengan Rigel.


Rigel sendiri terlihat biasa saja, wajahnya tetap datar, aura disekitarnya juga sangat misterius dan mampu menghipnotis orang lain untuk menjadi segan.


Azella tidak melihat kehadiran sahabat Rigel yang lainnya, hanya laki laki itu saja, yang bahkan sekarang berjalan melewatinya tanpa melirik Azella sedikitpun.


****, kenapa seketika perasaan Azella menjadi sesak. Hatinya seperti dicubit.


Padahal bukan siapa siapa, tapi kenapa dampaknya sangat luar biasa?


..._________________...


Rigel berjalan cepat melewati Azella dan segera melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya mengambil charger miliknya yang tertinggal.


Setelah mendapatkan apa yang dicarinya Rigel berjalan berbalik dan kembali melewati langkah kecil Azella. Entah gadis itu yang begitu lambat, atau langkah Rigel yang terlalu lebar dan cepat? Entahlah, tapi Azella hanya bergerak sedikit dari posisi awal mereka berpapasan tadi.


Rigel berbelok di koridor, dan laki laki itu tidak menoleh atau melirik sedikitpun ke arah Azella, meski Rigel bisa lihat justru gadis itu yang diam diam mencuri pandang kepadanya. Hell.


Rigel sebenarnya ingin melihat apakah Azella tahan jika terus berjauhan dan tidak berkomunikasi dengannya. Rigel hanya ingin memastika bahwa Azella juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Tapi, semisal Azella ternyata belum memiliki perasaan apa apa dengannya, Rigel tidak akan berhenti berjuang untuk membuat gadis itu merasakan hal yang sama.


Tapi nyatanya, bisa Rigel lihat wajah tidak semangat dan un mood yang ditunjukkan Azella akhir akhir ini. Jujur saja, Rigel sedikit terhibur dengan itu.


"Kenapa lo smirk gajelas kayak gitu?" Tanya Yuan ketika melihat Rigel yang duduk dibangkunya tapi raut wajahnya seperti menemukan mangsa baru.


"Gak."


"Yaelah, gue demen banget ya nanya, udah tau jawaban lo bakal gak jelas." Cetus Yuan malas.


"Itu lo tau." Ucap Rigel sambil melirik Yuan dari ujung matanya.


"**** man." Umpat Yuan.


"Vix, bagi rokok." Pinta Seven ketika Vixtor mengeluarkan sebungkus rokok.


"Nih. Bayar ya nanti." Vixtor mengulurkan sebatang rokok miliknya.


"Eh sianying, satu batang doang." Ucap Seven jengah karena disuruh membayar.


"Iya satu batang juga belinya pakek duit."


"Ampundah, bodoamat." Cetus Seven menyalakan rokoknya.


"Gue tadi ketemu calon pacar lo Yan." Ucap Cello.


"Hah?" Tanya Yuan tidak mengerti.


"Iya, Helen."


"Oh, enggak, udah gue anggep jadi adek sendiri." Ucap Yuan.


"Dih, abis patah hati Yuan mainnya adek adekan." Celetuk Seven.


"Gue gak patah hati ya, tolong Mas, Pak, Om, kata katanya dijaga." Sergah Yuan.


"Oiya, kapan jadinya bokap lo nikah?" Tanya Seven.


Yuan mengidikkan bahunya. "Lagi sebulan katanya, kan udah disebar ngab undangannya. Jelas jelas disana udah ada tanggalnya."


"Iyaaa, bulan ini kan, tapi gue lupa tanggalnya, babi!" Jelas Seven.


"Kapan ya, gue juga lupa." Ucap Yuan tidak peduli.


"Yaelah, bokap lo kayak gak ada calon lain lagi ya, cobak aja gue jadi anaknya, gue bilangin mah sama bokap gue gausah nikahin lon-"


"Secara gak langsung lo bilang gue bukan anak yang baik, sialan." Sela Yuan cepat memotong pembicaraan Cello.


"Baik, sampai relain cewek lo buat bapak lo." Celetuk Vixtor.


"Bangsat gak gitu." Cetus Yuan cepat.


"Udah anjing-anjing ku, jangan berantem terus." Ucap Seven.


"Lo yang anjing." Balas Cello.


Rigel dan Frans hanya menggelengkan kepala mereka ketika melihat perdebatan bodoh teman temannya.


Ting..


Rigel mengalihkan perhatiannya dari teman temannya kepada ponselnya yang berbunyi.


Xiever


Selamat pagi Tuan Muda.


Berkas yang anda minta sudah saya kirim ke email anda.


Saat ini Tuan dan Nyonya Qierra berada di Rome, mereka akan menghadiri rapat wajib perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor.


Begitu juga dengan Tuan Besar Diego malam ini akan berangkat ke Rome.

__ADS_1


Rigel tersenyum tipis. Mari kita mulai.


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Persiapkan keberangkatan saya ke Rome.^^^


Kemudian Rigel beralih kesalah satu nama.


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Dad, Rigel yang gantiin Daddy rapat di Rome.^^^


Daddy.


Y thx.


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Gak usah sok singkat sama Rigel.^^^


Daddy.


Y.


Rigel hanya menghela nafas jengah, kenapa Daddynya sangat menyebalkan sekali?!


...________________...


Ting....


RefvinoElvand


Zell, gue dibawah.


Azella yang baru saja bangun dari tidur siangnya terkejut ketika mendapati pesan dari Refvino.


Tanpa menunggu lama, Azella langsung berlari turun dan menemui laki laki itu.


"Kenapa Kak?" Tanya Azella melihat Refvino yang duduk diruang tamunya.


Refvino menaikkan pandangannya dari ponselnya kearah Azella.


"Lo baru bangun ya? Duh, kayaknya gue ganggu nih." Ucap laki laki itu tidak enak.


Azella memperhatikan dirinya dari atas ke bawah, benar saja penampilannya berantakan sekali.


"Aduh, gue langsung kebawah tadi pas baca chat lo." Ucapnya malu.


"It's okay. Gue suka yang apa adanya." Tukas Refvino tersenyum penuh arti. Namun sepertinya Azella tidak begitu peduli dengan kata kata itu.


Azella kemudian duduk didepan Refvino setelah menyuruh maid mengambilkan minuman dan camilan untuk mereka.


"Lo udah sehat?" Tanya Refvino perhatian.


Azella mengangguk.


"Lo kenapa jadi canggung gitu sih sama gue? Dulu lo gak kayak gini lho Zell." Ucap Refvino diakhiri kekehan pelan.


"Aduh Kak, itu udah lama banget tahu."


"Iya makanya, sekarang usahain balik lagi kayak dulu." Ucap Refvino friendly.


Azella mencoba mengangguk mengerti. "Lo gak jadi balik ke London ni?"


"Jadi. Mungkin bulan depan."


Azella kembali mengangguk. Entahlah, bingung hendak memulai percakapan apalagi.


Refvino melirik jam tangannya sebentar. "Em, mau keluar gak?"


Azella yang sedang menyesap tehnya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore.


"Boleh! Tapi gue mandi dulu ya." Serunya sedikit semangat. Azella memang perlu keluar untuk menghilangkan pikirannya yang semakin hari semakin overthinking.


"Iya santai aja."


Azella berdiri kemudian berlari kekamarnya meninggalkan Refvino yang tersenyum tipis.


"Yuk." Ajak Azella.


"Udah? Gak pamit dulu?" Tanya Refvino.


"Menurut lo, sama siapa gue perlu pamitan dimansion segede ini?" Tanya Azella sarkastis mengingat tidak ada keluarganya yang dirumah kecuali para maid dan bodyguard yang berserakan.


Refvino tertawa kencang. "Yaudah ayo."


"Mau kemana?" Tanya Azella basa basi sambil memasang seatbelt miliknya.


"Rahasia." Jawab Refvino singkat.


"Terserah." Balas Azella malas.


Ternyata setelah sepuluh menit perjalanan Refvino mengajak Azella kesalah satu cafe bintang lima ditengah tengah gedung tinggi ibu kota.


"Lo ngajak gue ke cafe doang?" Tanya Azella sedikit kesal, gabut sekali hidup laki laki didepannya ini.


"Lo mau kemana emang?" Tanya Refvino ketika dirinya baru selesai memesan menu makanan. "Gue gak tau banyak tempat bagus di Jakarta." Lanjut Refvino lagi.


"Club?"


"Ogah."


"Dih, sok sok an gak mau, dulu di London kehidupan lo bebas banget ya!"


"Dulu, sekarang gue mau berubah, ngejar apa yang seharusnya gue kejar, bukan cuma buang buang waktu buat hal yang gak penting."


Azella mengidikkan bahunya tidak peduli ketika mendengar jawaban Refvino.


Sedangkan laki laki didepannya tersenyum penuh arti.


"Azella, lo udah punya pacar? Lo banyak banget berubah setelah lama kita gak komunikasi."


"Hah? Gue deket sama cowok aja enggak, gimana pacaran. Lagian ya lo sendiri yang lost contact."


Membahas pacaran Azella jadi teringat Rigel, laki laki itu sebenarnya memiliki sedikit tempat istimewa dihatinya. Tapi Azella masih takut untuk menaruh hatinya seutuhnya kepada Rigel.


"Zell!"


Panggilan Refvino membuat Azella mengalihkan pikirannya dari Rigel.


"Kenapa?"


"Lo gak deket sama Rigel? Gue liat di birthday party waktuni kan dia sama lo."


Azella mengedipkan matanya beberapa kali bingung menjawab apa.


"Lo kok tau Rigel?" Azella mengerutkan alisnya bingung, seterkenal apa memangnya keluarga Diego disini?


"Lo yang hidup di goa nih, Rigel kan anaknya Diego, nah dia salah satu konglomerat yang hidupnya udah terjamin aman damai sampai 10 keturunan pun, bahkan perusahannya bukan cuma di jakarta, tapi nyebar ke daerah asia sampai eropa."


"Oh." Azella mengangguk mengerti.


"Sialan! Percuma gue jelasin."


"Harta gak dibawa mati."


"Iya Zell, lo tobat ya sekarang, berhenti belanja baju, make up, sama skin care gimana? Kan gak dibawa mati."


"Skip, gak dulu."


"Tuhkan lo aja gak mau digituin."


"Terserah gue, kan uang Papa gue."


Refvino memutar bola matanya malas, dirinya tidak akan menang jika berdebat dengan wanita.


"Terus gimana?" Tanyanya kemudian.


"Apanya gimana?" Bingung Azella.

__ADS_1


"Lo sama Rigel gimana?" Gemas Refvino.


"Em, temen biasa aja." Jawabnya akhirnya.


"Beneran?"


"Iya bener, kenapa emangnya?"


"Gapapa."


"Ish."


"Abis ini mau kemana?"


"Kemana aja."


"Lo kayak gak punya semangat hidup tau gak."


"Emang."


"Kalo gue jadi penyemangat lo, boleh?" Tanya Refvino pelan.


"Gak, idup lo aja burem."


"Sialan."


"Fakta."


..._______________...


"Jam berapa rapatnya Xiever?" Tanya Rigel kepada Xiever.


Laki laki itu baru saja mendarat di Rome satu jam yang lalu.


Rigel melirik jam tangan mahal miliknya melihat pukul 20.53 waktu Rome. Berarti di Indonesia pukul 01.53 WIB.


"30 menit lagi Tuan. Tapi Tuan bisa langsung naik keatas, keruangan rapat yang memang telah disiapkan sejak satu jam yang lalu."


Rigel mengangguk paham.


Saat ini Rigel sedang berada direstoran mewah atas nama keluarga Qierra, yang dimana dilantai empat gedung ini akan dilaksanakan rapat.


"Tuan muda, Tuan Qierra sudah masuk kedalam ruang meeting, pukul 21.05"


Rigel tersenyum tipis, "Ayo, kita naik sekarang."


Rigel berdiri dari duduknya dan melangkah mendahului Xiever yang setia mengikutinya.


Rigel masuk dengan angkuh keruang meeting, dan matanya menyorot dengan horizontal apa yang ada disekitarnya. Aura yang dimilikinya memang tidak main main.


Rigel duduk disebuah kursi yang melingkar yang didepannya sudah berisi nama besar pemimpin perusahaan masing masing. Bisa Rigel lihat hampir semua petinggi perusahaan atau Direktur Utamanya yang hadir, sudah mulai menempati tempat masing masing.


Rigel hitung malam ini sekitar 25 perusahaan besar hadir malam ini.


Rigel melirik sekilas Xiever yang berdiri dibelakangnya, sama seperti asisten atau sekretaris Direktur Utama lainnya yang hadir pada malam hari ini.


Rigel sedikit melirik laki laki paruh baya disampingnya. Laki laki itu terlihat melihat tabnya sebelum menutupnya dengan raut wajah yang santai. Rigel mengalihkan perhatiannya ketika laki laki paruh baya itu menatapnya.


"Selamat malam, em sorry, anda anaknya Diego?" Tanya seseorang membuat Rigel tersenyum tipis.


"Selamat malam, Mr. Qierra. Senang bertemu dengan anda."


...________________...


RefvinoElvand


Zell jangan lupa janji lo ya.


Azella terkikik pelan membaca pesan dari Refvino.


Kemarin mereka pulang pukul sebelas malam, disambut tatapan tajam Atlas tentu saja. Tapi Azella tau pasti Atlas juga memantau mereka lewat bodyguard yang tidak terlihat.


Azella ingat dia memiliki janji untuk mengajak Refvino berkeliling Ibu Kota nantinya. Karena seperti yang kalian tahu Refvino itu tinggal di London, dan sangat jarang ke Jakarta, jadi Azella iseng saja menawarkannya hal itu ketika Refvino terus terusan mentraktirnya waktu keluar kemarin.


Dan juga Refvino itu sangat menyenangkan dan asik diajak sharing. Jadi Azella tidak bosan. Apalagi laki laki itu benar benar membuatnya kembali seperti dulu, tidak canggung lagi. Seperti semasih ada dia yang membuat mereka menjadi saling kenal.


Azella mengetikkan balasan kepada Refvino.


^^^AzellaQierra ^^^


^^^Iyaa, nanti kalo gue ada waktu, gue chat.^^^


Azella hendak menaruh ponselnya. Namun terhenti ketika mendapat notivikasi dari Papanya.


Papaa


Papa punya calon pacar buat kamu.


Azella membelalakkan matanya kaget.


"Apalagi ini astaga?!" Ucapnya Heboh.


Papanya jarang sekali mengiriminya pesan. Lebih sering Mamanya, tapi Papanya sekali mengiriminya pesan hal itu sukses membuat jantung Azella berdegup lebih cepat.


^^^AzellaQierra ^^^


^^^Papa!!^^^


^^^Jangan bercanda, Azella gak suka dijodohin!!^^^


Papaa


Yang bilang mau jodohin kamu siapa?


Papa mau kamu berteman dulu, siapa tau kamu suka.


^^^AzellaQierra ^^^


^^^No.^^^


Papaa


Oke nanti Papa kenalin.


^^^AzellaQierra ^^^


^^^😒😒^^^


Papaa


Love u too.


Azella melempar ponselnya asal. Kenapa masalah selalu datang tidak henti hentinya kepadanya.


Azella merindukan Rigel. Perhatiannya, kata kata manisnya, eh, tidak ada kata kata manis, hanya saya kata katanya mampu membuat Azella baper.


Azella memejamkan matanya berusaha menghapus memori tentang Rigel dipikirannya. Tapi nyatanya bayangan laki laki itu semakin berakar, susah dicabut.


Azella menggaruk kepalanya kesal.


"Gue harus gimana dong..." lirihnya.


"Atlas jahat banget, Papa juga ngeselin. Hidup gue kenapa sih?!"


"Rigel juga ngapain sih isi menghindar segala dari gue. Kan makin dikit kesempatan gue buat liat dia dari jauh. Ya meski gue harus jauhin dia juga endingnya."


Azella mengambil sebuah boneka beruang putih yang disimpannya dimeja nakas disamping ranjangnya.


"Al, lo tahu ga sih?! Oh iya, lo pasti tahu semua ya. Gue sedih banget, gue malah semakin ngerasa sendiri. Aneh banget ya. Padahal gue punya banyak orang yang bisa gue ajak cerita. Tapi gue malu, gue takut, gue tertekan, sakit banget disini Al." Ucap Azella sambil menyentuh dadanya yang terasa nyeri.


"Lo jangan gitu dong, apa maksudnya lo juga ngerasain apa yang gue rasain Al? Jantung lo tiba tiba ngebuat gue sakit." Lirih Azella.


"Tuh kan, lo makin kenceng detaknya. Kenapa sih Al?" Tanya Azella kesal sambil menggoyangkan boneka beruang yang dipegangnya.


"Bego banget gue, lo pasti gak bisa jawab. Gue mau protes aja deh, dengerin ya, lo ngapain sih detak kenceng banget kalo ada Rigel? Kan gue jadi salah tingkah mulu. Lo tau juga kan Atlas gak suka sama dia, buktinya dia suruh gue jauhin Rigel. Lo tuh berdetak buat orang yang salah tau gak." Azella memeluk boneka beruang itu dengan erat. Matanya sedikit berkaca kaca.


"Soalnya Atlas gak restuin, jadi orang yang lo pilihin jadi pasangan gue itu salah, Al."


Azella menghela nafas jengah.

__ADS_1


"Al gue harus gimana?"


__ADS_2