RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[08 | Mencari Masalah]


__ADS_3

Deru nafas tidak beraturan berasal dari seorang pemuda yang sedang berada diruangan gym pribadi miliknya.


Laki laki tanpa atasan itu hanya menggunakan celana olahraga pendek miliknya.


Titt...tit....


Suara alarm ponselnya yang nyaring membuat laki laki itu menghentikan aktifitasnya.


Pukul 06.00


Laki laki itu berjalan mengambil sebuah handuk kecil yang sudah sebelumnya. Melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Rigel, kok kamu belum siap?" Kata Mommynya disaat melihat Rigel baru saja keluar dari dalam ruangan gym. Mommynya sudah menggunakan dress terusan panjang sampai dibawah lutut, ditambah blazer tebal dibahunya. Tidak lupa dengan flat shoes miliknya.


"Sekarang Mom."


"Oke cepet, Mommynya tunggu didepan ya."


"Heem" Jawab Rigel, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


..._______________...


"Buah manggis buah kedondong." Kata Cello, laki laki itu memberhentikan kalimat pantunnya untuk melihat reaksi gadis yang digodanya diparkiran mall.


Ternyata gadis itu mesem mesem sendiri, ah Cello jadi tidak sabar untuk menjadikannya teman kencan.


"Hai manis, kenalan dong." Lanjutnya kemudian setelah menatap gadis itu dengan mengangkat alisnya menggoda.


Gadis itu terlihat malu malu, kemudian berlari menyusul teman temannya yang sudah lebih dulu.


"Yah kabur." Ucap Cello lebay.


"Baru juga sampai lo udah asal samber anak orang aja." Komentar Vixtor melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Lo kayak gak tahu Cello aja, mana tahan lihat yang bening." Ucap Seven kamudian berjalan meninggalkan temannya lebih dulu.


Sekedar informasi mereka memang datang menggunakan satu mobil yang tentu saja disponsori oleh Frans.


Daddynya adalah pemilik sorum mobil terkenal yang sudah dipercayai memiliki koleksi mobil dengan kualitas yang baik dan tidak lupa dengan harga yang sangat melambung tinggi.


"Cepetan, sebelum kepala kalian jadi koleksi bola basketnya Rigel." Kata Seven setengah berteriak karena jaraknya yang sudah sedikit jauh. Untung saja parkiran saat itu sepi, karena mereka parkir di area VVIP. Dan untungnya lagi Mall itu adalah salah satu cabang Mall yang dimiliki oleh keluarga Rigel.


Mereka berjalan mengikuti Seven yang terlihat menuju salah satu ruko perlengkapan wanita.


"Lo ngapain kesini anjir?" Tanya Yuan karena benar saja Seven berhenti didepan ruko itu dan langsung menjadi pusat perhatian para wanita yang berbelanja disana.


"Gue gatau, Rigel bilang suruh nunggu disini." Jawabnya sambil membaca pesan Rigel.


"Lo salah baca kali nyet, malu anjir diliatin emak emak." Kata Vixtor.


"Kaga, udah bener disini."


"Kok perasaan gue gak enak ya." Kata Cello aneh karena tidak biasanya Rigel mengajak bertemu ditempat seperti ini.


"Hai anak anak." Sapa seseorang yang langsung membuat kelima laki laki itu menoleh.


"Eh, ada tante." Jawab Yuan ramah.


Mereka melirik Rigel yang asik memainkan ponselnya disamping Mommynya. Sepertinya ucapan Cello tentang perasaannya yang tidak enak benar. Karena sepertinya mereka akan disuruh untuk-


"Hari ini temenin tante belanja ya, gak tahu ini ngidam pengen dianter kalian belanja. Beli perlengkapan bayi sama beli beberapa baju hamil buat tante ya."


Nah, tamatlah sudah.


"Oh boleh tante, kita temenin sampai puas." Ucap Cello cengengesan tidak jelas yang langsung diikuti anggukan yang lain.


"Yaudah, yuk masuk kesini dulu, Tante mau beli beberapa baju." Kata wanita itu langsung masuk kedalam ruko pakaian wanita dengan merk ternama.


"Busett, emak gue aja gapernah gue temenin belanja." Bisik Vixtor agar Rigel tidak dapat mendengarnya.


"Gini nih, definisi hidup mati sama aja." Balas Cello dengan berbisik juga.


"Kalian," Panggil Rigel disaat teman temannya masih diam ditempat.


"Eh, sekarang kita masuk." Jawab Seven langsung melangkah mengikuti Mommynya Rigel dan tentu saja diikuti oleh yang lainnya.


"Ini pegang Cello." Suruh Mommynya Rigel kepada Cello, sambil memberikan sebuah tas belanja.


Cello mengambilnya dengan senyum simpulnya. Sedangkan temannya yang lain sibuk menahan tawanya.


Sekitar 30 menit mereka menemani Mommynya Rigel mengelilingi area tersebut. Terlihat Cello, Yuan, dan Seven sudah membawa tiga tas belanja yang isinya sudah full dengan belanjaan wanita itu.


"Yan, itu Licia bukan?" Tanya Frans tiba tiba ketika melihat mantan dari sahabatnya yang keberadaannya ditangkap oleh indera pengelihatannya.


Semua temannya otomatis menatap kearah yang sama, termasuk Rigel.

__ADS_1


"Heem" Jawab Yuan singkat.


Melihat wajah tidak bersahabat dari Yuan teman temannya juga tidak ingin memperburuk keadaan segera mengalihkan perhatian mereka.


"Buset, banyak banget ini belanjaannya, jalan cepetan, mau gue taruh dimeja kasir." Ucap Seven kemudian mendahului mereka.


"Eh, Yuan?"


Naasnya, sepintar apapun kita mencoba menghindari seseorang, ketika Tuhan tidak mengijinkannya maka tidak akan terjadi.


Licia, gadis itu memanggil Yuan terlebih dahulu, entah bagaimana, seperti memiliki ikatan batin, Yuan hanya tersenyum tipis, berbeda dari biasanya, laki laki itu seperti kehilangan arah, mengambang.


"Lagi sama siapa?" Tanya Licia lagi.


"Lo bisa lihat sendiri gue sama siapa, jadi pertanyaan lo udah kejawab." Kata Yuan sambil melirik teman temannya.


Gadis itu tersenyum simpul. Menatap Yuan sama seperti dulu, tidak pernah berubah. Entah apa permasalahan diantara dua insan ini hingga memutuskan hubungan mereka.


"Yan, we need to talk."


"Kayaknya gak ada yang perlu dibicarain lagi."


"Please, ini yang terakhir, gue janji." Kata Licia memohon.


Teman temannya yang lain akhirnya meninggalkan mereka karena peka terhadap situasi. Lagipula mereka harus mengikuti Mommynya Rigel sebelum wanita itu curiga.


"Gue yakin nih, pasti ada something diantara mereka." Kata Seven langsung setelah berjalan meninggalkan Yuan dan Licia.


"Hadeh, nguping jangan ya? Jiwa jiwa kepo gue keluar nih." Sahut Cello.


"Jangan, itu masalah mereka, kalian jangan ikut campur tanpa diminta." Ucap Rigel tegas yang sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka saat itu.


________________


Tiga jam, menemani wanita hamil berbelanja ternyata cukup membuat lapar, pusing dan sedikit mual, ya itulah yang dirasakan Rigel dan teman temannya.


Entah darimana Mommynya mendapat tenaga untuk berjalan selama itu, Rigel bahkan sudah mewanti wanti Mommynya itu untuk berhenti, namun sayangnya tidak pernah digubris oleh Mommynya.


Untungnya ketika melihat restoran pizza, Mommynya berkata lapar dan mengidam pizza.


Jadi disinilah mereka sekarang. Duduk disalah satu restoran pizza ternama dan dihadapan mereka sudah disajikan berbagai jenis menu terenak yang berada di restoran tersebut.


Mereka duduk disana sekitar 1 jam lebih, dan Mommynya Rigel sudah pamit duluan, karena Daddynya Rigel juga sudah menghubungi istrinya itu berkali kali.


"Kepala gue pusing, perut gue mual, badan gue pegel." Keluh Cello. Laki laki itu bersandar dikursi dengan keadaan yang benar benar terkulai lemas.


"Lo tidur, kita tinggal." Peringat Seven ketika melihat mata Cello yang mulai sayu dan akan menuju kealam mimpi jika tidak diberikan peringatan.


"Tega, gue ngantuk banget sumpah."


"Biasanya kuat semaleman, sekarang gini doang lemah." Kata Vixtor.


"Diem, gue gak pernah tahu kalau cewek belanja itu bisa berjam jam, milih barang yang sama tapi dibilang beda, beli baju yang sama lebih dari satu cuma karna beda warna. Beli banyak makeup tapi yang dipake itu itu aja." Keluhnya lagi.


"Dan wanita yang lo omongin itu Mommy gue." Kata Rigel.


"Penggal aja Rig, ngeluh mulu ni bocah." Kompor Seven.


"Setan."


"Pulang lah ayoo." Ajak Cello masih dalam keadaan yang mengantuk.


"Gimana soal admin AntariksaZone?" Tanya Seven tiba tiba.


Kali ini Yuan mengalihkan matanya dari gelas wine didepannya kearah Rigel.


"Sorry Rig, gue lupa informasiin, maunya gue bilang tadi, tapi karena ada nyokap lo jadinya gue tunda."


"It's okay, Yan, gue ngerti. Langsung aja ke poinnya."


"Adminnya cewek dari angkatan kita, namanya Freya. Gue udah tanya langsung sama orangnya, dia bilang dia dapet kirimian di dm dari fake account. Awalnya dia gak percaya juga sama foto itu, tapi sayangnya nomor polisi kendaraan lo kelihatan jelas. Dia post itu juga gak ada maksud buat hancurin image siapapun, cuma ya lo tahu, disekolah banyak yang kepo sama kehidupan lo, jadi menurut dia itu berita besar. Dia bakal hapus fotonya kalau lo terganggu dan buat klarifikasi soal itu. Sekarang gimana lonya aja." Jelas Yuan panjang lebar.


"Anjir pinter banget temen gue." Puji Seven.


"Jadi gimana? Biarin fotonya atau hapus?" Tanya Vixtor kepo dengan jawaban Rigel.


"Tapi kalau dihapus, klarifikasinya gimana? Sayangnya itu keliatan bener lo sama Azella. Bukan editan atau lainnya, gak mungkin juga kita cerita kejadian malam itu." Kata Cello.


"Iya sayangnya juga banyak yang udah tahu, dan gue yakin banyak juga yang udah screen foto itu dijadiin koleksi pribadi, soalnya udah banyak banget account instagram yang couplein Rigel sama Azella." Ucap Seven menyetujui opini Cello.


"Kalau dihapus tanpa klarifikasi itu lebih aneh, kan bisanya kalau diam berarti iya, nanti dikira lo punya hubungan beneran sama Azella." Opini Yuan.


"Nah iya, kalau klarifikasinya dibilang mereka cuma temenan aja itu gak banget, soalnya satu sekolah tahu mereka kayak enggan ketemu, sekalinya ketemu satu sekolah jadi rusuh, apalagi temenan." Perkataan Vixtor yang sekaligus menghentikan pembicaraan mereka tentang topik itu. Dengan Rigel yang masih bungkam.


Rigel menghisap kasar rokoknya, entah perasaannya saja, atau apapun yang memang berhubungan dengan gadis itu akan menjadi rumit?

__ADS_1


...__________________...


Diwaktu yang sama dengan tempat yang berbeda, seorang perempuan cantik mengendarai mobilnya dengan tenang, gadis itu berhenti disebuah supermarket yang sudah cukup sepi. Mengingat sekarang sudah jam setengah 12 malam.


Azella, gadis itu baru pulang dari acara party bersama teman kakaknya, harusnya dia pulang bersama kakaknya, namun sepertinya tidak bisa karena laki laki itu hilang dari jangkauannya.


Setelah membeli beberapa snack dan minuman, gadis itu keluar dari supermarket itu Azella melihat seorang pria dewasa sedang menghadang dua anak kecil yang sepertinya adalah pengamen jalanan. Ya, gadis itu sering melihat anak anak itu mengamen dilampu merah dijalan raya.


Meninggalkan mobilnya yang terparkir didepan minimarket Azella berjalan cepat kearah dua anak kecil itu yang sepertinya sedang dalam masalah.


"Jangan diambil, itu buat makan saya dan adik saya om." Kata salah satu bocah laki laki sambil menarik narik baju salah satu pria dewasa didepannya.


"Diam kamu. Anak kecil tidak pantas bawa uang sebanyak ini." Jawabnya sambil menghitung uang yang bisa dilihat ada sampai 50 ribu.


"T-tapi om-"


Plakkk...


"Kakakk... hiks... j-jangan... ja-ngan mukul kakak saya." Kata gadis kecil yang memakai pakaian sebuah rok yang sangat lusuh, ketika melihat kakaknya ditampar.


"Cukup." Ucap Azella membuat ketiga orang itu kaget.


Azella itu berdiri didepan anak anak itu seolah melindungi mereka. Azella itu bisa melihat pria didepannya cukup kaget atas kehadirannya. Namun itu hanya sementara ketika pria itu mengeluarkan seringai cabul miliknya.


"Orang orang seperti anda yang menjadi beban dunia." Kata Azella berani tanpa gemetar sedikitpun.


"Jaga bicara anda nona."


Gadis itu tersenyum licik, menggigit pipi bagian dalamnya geram terhadap manusia tidak tahu diri didepannya.


"Jaga kelakuan anda. Jangan mengambil hak anak anak ini. Anda masih bisa bekerja kan? Masih punya tangan dan kaki. Atau mau saya buat lumpuh saja sekalian supaya tidak bisa mengambil hak orang lain lagi?"


"Kurang ajar."


Laki laki itu hendak melemparkan tamparan kepada gadis itu yang otomatis langsung ditangkas dengan cekatan.


"Tidak semudah itu untuk menyakiti saya."


Laki laki yang merupakan preman malam itu terlihat melambaikan tangannya. Dan benar saja datang tiga orang laki laki lagi yang tidak jauh berbeda darinya.


"Bawa gadis ini kegudang, kita senang senang malam ini." Ucapnya kepada tiga orang lainnya.


Bangsat.


Azella tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun meski jalanan sangat sepi dan ponselnya tertinggal didalam mobilnya yang ada diujung jalan.


Azella melirik dua anak kecil yang menangis ketakutan dibelakangnya.


Disaat para preman itu hendak mengambil tanggannya, Azella dengan sigap menghempaskan tangan preman itu dengan kasar.


"Jangan berani sama perempuan. Kalian tidak tahu siapa yang kalian lawan." Katanya datar.


"Banyak omong, bocah baru kemarin sudah berlagak menjadi orang besar. Bawa aja, paksa." Kata salah satu dari mereka.


Naasnya, disaat preman itu mendekat Azella memberikan tendangan keras dibawah perut preman itu sehingga membuatnya mengaduh kesakitan hingga mundur beberapa langkah.


"Jangan main main kamu, disini sepi, saya bisa aja langsung bunuh kamu. Sayangnya kamu sangat menggoda malam ini." Kata preman yang lain.


Sialan, Azella lupa dia hanya memakai kemben dan jaket jeans yang sama sama crop, tidak lupa juga celana jeans yang membalut kaki jenjangnya, namun ada aksen robek robek dibeberapa bagian.


"Bajingan." Umpat Azella sebelum memberikan pukulan yang tepat mengenai hidung preman tersebut hingga berdarah.


Preman itu mulai emosi sehingga membalas serangan gadis itu, dan sekali tendangan gadis itu terjatuh dan pelipisnya mengeluarkan darah.


Dua anak kecil itu sudah berlari ketakutan. Entah kemana mereka pergi, namun Azella itu harus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu.


Azella kembali berdiri tatapan gadis itu melihat kesekelilingnya berusaha mencari pertolongan lain. Niatnya tadi ingin menolong anak anak itu, tapi sialnya sekarang dirinya yang perlu pertolongan. Iya, Azella tidak akan marah sekarang jika orang terdekatnya mengatakan dirinya ceroboh dalam pengambil keputusan.


"Jangan mendekat." Peringat Azella ketika ketiga preman itu hendak mendekat, namun tetap saja bagaimanapun preman itu tidak akan mendengarkannya.


Azella mundur beberapa langkah, dengan gerakan cepat Azella melayangkan tendangan kakinya kearah kepala salah satu preman tersebut hingga terjatuh.


"Anak sialan." Marah preman itu kemudian menyeret salah satu tangan Azella dan tentu saja dua temannya yang lain membantunya membawa gadis itu kearah lorong kumuh yang sangat sepi.


Azella berusaha memberontak sekuat tenaganya namun sayangnya para preman itu mencengkram kedua lengannya dengan kuat. Berteriak juga percuma karena tidak ada satupun rumah penduduk didaerah ini, hanya ada lapangan luas dan tempat yang terdiri dari banyak ruko seperti pasar.


Disaat Azella masih memberontak seketika ada tendangan keras dari arah belakang yang mengenai punggung salah satu dari preman tersebut, hingga membuatnya terpental kedepan.


Bughhh....


"Lepaskan dia."


Kata yang Azella dengar sebelum berbalik dan melihat orang yang berusaha menolongnya. Sontak saja matanya membulat terkejut.


"Enough."

__ADS_1


__ADS_2