RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[40 | Change So Fast]


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, kemudian hari ke hari, minggu ke minggu, bulan kemudian tahun. Empat tahun delapan bulan, waktu berlalu dengan cepat. Tidak akan ada yang dapat menghentikan pergerakan waktu, bahkan sedetik saja, tidak bisa. Kecuali penunjuk waktu itu yang rusak, maka waktu yang akan meninggalkannya.


Siang ini, cuaca cerah dengan matahari yang menyengat menimpa kota London, namun hal itu tidak berpengaruh bagi seorang gadis cantik yang baru saja menerima berita bahagia.


"Yeayyyy, Maa, Paa aku lulus astaga!!!"


"Selamat sayang, kita bangga banget sama kamu!!"


Azella gadis cantik yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran itu berlari dengan gembira kearah Papa dan Mamanya.


Bagaiamana tidak, perjuangannya selama ini untuk berada dititik ini tidak mudah.


Bangun dari komanya, Azella tidak bisa meninggalkan rumah sakit dengan cepat, sekiranya 3 minggu Azella kembali menginap disana. Bukan hanya itu, syaraf kakinya yang lemah membuatnya susah untuk melangkahkan kakinya, sehingga Azella perlu melakukan terapi untuk kembali berjalan dengan normal, itu juga bersamaan dengan Refvino.


Karena Azella merasa belum bisa melanjutkan pendidikannya, akhirnya Azella dan keluarganya kembali pindah ke London dan Azella menjalani homescooling untuk mengulang lagi kelas 12 nya.


Dan disamping itu semua Azella sudah tau semua tentang Refvino, dan Azella cukup dewasa untuk menerima semuanya dengan baik. Bukan hanya itu, bahkan tentang kepergian Rigel ke California juga Azella tahu, tapi Azella enggan untuk menemui atau menghubungi laki-laki itu. Lagipula Azella sendiri tidak pernah mendapat kabar tentang Rigel lagi, biarkan saja semua mengalir seperti air. Etah bagaimana akhirnya nanti, Azella tidak ingin berharap. Tapi tidak bohong dihatinya masih ada Rigel sepenuhnya, hal itulah yang membuat Azella menolak semua laki-laki yang mendekatinya.


"Cie buk dokter." Ledek Refvino yang ikut merayakan berita kelulusan Azella siang itu.


"Apaan sih, diem gausah ngeledek." Ujar Azella yang masih terharu dengan pencapaiannya.


"Mau langsung praktek kerumah sakit atau pulang dulu?" Tanya Maxenzie yang membuat Azella memukul pelan lengan papanya.


Cekrek..


Atlas mengambil gambar keluarganya yang sedang tertawa bersama itu kemudian ide jail muncul diotaknya. Dengan cepat jarinya mengirimkan gambar tersebut kepada seseorang.


AtlasJason


(Send photo)


Keburu gue jodohin sama bule disini, sayang banget dianggurin bertahun-tahun.


Lo kira adek gue anggur?


Atlas tersenyum senang ketika pesannya di read oleh orang itu. Atlas tidak perlu membaca balasan pesannya, Atlas sudah hafal isinya pasti umpatan kasar.


"Congrats Zell, sukses ya buat kedepannya."


Atlas melihat seorang laki-laki yang diketahui merupakan cowok yang berhasil berteman dekat dengan Azella, sebenarnya Azella tidak menganggap dekat sih, hanya saya sepertinya laki-laki itu yang merasa dekat.


Entah, semenjak menetap di London, Azella menjadi anti berteman dengan laki-laki, mungkin karena Azella masih memikirkan Rigel, tidak salah sih.


"Thank you Charlie." Balas Azella singkat, tidak heran dan tidak ada yang terkejut karena Azella memang akan langsung berubah menjadi kutub jika bersama orang yang tidak dekat dengannya.


..._____________...


"Kamu kapan balik?" Tanya Angela kepada Atlas ketika mereka sedang bersantai diruang keluarga.


"Lusa Ma, udah hampir sebulan Atlas ninggalin perusahaan di Indonesia."


"Azella boleh ikut ke Indonesia?"


Seketika semua aktifitas diruangan itu berhenti, Angela yang membaca majalah menutup majalah itu dengan cepat, Atlas dan Refvino yang bermain catur menghentikan kegitan mereka dan menatap Azella dengan aneh. Kecuali Maxenzie yang sejak tadi mengecek saham perusahaannya dengan tab ditangannya masih berekspresi yang sama.


"Kenapa pada diem?"


"Kamu serius?" Tanya Papanya sambil meletakkan tabnya diatas meja.


"Kenapa kayak gitu semua sih. Lagian Azella kangen sama Zia sama Sienna. Apalagi Azella lost contact sama mereka."

__ADS_1


Azella memang memutuskan tidak ingin berhubungan dulu dengan teman-temannya itu, entah kenapa Azella tidak siap, padahal sebenarnya bukan masalah jika mereka masih berkomunikasi.


"Zia sama Sienna aja?" Tanya Atlas penuh selidik.


"Lah iya, siapa lagi emang?" Tanya Azella balik, meski tahu maksud Atlas tapi Azella tidak ingin membahasnya.


"Udah, jangan rusuh, lusa kita semua balik ke Indonesia."


Azella tidak bisa menahan senyumnya, gadis itu berlaru memeluk Papanya dengan sayang. Kemudian berlari kekamarnya.


"Kamu kenapa gampang banget ngambil keputusan kayak gitu?" Tanya Angela dengan serius.


"Mau sampai kapan Azella lari dari masalalunya? Kalau emang Azella udah siap balik ke Indonesia yaudah, kita dukung."


"Rigel juga udah balik."


"Kapan?" Tanya Refvino menanggapi ucapan Atlas.


"Gak tau, tiba-tiba aja gue ada jadwal meeting sama dia minggu depan."


"Udah lama berarti, soalnya kalau udah mulai meeting gitu sekitar 3 bulanan menjabat baru dipercaya meeting keluar." Ujar Maxenzie santai.


"Kok kamu tenang gitu?"


Maxenzie menaikkan alisnya menatap Angela, "Terus aku harus ngapain? Jungkir balik?"


"Haduh kamu mana paham, gimana kalau Azella ketemu sama Rigel?"


"Ya gapapa." Kompak Maxenzie, Atlas, dan Refvino.


Hal itu membuat Angela mengerutkan alisnya tidak terima.


"Emang kenapa Ma Azella bisa sedih?" Tanya Atlas heran. Kenapa wanita suka sekali mencari penyakit? Dengan memikirkan hal yang tidak begitu penting misalnya? Hal yang belum tentu terjadi, tapi sudah dipikirkan solusi dan konsekwensinya, heran.


"Gimana kalau Rigel udah punya pacar baru?"


Maxenzie dan kedua putranya saling lirik. Tidak tahu saja Angela, kalau mereka masih berkomunikasi baik dengan Rigel dan juga keluarganya. Mereka memang sengaja tidak mengatakan hal itu kepada Angela, karena mulut perempuan susah dipercaya. Apalagi ini semua demi kebaikan Azella yang tidak pernah membahas Rigel, kecuali waktu sadar dari koma, dan hanya sekali. Takutnya jika mereka membahas duluan jadinya malah berakibat buruk ke Azellanya.


"Tenag Ma, Biarin aja berjalan sesuai takdir." Ujar Maxenzie yang melihat Angela berjalan menjauhi mereka. Sepertinya wanita itu lelah, tidak ada yang mengerti dengannya.


"Iya sesuai takdir yang dibuat sama Papa." Lanjut Refvino yang membuat mereka tertawa.


...__________...


Azella melangkahkan kakinya dengan ringan, berjalan cepat memasuki mansionnya yang berada di Jakarta.


"Pelan-pelan sayang," Peringat Angela.


Azella tidak mendengarkan perkataan Mamanya, gadis itu malah berlari menuju kamarnya, yang tentu saja hal itu membuat Angela hanya menghela nafas sabar.


"Udah Ma, Azella udah besar." Ucap Maxenzie melewati Angela.


Memang semenjak Azella bangun dari koma, Angela menjadi sangat sensitive menyangkut Azella, dan juga posesif.


"Kamu mau kemana?" Tanya Angela melihat Azella sudah berganti pakaian.


"Main."


"Main? Kamu gak capek? Istirahat dulu mainnya besok-besok."


"Nggak mau, gapapa Azella baik-baik aja."

__ADS_1


"Udah, biarin Ma, Azella kangen Jakarta."


"Pa, jangan bela Azella terus, gimana kalau-"


Omongan Angela terpotong ketika Azella pergi diam-diam dari hadapannya ketika Angela memfokuskan padangannya kepada Maxenzie.


"Azella jangan sampai malam." Teriak Angela jengah.


Azella menggelengkan kepalanya melihat Mamanya yang posesif dengan dirinya, tapi tidak apa, Azella juga menyukainya.


Azella memasuki mobilnya dan mulai menghidupkan mesinnya dan dengan santai keluar dari area mansionnya.


Sudah lama rasanya, ya memang sudah lama. Dulu disepanjang jalan ini Azella menghabiskan waktunya bersama Zia dan Sienna, begitu juga dengan Rigel.


Meski Azella baru mengenal mereka sebentar, tapi Azella merasa sudah sangat dekat.


Ah, bagaimana ya kabar mereka, bagaimana caranya bertemu dengan mereka lagi? Harus darimana Azella memulainya?


Azella memberhentikan mobilnya disalah satu mall besar dipusat ibu kota. Azella ingin membeli makanan yang dulu disukainya ketika di Indonesia.


Namanya juga perempuan, berniat membeli makanan, Azella malah masuk kesalah satu store baju dan aksesoris perempuan.


Azella memilih beberapa kacamata yang pas untuknya, namun seketika Azella hampir terhuyung kedepan ketika ada seseorang yang menabraknya.


"Astaga." Kaget Azella.


"Eh, maaf kak." Ucap seorang gadis kecil.


"Iya gapapa, lain kali hati-hati ya cantik." Ujar Azella mensejajarkan tubuhnya dengan gadis mungil itu.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Azella ketika tidak melihat seseorang yang mengikuti anak itu.


"Mama."


"Mama kamu dimana?"


"Disini, tapi nda tau dimana."


"Loh kok kamu jalan-jalan sendiri."


"Ini lagi liat-liat mama dimana."


"Astaga, lucu banget sih kamu." Ujar Azella menoel-noel pipi gadis itu.


"Kamu namanya siapa?"


"Dara."


"Wah Dara umurnya berapa?"


"Tiga."


"Aduh lucu banget, kamu mau kakak temenin cari mama?"


"Nda kakak, itu mama kecini." Tunjuknya.


Azella melihat kebelakangnya mengikuti kemana anak kecil itu melihat.


Deg..


Wisata masa lalu...

__ADS_1


__ADS_2