
Rigel mengangkat alisnya sedikit tertarik.
"Raz, gue gak peduli sama sekali, silahkan lo ambil aja kalau lo mau." Ucap Rigel cuek tanpa melihat sedikitpun ke arah Azella.
"Rigel." Peringat Azella.
"Eraz-Eraz, gue gak ngerti kenapa lo masih punya muka buat berkeliaran di sekitar kita." Heran Cello.
Rigel turun dari motornya dan berhadapan langsung dengan Eraz yang lebih pendek darinya, dan sebenarnya hal itu sedikit melukai harga diri seorang Eraz.
Kedua laki-laki itu menatap dengan pandangan permusuhan.
"Gue rasa, lo bukan orang bodoh yang mau mengulang kesalahan yang sama." Kata Rigel tajam.
"Terserah, gue bakal tetep nentang lo seribu kalipun, bahkan sampai gue mati, karena sebelum lo tunduk sama gue, gue gak bakal puas." Jawab Eraz tidak kalah tajamnya.
"Lo bukan masalah besar buat gue singkirin. Cuma debu kecil yang perlu gue tiup." Ucap Rigel diiringi kekehan sinisnya.
"Bangsat." Umpat Eraz.
Tanpa basa basi Eraz segera melayangkan tinjuannya kepada Rigel yang berhasil dihindari oleh laki laki itu. Keduanya terlibat pertarungan sengit, lebih tepatnya Eraz yang kewalahan menghadapi Rigel.
Azella sedikit kaget melihat kejadian itu, Yuan yang berada di dekatnya menarik tangan Azella sedikit lebih jauh untuk menghindari perempuan itu dari perkelahian yang terjadi.
"Kok kalian diem aja?" Tanya Azella panik.
"Tenang Zell, tenang. Rigel gak selemah itu." Komentar Seven.
Azella kembali diam, gadis itu sibuk menggigit bibir bawahnya khawatir. Azella semakin panik ketika melihat Eraz yang sudah babak belur hingga mengeluarkan darah dari kedua telinga laki laki itu. Bukankah itu bahaya?
"Gimana kalau Eraz mati?" Tanya Azella lagi.
"Ya kuburin, atau kalau mau yang gampang, buang aja kelaut." Sahut Frans tanpa beban.
"Bakar aja sih, lebih seru." Kata Yuan sinis.
"Jangan, kasi gue aja, nanti gue jadiin makaan Mona." Kata Vixtor.
"Mona?" Tanya Azella bingung.
"Iya, Mona, buaya betina peliharaan gue." Jawab Vixtor sambil cengengesan.
Azella hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka, bahkan didepan mereka ada dua orang saling bantai, ah tidak, hanya Rigel yang membantai Eraz, lihat bahkan Rigel tidak terluka sama sekali. Herannya teman teman Rigel masih bisa bercanda.
"Arghhh..."
Azella kembali terperanjat kaget ketika mendengar teriakan Eraz. Dilihatnya Eraz sudah terbaring lemah diaspal dengan kaki Rigel yang berada tepat didada Eraz.
"Bangun, anjing." Kata Rigel kembali memancing emosi Eraz.
Namun tiba tiba datang pasukan geng motor, yang kompak memakai logo bertuliskan BlackStar di jaket mereka.
"Bangsat, Jerry diem diem ngehubungin geng mereka." Kata Cello ketika melihat sekitar 50 orang yang datang.
Azella tentu saja panik dengan keadaan ini, bahkan jantungnya berdetak seperti ingin meloncat keluar.
"Anjir Azella, Azella." Heboh Seven langsung berdiri didepan gadis itu, sedangkan Yuan berada dibelakangnya. Dan yang lainnya sudah siap untuk menyerang. Ini bukan masalah besar jika hanya mereka, sayangnya saat ini ada Azella yang harus mereka pertimbangkan juga keselamatan gadis itu.
Dan benar saja dua detik kemudian terjadi perkelahian sengit diantara mereka. Azella ingin menangis rasanya berada di posisi yang sangat membahayakan seperti ini.
Azella juga sempat melihat Yuan dengan cepat mengetik sesuatu diponselnya kemudian melempar benda itu kesembarang arah.
"Tenang, jangan panik." Kata Yuan melihat Azella yang seperti sedikit ketakutan.
Azella tidak menanggapi apapun. Dirinya terlampau bingung dengan kejadian yang tiba-tiba. Apa ini mimpi?
"Ketek lo bau banget sumpah." Protes Cello saat menghadapi satu laki laki yang bertarung dengannya. Tanpa basa basi Cello langsung membuat orang itu tumbang dan menghadapi yang lain.
"Ini lagi, lo gapernah keramas? Tuh, telor kutunya kelihatan, bau rambut lo kayak kaos kaki Vixtor." Protes Cello lagi saat dirinya melayangkan bogeman kepada salah satu musuh.
"Mulut lo kurang dijarit Cell? Ribut mulu." Teriak Frans yang juga sedang menghadapi dua musuh. Memang Cello selalu heboh jika ada perkelahian, mulutnya tidak pernah bisa berhenti mengoceh, ada saja yang dikomentari.
"Anjir, sumpah ya gue paling anti sama orang orang sok ganteng tapi aslinya gak bisa ngerawat diri, idih banci." Katanya sambil melawan dua orang musuh, lagi.
"Bangsat emang si Cello." Sahut Vixtor seraya menangkis serangan orang didepannya.
"Ya Tuhan, lo terakhir mandi kapan? Sumpah dekil banget." Protes Cello lagi.
"Ini lagi, lo kurapan, jangan sentuh gue sialan." Kata Cello sambil menendang dada laki-laki didepannya.
Azella geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka, padahal mereka dengan bertaruh nyawa. Namun mereka menghadapinya seperti sedang bermain peran, tidak serius sama sekali. Namun seketika Azella merasa tangannya ditarik seseorang, dan ternyata itu Rigel.
"Lo bisa kena pukulan." Kata Rigel membawa Azella lebih kepinggir.
Heh, Azella juga bisa melindungi dirinya, apa Azella harus ikut turun tangan? Azella menatap Rigel dengan pandangan tajam.
"Ini semua gara-gara lo." Kata Azella kemudian melepaskan tangan Rigel dengan kasar. Gadis itu berjalan semakin menjauhi Rigel.
Sedangkan Rigel langsung menghadapi lima laki-laki yang menyerangnya dengan bersamaan, bukanya bagaimana, Rigel hanya malas menghadapi orang yang tidak selawan dengannya. Lihat, baru saja Rigel menendang dadanya laki lami itu sudah pingsan.
Azella melihat Rigel dengan teliti kemudian Gadis itu maju kedepan dan tentu saja membuat Rigel dan sahabatnya cukup kaget, Azella maju dan melawan beberapa anak BlackStar dengan cekatan. Bahkan tidak bisa dibilang asal melawan. Karna teknik bela diri yang digunakan cukup bagus.
"Anjing, dia bisa bela diri." Kata Seven cengo.
"Gila, dia cewek padahal." Yuan ikut mengomentari Azella ketika melihat gadis itu bisa membuat dua orang dari BlackStar tumbang dengan mudah.
Seketika suara motor kembali berdatangan, dan kali ini mereka membawa bendera kebesaran Antariksa Gang sehingga Rigel juga berhenti dan melihat kedatangan mereka. Begitu juga yang lain, termasuk anak anak BlackStar yang masih tersisa.
Eraz yang sepertinya hampir mati itu melihat kedatangan Antariksa Gang dengan nafas terputus putus. Azella bahkan meringis melihat wajah Eraz yang sudah tidak berbentuk.
__ADS_1
"Lo ngapain nyuruh anak Antariksa Gang kesini sebanyak itu anjir." Komentar Seven melihat sekitar 500 orang berdiri menunggu perintah.
"Kayaknya gue typo deh, harusnya gue ketik 50 tapi kayaknya gue ketik 500." Kata Yuan yang juga bingung.
"Bego." Frans menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"ANTARIKSA GANG." Kata Rigel keras.
"WINNING IS THE END RESULT ." Jawab mereka kompak.
Rigel melihat sekitar 10 anggota BlackStar yang masih berdiri dibelakang Eraz.
"Gu-gue manggil anggota gue seperempatnya. Lo manggil semua. Jadi siapa yang pecundang?" Tanya Eraz terbata bata.
"Enak aja semua, ini seperempat aja kurang." Sahut Yuan spontan.
"Diem ngapa nyet, lo ngomong aja kaga sanggup." Cello menatap Eraz dengan pandangan sok kasihan.
"Jangan gitu Cell gak boleh. Kasian berdiri aja masi dibantu Jerry." Seven ikut ikutan mengejek Eraz yang berdiri dipapah oleh Jerry.
"Lo duluan yang mulai." Kata Rigel khas dengan aura mengintimidasi miliknya. "Of course Antariksa Gang yang selalu jadi pemenang." Lanjutnya sambil terkekeh sinis.
"Rigel, gue janji ini terakhir kalinya lo menang." Kata Eraz secara tidak langsung mengakui kekalahannya.
Eraz meranarik bahu Jerry untuk meninggalkan lokasi tersebut. Yang juga diikuti oleh anak anak BlackStar.
Azella heran apa gunanya mereka memanggil anak anak Antariksa Gang? Lihat saja timbunan anak anak Antariksa Gang hanya diam dan tiak bergerak sedikitpun.
"Anjir, tadi gue lagi dikamar mandi malah dapet panggilan darurat." Sahut seseorang dari Antariksa Gang sembari berjalan mendekat kearah mereka.
"Eh siapa nih." Tanyanya ketika melihat Azella.
"Dia Azella." Kata Yuan memperkenalkan.
"Eh, halo. gue Tayo." Kata Tayo mengulurkan tangannya.
"Hah?" Tanya Azella bingung, apa laki laki ini sedang bercanda? Apa semua Anak Antariksa Gang suka bercanda?
Azella menjabat tangan Tayo. "Gue Azella." Dengan rasa penasaran yang tinggi Azella melanjutkan ucapannya. "Em, nama lo beneran Tayo?"
"Iya, lucu kan kayak orangnya." Katanya bangga.
"Dih, gausah caper." Kometar Cello.
"By the way, Yuan, lo ngapain manggil 500 anggota? tumbenan banget banyak cuma buat saksi kemenangan." Tanya Tayo bingung. Memang sudah tradisi di Antariksa Gang jika ada acara kemenangan atau acara penting lainnya seperti pelantikan pengurus dan kenaikan jabatan. harus dihadiri saksi minimal 50 orang anggota Antariksa Gang.
"Ck, itu gue typo, anjing." Kesal Yuan.
"Pantesan, gue kira ada apaan. Sekarang cepet lo buat pengumuman resmi di grup." Kata Tayo. Nah mereka juga akan memberi pengumuman resmi di grup Antariksa Gang agar seluruh anggota tahu tentang pencapain Antariksa Gang yang terbaru
"Gak, nanti aja, tadi gue buang hp-nya, gue buru-buru ngetiknya." Kata Yuan lagi.
"Buset, anak sultan, gue mah remahan kripik singkong bisanya bersyukur doang kalo dikasi beli hape baru sama nyokap, itupun nunggu satu tahun." Kata Cello lebay.
"Bener kan?" Tanya Seven lagi.
"Bangsat, gue gak mau pamer ya, cuma kalo dipaksa ya, jadi gini yang pabrik tembakau ada sekitar 15 pabrik, terus saham di Jepang sekitar 57% punya bokap gue, dan ada satu lagi sampingan, sebenernya ada yang lain tapi ini yang utama, itu kerja sama perusahaan bokap gue sama bokapnya Rigel kan keuntungannya sam- bangsat, lo kenapa mukul gue Frans?" Tanya Cello kaget.
Sedangkan temannya yang lain hanya memutar bola matanya malas melihat kelakuan Cello.
"Shut up." Kata Rigel tiba tiba yang membuat semua hening.
"Kalian boleh acara bebas." Kata Rigel tegas memberi pengumuman kepada anggota Antariksa yang masih bergerombolan disana.
Setelah mereka semua bubar, Rigel melihat kearah Azella.
"Em, gue bakal pulang juga." Kata Azella yang merasa dirinya sudah aman dan bisa pergi bebas tanpa gangguan.
"Eh? Lo mau dianter?" Tanya Cello.
"Kalo menurut gue sih lo dianter aja dulu, gue gak menjamin mereka gak sabotase mobil lo." Kata Yuan.
"Nah gue setuju sama Yuan, lo kalo mau gue bisa nganter." Kata Vixtor.
"Lah kok lo, gue kan yang nawarin duluan, jadi gue yang-" Cello seketika berhenti berbicara ketika Rigel melayangkan tatapan membunuh kepadanya.
"Gue yang anter. Kalian beresin ini semua, gue gak mau denger berita apapun lagi tentang hari ini." Kata Rigel mutlak.
"Em tapi, tadi gue udah suruh kakak gue jemput." Kata Azella.
"Where? Kakak lo belum juga dateng sampai saat ini." Tanya Rigel sambil menatap Azella malas.
"Bentar gue coba chat." Kata Azella.
^^^AzellaQierra^^^
^^^Udah dimana? Lama bener.^^^
AtlasJason
Dijln
^^^AzellaQierra^^^
^^^Iyaa, dijalan dimana? Udah deket?^^^
AtlasJason
Msh di jln
__ADS_1
^^^AzellaQierra^^^
^^^Astaga:)^^^
^^^Iyaa nama jalannya dimana?^^^
^^^Bentar kok lo bisa bales chat?^^^
*AtlasJason** *
Br di jmpt Aksel
Spy dia yg nyetir
Gw mls nyetir.
^^^AzellaQierra^^^
^^^What the hell, tega lo buat gue nunggu?^^^
*AtlasJason** *
L mainnya jauh
^^^*AzellaQierra** *^^^
^^^BODOAMAT GUE NGAMBEK.^^^
^^^GAUSAH DIJEMPUT GUE BISA PULANG SENDIRI!^^^
Azella langsung mengunci layar ponselnya, kemudian menatap Rigel yang juga menatapnya.
"Abang lo masi lama ya?" Tanya Cello.
"Bukan. Dia baru otw." Kata Azella tidak enak.
"Oh yaudah, Rigel aja yang nganter dulu, nanti kalo ketemu bisa pindah." Kata Seven.
"Em, gue nunggu disini aja." Kata Azella.
"Lo yakin? Gue gak bisa jamin yang disini semua masih hidup." Kata Vixtor melihat anak-anak BlackStar yang tumbang.
Nah benar juga ya. Pikir Azella
"Naik." Kata Rigel tiba-tiba yang membuat Azella kaget. Laki-laki itu sudah siap diatas motornya didepan sana.
"Udah sana, nanti mobil lo kita yang ngurus." Kata Yuan.
"Thanks ya. Gue duluan." Kata Azella kemudian berlari kecil menuju motor Rigel.
Azella naik tanpa suara, begitu juga Rigel yang hanya diam, sedangkan teman-temannya yang lain sibuk dengan pemikirannya sendiri ketika melihat motor Rigel menjauh.
"Baru pertama kali gue lihat jok belakang motor Rigel ada orangnya, terus sekalinya ada malah cewek." Kata Seven.
"Sekalinya cewek, malah orang baru yang sering nguji emosi Rigel." Lanjut Cello.
"Gak tau kenapa firasat gue bakal ada perubahan." Vixtor juga ikut menimpali.
"Sok-sok an punya firasat aja lo." Kata Cello.
"Gue beneran seneng liat Rigel kayak tadi, pertama kali gue liat dia respect sama cewek selain emaknya." Yuan tersenyum bodoh meski begitu yang lain juga menyetujui perkataan Yuan, mereka dapat melihat aura positif didalam diri Azella.
Jangan lupakan Frans yang juga sedikit tersenyum meski hanya sedikit tapi laki-laki itu ikut merasakan sesuatu yang berbeda yang terjadi pada sahabatnya.
...________________...
Sedangkan dua orang remaja tersebut saat ini dalam dituasi hening, hanya deru motor milik sang laki-laki yang memenuhi indera pendengaran mereka.
"Alamat lo dimana." Kata Rigel tiba-tiba.
Azella yang mendengarnya sedikit terkejut, rupanya gadis itu sedari tadi melamun tidak jelas sambil melihat jalanan yang sepi didepannya, gadis itu mencondongkan sedikit badannya kedepan.
"Jalan kamboja, nomor 21." Kata Azella singkat, bahkan Rigel tidak menjawabnya. Laki-laki itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Namun Azella merasa udara semakin dingin, rambutnya yang tergerai bebas ikut tertiup angin.
Tik...tik...
Azella refleks melihat kearah helm milik Rigel didepannya yang basah terkena rintikan air hujan. Hujan gerimis jika ikut menemani dua insan tersebut membelah jalanan sepi.
Seketika Rigel meminggirkan motornya kepinggir jalan. Tentu saja tingkahnya membuat Azella menjadi bingung.
Laki-laki itu melepas jaket kulit miliknya dan menyisakan kaos hitam polos yang sedikit ketat sehingga mencetak tubuh atletis miliknya.
Tanpa turun, Rigel mengulurkan jaketnya kebelakang, seolah menyuruh Azella mengambilnya.
"Pake." Katanya ketika tidak mendapat respon dari Azella.
Azella hanya menatapnya bingung.
"Gue udah pake cardigan."
"Tetep aja lo masih kedinginan." Kata Rigel.
Azella masih tidak bergeming dari tempatnya.
"Gue gak suka ngulang perkataan dua kali, Azella."
Seperti terhipnotis gadis itu segera mengambil jaket milik laki laki itu, dan langsung memakainya. Ternyata Rigel tidak seburuk yang dia kira, laki laki itu masih memiliki rasa kepedulian terhada-
"Jangan terlalu percaya diri, gue sama sekali gak peduli sama lo, entah lo kedinginan, menggigil, sakit, demam, atau mati sekalipun, asalkan gak sama gue." Laki-laki itu melirik Azella sinis dari kaca motornya.
__ADS_1
"Tapi karena lo saat ini lagi sama gue, jadi anggap aja gue bersedekah ke orang yang lebih membutuhkan." Lanjut Rigel seraya memakai helmnya dan menjalankan kembali motornya.
Kurangajar. Umpat Azella dalam hati. Ternyata Rigel tidak sebaik yang dia kira.