RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[36 | Lost]


__ADS_3

Rigel mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Yang benar saja semalam Rigel sendiri yang sudah mengantar Azella sampai depan pintu utama mansion. Sudah di zona yang sangat aman.


Tapi bagaimana bisa sekarang Rigel mendapat kabar Azella hilang sejak dini hari tadi?


Sialan untuk pertama kalinya Rigel disepanjang perjalanan berharap dirinya sedang di prank. Tapi siapa yang berani bercanda dengannya? **** off!


Rigel memarkirkan asal motornya dihalaman luas mansion Qierra. Laki-laki itu masuk dengan langkah lebar dan mendapati Maxenzie dan Angela juga Aksel, dan Atlas yang diujung ruangan sedang menerima telfon.


"Kenapa bisa?" Tanya Rigel dingin.


"Ini kamera rekaman kamera cctv nya, Azella keluar mansion pukul 02.15 sampai saat ini gak balik-balik." Jawab Aksel memperlihatkan Rigel layar MacBooknya.


"Terus disini ada mobil putih berhenti kayaknya Azella udah janjian."


"Setelah ini, disini kejadiannya. Di kotak putih yang berantakan disana ada tulisan, 'jangan cari saya sebelum saya yang menghubungi anda, atau Azella akan saya bawa keneraka' bangsat kan?"


Rigel memijat keningnya yang terasa pening setelah mendengar penjelasan Aksel.


"Om udah suruh orang-orang Om buat cari tau semua ini. Segala akses ponsel Azella sama mobil putih kemarin udah Om lacak."


"Masalahnya kita gak dikasi nyari tau tentang mereka Pa, g-gimana kalau ketahuan nan-nanti Azella-"


"Ssh, Azella akan baik-baik aja Ma."


...________...


Azella merasa kepalanya sangat pusing, gadis itu mengerjapkan matanya melihat sekeliling.


Gelap.


Hening.


Dan ada bau darah dimana-mana.


Azella bangkit dari posisinya, namun tidak bisa. Tangannya diborgol kesebuah tiang, gadis itu melihat keatas dan melihat atap bangunan yang sudah lapuk tapi masih kokoh. Azella berusaha melepaskan tangan kanannya dengan tangan kirinya, tapi nihil, tidak bisa.


Dimana ia saat ini?


"Mimpi indah cantik?"


Azella membelalakkan matanya mencari dimana asal suara yang tadi. Tapi disini sangat minim cahaya sehingga Azella tidak dapat melihat dengan jelas. Yang jelas ini suara laki-laki.


"Calm down."


Azella menyipitkan matanya, suara ini tidak asing, tapi Azella juga tidak mengenalinya.


"Who are you?" Tanya Azella pelan.


Prok....


Laki-laki itu menepukkan tangannya sekali kemudian membuat lampu di tempat itu menyala terang. Azella menatap aneh pada tempat ini. Hanya tembok-tembok dan juga bangunan berbentuk kubus yang berceceran darah.


Tempat apa sebenarnya ini?


"Terkejut heh?"


Azella langsung memfokuskan matanya kepada seorang pria paruh baya yang berdiri didepannya.


"Athena Azella Qierra."


"Anda siapa?!" Tanya Azella. Kali ini Azella yakin dirinya benar-benar diculik, dan bukan mimpi.


"Derrin, Derrin Fanderson." Jawab laki-laki yang Azella tebak adalah saudara Lowen karena wajah dan nama belakang mereka sama.


Azella memundurkan tubuhnya hingga menempel pada tembok ketika pria itu mendekatinya.


Pria itu mencengkram dengan kasar rahang Azella untuk mendoggak kepadanya.


"Seandainya Papa kamu gak egois, seharusnya semua ini gak perlu."


"P-papa?"


"Kalian memang keluarga sialan."


Plak....


Wajah Azella terlempar kesamping akibat tamparan laki-laki itu.


"**** you." Umpat Azella dan berusaha menendang laki-laki didepannya dengan kakinya yang masih bebas.


"Tidak semudah itu." Remeh laki-laki itu menjauhkan dirinya.


Laki-laki itu kemudian mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya, Azella yang mengetahui arah pikiran laki-laki itu sontak saja memberi perlawanan. "No, don't do that!" Ucap Azella.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum tipis.


"Please, jangan."


Laki-laki itu langsung menjambak rambut Azella yang tidak bisa diam sejak tadi.


"J-jangan. Om ada masalah apa sama saya?" Tanya Azella.


"Ayahmu terlalu egois."


Srett....


Azella merasa lehernya perih, pisau itu menggores leher mulusnya dengan sekali tarikan garis lurus dari belakang telinga sampai atas bahu, tidak dalam tapi mampu membuat Azella merasa sakit.


Bukan hanya itu, pria itu mendonggakkan Azella keatas dan-


Plakkk...


Pipi Azella kembali ditampar dan cukup keras hingga meninggalkan bekas kemerahan dan juga ujung bibirnya yang sedikit robek.


"Beautiful." Ucap pria itu menatap luka lebam dan goresan pisau di tubuh Azella yang tadi dibuatnya.


"Menurutmu, bagaimana tanggapan Maxenzie jika melihat banyak karyaku ditubuh putrinya?"


Azella tidak bersuara sama sekali, gadis itu tidak tahu siapa yang berada didepannya saat ini. Tapi Azella yakin, baik Papanya ataupun Kakaknya pasti mencarinya. Tidak lupa Rigel juga pasti mencarinya.


"Marah? Atau dia akan membunuhku langsung detik itu juga?"


Seketika pria itu tertawa kencang membuat Azella sedikit terkejut.


"Tapi, saat ini dia tidak ada disini, hanya kau, dan aku. Jadi jangan berharap bisa lepas dari tempat ini."


"Papa pasti cari saya, besenang-senanglah sebelum waktumu habis." Ucap Azella berani.


Pria didepannya ini memudarkan senyumannya. "Seharusnya aku yang berkata begitu, menghayal saja sepuasnya sebelum waktumu habis."


Kemudian pria itu meninggalkan Azella dengan tertawa senang.


Azella menarik-narik tangannya yang terborgol, meski tahu hasilnya tetap nihil tapi gadis itu tidak menyerah.


Bruk....


Azella mendengar suara benturan keras dibalik pintu yang membuatnya kaget. Kemudian pintu terbuka dan menampilkan satu sosok yang dikenalinya.


Refvino berdiri dengan pakaian yang dilumuri banyak darah.


"Zell, sorry, i-ini diluar kendali gue." Lirih Refvino melihat keadaan Azella.


"Bebasin gue kak, please." Ucap Azella langsung.


Tanpa basa-basi Refvino mendekati Azella dan melepaskan borgolnya dengan kunci yang entah bagaimana Refvino bisa mendapatkannya.


"Lo kenapa bisa disini?" Tanya Azella sambil menutup luka lehernya dengan lengannya dan hal itu membuat hoodie yang masih terpasang ditubuhnya terkena narahnya.


"Gue-"


"Bagus, teruskan."


Azella dan Refvino melirik kearah pintu dimana ada seorang pria paruh baya yang mereka kenal.


"Uncle Lowen."


"Daddy."


Azella dan Refvino saling pandang sesudah berucap.


"D-daddy?" Tanya Azella bingung, ada apa ini sebenarnya?


"Ikat gadis ini." Ucap Lowen kepada bawahannya.


"No, lepasin Azella Dad, Daddy udah keterlaluan."


"Shut your fucking mouth."


Refvino maju didepan Azella melindungi gadis itu yang didekati dua bodyguard milik Lowen.


Lowen memutar bola matanya malas. "Singkirkan bocah ini." Ucapnya menunjuk Refvino dengan dagunya.


Tanpa basa-basi 5 bodyguard lain menarik Refvino yang memberontak. Refvino tidak cukup tenaga untuk berkelahi karena sejak awal menyusup kesini Refvino sudah kehilangan banyak tenaganya dan mengalami cidera dibeberapa bagian tubuh.


"Who are you, Uncle?" Tanya Azella tajam. Azella sekarang sadar, dirinya terlalu banyak dibodohi.


Andai saja hubungan Azella baik dengan Mamanya pasti Azella bercerita tentang pertemuannya dengan Uncle Lowen. Tapi nyatanya mereka tidak seharmonis itu hingga Azella mudah percaya dengan orang didepannya tanpa menanyai Mama atau Papanya.

__ADS_1


"Tidak penting, kamu terlalu bodoh hingga masuk perangkap saya. Kita tidak sedekat itu jangan panggil saja Uncle. Ingat disini level kita berbeda."


Dorr!!


Azella mundur beberapa langkah ketika Lowen menembakkan pistolnya keatas dan membuat atap genteng tersebut bolong dan sedikit terbakar.


"Jangan banyak bicara Azella, diam dan turuti saya, maka kamu akan selamat."


"Lebih baik saya mati daripada saya menuruti anda."


Lowen menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Angkuh seperti Papanya dan berani seperti Mamanya, tapi biar saya beritahu satu fakta."


Azella hanya diam, tidak ingin menjawab, takut laki-laki gila ini memainkan pistolnya asal.


"Waktu itu, beberapa tahun silam, saya dan Derrin punya seoarang adik perempuan. Saya sangat menyayanginya. Sampai akhirnya, dia mengatakan kepada saya bahwa dia menyukai seorang laki-laki."


Azella masih pada posisinya, gadis itu berdiri mepet didinding dan memeluk kedua lengannya dengan tangannya.


"Kamu tau siapa? Iya Papa kamu. Saya sebagai seorang kakak, tentu ingin melihat adik saya bahagia. Dan tentu yang saya lakukan adalah mendekatkan adik saya dengan Papa kamu dengan cara mendekati Mama kamu."


"Tapi sayangnya, Papa kamu hanya bermain-main dengan adik saya, dia tetap memilih Mama kamu padahal adik saya sangat mencintai Papa kamu."


"Kemudian, Papa kamu meninggalkan adik saya dengan keadaan adik saya yang frustasi. Dan kamu tau...."


"Kamu tau?" Tanya Lowen dengan mengarahkan pistolnya kearah Azella.


"KAMU TAU AKHIRNYA ADIK SAYA BUNUH DIRI KARENA DITINGGAL PAPA KAMU."


Dorr!!


Azella terlonjak kaget dengan tembakan pistol kearah atas dan juga teriakan Lowen yang menggema.


"Dan, waktu kecelakaan mobil, dimana target saya adalah kamu, tapi sayangnya kakak kamu, Altheo yang meninggal."


"J-jadi Uncle yang rencanain semua?" Tanya Azella dengan linglung.


Pembahasan tentang Altheo selalu membuat Azella kacau.


"Iya hahahaha." Ujar Lowen tertawa kencang dan sangat puas.


"Seharusnya yang mati adalah kamu. Bukan kakak kamu."


"Saya yang mensabotase mobil kakak kamu, tapi sayangnya kalian bertukar posisi, jika saja saat itu Altheo yang mengemudi mungkin kamu yang mati dan Altheo akan selamat. Tapi aku puas, setidaknya ada yang mati, hahahaha."


Deg...


"Dan ya, dari awal incaran saya memang kamu. Papa kamu harus tau bagaimana rasanya kehilangan dalam hidupnya. Bukan lagi istrinya, tapi bagaimana jika anak-anaknya meninggalkanya? Akan sangat seru bukan?"


Azella masih terpaku ditempatnya, tidak menyangka fakta besar ini terungkap didetik ini. Azella jadi merasa bersalah, jika saja kala itu Azella tidak memaksa membawa mobil Altheo apakah Altheo akan selamat? Kenapa Azella dulu egois sekali? Jadi secara tidak langsung Azella sendiri yang menyebabkan Altheo meninggal?


"CUKUP!"


Azella mengalihkan perhatiannya kepada Lowen yang berteriak.


"Dad, berhenti. Lepasin Azella." Ujar Refvino tidak tega melihat Azella yang sepertinya sangat tertekan dengan fakta yang terungkap.


Lowen mengalihkan padangannya kepada Refvino yang masih berada disana, "Diam, ini bukan urusan kamu. Dasar anak pungut."


Deg...


Azella semakin bingung dibuatnya, pikirannya menjadi sangat kacau ketika nama Altheo dibawa-bawa.


Lowen menampilkan senyum tipisnya. "Meski


saya tidak bisa menghabisi Maxenzie setidaknya saya bisa menghabisi anak-anaknya dan membuat hidupnya kacau."


"Cukup Dad, Azella gak salah, Daddy jangan lampiasin ke dia. Dari awal ini juga salah Daddy." Ujar Refvino setelah berhasil sepenuhnya melepaskan diri dari lima bodyguard Lowen.


"Seharusnya yang benar adalah saya habisi kamu lebih dulu. Kamu terlalu banyak bicara, dan itu mengganggu saya."


Refvino dengan berani melangkah kearah Azella dan mengabaikan Lowen. Laki-laki itu menarik tangan Azella untuk keluar dari tempat itu.


Azella yang masih terpaku pada pikirannya menjadi sedikit terkejut, namun Azella merasa tidak mungkin Lowen akan membiarkan mereka keluar dari ruangan ini dengan mudah, pria gila itu pasti merencanakan sesuatu.


Benar saja, baru beberapa langkah, Lowen yang sejak tadi diam, sekarang sudah membidik Refvino dengan pistolnya namun Refvino tidak memperhatikan hal tersebut dan tetap melangkah dengan menarik tangan Azella menuju pintu keluar.


Hingga Lowen memperlihatkan smirk tipisnya, dan-


Dorr!!


Dorr!!


"Arghh..."

__ADS_1


__ADS_2