RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[19 | Another Level Of Pain]


__ADS_3

Azella mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berhasil menyesuaikan dengan cahaya yang mulai masuk keretina pengelihatannya


"Udah bangun? Ada yang sakit?"


Azella menatap Rigel yang duduk didepannya, pandangan gadis itu sangat sayu.


"Istirahat, ini jam 3 dini hari, lo masih bisa tidur." Ucap Rigel lagi.


"G-gue dimana?"


"Di apartment gue."


"Ha-hah?" Sontak saja pikiran Azella tertuju kepada Atlas dan Aksel yang pasti mencarinya. Berbeda dengan orang tuanya yang tidak begitu memusingkan dimana Azella bermalam.


"Gue udah hubungin Aksel tadi." Ucap Rigel mengerti kekhawatiran Azella.


Azella semakin kaget ketika Rigel mengatakan hal tersebut, bukankah hubungan mereka tidak baik?


"Da-"


"Udah, besok gue jelasin, sekarang lo tidur jangan banyak gerak. Gue tidur di sofa." Kata Rigel menyuruh Azella kembali berbaring ketika tadi gadis itu hendak bangun dari tidurnya.


"Rigel gue haus." Cicit Azella tidak enak merepotkan, namun tenggorokannya sungguh kering saat ini.


Rigel langsung mengambilkan segelas air yang ada diatas nakas dan membantu Azella untuk meminumnya.


"Udah, sekarang tidur."


"Thank you, Rigel." Lirih Azella.


Azella sudah ingin menutup matanya namun kesadarannya kembali ketika melihat bukan bajunya yang sedang dipakainya.


"Rigel siap-"


"Tadi gue suruh dokter gantiin baju lo. Dokter Tania, dokter pribadi keluarga gue." Jawab Rigel mengerti dengan arah pikiran Azella bahkan sebelum gadis itu bersuara.


Azella hanya mengangguk pelan kemudian membaringkan dirinya dengan nyaman dan tidak memerlukan waktu lama untuknya kembali terlelap.


Rigel menatap Azella dengan pandangan penuh arti. Laki laki itu berdiri dan mendekatkan wajahnya kewajah Azella mengelus kening yang masih sedikit panas itu dengan sentuhan lembut. Kemudian mengecupnya pelan.


"Jangan pernah terluka Azella, seeing you like before, is another level of pain."


...______________...


"Rig, ini bajunya." Ucap Cello ketika baru saja memasuki apartment Rigel.


Cello tidak datang sendiri, tapi bersama sahabatnya yang lain.


"Ngapain lo suruh kita beli begituan?" Tanya Seven sambil melirik baju dan segala keperluan untuk perempuan. Karena selama mereka bernafas Rigel tidak pernah dekat dengan gadis lain selain Mommynya. Ah, kecuali Azella yang baru baru ini dekat dengan Rigel. Tapi semua perlengkapan perempuan ini untuk siapa? Tidak mungkin kan Rigel membelinya iseng? Atau, jangan jangan untuk Azella? Tapi bagaimana mungkin.


"Eh, rame."


Sontak saja suara lirih perempuan membuat mereka mengalihkan perhatian kepada sosok yang berdiri diujung tangga.


"Azella?" Tanya Cello kaget.


"Wait, what? Woi apa aja nih yang udah gue lewatin?"


"Ini Azella beneran? Kok bisa nyasar kesini? Rig lo apain anak orang?"


"Azella kenapa pucet gitu?"


Begitulah heboh sahabatnya yang kadang membuat Rigel malas berbagi sesuatu hal yang pasti akan membuat mereka heboh sendiri.


"Kepo kalian." Sahut Rigel yang semakin membuat mereka menjadi kepo setengah mampus.


"Azella, come here." Suruh Rigel yang langsung diangguki Azella.


Gadis itu terlihat menggunakan celana training yang kebesaran. Dan sebuah kaos yang sangat over size, dan bisa mereka tebak itu adalah pakaian Rigel.


Azella berjalan pelan dan mengambil tempat duduk disamping Rigel. Laki laki itu langsung merangkulnya posesif entah kenapa membuat sahabatnya menahan senyum mereka, bahkan Frans memalingkan wajahnya jengah.


"Makanannya belum dateng, lo mau nungguin atau mandi dulu?" Tanya Rigel yang nada suaranya berbeda dari biasanya. Sahabatnya memang selalu memperhatikan jika Rigel berbicara dengan Azella maka suaranya akan lembut dan penuh perhatian.


"Gue mandi dulu." Jawab Azella pelan.


"Jangan mandi lama Azella, demam lo baru turun jam 6 tadi." Suruh Rigel sambil memberikan tiga totebag yang dibelikan oleh temannya tadi.


Azella hanya mengangguk kecil sebelum naik keatas, kekamar pribadi Rigel.


Rigel meminum colanya, ketika merasa ada yang memperhatikan Rigel mengalihkan pandangannya kepada temannya. "Apa?"


"Lo gak mau jelasin sesuatu sama kita?" Tanya Vixtor.


"Azella semalem ada kecelakaan kecil, makanya gue bawa kesini." Jelas Rigel singkat.


"Kecelakaan apaaa?" Panik Cello.


"Bukan masalah besar." Sahut Rigel.


Ding...dong...


Bel apartment Rigel yang berbunyi membuat mereka mengalihkan pandangan kepintu tersebut.


"Ambil makanannya Ven." Suruh Rigel. Seven dengan semangat langsung berdiri, dan mengambil pesanan makanan itu.


"Gila banyak banget Rig." Serunya senang. Melihat banyak paperbag dari salah satu restoran ternama.


"Tau aja kita belum sarapan." Kata Yuan.


"Bubur itu punya Azella. Sisanya bebas." Cetus Rigel ketika Yuan mengeluarkan makanan didalam boxnya.


"Hadeh, udah bucin gini ya." Celetuk Seven.


"Maklum, pertama kali. Tapi perlakuannya ke Azella lebih dari suami." Ucap Yuan.


"Bahaha, udah sejauh mana Rig?" Tanya Cello iseng. "Kalau belum jauh ya bisa lah gue tikung." Ucapnya kemudian.


Rigel menatap Cello tajam. "Coba aja, tapi tumbalin dulu kepala lo jadi bola basket gue." Sahutnya nyelekit.


"Anjeng." Umpat Cello pelan.


"Makanya Cell, jadi cowok yang cool, biar dapet cewek kayak modelan Azella. Lah lo sana sini pecicilan." Ejek Yuan.


"Hobi banget ya kalian ngehina gue." Rutuk Cello kesal.


"Muka lo minta banget dihina soalnya."


Jleb.


Itu kata terakhir dari Frans yang menutup pembicaraan mereka kala itu. Sebelum mereka memulai sarapan pagi yang kesiangan.


...________________...


Azella menatap pantulan dirinya dicermin.


Azella sudah selesai mandi, sudah memakai pakaian lengkap. Diantara banyaknya pakaian yang ada didalam paper bag, Azella memilih menggunakan baju lengan panjang dan juga celana panjang. Mengingat dirinya sendiri perempuan disini.


Tapi masalahnya Azella merasa malu untuk turun. Teman teman Rigel pasti menggodanya nanti.


Ting... ting.....


Azella mengambil ponselnya yang terisi daya penuh. Sepertinya Rigel men-charger ponselnya kemarin malam.


RefvinoElvand


Azella, gue di mansion lo nih. Jadi bareng atau gue duluan?


Azella memejamkan matanya merutuki kebodohannya dengan melupakan janjinya dengan Refvino.


^^^AzellaQierra ^^^


^^^Astaga kak, maaf:(^^^


^^^Gue lupa banget. Gimana kalo lo duluan aja? Atau ajak aja Atlas sama Aksel. Gue lagi dirumah temen soalnya:(^^^


Azella mengigit bibirnya menunggu balasan dari Refvino, dirinya sungguh merasa tidak enak.


RefvinoElvand


Iyaa, gak apa, gue duluan deh ya, ini ada Aksel sama Atlas juga bareng sama gue. Lo sendiri gapapa nanti? Sekalian kita mau golf entar, udah lama gak ketemu. Lo kalau mau join dateng aja nanti.


Azella bersyukur setidaknya Refvino tidak sia sia kemansionnya karena Atlas dan Aksel ikut dengannya.


^^^AzellaQierra ^^^

__ADS_1


^^^Okay kak, next time kita bareng ya.^^^


Azella menutup ponselnya. Hari ini dia harus ketempat Altheo. Azella tidak mau ingkar janji lagi.


Azella berjalan keluar dari kamar Rigel. Dari sini saja Azella sudah mendengar pembicaraan heboh sahabat Rigel dibawah sana.


Azella perlahan menuruni tangga. Matanya langsung menatap keadaan ruang tamu yang cukup berantakan.


"Azella cantik." Panggil Cello langsung ketika melihat Azella. Sedangkan Azella hanya tersenyum simpul.


"Sini Zell." Ajak Yuan ketika melihat Azella berhenti diujung tangga.


Azella berjalan menuruni tangga dengan hati hati. Azella memandang sekitar tidak menemukan Rigel disana.


"Pacar lo lagi telponan disana." Celetuk Seven ketika mengetahui yang dicari Azella.


Azella memperhatikan Rigel yang mengambil jarak sedikit jauh dari mereka. Sepertinya laki laki itu sedang menerima telpon penting.


"Eh, emang udah pacaran?" Tanya Cello kemudian.


"Em, enggak kok, cuma temen aja." Jawab Azella seadanya. Jujur Azella lebih nyaman jika ada Rigel bersamanya. Entahlah Azella merasa terlindungi.


"Zell, duduk, biasain aja sama kita. Kalo udah berurusan sama Rigel, itu namanya prioritas kita juga. Jadi gamungkin kita macem macem." Kata Yuan santai. Akhirnya membuat langkah Azella mendekati mereka dan memilih duduk di single sofa dekat jendela.


"Ini buburnya Zell, tadi Rigel yang pesenin." Ujar Vixtor memberikan semangkuk bubur.


"Nah ini Rig, dicariin sama Azella." Celetuk Seven ketika melihat Rigel mendekat kearah mereka.


Laki laki yang menggunakan kaos hitam polos dan celana jeans pendek itu mendekat kearah Azella.


"Makan." Suruhnya ketika melihat Azella hanya memangku buburnya.


"Gue gak suka bubur." Keluh Azella kepada Rigel. Memang benar Azella tidak pernah makan bubur. Bahkan jika Azella sakit, kadang dirinya lebih memilih memakan salad sayur seharian daripada bubur.


"Terus lo maunya makan apa?" Tanya Rigel sambil mengambil tempat duduk didekat Azella.


"Apa aja selain bubur, em, pizza?" Tanya Azella ketika melihat kotak pizza diatas meja.


Rigel mengerutkan alisnya tidak setuju. "Enggak ya, lo baru sembuh. Makan bubur dulu."


Azella menatap Rigel memohon. "Terus kenapa lo beli pizza?"


"Buat yang lain."


"Tapi sekarang gue pengennn." Rengek Azella melupakan jika disana bukan hanya ada dirinya dan Rigel saja.


Rigel menghela nafasnya lelah. "Nanti boleh, sekarang makan aja dulu buburnya."


Azella mengerucutkan bibirnya lucu. Gadis itu mengaduk asal buburnya.


Rigel berusaha bersabar menghadapi gadis yang tengah merajuk ini.


"Sini gue suapin." Kata Rigel akhirnya sambil mengambil alih mangkuk bubur ditangan Azella.


"Gak mau, lo aja yang makan."


"Azella, jangan cerewet, lo lagi sakit."


"Udah sembuh."


"Belom Azella."


"Udahh Rigelll."


"Habisin setengah buburnya deh ya, nanti makan pizza siangnya." Bujuk Rigel lagi.


"Aaa buka mulutnya." Suruh Rigel. Azella menurut dengan setengah hati, menerima dengan terpaksa suapan Rigel.


Rigel melihat teman temannya yang menganga seperti orang bodoh menonton dirinya dan Azella. Rigel tidak segan memberikan lirikan tajam sehingga mereka langsung gelagapan dan membuang pandangan mereka dari dirinya dan Azella.


"Gak enak." Lirih Azella pelan yang membuat Rigel memfokuskan padangannya total kegadis itu.


"Makanya sembuh, biar makanannya enak enak."


Mendengar jawaban dari Rigel, Azella hanya mendengus malas kemudian menerima suapan dengan setengah hati.


Gue juga gak mau sakit anjing. Umpat Azella dalam hatinya.


Azella sesekali melempar pandangannya pada pemandangan diluar kaca. Entahlah, Azella tidak sanggup menatap Rigel terlalu lama. Jantungnya seperti demo dan berdetak sangat kencang. Dan lagi pipinya sedikit memanas menerima suapan Rigek. Bisa bisanya Azella kesal dan malu disaat bersamaan. Dan penyebabnya adalah sosok laki laki yang sedang menyuapinya bubur.


Rigel menatap Azella intens seperti menilai sesuatu kemudian menaruh mangkuknya keatas meja.


"Lo bisa bohongin orang lain, tapi gue pengecualian." Kata Rigel tegas sambil menatap Azella.


Buset, ini kenapa Rigel makin ganteng sih. Pikir Azella ketika melihat Rigel dari jarak yang sangat dekat.


Sudah berkali kali Azella mendapat kesempatan menatap laki laki itu dari jarak dekat, namun kenapa Azella selalu merasa kadar ketampanan Rigel malah semakin meningkat.


"Azella." Panggil Rigel lagi.


"Eh- apa?" Tanya Azella tidak fokus.


"Ck, gak." Decak Rigel malas, kemudian memfokuskan pandangannya kepada ponsel ditangannya.


"Idiih, sok sok an." Ucap Azella ketika melihat Rigel mengabaikan dirinya.


"Rigel."


"Hei."


"Lo ngambek?"


"Dih, gitu doang ngambek."


"Yaudah gue pulang ya." Ancam Azella iseng.


Rigel masih belum bergeming.


"Liat apaan sih?" Kepo Azella. "Padahal disini ada cewek cantik, tapi lo lebih betah liatin hp. Jangan jangan lo gay ya."


Sontak saja mendengar perkataan Azella, Rigel langsung melempar ponselnya ke sisi sofa yang kosong disebelahnya. Pandangannya langsung menatap Azella tajam.


"Apa? Coba ulang?" Datar laki laki itu.


Azella menggigit bibir bawahnya gugup. Sungguh dirinya tidak mengira Rigel akan seserius ini.


K-kok gue takut ya, enggak Zell, gak banget lo punya rasa takut sama cowok ini. Lo harus lawan. Harus! Kata Azella dalam hati.


"Kenapa diem?" Tanya Rigel lagi.


"G-gue kan-"


"Apa? Ngomong yang bener." Cetus Rigel mendengar nada suara Azella yang gugup.


Anjir, kosa kata gue kenapa pada hilang sih. Rutuk Azella dalam hati.


"Lo baru gue perlakuin kayak gini jangan ngomong seenaknya sama gue, lo siapa emang? Berani banget lo sama gue. Makin dibaikin makin ngelunjak." Ucap Rigel pedas.


Azella mengerjapkan matanya kaget. Sungguh dirinya tidak bermaksud begitu.


Sahabat Rigel yang lain menatap keduanya bingung. Tadi bermesraan, sekarang bertengkar.


"Apa? Ngomong lagi!" Titah Rigel tajam.


"Gue minta maaf kalau lo tersinggung." Cicit Azella pelan.


"Cih, maaf kata lo. Terserah, lo mau makan atau enggak, lo mau ngapain juga terserah." Tegas Rigel sebelum meninggalkan ruang tamu dan berjalan cepat menuju kekamarnya.


Bahkan sahabat Rigel yang lain menatap Rigel dengan horor. Jelas sekali, Rigel sedang marah.


Azella menatap Rigel penuh arti. Jadi, seperti ini sifat Rigel yang sebenarnya? Emosional, egois, dan sedikit sensitif?


"Zell, gak apa apa?" Tanya Cello pelan.


"Hah? Gak apa apa." Jawab Azella tidak kalah pelan.


"Lo pasti kaget ya?" Yuan mendekati Azella dan duduk ditempat Rigel tadi. "Rigel emang gitu kalo emosi, tapi dia gak pernah lepas tanggung jawab kok."


Azella mengangguk mengerti, meski dalam hatinya masih bingung, entah memang karena dirinya yang kerterlaluan atau Rigel yang sedikit sensitif?


"Sahabat gue itu emang emosional Zell, jangan dibawa serius ya." Celetuk Vixtor.


Azella hanya mengangguk mengerti. "Gue mau keatas ya, mau ngambil headphone." Ucapnya sebelum berdiri dan menaiki tangga dengan pelan.


"Zell, kalau ada apa apa bisa panggil kita." Pesan Seven sebelum Azella menghilang dibalik tangga.

__ADS_1


Azella terdiam lama didepan pintu kamar Rigel yang tertutup rapat. Azella akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk, namun tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Azella membuka pintunya dengan pelan. Azella melihat keadaan kamar yang kosong. Apa Rigel tidak kesini?


Azella menutup pintu dan berniat mengambil ponselnya dan kembali kebawah. Namun belum ada melangkah seketika mata Azella membulat kaget.


"AAAA RIGEL."



Rigel menghela nafas lelah. "Apa?"


"Lo ngapain?" Tanya Azella sambil menutup matanya.


"Mau tidur."


"Ngapain gak pakek baju?"


"Emang gini."


"Pakek, kan ada gue."


Rigel tidak menghiraukan perkataan Azella. Laki laki itu memilih membaringkan dirinya tengkurap dikasur dan memejamkan matanya.


"Rigel gue ngomong sama lo." Teriak Azella tidak terima. Namun laki laki itu masih tetap diam.


"Rigell." Geram Azella lagi. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal kemudian mengambil ponselnya diatas nakas. Ketika akan berjalan keluar tiba tiba tangannya ditarik oleh Rigel.


Brukk...


Azella terjatuh diatas ranjang tepat dipelukan Rigel. Azella merasa pipinya memanas dan jantungnya berdegup dengan kencang.


Duh, Rigel hobi banget buat jantung gue jadi gak normal gini.


"Rigel lepasin." Cicit Azella ketika Azella berusaha melepaskan diri, Rigel malah semakin memeluknya dengan erat.


"Tidur." Suruh Rigel.


"Ih, gak mau, gue mau kebawah."


"Enggak."


"Rigelll." Rengek Azella.


"Lo perlu istirahat."


"Gue udah sehat."


"Gue semalem nemenin lo sampai gak tidur semaleman, sekarang giliran, lo harus nemenin gue." Tandas Rigel, memang benar dirinya tidak tidur semalaman untuk memantau keadaan Azella, apalagi perasaannya terlampau khawatir dengan Azella. Ditambah beban pikirannya ketika mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Azella. Itu semua benar benar membuatnya cukup pusing.


"Y-yaudah gue temenin tapi gak gini." Pinta Azella.


Rigel tidak menjawab, yang terdengar hanya deru nafas teratur dari laki laki itu. Entah Rigel memang tidur sungguhan atau hanya pura pura.


Azella meraih ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari jangkauannya. Gadis itu sudah pasrah dengan keadaannya percuma juga menolak, Rigel tidak akan mendengarkan.


Azella memainkan ponselnya, berselancar di dunia instagram miliknya.


Tapi tidak lama kemudian, entah kenapa Azella seketika merasa ngantuk dengan keadaannya yang seperti ini. Azella merasa terlindungi.


Azella mencari posisi nyaman, dan melempar ponselnya asal setelah mematikan benda tersebut. Kemudian tidak lama Azella ikut tertidur.


Tanpa Azella sadari, Rigel yang hanya berpura pura tidur kembali membuka matanya ketika merasa gadis yang berada didalam dekapannya tidak melakukan pergerakan apapun.


Rigel membenarkan selimut untuk mereka, menaruh ponsel Azella diatas nakas dan menutup tirai dengan tombol otomatis didekat ranjangnya. Sehingga tidak ada cahaya yang masuk dan membuat kamar itu menjadi gelap.


Azella tidak terganggu sama sekali dengan kegiatan Rigel. Bahkan ketika Rigel mengecek suhu tubuhnya Azella tetap tertidur dengan nyenyak.


Rigel membenarkan rambut Azella yang menutupi wajah cantiknya. Memberi kecupan hangat dikeningnya sebelum memeluk gadis itu dengan hangat.


"Azella, gimana lo bisa sampai kayak gini hm? Jangan pernah ngerasa sendiri. I will always be there for you, indefinitely."


..._________________...


"Azella mana, lama banget diatas, kok gak balik?" Heran Yuan sambil menatap lantai atas.


"Liat sana, jangan jangan dia pingsan." Celetuk Vixtor asal.


"Lo jangan ngadi ngadi. Ada Rigel juga diatas paling sama dia." Kata Seven.


"Udah biarin aja njir, nanti juga turun, kayaknya Azella juga belum biasa sama kita." Ujar Cello.


"Gue keatas deh, nanti Azella malah duduk sendiri diatas." Yuan segera melanhkahkan kakiknya menuju lantai atas.


"Yaudah sana." Balas Cello santai.


Yuan menaiki tangga dan melihat beberapa ruangan kosong, kecuali kamar Rigel yang belum dilihat.


Yuan melangkahkan kakinya kesana. Biasanya dirinya tidak berani kekamar Rigel karena itu privasi, tapi disini Yuan sangat kepo.


Yuan membuka pintu dan matanya langsung membola kaget.


"Anjeng, pas baget." Monolognya. Laki laki itu mengeluarkan ponselnya dan memastikannya dalam mode hening.


Cekrek....



"Hehehe, sekali kali ngerjain Rigel gak apa kan?" Puas Yuan melihat hasil bidikannya.


Kemudian Yuan meninggalkan dua insan itu dengan keadaan yang sama tanpa niat menganggu sedikitpun.


Yuan menuruni tangga dengan cepat.


"Ngapa lo? Dimarahin Rigel nih pasti." Tebak Cello.


"Sembarangan anda berbicara. Coba tebak apa yang gue dapet."


"Apa?" Tanya Vixtor malas.


"Palingan gak penting." Ucap Seven.


"Yaelah gini banget punya temen. Lo gak mau tau Frans?" Tanya Yuan menatap Frans serius.


Frans hanya menggelengkan kepalanya tanpa ada niat melihat Yuan sedetikpun.


"OKE FINE!." Kesal Yuan kemudian mengeluarkan ponselnya dan memainkan game, biarkan saja temannya tidak tahu apapun.


..._________________...


Azella menggeliatkan badannya sebelum membuka matanya dengan sempurna. Azella meraba kesamping dan menemukan bantal guling. Dimana Rigel?


Azella bangun dan melihat keadaan kamar yang tidak ada cahaya. Azella melirik jam kecil diatas nakas yang menunjukkan jam 1 siang.


"Udah bangun?"


Azella mengalihkan perhatiannya kepada Rigel yang sudah rapi dengan pakaian miliknya. Sepertinya laki laki itu habis mandi.


"Udah." Jawabnya kemudian.


Rigel mendekati Azella dan duduk dihadapan gadis itu.


"Gue tidur lama banget ya?" Tanya Azella.


"Hm." Jawab Rigel. "Laper?" Tanyanya kemudian.


Azella menggelengkan pelan.


Rigel menarik tangan Azella dan menggenggamnya erat.


"Azella, who is Altheo?"


Deg......


Azella mengerjapkan matanya beberapa kali. Entah kenapa mendengar orang lain menanyakan tentang Altheo, Azella selalu merasa panik.


"K-kenapa?" Gugup Azella.


"Semalem lo manggil nama dia berkali kali."


Deg....


Azella merasa kepalanya berat, tubuhnya mulai gemetar dan jantungnya semakin berdebar dengan kencang.


"Hei. Tenang. It's okay, gapapa kalau lo gak mau jawab." Ucap Rigel melihat keadaan Azella. Laki laki itu segera menarik Azella kepelukannya. Rigel mendekap gadis itu erat dan Rigel bisa merasakan tubuh Azella yang gemetar.


Rigel mengelus punggung gadis itu pelan dan mengecup keningnya berkali kali. Mendekatkan bibirnya ketelinga kanan gadis itu dan berbisik pelan.

__ADS_1


"It's okay, tenang. Jangan takut, ada gue disini."


__ADS_2