RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[12 | Mulai Berbeda]


__ADS_3

SiennaRaendra


Zell, sorry gue tadi lupa bilang, hari ini gue berangkat bareng Seven ke acaranya Zia. Lo gapapa kan on the way sendiri?


Sorry ya...


Azella mengerutkan alisnya membaca pesan dari Sienna.


Nah ini, nasib Azella belum punya pasangan jadi harus berangkat sendiri. Tapi tidak apa - apa, disana dia juga akan bertemu dengan Sienna nanti.


Azella kemudian melirik jam dinding yang terpasang apik di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Acara Zia akan mulai pukul delapan. Jadi masih banyak waktu untuk prepare.


Azella mengecek ponselnya sebentar dan membuka instagram miliknya. Jika diingat ingat sudah lama Azella tidak memposting foto.


Azella melihat lihat halaman instagram miliknya. Meningat kemarin weekend Azella menghabiskan waktu bersama Zia dan Sienna. Hal itu entah kenapa membuat followers instagramnya bertambah drastis. Dan juga teman teman Rigel juga memfollow dirinya, kecuali Rigel sendiri.


Namun pemikiran Azella teralihkan melihat banyaknya orang yang memposting liburan bersama keluarga mereka masing masing.


Ah, Azella merindukan momen momen seperti itu dalam hidupnya. Azella melirik foto berukuran besar yang terpasang atas perapian yang berada dikamarnya.


Semua masih sama, masih bahagia, setidaknya didalam foto.


Akhirnya Azella memutuskan untuk menutup ponselnya karena takut hal tersebut membuatnya menjadi overthinking dan tidak mood.


Azella kemudian berdiri dari ranjangnya dan berjalan turun menuju dapur. Karena dirinya merasa haus. Keluar dari kamarnya, seperti biasa keadaan rumah sepi. Hanya ada satu sampai dua maid yang berkeliaran mengerjakan pekerjaan mereka.


Atlas? Jangan ditanya, kakaknya itu akan pulang kalau mood saja.


"Tumpukan lemak baru bangun."


"****." Kaget Azella saat mendengar suara dari arah belakangnya. Disaat dirinya mengambil minuman di kulkas.


Laki laki jangkung yang memiliki kulit putih, dan jangan lupakan pakaian kantor yang dikenakannya. Hanya saja sekarang jass nya sudah tergantung disebelah punggungnya, menyisakan kemeja putih dan dasi maroon yang juga sudah longgar.


Rambut undercut yang berwarna coklat sedikit aksen merah diatasnya yang juga sudah berantakan.


"Kak Atlas mana?" Tanya Azella pada laki laki itu.


Aksel Orion Hallizton, sahabat kakaknya yang sialnya juga merupakan sepupunya. Anak dari kakak Mamanya.


"Mana gue tau, kan lo adeknya."


Azella menatap laki laki itu tajam. Perlu dicatat. Entah sang pelaku sadar atau tidak, seorang Aksel memang sangat suka membuat orang lain kesal.


"Lo ngapain dirumah gue?" Azella bertanya dengan datar.


Aksel menaruh jassnya dimeja makan kemudian menggulung lengan kemejanya.


"Numpang makan." Jawabnya sambil duduk dan memakan makanan yang disajikan tadi oleh maid dimeja makan.


Azella berjalan mendekat. Dan duduk disebelah Aksel.


"Kalau seandainya waktu itu gue yang mati dan dia yang selamat, apa perlakuan lo bakal lebih hangat?"


Uhuk....


"Lo ngomong apaan sih?" Tandas Aksel tidak suka mendengar kata kata Azella.


Azella menghela nafas pelan, "Gue ngerasa semua berubah setelah kejadian itu. Semua makin sibuk sama dunianya sendiri. Dan gue semakin sendiri." Ucapnya sambil memainkan gelasnya yang sudah kosong diatas meja.


"Zell-"


"Jangan, tunggu, jangan dipotong dulu. Lo doang yang mau dengerin gue, kak Atlas maunya menang sendiri terus, gue gak pernah dikasi kesempatan buat ngomong. Papa sama Mama enjoy sama pekerjaan mereka. Bahkan jarang banget pulang. Kenapa ya, apa gue yang baperan. T-tapi gue juga pengen kayak orang lain. Apa salah?" Ungkap Azella dengan mata berkaca kaca.


Aksel meminum airnya lagi. Entahlah mendadak suasana menjadi panas.


"Zell, lo ada masalah apa? Gue kan bilang, kalau perlu apa apa dateng ke gue, Mama sama Papa kerja juga buat lo, Atlas kan emang gitu Zell, gue udah sering bilang, abang lo sayang sama lo, cuma dia gak bisa ngungkapin aja."


Azella menarik ingusnya, "Hiks, gue tuh pengennya mereka bener-bener ada waktu buat gue. Waktu kecil, semasih ada dia, kita liburan setiap weekend, Papa sama Mama juga jarang keluar kota. Kalau sekarang, jangankan liburan pas weekend, dirumah aja cuma tiga hari." Ujar Azella dengan air mata yang mengalir deras. Azella benar benar mengeluarkan semua unek uneknya.


Aksel menarik lembut kepala adik sepupunya, menaruhnya dibahu tegap miliknya. Membiarkan gadis itu menangis sejadi jadinya.


Memang benar, Azella sudah dewasa, tidak ada yang harusnya disembunyikan lagi. Tapi bukan haknya untuk mengungkapkannya.


...________________...


"Biarkan aku menjaga perasaan ini."


"Oooooo"


"Menjaga segenap cinta yang pernah kau beriii."


"Iiiiiii."


"Engkau-"


"Bentar-bentar, ini kenapa gue dapet bagian ooo iiii ooo iii doang?" Ujar Vixtor bingung.


Saat ini markas Antariksa Gang tepatnya dibagian rooftop, sedang diisi oleh enam anggota inti yang memenuhi ruangan itu. Lengkap dengan Cello yang memangku gitar kesayangan miliknya.


"Suara lo pas disana Vix." Sahut Cello.


"Kacaw kalian." Respon Yuan sambil memainkan ponselnya.


Seven menggelengkan kepalanya pelan. "Mau aja lo dibodohin sama Cello."


"Nanti kan acaranya Zia?" Tanya Cello mengalihkan perhatian.


"Iya, baru jam 6, masih awal kalo mau kesana. Acaranya juga mulai jam 8. Nanti aja jam 7 lebih 30 on the way bareng." Ajak Seven. Laki laki itu menyesap rokoknya sesekali, "Tapi gue jemput Sienna dulu." Lanjutnya.


"Apa-apaan lo bawa pasangan. Mentang mentang gue lagi jomblo." Marah Cello.


Yuan menatap Cello malas. "Sienna kan temennya Zia, yakali gak dateng nyet." Ujarnya gemas terhadap tingkah Cello.


"Lah iyaa, terus Azella sama siapa ya? Apa gue jem-"


"Bacot." Potong Rigel sebelum Cello melanjutkan perkataannya.


"Yaelah Rig, Seven aja boleh, masak gue engga." Rengek Cello berlebihan.


Vixtor melemparkan kulit kacang kearah Cello. "Bukanya gimana, Azella kasihan terpaksa, tertekan dan tersakiti kalo sama lo."

__ADS_1


"Mampos." Ujar Seven puas.


"Sembarangan. Coba aja Rigel ngijinin pasti kita jadi pasangan couple yang menjadi pusat perhatian." Ucap Cello.


Seven tertawa remeh, "Iya, ada princess sama sang buruk rupa dateng."


"Setan lo semua."


...___________________...


Azella memakai gaun merah yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu. Gaun yang memang ketat mencetak body miliknya. Namun Azella sudah terbiasa menggunakan gaun seperti ini di London.


Azella mengecek ponselnya sekali lagi sebelum memasukannya ketas mini yang dibawanya.


Setelah merasa lengkap, Azella berjalan keluar dari kamarnya dan Azella akan menyuruh sopir untuk mengantarkannya. Sebenarnya Azella ingin membawa mobil sendiri, namun entah kenapa perasaannya sedang tidak baik saat ini.


"Kemana?"


"****."


Dikagetin mulu gue sama ni orang.


"Kak, bisa serangan jantung gue. Gue mau ke party temen gue." Sahut Azella.


Aksel memandangnya dengan pandangan menilai. "Sendiri?" Tanyanya kemudian.


"Iya kenapa?" Jawab Azella ngegas.


"Dih, tadi aja nangis ingusan." Balas Aksel.


Atlas tiba tiba muncul dibelakang Aksel. Azella menebak kedua laki laki ini baru saja selesai melakukan gym diruangan privat yang berada di ujung mansion ini.


Karena mereka hanya menggunakan celana olahraga pendek tanpa baju atasan. Dan juga keringat yang masih bercucuran ditubuh mereka.


"Lo mau kemana?" Tanya Atlas langsung.


"Ke party Zia." Sahut Azella cuek.


Kakaknya tidak akan melarang. Hanya saja kelakuan mereka yang seperti peduli padahal biasa saja.


"Jangan pulang larut." Kata Atlas kemudian berjalan menuju kamarnya.


"Tuh, abang lo sayang sama lo, lo nya aja suka ngeluh." Komentar Aksel kemudian meninggalkan Azella yang menatap keduanya dengan pandangan tidak terbaca.


Gue yang suka ngeluh? Atau mereka yang selalu merasa benar?


Azella berjalan masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh supirnya.


Dari rumah Azella menuju hotel dimana party Zia diadakan hanya memakan waktu 20 menit. Selama 10 menit perjalanan semua masih aman, hingga tiba tiba sopirnya mengerem mendadak membuat Azella menjadi kaget, dan disusul dengan bunyi tabrakan mobil. Yang jelas itu bukan mobilnya.


"What happened?" Tanya Azella sedikit panik.


"Nona, anda tidak apa apa?" Tanya sopirnya khawatir.


"Ada apa didepan?" Tanya Azella mengabaikan pertanyaan sopirnya.


"Ada kecelakaan nona, dan sepertinya hal itu memicu ledakan hingga kebakaran." Ungkap sopirnya.


"Lalu kita lewat mana?" Tanya Azella bingung.


Azella melihat kebelakang tidak ada celah untuk mobilnya memutar balik karena dibelakang juga banyak mobil. Kecelakaan itu membuat jalanan menjadi macet.


Azella melirik ponselnya yang sudah menujukan pukul setengah delapan.


"Saya bisa terlamat, saya akan turun dan mencari taksi, kau urus ini." Ucap Azella kemudian keluar dari mobil itu.


Azella berjalan dipinggir yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun Azella tidak peduli, sekarang waktunya mencari taksi. Bagaimanapun Azella tidak enak jika terlambat. Apalagi Sienna sudah tiba disana.


Tinn..tin...


Azella mengerutkan keningnya ketika diperempatan jalan sebuah mobil galaxy aventador berhenti didepannya.


"Masuk." Ucap laki laki dibalik kemudi mobil itu.


Azella mengerutkan keningnya pelan, melirik laki laki itu dengan pandangan malas.


"You have no choice, Azella." Tegas laki laki itu yang berhasil membuat Azella masuk dan duduk disebelahnya.


"Good." Tandasnya bangga.


Sedangkan  Azella hanya memutar bola matanya malas.


Demi planet jupiter. Kenapa harus laki laki ini lagi.


"Seperti biasa, lo selalu ceroboh." Ejeknya angkuh.


"Kecelakaan itu bukan salah gue Rigel." Ketus Azella marah.


"Dengan turun ditengah jalan, heh?"


"Gue gak mau telat." Ujar Azella cepat.


"By the way, thanks."


Rigel hanya melirik Azella, kemudian laki laki itu menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai ditujuan.


Azella menahan nafas melihat kelakuan Rigel yang lugas mengendarai mobilnya menyalip sana sini.


Bangsat manusia ini.


Astaga jantung gue mau keluar.


Rigel berhenti tepat didepan loby yang merupakan tempat untuk tamu VVIP. Rigel berjalan keluar dan melemparkan kuncinya kepada salah satu bodyguard.


Azella mengikuli langkah lebar Rigel dan membuat langkah mereka seirama.


Tentu saja disana banyak flash kamera yang mengarah kearah mereka. Tidak lupa pakaian yang dikeanakan keduanya sangat kelas tinggi dan glamour.


Hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian. Banyak yang mengira mereka adalah pasangan yang serasi dan sempurna. Layaknya dewa dan dewi yunani.


Rigel menyisir rambutnya kebelakang. Pakaian yang dikenakannya simple dan tidak terlalu formal, namun tetap menarik perhatian.

__ADS_1


Azella berjalan lebih dahulu ketika dirinya melihat Sienna. Namun tanpa sadar Azella hampir menabrak seseorang yang berjalan didekatnya karena kurang memperhatikan sekitarnya. Sontak saja Rigel menarik lengan gadis itu.


"Astaga." Kaget Azella.


Rigel menatap Azella malas kemudian menarik tangan gadis itu menuju tempat dimana teman temannya berada.


Cello menatap Rigel dan Azella yang baru saja tiba. "Pantesan gue gak dikasi jemput." Katanya sambil memanyunkan bibirnya. Jujur saja itu tidak terlihat imut sama sekali.


"Pantesan disuruh duluan." Ujar Yuan sambil melirik Rigel dan Azella.


Seven hanya menaikan alisnya heran, "Speechless gue."


Sienna menatap mereka bergantian. "Kalian beneran dateng barengan? Satu mobil?" Tukasnya yang juga ikut terkejut.


Azella menggigit bibir bawahnya gugup, "Yagitu."


"Breaking news nih besok, Rigel dateng sama Azella kepesta. Fix kalian beneran dikira pacaran." Tandas Yuan.


Seven menggelengkan kepalanya, "Sekarang aja udah banyak yang lirik kesini." Ucapnya sambil melirik sekitarnya.


"Gak kenapa, gue ikhlas kalo Azella sama Rigel. Tapi kalo sama yang lain enggak." Ujar Cello.


Vixtor mengerutkan alisnya pelan, "Dih, lo siapanya Azella? Pembantunya?"


Cello menatap datar Vixtor.


"Ck, dah gausah berantem kalian. Malu maluin. Liat noh Azella jadi gak nyaman." Ujar Seven.


Azella yang merasa namanya disebut menaikan pandangannya yang sedari tadi menunduk melihat heels miliknya.


"Sienna, antar Azella ke toilet." Ucap Rigel yang langsung diangguki oleh Sienna.


"Ayo Zell." Ajaknya sambil menarik tangan Azella menjauh.


Setelah Azella dan Sienna hilang diantara banyaknya orang orang. Kelima laki laki itu melihat Rigel dengan pandangan yang sama. Bingung, heran, dan penasaram tentu saja.


Rigel yang merasa diperhatikan mengerutkan alisnya, "Apa?"  Tanyanya malas.


"Kenapa lo bisa barengan sama Azella?"


"Lo jemput dia?"


"Kalian deket?"


"Apa aja yang udah terjadi dibelakang kita?"


"Lo udah apain anak orang?"


Rigel memejamkan matanya sebentar mendengar celotehan pertanyaan dari teman temannya.


Kenapa memangnya? Bagi Rigel ini bukan hal yang besar, apalagi perlu dibesar besarkan.


"Terserah gue." Jawab Rigel akhirnya karena malas meladeni pertanyaan teman temannya.


"Ck, gak seru banget, gue tanyain Azella nanti." Ujar Cello.


"Gak." Tandas Rigel cepat. Rigel menatap teman temannya datar. "Jangan buat dia gak nyaman." Lanjutnya lagi.


"Dih, tumbenan, biasanya juga lo yang buat dia gak nyaman." Balas Vixtor.


Rigel menghela nafasnya berkali kali. "Terserah gue." Cetusnya sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.


Cello melihat Yuan, karena laki laki itu sedari tadi hanya menyimak, "Lo ngapain diem aja? Lo gak kepo?" Tanya Cello.


"Kepo, tapi gue pernah ada diposisi Rigel. Jadi gue gak mau ikut ikutan." Ucapnya kemudian mengalihkan pandangannya. Mengingat bagaimana teman temannya mendadak menjadi wartawan ketika dirinya putus dengan Licia.


Cello menatap Frans karena laki laki itu malah asik nyebat sejak tadi. "Lo gak nyamperin Sienna?"


Frans melirik Cello sebentar sebelum mengepulkan asapnya keudara. "Nanti aja dia yang kesini." Jawabnya singkat.


Cello melirik Vixtor, "Apa? Mau nanya apa lo sama gue?" Potong Vixtor sebelum Cello mengeluarkan suaranya.


"Kaga cuma liat doang, hidup lo mana ada menariknya." Hina Cello dengan bangga.


"Iya sebelas-duabelas sama hidup lo." Ejek Vixtor balik.


"Anying."


"Eh, itu Azella ngobrol sama siapa?" Tanya Seven tiba-tiba ketika melihat Sienna kembali sendiri sedangkan Azella terlihat sedang berbincang dengan seorang pria.


Rigel mengalihkan matanya dari ponselnya melihat Azella.


"Itu siapa sama Azella?" Tanya Seven ketika Sienna sampai dihadapannya.


"Temennya katanya, aku disuruh duluan." Jawab Sienna ikut memperhatikan Azella.


Rigel mengerutkan alisnya tidak nyaman. Mata tajamnya melihat dengan intens semua pergerakan Azella.


"Kalo di film kartun yang sering gue tonton, tatapan matanya Rigel sekarang udah bisa ngeluarin laser api." Bisik Vixtor ketelinga Yuan.


Yuan yang semenjak tadi melihat Azella sontak saja mengalihkan pandangannya kearah Rigel. Dan benar saja laki laki itu sedang menatap tajam Azella dan laki laki yang diajaknya berbicara.


Yuan berbalik menatap Vixtor yang menaikan sebelah alisnya, "Pantesan, gue ngerasa aura disini dark banget." Bisik Yuan pelan.


"Anjir pelukan." Cetus Cello melihat Azella memeluk sebentar laki laki itu kemudian berjalan kearah mereka.


"Itu serius temennya? Kok isi pelukan?" Tanya Yuan penasaran. Ralat, sedikit memanasi keadaan. Karna sepertinya Rigel yang terganggu.


"Katanya gitu, tapi gatau, kayaknya bukan orang indonesia, mukanya barat banget." Cetus Sienna.


"Oh, sama-sama dari London kali, mantannya mungkin." Sahut Vixtor asal.


"Sialan, bayangin aja kalo udah mantan aja masih peluk-pelukan, apalagi pas pacaran." Cello menggelengkan kepalanya pelan, "Ngapain aja pas pacaran ya." Lanjutnya.


"Heh, sempet-sempetnya lo mikir kesana." Kata Seven sambil menendang sepatu Cello.


"Belum tentu mantannya juga bego, lo jangan nyebar gosip." Sela Yuan.


"Udah, ngapain ini didebatin sih." Sahut Seven jengah. "Biarin aja mau pacarnya, sahabatnya, temennya, saudaranya." Lanjutnya sambil menggelengkan kepala gemas melihat tingkah teman-temannya.


"Jangan ada yang ngomongin itu lagi, Azella udah mau deket nih." Kata Yuan cepat melihat Azella berjalan kearah mereka.

__ADS_1


Azella sudah terlihat lebih fresh dan lebih nyaman sekarang. Bisa dilihat polesan make up yang lebih tertata dan juga rambut yang lebih rapi.


Azella berdiri disamping Sienna yang dimana diujung kanan, sedangkan Rigel menatapnya dengan pandangan yang tidak berubah, tajam dan intens dari ujung kiri.


__ADS_2