RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[23 | Prioritas]


__ADS_3

Rigel mengambil gelas ketiganya dan meminumnya dengan tatapan datar.


Laki-laki itu meneguk vodka miliknya dengan nikmat.


"Gimana? Gue bosen liat mukanya."


Rigel hanya melirik seseorang yang berbicara disebelahnya.


"Bentar lagi."


"Dia bisa mati sendiri."


"Gak bakal, gue yang nentuin kapan dia mati."


"Terserah Rigel, lakuin aja sendiri. Gue mau jengukin Azella." Orang disebelahnya berdiri dan mematikan rokoknya. Kemudian meminum sisa vodkanya dan melenggang pergi dari sana.


"Jangan buat Azella sedih, Aksel. Atau lo yang nanti gantiin posisi Jerry." Tegas Rigel dengan suara yang kentara tidak bisa dibantah.


Aksel, laki laki itu meremang memdengar suara itu. Sialan sekali, Azella mencari calon pacar terlalu tinggi seleranya. Aksel saja merinding dibuatnya untuk kesekian kalinya.


"Jadi siapa yang nyuruh lo?" Tanya Rigel langsung ketika hanya mereka berdua yang berada didalam ruangan tersebut. Namun diluar rungan itu ada banyak anggota Antariksa Gang yang berkeliaran. Ruangan mewah tapi didalamnya merupakan tempat untuk membereskan musuh musuh mereka. Entah berakhir dirumah sakit, atau menghilang tanpa jejak.


Tapi sejauh ini Rigel belum pernah membiarkan musuhnya mati karena tangannya sendiri, at least, meningap dirumah sakit kurang lebih enam bulan.


"JAWAB GUE ANJING!?" Bentak Rigel kasar sambil mendang mena yang berisi botol vodka hingga berserakan.


Rigel sangat tahu modelan seperti Jerry tidak mungkin bunuh diri seperti Eraz. Pasti ada dalang dibaliknya.


Rigel menatap Jerry yang juga menatapnya dengan sayu. Jerry merasa seluruh tubuhnya sudah lumpuh.


"Jadi lo lebih milih mati?" Murka Rigel.


"G-gue uhuk... gue gu-"


"HALAH LAMA!"


Bugh...


"ARGH...."


Rigel mginjak tulang rusuk Jerry dengan keras.


"Am-ampun. Gue- ba-bakal bilang."


Rigel mengangkat kakinya. "Liat keatas." Suruhnya kepada Jerry yang terbaring lemah dilantai dasar.


Jerry melihat keatas dimana ada sebuah kotak kaca bening. Jerry tidak mengerti dan kembali melihat Rigel.


"Diatas, itu air garam. Gue bisa lepasin tutupnya sekarang dengan tombol ini." Rigel mengangkat sebuah remote control yang entah sejak kapan sudah berada digenggamannya.


"Kalau lo berani main main sama gue. At least, semua luka lo yang masih baru itu bakal gue siramin air garam." Smirk tipis muncul diujung bibir laki laki itu. Tampak puas, mungkin.


Sedangkan Jerry menganga kaget. Tidak bisa membayangkan nasibnya jika itu benar terjadi.


"Jadi, gue tanya sekali lagi. Siapa yang nyuruh lo?"


"El Fanderson." Jawab Jerry cepat.


Rigel mengepalkan tangannya kuat, kemarahannya sudah di ubun ubun.


Jerry yang melihat untuk pertama kalinya keadaan Rigel yang seperti ini membuatnya gelagapan.


"Rig-gel, be-basin gue please. Set-telah ini gue ja-janji bakal me-menjauh dari lo."


Rigel menatap Jerry dengan tajam. "Lo pengen dibebasin?" Tanya Rigel namun sangat mengintimidasi.


"I-iya."


"KALO GUE SEGAMPANG ITU NGEBEBASIN LO, TERUS KENAPA SEMALEM LO SIKSA AZELLA HAH? DIA UDAH MINTA DILEPASIN KAN? KENAPA LO GAK NURUT? KENAPA?!"


Rigel mendengus kasar, tangannya mutar leher Jerry hingga terdengar suara tulang yang retak.


"Denger, lo nyelakain orang yang salah. Lo berani ganggu punya gue. Of course, ngelepasin lo gak segampang itu."


Jerry menahan teriakan kesakitannya mati matian.


"So, lo pikir ini udah selesai? Gak secepat itu, bahkan ini belum setengahnya. Jadi tunggu aja sampai gue rela ngebebasin lo."


Rigel keluar dari ruangan itu dengan angkuh dan tatapan datarnya.


"Tayo." Panggilnya tegas.


Tayo yang sedang bermain ponsel langsung menaruh ponselnya dan mendekati Rigel.


"Bawa dia kerumah sakit, jangan sampai mati, maybe 8 bulan nginep di rumah sakit, kayaknya oke." Ucap Rigel kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Bener kata Aksel, Antariksa Gang ketuanya sadis banget." Lirih Cello pelan. "TAPI GUE SUKA, GAIS KITA PARTY MALAM INI, BEBAS NGAPAIN JERRY, MINIMAL 8 BULAN DI RS." Katanya berteriak memberi pengumuman.


..._________________...


Azella menatap Aksel yang juga menatapnya.


"Apa?" Tanya Azella setelah hening yang lumayan lama. Tadi Aksel tiba tiba datang dan langsung memberinya tatapan tajam.


"Ceroboh, bego, bodoh, gak waras-"


"Iya iya makasih, semoga anda sehat selalu, panjang umur, dimudahkan rejekinya." Balas Azella malas.


"Zell, gue gak bisa lindungin lo kalo Atlas tau ini."


"Ya lo tinggal sembunyiin dari dia." Kata Azella.


"Lo pikir dia gak bakal tau meski bukan dari lo atau dari gue?" Tanya Aksel jengah.


"Ya-ya gimana ih, gue gak mau dikekang, apalagi diikutin sama mata matanya. Lebay tau gak sih."


"Kita khawatir sama lo, lo kapan ngertinya sih Zell?"


"Iyaa, tapi kan gue udah bilang gue bisa jaga diri-"


"Jaga diri yang berakhir dirumah sakit? Iya? Itu? Untung Rigel gercep anjir, kalo gak gue udah nganter lo kepemakaman kali."


"Ihh, kok lo ngomong gitu, untung gue masi napas."


"Ya makanya lo jangan ngeles kalo dibilangin."


Azella membuang pandangannya dari Aksel, jika sudah kalah berdebat maka jalan ninjanya ya ngambek.


Untung saja runagan inap Azella hanya ada mereka berdua. Teman teman Rigel bilang ingin keluar mencari udara segar. Sedangkan Zia dan Sienna membeli makan siang dikantin.


Ceklek...


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Disana ada sahabat Rigel yang datang kembali.


"Gue takut tar Rigel dateng liat kita gak ditempat eh nanti kita yang rebahan diranjang RS." Ucap Cello menjelaskan kenapa mereka kembali.


Azella terkekeh pelan. "Astaga gak gitu juga kali, gue juga bukan pasien serius."


"Enggak Zell, Cello ngelebihin aja. Kita males diluar malah bikin ribut aja, lo tau ni semua mulutnya kaya cewe." Ucap Yuam yang juga membuat Azella tertawa.


Ceklek...


Suara pintu terbuka kembali mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


Disana, Rigel berdiri dan menatap Azella penuh arti. Laki laki itu menggunakan kaos hitam yang ditutupi jaket jeans dan juga celana panjang hitam. Dipergelangan tangannya terpasang sebuah jam tangan Rolex Oyster Perpetual Milgauss Watches. Sedangkan ditangannya yang satu terpasang ikat rambut Azella yang masih menjadi gelang. Dan dileher laki laki itu ada sebuah kalung yang bandulnya selalu dimasukkan kedalam baju.


Rigel berjalan mendekati Azella, bahkan sejak diam dipintu tadi Azella sudah bisa mencium bau parfum milik Rigel. Ruangan yang hening seketika membuat ketukan sepatu dan lantai yang terjadi ketika Rigel berjalan terdengar nyaring.


Aksel berdiri dari duduknya berjalan sedikit menjauh dari aura Rigel yang mencekam.


"Gimana? Apa kata dokter?" Tanya Rigel sambil mengelus pelan kepala Azella.


"Besok udah boleh pulang." Jawab Azella senang.


Rigel mengerutkan alisnya. "Beneran? Kayaknya kamu perlu seminggu disini deh." Ujar Rigel membuat lengkungan senyum manis Azella memudar.


"Jahatt." Lirih Azella yang lebih terdengar manja.


"Tadi sarapannya habis?" Tanya Rigel.


Azella hanya tersenyum manis. "Habis." Jawabnya senang.


"Mau makan siang apa?"


"Mau pizza-"


"No."


"No."


Bukan hanya Rigel, tapi Aksel juga ikut menjawab.


"Padahal pengen." Lirih Azella.


"Kamu harus makan yang sehat Zell, biar cepet pulih." Ujar Rigel sabar sambil mengelus rambut Azella yang halus.


Azella masih diam tidak menjawab, sedangkan Rigel setia melihat satu persatu luka Azella apakah sudah membaik atau tidak.


Dalam hati Rigel menggeram kesal, berani sekali Jerry membuat wajah cantik Azella begini. Untung saja Rigel sudah melampiaskan emosinya kepada Jerry, jika tidak mungkin dia tidak akan sedikit lebih lega sekarang.


Dan sepertinya mereka melupakan sahabat Rigel yang menatap interaksi mereka yang sedikit berbeda, dengan berbagai pandangan aneh dan tingkat kepo yang tinggi.


"Yaudah apa aja jangan bubur." Ujar Azella akhirnya.


Rigel mengangguk mengerti.


"Gitu dong, jangan yang aneh aneh." Gumam Aksel yang masih dapat didengar.


"Ih, komen aja lo." Tandas Azella kesal. Kemudian pandangannya beralih kepada Rigel. "Kamu kemana tadi?" Tanya Azella.


"BENTAR, SEJAK KAPAN KALIAN PAKEK AKU-KAMU?!"


Pertanyaan Cello malam itu hanya disambut keheningan oleh dua insan yang terkait.


...____________...


Sinar mentari pagi yang mulai masuk disela sela jendela kamar Azella, hal itu sukses membuat sang pemilik kamar merasa terganggu dari tidurnya. Azella mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memandang langit langit kamarnya dengan sempurna.


Sudah satu minggu Azella tidak masuk sekolah karena kejadian waktu itu. Bukan karena sakit Azella yang parah. Tapi menyembuhkan lebam lebam diwajahnya yang tidak cukup memakan waktu sebentar.


Dan, setelah kejadian itu, yang terpenting adalah, Azella yang tidak bisa melupakan nama Rigel. Nama laki-laki itu dan sosoknya masih membekas sampai saat ini dihati Azella. Azella masih ingat perlakuan Rigel akhir akhir ini yang sangat sweet. Dan membuat Azella hampir meleleh total. Laki-laki itu bahkan menjaganya bersama Aksel dirumah sakit.


Mereka sudah seperti pacaran saja. Padahal hanya teman.


Hah, Azella tersenyum miris jadinya.


Bayangkan saja, dari panggilan aku-kamu yang Azella sendiri tidak tahu siapa yang mulai dan kenapa bisa terbawa arus. Belum lagi sahabatnya dan teman teman Rigel menggoda mereka habis habisan. Rigel hanya diam tidak mengelak godaan sahabatnya, tapi Azella sangat malu.


Dan parahnya lagi, jangan lupakan Aksel yang mecurigai Azella berpacaran diam diam dengan Rigel.


Tapi disamping semua itu. Azella tidak bisa berbohong hatinya tidak pernah baik baik saja jika berada didekat Rigel. Selalu ada getaran aneh didalam sana, dan kupu kupu yang bertebaran diperutnya. Astaga, apa Azella sungguh jatuh cinta? Hell nah.


Memang seperti apa rasanya jatuh cinta?


Ini terlalu rumit untuk Azella. Karena Azella tidak ingin menambah luka didalam hidupnya. Karena Azella sendiri tidak tahu jika perlakuan Rigel nanti akhirnya akan meninggalkan goresan luka atau sinar kebahagiaan untuknya.


Azella kembali memutar tubuhnya mencari posisi yang nyaman, sepertinya Azella ingin kembali tidur, tidak tahu harus melakukan apa selain tidur.


Banyak orang bilang menjadi orang kaya itu menyenangkan. Iya, benar, jika keluarga mereka lengkap, harmonis dan pengertian semua.


Tapi sayangnya keluarga Azella jauh dari itu semua. Jangan tanyakan soal finansial, dan materi yang diberikan, Azella tidak akan sanggup menghitungnya. Tapi jika soal saat dimana mereka bisa berkumpul, bercanda, tertawa, dan berbagi cerita bisa dihitung dengan jari. Sayangnya mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing masing.


So sad...


Azella terlihat menyedihkan? Atau Azella yang kurang besyukur?


Dan sebenarnya disini, Azella bukanlah seutuhnya gadis kuat seperti yang orang lain lihat. Azella terlalu lemah dan sangat ceneng untuk membahasnya semua permasalahannya. Azella takut menangis tersedu sedu didepan orang tuanya, Azella takut orang tuanya mengungkit kejadian lama yang membuat mental Azella down lagi.


Ya, miris memang, kehidupan Azella penuh dengan ketakutan. Ketakutan akan bayangannya sendiri. Ketakutan akan hal yang belum tentu terjadi. Intinya Azella terlalu takut untuk terluka lagi.


Tok...tok...


Azella melirik jam didinding sebelum melirik pintu yang diketuk, jam menujukkan sudah pukul delapan pagi, dan ini hari jumat. Bisa Azella tebak yang dibalik pintu itu adalah Aksel.


"Masuk." Ucap Azella masih dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Benar saja dugaan Azella, Aksel langsung masuk kekamarnya sambil sibuk memasang dasi.


"Zell, gue kekantor dulu, katanya Atlas pulang malam ini, gue gak tau dia udah tau apa belum soal kejadian waktu itu." Ucap Aksel tanpa melirik Azella.


"Lah, kan lo udah janji gak bilang." Protes Azella.


"Gue emang gak bilang, tapi bukan berarti Atlas buta Zell."


Lah iya juga.


"Ya terus gimana? Lo belain gue pokoknya, gue gak mau diikutin sama bodyguard kemana mana. Kayak anak kecil aja."


"Gue ada rapat malam ini neng."


"Dih, boong banget."


"Beneran, mending lo ikut gue kekantor daripada ngebo disini."


"Ngapain?"


"Asisten pribadi gue libur, mungkin lo bisa gantiin dia-"


"Ogah, lo kira gue babu."


"Ck, serah, gue berangkat dulu."


Azella memutar bola matanya malas. Gadis itu bangkit dari ranjangnya dan berdiri didepan cermin. Azella memperhatikan wajahnya yang sudah membaik, bahkan hampir tidak ada bekas luka yang terlihat, dan Azella bisa menyamarkannya dengan make up juga.


Oke kan, aman berarti Atlas gak bakal curiga.


Tapi gimana kalo dia punya mata mata ya?


Azella menggaruk rambutnya asal. Sialan sekali Aksel pergi mencari aman dari amukan Atlas.


Azella sungguh bingung harus bagaimana didepan Atlas. Kadang Atlas memang terlihat tidak peduli, tapi jika menyangkut nyawa, Atlas bisa sangat sensitif dan menjadi over protektif. Azella tidak berani membantah Atlas terlalu keras sebenarnya. Karena Atlas marah itu juga seram bagi Azella.


Ting...


Azella kembali berbalik keranjangnya dan mengambil ponselnya. Matanya melebar ketika melihat seseorang yang baru tadi menghantui pikirannya sekarang malah mengiriminya pesan.


*AtlasJason*** *

__ADS_1


Tar mlm gue balik ke jkt, lo hrs dirmh*.


Azella memejamkan matanya pasrah membaca pesan Atlas.


Ini dia artinya udah tau kan? Astaga Tuhan.


AzellaQierra


Y


Gue takut banget Atlas tau, gimana dong ya? Pikir Azella tidak tenang.


"Gue harus bisa terlihat biasa aja."


Azella berjalan mendekati cerminnya lagi.


"Hai kakak ganteng." Ucap Azella didepan cermin berlagak seperti berbicara dengan Atlas nanti.


"Bukan itu keliatan banget gue aneh."


"Ngapain lo pulang?"


"Lah itu malah mancing amarah, jangan - jangan."


"Kenapa gak ngasi gue keluar? Gerah ni dirumah segede ini gue cuma sendiri."


"Bentar, kok nyesek gue jadinya."


"AAAA GIMANA INIIII, ASTAGA TUHANNN." Teriak Azella kemudian meloncat bebas keranjangnya. Untung saja ranjangnya mahal, jadi tidak rusak.


..._________________...


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesenin."


"Bakso deh, tapi jangan pedes ya, aku gak suka pedes."


"Iya, apasih yang enggak buat kamu."


Rigel melirik malas Cello dam Vixtor yang sedang menggodanya karena panggilan aku-kamu yang mereka dengar di rumah sakit saat bersama Azella kala itu.


Bukan sekali dua kali, tapi sering Rigel mendengar mereka menggodanya dengan cara demikian. Bukanya kesal, Rigel sendiri malah sedikit infeel melihat mereka. Seperti pasangan gay saja.


"Lo kenapa Rig?" Tanya Cello menatap wajah kesal Rigel, seolah dia tidak tau kenapa Rigel terlihat kesal.


"Iya mukanya kusut amat." Ujar Vixtor juga sambil menaik turunkan alisnya.


"Lah ditanya malah makin dalem natapnya, gue jadi panas dingin nih Rig." Cerocos Cello ketika Rigel semakin menatapnya tajam.


"Lo salah nanya Cell. Harusnya gini." Ucap Vixtor kemudian menatap Rigel dengan wajah polos. "Kamu kenapa wajahnya kayak gitu, hem?"


"BAHAHAHAHAHAHAHA Bangsat." Ucap Vixtor dengan kencang.


"Anjing lo." Umpat Seven sambil menahan tawanya. Tidak mengerti lagi dengan tingkah aneh teman temannya yang lain.


"Gue tau nih sekarang." Ucap Yuan membuat mereka semua memandang laki laki itu penasaran.


"Itu, Rigel galau karena Azella gak sekolah. Kan gak ada yang diapelin hahahaha anjing ngakak." Cetus Yuan sambil menyeka air matanya yang hendak keluar karena tertawa.


"Sialan kalian." Umpat Rigel.


Untung saja mereka ada di rooftop sekolah seingga percakapan mereka hanya mereka yang tau.


"Capek ketawa gue." Keluh Cello.


"Kamu capek sini aku pijitin." Mulai Vixtor lagi.


"By the way, kalian cocok banget jadi pasangan gay." Celetuk Frans yang sejak tadi diam. Dan tentu saja itu dibalas tatapan permusuhan dari Cello dan Vixtor. Sedangkan yang lain menyemburkan tawanya. Termasuk Rigel yang smirk tipis.


"Rigel sekalinya jatuh cinta, sampai Antariksa Gang ikut turun tangan." Tukas Seven.


"Bener, tapi modelan Azella emang pas banget buat Rigel." Kata Vixtor.


"Udah body goals, keliatannya smart banget, terus muka blasterannya itu lo bikin daya tarik banget, anjing, cobak aja gue jadi yang jadi Rigel" Ujar Cello.


"Lo ngapain merhatiin Azella segitunya?" Cetus Rigel dingin.


"Nah, mampus, kasik pelajaran aja Rig, tendang dari rooftop juga gapapa." Kompor Vixtor.


"Lah, kok lo gitu, kan tadi lo juga ikutan?!" Keluh Cello.


"Tadi, kalo udah Rigel marah gue lepas tangan." Jawab Vixtor santai.


"Bajingan." Umpat Cello.


"Rig, jujur bukan gue aja yang merhatiin Azella, tapi Yuan juga kan?" Ucap Cello gamblang.


Yuan yang merasa namanya disebut langsung kaget dan memberikan tatapan protesnnya kepada Cello.


"Enak aja! Lo ngapain bawa bawa gue?!"


"Beneran, coba deh, lo kan suka cewek yang smart ya-"


"Gak juga anjir, buktinya mantan gue kayak anjing." Jawab Yuan cepat.


"Yakan beda konsep." Cetus Vixtor.


Rigel memutar matanya malas melihat teman temannya. Laki laki itu mengisap rokoknya dengan nikmat.


"Yan, lo gak ada nemu berita terbaru tentang keluarga El Fanderson lagi?" Tanya Rigel.


Yuan melihat Rigel dengan pandangan serius. "Enggak ada Rig, cuma itu aja." Jawabnya tegas


Rigel menghela nafas berat.


"Menurut gue, El Fanderson ada disekitar kita." Ucap Rigel setelah mereka sekian lama hening.


"Gimana gimana?" Tanya Cello kebingungan.


"Iya, gue sempet mikir gitu. Soalnya kok dia bisa tau Azella sebelumnya punya masalah sama Jerry?" Ujar Yuan.


"Azella gak tau dibelakang Jerry dalangnya yang asli El Fanderson kan?" Tanya Seven.


"Enggak." Singkat Rigel.


"Lo gak ada niatan ngasi tau? Kali aja Azella kenal." Saran Cello.


"Gue tanya Aksel dia bilang gak tau, gue harus ngomong dulu sama Atlas." Jawab Rigel.


"Sejauh yang gue tau. El Fanderson ada disekitar kita dengan nama yang berbeda. Maksud gue identitas palsu." Lanjut Rigel lagi.


"Gue beneran gak ngerti kenapa dia bisa nargetin Azella." Ucap Seven.


"Gue masih ragu, dia sebenernya nargetin gue yang dateng atau emang Azella." Cetus Rigel.


"Jadi?" Tanya Yuan menunggu jawaban Rigel.


"Cari tau siapa yang pakai identitas palsu disini."


"Dan Azella gimana Rig? Bahaya dia juga kan jadinya?" Tanya Seven.


Rigel mengangguk membenarkan.


"Terus kapan lo mau ngomong ke Atlas?"

__ADS_1


Rigel hanya diam tidak menjawab.


"Intinya, sekarang prioritas gue Azella." Kata terakhir Rigel sebelum meninggalkan rooftop siang itu.


__ADS_2