
"We setan, jadi lo maunya sama Helena apa sama Viren?" Tanya Cello ketika melihat ponsel Yuan. Tepatnya aikasi chat dimana Viren dan Helena menjadi dua orang yang dekat dengan Yuan diwaktu yang bersamaan.
Yuan, laki laki yang akan segera menjadikan mantannya sebagai ibu tirinya itu menggeleng saja menanggapi pertanyaan Cello.
"Gimana sih, lo harus pilih dong salah satu." Tegas Cello tidak terima.
"Yaelah Cell, kayak lo ga gitu aja." Sahut Seven.
Cello melihat Seven bengis. "Karna gue gitu, karna gue tau itu perbuatan salah, gak boleh dicontoh, biar gue aja, temen temen gue gak boleh gitu." Tegas Cello terlihat serius.
"WAHHH WAWWW AKU PADAMU MAZZ." Ucap Vixtor spontan.
"Makanya ngab, kalo belom move on gausah sok sok an cari pelampiasan." Saran Cello lagi.
"Siapa bilang gue belom move on? Sembarangan anda bersuara." Ucap Yuan tidak terima.
"Ya terus, lo pilih Helen atau Viren?"
Yuan tampak mengerutkan alisnya seperti berfikir keras. "Emmm... gak ada."
Cello menghela nafas lelah. "Serahh, beban banget nasehatin lo." Acuhnya.
"Terus lo gimana anjing?! Lo juga banyak ceweknya kann?!" Yuan melempar pertanyaan balik.
"Yakan itu dosa gue mau gue mainin atau gimanain. Pokoknya temen temen gue gaboleh gitu." Ujarnya.
"Emang titisan setan ya, padahal tau dosa mainin cewek tapi tetep dilakuin." Vixtor menatap Cello heran.
"Udah anjer, dari pulang sekolah sampai malem ini, kalian gak beres beres bahas ini." Keluh Seven menatap Cello dan Yuan.
"Gue lagi nasehatin temen lo ngab." Jawab Cello cepat.
Seven hanya menghela nafas jengah, masalahnya Cello menasehati Yuan seperti mengajak berkelahi.
Jangan tanyakan dimana Frans, laki laki itu memang sering tidak disadari kehadirannya karena memang jarang berbicara.
Saat ini mereka sedang berada diruang tamu markas yang dimana hanya ada anggota inti, yaitu mereka saja. Karena mereka memang memiliki satu bangunan yang hanya boleh dimasuki oleh mereka saja. Entah untuk membahas strategi baru atau rapat. Yang jelas itu ruangan privasi mereka.
Namun, Rigel tidak ada bersama mereka, laki laki itu berkata ada sedikit urusan.
"Malem malem ini enaknya nyebat." Celetuk Vixtor tiba tiba kemudian berjalan kearah jendela besar dengan pemandangan kolam renang dan tidak lupa ada pepohonan disekitarnya.
"Si Eraz apa kabar?" Tanya Seven Random.
"Mana gue tau, emang gue emaknya." Sahut Vixtor asal.
"Gue serius anjir, masih koma dia?"
"Kayaknya masih, terakhir gue dapet laporan katanya dia patah tulang bahu sama leher. Kakinya udah pasti lumpuh si." Jawab Yuan.
"Terus BlackStar yang lain?" Kepo Cello.
"Enggak tau, Rigel bilang biarin aja, bagus kalo mereka bisa ngambil pelajaran dari nasibnya Eraz, kalo enggak ya, yaudah say good bye." Jawab Yuan acuh.
"Anjir, enak ya jadi Rigel." Ucap Cello.
"Iyalah ngab, apa aja bisa didapetin." Tukas Seven.
"Coba aja gue jadi Rigel, gue suruh Bokap gue beliin gue club sebanyak banyaknya biar gue puas." Kata Cello.
"Kalo gue jadi Rigel, gue suruh Bokap gue beliin gue pesawat pribadi ya buat travel seminggu sekali lah." Ucap Yuan ikut berandai andai.
"Kalo gue ni-"
"GAUSAH SOK JADI ORANG MISKIN YA KALIAN, DIBUAT MISKIN BENERAN MAMPUS." Teriak Vixtor memotong ucapan Seven.
"Yaelah Vix, gue ngomong juge belom." Protes Seven.
"Ya tetep aja ngab, Cell, lo bisa beli berapapun club yang lo mau, tapi lo gak diijinin kan, soalnya Bokap lo tau lo bakal salah gunain. Lo juga Yan, mana mau dibeliin pesawat, lo taunya travel doang, sekarang aja udah gak pernah pulang kerumah, makin jarang lo dirumah kalo lo dibeliin pesawat pribadi." Jelas Vixtor panjang lebar.
"Yakan seandainyaa." Gemas Cello.
"Makan aja tuh seandainya, Tuhan adil, manusia kayak kalian mana dikasi orang tua seroyal Om Diego."
"Udah Ngab, nih orangnya dateng." Cetus Seven melihat Rigel baru memasuki ruangan mereka.
"Kenapa Rig? Muka lo datar amat." Tanya Cello ketika melihat wajah Rigel yang terlampau datar.
Rigel menatuh sebuah map diatas meja.
"WAW, apa ini?" Tanya Vixtor lebay.
"Cari tau, latar belakang keluarga Fanderson. Kalian bisa minta tolong sama Xiever, tangan kanan gue di keluarga Diego." Ucap Rigel.
"Siapa Fanderson?" Bingung Yuan.
Rigel menatap sahabatnya yang juga menatapnya.
"Salah satu orang yang kemungkinan harus gue akhiri kehidupannya di dunia." Serius Rigel.
Sahabatnya mengangguk mengerti. Berarti masalah ini bukan hal sepele bagi Rigel.
"Oke oke, tapi ini apa?" Tanya Seven menunjuk map tadi.
"Data penting, gue bakal jelasin kalau kalian udah ketemu data latar belakang keluarga Fanderson. Gue mau kita fokus satu satu. Ini penting buat gue." Ucap Rigel yang diangguki yang lain.
"Kenapa lo gak minta Bokap lo Rig? Kan koneksinya banyak? Ini salah satu pengusaha Kapal Pesiar kan?" Tanya Yuan sambil melihat ponselnya. Jangan ragukan kemampuan Yuan dalam mengstalk seseorang.
"Gue yang gak mau, Bokap gue terlalu besar pengaruhnya kalau dia ikut nyari tau." Jawab Rigel tegas. Dia memang tidak bisa bermain main dengan koneksi Daddynya, lagipula ini masih dugannnya.
Rigel menghela nafas pelan, jujur saja kepalanya sangat pening malam ini. Mendengarkan penjelasan Daddynya selama empat jam sukses memberikannya teka teki yang besar. Bukanya mendapat pencerahan Daddynya malah membuatnya semakin penasaran. Sialnya Rigel tidak bisa berhenti. Ada hal yang dipertaruhkan disini. Mau tidak mau Rigel harus menelusuri lagi.
..._______________...
Azella melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, matanya menatap ruangan disetiap mansionnya yang kosong, dan hampa, seperti tidak ada tanda tanda kehidupan. Percuma mewah tapi tidak ada yang menganggapnya berarti.
Ibaratnya Azella hanya putri yang terjebak diistana yang besar. Dan Azella sangat kesepaian.
Memang jika dilihat dari luar, mansion ini akan terlihat mewah dan penuh kehidupan. Tapi sebenarnya didalamnya kosong, dan tidak terlalu berpenghuni.
"Mau kemana lo?"
Azella terlonjak kaget ketika mendengar suara Aksel. Sudah berapa kali laki laki ini membuatnya kaget?
"Astaga, lo tuh, suka banget buat gue kaget." Protesnya kesal.
"Apaan, lo aja yang suka ngelamun." Tandasnya yang sialnya menurut Azella sendiri benar.
"Y-yaudah si."
"Mau kemana lo?" Ulang Aksel.
Laki laki itu terlihat shirtless dengan handuk kecil dibagunya tidak lupa sepiring cupcakes yang dibawanya.
__ADS_1
"Lo mau ngapain?" Tanya Azella tanpa menghiraukan pertanyaan Aksel sebelumnya.
"Mau nonton diatas."
"Ngapain bawa handuk?"
"Tadi habis ngelap kompor didapur pakek handuk." Ucap Aksel asal. Kesal dengan Azella yang malah menanyainya balik.
"Gue abis lari keliling mansion tadi." Ketusnya kemudian ketika melihat Azella mengangguk seperti orang bego yang memepercayai ucapan konyolnya. Entahlah Aksel merasa Azella sering tidak fokus akhir akhir ini.
"Lo mau kemana Azellaa? Jangan buat gue ngulang pertanyaan gue kesekian kalinya."
"Gue mau keluar, bosen gue."
"Mau gue temenin?" Pertanyaan Aksel membuat Azella memberikan tatapan horornya. Memilih Aksel untuk menemaninya keluar adalah keputusan terakhir yang akan diambil Azella.
Mengingat kejadian di club yang entah kenapa membuat Azella was was jika mengajak Aksel keluar.
"Engga, gue sama temen." Bohong Azella.
Aksel mengangguk mengerti, memang Aksel yang paling paham dengan kebiasaan Azella yang suka menghindari kesepian.
"By the way, waktu ini gue kesana, diajak Refvino, Atlas juga ikut."
Azella mengerjapkan matanya beberapa kali agar pikirannya tetap terkontrol.
"O-oh yaudah, gue keluar dulu, gausah ditungguin, mungkin gue nginep dirumah temen." Jelas Azella singkat kemudian segera berjalan cepat keluar dari mansion besar itu.
Aksel menghela nafasnya kasar, Aksel sadar dirinya tidak boleh terlibat terlalu jauh. Tapi jika terus dibiarkan maka akan semakin berdampahk buruk.
...__________________...
Azella mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, gadis itu mencari cafe yang bisa dijadikan tempatnya untuk menghabiskan waktu.
Azella menggigit jarinya ketika memikirkan perkataan Aksel tadi. Entah kenapa otaknya cepat sekali mengingatkannya kepada kejadian masalalunya itu.
Azella menggeleng beberapa kali ketika berusaha memfokuskan dirinya untuk menyetir. Azella meraih ponselnya dan menghubungi Zia.
"Halo Zi?" Sapanya ketika panggilan dijawab.
"Bentar Zell, gue lagi di rumah nenek, lagi ada dinner keluarga."
"Ohh, okey okey."
Tutt...
Azella menatap ponselnya ketika panggilannya terputus, sepertinya Zia sedang sangat sibuk.
Kemudian gadis itu menghubungi Sienna, mungkin gadis itu bisa menemaninya malam ini.
"Halo Na?"
"Iyaa Zell, kenapa? Maaf berisik gue lagi di mall nemenin nyokap belanja."
"Ohh, yaudah, lanjut aja dulu, have fun."
"Eh, lo kenapa?"
"Gak kenapa, gue gabut aja hahaha."
"Oh gitu, yaudah sorry ya."
"Gapapa, gue mau nonton film aja." Bohong Azella.
"Okay okay, byebye."
Tut....
Azella menghembuskan nafas kasar, apa hanya dia saja manusia yang tidak memiliki kegiatan sehingga menganggu kegiatan orang lain?
Azella menaruh ponselnya asal, Azella akhirnya memutuskan untuk berkeliling saja, lagipula jalanan cukup ramai untunya. Azella melihat pergelangan tangannya yang memakai jam dan menunjukkan pukul sembilan malam.
Ah iya, Azella kenapa tidak menghubungi Clarine saja ya? Mereka kan cukup akrab? Maybe.
Azella kembali meraih ponselnya dan mencari kontak Clarine dan menghubungi gadis itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif-"
Azella menghela nafas benar benar pasrah. Sudahlah, Azella memang harus sendiri terus sepertinya.
Azella bingung harus kemana, Azella bahkan tidak tahu jalan yang diambilnya akan membawanya kemana, hingga seketika Azella memasuki sebuah kawasan perumahan yang entah kenapa jam segini sudah sepi. Azella menyusuri jalanan itu cukup lama, Azella sedikit senang melihat lampu lampu jalanan dikawasan itu yang unik dan ada quotes disetiap tiangnya.
"I smile like an idiot, when I think about you!" Azella mengangguk beberapa kali membaca quotes yang sempat dibacanya ditiang lampu.
Azella semakin tertarik untuk membaca sampai akhir. "When you can't look on the bright side, i will sit with you in the dark." Baca Azella lagi.
"Bagus bagus banget kata katanya." Pujinya sambil memperhatikan sekitar.
Pantulan lampu jalanan yang sangat terang, dan juga papan yang bertuliskan quotes cukup besar, membuat Azella membaca setiap quotes nya dengan mudah.
Azella menggeleng pelan, setelah merasa salah haluan. Karena bukanya ketemu jalan raya, Azella malah menemukan kawasan yang semakin sepi. Langsung saja Azella membuka maps, untuk kembali kejalan raya. Setelah menemukan rute akhirnya Azella memutuskan berbalik kearah jalan sebelumnya.
"I don't feel sorry for myself"
"Care if your hands touch somebody else"
"Wouldn't get jealous if you're happy"
"It's okay if you forget me"
"I don't feel empty now that you're gone"
"Does that mean it didn't mean nothing at all?"
"But I'll tell you what the worst is"
"It's the way it doesn't hurt"
"When I wish it did"
Azella mengikuti alunan musik yang tidak sengaja didengar diradio mobilnya. Salah satu lagi favorite Azella yang dinyanyikan oleh 'Astrid Smeplass', dengan judul It's okay if you forget me.
Azella melirik kaca spionnya dengan perasaan aneh, sepertinya sedari tadi ada yang mengikutinya. Laki laki dengan motor dan sepertinya Azella familiar dengan wajahnya.
Alis Azella yang semulanya mengkerut seketika kembali kesemula dengan pupil mata yang melebar. "****, itu Jerry." Umpatnya kaget.
"Sialan, kok dia ngikutin gue." Tandas Azella tidak mengerti.
Azella menggigit bibir dalamnya menebak apa alasan Jerry mengikutinya. "Astaga, dia pasti hafal sama mobil gue."
Azella tidak ingin mencari masalah kali ini, sungguh dirinya sudah banyak masalah. Azella mencoba melajukan mobilnya lebih kencang, namun sialnya, Jerry juga melakukan hal yang sama. Azella menyipitkan matanya lagi ketika melihat Jerry diikuti lagi oleh sekitar 5 laki laki, apa Jerry sengaja memanggil teman temannya?
Azella heran kenapa mereka tidak mencoba menghentikan laju mobil Azella? Ya walau Azella sendiri tidak ingin hal itu terjadi. Apa mereka hanya menakut nakutinya? Apa sebenarnya motifnya? Ah, Azella bisa gila sekarang.
__ADS_1
Azella tidak mengerti kenapa jalanan saat ini sangat sepi, padahal ini kawasan perumahan. Malah jalan raya masih jauh. Apa yang Azella pikirkan ketika masuk kekawasan ini tadi?
Azella merutuki kecerobohannya. Azella berharap ada mata mata dari Qierra yang mengikutinya, meski tidak mungkin karena Azella sudah protes ke Atlas beberapa waktu lalu, agar dirinya tidak dimata matai lagi karena jujur saja Azella tidak nyaman. Azella merasa tidak bebas. Dan sayangnya kala itu Atlas menyetujui keinginannya.
Dan saat ini Azella sangat menyesali itu jika mengetahui akan ada kejadian seperti ini.
"Gosh." Umpatnya lagi.
Hell, Azella sepertinya salah mengambil haluan, buktinya dirinya semakin jauh dari kawasan jalan raya, ****, tidak mungkin Azella memutar balik. Kecuali ada jalan pintas.
Azella mengambil ponselnya. Membuka aplikasi chat dan menemukan nama seseorang yang bisa jadi ide terbaik untuk bisa dimintai tolong agar menolongnya.
Azella saja sudah mulai pusing mengendarai mobil secepat ini.
Tanpa menunggu Azella segera menghubungi orang tersebut.
"Halo?" Sapa Azella tidak sabaran sesekali Azella memperhatikan kaca spion, meski fokusnya tetap pada jalanan didepannya.
"Azella, kenapa?"
"Tolongin gue, gue..." Azella bingung menjelaskannya bagaimana. Matanya fokus menatap kaca spion memantau pergerakan Jerry dan teman temannya.
"Hei, calm down." Sahut suara diseberang sana.
"Help please, Jerry ngikutin gue, sama lima- eh udah banyak temennya." Kaget Azella melihat sudah sekitar sepuluh orang mengikutinya.
"Oke. Tenang. Share loc, okay?"
"Okay, tapi cepetan." Ujar Azella tidak tenang.
"Oke."
"Udah, gue udah share loc."
"**** Azella, you still driving?"
Azella bisa mendengar suara sedikit panik diseberang sana, Namun Azella segera mematikan ponselnya sepihak ketika melihat Jerry semakin dekat dengan mobilnya. Gadis itu berusaha menjauhkan mobilnya kembali. Sungguh ini rekor tercepat Azella membawa mobil.
Sekarang Azella hanya bisa berharap penolongnya datang untuk menolongnya.
Azella melihat kawasan yang semakin sepi, sial, Azella benar benar salah mengambil haluan. Azella terperanjat kaget ketika sebuah motor dengan suara yang kencang berhasil menyamai mobilnya.
Tinn....tin.....
"****, Jerry deket banget sama gue."
Azella semakin berusaha maju namun naasnya Azella terkejut melihat teman Jerry yang lain sudah menghadang mobilnya didepan sana.
Azella terlampau terkejut, pikirannya kemana mana, hingga tanpa sadar Azella refleks langsung memutar stirnya kearah kanan.
Brakkkk......
Azella speechless melihat keadaan mobilnya yang menabrak pambatas jalan. Azella mengggigir pipi bagian dalamnya, jantungnya berdegup dengan sangat cepat.
"KELUAR LO!!"
Azella mendengar Jerry berteriak kesetanan disana.
"****, KELUAR *****!!!"
Prang......
Azella menutup kedua telinganya ketika kaca dibelakangnya dipecahkan menggunakan batu.
Azella tidak punya pilihan lain. Sialnya mereka berbanyak tapi menyerang dirinya yang jelas jelas perempuan disini.
"Pengecut, beraninya sama cewek." Ejek Azella ketika keluar dari mobil.
Anggap saja Azella bodoh karena keluar mobil, tapi dirinya tidak suka juga jika harga dirinya diinjak injak.
"Liat sampe mana lo bisa ngomong gitu, lo berani teriak kita bakal main kasar malam ini. Aman aja, lo nurut buat kita gilir, lagian cewek kayak lo, palingan udah sering digilir, hahahahaha." Kata Jerry sambil melihat Azella nakal.
Padahal Azella sudah menggunakan pakaian tertutup malam ini.
Azella mengepalkan tangannya ketika mendengar perkataan Jerry. Sungguh, belum ada yang berani merendahkannya seperti itu, apalagi teman teman Jerry ikut menertawakannya.
"Gimana? Kenapa diem? Oh, nungguin pahlawan lo ya? Hahahaha, dia gak bakal dateng *****! Area ini udah kita block semua, jadi lo jangan berharap lebih." Ucap Jerry diiringi smirk tipis yang menurut Azella sangat menjijikkan.
Bugh.....
Azella menendang ************ Jerry ketika laki laki itu tidak memperhatikannya.
"Bangsattt!" Umpat Jerry kesal.
Jerry mengangkat tangannya ketika teman temannya ingin mendekatinya. "Biar gue dulu, cewek lemah kayak gini, terlalu gampang buat gue." Katanya sambil menatap Azella dari atas kebawah.
"Bajingannn!" Umpat Azella.
"Diem bangsat!" Teriak Jerry berdiri didepan Azella, Azella berusaha mundur, namun sayang mobil dibelakangnya membatasi ruang geraknya.
Laki laki itu mendekat kearah Azella, dan tanpa aba aba Jerry menarik kasar rambut Azella dengan sekali sentakkan.
"****, jangan sentuh gue!" Berontak Azella.
"Look, sayang banget lo gue lepasin." Ucap Jerry membelai pipi mulus Azella yang langsung ditepis Azella.
Plakkk......
Plakkkk....
Jerry menampar Azella kanan kiri dengan keras. Kesal karena melihat tangannya ditepis.
"Jangan ngelawan gue." Peringat Jerry.
"****, lo bakal nyesel giniin gue." Emosi Azella.
Azella merasa pipinya memanas, sialan tamparan Jerry sangat keras, ujung bibirnya saja sampai berdarah.
"Nyesel? Enggak, gue gak bakal nyesel nidurin cewek kayak lo." Balas Jerry diakhiri kekehan pelan.
Bugh.....
Bugh.....
Bugh......
Jerry membenturkan kepala Azella kepada pintu mobilnya dengan keras. "MAMPUSS!" Ujar Jerry diakhiri tawanya.
"Masih berani lo sama gue?" Tanya Jerry lagi ketika melihat penampakan wajah Azella yang sudah berantakan, memar dipipi kanan dan dikirinya, bahkan pelipisnya berdarah. Rambutnya yang ditarik paksa oleh Jerry.
Bahkan atasan putih gadis itu sudah terkena tetesan darah yang mengalir dari pelipisnya. Azella terlihat seperti menangis darah sekarang. Padahal gadis itu hanya diam, tidak berteriak, dan tidak menangis, tidak mau mambuat Jerry puas ketika dia berteriak kesakitan dan menangis. Meski keadaannya sangat tidak baik saat ini.
Bugh....
__ADS_1
Jerry kembali membenturkan pelipis Azella kepintu mobil yang sebelumnya sudah terkena darah Azella sehingga meninggalkan cairan merah pekat disana.
Azella menatap Jerry dengan penuh kebencian. Matanya mungkin sudah sayu, tapi Azella sempat mendengar suara motor berdatangan sebelum dirinya hanya melihat kegelapan.