
RefvinoElvand
Zella, besok gue kemansion ya.
Azella yang saat itu baru bangun dari tidur siangnya mengerjapkan matanya melihat pesan yang masuk sejak satu jam yang lalu. Ah iya, Azella memiliki janji dengan Refvino. Azella kenal dengan Refvino semenjak usianya 5 tahun. Bukan saudara, tapi hubungan mereka dulu sangat dekat. Namun sayangnya hal itu tidak bertahan lama karena mereka mulai renggang akibat suatu kejadian.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Okey.^^^
Setelah mengetikkan balasan Azella bangun dan menuruni tangga, Azella melangkahkan kakinya keruang makan. Azella mengerutkan alisnya ketika melihat orang tuanya berada dirumah, padahal ini masih sore. Tumben sekali mereka pulang lebih awal. Biasanya mereka akan pulang malam atau dini hari, atau mungkin tidak pulang.
"Mama, Papa? Kok udah dirumah?"
"Azella, udah bangun? Tadi kekantor cuma sebentar aja." Sahut Papanya sambil membaca beberapa dokumen yang berada didepannya.
Mamanya masih memandang ponsel miliknya dengan tatapan fokus. Azella melangkah kearah kulkas dan membukanya, mengambil sebotol minuman dingin dan meneguknya beberapa kali.
"Oh iya, besok Kak Refvino mau kesini, Azella mau ketempat Altheo besok. Mama sama Papa mau ikut?"
Mamanya menurunkan ponsel yang digenggamnya, matanya menatap Azella penuh arti.
"Mama udah kesana kemarin sama Papa. Waktu kita sampai disini kita langsung kesana dulu." Jawab Mamanya pelan.
Azella merasa sedikit kecewa didalam hatinya. "Kok Mama gak ngajak Azella?"
"Kan kamu sekolah sayang." Jawab Papanya.
"Yakan bisa bilang, nanti kan bisa bareng." Lirih Azella sambil mempermainkan jari tangannya ditutup botol yang dipegangnya.
"Emang kenapa kalau kamu kesana sendiri? Kamu kan udah gede, Mama sama Papa juga harus menyesuaikan jadwal kami." Tandas Papanya lagi sambil menatap Azella malas. "Jangan seperti anak kecil Azell." Peringat papanya.
Entah kenapa Azella yang terlalu sensitif atau bagaimana. Azella ingin menangis rasanya.
"Jangan manja Azell, besok kalau kamu mau kesana ajak Atlas sama Aksel juga." Ujar Mamanya pelan.
Azella menghela nafasnya pasrah. Memang dirinya tidak pernah didengar'kan selama ini? Lalu, apa yang Azella harapkan?
"Y-yaudah. Azella mau kekamar." Cetusnya kemudian meninggalkan kedua orang tuanya dan berjalan menjauhi mereka. Samar samar Azella masih bisa mendengar percakapan orang tuanya.
"Kamu perhatiin bener - bener anak kamu." Ucap Papanya yang masih bisa didengar oleh Azella.
"Kok aku aja, kamu juga dong, kan kamu Papanya."
"Aku udah lengkapin kebutuhan anak - anak selama ini, Angel, aku udah beliin apa yang mereka perlukan tanpa mereka minta. Aku kerja kesana sini juga buat keluarga. Kamu yang harusnya lebih merhatiin mereka. Bukanya sibuk sama dunia sosialita yang gak berguna itu."
"Loh, kok kamu ngomongnya gitu? Harus adil, aku selalu nanya kabar mereka tiap minggu, kamu udah pernah nanya? Kamu cuma mata matain mereka aja tanpa tanya langsung kan. Kamu yang harusnya lebih ngurain kerjaan kamu. Punya banyak sekretaris masih aja sibuk." Balas Angela malas.
"Aku gak punya waktu sebanyak waktu kamu yang kosong. Kamu ngerti harusnya, aku kerja gini juga karna perusahaan gak mau diambil alih sama Atlas, makanya aku bilang perhatiin anak kamu."
Azella merasa pusing mendengar percakapan yang sepertinya tidak akan ada ujungnya. Gadis itu menatap kakinya yang menggunakan sandal rumahan.
Mengetukkan kakinya beberapa kali kelantai sebelum menjauh dari orang tuanya.
Broken home, tidak selalu tentang perceraian aja kan?
...__________________...
"Inget, minggu depan dateng kenikahan Bokap gue."
Perkataan Yuan seketika membuat semua sahabatnya menatapnya dengan berbagai ekspresi.
"Lo beneran gak apa apa kan? Tau taunya lo depresi sendiri." Tanya Seven serius.
"Lo kalo ngerasa apa gitu cerita sama kita, tapi kita gak maksa juga, cuma kita pengen lo tau, disini juga kita bisa dengerin keluh kesah lo." Ucap Vixtor dengan serius.
"Kita ada buat lo. Nanti takutnya lo pendem sendiri sampe depresi kan gak lucu, yakali kita nerima kabar lo kalo udah mati aja, gak tau prosesnya." Ujar Cello diakhiri kekehan pelan khas miliknya.
Yuan menatap Cello malas. "Gak sampe gitu gue mah. Gue udah ikhlas, ga peduli gue yang penting uang ngalir terus kerekening gue." Ucapnya tanpa beban.
Sontak saja teman temannya menatap Yuan dengan malas. Ternyata memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengingat Yuan sedari dulu tidak pernah sungguh sungguh dalam soal perempuan sedikit sama dengan Cello. Bedanya Cello bisa memiliki pacar lebih dari satu. Sedangkan Yuan tetap satu tapi tidak terlalu di prioritaskan. Ya hanya untuk senang senang saja katanya.
"Eh liat deh." Bisik Vixtor pelan membuat mereka semua heran karena saat itu hanya ada mereka saja.
"Lo ngapain bisik - bisik?" Tanya Cello ikut berbisik.
Bego memang.
"Liat Rigel, dia ngapain disana sendiri sambil smirk." Info Vixtor sambil memperhatikan Rigel yang memang sejak tadi menjauhkan diri dari mereka dengan bersandar di pagar rooftop, sambil memainkan ponselnya. sedangkan mereka berlima duduk disofa.
Yang lainnya langsung memperhatikan Rigel yang sepertinya aneh saat ini. Termasuk Frans yang mengerutkan alisnya bingung.
Saat ini Rigel dan teman temannya sedang berada di salah satu cafe yang sebenarnya adalah markas rahasia mereka juga, hanya saja tampilan lantai satunya adalah cafe, dan rooftop nya telah di design menjadi tempat mereka berkumpul.
Endless cafe namanya, salah satu cafe yang sengaja didirikan oleh Rigel untuk berkumpul santai dengan sahabatnya.
"Rigel." Panggil Yuan dengan memberanikan diri. Takut takut memang ada hal penting yang dikerjakan oleh laki laki itu dan dia dengan seenaknya menganggunya. Kan serem.
Rigel mengalihkan pandangannya kepada Yuan.
Yuan menjadi gelagapan sendiri ketika ditatap oleh Rigel. "Anu, itu lo ngapain disana sendiri?"
Rigel mengerutkan alisnya. "Kenapa?" Ketus Rigel seperti tidak suka Yuan kepo terhadap urusannya.
"Ya enggak apa apa. Hehehehe."
Rigel hanya menatap sahabatnya malas kemudian membelakangi mereka semua.
Drt....drt...
Yuan mengambil ponselnya dan mengerutkan alsinya ketika melihat nama orang yang menghubunginya.
"Halo, Ren?"
"Bang, pasukan BlackStar tiba tiba ada didaerah selatan markas utama Antariksa Gang. Mereka bawa banyak pasukan."
"****, gak ada kapok - kapokya, okey 5 menit." Jawab Yuan kemudian mematikan sambungan sepihak.
Yuan mentap sahabatnya yang juga menatapnya. Dan Rigel yang juga menaikan sebelah aslinya.
"Renta bilang ada pasukan BlackStar didaerah selatan markas utama."
"Anjing." Umpat Cello dan Vixtor berbarengan.
Rigel mendengus malas, orang orang itu harusnya dibawa keneraka sejak dulu.
Rigel menatap sahabatnya kemudian berjalan cepat menuruni tangga. Tentu saja sahabatnya yang lain mengekorinya seperti anak ayam.
Hanya 5 menit saja, seperti perkataan Yuan, mereka saat ini sudah tiba di markas utama. Rigel mengeraskan rahangnya marah. Membuang waktu sekali menghadapi orang orang tidak penting seperti ini.
"Tayo mana?" Tanya Rigel langsung ketika melihat semua anggota Antariksa Gang berdiri dan menunggu perintah darinya.
Tayo selaku penanggung jawab keamanan markas utama, entah bagaimana laki laki pendek itu bisa kebobolan.
"Rigel sorry, gue kurang teliti kali ini, gue rasa ada yang sengaja ngbobol kode keamanan markas. Salah satunya pintu gerbang utama di daerah selatan." Jelas Tayo.
Markas utama memang dikelilingi oleh pagar dan tembok besar, disegala sisi untuk menandai wilayah mereka. Dan tentu saja untuk membuka gerbang memerlukan kode tersendiri yang hanya diketahui oleh anggota inti Antariksa Gang, dan Tayo selaku penganggung jawab keamanan markas.
"****, Tayo sama Yuan urus kode baru, 20 orang ikut gue ke selatan. Yang lain tunggu perintah." Perintah Rigel mutlak.
Seperti perkataan Rigel barusan, mereka bergegas kearah Selatan yang berjarak 1 km dari Markas utama. Memang markas utama berada ditengah - tengah.
...____________...
Pembatas Area Selatan Markas Utama Antariksa Gang
17.45
Rigel bisa melihat Pasukan BlackStar berada disana. Tidak lupa dengan dua orang bego yang menatapnya sombong disana. Siapa lagi jika bukan Eraz dan Jerry. Dua orang yang mungkin akan terkena amukan Rigel saat ini.
Rigel mendengus kasar ketika melihat pasukan yang dibawa oleh Eraz dan Jerry. Sepertinya mereka merekrut anggota BlackStar baru. Tampangnya songong dan tampak bodoh seperti ketuanya.
Begitu juga anggota Antariksa Gang yang sangat malas meladeni anggota BlackStar yang tidak ada kapok kapoknya menganggu mereka. Sepertinya BlackStar memiliki keinginan tinggi ingin melengserkan posisi Antariksa Gang yang dimana menduduki posisi geng pertama yang ditakuti, misterius dan membuat siapa yang mendengar namanya saja menjadi tegang dan segan.
__ADS_1
"Rigel, gue tantang lo by one tanpa senjata." Ucap Eraz dengan tampang sok cool miliknya.
"Bhahahahaha, langsung bunuh diri dia." Ucap Cello.
Eraz maju lebih depan daripada anggota gengnya yang lain. Terlihat Jerry menatap Eraz malas, sepertinya laki laki itu tidak berkomunikasi sebeleumnya.
"Maju lo bangsat." Tantang Eraz lagi.
Rigel mengepalkan tangannya kuat. Sialan sekali!
Rigel maju dan mengangkat tangan kanannya menunjukkan perintah kepada anggota Antariksa untuk diam ditempat.
Bugh...
Rigel langsung menendang rahang Eraz dengan kuat hingga laki laki itu terpendal beberapa meter.
"Anjing, bangun lo." Seru Rigel emosi.
"Dia gak tau kalo Rigel marah kayak gimana." Celetuk Vixtor melihat Rigel seperti macan mengintai mangsannya.
"Mampus BlackStar sekarang nih." Ucap Cello.
"BANGUN ANJING." Murka Rigel langsung menginjak dada Eraz yang berusaha bangkit.
"Gue paling males ngeladenin orang yang jauh dibawah gue, salah satunya lo." Tandas Rigel tajam.
Mata Rigel beralih menatap anggota BlackStar yang lain. "Dibayar berapa kalian sama orang bego ini?" Ketus Rigel.
Cuih...
Rigel meludah disamping wajah Eraz.
"Lo harus gue kasi pelajaran gimana biar lo kapok? Lo udah koma seminggu masih aja hidup."
Eraz menatap Rigel emosi. Entah bagaimana caranya Eraz sangat ingin mengalahkan laki laki angkuh yang berada didepannya saat ini.
Diam diam Eraz menggapai pistol yang disimpannya di saku celana belakangnya. Ketika Rigel tidak menatapnya dengan cepat Eraz membalikkan keadaan dan mengarahkan pistolnya kedada Rigel.
"BANGSAT, LO MAIN CURANG." Teriak Seven spontan.
Rigel menatapnya tidak peduli bahkan ini bagi Rigel bukan apa apa. Laki laki itu sudah menebak apa yang akan terjadi. Laki laki lemah seperti Eraz bukan tandingannya. Dan Eraz tidak mungkin tidak bermain curang.
"Gue tembak lo." Ucap Eraz angkuh.
"RIG-" Ucapan Vixtor terpotong karena Rigel kembali mengangkat tangannya menyuruh mereka tetap diam.
Rigel mengeluarkan smirk khas miliknya. Entah kenapa Eraz yang melihatnya menjadi gugup sendiri.
"Kenapa? Tembak coba." Suruh Rigel.
Sedangkan semua melihat hal itu menjadi tegang sendiri.
"Kok gue merinding." Celetuk Seven.
Dor...
Eraz menembak Rigel tepat didada laki laki itu, namun Rigel masih berdiri tegap bahkan tidak goyah sama sekali yang membuat mereka semua menganga lebar.
Eraz mendelik kaget melihat hal tersebut. Tangannya refleks menekan pelatuk pistol itu sekali lagi.
Dor...
Namun masih sama, Rigel masih berdiri dengan tegap dan dengan nafas yang tenang.
"Lah, Rigel punya nyawa berapa ngab?" Heran Cello.
"Rigel pakek baju anti peluru anjir, ya mau ditembak berapa kali gak bakal nembus." Jelas Seven.
Eraz menatap pistolnya aneh, kemudian melemparnya asal. Rigel tersenyum mengejek. Eraz pikir dirinya bodoh!
Tanpa kata Rigel langsung menendang bahu Eraz dengan keras dan membuat laki laki itu jatuh tersungkur. Kali ini emosi Rigel benar benar sudah melampaui batas, Rigel langsung memberikan pukulan pukulan kepada Eraz tanpa memperdulikan keadaan laki laki itu.
Sedangkan anggota BlackStar yang lain terlihat meninggalkan tempat kejadian itu dengan panik dan terburu buru.
Anggota BlackStar tidak ada lagi yang tersisa, bahkan Eraz ditinggalkan begitu saja tanpa ada niat menolongnya.
"Rigel udah Rig." Lerai Seven.
Bugh.....
Bugh.....
"Rig anak orang bisa koma anjir."
"Biarin aja Ven, biar mati sekalian." Celetuk Cello.
"Sana lo aja yang mati." Sahut Vixtor menanggapi ucapan Cello.
"Gue kepo kenapa dia niat banget jatuhin Antariksa Gang." Lanjut Vixtor.
"Rigel. Nanti dia mati." Kata Seven yang tidak dihiraukan oleh Rigel.
Laki laki itu masih memukul Eraz dengan kencang.
Bugh...
Satu pukulan terakhir yang membuat Eraz muntah darah dengan keadaan wajah yang sudah merah karena dilumuri darah.
Rigel bangkit dari posisinya, laki laki itu mendang Eraz sekali lagi hingga membuat Eraz terguling beberapa kali.
Anggota Antariksa Gang meringis melihat hal tersebut. Begitu juga dengan sahabat Rigel yang lain.
"Bawa kerumah sakit, buat dia lumpuh, jangan sampai mati." Perintah Rigel sebelum meninggalkan lokasi itu terlebih dahulu.
...____________________...
hello22 Cafe.
20.20
"Gimana? Gue yakin banget koreo yang ini udah pas sama musiknya, kita aja kurang latihan." Ucap Selona.
Clarine yang menjadi ketua mengangguk beberala kali. "Nanti kita ajak anak anak latihan, gue juga mau diskusiin ini dulu sama Bu Claudia."
"Zell, gimana? Setuju kan?" Tanya Vennya.
"Iyaa, bagus, gue suka idenya." Angguk Azella menyakinkan.
"Oh iya Zell, nanti bantu kita ngelatih anak anak ya, lo kayaknya udah sering banget dance deh, gerakan lo juga udah kayak profesional." Ucap Deora.
"Iya iya tenang aja nanti gue bantu."
Saat ini Azella berkumpul bersama Clarine, Selona, Vannya, dan Deora di utopia cafe untuk membahas koreo baru mereka untuk extra dance.
Awalnya tadi Azella ragu ketika Clarine mengirim pesan kepadanya untuk mengajaknya berkumpul, namun sekarang mereka sudah terlihat sangat akrab.
"Okay, berarti ini udah. Gimana? Udah mau bubar atau diem disini dulu?" Tanya Clarine.
"Diem aja, nantian pulang, biasanya anggota Antariksa Gang ada yang kumpul disini. Lumayan cuci mata." Celetuk Vannya.
"Eh, ada Azella, mulus banget mulut lo ngomongin Antariksa." Tukas Deora.
Lah, Azella menaikan alisnya tidak mengerti.
Apa hubungannya gue sama Antariksa Gang?
"Loh, kenapa? Bahas aja kali, gak apa apa." Ucap Azella sambil terkekeh pelan.
"Azell, lo pacaran sama Rigel?"
Pertanyaan dari Selona membuat Azella menaikkan alisnya bingung.
Ini satu sekolahan beneran ngira gue pacaran?
__ADS_1
"Enggak kok."
"Bohong ih, jujur aja sama kita." Sahut Vannya tidak percaya.
"Enggak, gue gak pacaran." Tegas Azella kembali.
"Berarti masih proses?" Tanya Clarine.
Azella mengerutkan alisnya bingung.
"Proses?" Beonya.
"Proses pendekatan."
"E-enggak, cuma temen aja kok." Jawab Azella sedikit gugup.
"Lo cewek pertama yang diperlakuin kayak gitu sama Rigel." Jelas Deora.
"Banyak yang bilang gitu sih." Respon Azella. "Eh, diperlakuin gimana? Kok kalian tau?" Tanya Azella kemudian.
"Hehehe, tenang Zell tenang. Itu semua aktifitas Rigel kan masuk di akun AntariksaZone termasuk waktu dia sama lo." Jelas Vannya.
Ah iya, Azella hampir melupakan akun gosip itu. Sialan memang.
"Zell, tau ga, tadi sebenernya gue rada canggung sama lo, gue takut aja gitu, soalnya satu sekolahan bilang lo pacaran sama Rigel." Tukas Selona.
"Kenapa gitu? Biasain aja sama gue, gue malah gak suka kalau ada yang segan sama gue karena orang lain."
Clarine terkekeh pelan. "Tapi lo cocok sih sama Rigel."
"Iya anjir, sama sama sultan. Zell, siapa yang gak tau keluarga Qierra, keluarga Bokap lo udah terkenal banget disini." Terang Selona.
"Lagian selain itu Azella cocok kok sama Rigel terlepas dari latar belakang mereka." Kata Deora.
"Banyak yang dukung Zell, pacaran aja." Suruh Vannya sambil tertawa geli.
"Tapi lo suka gak sama Rigel?" Tanya Clarine tiba tiba.
"Biasa aja." Cetus Azella cepat.
"Sekarang biasa aja kan, gak tau nanti Zell." Ucapan terakhir dari Clarine malam itu menutup pembicaraan mereka tentang topik Azella dan Rigel. Setelah lama mengobrol akhirnya mereka memutuskan untuk bubar dan pulang.
Azella yang saat ini kenyetir mobilnya entah kenapa matanya sangat mengantuk dan pening sekali, padahal baru jam 22.00 malam.
"Duh, kayaknya gue harus beli kopi deh." Monolognya sendiri.
Azella membelokkan mobilnya kearah starbucks terdekat.
Namun ketika baru keluar dari mobil, mata Azella menangkap Rigel dan teman temannya berada di ruangan outdoor yang sepertinya VVIP. Karena cukup sepi, dan ditempati hanya oleh mereka dengan jarak yang cukup jauh dari yang lain.
Karena Azella parkir pas didepannya tentu saja mereka juga menyadari kehadiran Azella. Azella mendengus malas, diantara banyaknya starbucks yang ada entah kenapa dirinya harus selalu bertemu dengan Rigel.
"Azella cantikkkk." Sapa Cello heboh.
Azella masih berdiri disamping mobilnya kemudian berjalan kearah pintu masuk, namun sayangnya tangannya ditarik oleh Rigel.
"Apa." Malas Azella. Sungguh kepalanya sangat pusing saat ini.
"Duduk."
"Gue gak lama Rigel."
"Abis darimana?"
"Utopia."
"Tuh kan, harusnya kita kesana tadi." Celetuk Vixtor.
"Gue mau kedalem dulu." Kata Azella melepaskan paksa tangan Rigel.
Azella melangkahkan kakinya kedalam dan memesan hot coffee yang biasa dipesannya. Ketika akan membayar Azella dikejutkan dengan sebuah tangan yang mengulurkan uang terlebih dahulu. Azella gagal fokus ketika melihat ikat rambutnya yang berada dipergelangan tangan tersebut. Sontak saja otak Azella langsung mengingat satu nama.
"Rigel." Panggil Azella spontan.
Rigel tidak menjawab panggilan Azella, laki laki itu langsung menarik tangan Azella keluar.
"Rigel, ih, gue belom ngambil pesenan gue."
"Nanti dibawain."
"Mana ada yang kayak gitu."
"Ada, khusus buat gue."
Azella memutar matanya lelah. Apa sih yang tidak bisa dilakukan Rigel?
"Duduk." Suruh Rigel membawa Azella ketempat ia dan teman temannya.
"Azella lo lagi deket sama siapa?" Tanya Cello.
"Hah?" Bingung Azella, "Gak sama siapa siapa. Kenapa?" Azella dapat merasakan Rigel menatapnya ketika dirinya menjawab pertanyaan Cello, namun Azella tidak terlalu memusingkan hal tersebut.
"Wah, ada kesempatan dong buat gue?" Tanya Cello menaik turunkan alisnya.
"Gak." Ketus Azella.
Hal itu sontak saja membuat teman temannya tertawa.
Azella hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kantuknya menghilang, tapi rasa pusing di kepalanya semakin menjadi jadi.
Ketika hot coffee Azella sampai, Azella ingin segera pergi dari tempat ini, namun Rigel merangkul bahunya posesif dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya digunakan untuk merokok.
Rigel beberapa kali memalingkan wajah dari Azella agar asap rokoknya tidak mengenai wajah Azella.
"Gue pulang ya." Ijin Azella kepada Rigel.
"Nanti."
"Gue pusing banget pengen tiduran." Ucap Azella yang saat itu memang terlihat lelah.
Rigel menatap Azella sebentar, kemudian laki laki itu berdiri. "Ayo gue anter."
"Gue kan bawa mobil."
"Iya lo bawa mobil gue ikutin bawa motor."
Jawaban Rigel bukan hanya membuat Azella menjadi kaget, tapi sahabatnya juga menjadi speechless.
"Oke." Tandas Azella malas berdebat.
Azella memasuki mobilnya, begitu juga dengan Rigel yang segera menaiki motornya.
Azella menyesap beberapa kali hot coffee nya kemudian menjalankan mobilnya dengan tenang. Sesekali Azella melirik kearah kaca spion dimana Rigel masih mengikutinya.
Azella semakin merasa pusing tidak karuan. Azella memijit pelan pelipisnya yang terasa sedikit panas. Apa Azella demam?
Azella merasa sakit kepalanya tidak bisa ditahan lagi, gadis itu tidak terlalu fokus menyetir sehingga tidak menyadari ada sebuah motor yang akan menyebrang didepannya. Azella yang kaget tentu saja langsung membelokkan stir mobilnya.
Brakkk....
"Oh my God." Panik Azella ketika melihat mobil nya menabrak pembatas jalan. Untung saja keadaan tidak begitu ramai hingga keadaan tidak heboh.
Tok.. tok...
Azella melihat Rigel yang mengetuk kaca mobilnya. Azella langsung keluar dari dalam mobil dan Rigel langsung meraih gadis itu untuk menjauh beberapa langkah.
"Ceroboh. Lo ngelamunin apa sih." Sergah Rigel langsung. Laki laki itu terlampau khawatir ketika melihat mobil Azella menabrak pembatas jalan.
Azella merasakan jantungnya berdebar dengan kencang, pikirannya melayang mengingat kejadian dulu yang pernah dialaminya. Bagaimana jika ada korban jiwa lagi karena dirinya yang ceroboh?
"Azella? Are you okay?" Tanya Rigel, kedua tangan besar laki laki itu membingkai wajah Azella untuk menatapnya. Seketika mata Azella berkaca kaca dan kepalanya semakin pusing.
"Azella, hei." Itu kata terakhir Rigel yang didengar oleh Azella sebelum semuanya gelap.
__ADS_1