
Ting...
Azella yang baru saja selesai mandi langsung mengecek ponselnya ketika ada notifikasi yang masuk.
RefvinoElvand
Azella, besok ada waktu gak?
Azella mengernyitkan alisnya ketika Refvino mengiriminya pesan.
"Kan dia bilang udah balik ke London, gimana sih." Gerutu Azella.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Besok free sih, kenapa?^^^
RefvinoElvand
Keluar yuk?
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Bukanya Kak Refvino udah balik ke London?^^^
RefvinoElvand
Gak jadi. Ditunda itu
Azella menaikkan alisnya bingung, tapi sepertinya tidak apa. Lagipula Azella sudah bosan dirumah.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Boleh.^^^
RefvinoElvand
Oke, besok siang gue jemput ya.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Okay.^^^
Azella segera menaruh kembali ponselnya dan masuk kedalam walk in closet miliknya untuk memakai pakaian.
Setelah selesai Azella berniat untun turun dan makan siang. Azella melewatkan sarapannya tadi pagi karena lebih memilih untuk kembali tidur.
Azella menuruni tangga dan melihat keadaan mansion yang seperti biasa sepi.
"Nona ingin makan siang dengan menu apa?" Tanya seorang maid yang terlihat akan memasak untuk Azella seperti biasa.
"Pasta." Jawab Azella simpel.
"Baik nona, saya akan buatkan."
Azella tersenyum tipis mendengar jawaban maid tersebut kemudian membuka ponselnya dan berselancar didunia maya.
Ting.....
Azella membaca notifikasi yang masuk diponselny dengan terkejut.
RigelAntariksa.
Keluar bentar
Azella langsung berdiri dan berjalan keluar mansionnya. Benar saja Azella mendapati Rigel duduk disalah satu kursi yang berada dihalaman mansion.
"Kenapa gak masuk aja?" Tanya Azella melihat Rigel duduk disana dengan membawa dua paperbag yang diletakkan diatas meja.
"Mau ngerokok." Kata Rigel sambil melirik rokoknya.
Azella mengangguk mengerti. Azella ikut duduk disamping Rigel.
"Kenapa?" Tanya Azella melihat Rigel tidak ada niatan untuk memulai pembicaraan.
"Udah makan?" Tanya Rigel balik tanpa menjawab pertanyaan Azella sebelumnya.
"Masih dibuatin sama maid."
"Ini buat lo."
Azella mengambil dua paperbag yang diberikan oleh Rigel. Azella kemudian membukanya dan melihat keduanya berisi makanan dan juga benerapa kue dari restoran ternama.
Azella kembali menggigit bibir bawahnya menahan senyum.
Azella mendonggak melihat Rigel yang ternyata juga menatapnya. "Why?"
Ini Rigel kenapa sih, apa gue kucel banget ya? gara gara gak pernah pakek skin care karna make salep mulu?!
"Enggak, gue pergi ya."
"H-hah?"
Rigel berdiri dari duduknya. "Gue pergi dulu. Nanti gue kabarin lagi. Makanan sama kuenya dimakan."
Azella merasa seperti ada hal aneh yang membuatnya tidak suka jika Rigel pergi tapi Rigel tidak mengerti kenapa.
"Lo gak mau masuk dulu?"
"Enggak. Gue harus kemarkas sekarang." Ucap Rigel.
Lah iya, kan dia ketua Antariksa Gang, pasti diprioritasin lah. Emang gue siapanya?! Hahaha.
"Yaudah, makasi ya makanannya."
Rigel naik keatas motornya dan memakai helm full face miliknya kemudian membuka kacanya dan kembali menatap Azella.
"Jangan makan coklatnya terlalu banyak."
"Kenapa?" Bingung Azella.
"Nanti lo makin manis, ngerepotin perasaan gue aja."
Belum sempat Azella menjawab Rigel sudah melajukan kendaraannya meninggalkan mansion Qierra siang itu.
Sedangkan Azella berdiri ditempatnya dengan perasaan campur aduk.
"Astaga, yang bener tuh Rigel yang ngerepotin perasaan gue."
"Astaga Tuhann, dosa apa gue ketemu cowok modelan Rigel." Gerutu Azella kemudian masuk kedalam mansion.
...___________________...
Rigel memarkirkan tempatnya dihalaman utama markas. Terlihat seperti biasa markas yang keadaannya sangat ramai.
__ADS_1
"Makan bang." Sapa salah satu adik kelasnya yang merupakan anggota Antariksa Gang yang sedang makan bakso di halaman markas dengan ramai ramai.
Rigel mengangguk menjawab sapaan adik kelasnya itu, kemudian Rigel melangkah masuk keruang utama atau aula yang sangat luas dimana anak anak Antariksa Gang biasanya berkumpul atau rapat.
Dan benar saja ruangan itu ramai dengan para anggota yang posisinya tidak jelas. Ada yang tertidur, ada yang bermain game, dan ada yang makan indomie.
"Oy Rig." Sapa Tayo yang baru keluar dari parkiran bawah. Tempat dimana fasilitas mobil dan motor yang disimpan khusus untuk Antariksa Gang.
Rigel melihat Tayo menghampirinya dan mereka memilih duduk disalah satu sofa kosong disana.
"Rig, pacar lo mana?" Tanya Gefan. Salah satu anggota yang lebih tua dari Rigel. Tapi dia tetap menghormati Rigel sebagai ketuanya yang sekarang.
"Belom pacaran Gef." Sahut Yuan yang baru saja memasuki pintu utama markas.
"Lah beneran? Gue kira udah anjir." Ucap Leon, salah satu teman Gefan yang masih aktif di Antariksa Gang. Sebenarnya bukan mereka saja, tapi masih banyak lagi yang masih menjadi anggota Antariksa Gang meski sudah dewasa atau menikah sekalipun. Tapi yang resmi tercatat dari kelas satu SMA hingga kelas tiga SMA saja.
"Beneran belum Rig?" Tanya Gefan.
"Iyanih, gak tau gimana ketua kita, gak di tembak tembak. Dibaperin aja anak orang." Sahut Tayo.
"Tembak Rig, nanti kayak Vixtor sampe sekarang masih jomblo." Ucap Leon.
Vixtor yang sedang main ps bersama anggota yang lain melirik mereka malas. "Apa lagi nih, gue diem diem aja ya bang, lo jangan bawa bawa nama gue." Cetusnya.
"Apa gue masi jomblo sampe sekarang karna temenan sama Vixtor ya?" Tanya Yuan.
"Eh bangsat, itu lonya aja yang belum laku." Teriak Vixtor.
"Lo juga gak laku Vix, sini deh sekali kali keluar bareng sama gue, nanti gue cariin pacar." Sahut Gefan.
"Ogah bang. Sesat ajaran lo." Jawab Vixtor acuh.
"Bang Gefan." Panggil Cello tiba tiba dari arah kolam renang.
Cello melihat ada Rigel duduk disofa kemudian mendekat. "Yaampun ada pacar aku disini." Ucapnya kembali bercanda.
"Apaan sih gue gak paham, lo ngapain aku kamu an gitu Cell?!" Heran Leon.
"Gak apa apa bang." Jawab Cello sambil menoel noel pipi Yuan.
"Lo ngapain anjing?! Bikin gue jijik aja." Ujar Yuan kemudian menjauh darisana.
Sedangkan Rigel menghela nafas jengah melihat Cello yang masih saja berlaku seperti itu.
"Ngapain lo manggil gue?" Tanya Gefan.
"OH IYA, gini gini bang." Ingat Cello sambil mendekati Gefan.
"Cewek yang kemarin tuh, minta kontak lo. Gue kasik aja."
"Yang mana?" Tanya Gefan mengerutkan alisnya.
"Itu, siapa ya namanya gue lupa. Yang baju merah."
"Banyak bangsat yang pakek baju merah. Yang jelas?!"
"Rambutnya coklat terang."
"Sinta?"
"Bukan. Sinta pakek baju ijo kemarin."
"Baju merah, rambut coklat, pakek rok jeans itu, emm, 34d kayaknya."
"Bukan bang itu yang 36b"
"Gue gak inget."
"Udahlah, nanti kalo ada yang bilang dapet kontak lo dari gue, berarti dia orangnya."
"Cantik gak Cell?"
"Bah, mantep bang."
Gefan menaik turunkan alisnya senang. "Asik nih."
Jangan tanya mereka membahas tentang apa, tentu saja tentang wanita dan ranjang. Dan sisanya silahkan dimengerti sendiri.
Sebrengsek itu memang pergaulan mereka.
"Tuh kan, belom juga lewat sejam gue bilang ajaran lo sesat bang." Ujar Vixtor.
"Jangan gitu Vix? Lo mau join gak?"
"Ogah."
"Rig, Azella mana?" Tanya Cello.
"Oh Azella ya namanya." Ucap Leon.
"Iya Azellanya Rigel." Jawab Cello terkekeh.
"Anaknya Qierra bukan sih?"
"Iyaa, lo tau?" Tanya Cello kemudian Gefan mengangguk. "Gue temennya Aksel, sepupunya Azella, satu kampus gue di London."
"Kan Azella sempet kecelakaan parah beberapa tahun lalu kan Rig?" Tanya Gefan.
Rigel melihat Gefan dengan serius. Kemudian mengangguk beberapa kali.
Cello dan Leon yang berada didekat mereka diam tidak mengerti dan tidak ingin ikut campur.
"Mabar yuk." Ajak Cello melirik Leon.
"Boleh, kalo lo kalah, gue bogem sampe mampus." Jawab Leon.
"Gak gitu konsepnya anjing?!" Seru Cello sambil berjalan menjauh dari Rigel dan Gefan dan tentu saja diikuti oleh Leon.
"Gimana Rig? Lo serius sama putrinya Qierra?"
Rigel menghela nafas pelan. "Menurut lo?" Tanya Rigel balik.
"Gue tau lo dari lama, gue gak pernah liat lo gini ke cewek."
Rigel masih diam.
"Dan tentu lo tau. Salah satu anak dari Qierra gak semudah itu dilepasin dari sangkar, apalagi lo udah tau kan tragedi yang pernah terjadi?" Tanya Gefan.
"My Dad tell me about that." Angguk Rigel.
"Ah iya, kalangan Bokap lo pasti deket sama kalangan Qierra juga."
"Kasian Azella, bagi kita yang tau kenyataan hidupnya yang sebenarnya. Tapi bagi mereka yang liat Azella dari luar covernya ya beda lagi penilaiannya."
__ADS_1
"Lo tau El Fanderson?" Tanya Rigel.
"Siapa? Gak tau gue." Bingung Gefan.
Rigel mengangguk beberapa kali. "Gue gak percaya Altheo meninggal."
Gefan menatap Rigel dengan pandangan horor.
"Lo jangan ngomong gitu anjir, gue jadi merinding. Jelas jelas gue dateng kepemakamannya." Jawab Gefan.
"Maksud gue karna kecelakaan itu."
"Jadi maksud lo dia gak meninggal karena kecelakaan? Tapi karna faktor lain?"
"Nah itu."
"Apa hubungannya sama El Fanderson?"
"Dia yang dibalik semuanya." Ucap Rigel tajam.
Gafan bisa melihat ada kilatan amarah dimata laki laki itu. Entah kenapa itu membuat Gefan menjadi merinding sendiri. Dan juga Gefan yakin sekarang putri satu satunya dari keluarga Qierra itu benar benar sudah mengambil hati Rigel seutuhnya.
..._________________...
Azella melihat Atlas yang memasuki pintu utama mansion sambil menenteng jas kerjanya. Gadis itu menatap langkah lebar Atlas dari lantai dua.
Azella langsung berlari dan mendekati Atlas ketika laki laki itu sudah duduk di sofa.
"Hai big bro!" Sapa Azella seperti biasa.
Atlas yang tadinya mengecek ponselnya kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Azella.
"Seneng banget kayaknya lo, apalagi gue kasi kebebasan." Ketus Atlas.
Azella merasa jantungnya mulai berdetak dengan kencang. Kebiasaan yang terjadi jika Azella membuat suatu kesalahan atau ada dalam posisi yang tidak nyaman.
"Lo kenapa sih?!" Tanya Azella bingung.
"Buta banget ya gue dimata lo Zell?! Jangan pikir gue jauh, mata gue ikut jauh dari lo. Zell gue pernah kehilangan, lo jangan buat gue hancur untuk kedua kalinya."
Azella mengerti, artinya Atlas sudah tau semua yang terjadi. Lagipula apa sih yang diharapkan Azella, koneksi Atlas tidak bisa ditebak memang.
"T-tapi kan gue juga udah gak apa apa. Dan gue gak maksud buat sengaja bahayain diri gue sendiri." Lirih Azella pelan.
"Lo gak mikirin perasaan gue namanya. Papa naruh lo disini sama gue, semua tentang lo sepenuhnya tanggung jawab gue."
Atlas menghela nafas lelah.
"Baru gue tinggal bentar lo udah buat ulah. Please Zell, jangan bantah gue kalo gue ngirim mata mata buat ngikutin kemana aja lo pergi. Lagian mereka gak ganggu aktifitas lo, gue cuma mau tau apa lo aman atau enggak, gue gak peduli urusan lo sama temen temen lo juga."
"Diem, coba dengerin gue ngomong dulu." Potong Atlas ketika melihat Azella hendak berbicara.
"Lo tau salah lo?" Tanya Atlas tegas.
Azella mengangguk. Matanya mulai berkaca kaca, ini tidak semudah yang dikira. Apalagi Atlas membahas masalalu. Azella jadi merasa tertekan disegala sisi. Dan bukan masalah sepele tentang dirinya jika Azella terluka. Apalagi bagi Atlas.
"Gue bukan kakak yang romantis yang ngungkapin rasa sayang dengan cara halus. Gue gak bisa selalu ada kalau lo perlu. Gue gak bisa selalu jadi tempat lo bersandar. Bahkan gue sadar lo lebih deket sama Aksel. Tapi, lo salah kalo mikir gue gak perhatiin lo sedikitpun. Gue bahkan merhatiin lo lebih dari gue merhatiin kehidupan gue sendiri."
Azella merasa pipinya mulai basah, ****, Azella merasa bersalah jadinya. Ah tidak, dirinya memang bersalah.
"Karena itu Zell, gue sering ngirim mata mata buat ngikutin lo kemana pun lo pergi. Tapi lo nolak, gue paham, gue ngerti gue juga pernah muda, dimana gue lagi sukanya bebas dan gak suka dikekang."
Azella masih diam, gadis itu kehilangan kata kata. Jika diluar sana orang menilai Azella adalah gadis yang kuat dan sedikit arogan, tapi jika dihadapkan dengan keluarganya, Azella menjadi gadis kecil yang lemah dan mudah menangis.
"Oke, waktu itu gue narik semua bodyguard gue. Karena gue percaya sama lo kalau lo gak bakal macem macem. Gue ngasi waktu buat lo bebas sebebas bebasnya."
"Tapi nyatanya gue salah. Malah disaat gue lagi jauh jauhnya dari lo, gue dapet kabar lo dihadang sama salah satu geng motor." Atlas masih ingat dengan jelas, ditengah tengah rapat saat itu, sekretarisnya membisikkan hal itu ditelinganya. Dan tentu saja Atlas langsung mengakhiri rapat dan menghubungi Aksel.
Mungkin Azella menilai Atlas terlalu berlebihan, tapi Atlas tidak akan bisa tidur tenang jika belum memastikan Azella baik baik saja dengan matanya sendiri.
"Coba pikirin perasaan gue, gue rasanya pengen balik ke Jakarta saat itu juga." Lirih Atlas menatap Azella yang sudah menangis deras dihadapannya.
"Liat, cengeng banget kan lo. Gue masih hidup buat lindungin lo, tapi lo udah nolak gue kayak gue mengganggu dan gak berguna banget dihidup lo." Tukas Atlas yang membuat Azella bangkit dan memeluknya dengan kencang.
Atlas membalas pelukan Azella dengan elusan lembut.
"Zell, gue minta maaf atas semua yang terjadi, gue terlalu lalai jadi kakak." Ucap Atlas yang membuat Azella menggeleng cepat didekapan Atlas.
"Bu-bukan hiks, Bukan salah lo, gue mungkin yang keras kepala waktu itu, gue yang ceroboh, gue bego banget, gue-"
"Udah udah Zell, jangan nyalahin diri lo terus atas kejadian itu." Peringat Atlas ketika sadar ucapan Azella mengarah kemasalalu.
"Gue emang salah hiks."
"Altheo gak bakal seneng liat lo kayak gini Zell. Dia sayang banget sama lo. Sama kayak gue."
Azella mendonggak menatap Atlas. "Dia beneran sayang sama gue? T-tapi kenapa dia ninggalin gue?" Tanya Azella dengan air mata yang berlomba lomba keluar dari mata indahnya.
"Hey, dengerin gue, Altheo sayang banget sama lo, dia rela ngorbanin apapun buag lo Zell. Apapun."
Atlas membingkai wajah Azella dengan tangannya. Senyum kecil terbit dibibir tipisnya ketika melihat wajah polos Azella.
"Kita sama sama sayang banget sama lo Zell. Makanya, lo harus baik baik aja biar kita selalu bahagia liat lo bahagia."
Azella makin menangis kencang mendengar semua itu.
"Udah udah, cukup nangisnya, kenapa makin kenceng lo nangisnya?" Tanya Atlas heran.
Azella sendiri merasa bersalah, sedari dulu Azella pikir kakaknya tidak memperhatikannya sedetail ini. Tidak seperti kakak kakak yang lain. Tapi Azella sadar, laki laki yang sedang depeluknya saat ini kakak terbaik yang dimilikinya.
"Well, mulai senin depan, gue ngasi beberapa bodyguard buat ngikutin kemanapun lo pergi. Akses transportasi gue cabut, lo anter jemput aja." Ucap Atlas ketika melihat Azella sudah tidak menangis dipelukannya.
Sedangkan Azella membulatkan matanya terkejut. Meski sudah mengira hal ini akan terjadi tapi Azella masih tidak percaya Atlas sangat tega kepadanya.
Azella menatap Atlas penuh harap.
"Kak, di London gue dibebasin-"
"Iya, karena lo bergaulnya sama orang yang gue tau semua latar belakangnya. Daerahnya juga kebanyakan cabang perusahaan Papa. Apalagi lo mainnya deket deket sana mulu."
"T-tapi gue-"
"Gak ada tapi tapian Azella."
"Bukan gitu Kak, temen temen gue baik semua kok. Gak ada yang jahatin gue, mungkin karena Jerry hafal banget sama ague jadi gue yang-"
"Entah apa alasannya Zell, keputusan gue gak bisa di ubah."
"Kak, please, gue lakuin apapun tapi jangan batasin gue kayak gini. Gue janji bakal selalu baik baik aja."
Atlas menatap Azella dengan dalam. Dilubuk hati terdalamnya Atlas tidak pernah tega membuat adik kecilnya menangis. Tapi bagaimanapun Atlas tidak mau nyawa Azella dalam bahaya. Apalagi Atlas pernah kehilangan sebelumnya, dan jujur itu menyisakan rasa trauma yang mendalam dihatinya.
"Kalo gue minta lo jauhin Rigel, bisa?"
__ADS_1