RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[27 | Surprised]


__ADS_3

Rome, Italia.


07.00


Rigel memakan sarapannya dengan nikmat. Niat awalnya, laki laki itu ingin langsung kembali ke Jakarta ketika rapat sudah usai.


Namun mendapat undangan sarapan tidak terduga dari seseorang yang cukup penting, membuatnya mengurungkan niat tersebut.


"Well, kamu masih sekolah?"


Rigel meminum air putih miliknya sejenak, "Iya Om."


"Wah, hebat sekali kamu sudah bisa menghadiri rapat sebesar ini di usia yang cukup muda."


"Daddy memaksa saya awalnya, tapi ternyata dunia bisnis tidak buruk." Ujar Rigel tidak sepenuhnya benar, tapi tidak penenuhnya bohong juga.


"Ah, iya, Daddy kamu itu memang egois, kami kenal karena kami satu kampus dulu."


"Iya, tapi Daddy mendidik saya dengan baik."


"Oh iya, putri saya juga sekolah di SMA Antariksa. Namanya Azella, mungkin kamu kenal?"


Rigel tersenyum ketika topik yang ditunggu akhirnya dibahas.


"Kenal, saya kenal baik dengan Azella, Om."


Zeus Maxenzie Qierra, terkekeh pelan.


Seorang pebisnis yang namanya sudah sering terdengar dimana mana, memiliki ribuan bawahan, puluhan cabang perusahaan, dan harta yang tidak bisa ditihung berapa total pastinya. Karena setiap detiknya saham perusahaannya selalu meningkat.


Rigel tahu semua itu dari Daddynya tentu saja.


Daddy Rigel, Orion Jachio Diego, laki laki yang kehidupannya tidak jauh beda dengan temannya, Zeus Maxenzie Qierra, karena itu mereka akrab, selain beberapa meeting yang membuat mereka selalu bertemu, tapi mereka yang pernah menempuh pendidikan dikampus yang sama juga membuat mereka lebih akrab.


Karena hal itu juga Maxenzie tidak sungkan mengajak Rigel sarapan bersama. Selain itu Maxenzie tertarik dengan hal lain yang ada didalam diri laki laki itu.


Seperti, menjadi menantunya misalnya?


...________________...


Jakarta, Indonesia.


12.00


Azella berjalan dengan lesu keluar dari area sekolah, bukanya bagaimana, hanya saja Azella semakin merasa kehidupannya hambar.


Tin..tin..


Azella mengangkat kepalanya ketika ada sebuah mobil yang berhenti didepannya.


Mobil ini bukan mobil yang biasa mengantar jemputnya.


"Zella." Azella kaget ketika yang keluar dari mobil itu adalah Refvino.


"Lah, lo ngapain disini Kak?" Tanya Azella.


"Jemput lo."


"Hah? Gue kan dijemput sama sopir."


"Gue udah chat Altas tadi."


Ah, Azella mengangguk mengerti.


"Yaudah yuk masuk."


Azella menurut, gadis itu berjalan kearah kursi penumpang dan langsung duduk disana. Refvino juga langsung memasuki kursi kemudi.


"Ada apa nih? Kenapa lo tiba tiba jemput gue?"


"Bukan apa apa."


"Lo gak kerja?"


"Nganggur." Jawab Refvino terkekeh pelan.


"Mau makan dulu gak?" Tanya Refvino lagi.


"Boleh, gue pengen banget makan steak." Jawab Azella antusias.


"Yaudah ayok."


...______________...


"MINGGIR ANJING!! LO NGAPAIN DIEM TENGAH JALAN?!" Teriak Yuan yang tidak habis pikir melihat Cello yang sedari tadi hanya diam didepan mobilnya.


Mobil Yuan yang parkir dibelakangnya tentu saja tidak bisa keluar.


"Ngab, keluar dulu ngab!!!"  Ucap Cello mengetuk kaca mobil Yuan.


Yuan semakin mengerutkan alisnya kesal. "Kenap-"


Yuan seketika terdiam melihat Azella yang berinteraksi dengan laki laki yang kalau tidak salah waktu itu ada di party twins Z.


"Itu cowok yang dipesta ultahnya Zia Zio kan?" Tanya Cello.


"Iya ngab. Malah Rigel lagi di Rome anjir." Cetus Yuan.


"Foto ngab." Suruh Cello yang langsung dituruti oleh Yuan.


"Bisa bisanya, tapi ya, Cewek cakep emang banyak yang naksir, kalo Rigel gak gercep bahaya ini." Ujar Yuan.


"Wah pulang bareng. Anjir mantap." Heboh Cello.


"Gue mau kirim di grup nih fotonya, biar Rigel panes, bila perlu balik sekarang ke Indo." Ucap Yuan semangat.


"Boleh tuh, cepetan gue gak sabar nih komporin."


KITA CAKEP KITA TAU (6)


YuanSebastian


(Send pictures)


Yang virtual kalah sama yang selalu ada🙂


VixtorBenneric


EH? ITU BENERAN? ITU AZELLA KAN?


SevenVarran


*KALAH CEPET WOI, BURUAN PULANG LO *@RigelAntariksa


CelloAgrav


Sulit dijelaskan teman teman🙂


SevenVarran


Anjing, itu cowok yang dipesta Zia kan?


YuanSebastian


*Yoi, gimana nih bos kita gak ada kepastian. *@RigelAntariksa


SevenVarran


/mengsedih


CelloAgrav


/mengcape


VixtorBenneric


Gila sih ini, Azella cakep soalnya, kalo gak ada pawangnya ya banyak yang mau embat.


FransFlavian


Rigel kena mental.


SevenVarran


Anjir atas gue. Tapi kan Rigel udah paket komplit sebenernya.


CelloAgrav


Gue bisa mendengar suara hati yang patah.


VixtorBenneric


@RigelAntariksa keluar cefat


CelloAgrav


Mari kita doakan yang terbaik teman teman🙂


SevenVarran

__ADS_1


KALO GUE SIH TEMBAK, YA KALI GA.


CelloAgrav


Yoi, cewek kan perlu kepastian.


VixtorBenneric


AZELLA CAKEP SAYANG BANGET DI SIA SIA IN.


CelloAgrav


Ah, kalo tau gini gue gas duluan daripada Rigel :(


FransFlavian


Atas gue ngarep.


SevenVarran


Speechless


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Bacot.^^^


CelloAgrav


NIH ORANGNYA, GIMANA SIH LO, KOK BISA DITIKUNG.


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Oh.^^^


FransFlavian


:)


SevenVarran


:)


CelloAgrav


:)


Rigel mendengus kesal membaca chat dari teman temannya.


Rigel baru saja sampai di hotel miliknya 30 menit yang lalu, laki laki itu berencana kembali ke Indonesia malam nanti. Tapi melihat Azella yang semakin hari semakin dekat dengan laki laki lain membuat Rigel terbakar amarahnya sendiri.


Laporan pertama kemarin, yang diberitau oleh bawahannya jika Azella keluar bersama Refvino Elvand, temannya di London dulu.


Rigel masih bisa sabar karena laki laki itu juga harus menghadiri meeting yang penting. Dan ternyata tidak sia sia Rigel terbang ke Rome, jika apa yang diinginkan tercapai juga.


Tapi kali ini Rigel tidak bisa tinggal diam ketika melihat Azella dijemput oleh laki laki itu. Sialan sekali dia, tidak tahu jika Azella adalah milik Rigel seorang.


Rigel menekan satu nama diponselnya dan segera menghubunginya.


"Selamat siang Tu-"


"Xiever, siapkan penerbangan saya ke Jakarta sekarang."


Rigel mematikan sambungan itu dengan sepihak.


Ting..


Daddy.


Kamu ngapain sama Maxenzie?


Dia nelpon Daddy bilang kamu mantu idaman.


Rigel tersenyum jail. Ide gila muncul diotak cerdasnya.


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Oh.^^^


Daddy.


Daddy serius.


Kamu ngomong apa aja sama dia?


Kamu gak rusak citra Daddy kan?


^^^RigelAntariksa^^^


Daddy.


Kamu gak usah pulang kemansion,


tinggal aja dikolong jembatan.


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Ngapain tinggal dikolong jembatan? ^^^


^^^Kan 5 gedung apartment, sama 3 mansion punya Daddy, udah atas nama Rigel.^^^


Daddy.


Anak kurangajar!


^^^RigelAntariksa^^^


^^^Daddynya gak kalah kurangajar.^^^


Daddy.


Terserah kamu.


Saya mengundurkan diri jadi bapak kamu.


^^^RigelAntariksa.^^^


^^^Ok thx.^^^


Daddy.


Pulang hari ini, lusa Mommy kamu operasi.


Rigel tidak membalas pesan terakhir dari Daddy nya, perkara Mommynya yang akan operoasi juga Rigel sudah hafal diluar kepala.


Rigel keluar dari kamar hotelnya dan berhenti di balkon.


Hell nah, umur 18 tahun ayahnya membuatkannya Adik?


Ini ayahnya memang menyebalkan atau bagaimana?


Tapi tidak apa, Rigel tetap sayang dengan calon adiknya.


Untungnya perempuan.


..._______________...


"Mau apalagi?" Tanya Refvino kepada Azella.


Setelah makan siang dan berkeliling, mereka akhirnya terlantar di sebuah pusat perbelanjaan dimana Azella sangat senang karena dirinya juga ingin membeli sesuatu.


Gadis itu sudah menenteng 18 paperbag yang berisi belanjaannya, seperti make up, skincare, pakaian, sepatu, dan juga aksesoris lainnya yang membuat Refvino menggeleng maklum. Azella dari kecil memang selalu dibahagiakan dengan harta kan.


Pantas saja Maxenzie Qierra harus bekerja keras. Putrinya sekali berbelanja serasa membeli 1 mobil Audi. Tapi meskipun demikian, pengeluaran Azella tidak akan berarti apa apa dibanding harta keluara Qierra yang masih menumpuk.


"Makan lagi yuk? Laper gue." Ajak Azella ketika melihat restoran didepannya.


"Yaudah."


Mereka berjalan beriringan dengan Refvino membantu Azella membawa 10 paper bag miliknya.


Azella memelih tempat duduk didekat kaca, kemudian mereka memesan makanan dan menunggu sambil mengobrol ringan.


"Em, Ice Cream vanilla nya yang besar-"


"Maaf Nyonya ice cream vanilla stoknya kosong, dan kami tidak ada restock untuk sekarang."


"Kalau sedikit juga gak ada?"


"Tidak ada Nyonya. Kami minta maaf atas ketidakmyamanan ini."


"Aduh, padahal saya lagi ngindam."


Azella memperhatikan seorang wanita hamil yang sepertinya sedang mengidam itu. Azella tadi memesan ice cream vanilla juga, tapi sepertinya wanita hamil itu lebih menginginkan.


Azella bangkit berdiri dan mendekati meja wanita itu yang hanya selat satu meja dengannya.


Refvino terdiam melihat apa yang akan dilakukan oleh Azella.


"Em, Tante mau ice cream vanilla punya saya?"

__ADS_1


Wanita itu tersenyum senang. "Beneran?"


Azella mengangguk mantap, "Iya, mbak, tolong pesanan ice cream vanilla punya saya dikasi Tante ini ya."


"Kamu baik banget. Sini duduk sama Tante." Sahut wanita itu antusias.


Azella menggeleng pelan dengan senyum manis, "Enggak Tante, aku sama temen disana." Kata Azella sopan.


Wanita itu melirik meja Azella. "Oh, yaudah, nama kamu siapa?"


"Aku Azella."


"Azella, nama yang cantik. Semoga anak tante secantik dan sebaik kamu ya."


"Semoga lebih baik dari aku Tante."


"Panggil aja Tante Ven, biar lebih akrab." Wanita tersebut meneliti seragam sekolah Azella dengan baik. Dan setelahnya dia tersenyum senang.


"Iya Tante Ven, Azella ketemen Azella dulu ya."


Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum ramah.


Azella melangkahkan kakinya kembali duduk didepan Refvino.


"Lo kesambet?"


Azella menggeleng.


"Kesurupan?"


Azella kembali menggeleng.


"****, lo yang kenapa?" Tanya Azella kemudian.


"Enggak, aneh aja liat lo tiba tiba baik."


"Eh, sembarangan, gue tuh emang baik ya."


"Iyain aja."


Sedangkan tanpa Azella ketahui wanita tadi memperhatikan Azella dengan intens.


"Lusi." Panggil wanita yang bernama Venus itu kepada asisten pribadinya.


"Iya Nyonya?"


"Cari tau gadis itu."


"Baik Nyonya."


Venus hanya berharap laki laki yang bersama Azella itu hanya temannya saja, sehingga masih ada kesempatan untuk putranya.


...____________...


Rigel melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion besar milik Daddynya.


14 jam penerbangan dari Rome ke Jakarta sebenarnya sangat menguras tenanganya.


Rigel melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 03.00 WIB.


Rigel tersenyum kecil ketika lewat disebuah kamar yang sudah di design dengan warna pink dan juga biru pastel.


Itu kamar yang Mommynya siapkan untuk adik kecilnya yang rencananya pagi nanti akan lahir kedunia.


Rigel kembali berjalan dan masuk kedalam kamarnya, melepaskan kancing kemejanya dengan cepat dan berniat membersihkan dirinya.


Rigel keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar, melirik jam yang menunjukkan setengah empat pagi membuat Rigel memutuskan tidak akan tidur, mengingat kedua orang tuanya akan kerumah sakit pagi ini jam 7.


Rigel mengambil celana pendek yang nyaman untuknya. Kemudian membuka balkon dengan pemandangan danau pribadi mansionnya. Dikelilingi tanaman bunga bunga yang Rigel sendiri tidak tahu namanya. Itu kesukaan Mommynya.


Rigel menggapai sebungkus rokok kemudian duduk disofa disana dengan setengah berbaring. Beratapkan langsung dengan langit.


Rigel melirik pergelangan tangannya yang masih dihiasi ikat rambut Azella.


Astaga, Rigel benar benar merindukan gadis itu.


Laki laki itu bergegas mengambil ponsel, dan membuka aplikasi chat, ternyata Azella benar benar menuruti Atlas untuk menjauhinya. Lihat saja, gadis itu tidak mengiriminya pesan satupun.


Namun tidak lama, Rigel kembali mengernyitkan alisnya terkejut ketika mendapati gadis itu online.


Dengan siapa kira kira gadis itu bertukar pesan? Sialan pikiran Rigel kemana mana jadinya.


Rigel kembali masuk kedalam kamarnya ketika sang matahari mulai menampakkan wujudnya.


Laki laki itu kemudian masuk kedalam walk in closet miliknya kemudian mengambil celana jeans panjang dipadukan dengan kaos hitam. Memakai jam mahalnya dan sepatu sneakersnya.


Tidak lupa mengambil parfum kesukaannya dan menyemprotkannya sesuka hati.


Laki laki itu keluar dari kamarnya dan melihat Mommynya diruang tamu yang sudah siap akan berangkat ke rumah sakit.


"Mom,"


"Rigel, kamu udah siap?"


Rigel meringis melihat Mommynya yang berjalan cepat kearahnya. "Rigel mau pergi sebentar nanti Rigel nyusul kerumah sakit."


"Yaudah, jangan lama lama. Em kamu udah siapin nama buat adik kamu?" Tanya Mommynya antusias.


Rigel mengangguk. "Udah."


"Siapa?"


"Adhara."


"Daddy juga punya nama." Celetuk Daddynya yang datang dari lantai dua.


"Wah, siapa?" Tanya Mommynya antusias.


"Andromeda."


"Duh bagus bagus keduanya." Ujar Mommynya senang sambil mengelus perut besarnya.


"Adhara Andromeda Diego." Ucap Rigel sebelum meninggalkan mansion besar itu.


Rigel mengendarai mobilnya dengan santai. Udara dipagi hari ini masih saja dingin dan hujan belum kunjung reda.


Setelah 20 menit diperjalanan, akhirnya Rigel tiba ditujuannya, mansion besar dengan ciri khas kolam besar di halaman depannya.


Rigel memarkirkan mobilnya didekat pintu utama, kemudian keluar dari mobilnya dan langsung masuk kedalam mansion itu ketika maid sudah membukakan pintu.


Bertepatan dengan itu, Atlas, yang menjadi tuan rumah, baru saja turun dari lantai dua, laki laki itu menggunakan pakaian kantor lengkap dengan tas kerja yang ditentengnya.


"Gue kira lo gak serius." Ujar Atlas ketika melihat Rigel menampakkan dirinya cukup lama setelah mereka bertemu kala itu.


"Dimana Azella?" Tanya Rigel mengabaikan perkataan Atlas.


"Dia dikamarnya pintu putih yang ada tulisan queen qierra." Jawab Atlas.


Rigel tanpa mengucapkan apapun, langsung pergi dari hadapan Atlas.


Atlas yang melihatnya hanya bisa menghela nafas jengah.


Rigel membuka pintu yang tidak dikunci oleh pimiliknya. Rigel tanpa ragu masuk kedalam kamar tersebut, dan disambut dengan keadaan kamar yang kosong. Tidak ada sang pemilik kamar yang dicari oleh Rigel. Namun Rigel mendengar suara gemericik air dari dalam toilet.


Rigel membuka pintu balkon kamar Azella, Rigel duduk dikursi yang tersedia disana, dan mulai merokok dengan santai.


Tidak berselang lama Rigel mendengar suara pintu terbuka, pintu yang merupakan pintu walk in closet itu terbuka dan menampilkan satu sosok yang keluar hanya menggunakan tank top dan juga celana pendek.


Azella belum memakai pakaian sekolah miliknya. Dan Rigel cukup terkejut akan hal itu.


Rigel tidak berniat berdiri dari duduknya dan menghampiri Azella, Rigel malah memperhatikan Azella yang memainkan hpnya dan menekuk wajahnya kesal.


Hingga ketika Azella mengikat rambutnya, gadis itu melirik kearah balkon, dan sontak saja mata bulatnya semakin membulat terkejut.


"Rigel?!" Tanyanya panik.


Gadis itu berjalan mendekat, dan Rigel masih setia pada posisi duduknya.


"Kamu ngapain disini?" Refleksnya.


Rigel tidak menjawab laki laki itu berdiri dari duduknya setelah mematikan rokoknya di vas bunga asli milik Azella.


Rigel menatap Azella dengan tajam. Tatapannya membuat Azella merinding tidak karuan.


Rigel mendekat dan Azella seperti lumpuh tidak bisa bergerak, hingga akhirnya laki laki itu tiba didepannya.


"Who?"


"H-hah?" Bingung Azella


Rigel memegang dagu Azella agar menatapnya.


Azella benar benar takut pada Rigel kali ini, tatapan laki laki ini berbeda, seperti menahan amarah. Dan jantung Azella samakin menggila dibuatnya.


"Siapa?" Tanya Rigel lagi penuh penekanan.


"S-siapa? Kamu nanya siapa?" Cicit Azella.


"Refvino Elvand? Kamu punya hubungan apa sama dia?"

__ADS_1


__ADS_2