RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[30 | Pusat Perhatian]


__ADS_3

Ting....


Ting....


Ting....


Azella mengerjapkan matanya kemudian membuka kelopak matanya dengan bersamaan. Azella terbangun karena suara ponselnya yang mengangganggu tidurnya.


Masih pukul 05.00 bukankah terlalu pagi untuk mengirimi orang pesan dengan tidak sabaran seperti itu?


Namun Azella tetap membukanya dengan rasa malas.


RefvinoElvand


Zell?


RefvinoElvand


Kok chat gue kemarin di read aja?


RefvinoElvand


Azella?


RefvinoElvand


Halo?


Azella sudah mengetik namun kembali diurungkan ketika mengingat Rigel yang tidak akan suka dengan hal itu.


Azella kembali menutup ponselnya dan langsung bangun mencari keberadaan Rigel yang memang sudah tidak ada disebelahnya entah sejak kapan.


Azella menuruni tangga dengan pelan-pelan. Azella berjalan kearah dapur Rigel mengeluarkan beberapa roti dan nutella coklat.


Azella makan sambil memainkan ponselnya, gadis itu tidak berniat mencari keberadaan Rigel, yang jelas Rigel tidak mungkin meninggalkannya di apartment sebesar ini sendiri kan.


Seketika Azella mendapati panggilan masuk dari Refvino.


Azella bingung harus bagaimana, sepertinya Azella harus menjelaskannya kepada Refvino agar laki-laki itu tidak menghubunginya seintens ini lagi.


"Halo?"


"Zell, kenapa pesan gue dibaca aja? Jahat banget lo."


"Em, gimana ya, kayaknya kita gabisa chat kayak biasanya lagi deh Kak."


"Hah? Kenapa?"


"Soalnya gue-"


Azella menghentikan kalimatnya ketika matanya menangkap sosok Rigel yang datang dari arah ruangan gym pribadi miliknya dan laki-laki itu berjalan kearahnya dengan mengelap wajahnya dengan handuk kecil.


"Soalnya gimana Zell?"


"Kak nanti gue telpon lagi, jangan ganggu gue dulu ya, bye!"


Tut...


Azella mematikan ponselnya sepihak kemudian langsung menghapus log panggilannya dengan Refvino tadi.


"Kenapa?" Tanya Rigel melihat Azella yang gugup.


"Apaan? Gapapa, mau?" Tawar Azella mengangkat rotinya yang diolesi nutella.


"Makan aja, aku mau keatas."


Azella menghela nafas gusar, salah tidak ya dirinya berbohong kepada Rigel?


Tapi bagaimana, Azella malas melihat Rigel yang ngambek, susah dibujuk.


...__________________...


Rigel mengendarai mobilnya dengan pelan memasuki gerbang SMA Antariksa. Jujur saja, pertama kalinya Rigel membawa perempuan kesekolah, itu biasa saja untunya, tapi bagi Azella tidak, gadis itu setengah mati menahan degupan jantungnya. Ayolah, fans Rigel itu ganas-ganas.


Tapi Azella bukan gadis yang mau harga dirinya di injak-injak, jadi meskipun jantungnya bedegup dengan cepat, Azella tetap berjalan dengan muka datarnya dan juga terkesan angkuh dan tidak menunduk sedikitpun.


Rigel juga sama, laki-laki itu mengabaikan sekitarnya dan berjalan lurus merangkul Azella.


"Sumpah vibesnya dapet banget."


"Anjir, cocok banget masa."


"Yaelah, demi apa mereka bakal jadi couple goals gitu."


"Bisa bisanya yang awalnya berantem jadi saling suka, tau gitu dari dulu gue cari masalah sama Rigel."


"Cantik banget Azella."


"Astaga kok gue yang baper."


"Kayak raja sama ratunya, sama-sama cool."


Azella tersenyum bangga dalam hatinya ketika mendengar ucapan-ucapan dari beberapa siswa yang terang-terangan membicarakan mereka.


"Ini nih, yang buat satu sekolah heboh." Ucap Cello yang membuat langkah Rigel dan Azella berhenti.


Disana bukan hanya ada Cello,tapi sahabat Rigel yang lain, juga sahabat Azella.


"Pj lah." Celetuk Vixtor.


"Yoi, bisa kali open table." Ucap Cello menaik turunkan alisnya.


"Besok di Club biasa."


Ucapan Rigel itu tentu saja disambut sorakan senang oleh teman temannya yang lain.


Azella menggelengkan kepalanya melihat interaksi laki-laki didepannya.


Setelah sedikit mengobrol akhirnya Azella, Zia dan Sienna memutuskan kekelas lebih dulu, meninggalkan Rigel dan sahabatnya.


"Lo gak mau cerita apa gitu sama kita?" Pancing Zia ketika mereka sudah menduduki bangku masing-masing.


"Udah gak sabar yaa? Hehe."


"Cepetan Zell. Kepo nih." Ujar Sienna.


Pertama Azella menceritakan dari kakaknya yang menyuruhnya menjauhi Rigel disusul dengan cerita Rigel yang bilang dirinya menemui Papa Azella ke Rome.


"Hah? Demi apa Rigel beneran ketemu sama bokap lo?!" Heboh Zia.

__ADS_1


"Gak tau, gue juga males nanya."


"Kalo menurut gue dia minta restu sih." Ucap Sienna.


"Tapi gue gak pacaran sama dia." Lirih Azella.


"Lah?! Terus status kalian apa?! Kok perlakuan dia ke lo manis banget? Jahat sih kalo lo digantungin." Sela Zia tidak terima.


"Ya dia bilang dia punya gue, gue punya dia."


"Komitmen maksud lo?"


Azella mengidikkan bahunya tidak tau harus menjawab apa.


"Hadehh, gue kira hubungan kalian udah mulus."


"Iya semulus pantat bayi, ada aja ternyata masalah lain."


"Dia beneran sayang gak sih sama lo? Soalnya ini kan pertama kalinya Rigel gini ke cewe, kita jadinya susah nebak sikapnya." Ucap Zia.


"Lo jangan gitu dong, kasian Azella dibaperin aja nanti." Peringat Zia.


"Ya terus gue harus gimana?"


"Udah, jangan asal nebak dulu, Rigel kan biasanya tanggung jawab banget sama omongannya, gamungkin dia bilang itu omong kosong." Ucap Sienna.


"Udah Zell, lo tenang aja kalo Rigel cuma mainin lo nanti gue cingcang tu anak." Kata Zia emosi.


Azella tetsenyum tipis. "Gak tau, emang gue mudah banget ya baper sama dia?"


"Enggak Zell, siapapun yang ada diposisi lo juga bakal ngerasain hal yang sama, secara yang gituin Rigel. Rigel lo ini anak ganteng, jenius, kaya, terus latar belakang keluarganya gausa ditanya."


"Udah-udah gak usah dipikirin. Percaya aja sama Rigel ya."


Stop Zell! Jangan overthinking.


..._______________...


Azella memberikan sentuhan terakhir dirambutnya sebelum tersenyum bangga melihat tampilannya dicermin.


Salah satu gaun yang menjadi koleksi favorite nya itu akhirnya dipakai diacara pernikahan Papanya Yuan.


Hell, Azella masih tidak menyangka sebenarnya jika Papa Yuan menikah dengan mantannya Yuan sendiri.


Tapi tidak apa, jodoh tidak ada yang tahu kan?


"Rigel udah nunggu dibawah." Sontak saja perkataan dari Aksel yang bersandar dipintu kamar Azella membuat Azella kaget.


"Sejak kapan lo disana?" Tanya Azella sambil memasukkan barang barangnya ke tas kecilnya.


"Sejak lo senyum-senyum kayak orang gila disana."


Azella merotasikan matanya malas, gadis itu berjalan melewati Aksel dan menuruni tangga menuju ruang tamu.


"Gue curiga sih, tapi masih dicari tau sama bawahan gue."


"Emang kehidupannya yang tertutup atau dia dalang semuanya."


Samar-samar Azella mendengar pembicaraan antara Atlas dan Rigel.


Entah sejak kapan, seketika mereka menjadi sangat akrab.


"Udah." Jawab Azella ikut memperhatikan tampilannya sendiri.


Kemudian Rigel berdiri diikuti Atlas, "Yaudah, hati-hati."


Azella mendekat kepada Rigel dan laki-laki itu langsung menggenggam tangan Azella lembut dan berjalan keluar dari mansion besar itu.


"Kamu pakek mobil baru lagi?" Tanya Azella melihat mobil Rigel yang belum pernah dilihat sebelumnya.


"Bukan, ini udah lama aku beli, tapi baru aku keluarin." Jawab Rigel sambil membukakan Azella pintu.


Azella tidak heran sih, pasti Rigel memiliki banyak koleksi mobil kan. Secara uangnya bertambah setiap detik.


20 menit perjalanan akhirnya Azella dan Tigel tiba ditempat acara, terlihat memang banyak tamu-tamu yang sudah berdatangan. Dan tidak bisa dipungkiri kehadiran Rigel selalu bisa menarik perhatian khalayak banyak.


Buktinya baru sedetik mereka kekeluar dari mobil puluhan kamera langsung menyoroti mereka. Namun tetap saja, Azella dan Rigel always tenang menghadapi itu semua. Azella yang anggun dan Rigel yang datar-datar saja tapi berkharisma.


Mereka berjalan masuk dan langsung duduk dibangku VVIP yang diarahkan oleh petugas acara.


"Yang lain mana?" Tanya Azella.


"Ada, nanti ketemu diacara tetakhir." Azella mengangguk mengerti, gadis itu melihat ballroom mewah yang sudah dihias dengan sangat cantik. Tidak lupa puluhan orang penting yang menghadiri acara tersebut.


"Ini beneran Papanya Yuan nikah sama Mantannya Yuan?" Tanya Azella lagi. Masih tidak percaya.


"Iya, Yuan sama Licia bedanya 3 tahun, gak tau kenapa dulu Licia suka banget ngejar Yuan. Akhirnya mereka pacaran."


"Beda umur Licia sama Papanya Yuan berapa?"


Rigel melirik Azella sejenak. "Kayaknya 20 tahun."


"Kenapa Papanya Yuan mau sama Licia?"


"Licia kayak tante-tante."


Azella terdiam sebentar mendengar jawaban Rigel.


Menarik juga keluarga Yuan. Pikir Azella


"Jadi waktu pacaran, Yuan lebih kecil daripada Licia?"


Rigel mengangguk membenarkan.


"Oh gitu." Ucap Azella sambil menyesap minuman didepannya.


"Azella?"


Azella melirik Rigel. "Kenapa?"


"You look so gorgeous tonight!"


Deg!


"Thank you!" Jawab Azella malu-malu.


Damn it. Bisa-bisanya Azella malu mendengar pujian dari Rigel, padahal biasanya jika orang lain yang memujinya demikian Azella akan biasa saja. Wah, laki-laki itu memang memberikan dampak yang berbeda terhadapnya.


Rigel meraih tangan Azella kemudian menggenggamnya diatas meja. Melirik Azella dari atas kebawah.

__ADS_1


"That dress looks perfect on you!" Puji Rigel lagi.


Laki-laki itu tersenyum kecil ketika melihat pipi Azella semakin memerah karena perkataannya.


"Rigel udah." Ujar Azella pelan.


"Udah apa?"


"Jangan ngegombal terus."


"Aku gak ngegombal."


"Berhenti muji aku."


"Kenapa? Kamu beneran cantik malam ini kan!"


"Rigel!"


"Apa cantik?"


"Kok kamu jadi banyak omong?!"


"Because you look so beautiful to night!"


"Iya aku emang cantik." Sergah Azella kemudian.


"Dan-"


"Dan apa?" Tanya Azella ketika Rigel tidak melanjutkan perkataannya.


"I can't take my eyes off you"


"Okay, stop making me blush!" Peringat Azella.


Rigel hanya tersenyum kecil melihat Azella yang membuang muka darinya.


Acara berlangsung dengan semestinya. Hingga tiba diakhir acara dimana acara bebas, dan undangan boleh berdiri dari duduknya.


"Congratulations bro!!" Ucap Rigel ketika melihat Yuan menghampirinya.


"Lo ngejek gue?" Tanya Yuan sambil membenarkan dasi kupu-kupu yang terpasang apik dilehernya.


"No, I think you deserve better. And you know you do!" Rigel mengatakannya sambil menepuk beberapa kali bahu Yuan.


"Azella makasi udah dateng." Kata Yuan menatap Azella dengan senyum menawannya.


"Congratulations buat pernikahan Papa lo."


"Thank you, nikmati pestanya ya, by the way, kalian jadi pusat perhatian malam ini."


Yuan melirik sekitarnya. "Liat aja sejak tadi kamera nyorot kalian semua."


Azella menunduk malu mendengar ucapan tersebut. Sedangkan Rigel biasa saja. Sepertinya meski ada bom atom yang meledak disebelahnya, laki-laki itu akan tetap biasa saja.


"Yaudah, gue kesana dulu ya, enjoy." Yuan meninggalkan mereka berdua setelah mengobrol sebentar.


"Aku mau ketoilet, kamu tunggu disini, jangan kemana-mana." Ucap Azella.


"Gak mau aku anter?"


"Engga usah, aku sendiri aja." Ucap gadis itu kemudian meninggalkan Rigel.


Azella melangkahkan kakinya hingga sampai di toilet hotel mewah tersebut. Sebenarnya Azella ingin membenarkan riasan dan rambutnya sedikit.


"Good, ini dia, lihat yang jadi pusat perhatian malam ini." Ucap seseorang yang membuat Azella menoleh kaget.


"Kak Refvino?! Kok bisa disini?"


"Gue kenal sama Licia."


"Bukann. Kenapa masuk ketoilet cewek Kak?!" Heboh Azella.


"Soalnya gue ngeliat lo disini, gue mau nanya, lo ngapain aneh banget sama gue?!" Tanya Refvino


"Gapapa."


"Kenapa sih Zell? Gue ada salah ya sama lo?" Tanya Refvino semakin mendekati Azella, sedangkan Azella berusaha mundur dari jangkauan Refvino.


"Em, Kak, gue harus ngejaga perasaan seseorang." Ucap Azella akhirnya.


Refvino terlihat mengerutkan alisnya. "Siapa?!"


"Ada."


"Pacar lo? Lo punya pacar?!" Ucap Refvino sedikit berteriak.


"Em, engga."


Kok dia jadi kepo sih?!


"Rigel?"


Azella menatap Refvino dengan tatapan datarnya, lagipula apa masalah Refvino sebenarnya jika memang iya? Kenapa laki laki ini seperti marah?!


"Iya."


"Lo pacaran sama dia?"


"Em, lo gak perlu tahu itu urusan gue sama dia Kak." Jawab Azella masih berusaha sopan.


"Tapi Zell, dia gak ada hak ngekang lo buat berhubungan sama siapapun termasuk gue, kan gue yang lebih dulu kenal sama lo. Lagian lo gak pacaran juga sama dia, ngapain lo nurut segitunya?!"


Azella hanya diam, tidak ada gunanya berdebat dengan Refvino, laki laki ini tidak akan mengerti.


"Lo yang kenapa sih Kak? Suka suka gue dong, mungkin iya gue mulai gak nyaman sama lo." Ucap Azella akhirnya ketika melihat Refvino seperti menahan amarah, selama mengenal Refvino, Azella tidak pernah melihat laki laki ini menampilkan mimik kasarnya kepada Azella.


"Apaan sih lo?! Lo yang banyak berubah gara gara Rigel Zell." Ucap Refvino dengan nafas menggebu.


"Gara gara laki laki sialan itu, lo jadi renggang sama gue kan, apa apaan dia nyuruh lo jauhin gue?!" Marahnya lagi.


Refvino mendekat dan menarik lengan Azella dengan paksa. Azella yang terkejut mendadak tidak bisa memberontak banyak, karena pegangan tangan Refvino dilengannya yang cukup erat.


"Lepas, sebelum gue bener bener gak mau berhubungan lagi sama lo, mending lo lepasin tangan gue." Tegas Azella menatap Refvino dengan nyalang.


Ini bukan Refvino yang Azella kenal. Atau memang selama ini Azella tidak mengenal Refvino dengan baik?


"Berani lo sama gue?!" Tanya Refvino dengan nada yang berbeda, dengan nada yang tidak pernah Azella dengar sebelumnya. Biasanya Refvino selalu lembut dengannya, tapi kali ini tidak.


Refvino semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Azella. Azella sudah ingin menendang ************ laki-laki itu dengan lututnya sebelum perkataan Refvino selanjutnya mampu membuatnya bungkam.

__ADS_1


"Lo lupa, kan lo yang buat Altheo mati. Lo gak sadar? lo itu sebenarnya pembawa sial Zell, orang tua lo aja gak betah sama lo, Atlas? Aksel? Rigel juga bakal gitu, suatu saat dia juga bakal ninggalin lo. Cuma gue yang ngertiin lo dan mau temenan sama lo. Sisanya bakal ninggalin lo."


__ADS_2