
Rigel memperhatikan keadaan restoran yang hanya diisi oleh beberapa orang saja, karena cuaca yang memang sedang hujan membuat sebagian orang malas untuk keluar rumah. Mata tajamnya menatap satu objek yang menjadi dasar rasa khawatir didadanya yang hampir saja meledak mungkin jika tidak mendapati gadis itu sedang berada didepannya sekitar jarak lima meter dari tempatnya berdiri.
Rigel memantapkan kakinya melangkah mendekati gadis cantik itu yang kadang terlihat menjadi pusat perhatian dari beberapa laki-laki yang duduk dipojok restoran. Dan Rigel yakin seratus persen gadis itu tidak menyadari keberadaannya.
"Azella."
Benar saja, Azella seperti sedikit terkejut ketika Rigel berada dihadapannya, namun segera diubahnya lagi menjadi raut datar.
"Ngapain disini?" Tanya Azella ketus.
"Ini tempat umum, siapa aja boleh kesini."
"Oh yaudah, gue yang pergi kalo lo mau disini." Jawab Azella cuek.
Rigel dengan gesit menarik lengan Azella untuk kembali duduk ketika gadis itu hendak berdiri.
"Apa?!" Protes Azella kesal. Rigel mendekatkan wajah tampannya kehadapan Azella, sehingga gadis itu dapat merasakan deru nafas Rigel menyentuh wajahnya.
Rigel mengarahkan satu tangannya merapikan helai demi helai rambut Azella yang berantakan.
"Kalau kamu perlu orang yang mau dengerin semua keluh kesah kamu, aku siap 24 jam. Atau kalau kamu perlu orang buat jadi tempat bersandar, bahu aku kokoh buat kamu, dan kalau kamu perlu seseorang yang mau nerima kamu lebih dari diri kamu sendiri, pelukan aku selalu hangat buat kamu Azella." Lirih Rigel didekat telinga Azella.
Azella menatap Rigel dari ujung matanya dengan perasaan aneh yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
"Jangan kayak gini, jangan ngehindar, aku disini buat kamu, semua kesedihan kamu aku janji semua akan segera hilang." Ucap Rigel mantap.
"Berhenti seolah-olah lo tau semua tentang gue." Ujar Azella setelah lama terdiam.
"No, aku selalu ada buat kamu tapi kamu yang ngehindar, dengan kayak gitu kamu sendiri yang nunjukkin kalau kamu gak baik-baik aja."
Azella menahan kekesalan didalam dadanya, nafas gadis itu naik turun. "Lepasin tangan gue Rigel."
"Never."
"Lo maunya apa sih?" Tanya Azella menahan genangan air mata yang sudah ingin mengalir deras. Entahlah Azella tidak bisa seperti ini. Azella tidak suka ada yang mencoba mencari tahu tentang kehidupannya.
"Kenapa mau nangis?" Tanya Rigel balik mengabaikan pertanyaan Azella.
"Siapa yang nangis?!" Ucap Azella tidak terima.
"Aku nemenin kemanapun kamu pergi."
Azella menghela nafas jengah. "Jangan ganggu gue."
"Gak."
"Gue gak perlu sama lo." Tegas Azella kemudian segera menjauhkan dirinya dari Rigel.
Bedanya, Rigel tidak mencegah apa yang dilakukan gadis itu, tapi Rigel melangkahkan kakinya mengikuti langkah kecil Azella.
"Jangan ikutin gue." Ucap Azella ketika sadar Rigel mengikutinya.
"Terserah gue."
Azella memutar matanya malas karena tingkah Rigel. Gadis itu melihat langit yang sangat gelap karena mendung, dan juga hujan yang turun semakin deras. Azella tidak peduli, daripada bersama Rigel lebih baik Azella memilih menghindar meski pilihannya menyebrangi lautan sekalipun.
Azella berjalan menunduk menju parkiran mobil. Namun tiba-tiba Azella merasa ada penghalang yang melindungi kepalanya dari rintik hujan.
"Diem." Ucap Rigel melihat Azella yang ingin menghindar dari jaketnya yang digunakan untuk melindungi kepala mereka dari hujan. Bukanya tidak ingin mengambil payung, Rigel hanya ingin sedikit romantis saja. Gila memang.
Azella menolak ketika Rigel mengarahkan langkah mereka kearah mobil laki-laki itu.
"Enggak ya! gue bawa mobil." Tolak Azella ketika Rigel membuka kunci otomatis mobilnya.
"Masuk atau gue cium?"
"Apaan sih?!"
"Oke."
Cup...
Azella terdiam, apa itu tadi?
Azella memegang bibirnya yang tadi dikecup pelan oleh Rigel.
"Masuk."
Seperti terhipnotis, Azella menurut masuk dan duduk dikursi penumpang. Sedangkan Rigel memutari mobilnya dan masuk dibangku kemudi.
Rigel melirik Azella sebentar sebelum melajukan mobilnya meninggalkan kawasan restoran.
Azella menggeram dalam hatinya, kenapa Rigel gampang sekali membuat dunianya terbalik? Lihatlah, sekarang laki-laki itu bertindak seolah kecupan kecil itu adalah hal biasa. Sedangkan Azella merasa jantungnya ingin meledak saat ini juga.
"Mau kemana?" Tanya Azella akhirnya.
__ADS_1
Rigel diam tidak menjawab. Laki-laki itu fokus kepada jalanan didepannya.
Azella menghela nafas jengah, bukankah dirinya masih marah? Lalu kenapa Rigel ikut-ikutan marah?
Rasanya Azella ingin terbang saja, ingin melepaskan semua beban yang ada didalam dirinya. Jika Azella boleh memilih, Azella enggan dilahirkan dengan situasi yang serumit ini. Tapi, tidak ada yang bisa memilih dimana dan kapan mereka akan dilahirkan.
Yang penting, kedepannya Azella harus tau planning dalam hidupnya.
Eh,
Itu dia, Azella sekarang tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Semua hampa. Segala yang dilakukannya tidak ada artinya sama sekali.
"Turun."
Azella terlonjak kaget ketika melihat mobil Rigel terparkir didepan gedung tinggi yang Azella yakin adalah apartment laki-laki itu.
"Kenapa kesini? Aku gak mau kesini." Ujar Azella.
Rigel melirik Azella tajam dari ujung matanya. Ayolah mau diuji bagaimana lagi tingkat kesabaran seorang Rigel kali ini?
"Turun dan nurut sama gue, atau pergi sendiri kemana aja yang lo mau, gue gak peduli." Ketus Rigel kemudian turun dari mobilnya.
Brakk..
Azella lagi-lagi terlonjak kaget ketika Rigel menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Azella mengepalkan tangannya erat, jika boleh Azella ingin menangis saat ini juga. Bagaimana mungkin laki-laki itu seenaknya membawanya pergi dari restoran dan meninggalkan mobilnya disana, parahnya sekarang Rigel tidak peduli padanya.
Azella keluar dari mobil Rigel cepat, kemudian menutup kasar pintu mobilnya.
Brakk...
Azella yang menutup kasar pintu mobil membuat Rigel yang awalnya fokus pada ponselnya mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepada Azella.
Namun Azella tidak memperdulikan hal itu, gadis itu berjalan menjauh dari mobil Rigel dan juga gedung apartment Rigel.
Azella membiarkan hujan membasuh seluruh tubuhnya, bahkan entah sejak kapan air mata gadis itu sudah mengalir dengan deras. Azella tidak peduli lagi tentang Rigel. Biarkan saja, sekalinya hancur biar saja hancur semua.
Namun baru beberapa langkah, Azella merasa tubuhnya diangkat dengan paksa. Azella tiba-tiba saja berada diatas pundak Rigel yang menggendongnya layaknya karung beras.
Azella berusaha memberontak dengan tangan dan kakinya, namun seperti pukulan angin, Rigel tidak terpengaruh sama sekali. Tidak peduli dengan tatapan orang yang memperhatikannya, Rigel berjalan cuek menuju unit apartment miliknya. Lagipula gedung besar ini juga atas namanya sejak setahun yang lalu.
Bruk....
"Rigel sakit." Protes Azella ketika Rigel melemparnya dengan kejam diatas sofa di ruang tamu di unit apartment Rigel.
Setelah membuang kedua benda itu asal, Rigel berjalan kearah dapurnya dan mengeluarkan dua gelas dari lemari atas tempat penyimpanan gelas.
Azella mengerjapkan matanya beberapa kali, bisa-bisanya disaat seperti ini Azella malah merasa terpesona dengan pahatan tubuh milik Rigel.
Azella mengalihkan pandangannya ketika Rigel kembali mendekat kearahnya dengan membawa dua gelas yang Azella yakin dari aromanya adalah coklat panas.
Rigel meletakkan satu cangkir coklat panas diatas meja didepan Azella begitu saja tanpa berkata apapun. Sedangkan Azella yang melihatnya hanya menahan nafasnya karena jarak mereka sangat dekat.
Rigel memutari Azella dan mengambil tempat duduk didepan gadis itu.
"Gue gak mau minum."
Rigel memusatkan pandangannya kepada gadis cantik didepannya yang pakaiannya sudah basah total.
"Terserah."
Azella menghela nafas jengah melihat Rigel yang sedang marah padanya.
"Kan harusnya aku yang marah." Cicit Azella memainkan kukunya.
"Rigel." Lirih Azella lagi ketika melihat Rigel sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan keberadaannya.
"Yaudah, kalo kamunya gitu ngapain juga aku diajak kesini."
Hening.
Azella menahan emosi didalam dadanya yang sudah ingin meledak ketika Rigel tidak juga memperhatikannya.
Azella bangkit dari duduknya mendekat kearah Rigel dan merampas kasar ponsel laki-laki itu.
Prang..
Azella melempar ponsel Rigel dengan keras kelantai. Tentu saja efeknya ponsel itu tidak lagi berbentuk seperti semula. Rigel hanya menaikkan sebelah alisnya santai.
Azella dengan sisa pertahannannya menjatuhkan dirinya kepangkuan Rigel. Menenggelamkan dirinya sedalam-dalamnya didekapan hangat Rigel.
Rigel menghela nafas jengah sebelum membalas pelukan Azella. Tidak peduli tubuhnya basah karena pakaian gadis itu.
Hiks...
__ADS_1
Hiks...
Oke, sekarang Rigel merasa dadanya basah karena air mata Azella yang mengalir deras dari kedua mata indahnya.
"Kenapa nangis, hm?" Tanya Rigel sambil mengusap lembut kepala Azella.
"Jahat."
"Kam-"
"Kamu jahat pokoknya." Sela Azella cepat sambil mengusalkan lagi wajahnya didada bidang milik Rigel.
Rigel menghela nafas lelah.
"Iya aku yang jahat. Kamu kan baik terus."
Bugh...
Rigel sedikit terkejut ketika Azella memukul dadanya dengan cukup keras. Tidak, tidak sakit, tapi Rigel tidak menduga Azella akan melakukan hal itu.
"Kenapa lagi? Aku udah ngaku aku jahat."
"Kamu enggak pernah ngertiin aku." Lirih Azella masih menenggelamkan kepalanya dipelukan Rigel.
Rigel memijit pelipisnya dengan tangan kirinya yang bertumpu pada sofa, sedangkan tangan kanannya memeluk erat pinggang ramping Azella yang berada diatas pangkuannya.
"Iya aku enggak pernah ngertiin kamu."
Azella mengangkat wajahnya dari dada bidang Rigel. Gadis itu menatap Rigel dengan mata yang sembab.
"Tuhkan merah matanya, nakal." Ujar Rigel mengelus lembut mata Azella.
"Aku pengen istirahat."
Rigel menatap Azella dengan pandangan penuh arti.
"Iya sekarang kamu istirahat."
"Tapi kamu temenin."
"Aku temenin."
Azella bangkit dari duduknya dan juga menarik tangan Rigel agar ikut berdiri. Dan Rigel dengan sukarela menuruti keinginan gadis itu.
Baru dua langkah, Azella merasa menginjak sesuatu, dan matanya langsung membulat kaget ketika melihat benda yang diijaknya.
"Gapapa." Ucap Rigel mengerti.
"Aku-"
"It's okay, aku punya banyak ponsel kayak gitu."
Rigel menarik tangan Azella untuk menatapnya, "Kamu naik kekamar aku, ganti baju, jangan sampai sakit."
Azella mengangguk kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar Rigel.
Rigel menatap ponsel dengan logo apel itu dengan pandangan datar. Tidak, bukan Rigel menyesali ponselnya yang hancur, Rigel bahkan punya saham di perusahaan apel itu.
Membeli satu iPhone 12 Pro Max, seperti membeli permen bagi Rigel.
Rigel melangkahkan kakinya kesalah satu ruangan dimana ruangan itu adalah ruangan kerjanya lengkap dengan alat teknologi canggih dan juga perustakaan.
Rigel mengambil ponsel baru dibrangkas yang otomatis isinya sama dengan ponselnya yang rusak tadi.
Rigel mengetik beberapa angka kemudian meletakkan ponselnya didekat telinga.
"Do it now, Xiever." Ucap Rigel kemudian langsung mematikan ponselnya, laki-laki itu berjalan menyusul Azella dengan senyuman tipis yang kontras dengan wajah dinginnya.
Laki-laki tua itu rupanya sudah berani mengusik miliknya.
..._________________...
Azella pandangannya kearah jendela ketika melihat Rigel yang memasuki kamarnya masih dengan tanpa atasan. Azella sudah menggunakan baju ganti yang memang sudah ada di kamar ini sejak Azella datang pertama kali.
Rigel melirik Azella sebentar sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Azella melihat-lihat dengan teliti kamar yang beberapa kali sudah pernah dimasukinya ini. Ada satu album foto diatas meja yang tidak sengaja Azella lihat ada ditumpukan buku paling bawah.
Azella mengira itu adalah album Rigel waktu kecil, ketika mendengar suara gemericik air dari dalam toilet Azella semangkin semangat untuk melihat album itu diam-diam tanpa Rigel tahu.
Azella tersenyum kecil kemudian membuka halaman pertama. Namun matanya justru membola kaget melihat bukan foto Rigel yang berada disana, tapi foto dirinya. Bukan hanya satu atau dua, tapi sepuluh kali lebih banyak. Bukan hanya foto sekarang, tapi foto masa kecil, sd, bahkan smp dan sma.
Sebentar, jadi Rigel sudah mengenalnya selama ini? Siapa sebenarnya Rigel? Kenapa bisa ada banyak fotonya disini, bahkan ini Azella yakin semuanya ini diambil diam-diam.
Azella merasa semua tidak benar, Azella tidak bisa percaya lagi kepada Rigel jika begini. Azella memperhatikan album yang fotonya sudah berserakan dilantai kamar itu. Azella duduk dan bersandar diranjang sambil memeluk lututnya bingung.
__ADS_1
"Kamu ngapain?"