
Azella terbangun pukul 05.00, sungguh dijam-jam yang membuat Azella malas. Malas bangun dan malas kembali tidur, karena semuanya tanggung sekali.
Azella bergerak mengambil ponselnya yang ditaruh diatas nakas disamping tempat tidurnya, dan tangannya langsung membuka aplikasi chat. Jarinya tidak sengaja membuka roomchatnya dengan Rigel, seketika Azella kaget ketika mendapati laki-laki itu sedang online.
"Anjir, dia chat sama siapa pagi-pagi gini?" Rutuk Azella, rasa mengantuknya langsung hilang.
Azella memperhatikan aktifitas laki-laki itu dan tidak kunjung mendapati tanda online itu menghilang.
Azella menghela nafas lelah. Apa yang sebenarnya diharapkan olehnya? Kan dia dan Rigel tidak ada hubungan apa-apa.
Tapi kenapa hal ini membuat dadanya sesak?
Azella melirik boneka beruangnya.
"Tuh kan, lo liat Al? Sesek tau ga!"
"Padahal dia bukan siapa siapa gue."
"Sedih." Lirihnya.
Kring....kring.....
Suara alarm mengalihkan perhatian Azella.
Azella menghela nafas ketika melihat pukul 6.00 mau tidak mau Azella harus bangun untuk bersiap siap kesekolah. Apa yang dilamunkan selama satu jam? Secara tidak sadar Azella memperhatikan roomchat Rigel selama satu jam? Hell nah.
Azella masuk kedalam kamar mandinya. Gadis itu masih melihat ponselnya dan menunggu kapan kiranya aktifitas online dari Rigel akan hilang, tapi nyatanya tidak hilang hilang juga. Azella menjadi kesal sendiri dan melempar asal ponselnya keatas tumpukan baju kotor.
Gadis itu mandi dengan perasaan campur aduk.
Tidak lama, hanya 30 menit Azella sudah keluar dari kamar mandi, Azella langsung memakai pakaiannya, karena kamar mandinya terhubung langsung dengan walk in closet miliknya, Azella hanya menggunakan tank top dan celana pendek, Azella belum memakai seragam sekolahnya karena gadis itu akan menggunakan skincare terlebih dahulu.
Azella mengambil ponselnya ditumpukkan baju kotornya kemudian berniat menchargernya ketika melihat dayanya yang hampir habis.
Azella berjalan membuka pintu penghubung ruangan dengan santai. Kemudian mencharger ponselnya diatas nakas. Setelahnya Azella mengikat ulang rambutnya yang berantakan.
Namun netranya tidak sengaja menangkap sosok yang duduk dibalkon kamarnya dengan santai.
Sontak saja mata Azella membulat sempurna.
Ini gue masih mimpi apa gimana? Rutuk Azella dalam hati.
"Rigel?!" Ujarnya panik.
Gadis itu berjalan mendekat, dan Rigel masih setia pada posisi duduknya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Azella masih dalam mode kaget.
Rigel tidak menjawab laki laki itu berdiri dari duduknya setelah mematikan rokoknya di vas bunga asli milik Azella.
Rigel menatap Azella dengan tajam. Tatapannya membuat Azella merinding tidak karuan.
Rigel mendekat dan Azella seperti lumpuh tidak bisa bergerak, hingga akhirnya laki laki itu tiba didepannya.
"Who?"
"H-hah?" Bingung Azella
Rigel memegang dagu Azella agar menatapnya.
Azella benar benar takut pada Rigel kali ini, tatapan laki laki ini berbeda, seperti menahan amarah. Dan jantung Azella samakin menggila dibuatnya.
"Siapa?" Tanya Rigel lagi penuh penekanan.
"S-siapa? Kamu nanya siapa?" Cicit Azella.
"Refvino Elvand."
Deg..
Azella tidak mengerti kenapa jantungnya tidak tenang ketika Rigel menanyakan hal itu.
"Temen."
"Oh, temen yang sering diajak keluar bareng? Iya?"
"Emang kenapa?" Tanya Azella balik. Gadis itu mulai menatap Rigel dengan pandangan menantang.
"Gak boleh lagi!" Tegas Rigel.
"Kenapa? Dia kan temen aku, kayak kamu sama aku."
"Temen gak ada yang aku-kamuan."
Azella terdiam sebentar. "Ada." Balas gadis itu tidak terima.
"Gak ada Azella."
"Ada, kita kan temen, tapi aku-kamuan."
"Siapa bilang kita temen?" Tanya Rigel yang sukses membuat jantung Azella berdenyut.
Oh, dia ga nganggep gue temen ya, berarti apa dong, orang asing? Batin Azella melangsa.
"Y-yaudah, lo ngapain masuk kamar orang sembarangan." Tukas Azella kesal.
Rigel menatap Azella dengan smirk tipis diujung bibirnya.
"Lo gak boleh keluar sama cowok lain." Tegas Rigel. "Kecuali sama gue." Lanjutnya kemudian.
Azella merasa wajahnya memerah. Tapi tidak berselang lama Azella kembali menampakkan wajah datarnya.
"Gak usah ngegombal."
"Gue gak ngegombal."
"Pergi sana, nanti diliat sama Atlas."
Rigel mengernyitkan alisnya sebelum mengerti kemana arah ucapan Azella, gadis ini belum tahu tentang pertemuan dan pembicaraannya dengan Atlas, pantas saja Azella berfikir demikian.
"Kenapa emangnya kalo ketemu sama Atlas?" Pancing Rigel.
"Bahaya, nanti lo dibunuh."
"Gue gak takut sama Atlas." Ucapnya, kemudian laki-laki itu menarik dagu Azella lebih dekat.
"Lebih takut gak ketemu sama lo sih." Ucapnya pas didepan wajah Azella yang mengeluarkan rona merah.
Azella benar-benar kepanasan disaat cuaca dingin seperti ini. Refleks saja Azella mendorong bahu Rigel menjauh.
Dimana hujan turun membasahi bumi, namun kedua insan itu bisa-bisanya saling menggoda diantara suara petir yang bersahutan.
"Jangan bercanda terus Rigel, mending lo cepet pulang."
"Gak mau."
Azella berdecak kesal, jujur dia amat merindukan laki laki didepannya, tapi bagaimana ya, masalahnya Atlas tidak suka dengan itu.
"Lo gak sekolah emang?" Tanya Azella kemudian ketika melihat Rigel dengan pakaian casual miliknya.
"Gak, dan lo juga enggak."
"Hah? Mana bisa gitu, lo bolos jangan ngajak ngajak." Marah Azella mendelikkan matanya kesal.
"Gue gak bolos, gue ijin. Lo juga gue ijinin."
Azella mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Tap-"
Ceklek.
Suara pintu yang terbuka membuat Azella menghentikan kalimatnya. Jantungnya semakin berdetak kencang, bagaimana jika Atlas-
"Gue kekantor dulu, kalian jangan dikamar berduaan. Rig, jaga Azella."
Atlas mengatakan kalimat singkat kemudian meninggalkan mereka berdua. Hal itu tentu saja membuat Azella kaget dan Rigel yang biasa saja.
Azella masing tepelongo kaget meskipun Atlas sudah menghilang dari pandangannya.
"Hey."
"K-kenapa bisa?" Tanya Azella bingung.
"I can do whatever I want."
"Kamu kenal Atlas?"
__ADS_1
"Yes, jauh sebelum aku kenal kamu."
Azella menggelengkan kepalanya pelan. Jadi mereka sengaja mengerjainya?
"Jahat." Cicitnya. "Kalian sengaja ngerjain aku?"
"Kalian kok tega. Kan aku jadi kepikiran." Lirih Azella. Percuma dirinya menangis, dan menjauhi Rigel selama ini jika ternyata itu tidak perlu.
Rigel merasa bersalah ketika melihat mata gadis itu berkaca-kaca karena ulahnya.
****, sekarang Rigel menyesali keputusannya yang terlalu lama mengundur waktu untuk menemui Azella.
"Azell-"
Azella menghindar ketika Rigel hendak menyentuh tangannya.
"Keluar." Lirih gadis itu.
Rigel mengerutkan alisnya tidak suka.
"Azella, denger dulu."
"Gak mau, kalian jahat banget sama aku."
"Az-"
"Udah gak usah ketemu sama aku sekalian, selamanya, pergi aja sana." Ujar gadis itu emosi.
Rigel menghela nafasnya jengah. Azella membelakanginya, gadis itu menunduk menatap lantai yang diijaknya.
"Lantai marmernya lebih ganteng daripada aku?" Tanya Rigel berusaha membujuk Azella dengan sabar.
"Iya." Ketus Azella.
"Yaudah."
Azella mengernyitkan alisnya ketika Rigel menjawabnya seperti itu.
"Sekali lagi aku tanya, kamu beneran nyuruh aku pergi?" Tanya Rigel.
Azella membalikkan badannya. Menatap laki laki didepannya dengan angkuh. "Iya, sana pergi, gak usah balik balik lagi."
Rigel mengangguk mengerti, laki laki itu dengan tampang polosnya berbalik hendak keluar dari kamar Azella.
Azella yang melihat hal tersebut mendadak menjadi tidak rela ketika melihat Rigel melangkah dengan ringannya meninggalkan kamarnya.
Apa Rigel tidak memiliki perasaan yang sama seperti Azella?
Kenapa mudah sekali laki laki itu pergi meninggalkannya?
Azella terdiam benerapa saat sebelum melirik kembali boneka beruang putihnya kemudian menyentuh dadanya yang berdebar tidak karuan, sampai sampai Azella merasa sesak.
Azella melangkahkan kaki telanjangnya keluar kamar, mengejar Rigel yang sudah sampai dilantai satu.
Azella segera meraih punggung kokoh itu dengan kedua tangannya dan menenggelamkan dirinya memeluk Rigel erat dari belakang.
Rigel yang sudah menduga hal tersebut tidak bisa lagi menahan senyumnya.
Laki laki itu berbalik dan menampilkan wajah datarnya. Azella belum mau melepaskan pelukannya membuat kini posisinya menjadi memeluk dada bidang laki laki itu.
"Kenapa?" Tanya Rigel datar.
"Jangan pergi." Cicit Azella kecil karena malu.
"Lo mau sekolah kan, sana siap siap!" Suruh Rigel masih dengan suara datarnya.
"Gak mau, maunya sama kamu." Lirih Azella, jari jarinya menggambar pola abstrak didada bidang laki laki itu.
"Katanya tadi gue pergi aja, gak usah balik balik lagi." Ucap Rigel.
Azella terdiam, tidak menjawab pernyataan Rigel barusan, gadis itu menikmati dekapan hangat Rigel.
Azella menarik tangan Rigel yang dimasukkan oleh laki-laki itu kesaku celananya. Azella Membawa kedua tangan itu memeluknya posesif.
Rigel terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya Rigel menertawai hal-hal kecil seperti ini.
"Kenapa?"
"Kangen." Cicit Azella.
"Biarin."
"Kenapa kamu jarang keliatan di sekolah, hah?" Tanya Azella melepas pelukannya dengan kasar.
"Oh, lo nyariin?"
"En-enggak."
"Gue ke Rome, ketemu calon mertua."
"Hah?" Tanya Azella kaget. "K-kamu udah punya pacar?"
"Belum sih, calon ada, tapi galak banget." Ucap Rigel menahan senyumnya.
Azella yang mendengarnya sontak saja memundurkan langkahnya. Ada segenap rasa kecewa didadanya.
"O-oh yaudah, tadi katanya mau pergi." Ujar gadis itu tersenyum paksa.
"Gak mau tau siapa calon mertua gue?" Tanya Rigel menaik turunkan alisnya.
"Enggak, gak penting juga buat gue." Kata Azella itu melipat kedua tangannya didada. Bahkan Azella langsung mengubah panggilannya dari aku menjadi gue.
"Kok lo marah? Tadi katanya kangen?!" Tanya Rigel.
"S-siapa yang marah, gue biasa aja."
"Mau tau gak? Calon mertua gue bilang, anaknya ceroboh, suka marah gajelas, sensitif, suka nangis diem-diem."
"Apa hubungannya sama gue?" Tanya Azella cuek.
"Mirib banget kan sama lo."
"Ih beda ya, dia ya dia, gue ya gue, gak ada yang bisa samain gue." Sergah Azella tidak terima.
"Lo mau liat gak siapa calon mertua gue? Gue ada fotoan sama dia." Ucap Rigel mengeluarkan ponselnya dan mengutak atik benda canggih itu dengan cepat.
"Nah ini." Kata Rigel memperlihatkan sebuah foto didepan wajah Azella.
"Eh?"
"Kenal?" Tanya Rigel. "Enggak deh kayaknya, lagian apa untungnya buat lo kan?" Lanjut laki laki itu, kemudian menyimpan ponselnya disaku celananya.
Azella menarik ujung baju Rigel dengan pelan.
"Apa?" Tanya Rigel menahan senyumnya.
"I-itu kan Papa aku." Lirih Azella, matanya menatap Rigel dengan pandangan polos.
"Kamu ketemu beneran sama Papa di Rome? Kenapa kamu bilang calon mertua?" Tanya Azella lagi.
Rigel mendekat, menangkup wajah cantik Azella untuk menatapnya. "Apa disaat gue bilang, you are special to me. Itu kurang jelas buat ngungkapin semua?"
Rigel melihat Azella yang menatapnya dengan berbagai pandangan, dan gadis itu sepertinya tidak berniat mengeluarkan sepatah katapun.
Rigel mendekatkan wajahnya kekening Azella,
Cup...
Cup...
Bukan sekali, dua kecupan mendarat dikening gadis itu, Azella memejamkan matanya malu, kupu kupu semakin banyak berterbangan diperutnya, jantungnya semakin berdegup dengan kencang.
"Kenapa mukanya merah?" Goda Rigel.
Azella menjauhkan diri dari Rigel dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nakal ya kamu, main cium anak orang di mansionnya sendiri. Nanti aku aduin Papa."
"Tapi Papa kamu suruh aku nikahin kamu secepatnya, gimana?"
"Rigel!" Teriak Azella kesal. "Kamu ngerjain aku mulu ya dari tadi."
"Engga-engga, aku bercanda." Ujar Rigel cepat.
Rigel melirik jam tangannya, "Tapi aku beneran harus pergi."
Azella mendonggak menatap Rigel dengan pandangan kesal. Bisa bisanya laki laki itu ingin pergi setelah membuatnya baper setengah mampus.
__ADS_1
"Kamu juga ikut." Ucap Rigel menyentil dahi Azella pelan ketika melihat tatapan protes dari gadis itu.
Azella mengusap dahinya yang tidak begitu sakit.
"Kemana?"
"Siap-siap dulu, aku tunggu disini."
"Tapi aku beneran udah diijinin di sekolah kan?"
"Udah sayang!" Ucap Rigel yang langsung membuat pipi Azella kambali merona malu.
Gadis itu memegang kedua pipinya kemudian berlari menaiki tangga dan hilang dibalik dinding besar.
...________________...
Azella menatap Rigel dengan aneh, kenapa Rigel membawanya ke rumah sakit? Dan parahnya ini khusus rumah sakit bersalin? Hmm.
Azella kira dirinya akan diajak ketempat romantis. Sepertinya Azella terlalu berekspetasi tingi.
"Turun." Ajak Rigel.
Azella menurut, perempuan itu memasukkan ponselnya kedalam tas kecil yang dibawanya, kemudian turun setelah Rigel membukakannya pintu.
"Ngapain kesini?" Tanya Azella bingung.
"Ikut aja." Ucap Rigel menggenggam lembut tangan Azella.
Azella hanya menurut hingga akhirnya mereka sampai didepan ruangan rawat inap.
"Kemana aja kamu?" Tanya seorang wanita yang Azella taksir umurnya seperti neneknya.
"Ada urusan tadi, Oma." Jawab Rigel tersenyum simpul.
Kemudian wanita itu menatap Azella dengan ramah, Azella yang merasa ditatap pun memberikan senyum manisnya.
"Halo Oma, aku Azella." Kata Azella ramah.
"Waah, pertama kalinya Rigel ngenalin cewek ke Oma. Cantik banget, emang dia pinter ya milih cewek, tapi kamunya kenapa mau sama dia?" Tanya Oma Rigel menatap Azella lembut kemudian beralih menatap Rigel dengan pandangan galak.
"Oma, jangan gitu." Peringat Rigel.
"Kenapa? Suka suka Oma."
Azella tersenyum kecil melihat interaksi kedua orang berbeda generasi ini.
Hangat sekali ya keluarga Rigel.
"Mommy dimana?" Tanya Rigel.
"Mommy kamu didalem, Oma mau pulang bentar, kamu masuk aja, ada Daddy kamu disana."
Omanya berkata singkat kemudian meninggalkan Rigel dan Azella.
Azella melihat Oma Rigel diikuti dua orang maid, sama seperti Omanya di London. Harus dijaga, takutnya ada penyakit yang kambuh tiba tiba. Dan setau Azella, Omanya juga tidak boleh terlalu banyak melakukan kegiatan diusianya yang sudah senja.
Ceklek...
Azella mengalihkan perhatiannya kepada Rigel yang membuka pintu ruangan kamar inap VVIP.
"Sini," Ajak Rigel.
Azella menurut dan ikut masuk bersama Rigel.
Disana Azella kaget karena melihat Tante Ven, yang waktu ini bertemu di mall tengah berbaring diranjang pasien.
"Azella." Lirih Tante Ven karena tenaganya belum pulih.
"Tante. Wah, congrats, seneng banget bisa ketemu lagi." Ramah Azella.
Sedangkan Rigel mengerutkan alisnya bingung.
"Kalian kenal?" Tanya Rigel.
"Iya, Azella baik banget sama Mommy." Ujar Mommy Rigel.
Sedangkan Azella tersenyum malu. Ternyata Tante Ven yang di mall itu adalah Mommynya Rigel. Wah, dunia sempit ya.
"Kamu gak mau lihat adik kamu?" Tanya Daddynya.
Rigel langsung menuju box kecil disamping ranjang Mommynya.
"Azella, sini, liat juga adiknya." Ucap Mommy Rigel. Tanpa ragu Azella berjalan mendekat.
Rigel terdiam lama, pikirannya melayang jauh.
Jadi sekarang dirinya adalah seorang kakak? Really?
"Beautiful." Puji Azella. "Siapa namanya?" Tanya Azella kemudian.
"Adhara Andromeda Diego." Ucap Rigel mantap. Laki laki itu tersenyum kecil.
"Bibirnya kayak Rigel ya." Lirih Azella melihat bayi imut itu yang tertidur dengan sangat nyenyak.
"Iyaa, matanya juga warnanya sama kayak Rigel, mereka emang beneran keturunan Daddynya banget." Ujar Mommy Rigel sambil terkekeh pelan.
"Kalian pacaran ya?" Tanya Mommy Rigel lagi, diakhiri kekehan pelan.
"Engg-"
"Iya." Sela Rigel cepat ketika Azella ingin menjawab.
Azella melirik Rigel dengan kesal. Sedangkan Rigel menatap Azella dengan polos seperti yang diucapkannya bukan hal yang besar.
Tapi nyatanya hal itu sukses membuat wajah Azella memerah malu.
Apaan nih?! Sekarang gue digombalin terus, awas aja besok gue ditinggalin lagi, gue lempar nih cowo ke Antartika. Batin Azella kesal.
"Rigel kaku banget kayak Daddynya. Tapi sama kamu kayaknya lembut banget ya." Komentar Mommy Rigel.
"Iya? Biasa aja kayaknya Tan." Jawab Azella.
"Jangan panggil Tante, panggil Mommy aja sekarang ya?"
Sontak saja perkataan dari Mommynya Rigel membuat Azella bingung, "Em, boleh?" Tanya Azella ragu.
"Boleh dong, nanti kamu Mommy ceritain semua masa kecil Rigel, dari dia yang masih ngompol dicelana sam-"
"Ck, Mommy udah," Peringat Rigel
"Kenapa sih?! Mommy kan mau pacar kamu tau lebih banyak hal tentang kamu." Jawab Venus menatap anaknya garang.
Rigel menghela nafas kesal melihat interaksi Mommynya yang terlalu berlebihan.
Tapi untungnya Azella bisa mengimbangi pembicaraan Mommynya, dan sepertinya Mommynya senang dan menyukai Azella.
Rigel berjalan menjauh dari kedua wanita itu, laki laki itu berdiri didekat jendela disamping sofa.
"Kenapa Daddy ngeliatin Rigel kayak gitu?" Tanya Rigel menatap Daddynya yang duduk di sofa ternyata tengah melihatnya.
"Kamu bilang apa sama Maxenzie? Sampai dia ijinin kamu bawa anaknya pergi? Setau Daddy anaknya yang perempuan dijaga disangkar emas."
Rigel menghela nafas jengah. "Masih aja dibahas." Jengahnya.
"Yang sopan sama Daddy!" Ujar Daddynya.
"Iya baginda raja, saya salah." Ujar Rigel sekenanya.
"Terserah kamu, ngomong sama kamu gak ada ujungnya." Ujar Daddynya frustasi.
"Semoga adik kamu gak kayak kamu." Gumamnya.
"Kalo bukan Daddy yang buat sih bisa aja sikapnya beda." Gumam Rigel pelan. "Tapi kan anak Daddy ya, ya jangan terlalu berekspetasi tinggi." Lanjutnya.
"Kalo tau kamu gedenya gini, dulu pas kecil Daddy sumbangin ke panti asuhan." Ucap Daddynya memijat keningnya.
"Sekarang aja gimana? Mumpung setengah harta Daddy udah atas nama Rigel?"
"Rigel!!" Jengah Daddynya.
"Tuh, lihat Zell, mereka gak pernah akur, kadang Mommy pusing jadinya ngurus mereka." Bisik Venus melihat kelakuan mereka.
Azella menggeleng pelan, jadi seperti ini jika Rigel bersama keluarganya. Sangat berbeda jika disekolah dan tempat umum lainnya.
Sedangkan Rigel dan Daddynya masih terus berdebat dan tidak mau mengalah.
"Daddy, Rigel, udah cukup, nanti Dhara bangun."
__ADS_1