
Rigel menatap bayi mungil yang sejak tadi tertidur pulas didalam box bayi. Adhara tidak teranggu sedikitpun dengan kehadiran Rigel didekatnya yang mengelus ngelus pipi mungilnya.
"Gimana? Kamu udah hubungin Azella?"
Rigel mengalihkan pandangannya kepada Mommynya yang baru saja memasuki ruangan kamar Adhara.
Venus menepuk pelan bahu Rigel, "Sana, temuin Azella, kamu harus ngomongin semuanya sama Azella."
Namun Rigel masih tetap pada posisinya, tidak ada tanda-tanda akan bergerak.
"Loh, kenapa diem?" Tanya Venus melihat tidak ada pergerakan dari putranya.
"Mom, gimana kalau Az-"
"Seingat Mommy, Rigel gak pernah kehilangan rasa percaya diri sama rasa tanggung jawabnya. Kok sekarang beda?"
Rigel menghela nafas lelah. Iya benar, memang benar hanya Azella yang bisa membuat Rigel lepas kontrol.
"Rigel inget omongan Mommy semalem. Seharusnya kamu gak ngorbanin perasaan Azella, apapaun masalahanya sebaiknya kalian hadapi berdua, bukannya sendiri-sendiri. Kalo kayak gini, kamu sama Azella malah ngebuat jarak diantara kalian."
..._________________...
Tok.....
Tok.....
Tok.....
"Sayang? Ayo sarapan!"
"Azella?"
Azella mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum membuka kedua kelopak indah itu dengan sempurna.
"Sayang?"
Azella menghela nafas jengah, menarik ingusnya berkali-kali. Mengumpati keadaan dirinya yang tertidur dengan menggukan pakaian yang sama dengan semalam.
"Azella?"
Azella kenal suara itu, Mamanya.
Mamanya yang akhir-akhir ini selalu jarang menghubunginya.
Azella tersenyum miris sebelum bangkit dari kasurnya. Mengikat rambutnya yang berantakan, melirik jam dinakas yang menunjukkan jam delapan pagi. Entah jam berapa Azella tertidur semalam. Gadis itu mengusap kedua matanya yang masih memerah, kemudian berajalan kearah pintu.
"Kenapa Ma?" Tanya Azella ketika melihat sosok Mamanya berdiri didepan kamarnya dengan pandangan sayu.
"Apa kabar? Kenapa kamu gak pernah hubungin Mama hm?"
"Kenapa Azella yang harus hubungin Mama duluan? Mama sendiri gak inget punya anak?"
"Sayang, jangan ngomong gitu."
"Mama perlu apa manggil Azella?"
"Ayo sarapan dibawah."
"Duluan aja."
"Kamu jangan ngambek sama Mama, salahin aja Papa kamu yang gak pernah mau ninggalin kerjaannya. Kamu mau apa? Tas? Tas Gucci, Hermes, atau Channel? Atau mau mobil baru, bilang aja nanti Mama beliin. Tapi kamu jangan ngambek ke Mama."
Azella menatap Mamanya lama. "Mau beli Mama baru ada gak?" Ucapnya dengan pelan.
Mamanya menatapnya terkejut, dan Azella memilih menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Azelle menjambak rambutnya dengan kasar, kenapa orang-orang tidak pernah bisa mengerti dirinya?
Kenapa orang tuanya tidak pernah mau tahu tentang keinginannya?
..._________________...
Maxenzie yang baru saja mendarat di Jakarta pagi ini, setelah menempuh perjalanan berjam-jam. Entah kenapa ketika baru mendudukkan dirinya dimeja makan Atlas sudah menyambutnya dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu natap Papa kayak gitu?"
"Terserah Atlas, kan Atlas punya mata."
"Iya tapi mata kamu ngapain negliatin Papa terus?" Ucap Maxenzie menghela nafas jengah.
"Soalnya Papa keliatan, kalo ga keliatan kan setan!"
"Atlas!" Geram Maxenzie.
__ADS_1
"Papa gak merasa perlu menjelaskan sesuatu ke Atlas?"
Maxenzie mengerutkan alisnya sebentar.
"Kamu ada masalah apalagi sekarang sama Papa?"
"Papa gak nanya kabar Azella?"
"Kenapa sama Azella?"
"Tuh kan! Papa mana tau!"
Maxenzie hendak berdiri untuk menemui putrinya langsung namun baru saja membangkitkan tubuhnya dari kursi Angela, istrinya baru saja menuruni tangga sambil mengusap air matanya.
"Mama kenapa?" Tanya Atlas spontan.
Angela hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian mendudukkan dirinya dikursi biasanya.
"Azella mana?" Tanya Maxenzie.
"Dikamar."
"Kamu gak ngajak dia sarapan?" Tanya Maxenzie lagi dengan nada yang menuntut.
"Dia gak mau."
"Kena-"
"Nanti katanya turun." Sela Angela memotong ucapan Maxenzie dengan cepat.
Maxenzie mengerutkan tidak terima. "Kenapa? Kamu udah bilang kan kita nanti malem harus balik ke Bangkok?! Azella kenapa jadi kayak anak kecil, kamu harusnya bisa ngomong sama anak kamu, jelasin ke Azella supaya dia gak selalu childish gini."
Laki laki paruh baya itu kembali mendudukkan dirinya dikursi, kemudian menatap Angela dengan serius. "Aku heran kamu bisanya sosialita terus, kamu gak bener bener pernah ngomong sama Azella. Kamu cuma-"
"Stop! Kamu bisa gak sih berhenti nanyalahin aku? Kamu tanya sana sama anak kamu. Kamu udah bener apa jadi Papa! Aku kira selama ini aku udah jadi Mama yang baik. Tapi ternyata aku keliru. Yang Azella perluin itu kehadiran kita disisinya. Bukan timbunan uang yang kamu transfer setiap minggu kerekeningnya!"
Atlas menatap santai pertengkaran kedua orang tuanya sambil sesekali menyesap kopinya.
"Semenjak Azella pindah kesini pergaulannya malah jadi lebih bebas daripada di London, harusnya kamu tau itu. Kamu jangan salahin aku aja. Tugas aku emang kerja."
"Terus tugas ngurus anak aku? Aku aja? Kita buatnya berdua, kamu harus bertanggung jawab, itu komitmen. Dan sebelum dia nikah, dia tanggung jawab kita!" Tegas Angela.
"Oh kamu nganggep anak kamu beban?" Tanya Maxenzie berusaha meredam emosinya.
"Terus kenapa kamu ikut terus setiap aku perjalanan bisnis? Kamu gak mau kalah saing kan sama ibu ibu sosialita yang lain?!"
Angela mendengus kesal mendengar omongan Maxenzie. "Enggak, aku lebih percaya sama anak anak aku daripada kamu! Kamu pernah tega bohong sama aku, kamu pernah selingkuh sama-"
"Aku gak selingkuh Angela!"
Angela hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa miris. "Dulu harusnya aku gak nikah sama kamu, bisa aja aku gak setakut sekarang hidupnya." Lirih wanita itu pelan.
Maxenzie berdiri dari duduknya, laki laki itu meminum kopinya sebelum melangkah menjauh. Namun, langkahnya berhenti diujung tangga. "Semua gak akan kejadian, kalo kamu mau dengerin aku buat jauhin Lowen waktu itu."
Kemudian Maxenzie berjalan menjauh meninggalkan Angela yang menangis dalam diam dan Atlas yang menatap Papanya jengah.
"Liat? Kamu liat Papa kamu? Selalu lari dari pembahasan yang gak dia sukain, akhinya Mama aja yang disalahin. Selalu aja."
Atlas melihat Mamanya yang menangis semakin deras, laki laki itu mendekati wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu dan mengelus pelan bahu Mamanya.
"Papa beneran pernah selingkuh Ma?"
Angela mengadahkan kepalanya keatas menatap lampu lampu kaca diatasnya, berusaha menahan air matanya, namun sia-sia, air matanya tetap mengalir dengan deras.
"Iya." Lirihnya.
"Kapan?"
"Waktu Mama hamilin kamu."
Atlas tentu saja kaget mendengarnya, sialan, yang Atlas tau akhlak Papanya selama ini waras dan normal. Tapi nyatanya tidak.
"Sama siapa?"
"Adik temen Mama."
"Kenapa Mama tau?"
"Temen Mama punya buktinya. Kamu tau waktu itu Mama hancur, Papa kamu selingkuh sama Adik temen deket Mama. Temen Mama namanya Lowen, adiknya nama Lovenna."
"Terus sekarang Lovenna itu dimana?"
"Meninggal."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karna Mama bisa buat Papa kamu bertahan sama Mana. Dan Lovenna depresi sampai bunuh diri."
"Terus Mama sama Lowen gimana sekarang?"
"Mama gak pernah berhubungan sama dia lagi. Karna ya yang buat Papa kamu kenal Lovenna itu Mama. Salah Mama gak mau dengerin omongan Papa kamu buat jauhin Lowen, ini sebelum mereka selingkuh. Mama tetep bilang dia temen baik Mama gak mungkin aneh aneh. Tapi nyatanya Papa kamu yang aneh aneh sama adiknya Lowen."
"Lowen suka sama Mama?" Tanya Atlas.
Angela menggeleng pelan. "Menurut Mama enggak, tapi Papa kamu bilang iya."
"Jadi karena itu Mama ngikut Papa kemana aja?"
Angela mengangguk menjawab pertanyaan Atlas, menutup kedua wajahnya dengan tangan, dan menyesali keegoisannya selama ini. Angela pernah kehilangan satu putranya tapi kali ini Angela tidak ingin kehilangan anak-anaknya lagi.
Atlas menatap Mamanya sebentar, kemudian menghela nafas jengah, ternyata banyak rahasia yang disembunyikan darinya selama ini.
Atlas berdiri dari duduknya kemudian berniat kekantor pagi ini. Kehadiran orang tuanya malah membuatnya enggan untuk diam dirumah.
"Mau kemana?" Tanya Atlas ketika melihat Azella memakai sneakers nya.
Azella memandang Atlas sejenak dengan malas.
"Terserah gue."
Atlas berusaha bersabar menghadapi Azella yang semakin hari semakin sensitif.
"Jangan jauh-jauh, bentar lagi mau hujan. Dengerin gue."
"Gak."
Azella berjalan sengaja menabrak bahu Atlas dan meninggalkan mansion Qierra dengan mobil miliknya.
Dan benar saja, cuaca Ibu Kota yang tadinya cerah mendadak menjadi turun hujan.
Azella memberhentikan mobilnya disalah satu restoran terdekat. Hari ini Azella harus mulai dengan sarapan dahulu sebelum memikirkan bagaimana kehidupannya selanjutnya.
Setelah memesan makanan, Azella memilih meja didalam ruangan karena diluar juga hujan sudah mulai turun deras.
"Azella?"
Azella mengangkat kepalanya ketika seseorang memanggilnya.
"Em, sorry, siapa?"
"Om temen Mama kamu. Em, boleh gabung?"
Azella melirik sekitar, takut-takut orang mengiranya simpanan om-om. Setelah melihat restoran hanya terisi beberapa orang akhirnya Azella mengangguk.
"Azella kan bener?"
"Iya om."
Laki-laki paruh baya itu tersenyum kecil.
"Om temennya Mama kamu, dari kecil sampai akhirnya kita memilih buat nikah dan memiliki kehidupan masing-masing."
Azella mengerutkan keninggnya tidak mengerti, kenapa laki-laki didepannya ini berkata seolah-olah pernah memiliki hubungan dekat dengan Mamanya?
"Oh,, sorry om, Azella baru tau."
"Okay, gak masalah. Papa kamu apa kabar?"
"Papa baik."
"Om denger Atlas udah ambil alih perusahaan di Indonesia ya?"
"Iya om, tapi beberapa cabang aja. Direktur Utamanya masih Papa."
Azella masih tetap menjaga kesopannya didepan relasi ataupun teman orang tuanya. Azella juga tidak ingin merusak nama keluarganya.
"Kayaknya om kenal banget sama Mama Papa."
"Iya, om kenal sama Mama kamu lama banget. Tanyain aja Mama kamu."
"Oh ya? Nama Om siapa? Sorry, tadi Azella belum nanya."
"Lowen"
"Lowen?" Beo Azella.
"Yes, Lowen Fanderson."
__ADS_1