
"Take me home, I'm fallin'"
"Love me long, I'm rollin'"
"Losing con-"
Plakkk....
"Anjing, lo apa - apaan sih Zell?! Untung mulut gue gak salah sebut."
"Mending lo diem, suara lo bisa buat mansion ini roboh." Ucap Azella tadi dirinya melempari Aksel dengan sebuah majalah yang berada diatas meja.
Saat ini Azella dan Aksel sedang berada diruang keluarga, jangan tanyakan Altas kemana, laki - laki itu tidak akan betah berada dirumah kecuali jika tidak ada pilihan lain. Berbanding terbalik dengan Aksel yang tiba - tiba sangat rajin berkunjung kemansionnya.
"Cih, murahan banget mansion lo, gak kayak mansion gue."
"Bodoamat, ngomong sama bokap gue sana."
"Dih, gak mau, Maxenzie Qierra kan galak."
"Heh, gak sopan banget lo nyebut nama Papa gue kayak gitu."
"Biarin kan orangnya gak denger."
"Nanti gue aduin."
"Lah, emang penting banget Papa lo denger aduan kayak gitu?"
Deg....
Eh, emang kapan gue pernah penting, dalam artian penting sebenarnya?
"Eh...Azell gue gak-"
"Lo bener kok." Ucap Azella kemudian gadis itu berjalan cepat menuju kamarnya.
Azella menenggelamkan kepalanya dikasur. Entah bagaimana Azella akan menjalani kehidupan kedepannya jika dirinya tidak pernah nyaman dan tenang, bahkan dirumahnya sendiri.
Malam malam sunyi seperti ini yang kadang membuat pikiran Azella melayang jauh.
Sendiri, sepi, hampa.
Salah satunya kejadian siang tadi disekolah. Rigel menemaninya makan dikantin. Hal yang sangat tidak pernah dibayangkan oleh Azella.
Azella masih mengingat dengan sangat jelas kejadian siang itu. Dimana dirinya menjadi pusat perhatian dikantin kala itu. Dimana Rigel yang menatapnya selama gadis itu memakan nasi goreng miliknya.
Azella tidak mengetahui dengan pasti apa penyebab perubahan sikap Rigel kepadanya. Apa laki laki itu berniat mempermainkannya? Tapi Rigel juga telah menyeret hatinya kedalam permainannya jika memang Rigel setega itu mempermainkannya.
Jika Rigel awalnya membenci dirinya, kenapa sekarang laki - laki itu bisa berubah drastis?
Ting....
Azella meraih ponselnya dan segera membuka notifikasi yang masuk.
PENGEN PUNYA SUGAR DADDY (3)
ZiaRevertan
Gue dapet gosip nih!
SiennaRaendra
Zi, lo ubah nama grupnya lagi? -_-
ZiaRevertan
HEHEHEHEHE
Azella mana nih?
SiennaRaendra
*@AzellaQierra** keluar Zell.*
^^^AzellaQierra^^^
^^^Nyimak gais^^^
SiennaRaendra
Dahh, cepetan cerita @ZiaRevertan
ZiaRevertan
Ini lebih tentang Azella sama Rigel sih
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Hah? Gue kenapa?^^^
SiennaRaendra
Kayaknya gue tau lo mau bilang apa Zi
ZiaRevertan
*Rigel suka sama lo ya? *@AzellaQierra
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Mana ada, gausah ngaco, wkwkwk^^^
SiennaRaendra
T-tapi ....
ZiaRevertan
Menurut gue gini, dia itu tertarik sama lo, soalnya gue liat banget cara dia natap lo tuh, beda. Terus kalian di rooftop hotel ngapain aja woiiii?!?! dan tadi gue liat di akun AntariksaZone lo ditemenin makan dikantin. ZELL LO HARUS TAU ITU PERTAMA KALINYA RIGEL DUDUK SAMA CEWEK SATU MEJA.
SiennaRaendra
@AzellaQierra congratulations! Lo buat satu sekolahan heboh tadiðŸ˜
Lo tau, sampai Pak Samuel nanyain gue, padahal gue lagi ngerjain ulangan, dia malah nanya gini 'Azella itu siapanya Rigel ya? Bapak jadi penasaran. Soalnya akhir akhir ini bapak liat dia berani banyak berinteraksi sama Rigel Fix, Pak Samuel diem diem perhatiin Rigel sama lo.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Eh, gue malu🥲^^^
^^^Dia gak suka sama gue gais, jangan nganggep, hal itu berlebihan, seiring berjalannya waktu juga dia bakal jauh jauh dari gue.^^^
SiennaRaendra
Gini Zell, baca baik baik. Gue juga gak tau ya, gue gak mau ngasih lo harapan, soalnya gue juga belum pernah liat Rigel pacaran, jadi gak tau gimana sikapnya dia kalau suka sama cewek. Tapi gue ngerasa lo cocok sama dia. Siapa tau dia emang pendekatan sama lo, jadi gak ada salahnya ngasi kesempatan dulu...
^^^AzellaQierra ^^^
...Gue kapan bilang gue berharap sama diaðŸ˜...
ZiaRevertan
Kali aja lo baper Zell, gue sama yang lain aja baper liat lo sama Rigel, masa lo biasa aja?!
SiennaRaendra
100% Valid ga boong emang kalian bikin orang lain baper tau ga.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Gue gak tau kenapa, kayaknya Rigel cuma mainin gue aja. Gak etis aja dulunya kita bertengkar terus tiap ketemu yakali sekarang jadi suka.^^^
ZiaRevertan
Post foto lo diig juga cuma mainan? ðŸ˜
SiennaRaendra
Sulit dipercaya bund
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Udah woi, jangan bahas Rigel mulu.^^^
*ZiaRevertan*** *
Kenapa? lo salting ya?*
SiennaRaendra
Jangan jangan lo udah suka duluan?
ZiaRevertan
Uhukk
Maap keselek pisang.
*SiennaRaendra*** *
Atas gue ambigu anjir.*
ZiaRevertan
🤣🤣🤣
Azella menutup ponselnya malas mendengar ejekan teman temannya. Masalahnya disini Azella malu sungguhan. Azella sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Karena Azella juga belum pernah pacaran. Cuma kalau sebatas dekat dengan laki laki mungkin satu sampai dua kali pernah. Tapi untuk pacaran, sama sekali belum.
"Aaaaaa.... Rigel Setan"
...__________________...
"SELAMAT PAGI, ORANG GANTENG MAU LEWAT." Kata Cello pagi itu menggema diruangan kelasnya.
"Berisik." Ketus Seven.
"Yaelah sewot banget lo, lagi pms?" Tanya Cello asal sambil membuka kancing seragamnya. Ck, padahal belum ada 15 menit menginjakkan kakinya di sekolah, sudah main buka seragam saja.
Memang tidak tahu aturan sekali.
Seven tidak menghiraukan perkataan Cello karena laki laki itu lebih memilih fokos memainkan game diponselnya bersama Vixtor.
"Temen - temen, hari ini kita free class ya. Soalnya kebetulan guru yang ngajar semua pada ada rapat sama ketua yayasan." Kata Goven, ketua kelas sekaligus bagian anggota Antariksa Gang.
__ADS_1
Oh iya, perlu dicatat, bahwa semua yang menjabat sebagai ketua kelas dan ketua osis adalah bagian dari anggota Antariksa Gang.
Jadi, bisa dipastikan bagaimana Antariksa Gang menjadi penguasa sekolah itu kan.
"Asikk, akhirnya gue bisa tidur seharian. Sumpah semalem gue gak tidur semaleman." Kata Cello tanpa ditanya.
"Gak ada tidur - tiduran. nanti kita latihan basket." Ujar Rigel memecahkan khayalan Cello untuk tidur seharian.
Cello menatap Rigel dengan memelas. "Jangan latihan deh, gue males banget, lagian lo udah pinter mainnya."
Rigel membalas tatapan Cello dengan datar. "Iya gue, lo mah belum, baru dilemparin bola aja lo malah atraksi tebar pesona sendiri." Ujar Rigel sarkastis.
"Mampos." Celetuk Vixtor. "Kurang keras?"
"MAMPOS." Jawab Seven, Yuan dan Vixtor barengan. Jangan tanyakan Frans, laki laki itu tidak akan mengeluarkan suara untuk hal hal seperti itu.
Cello menatap malas teman temannya yang tidak ada niatan untuk membelanya. Laki laki berkulit putih itu kemudian merebahkan dirinya dibangku paling belakang yang sudah diatur menjadi tempat untuk tidur. Terdiri dari enam meja yang dijadikan satu. Cello merebahkan dirinya membelakangi teman temannya.
Dahlah debat sama Rigel namanya nyari mati, batin Cello pasrah.
"Bangunin gue kalo udah mau latihan." Pesannya sebelum benar benar terlelap kedalam mimpi.
Rigel menatap Cello malas. Cello kira dirinya gampang dibangunkan? Jika tidak ada alarm mungkin laki - laki putih itu akan terlelap sepanjang hari.
"Nanti malam ke club kuy." Ajak Seven tiba tiba.
"Dibayarin kan?" Tanya Vixtor.
Yuan menatap Vixtor. "Vix, Seven yang ngajakin, jadi dia yang bayarin lo ya, meski sekarang giliran gue yang bayarin lo, tapi kan Seven yang ngajakin." Kata Yuan memberi penjelasan.
Seven memutar matanya malas. "Nyari aman sendiri terosss."
"Ck, gue yang bayarin." Jawab Rigel cepat.
"Vixtor doang?" Tanya Yuan tidak terima.
"Semua." Ujarnya kemudian pergi keluar kelas.
"Mau kemana?" Tanya Seven.
"Latihan basket." Ucap Rigel.
"Lah Cello?" Tanya Vixtor melihat Cello yang ngorok dipojokan.
Rigel meliriknya malas, "Biarin aja, jangan ada yang bangunin dia." Perintahnya mutlak.
"Anjir kejam." Respon Yuan, kemudian semua laki laki itu meninggalkan Cello yang tertidur dikelas. Saat akan berjalan kearah lapangan basket. Disebelah kanannya ada lapangan kosong yang biasa digunakan untuk latihan paskib, atau digunakan anak extra yang perlu tempat luas tanpa ring ataupun net. Dan saat ini lapangan multifungsi itu ternyata digunakan oleh anak extra dance untuk latihan. Mungkin karena free class makanya mereka latihan pagi hari ini.
"Eh, Itu anak dance lagi latihan di lapangan outdoor?" Celetuk Vixtor membuat semua mata teralihkan kesana.
Ayolah, siapa yang tidak tahu extra dance disekolah. Biasanya jika extra dance sedang latihan siswa laki laki akan berkumpul dan menontonnya hingga selesai.
Bagaimana tidak, anggotanya tidak main main. Bahkan untuk masuk extra disana jika kalian tidak memiliki body yang oke dan wajah yang cakep, maka jangan harap tahan berada disana.
Extra yang paling popular setelah basket. Karena anggotanya semua bukan kaleng kaleng. Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus untuk masuk extra tersebut, tapi kita sendiri tahu diri, jika tidak kuat mental maka tidak akan tahan berada diantara orang orang good looking. Nanti jadinya akan overthinking dan insecure sendiri.
Rigel mengerutkan alisnya ketika melihat satu sosok yang lihai menggerakkan badannya disana sebagai contoh untuk anggota lain.
Extra dance kali ini, mereka kompak hanya menggunakan baju putih polos dan celana hitam panjang yang ketat. Dan jika boleh jujur itu sukses memperlihatkan bentuk tubuh mereka.
"Eh, itu Azella bukan?" Kaget Seven.
"Mana mana? Eh iya beneran anjir. Cakep banget anak orang." Ujar Vixtor heboh.
"Dia ikut extra dance ya?" Tanya Seven entah kepada siapa.
"Ya menurut lo gimana? Dia udah disana ikut latihan masa cuma disewa." Tandas Yuan kesal.
Seven hanya menyengir mendengar jawaban Yuan.
Tiba - tiba saja Rigel berjalan mendekat kearah lapangan dimana tempat latihannya anak dance.
Rigel bersandar dipohon rindang dan memperhatikan Azella yang lihai dalam dance, meski banyak peluh ditubuhnya dan juga Azella terlihat sedikit lelah tapi Azella tetap profesional. Sekarang saja setelah Azella menjadi contoh gadis itu ikut dance lagi bersama anggota yang lain dan membentuk beberapa formasi dan koreo dance baru.
Sedangkan Rigel melihat diujung sana ada Bu Claudia yang tersenyum lebar.
"Bangsatlah, bisa bisanya disini banyak cewek cantik tapi gue masi jomblo." Celetuk Vixtor.
Vixtor memang diantara mereka yang paling gampang mengucapkan kata kata kasar ataupun sarkas, mulut laki laki itu tidak bisa dikontrol dalam hal berkata kata. Tidak tahan jika tidak mengomentari sesuatu yang aneh dimatanya atau sesuatu yang baru baginya.
Seven dan Yuan terkekeh mendengar ucapan Vixtor.
"Gue sempet mikir lo gay." Kata Yuan jujur.
"Anjeng, segitunya lo sama gue." Ujar Vixtor tidak terima.
"Makanya cari pacar anjir. Gue udah pacaran sama Sienna, Cello gausah ditanya ceweknya berapa, Frans lagi proses sama Zia, Yuan udah ketemu doi, nah Rigel juga kayaknya mau nyusul sama Azella." Ucapan terakhir Seven mampu membuat Rigel meliriknya sebentar.
Tapi laki laki itu terlihat biasa saja, tidak terlihat protes seperti pertama kalinya dia dibicarakan dengan Azella dulu. Padahal Seven sudah waswas jikalau Rigel membalasnya dengan perkataan kasar.
Tanpa sadar Seven tersenyum kecil melihatnya.
Yuan yang juga peka keadaan menjadi bersorak dalam hati, sepertinya kali ini akan ada yang bisa menjatuhkan ego seorang Rigel.
Vixtor melihat Rigel yang bersandar dipohon. Sedangkan mereka duduk diatas teras dibelakangnya. "Lo gak jadi latihan Rig?"
"Nanti."
"Nantii Vix, lo ngerti napa lagi mau ngapelin doi nih." Ucap Yuan mengejek Rigel.
...__________________...
Prokk.... prok.... prok.....
Azella bertepuk tangan bersama nggota dance yang lain setelah selesai latihan. Mereka melakukan itu karena latihan yang sudah berlangsung satu jam, dari awal sampai akhir berakhir memuaskan. Karena mereka sudah menemukan koreo dan formasi dance yang bagus.
"Bangus anak anak, Ibu suka, dan Azella semoga kamu betah bergabung dengan extra ini ya." Tandas Bu Claudia yang terlihat puas dengan latihan kali ini.
Azella hanya tersenyum kecil. Tidak buruk juga, anak anak dance yang lain sangat ramah kepadanya. Sejauh ini Azella belum melihat teman yang toxic disini, tapi tidak tahu nanti kan, manusia itu berubah ubah, jadi jangan terlalu percaya dan menaruh ekspetasi yang tinggi.
"Oke, nanti kita latihan lagi ya, Ibu akan infokan jadwalnya di grup. Hari ini cukup sampai disini. Makasih atas antusiasme dan semangat kalian. Selamat pagi." Ucap Bu Claudia kemudian meninggalkan mereka.
Kemarin memang Azella menyempatkan diri bertemu dengan Bu Claudia, ternyata Azella ditawari masuk extra dance sekolah, katanya sih, Bu Claudia melihat Azella dance dibeberapa postingan instagram miliknya. Memang benar sih Azella suka dance, tapi tidak pernah kepikiran untuk masuk kedalam extra dance. Tapi karena disekolah ini mewajibkan siswa memilih satu extra, daripada Azella semakin pusing memilih extra lain sebaiknya mencoba sesuatu yang baru tidak apa apa. Lagipula Azella memang bisa dance, dia juga pernah ikut kelas dance waktu di London.
"Huh, cape banget." Kata seorang gadis yang Azella ketahui bernama Clarine itu.
"Eh, Azella, lo keren banget. Lo pernah belajar dance itu dimana? Gue pernah liat di YouTube gue liat koreonya susah makanya gue ga pelajarin, tapi lo keren banget." Puji Clarine.
Azella tersenyum senang mendengarnya. Siapa yang tidak suka dipuji? Kadang kadang manusia juga haus pujian bukan? Kadang ya, tidak sering. Asalkan kita bijak, tidak menggunakan pujian itu sebagai landasan kesombongan diri, karena diluar sana masih banyak orang orang yang lebih hebat lainnya.
"Gue dulu belajar sama guru dance gue di London." Jawab Azella simple.
"Wahh keren banget, eh, Flara, Deora sini." Clarine memanggil dua orang lainnya yang juga merupakan anak dance yang latihan bersamanya.
Azella belum sempat kenalan dengan mereka semua. Kemarin Azella hanya diundang ke grup oleh Bu Claudia dan dirinya diperkenalkan sebagai anggota baru. Namun Azella belum tahu siapa saja nama anggota extra dance itu. Azella juga tidak menstalknya karena malas dan nanti juga dia akan tahu. Lagipula anggotanya cukup banyak 38 orang termasuk dirinya yang baru bergabung. Dan anggotanya berasal dari gabungan kelas 10 sampai kelas 12.
"Zell, kenalin, ini Flara sama Deora. Dia temen sekelas gue."
"Haii." Sapa Azella ramah.
"Haii Zell, gue suka banget liat lo dance. Asli gue iri kapan ya gue bisa selancar lo." Ujar Flara heboh.
"Pasti bisa kok, rajin aja latihan."
"Zell, lo cantik banget ya." Puji Deora.
"Lo juga cantik kok, jangan gitu lah, setiap perempuan punya hal menarik sendiri."
"Eh, by the way, kita mau beli minum nih, lo mau join?" Tanya Flara.
Azella melihat sekitarnya yang sudah mulai sepi, sepertinya anak dance sudah bubar semua. Matahari juga sudah mulai tinggi, mereka tadi latihan dari jam delapan pagi hingga jam sembilan. Maklum karena tau akan free class akhirnya Bu Claudia meminta mereka membawa pakaian untuk dance semalam. Azella juga tidak membawa buku sekolah. Hanya membawa pakaiannya saja dan beberapa skincare miliknya.
"Em, enggak deh, next time ya, gue mau langsung ganti baju aja."
"Oh gitu, yaudah kita duluan ya Zell, see u."
"Okay."
Azella melihat ketiga orang itu sudah menajuh, kemudian Azella berjalan kepinggir dan hendak mengambil tasnya yang sengaja ditaruh diatas kursi.
Namun ada tangan lain yang lebih dulu mengambil tasnya.
Azella menghela nafas melihat orang dihadapannya.
Rigel Antariksa, laki laki yang akhir akhir ini suka sekali menganggu ketenangan hidupnya.
Apalagi sih maunya.
"Apalagi sekarang?" Tanya Azella malas.
"Beautiful dance."
Azella memerah mendengar pujian laki laki itu. ****, apa dari tadi Rigel memperhatikan dirinya?
Sialan, disini udah panas banget sekarang gue dibuat makin panas. Batin Azella
Azella mengabaikan pujian Rigel, gadis itu merampas tasnya dengan kasar.
"Lo jangan gangguin gue, gue masih kesel ya sama lo."
"Berarti kalo udah gak kesel boleh digangguin?"
"Y-ya ya gak gitu."
"Terus?"
Azella memandang kakinya yang memakai sneakers putih. Disaat dirinya memandang Rigel, tatapannya jatuh kepada pergelangan tangan laki laki itu, Rigel masih memakai ikat rambutnya sebagai gelang.
Sial, hal seperti itu saja mampu membuat Azella memerah malu.
"Lo ngapain masih disini?" Tanya Azella galak menyembunyikan rasa malunya.
"Kenapa? Yayasan sekolah ini punya Bokap gue." Tandas Rigel cepat.
"Oh, yaudah, kalo gitu gue aja yang pergi." Azella hendak berbalik meninggalkan laki laki itu, namun sebelum itu, Rigel menarik tangan gadis itu sehingga Azella bisa merasakan nafas laki laki itu menerpa hidung mancungnya.
"Lo gak boleh pergi." Ucap Rigel tegas.
Azella mengerutkan alisnya tidak terima. "Apa apaan sih lo?!"
Rigel kemudian tersenyum tipis, kemudian memegang telapak tangan kanan Azella dan menggenggamnya.
"Kecuali perginya sama gue, baru boleh." Ucap Rigel yang sukses membuat jantung Azella berdebar kencang.
__ADS_1
Kayaknya gue bisa kena penyakit jantung deh kalo gini terus. Teriak Azella dalam hati.
"Pegangan aja terus." Celetuk Vixtor tiba tiba.
Azella sontak saja melepaskan genggaman tangan Rigel dan mendorong laki laki itu menjauh. Meski hasilnya nihil karena Rigel masih diam ditempat, sedangkan Azella memundurkan langkahnya kesal.
Azella melanjutkan langkah kakinya mengabaikan Rigel dan teman temannya. Azella melihat beberapa siswa berlalu lalang dihalaman, yang pasti mereka juga diam diam melihat kejadian tadi.
Rigel menatap Azella yang hilang diujung koridor. Laki laki itu kemudian berjalan kearah rooftop sekolah yang memang biasa dijadikan tempat berkumpul bersama teman temannya yang lain.
"Rig, lo gak jadi latihan basket?" Tanya Seven tapi tetap mengikuti langkah Rigel.
"Gak, males." Jawabnya tanpa dosa.
Sedangkan teman temannya yang lain hanya menghela nafas sabar. Untung Rigel, jadi bisa seenaknya. Coba kalau bukan, sudah dilempar dari rooftop.
...___________________...
"Zell bangun Zell." Kata Sienna membangunkan Azella yang saat ini sedang tertidur dikelas dengan menelungkupkan kepalanya dilipatan tangan.
Memang tadi setelah selesai latihan dance, Azella langsung tidur terlelap hingga sampai jam pulang sekolah. Bahkan gadis itu tidak mau diganggu sekedar untuk kekantin.
"Azella ayo bangun, KITA PULANG" Ujar Zia disamping telinga Azella yang diakhiri dengan teriakan keras. Dengan begitu tentu saja Azella terlonjak kaget.
"Astaga, gak usah teriak juga kali bangunin gue." Sahut Azella kesal.
"Na, kasik paham, berapa lama kita bangunin dia." Ujar Zia terlihat frustasi.
"Zell, sumpah lo kebo juga ya, udah duapuluh menit kita bangunin lo." Cetus Sienna sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Hehehehe, ya maaf." Tandas Azella merasa bersalah.
Azella melihat sekeliling ternyata ruangan kelas ini sudah sepi. Rupanya benar, Sienna dan Zia pasti kesusahan membangunkannya.
"Yaudah ayok pulang, laper nih gue." Ajak Zia.
"Eh bentar." Ucap Azella kemudian melihat kebelakang roknya. "Astagaa, gue datang bulan gais." Hebohnya.
"Hah? Beneran? Tembus? Udah tembus?" Tanya Zia tidak kalah heboh.
"Iyaaa, aduh gimana? Pantesan perut sama pinggang gue nyeri."
"Gimana dong ya, lo gak bawa jaket?" Azella menggeleng pelan menjawab pertanyaan Sienna
"Jaket gue dimobilnya Seven lagi." Keluh Sienna. "Lo gak bawa Zi?"
"Bawa tapi dimobil anjir, tutupin pake tas gabisa?"
"Ya enggak Zia, kependekan ini." Balas Azella. "Gue pulang aja lah ya, mobil jemputan gue juga kayaknya udah dateng.
"Sekolah juga udah mulai sepi. Ngapain juga kita mikir keras anjir." Sahut Zia pusing dengan dirinya sendiri.
"Yaudah, lo jalan duluan kita tutupin dibelakang." Saran Sienna.
Akhinya Mereka kekuar kelas dan melihat masih ada beberapa siswa yang berlalu lalang disekitar. Awalnya semua aman aman saja. Namun, diujung koridor, ada sosok Rigel dan teman - temannya berjalan mendekat kearah mereka.
"Astaga, gimana? Gue malu banget." Ujar Azella langsung kepinggir dan bersandar ditembok.
Sienna melihat Azella dengan pandangan menenangkan bahwa semua akan baik baik saja.
"Na, ayo." Ajak Seven ketika sampai dihadapan Sienna.
Rigel mengerutkan alisnya melihat Azella yang menjauh dari mereka.
Rigel berjalan mendekati gadis itu, namun Azella juga berjalan mundur tapi tetap menempel dengan tembok.
"Kenapa?" Tanya Rigel kesal, ketika dirinya mendekat, gadis itu malah semakin mundur.
Vixtor menatap Azella dengan aneh. "Azella kenapa sih?" Tanyanya kepada Sienna dan Zia, namun kedua gadis itu tidak menjawabnya, mereka mengerti keadaan Azella saat ini.
Apalagi Rigel sangat keras kepala. Mereka mana berani dengan laki laki yang emosional itu. Jangankan menolong Azella, menatap mata Rigel saja mereka gemetar.
"Azella." Tegas Rigel lagi.
Hal itu sukses membuat Azella menghentikan langkah mundurnya.
"Rigel, gue malu." Cicit gadis itu pelan.
"Kenapa?"
"Lo gak bakal ngerti, mending kalian pergi. Na, Zi kalian duluan aja." Usir Azella.
Rigel menatap gadis didepannya dengan kesal.
"Lo berani ngusir gue?" Katanya sedikit emosi.
Lah, kok marah!
"Iyaaa, sana lo pergi. Ngapain nyamperin gue?" Jawab Azella tidak kalah emosi.
Maklum moodnya tidak baik dan tentu saja itu berpengaruh untuk emosional gadis itu.
Rigel menyisir rambutnya kebelakang, hal biasa yang dilakukannya ketika laki laki itu sedang menahan emosi.
Rigel menarik tangan Azella mencoba membuat perempuan itu mendekat kearahnya. Namun sayangnya, Azella sudah hafal dengan kebiasaan Rigel yang satu itu, sehingga akhirnya Azella menjauhkan dirinya dengan berjalan mundur.
"Lo kenapa sih?" Tanya Rigel dengan tidak santai.
"Lo yang kenapa?!" Balas Azella sengit.
"Pulang bareng gue." Cetus Rigel.
Azella menghela nafasnya pelan. "Gue gak mau. Lo pulang aja duluan."
"Kalian mending duluan aja." Kata Zia mengusir teman teman Rigel yang menonton kejadian itu dengan berbagai pandangan.
"Kalian pulang, gue mau ngurus anak ini." Tandas Rigel tanpa mengalihkan pandangannya dari Azella sedikitpun.
Sienna mendekati Azella. "Zell, kita duluan gak apa apa?"
Azella menggeleng. "Santai aja, makasih ya."
"Yauda, it's okay, kita duluan yaa."
Azella melihat Sienna, Zia dan teman teman Rigel sudah menghilang diujung koridor.
"Apa?!" Kesal Azella menatap Rigel.
"Pulang sama gue."
"Gue udah dijemput."
"Gue gak peduli."
"Gue gak mau pulang bareng lo."
"Gue paksa."
Azella menghela nafasnya pelan. "Gue lagi tembus tau." Ujarnya jujur, sambil menunduk menatap sepatu miliknya. Lagipula Azella sulit menang melawan Rigel, dan keadaannya juga tidak cukup baik saat ini.
Rigel mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Tuh kan, lo mana ngerti."
"Coba jelasin."
Azella menatap Rigel ragu - ragu. "Gu-gue lagi datang bulan, t-terus tembus ya gitu lah pokoknya."
Rigel menatap gadis itu selama tiga detik sebelum laki laki itu membuka jaketnya dan memberikannya kepada Azella.
"Nih, buat nutupin."
Azella speechless melihatnya.
"Ih jangan, nanti jaket lo kena."
"Pakai."
"Gak mau."
"Azella."
"Gak mau, ya gak mau."
"Oke, pulang aja kayak gitu, didepan masih banyak anak anak extra volley yang latihan." Ucap Rigel habis kesabaran.
Laki laki itu memakai kembali jaketnya kemudian melangkahkan kakinya berbalik meninggalkan Azella.
Azella tentu saja kesal melihat hal itu. Entah kenapa dirinya merasa ada yang kosong jika Rigel meninggalkannya. Eh- apa yang diharapkan oleh Azella sebenarnya?
"Sadar Zell, pulang ayok, ntar gue kesurupan lagi disini sendiri." Monolognya sendiri.
Gadis itu melihat kebelakang dimana koridor sepi, artinya dia bisa berjalan bebas. Azella berjalan sampai diujung koridor, di perbatasan antara gedung kelas dan lapangan, memang benar ada beberapa siswa laki laki yang sedang bermain volley dilapangan outdoor.
Azella hanya terdiam diujung koridor, bingung harus melakukan apa.
"Mampus, bego banget gue, harusnya gue terima tawaran Rigel tadi." Ucap Azella kebingungan.
Namun, tidak berselang lama, Azella tiba tiba dikagetkan dengan tangan yang melingkari pinggang rampingnya dan mengikatkan sebuah jaket.
"R-rigel." Cicit Azella antara malu dan kesal. Malu karena Rigel benar dan kesal karena perlakuan Rigel yang membuat jantungnya kembali berdebar.
"Makanya jangan ego aja yang dibesarin." Ucapnya tepat ditelinga Azella.
Ngaca bego! Batin Azella kesal.
"Kenapa bengong? Mau gue tinggal lagi?"
"Y-ya, ya maaf."
"Ayo pulang."
..._________________...
Another side.
at 20.00
"Udah jam berapa Ven?" Tanya Cello masih dalam keadaan menutup mata. "Kenapa sepi banget? Rigel ninggalin gue latihan? Ven?"
"Ven lo ga ikut tidur juga kan?"
Karena tidak mendapat jawaban, Akhirnya Cello bangkit dari posisi tidurnya.
__ADS_1
"Woi sev- SETAN GUE DITINGGAL SAMPE MALEM DIKELAS. TEGA BANGET SIH, HIKS MAMII CELLO TAKUT, NANTI CELLO DICULIK SAMA SETAN." Teriak Cello sambil berlari keluar kelas yang gelap dan memang sudah menunjukkan jam delapan malam.
"Hah....hah... Kurangajar!"