RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[39 | Sampai Nanti]


__ADS_3

"Azella, cepat sembuh ya sayang. I love you, untuk detik ini, dan beribu-ribu detik selanjutnya, sampai raga ini kembali menjadi angin. See you next time!" Bisik Rigel ditelinga Azella sebelum gadis itu benar-benar dipindahkan dari Jakarta kemarin malam.


Tidak-tidak, Rigel bukan meninggalkan Azella disaat tersulit gadis itu, tapi Rigel dituntut agar dirinya tidak stuck disana.


Karena, pergi bukan berarti berhenti mencintai, tapi karena Rigel tahu, dimanapun Azella berada dan dimanapun kakinya berpijak, jika mereka memang berjodoh, mereka pasti akan dipertemukan lagi.


Tidak masalah jika bukan Rigel yang dilihat oleh Azella untuk pertama kalinya ketika Azella sadar nanti. Tidak masalah bukan tangan Rigel yang menggenggam ketika Azella akan bangkit nanti. Tidak masalah jika bukan Rigel. Tapi Rigel berjanji untuk masadepan gadis itu, hanya Rigel yang akan Azella lihat.


Rigel menggelengkan kepalanya ketika bayangan Azella melintas dikepalanya, gadis itu benar-benar mempengaruhi Rigel sampai titik terdalamnya.


Saat ini Rigel kembali memandang serius beberapa lembar soal ujian diatas mejanya, ujian akhir semester yang sedang ditempuhnya, Rigel mengerjakan soal dengan cepat dan tepat. Terlahir dengan otak cerdas membuatnya tidak kesulitan mengerjakan soal-soal yang ada.


Rigel melirik pengawas didepan, Rigel sudah selesai mengerjakan 45 soal matematika dengan waktu 30 menit. Tapi berbeda dari biasanya Rigel lebih betah dikelas daripada keluar.


Detik berganti detik, hingga 30 menit sudah Rigel terdiam dimejanya tidak melakukan apapun hanya memperhatikan kertas-kertas yang tercoret tinta.


"Ibu tinggal keluar angkat telpon sebentar, kalian jangan ribut."


"Baik bu." Jawab mereka serentak.


"Vix liat jawaban lo." Bisik Cello pelan.


"Ogah, kemarin pas bahasa inggris lo pura-pura gadenger pas gue panggil." Balas Vixtor acuh.


"******, kemarin gue beneran jawab ngawur."


"Hilih, mau lo ngawur juga pasti bener. Kan bahasa inggris juga bahasa lo dari kecil anying."


"Dendaman banget lo sama gue Vix, gue traktir makan tiga hari."


"Gak tertarik."


"Buset, seminggu deh."


"Apaan, lu kira gue bisa disogok."


"Yauda iya iya sebulan."


"Yauda kalo lo maksa."


"Setan lo."

__ADS_1


"Cepetan mau nomor berapa?"


"1 sampai 45."


"Anjing itu namanya nyalin."


"Yauda lah cepetan kan gue udah janji traktir lo sebulan."


"Oke burger king atau pizza hut ya?"


"Anjing lo!"


"Iya ga nih?"


"Ck, iya cepetan!"


"Diem anjing, ribut bener lo berdua." Komentar Seven melihat kelakuan Vixtor dan Cello.


"Ck, sirik aja." Gumam Cello sambil menyalin jawaban Vixtor.


..._____________...


Rigel berjalan dikoridor sekolah, mata pelajaran matematika tadi sekaligus menjadi mata pelajaran penutup mereka untuk ujian akhir ini.


"Lah udah gak kesini lagi nih besok?" Tanya Cello.


"Masih ada acara pengumuman kelulusan sama prom night, anying."


"Lo gausah sok sedih Cell, bukanya lo yang paling pengen cepet-cepet lulus?"


"Gue gak dateng deh ke prom night." Ujar Seven.


"Lah Sienna?" Tanya Cello heran.


"Cewek gue masih sedih, dia juga gamungkin mau pergi kalau gak ada Azella disini."


"Lah iya, yaudah kita sama-sama gak dateng aja, bener kan Rig?"


"Besok gue berangkat."


"Hah? Apa?" Tanya Yuan yang sejak tadi fokus pada ponselnya sekarang menatap Rigel meminta penjelasan.

__ADS_1


"Sesuai yang direncanain Daddy gue. Besok malem gue udah ninggalin Jakarta."


"Ngab, lu gak ngajak kita?"


"Mau sampe kapan kalian ngikut gue terus? Kita ketemu dua atau tiga tahun lagi pas udah lulus kuliah ya."


"Kok gue sedih." Lirih Cello.


"Sok sedih lo." Ejek Seven.


"Beneran, Seven ke Jerman, Vixtor lanjut Jepang, Frans malah ke UK, terus gue ke Amerika. Kok pada misah sih."


Perkataan Cello barusan membuat mereka semua saling menatap satu sama lain.


"Kalo gitu malem ini kita party!" Ajak Seven.


..._________...


Suasana pagi yang cukup mendung, bahkan saat ini rintik demi rintik hujan sudah membasahi bumi. Pertemuan dan perpisahan sudah sering terjadi ditempat dimana Rigel menginjakkan kakinya saat ini. Rigel melihat orang-orang yang hadir dibandara pagi ini, Rigel menyadari banyak hal yang harus ditinggalkan untuk beberapa tahun kedepan. Bukan perpisahan yang Rigel takuti, tapi bagaimana jika tidak ada pertemuan kembali yang Rigel khawatirkan. Manusia kadang terlalu berekspetasi tinggi sampai lupa akan kapasitas kemampuan dirinya.


Rigel dulunya adalah orang yang angkuh, egois, temperamental. Tapi, semenjak dekat dengan Azella, Rigel memiliki satu hal yang disebut kelemahan, dimana rasanya Rigel akan melakukan apapun untuk Azella-nya.


"Mom, Dad, Rigel berangkat ya."


Kedua orang tua Rigel menatap anaknya dengan tersenyum kecil. Ini juga demi masadepan Rigel kan.


"Hati-hati, kamu jaga diri disana, belajar yang bener." Ucap Venus dengan menatap anaknya bangga, Venus tahu perasaan Rigel tidak baik-baik saja, apalagi tentang masalah yang terjadi belakangan ini. Tapi, anaknya tetap melakukan kewajibannya dan tidak lain sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada dirinya sendiri.


"Rig, kalau ada apa-apa jangan ragu buat hubungin kita." Ujar Tayo yang diangguki Gefan dan anak-anak Antariksa Gang yang hadir pagi itu.


Perihal jabatannya sebagai ketua geng, Rigel sudah melepaskan gelar itu seminggu sebelum ujian akhir sekolah. Yang menjadi ketuanya sekarang adalah Tayo, yang memang sudah diperhitungkan sejak lama.


"Rig, safe flight." Kata Vixtor yang diangguki sahabatnya yang lain. Dan semalam mereka telah berbicara banyak hal, dari terbenamnya sang mentari sampai datangnya mentari pagi yang malu-malu karena tertutup awan.  Mereka berdiri bersebelahan setelah sesi foto tadi, hah, Rigel akan merindukan sahabat-sahabat gilanya.


Rigel menarik diri dari semua, kemudian berbalik meluk Mommynya, kemudian Daddynya, tidak lupa mengecup pipi tembem Adhara.


Setelah itu, Rigel benar-benar berjalan menjauh dari mereka hingga hilang diantara tembok-tembok pemisah.


Kali ini, Rigel pergi bukan untuk menyerah, bukan untuk lari dari masalah, bukan untuk mencari pengganti. Tapi, Rigel pergi untuk memperbaiki dirinya, Rigel tahu mereka memerlukan waktu untuk mengenali dan memahami diri sendiri, pertemuannya dan Azella yang mendadak, begitu juga kejadian dan tragedi yang telah terjadi.


Bukan, Rigel berani berjanji ini bukan akhir. Ini awal dimana mereka akan dipertemukan kembali dengan versi yang lebih baik.

__ADS_1


Tunggu ya, mereka sedang sama-sama berjuang.


__ADS_2