
Rigel meminum cola miliknya sekali teguk langsung kandas.
"Nah gue ketemu nih, anak anaknya sama identitas mereka semua." Celetuk Yuan melihat tab yang dipegangnya dengan kacamata baca yang bertengger dimatanya.
"Langsung email ke gue." Ucap Rigel tanpa melirik Yuan. Laki laki itu fokus menatap langit malam yang sepertinya akan segera turun hujan.
Meskipun begitu, Yuan menganggukkan kepalanya dan melaksanakan seperti yang disuruh Rigel.
Drt...drt...
Rigel melirik ponselnya yang berbunyi yang ditaruhnya diatas meja didepannya.
Setelah melirik nama penelpon Rigel menegakkan badannya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?"
"Azella, kenapa?" Tanya Rigel mendengar nada panik diseberang sana.
"Tolongin gue, gue..." Rigel mengeraskan rahangnya mengetahui ada yang tidak beres.
"Hei, calm down." Jawab Rigel setenang mungkin, meski perasaannya khawatir dan emosi disaat yang bersamaan.
"Help please, Jerry ngikutin gue, sama lima- eh udah banyak temennya." ****, Rigel mengepalkan tangannya kuat. Sialan sekali Jerry.
"Oke. Tenang. Share loc, okay?"
"Okay, tapi cepetan." Ujar Azella yang dari suaranya Rigek tahu gadis itu sangat panik.
"Oke."
"Udah, gue udah share loc." Rigel segera mengecek lokasi Azella. Dan sialnya Rigel semakin kalut ketika gadis itu lokasinya berpindah pindah.
"**** Azella, you still driving?"
Tut...
"ARGH!" Teriak Rigel kesal ketika Azella mematikan ponselnya sepihak. Tidak, Rigel tidak kesal dengan Azella yang memutuskan panggilan sepihak, tapi kepada Jerry yang beraninya mengganggu Azella.
Umpatan Rigel yang keras membuat sahabatnya terlonjak kaget. Namun belum sempat mereka bertanya Rigel sudah berlari keluar.
Dan tentu saja mereka mengikuti Rigel yang pergi entah kemana.
Rigel mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Lokasi Azella sedikit jauh dari tempatnya berada saat ini.
Setelah beberapa saat Rigel melihat lokasi Azella yang diam ditempat dan tidak bergerak.
Sialan, pikiran Rigel sudah kacau saat ini.
Laki laki itu semakin mendekati lokasi dan akhirnya diujung jalan Rigel melihat beberapa anak motor yang berhenti ditengah jalan seperti memblock jalan tersebut.
"Anjing!" Umpatnya marah.
Rigel langsung turun dari atas motornya, diikuti teman temannya yang sedari tadi mengikutinya.
Rigel langsung menendang beberapa orang yang menghalangi Rigel untuk lewat dijalan tersebut.
Dengan emosi yang diujung kepala Rigel tidak segan melayangkan pukulan pukulan maut yang bisa membuat lawannya tumbang dengan sekali hantaman.
Tentu saja sahabat Rigel yang lain turut membantunya. Tidak lama kemudian sekitar 50 orang yang menghalangi jalan Rigel akhirnya tumbang semua.
Rigel kembali menaiki motornya dengan kecepatan tinggi, apalagi ketika melihat mobil seseorang yang sangat dikenalinya dalam keadaan tidak baik.
"Bajingan!!" Murka Rigel ketika melihat Azella terkapar tidak berdaya dan bersimpuh darah.
"Manusia bodoh." Umpatnya langsung menarik kerah Jerry yang sepertinya kaget dengan kehadirannya.
"BAJINGAN!! LO CARI MATI SAMA GUE." Teriak Rigel didepan wajah Jerry.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Rigel langsung melayangkan banyak pukulan kepada Jerry yang terlihat tidak bisa melawan sedikitpun.
"Mati lo sialan?!" Umpat Rigel terlampau emosi.
Yuan segera mendekati Azella yang tidak sadarkan diri. Sedangkan yang lainnya membantu Rigel melawan pasukan BlackStar yang ada disana.
"ARGH." Mereka semua terperanjat kaget mendengar teriakan Jerry. Apalagi bunyi retakan tulang.
"MAMPUS!" Teriak Rigel puas.
"Lo liat? Jerry diapain?" Tanya Cello berbisik kepada Vixtor, karena tadinya Cello melumpuhkan beberapa anggota BlackStar.
"Enggak tau gue, dia pingsan noh. Gak mungkin mati sih, lo tau sendiri gimana Rigel ngasi hukuman kemusuh musuhnya kan? Mati terlalu easy. Ya minimal nginep di RS sampai lima bulan sambil nahan sakit." Jawab Vixtor.
"Vix, telpon Tayo suruh kirim mobil." Ucap Seven. "Mobil Azella nanti diurus."
Vixtor langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tayo.
Rigel masih melihat Jerry dengan nafas yang tidak beraturan.
"Udah Rig, prioritasin Azella, dia lebih butuh lo." Kata Frans menepuk bahu Rigel beberapa kali.
Rigel langsung melihat Azella yang kepalanya sudah berada dipangkuan Yuan.
"****." Umpatnya, bisa bisanya Rigel melupakan keadaan Azella.
Rigel mengangkat Azella digendongannya dengan bridal style. Bertepatan dengan itu Tayo datang dengan mobil Audi R8 yang merupakan salah satu fasilitas markas Antariksa Gang.
Tayo langsung keluar dan memberikan Ruang sepenuhnya kepada Rigel. Laki laki itu memasukkan Azella dalam kursi penumpang dan Rigel berjalan kearah kursi kemudi.
Teman temannya melihat Rigel yang sangat panik. Mereka hanya diam tidak ingin mengganggu konsentrasi Rigel, sampai akhirnya laki laki itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Gue ikutin Rigel sama Seven. Kalian beresin disini dulu ya." Saran Yuan.
"Oke oke, tapi gimana soal keluarga Azella?" Tanya Cello.
"Nah gak tau, tunggu keputusan Rigel dulu." Jawab seven.
"Oke nanti kita nyusul." Kata Vixtor melihat Seven dan Yuan sudah mengendarai motornya masing masing untuk mengikuti Rigel.
Sedangkan Rigel sudah kalang kabut sendiri. Rigel melirik Azella yang tidak sadarkan diri disebelahnya. Sungguh melihat gadis ini terluka membuat pikirannya sangat kacau.
Rigel tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang terlibat malam hari ini.
"Azella, tolong berhenti buat gue khawatir." Lirih Rigel sambil menggenggam erat jemari tangan Azella.
Rigel akhirnya sampai dirumah sakit terdekat.
Rigel menurunkan Azella langsung disambut oleh perawat yang berjaga. Mereka segera membawa Azella kedalam ruangan UGD.
__ADS_1
"Maaf, Tuan anda hanya boleh mengantar sampai disini." Jelas seorang perawat perempuan ketika Rigel hendak masuk kedalam UGD.
"Sialan, saya mau masuk." Bantah Rigel. Bagaimana mungkin dirinya menunggu diluar seperti orang bodoh.
"Maaf tapi ini sudah menjadi peraturan pihak rumah sakit." Kata perawat tersebut sebelum menutup pintu UGD dan Rigel menghela nafasnya kasar.
"Gosh!"
"Rig, udah - udah, duduk dulu." Ucap Seven yang baru saja datang bersama Yuan.
"Rig gimana sama keluarga Azella?" Tanya Seven hati hati.
"Jangan telpon siapa siapa dulu, kasus tadi jangan sampai ketahuan sama publik." Tegas Rigel. Bukanya ingin menyembunyikan kasus ini, tapi Rigel lebih puas menghukum Jerry sendiri. Dan tentang keluara Azella nanti akan Rigel tanyakan pada Azella sendiri.
"Kenapa lama banget anjing?!" Khawatir Rigel.
"Sabar Rig, baru 5 menit Azella masuk." Jawab Yuan.
Tidak lama kemudian sahabat Rigel yang lain datang menyusul. Cello, Vixtor, Frans, dan Tayo.
"Gimana?" Tanya Vixtor yang mendapat gelengan dari Yuan. Mereka mengangguk mengerti kemudian duduk dikursi tunggu.
Rigel mengacak Rambutnya kesal. "****, ngapain sih mereka didalem?"
"Ya ngobatin Azella Rig, lo kenapa jadi bego sih? Yakali itu doang gak tau, lagian kan lo jenius, gak mungkin Rig kalo mereka tidur didalem-" Vixtor menghentikan celotehannya ketika semua sahabatnya menatapnya tajam, kecuali Rigel yang berdiri dan berjalan mendekat kearah pintu UGD berharap bisa melihat sedikit dari sana. Namun nihil. Pintu itu terlalu tebal.
"Lo jangan bercanda anjing!" Tandas Cello.
"Gue kan niatnya ngelawak biar gak tegang banget ngab." Belas Vixtor.
"Lo ngelawak sama kita aman, tapi gue gak jamin lo aman dari amukan Rigel." Jelas Yuan.
"Keluarga Nona Azella?"
Raigel langsung mendekati dokter yang baru saja keluar dari UGD.
"Gimana keadaan teman saya?" Tanya Rigel to the point.
"Begini, tidak ada luka yang serius, hanya kepalanya memar dan pelipisnya sedikit robek, sisanya sudah kami obati. Dan kami sarankan untuk melakukan CT Scan atau Rontgen kepala untuk menghindari ada luka lain, dan sepertinya luka dikepala pasien didapatkan karena benturan yang sangat kencang." Ucap Dokter itu menjelaskan.
"Lakukan yang terbaik." Jawab Rigel dengan tegas.
"Tentu, tolong segera urus administrasi."
"Kapan saya bisa melihat teman saya?" Tanya Rigel cepat.
"Nanti, kami akan memindahkan pasien keruang rawat."
"Baik dok, terimakasih." Ucap Rigel pelan.
Dokter itu hanya mengangguk dan tersenyum ramah kemudian menjauh dari ruangan UGD.
..._________________...
Azella mengerjapkan matanya pelan. Tenggorokannya terasa kering, bahkan untuk berbicara rasanya Azella tidak akan mampu untuk mengeluarkan suara.
Azella melihat kesebelah kiri, ada Rigel yang memejamkan matanya dengan tangan dilipat diatas dada dan posisinya duduk bersender pada kursi.
Suasana ruangan yang hening dan serba putih, membuat Azella sadar bahwa dirinya berada di rumah sakit.
Azella menggerakkan sedikir tangannya menyentuh jaket yang dikenakan oleh Rigel. Seketika Rigel yang peka dengan pergerakan langsung membuka kedua matanya.
"Azella, ada yang sakit? Kamu perlu sesuatu?" Tentu saja Rigel langsung berdiri dan menanyai keadaan Azella.
Rigel membuka tutup botol air dan memasukkan sedotan agar Azella lebih gampang meminumnya.
Sungguh, Rigel tidak tahan tadi melihat perban dipelipis Azella dan juga berbagai luka memar.
"Sakit?" Tanya Rigel mengelus pelan ujung bibir Azella yang luka, ketika gadis itu meringis saat Rigel memberinya minum.
Azella menggeleng pelan. Padahal Rigel tahu itu sakit. Meski benerapa kali mendapatkan luka seperti itu kadang kadang Rigel cukup meringis jika makan dengan keadaan bibir terluka. Apalagi Azella. Sialan, Jerry harus mendapatkan pelajarannya.
"Aku capek." Lirih Azella.
"Istirahat, ini masih jam 5 pagi, nanti aku bangunin." Suruh Rigel sambil mengelus pelan kening Azella.
"Gimana Kak Atlas sama Kak Aksel? Kamu gak bilang sama mereka kan? Nanti mereka ngamuk."
"Aku bilang sama Aksel."
Azella membelalak kaget. "Dia gak marah? Dia bilang apa?"
"Aku bilang kamu baik baik aja sama aku, besok dia kesini. Em, dan dia bilang kamu terlalu ceroboh."
Azella hanya menghela nafas lelah, ternyata semua menganggap dirinya ceroboh dan kenyataan itu benar adanya.
"Terus Kak Atlas? Ah, Kak Aksel ember, dia pasti bilang juga sama Kak Atlas."
"Gak, Atlas ke Mexico tadi jam 11 malem, ada urusan mendadak disana."
"Beneran? Berarti dia gak tau kan? Kamu jangan bilang sama dia ya."
"No, I'm not."
"Istirahat Azella."
"Gak bisa tidur lagi." Azella menatap Rigel yang semenjak tadi menatapnya. "Kamu gak capek di posisi gitu? Sejak kapan kamu duduk gitu sambil tidur?"
"Aku gak tidur, aku gini sekitar 6 jam yang lalu."
"Astaga, disana kan ada sofa, kamu ngapain duduk disini?" Azella menunjuk sofa panjang yang disediakan ruangan itu.
"Gak mau."
Azella menatap Rigel malas mendengar jawaban singkat dan tegas laki laki itu.
"Emm, soal semalem, makasi ya, aku bener - bener udah ngerepotin kamu terus terusan." Azella menggigit pipi bagian dalamnya, entah kenapa perasaannya berdesir aneh jika dekat dengan Rigel.
"Azella, aku pernah bilang, you are special, dalam keadaan apapun, I'll be there for you."
Azella mengigit bibirnya pelan. "Gombal." Ucapnya sambil menahan senyumnya.
"Ada yang sakit?" Tanya Rigel mengabaikan perkataan Azella.
"Enggak, aku gak apa apa sebenernya-"
"Bohong. Kamu ceroboh banget, kamu gak tau gimana khawatirnya aku liat kamu luka kayak semalem."
"Aku gak bisa ngelawan tauu."
"Jelas, kamu cewek, ngapain keluar malem malem sendiri?"
Azella kehabisan kata kata untuk menjawab pertanyaan Rigel. "Y-yaudah sih, kamu marah marah mulu." Kesalnya.
"Aku gak marah, aku cuma khawatir." Ucap laki laki itu datar sambil menegakkan bandannya dikursi dan melipat tanggannya didepan dada.
__ADS_1
Azella menatap Rigel dengan pandangan kesal. Kan seharusnya dia yang marah, kenapa Rigel yang ngambek.
Azella mengerutkan alisnya ketika kepalanya berdenyut sakit.
"Rigel...." Cicit Azella.
Rigel melihat Azella yang meringis, "Kenapa? Sakit?"
Azella mengangguk lucu sambil mengedipkan matanya beberapa kali karena pusing.
"Yang mana sakit? Mau aku panggilin dokter yaa" Tanya Rigel cepat.
"Enggak usah." Azella menarik tangan Rigel untuk mengelus kepalanya. "Disini." Kata Azella.
"Makanya dibilangin istirahat kan-"
"Iya, iya, sekarang mau tidur, tangannya jangan dilepas. Kamu jangan marah marah mulu." Ujar Azella kemudian mencoba memejamkan matanya.
Rigel tersenyum tipis. "Cepet sembuh cantik." Lirihnya pelan kemudian mendekatkan wajahnya kepelipis Azella yang tidak diperban, tapi sedikit membiru.
Cup...
...____________________...
"Ini bakso semua, ini mie ayam." Ucap Yuan membagi makanan untuk sahabatnya.
"Lah kok mie ayam cuma satu doang?" Tanya Cello.
"Lah kan kalian semua minta bakso."
"Ya tapi kan lo bilangnya beli bakso." Sahut Cello lagi.
"Yakan ditempat bakso pasti ada mie ayam Cell."
"Iyaa tap-"
"Udah anjing! Gak usah berisik, makanan doang lo ributin." Tengah Seven.
"Jangan kayak orang miskin." Celetuk Vixtor.
"Yaelah lo dibayarin mulu ngab." Cetus Yuan.
"Awas Azella bangun." Ucapan Frans tersebut membuat mereka semua mengunci mulutnya dengan rapat.
"Maap. Gue lupa Azella masih tidur." Ucap Yuan melirik Azella yang masih tertidur lelap.
Tok.. tok...
Bunyi ketukan pintu membuat Cello bangkit dan langsung membuka pintu.
"Ih, kok rame." Ujar Sienna.
"Masuk masuk, Azella masih istirahat tapi." Kata Cello.
Sienna dan Zia langsung masuk keruangan Azella yang cukup besar itu. Maklum Rigel memilih ruangan VVIP kelas pertama, untuk Azella. Rigel memang mengijinkan mereka untuk memeberitahu Sienna dan Zia, agar Azella juga tidak merasa bosan jika hanya teman temannya diruangan itu.
"Yaampun, kasian banget Azella." Kata Zia prihatin sambil melihat luka luka diwajah Azella.
"Yaampun Zell, cepet sembuh." Ujar Sienna.
"Jangan ribut, biar Azella dapet istirahat yang banyak." Peringat Vixtor.
Sienna dan Zia kemudian duduk diatas sofa setelah menaruh buah buahan yang dibawa mereka diatas meja. Sedangkan semua laki laki duduk dibawah sambil memakan makanan mereka.
"Sempet sempetnya kalian makan diruangan Azella." Cetus Zia.
"Ya gimana, kita pagi pagi udah disuruh jagain Azella sama Rigel." Sahut Seven.
"Rigel kemana?" Tanya Sienna tidak melihat laki laki itu.
"Keluar, ada urusan."
"Sshh..."
Seketika mereka semua mengalihkan perhatian kepada Azella yang sudah mulai membuka matanya.
Zia dan Sienna langsung mendekati Azella.
"Eh udah rame aja. Maaf gue tidur lama banget ya?" Tanya Azella langsung.
"Enggak apa apa Zell, gue sedih banget dapet kabar lo kayak gini. Sorry banget kemarin kita berdua ada acara jadi gak bisa nemenin lo." Jelas Sienna.
"Ini gak ada hubungannya sama kalian kok. Guenya aja yang ceroboh."
"Aduhh, cepet sembuh, gak tega gue liat lo memar gini. Lo hobi banget cari penyakit." Cerocos Zia.
"Ya gak hobi juga, ini musibah tau." Jawab Azella.
"Jadii, Rigel yang nolongin lo?" Bisik Sienna menelankan suaranya.
"Eh iya, kalian udah pacaran aja kenapa si." Sahut Zia masih berbisik.
Azella mengigit pipi bagian dalamnya menahan malu. "Apaan sih." Elaknya.
"Rigel suka sama lo, fix gue yakin 100% valid no debat." Ucap Zia lagi.
"Zell bentar lagi dokter kesini." Ucap Yuan membuat pembicaraan mereka berhenti.
Benar saja tidak lama kemudian dokter memasuki ruangan Azella.
"Saya periksa sebentar ya." Ucap dokter itu diiringi senyum manis.
"Kamu ada keluhan? Atau dimananya masih sakit?"
"Enggak ada dok, cuma kadang kepalanya nyeri, tapi sekarang udah enggak lagi."
"Oh, iya gak apa apa kalau gitu, itu wajar, nanti kalau sakitnya diikuti mual sampai muntah, atau batuk berdarah, kamu segera periksakan ya."
"Baik dokter."
"Emm, dan ya, tidak ada luka serius, mungkin jika kondisi kamu semakin membaik besok kamu udah bisa pulang." Jelas dokter tersebut ramah.
"Wahh, makasi dokter."
Kemudian dokter tersebut keluar setelah selesai memeriksa Azella.
Azella sejak tadi mencari cari seseorang yang semalaman menemaninya. Tapi kenapa pagi ini dia tidak ada disini?
"Rigel lagi ada urusan Zell." Kata Cello mengerti apa yang dicari Azella.
"Hah? Siapa yang nyariin Rigel." Kesal Azella malu.
"Yaelah Zell, gue tau tatapan mata lo, karena gue udah tenggelam didalamnya. Tapi-"
"Bacott. Ba-cot." Sela Vixtor sambil membentuk bentukkan bibirnya.
__ADS_1