RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[17 | Kucing Nakal]


__ADS_3

Rigel terdiam membisu mendengar penjelasan Azella. Meskipun laki - laki yang katanya bernama Aksel ini adalah sepupu dari Azella, tapi kenapa didalam hatinya, Rigel tetap tidak menyukai skinship yang terjadi diantara mereka. Ingat, Rigel tidak menyesali sedikitpun perlakuannya malam ini. Tidak sama sekali.


Sedangkan, Aksel melihat Rigel dengan pandangan angkuh miliknya. Sebenarnya Aksel sadar bahwa sedari tadi Rigel terus memperhatikan Azella. Benerapa kali Aksel mencari tau tentang kehidupan Azella selama di Jakarta dan selama itu juga ada nama Rigel terselip didalam kegiatan Azella. Rigel Antariksa Diego. Dari namanya saja Aksel tau siapa laki laki ini. Jujur saja Aksel sengaja membuat Rigel kesal karenanya.


"I don't fucking care, Azella." Balas Rigel akhirnya setelah lama terdiam. Ingat, Rigel juga tidak mau harga dirinya turun hanya karena salah memukul orang, biarlah orang lain mengira dirinya kejam. Tapi perlu dicatat, Rigel tetap tidak suka melihat Azella melakukan skinship dengan laki laki lain, meski kakak ataupun sepupunya sendiri.


"Oke, gue juga gak mau memperpanjang ini. Gue rasa lo harus minta maaf sama Aksel." Ucap Azella tenang.


Sedangkan Rigel mengepalkan tangannya kesal. Rigel tidak pernah meminta maaf kepada siapapun.


Teman teman Rigel juga ikut terbelalak kaget. Berani sekali Azella menyuruh nyuruh Rigel seperti itu. Jangankan meminta Rigel untuk meminta maaf, kadang menghentikan laki laki itu dalam menghajar orang lain saja susah.


"Never." Ucap Rigel singkat dan sangat tajam.


Aksel terkekeh pelan. "Ayo pulang Zell, gue gak perlu permintaan maaf dari dia." Ketus Aksel berjalan lebih dulu meninggalkan Azella.


Azella menghela nafas jengah. Sebenarnya Rigel dan Aksel sama saja. Sama sama suka membuat orang lain kesal setengah mampus.


Azella menatap Rigel yang juga menatapnya. Kemudian Azella hendak membuka jaket Rigel dibahunya.


"Jangan. Jangan dilepas. Gue anter lo pulang." Kata Rigel.


"Gue bisa pulang sama Aksel." Sahut Azella cepat tidak mau menambah masalah.


"Gue anter sampai parkiran."


Azella hanya mengangguk saja, malas berdebat lagi.


Rigel berjalan mendekati Azella dan menggenggam tangan gadis itu yang pas ditangannya. Dan Azella juga tidak menolak. Kemudian mereka berjalan menuruni tangga.


"Gue gak bisa berkata - kata." Celetuk Cello ketika nelihat Azella dan Rigel sudah hilang menuruni tangga.


Seven menggelengkan kepalanya. "Gue bener bener speechless banget. Kayaknya Rigel beneran suka sama Azella.


"Bagus dong, tinggal Vixtor aja cepetin cari pacar." Cetus Yuan menatap Vixtor.


"Disaat bahas Rigel, sempet sempetnya lo ngejek gue." Sahut Vixtor ketus.


"Udah, ini sekarang kita gimana?" Tanya Seven.


"Ikutin aja mereka, gue kepo." Kata Cello kemudian berjalan cepat menuruni tangga.


...________________...


Aksel menatap Rigel dengan malas ketika melihat laki laki itu menggenggam tangan Azella posesif.


"Ngapain lo?" Tanya Aksel ketus. "Lepas tangannya!" Suruhnya kemudian.


Rigel mengabaikan Aksel dan memfokuskan pandangannya kepada Azella. "Hati hati. Nanti gue chat."


Nanti gue chat.


Kalimat itu sontak saja membuat pikiran Azella tidak fokus. Sialan sekali Rigel ini, disaat seperti ini bisa saja membuat pipinya merona malu. Lagipula Azella yakin seribu persen, Rigel tidak memiliki kontaknya.


"Udah, apaan chat chet chat chet, gak ada. Zell cepet masuk." Ucap Aksel kesal.


Enak saja mereka menampilkan kemesraan setelah membuatnya babak belur.


Aksel melihat Azella yang sudah masuk kedalam mobilnya. Kemudian menatap Rigel yang juga sedang menatapnya.


Aksel terlebih dahulu membuang pandangannya dari Rigel. Perlu Aksel akui mata Rigel memang cukup menakutkan untuknya. Aksel merasa seperti ditatap oleh malaikat maut.


"Dengerin, Azella segalanya bagi keluarga Qierra sama Hallizton, jadi lo sakitin seujung kukunya aja, kita gak bakal tinggal diem." Kata Aksel tajam.


"Gue tau lo, gue tau kekuasaan lo, gue tau pengaruh lo. Tapi soal Azella beda, dia lebih berharga dari kasta, harta, sama tahta." Lanjutnya lagi.


"I will do whatever I want." Balas Rigel. "Dan gue gak perlu persetujuan lo buat ngelakuin itu." Tandasnya lagi.


Aksel menghela nafasnya. Sayangnya wajah tampanya sudah sangat perih saat ini. Laki laki itu memutuskan kotak matanya dari pandangan tajam milik Rigel. Kemudian laki laki itu menyusul Azella dan masuk kedalam mobilnya. Aksel mengendarai mobilnya dengan cukup kencang ketika meninggalkan club tersebut.


Sepertinya Aksel membawa Azella ke club yang salah.


Prakkkk.....


Teman - teman Rigel yang melihat kejadian itu dari jarak jauh menjadi terlonjak kaget ketika melihat Rigel menendang pot didekatnya.


Seven mengelus dadanya berusaha sabar. "Bisa serangan jantung gue." Komentarnya sebelum menyusul yang lain mendekati Rigel.


"Gimana Rig?" Tanya Cello pelan, namun sedetik kemudian Cello menyesali pertanyaannya karena laki laki itu dilempari tatapan tajam Rigel.


Tanpa kata, Rigel meninggalkan teman temannya dan kembali masuk kedalam club. Tentu saja teman temannya yang lain mengekor seperti anak anak ayam.


Rigel duduk ditempat semula, bisa dilihat situasi sudah kembali seperti awal lagi, seperti tidak terjadi apa apa. Laki laki meminum setengah Champagne miliknya dengan sekali teguk dan menyalakan rokoknya dengan santai.


Cello menggaruk tengkuknga yang tidak gatal, mendadak ia tidak berselera untuk minum.


Yuan menatap Rigel menunggu perintah, ya jikalau terlewat kesal bisa saja laki laki itu memerintahkan mereka membantai Aksel.


Rigel memang penuh emosional dan terlahir sangat kejam. Karena itu, mungkin ia membutuhkan seseorang untuk meluluhkan semua itu.


..._______________...


Azella masih bisa merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Bahkan saat ini Azella sudah berada dikamarnya, dan tadi dirinya benar benar mengabaikan Aksel dan segala keingintahuan laki laki itu.


Iya, Aksel mendadak menjadi wartawan, bertanya banyak hal tentang bagaimana awal pertemuannya dengan Rigel. Tapi bodoamat, Azella yakin Aksel sudah tahu lebih dulu tentang itu. Jangan kira Azella tidak menyadari banyak mata mata yang berkeliaran disekelilingnya.


Azella sudah mandi dan membersihkan wajahnya, gadis itu masih duduk diatas tempat tidur dan bersandar dikepala ranjang. Entah Atlas akan mengintrogasinya besok atau tidak. Karena Azella sangat mengerti, jikalau Aksel tahu, makan Atlas lebih dari itu. Aksel memang suka bercanda dengannya, tapi Aksel tidak suka jika Azella sudah kelewat batas. Sedangkan Atlas, laki laki itu tidak suka basa basi. Dan tentu saja wataknya sangat keras.


Ting....


Suara notifikasi ponsel miliknya mampu membuatnya terlonjak kaget. Sialan sekali. Ternyata sejak tadi Azella melamun.


Azella mengambil ponselnya dengan malas, seketika jantungnya semakin berdegup dengan kencang, dan juga matanya membulat kaget.


08xxxxxxxxx


Udah sampai mansion?


-Rigel


Azella tentu saja langsung melempar asal ponselnya. Hell, Azella tidak menyangka Rigel akan serius dengan ucapannya. Azella mengigit kukunya bingung. Bagaimana sekarang? Laki laki itu sungguh mempermainkannya.


Drtt.......


Azella kembali tetlonjak kaget ketika dirinya mendengar panggilan masuk. Sialan Azella bisa terkena serangan panik jika begini terus.


Azella kemudian mengambil ponselnya yang sekarang menampilkan panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Sudah pasti Azella yakin ini Rigel, karena nomornya sama.


Azella menghela nafas beberapa kali sebelum memutuskan menjawab panggilan tersebut.


"Halo?"


"Azella?"


**** jantung Azella benar benar menggila didalam sana. Padahal laki laki itu baru memanggil namanya.


"I-iya?"


"Udah dimansion?"


"Udah. Em, lo dapet kontak gue darimana?" Azella menajamkan pendengarannya ketika suara musik yang cukup keras tersengar diseberang sana. Sepertinya Rigel masih di club.


"Rahasia."


Azella menatap Rigel dengan malas. Kenapa laki laki ini selalu penuh misteri sih?


"Azella."


"Kenapa?" Tanya Azella masih gugup. Tanpa sadar, gadis itu menggigit kecil bibirnya menunggu balasan Rigel.


"Udah mau tidur?"


"Em belum."


"Video call?"


"H-hah?" Boleh tidak Azella menghilang saat ini juga?


"Ayo, alihkan."


Azella memejamkan matanya sejenak dan menerima panggilan video milik Rigel. Gadis itu sudah menggunakan piama biru muda miliknta, kemudian gadis itu segera merubah posisinya menjadi tengkurap dan menyandarkan ponselnya dikepala ranjang.


Ketika menerima panggilan tersebut, Azella bisa melihat Rigel dilayar ponselnya.


Azella melihat Rigel yang menatapnya dalam, laki laki itu menggunakan EarPods ditelinganya yang sebelah kiri. Sialnya entah kenapa sangat cool menurut Azella. Azella juga melihat suasana dibelakang Rigel, banyak lampu kelap kelip dan juga music yang kencang. Maklum, ternyata laki laki itu memang masih di club.


"Lo masih di club?" Tanya Azella setelah lama hening.


Rigel melihat sekelilingnya dan mengangguk dua kali sebagai jawaban. Laki laki itu menyandarkan ponselnya diatas meja. Dan kemudian merokok didepan Azella yang masih online dengannya.


"Rigel." Panggil Azella tidak nyaman.


Rigel melihat Azella dengan pandangan yang sama, dalam dan intens, tidak pernah berubah.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Gue matiin ya." Ucap Azella cepat.


"Jangan. Temenin gue." Sahut Rigel disana sehingga membuat Jantung Azella semakin menggila.


"Jaket lo masih di gue." Kata Azella tidak menghiraukan jawaban Rigel yang sebelumnya.


"Simpen disana, boleh dipakai kalo lo mau."


"Eh, engga, nanti dicuci dulu terus gue balikin. Jaket lo banyak banget di gue."


Rigel menatap Azella dengan menaikan sebelah alisnya tidak terima.


"Gak usah dibalikin, simpen disana aja." Tegas Rigel tajam.


"O-okay." Gugup Azella.


Sungguh saat ini Azella merasa seperti kekasih dari seorang Rigel. Sejak tadi Azella hanya memperhatikan kelakuan laki laki itu dibalik layar.


"Kalau ngantuk tidur aja, nanti gue matiin." Kata Rigel tiba tiba yang membuat Azella kaget.


Azella merasakan pipinya memanas tanpa sebab.


"Gue matiin sekarang aja gimana?" Tawar Azella kemudian.


"Anjir, ada Azella cantikk." Azella mengerutkan alisnya ketika mendengar suara lain masuk disana. Itu suara Cello, Azella ingat benar cara laki laki itu memanggilnya.


Rigel terlihat melemparkan tatapan tajam kepada Cello, kemudian Azella melihat Cello menjauh dari Rigel.


"Rigel." Panggil Azella yang sekarang merasa malu tingkat tinggi. Bagaimana tidak, waktu teman temannya mengetahui Rigel dan dirinya ke rooftop saja mereka heboh setengah mampus, bagaimana jika mereka ketahuan video call? Atau jangan jangan sudah ketahuan?


"Gak apa, nanti gue bunuh kalau dia macem macem."


Azella menggigit bibirnya untuk menahan senyumnya. Entah kenapa akhir akhir ini Azella merasa gampang terpengaruh suasana. Mungkin karena dirinya masih mode pms.


"Azella. Jangan digigit."


"Eh-" Azella menatap Rigel kaget, mata gadis itu membola dan terlihat lucu dihadapan Rigel.


"Bibirnya jangan digigit."


****, kok dia tau. Batin Azella malu.


"Gue-"


"Sini biar gue yang gigit."


****.


"Rigel." Ketus Azella kesal.


Laki laki itu terlihat tersenyum tipis kemudian meminum minumannya.


"Tidur, udah malem." Katanya kemudian.


"Lo nyuruh gue tidur, tapi lo sendiri masih di club." Jawab Azella.


"Beda konsepnya." Sahut Rigel.


"Ngelak terus. Lo kapan pulang?" Tanya Azella, matanya tidak sengaja melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Tergantung mood."


Azella mengangguk mengerti, dulu dirinya juga begitu di London.


"Kalau gue tidur, ini gue matiin sekarang ya?" Tanya Azella.


"Enggak, jangan."  Tolak Rigel.


"Kenapa?"


"Nanti gue yang matiin."


"Gak mauu."


"Kenapa?"


"Ya gak mau aja."


"Yaudah matiin." Kata Rigel ketus.


"Eh?" Sahut Azella refleks.


Rigel tersenyum kecil disana.


Tit...


Azella mematikan ponselnya kemudian melemparnya asal.


Azella langsung meloncat dari atas kasurnya dan membuka pintu balkon. Azella perlu udara bebas untuk bernafas.


"Astaga jantung gue gempa disana." Monolog Azella.


Azella mengadahkan pandangannya keatas melihat bulan dan bintang dilangit. Azella tersenyum kecil.


"Kenapa sih sama gue?" Tanyanya entah kepada siapa.


"Gampang banget kayaknya orang orang buat narik ulur perasaan gue."


...________________...


Azella pagi ini kembali bangun kesiangan. Salahkan saja semalam dirinya tidak bisa tidur sampai jam empat dini hari. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh menit.


Azella mengambil kunci mobil asal dan segera keluar dari kamarnya. Dimeja makan Azella hanya melihat Atlas dan Aksel dan sedang sarapan.


"Azella, sarapan dulu." Kata Aksel ketika melihat Azella menuruni tangga.


"Nanti aja, Azella udah telat." Jawabnya cepat.


"Hati hati Azell." Teriak Atlas yang masih sempat didengar oleh Azella sebelum keluar dari pintu utama.


Azella mengendarai mobilnya dengan kencang, namun naasnya Azella tidak melihat seekor kucing yang menyebrang sehingga membuatnya mengerem mendadak dan mengakibatkan kepalanya terbentur kestir mobil dengan cukup keras.


"Aduh, sakit." Ucapnya sambil memijat pelan dahinya yang sepertinya memerah. Untung saja jalanan kesekolah sedikit sepi. Jadi tidak ada yang melihat insidennya dengan kucing pagi ini.


Azella kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kemudian tepat pukul delapan kurang dua menit, mobil Azella sudah terparkir diparkiran sekolah.


Azella sepertinya harus ke UKS, tidak mungkin Azella kekelas langsung dengan dahi memerah begini.


Baru lima langkah, Azella menghentikan langkahnya, dan menghela nafas pelan. Azella kan tidak tahu dimana letak UKS bagaimana dirinya bisa sampai disana.


Azella pasrah kemudian melangkahkan kakinya menuju kelas. Dengan sedikit menutupi dahinya dengan rambut, Azella masuk kekelas dan tentu saja selalu menjadi pusat perhatian. Apalagi sejak kejadian Rigel yang memposting fotonya di akun instagram laki laki itu.


"Lo kenapa?" Tanya Sienna aneh.


Azella kemudian memperlihatkan dahinya yang memerah. "Astaga lo kenapa lagi?"


"Lo langganan benjol tiap minggu?" Ucap Zia sarkas.


"Sakit bego." Umpat Azella ketika Zia menyentuh keningnya. Azella tidak kepedean tapi sedari tadi Azella merasa Zio meliriknya sekali dua kali. Apa Azella terlihat aneh dengan luka dikepalanya? Atau ada hal lain?


"Gimana itu anjir? Kenapa bisa? Perasaan benjol waktu ini baru sembuh, sekarang udah nambah lagi." Heran Zia sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Azella kembali memfokuskan dirinya kepada Sienna dan Zia. "Panjang ceritanya, gue pusing nih." Ungkap Azella sambil memegang dahinya.


"Nanti istirahat kita ke UKS dulu." Saran Sienna perhatian.


"Jadi gimana?" Tuntut Zia kepo.


"Gara gara kucing nih." Jelas Azella.


"Lo dicakar kucing?" Tanya Zia.


"Ya bukan Zi, cakaran kucing gak kayak gitu bentukannya." Jawab Sienna malas.


"Hehehe, terus kenapa?"


"Ja-"


"PAK ELBART ON THE WAY MASUK KELAS." Teriak Kira salah seorang teman sekelas mereka yang otomatis memotong pembicaraan Azella.


"Yaudah, nanti gue cerita." Bisik Azella pelan kemudian berusaha mengikuti pelajaran bahasa inggris pagi itu.


...___________________...


"ANJING CELLO." Maki Seven ketika melihat Cello mengusapkan ingusnya keseragamnya.


Entah kenapa Cello tiba tiba terserang flu sendiri.


"APA APAAN SIH LO. MINTA BANGET DIBACOK." Marah Seven lagi sambil mengambil tisu.


"Emang anjeng." Kompor Vixtor.


"Lo jauh jauh dari gue, nanti gue ketularan." Ucap Yuan ketika Cello hendak duduk disampingnya.


Dengan tidak tahu malunya Cello menarik ulur ingusnya didepan Yuan, tentu saja Yuan menjadi naik pitam.

__ADS_1


Bugh...


"ASU. Lo ngapa mukul gue babi." Marah Cello ketika Yuan memukul bahunya dengan keras.


"Sumpah lo jorok banget Cell." Komentar Vixtor tidak habis fikir.


"Kalo sakit gak usah sekolah anjir, enakan boboan dirumah." Saran Seven berusaha sabar.


"Iyalah, apalagi boboin cewe." Jawab Cello santai.


"Yaudah sana, pulang lo cepet." Usir Rigel tiba tiba.


"Bahahaha mampus. Blacklist aja Rig." Kompor Yuan.


"Ya gak gitu juga Rig." Ujar Cello cepat.


Rigel melihat teman temannya dengan sangat malas. Mereka saat ini berada dikantin yang selalu ramai akan siswa siswi.


Rigel memfokuskan pandangannya kepada pintu kantin, sudah dua puluh menit mereka duduk dikantin tapi satu sosok yang akhir ini menganggu pikirannya tidak ada disini. Atau belum datang mungkin.


Istirahat hanya 30 menit, sisa waktu masih 10 menit, apa gadis itu tidak datang?


Rigel mendengus kasar, dan hal itu membuat teman temannya menatapnya heran.


"Kenapa lagi Rig?" Tanya Yuan.


Rigel menggelengkan kepalanya malas.


"Azella cantik kok belum kekantin ya." Tanya Cello yang membuat Rigel menatapnya tajam.


Cello menatap balik Rigel dengan terkekeh pelan. "Kan emang cantik." Ucapnya membela diri menyadari ketidaksukaan Rigel.


Setelah mengetahui Azella yang Rigel video call semalam, Cello tentu saja heboh dan langsung menyebarkan hal itu kepada temannya yang lain. Bahkan mereka menanyakan Rigel banyak hal. Namun laki laki itu tidak peduli, tidak ada jawaban apapun yang diberikan Rigel malam itu yang cukup membuat temannya lelah bertanya dengan sendirinya.


"Katanya di UKS." Sahut Seven setelah membaca chat Sienna.


"Siapa di UKS?" Tanya Vixtor.


"Kata Sienna sih, Azella dahinya benjol." Jawab Seven pelan.


Rigel mengerutkan alisnya heran. Lagi, apa gadis itu membuat masalah lagi?


Laki laki itu berdiri dan berjalan meninggalkan teman temannya tanpa kata.


"Gue tebak seratus persen Rigel nyamperin ke UKS." Ucap Cello.


"Pak bos on the way jadi bucin. Kayak Yuan dulu, sayangnya udah mantan." Celetuk Vixtor.


"Mantan yang akan menjadi calon ibu." Lanjut Seven.


"Tolong yang dibahas Rigel ya mas, pak, om." Ketus Yuan malas.


"Yuk, ikutin, diem diem bae." Kata Seven berdiri yang langsung diikuti yang lain.


..._________________...


"Kepala gue berat banget." Keluh Azella entah yang keberapa kali saat ini. Dan hal itu sukses mambuat Sienna dan Zia kebingungan. "Gara gara kucing nih." Lanjutnya lagi.


Azella memang sudah menceritakan semua kejadiannya pagi ini kepada Zia dan Sienna. Hanya saja tentang video call semalam masih disimpannya sendiri. Azella terlalu malu untuk membahasnya, apalagi Azella malas diberikan ekspetasi terlalu tinggi, meningat bagaimana kedua sahabatnya itu lumayan mendukungnya dengan Rigel.


"Gimana dong? Gue suruh lo pulang gak mau, gue telfon kemansion lo juga gak boleh." Bingung Zia.


Saat ini Sienna dan Zia sedang menemani Azella yang berbaring di UKS, gadis itu mendadak merasa pusing. Dan keadaan UKS yang hanya dihuni mereka saja membuat mereka bebas disana tanpa gangguan.


"Lo istirahat aja disini, nanti gue ijinin ke guru mapel." Saran Sienna.


"Jangan telpon abang gue. Mereka kayak wartawan sumpah, pusing gue jawabin pertanyaannya." Jawab Azella sambil memejamkan matanya. Lagipula Azella yakin kedua kakaknya itu tahu tentang kejadian pagi ini.


Zia dan Sienna menghela nafas pelan berusaha memahami keadaan Azella. Padahal hanya memar dan benjol, tapi kenapa Azella terlihat sangat lemah?


"Lo kenapa? Ada sakit yang lain? Kok lemes banget?" Tanya Zia khawatir.


"Gue kayaknya gini karena pms deh, pengennya rebahan mulu." Lirih Azella yang langsung membuat Zia dan Sienna mengerti.


Ceklek...


Suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian mereka.


"Rigel." Ucap Azella pelan.


Rigel, laki laki itu mendekat dan menyentuh dahi Azella yang memang memerah. Entah sengaja atau tidak Rigel sedikit menekannya.


"Rigel sakit." Bentak Azella kaget.


"Nakal." Kata Rigel menatap Azella intens.


Laki laki itu menarik satu kursi dan duduk disana. Menatap Azella yang juga menatapya. Rigel bisa melihat Azella yang memang terlihat sangat lemas saat ini.


"Udah makan?" Tanya Rigel yang membuat Azella sedikit salah tingkah.


Azella menggeleng lucu.


"Mau makan apa?"


Ini Rigel beneran nawarin gue makan? Heran Azella.


"Enggak makan." Ujar Azella yang membuat Rigel mengerutkan alisnya tidak suka.


"Makan, harus, gue paksa."


"Gak mau, gak nafsu."


"Yaudah gue buat nafsu." Sahut Rigel ambigu.


"Rigel." Seru Azella marah.


"Makanya, lo makan."


"Gak mau."


Rigel menatap Azella malas, laki laki itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu disana, kemudian mematikannya dan menatap Azella lagi.


"Mana lagi yang sakit?"


"Ini, ini, ini." Tunjuk Azella pada dahi, perut, dan kepalanya."


"Kenapa perutnya?"


"Sakit." Lirih Azella.


"Iya sakit kenapa?"


"Ya sakit aja." Ketus Azella bingung harus menjelaskan bagaimana.


"Kenapa dahinya benjol? Lo ceroboh lagi kan?" Tanya Rigel yang membuat Azella menatapnya kesal.


"Enggak, kucingnya aja yang nakal nyebrang sembarangan."


"Oh, emang sejak kapan kucing kalau nyebrang liat liat?"


Azella menatap Rigel semakin kesal.


"Apa? Mau marah? Bawa mobil hati hati."


"Diem Rigel, lo makin buat gue pusing." Tukas Azella, memang benar kepalanya menjadi cenat cenut mendengar kata kata Rigel yang memang tidak sepenuhnya salah.


Sienna dan Zia menjadi salah tingkah sendiri melihat kelakuan dua insan itu.


"Em, kita masuk kelas ya Zell?" Tanya Zia ketika merasa mereka sudah tidak diperlukan lagi. Apalagi menyaksikan Azella dan Rigel membuat mereka canggung.


Azella langsung membalas gelengan dengan cepat terhadap pertanyaan Zia, ayolah Azella tiak mau ditinggal berdua dengan Rigel.


"Sana masuk kelas." Usir Rigel tiba tiba yang membuat Azella semakin kaget.


"Biarin aja mereka disini. Lo aja yang masuk kelas." Tegas Azella.


"Gue aja yang disini." Tandas Rigel tajam dan menatap Zia dan Sienna dengan pandangan mengusir.


"K-kita kekelas ya Zell, nanti kita kesini lagi kok hehehe." Ucap Sienna langsung menarik tangan Zia untuk keluar dari UKS.


Azella hanya menghela nafasnya pasrah ketika melihat temannya keluar pintu UKS.


Namun ketika membuka pintu, Sienna dan Zia melihat teman teman Rigel yang lain berada disana, mereka seperti menunggu informasi dari Sienna dan Zia.


"Ngapain mereka?" Tanya Cello kepo.


"Gak ngapain." Pungkas Zia.


"Yaelah pelit banget sama informasi." Kesal Cello.


"Masuk aja kali ya." Saran Yuan.


"Jangann, nanti Rigel ngamuk." Cegah Sienna cepat, "Kita aja diusir." Lanjutnya lagi.


"Gue takut mereka keluarnya bertiga." Celetuk Vixtor asal.

__ADS_1


__ADS_2