
Rintik air hujan yang berlomba-lomba turun membasahi bumi pagi itu, ternyata dapat membangunkan seorang gadis cantik yang sebelumnya tidur dengan nyenyak diatas kasur yang empuk itu.
Dengan menggunakan celana pendek longgar berwarna putih dan juga atasan kemeja putih yang terlihat kebesaran membungkus tubuh indahnya. Matanya perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali sebelum membuka dengan sempurna, tidak lama gadis itu mengerutkan keningnya merasa aneh dengan sekitarnya.
Merasa enggan untuk peduli dimana dirinya berada saat ini, intinya gadis itu malas bangun dari ranjangnya karenya udara dingin yang seperti menusuk-nusuk kulit lembutnya, secara refleks tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sampai lehernya.
Suara rintik hujan yang cukup deras terdengar dari suara balkon yang tidak ditutup secara sempurna. Gadis itu kembali memejamkan matanya berusaha masuk lagi kedalam dunia mimpinya.
Ketika akan kembali terlelap dengan sempurna, suara derap langkah kaki mulai mengusik gadis itu, matanya mulai terbuka lagi dan membuatnya refleks melirik kearah datangnya suara itu.
"Azella? Udah bangun?"
Gadis yang dipanggil Azella itu melirik seseorang yang baru keluar dari salah satu ruangan yang menjadi satu dengan kamar itu, seseorang yang merupakan laki-laki itu berjalan mendekati Azella dengan menggunakan setelan kantor, celana panjang dan kemeja yang berwarna navy, tidak lupa dari yang menggantung dilehernya yang tidak dipasangkan secara sempurna.
"Lo ngapain di apartment gue?" Tanya Azella dengan sura serak khas bangun tidurnya.
"Sorry? apartment kamu? No, ini di penthouse aku."
Azella langsung bangun dari tidurnya dan mendudukkan dirinya dengan tegak kemudian memperhatikan sekitarnya.
Dan benar saja didinding kamar ini terdapat satu foto yang menunjukkan pemilik tempat tersebut.
Azella mendesah lelah, "Kok gue bisa disini?"
"Semalem kamu ketiduran dipelukan aku."
Azella menatap Rigel yang berdiri disebelahnya dengan menawarkan segelas air. Iya, Azella baru ingat, entah kenapa semalam bisa-bisanya dia tertidur dipelukan Rigel ketika masih berada di club.
"Nggak baik pagi-pagi emosi, yang baik itu minum air putih, gitu kan Bu Dokter?" Canda Rigel ketika melihat mimik wajah Azella tidak bersahabat ketika menatapnya.
Meskipun sedikit kesal tapi Azella meraih air yang ditawarkan oleh Rigel, tanpa sadar gadis itu meneguk dengan habis air yang diberikan Rigel tersebut dan mengembalikan gelas tersebut kepada pimiliknya dengan acuh.
Rigel menaikkan sebelah alisnya ketika Azella kembali berbaring tanpa meninggalkan sepatah kata apapun.
"Kamu mau tidur lagi?" Tanya Rigel heran, tidak, bukan masalah jika Azella ingin terlelap lagi, tapi apa gadis itu tidak merasa risih menginap di penthousenya setelah sekian lama?
Iya tidak akan sih, Rigel sendiri sangat senang jika Azella nyaman bersamanya, ditempatnya, dan hanya ada mereka.
"Sayang, aku mau kekantor, ada rapat pagi ini. Ada makanan buat kamu didapur, terus pakaian kamu masih ditempat yang sama." Ujar Rigel sambil mengelus pelan rambut Azella yang menutupi mata gadis itu.
Ketika Rigel mendekat hendak mengecup kening Azella, gadis itu membuka matanya terlebih dahulu dan bangkit dari tidurnya.
Rigel memalingkan wajahnya ketika melihat pakaian Azella yang sebenarnya merupakan miliknya itu terlihat seksi digunakan oleh Azella.
__ADS_1
"Aku ikut kekantor kamu boleh?"
Rigel memalingkan wajahnya lagi menatap Azella sambil menahan senyumnya.
"Kok diem? Gaboleh ya?" Tanya Azella sambil mengikat rambutnya keatas, sepertinya gadis itu akan mandi.
"Boleh sayang." Jawab Rigel kemudian berjalan mendekati Azella, Rigel menarik lengan gadis itu dan langsung memeluk erat gadis yang teramat dirindukannya.
"Tapi diluar hujan, suhunya dingin banget, aku takut kamu sakit." Lirih Rigel ditelinga Azella dengan lembut.
"Kamu kira aku selemah itu?" Ujar Azella seraya menjauhkan tubuhnya dari Rigel, Azella menarik dasi yang menggantung bebas dileher Rigel, tangannya yang lentik dengan cekatan mengancing tiga kancing teratas kemeja Rigel yang belum dikancing oleh laki-laki itu.
Setelah itu Azella langsung memasangkan dasi berwarna silver yang senada dengan celana dan jass milik Rigel dengan rapi.
"Gimme 40 minute." Ujar Azella sebelum masuk kekamar mandi.
..._____________...
"Hari ini aku ada tiga rapat, kamu mau ikut atau diem diruangan aku?" tanya Rigel ketika mereka memasuki ruangan laki-laki itu.
Mata Azella langsung berbinar melihat ruangan mewah yang luas dengan berbagai hal yang ingin Azella cari tau apa saja isinya, apalagi tumpukan buku-buku yang sudah menarik perhatiannya sejak tadi.
"Aku disini aja." Jawab Azella kemudian berjalan kearah mini bar dan membuat cokelat panas.
"Ruangannya kekunci otomatis kalau aku ada didalem, soalnya pakai lensa mata aku, nanti aku tambahin lensa mata kamu, untuk sekarang kamu bukanya manual, kuncinya ada dua, dipintu sama dimeja aku deket telepon. Tapi gak bakal ada yang berani masuk kesini sembarangan." Jelas Rigel panjang lebar, sedangkan Azella tidak begitu mendengarkannya karena gadis itu sudah memilih-milih buku yang akan dibacanya.
"Iya-iya aku paham." Jawab Azella singkat ketidak menyadari Rigel menatapnya menunggu jawaban.
Rigel menarik pinggang Azella dan mengecup singkat kening gadis itu sebelum keluar dari ruangannya.
Azella yang melihat Rigel sudah pergi langsung mendekati meja kerja laki-laki itu. Tangannya membuka setiap laci yang membaca surat yang tersimpan disana.
Tidak ada yang mencurigakan, jujur saja Azella penasaran apakah Rigel pernah dekat dengan perempuan lain atau tidak, bagaimana ya, dari banyaknya perempuan yang mengenal Rigel, semua mengaku berasal dari universitas yang sama dengan Rigel, berarti disana Rigel terkenal kan? Ya meski Rigel tidak mengatakan hal itu.
Azella tersenyum kecil ketika menemukan semua album foto yang cukup besar yang berisi fotonya.
Tanpa sadar, Azella sudah memperhatikan dengan detail setiap sudut ruangan Rigel yang sangat luas itu.
Azella kemudian mengambil satu buku yang menarik perhatiannya kemudian duduk disofa dan membacanya dengan santai.
Beberapa minggu kedepan Azella belum memutuskan untuk melakukan praktek dimana, entah menetap di Indonesia atau kembali ke London.
Entahlan Azella sudah nyaman dengan kehidupannya beberapa tahun belakangan ini. Hanya saja tidak bisa dibohongi jika Rigel masih menduduki tahta dihatinya.
__ADS_1
Azella melirik jam yang menunjukkan pukul 13.00 WIB, Azella mengecek ponselnya tidak ada pesan masuk dari Rigel, apa laki-laki itu terbiasa melewatkan makan siangnya?
klik...
Bunyi pintu yang terbuka membuat Azella mengalihkan perhatiannya kearah pintu. Azella kira tadinya datang adalah Rigel, tapi ternyata bukan.
Azella berdiri ketika melihat yang datang adalah Venus bersama datu wanita yang Azella tidak tahu siapa.
"Wah sayang, seneng banget bisa ketemu kamu disini, apakabar?" Tanya Venus ramah kemudian memeluk erat Azella.
"Baik tante,"
"Tante tadinya mau ketemu Rigel, tapi katanya dia rapat. Oh iya, kenalin ini Franda, anak temen tante, maunya dia jadi asistennya Rigel mulai besok." Kata Venus sambil menunjuk wanita yang datang bersama dengannya tadi.
Azella tersenyum kecil melihat wanita yang sepertinya seumuran dengannya itu, tapi entah kenapa Azella merasa tidak nyaman dengan wanita itu, atau mungkin baru kenal? entahlah Azella malas memikirkannya.
"Dan Franda, ini Azella pacarnya Rigel." Ujar Venus memperkenalkan Azella dengan bangga. Sebenarnya Azella bisa membantah karena tentu saja hubungannya dengan Rigel sampai saat ini belum ada kejelasan.
Azella memperhatikan Franda yang benar saja sesuai ekspetasinya, wanita itu kaget dan menatap Azella dengan pandangan menilai, setelahnya tersenyum kecil dengan Azella seperti canggung.
"Eh sebentar, tante mau jemput Dara dulu, Franda kamu tunggu Rigel disini aja ya, didepan ada Xiever bisa kamu tanya-tanya kerjaan kamu. Dan Azella, kapan-kapan kita makan bareng ya, sekalian shopping sama curhat, tante tinggal ya sayang." Ujar Venus cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rigel.
Azella kembali duduk kepada posisinya tadi.
"Duduk aja Franda." Ucapnya tegas.
Franda duduk tepat didepan Azella entah kenapa sepertinya gadis itu memperhatikan Azella dangan intens.
"Kenapa? Ada yang salah sama saya?" tanya Azella tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya.
"Maaf, tapi setau saya, Rigel belum punya pacar." Ujar Franda dengan nada sedikit angkuh.
"Benar." Jawab Azella singkat dan tenang, dengan pelan Azella menutup bukunya dan menatap Franda yang juga menatapnya.
"Saya bukan pacarnya, tapi tunangannya." Jawab Azella tenang.
"T-tapi anda tidak menggunakan cincin dijari anda." Sanggah Franda cepat.
Azella melihat jarinya yang kosong, bagaimana isi cincin, tadi berkata seperti itu hanya refleks.
Azella menyingkirkan rambutnya kesebelah kanan. "Lihat merah-merah ini? Tunangan saya semalam sangat nakal." Ujar Azella sambil membelai lehernya.
Franda terlihat membuang wajahnya kesal, Azella tersenyum miring. "Cincin saya tertinggal di penthouse Rigel, semalam kami baru saja pulang dari club."
__ADS_1
Entahlah, apakah Azella terlalu jahat? Karena setelah itu Franda langsung berdiri dari duduknya kemudian keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.