
Markas Utama Antariksa Gang
20.40
Rigel memarkirkan motornya disebuah bangunan minimalis yang bagian depannya sudah banyak ditempati motor dan mobil yang parkir. Tanpa memikirkan apapun laki-laki itu segera turun dan masuk kedalam.
Di ruangan indoor, Rigel melihat beberapa anak-anak Antariksa Gang yang duduk tidak beraturan.
Mereka semua kompak menyapa Rigel yang datang. Setelah berbasa basi sedikit kemudian Rigel berjalan lebih dalam menuju ruangan outdoor.
Pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah lima sahabatnya yang duduk santai memandang hutan hutan lebat disekitar mereka.
Ini adalah markas utama Antariksa Gang, dihuni oleh ratusan anak laki-laki setiap harinya. Karena itu letaknya sedikit jauh dari keramaian. Dinobatkannya Rigel sebagai ketua Antariksa sebenarnya cukup membuat anak-anak Antariksa Gang aman, karna latar belakang dari laki-laki itu yang memang bukan anak sembarangan.
Belum lagi geng-geng lain menjadi lebih segan terhadap Antariksa Gang. Karena itu banyak kalangan lebih memilih diam jika melihat kelakuan anak Anatariksa Gang. Tentu saja alasan utamanya adalah adanya sosok Rigel Antariksa Diego didalamnya.
Setiap harinya markas selalu ramai, tentu saja fasilitas didalamnya sangat bagus dan selalu update. Dilengkapi Wifi, berbagai macam game online, terdapat ruangan khusus untuk olahraga seperti gym yang luas, dilengkapi alat-alat pelacak canggih, alat-alat berbahaya seperti senjata, pistol, panahan, dan lainnya.
Tidak lupa ada satu ruangan besar yang berisi obat-obatan dan perawatan medis. Ada halaman bebas yang seperti sirkuit, tidak seluas sirkuit tapi cukup untuk berlatih balapan mobil dan motor. Dan masih banyak lagi fasilitas lainnya yang tentu saja tidak kalah bagus.
"Pak bos udah dateng." Kata Yuan.
"Kayak lagi nungguin perawan." Sindir Cello.
Rigel hanya menatap acuh sahabatnya, kemudian berjalan dan duduk bergabung dengan mereka. Tangannya mengambil satu bungkus rokok yang ada diatas meja.
Tangannya dengan lincah mengambil satu batang rokok dan membuang kembali bungkusnya keatas meja, Rigel mengapit rokok tersebut diantara bibirnya dan mengambil pematik kemudian menyalakan rokok tersebut.
"Rig. Gimana balapan nanti? Lo dateng kan?" Tanya Yuan laki-laki yang duduk dibawah sambil selonjoran.
"Katanya Eraz udah balik dari Berlin. Dia nantangin kita, tapi ada undangan khusus buat lo." Kata Seven.
"Dua tahun yang lalu dia buat taruhan goblok. Yakali yang kalah harus mengasingkan diri keluar negeri. Tapi tetep aja Rigel menang, akhirnya dia yang mengasingkan diri sama semua anggota geng BlackStar. Terus sekarang, dia minta taruhan apalagi?" Tanya Vixtor jengah.
"Kaga tahu gue, ga ngurus, endingnya juga Rigel pasti menang lagi." Sahut Seven.
"Tapi dari informasi yang gue dapet, disana, tepatnya di Berlin. Eraz buat satu kelompok geng gitu, gue gatau spesifiknya gimana. Tapi katanya mereka udah latihan khusus buat ngalahin Antariksa." Informasi Yuan.
Rigel hanya diam dan menghisap rokoknya dengan tenang.
”Nanti gue dateng." Jawabnya setelah sekian lama hening.
..._______________...
Azella malam ini sedang berada dicafe bersama Sienna dan Zia.
Gadis itu masih badmood akan kejadian tadi di sekolah. Tentu saja kelakuan ketua geng Antariksa itu sungguh membuatnya ingin memakan laki-laki itu saat itu juga.
Karena hal itu Sienna dan Zia berinisiatif untuk mengajak Azella keluar malam ini. Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh, terlihat sedari tadi Azella hanya mengaduk aduk minumamnya. Sebenarnya keadaan Azella saat ini cukup membuat kedua sahabatnya prihatin. Entah nasib Azella memang buruk atau bagaimana, tapi memang tidak enak jika sudah berurusan dengan Rigel. Tidak akan ada kata maaf dari laki-laki itu sebelum dia puas.
"Zell, lo gak apa-apa kan?" Tanya Sienna.
"Udah, masalah Rigel jangan dipikirin, mending sekarang lo menjauh aja dari mereka." Lanjut Sienna lagi.
"Lagian sejauh yang gue liat, Rigel gak pernah ngelawan cewek dengan kekerasan kok." Kata Zia.
"Ah udah lah, gapapa, males banget mikirin Rigel." Kata Azella.
Ting!!
Notifikasi dari ponsel Azella sontak saja membuat mereka mengalihkan perhatian kepada ponsel tersebut.
AtlasJason
Dmn?
^^^AzellaQierra^^^
^^^Dicafe sama temen. Nanti pulang.^^^
AtlasJason
Plg. Skrng!
Azella hanya melihat balasan terakhir pesan tersebut tanpa berniat membalasnya.
"Siapa?" Kepo Zia.
"Kakak gue." Jawab Azella.
Zia dan Sienna hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kayaknya gue harus pulang, sebelum kakak gue ngamuk." Kata Azella tiba tiba.
"Lah, kenapa? Baru jam 10." Heran Sienna.
__ADS_1
"Biasa kakak gue gak ngerti anak muda, cuma kalo dia yang keluar malem ya pasti pulang pagi, aneh kan. Kena titisan dugong kayaknya." Jawab Azella asal.
"Astaga ada-ada aja lo. Yauda sana, hati-hati ya. Tapi kayaknya gue sama Sienna masih mau disini." Sahut Zia.
"Gapapa pulang sendiri kan?" Tanya Sienna.
"Nggak apa santai, yaudah gue cabut ya, bye." Kemudian Azella berjalan menuju parkiran mobilnya.
10 menit mengendarai mobil masih aman aman saja, memang jarak cafe tempat Azella dan teman temannya nongkrong tadi lumayan jauh, tadi saja Azella menghabiskan waktu 1 jam lebih 20 menit untuk sampai kesana.
Cukup jauh namun menarik karna terletak dipinggir pantai. Sayangnya karena belum terlalu hafal lokasi disana Azella harus menggunakan maps agar tidak salah arah.
Jalanan yang awalnya cukup sepi, namun seketika terdengar musik yang cukup kencang dari salah satu tempat disana. Mungkin saja sedang ada party, pikir Azella.
Namun semakin lama Azella semakin sadar kalau jalan yang dilewatinya sepertinya berbeda dari jalan yang sebelumnya.
Sepertinya Azella salah mengambil haluan. Namun di maps jalannya sudah benar. Karena jalanan yang sepi, Azella tidak berani berhenti sembarangan. Mungkin Azella akan mencari sebuah toko atau minimarket.
Dan sepertinya lebih baik Azella pulang bersama Zia dan Sienna tadi.
Azella melirik kekaca spion mobilnya, kemudian Azella merasa ada dua orang yang mengikutinya dengan sepeda motor. Azella berusaha bersikap biasa saja, meski tidak dapat dibohongi jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Jemarinya bergetar memilih kontak seseorang yang akan dihubungi. Namun naasnya kedua orang itu berhasil menghadang mobil Azella.
"Astaga." Umpat Azella.
Tok...tok...tok...
Azella sungguh tegang ketika jendela mobilnya diketuk ketuk. Sialnya tidak ada seorangpun yang lewat dijalan ini. Azella sempat membuka aplikasi chat dan mengirimi kakaknya pesan.
^^^AzellaQierra^^^
^^^Jemput gue cepetan!^^^
^^^(Share loc)^^^
AtlasJason
���
^^^AzellaQierra^^^
^^^Cpt.^^^
AtlasJason
Sbr, mndi dl
^^^AzellaQierra^^^
AtlasJason
5 mnt
^^^AzellaQierra^^^
^^^Otw?^^^
AtlasJason
Mndi
^^^AzellaQierra^^^
^^^KAK?!^^^
AtlasJason
Y, otw.
Azella tidak berniat membalas kembali pesan dari kakaknya.
Tok..tok..tok..
Ketukan jendela mobilnya semakin keras, Azella hanya bisa pasrah sekarang, namun dia tidak boleh terlihat panik. Akhirnya Azella turun dengan tatapan datarnya.
"Siapa kalian?" Tanya Azella ketus.
"Hey, tenang, jangan takut kita cuma mau ngundang lo ke party kita." Kata salah satu laki laki disana yang menurut Azella cukup tampan, tapi wajahnya penuh dengan luka lebam.
"Gak, gue gak mau." Jawab Azella acuh.
"Hei-"
Bughh.....
Satu laki-laki sudah jatuh tersungkur karena Azella menendang bagian perutnya disaat laki laki itu ingin menyentuh lengannya.
__ADS_1
Azella tersenyum sadis melihat satu laki-laki lagi yang masih berdiri dan melihatnya dengan pandangan sedikit heran, laki laki yang satunya wajahnya biasa saja dan tidak ada luka sama sekali diwajahnya.
"Gue gak akan basa basi, lo tau disini sepi, gue bisa seret lo kalau gue mau, dan lo teriak juga gak bakalan ada yang denger, jadi, mending ikut kita dengan sukarela atau gue bener-bener bakal buat lo habis malam ini."
"Laki-laki itu dinilai dari tindakannya, bukan cuma ucapannya. Coba aja kalau bisa." Tantang Azella.
Cuih...
Laki-laki itu meludah kesamping. Pandangannya melihat Azella dengan nakal. Untung saja malam ini Azella memakai pakaian yang cukup tertutup, celana jeans panjang yang ada aksen robek-robek dilututnya dan tanktop yang sudah ditutupi oleh cardigan.
Kedua laki-laki itu saling pandang cukup lama, kemudian dengan sigap hendak meraih tangan Azella dan langsung dihadiahi tendangan oleh Azella di bagian perut dan dadanya, sehingga kedua laki-laki itu mundur beberapa langkah.
Azella sungguh sangat bersyukur karena dirinya bisa beladiri sedikit, walau dulu Azella belajar karena paksaan kakaknya. Namun sekarang itu sangat berguna.
Azella memperhatikan kedua laki-laki tersebut yang sedang menatapnya dengan pandangan permusuhan.
"Jer, langsung pakai cara kasar aja." Kata laki-laki yang wajahnya penuh luka yang diangguki oleh laki-laki satunya.
Azella memandang mereka dengan pandangan tajam. Tangannya mengepal erat berjaga-jaga jikalau mereka mendekat lagi.
Diam diam Azella mengambil parfumnya yang disimpan di saku cardigan miliknya, dan mengarahkannya kemata kedua laki-laki itu.
Dan dengan gerakan cepat Azella menyemprotkan cairan itu hingga berhasil mengenai mata dari kedua laki laki itu.
"ANJING."
"BANGSAT."
"Mampus." Balas Azella dengan puas.
Seketika cahaya dari lampu kendaraan membuat Azella menjadi silau. Awalnya Azella berfikir yang datang adalah kakaknya, namun ternyata orang lain.
Terdapat enam motor sport yang terpakir di tengah tengah jalan.
Azella mulai waspada. Entah kenapa matanya menyipit menatap satu sosok yang motornya paling dekat dengannya, entah kenapa Azella seperti tidak asing dengan motor laki-laki itu. Begitu juga dengan tatapan mata dibalik helm full face miliknya.
"Hei, tenang cantik." Kata Seorang laki laki yang parkir lebih dibelakang, sembari membuka helm full face miliknya.
"Cello?" Tanya Azella ragu. Kemudian kelima laki laki lain juga ikut membuka helm mereka. Seharusnya Azella tahu, dimana ada Cello pasti itu tidak terlepas dari keberadaan teman temannya juga, termasuk Rigel. Azella memandangi Rigel dengan sengit, entah kenapa kekesalan tiba tiba datang ketika melihat laki-laki itu.
Sedangkan Rigel melepaskan helmnya dengan santai tanpa melirik sekalipun kearah Azella.
Azella menaikan alisnya bingung, masih ragu apakah mereka teman dari dua orang tadi atau malah sebaliknya. Apa mereka berniat menolong Azella?
"Gausah mikir yang aneh aneh. Kita emang terkenal nakal, tapi bukan nakal soal cewek, kecuali Cello." Kata Seven, sedangkan Cello menatapnya datar.
"Hei Eraz, long time no see." Sapa Yuan dengan tatapan meremehkan yang sangat jelas diwajahnya.
"And, Jerry? Gimana Bangkok?" Tanya Vixtor.
Sedangkan dua orang tadi yang ternyata bernama Eraz dan Jerry hanya menatap mereka dengan pandangan permusuhan. Namun karena semprotan parfum milik Azella tadi membuat keduanya sulit melihat dengan jelas.
Azella sendiri hanya diam. Azella juga mulai tidak paham dengan pembahasan diantara mereka.
"Takut kalah balapan, jadinya lo nyasar disini?" Tanya Cello mengejek. Sebenarnya mereka tadi setelah berdiskusi sebentar dimarkas, semuanya berniat pergi ke club, sambil menunggu pukul 2 dini hari untuk melakukan balapan dengan Eraz, hanya saja mereka tadi melihat seperti ada kejadian aneh dijalan ini, kemudian Rigel terlebih dahulu mengarahkan motornya lebih dekat, mengingat ini juga wilayah Antariksa.
Dan tentu saja teman-temannya yang lain mengekori ketua mereka.
Dan disana ternyata ada seorang gadis yang akhir akhir ini selalu menganggu ketenangan Rigel sendiri, Azella, dan lebih parahnya disini ada Eraz dan Jerry. Entah apa masalah mereka hingga ribut ditengah jalan.
"Jangan beraninya keroyokan anjing." Suara Jerry setelah merasa dapat melihat dengan jelas.
"Lo yang jangan beraninya sama cewek." Kata Frans.
"Gausah banyak bacot kalian. Rigel, gue tantang lo malam ini. Kalau lo menang gue gak bakal ganggu area lo lagi. Tapi, kalau lo kalah-"
"Udah diem, jangan dilanjutin. Rigel gak mungkin kalah." Sahut Cello.
"Jangan dilanjut, nanti lo malu." Kata Yuan.
"Pikir, nanti lo sanggup ga jalanin." Kata Seven ikut menimpali.
"Ternyata balik dari luar negri kalian masih bego." Sekarang Frans yang mengeluarkan kata kata pedasnya.
"Lo yakin nantangin Rigel lagi? Gak trauma dua tahun lalu nantangin Rigel dan lo kalah, akibatnya lo malah kemakan omongan lo sendiri harus mengasingkan diri ke Berlin." Ucap Vixtor.
Eraz menatap Vixtor dengan tatapan permusuhan.
"Kenapa kalau gue kalah?" Tanya Rigel.
"Of course, lo harus ninggalin area ini dan gadis ini jadi milik gue."
Deg...
Azella menatap Eraz dengan tajam.
__ADS_1
"Gue bukan barang yang bisa lo jadiin bahan taruhan." Kata Azella menatap tajam laki-laki itu.