
Rigel berjalan mendekati Azella yang bermain dekat pantai. Laki-laki itu menyusul Azella yang mendahuluinya kepinggir pantai untuk menikmati sunset.
Rigel memang menculik Azella untuk berlibur dengannya disalah satu resort miliknya yang tentunya didekat pantai.
"Ih kamu ngagetin aku aja." Kata Azella yang tadinya berjalan dipinggir pantai kemudian dipeluk tiba-tiba oleh Rigel.
"Jangan main ketengah, nanti kamu keseret arus." Ingat Rigel sambil membenarkan rambut Azella yang tertiup angin.
"Iya engga, tenang aja." Jawab Azella dengan senyum manisnya.
drrt..drrt.
Azella mengambil ponselnya yang ditaruh disaku cardigan yang dipakainya.
"Siapa?" Tanya Rigel ketika melihat Azella menatap lama nama yang terpampang dilayar ponselnya.
"Temen." Jawab Azella seraya menggeser icon hijau untuk menerima panggilan tersebut.
Azella melirik Rigel yang menatapnya. Azella tau Rigel penasaran siapa karena laki-laki itu melirik ponselnya.
"Halo?" Sapa Azella.
Rigel menatap Azella yang mulai mengobrol dengan seseorang diponselnya.
Perlahan kaki Azella menyusuri pantai yang juga diikuti oleh Rigel. Rigel melirik jam tangannya, sudah 20 detik Azella mengabaikannya dengan menerima panggilan ponsel tersebut.
Rigel berjalan cepat menyamai langkah Azella yang didepannya, Rigel semakin mengerutkan alisnya saat tangan Azella memberi kode berhenti ketika Rigel ingin berbicara.
Azella beberapa kali tersenyum menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Rigel kembali menatap Azella dengan pandangan membunuh setelah melirik jam tangannya, sudah 45 detik mereka berbicara dan Rigel diabaikan begitu saja.
"Oh iya, gapapa nanti kabarin aja kalo mau kesini, gue lagi sibuk nih, nanti gue call lagi ya kalo ada waktu luang, byebye!"
Azella mematikan ponselnya dan memasukkannya lagi kedalam saku cardigannya.
Azella melihat Rigel yang berjalan menjauh meninggalkannya.
Azella mengerti, pasti Rigel kesal dengannya. Azella kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat mengejar langkah Rigel yang cepat.
"Kamu kenapa?" Tanya Azella melihat wajah Rigel yang datar, ketika sampai disebelah laki-laki itu.
Rigel tidak menjawab, laki-laki itu hanya melirik Azella kemudian melanjutkan langkahnya.
"Sayang." Bujuk Azella dengan lembut.
"Apa?" Tanya Rigel malas.
"Udah selesai callnya?" Lanjutnya lagi.
Azella menganggukkan kepalanya, "Kamu kenapa?" Tanyanya lagi.
"Gaapa, lagi liat sunset." Jawab Rigel sambil melihat matahari yang mulai tenggelam.
"Azella memeluk tubuh besar Rigel dari samping. Tangannya mengusap halus dada bidang Rigel yang dilapisi kaos putih polos yang berbahan katun.
"Kamu marah sama aku?" Tanya Azella pelan.
"Enggak, ngapain marah." Jawab Rigel tegas.
__ADS_1
"Beneran?" Tanya Azella memastikan.
"Iya." Ucap Rigel singkat.
Azella tidak begitu memperhatikan Rigel ketika dirinya melihat sunset yang indah.
"Astaga, kamu fotoin aku yaa." Suruh Azella antusias sambil memberikan Rigel ponselnya.
Rigel menghela nafas jengah. "Suruh aja temen kamu."
"Hah?" Kaget Azella kemudian memasukkan lagi ponselnya kedalam saku cardigannya.
"Temen aku siapa? Tanya Azella heran, kan disini cuma kita berdua."
"Yang tadi kamu ajak call." Jawab Rigel sambil melihat hamparan laut.
Azella menahan senyumnya. "Are you jealous?"
"Gak." Jawab Rigel ketus.
"Bohong." Tebak Azella.
"Siapa yang bohong." Ujar Rigel sambil melipat tangannya didepan dada.
"Kamu bohong, kamu cemburu kan?" Goda Azella lagi.
"Apa-apaan cemburu, gak guna."
"Serius nih? Dia ngajakin aku ketemu loh." Pancing Azella sambil menahan senyumnya ketika melihat perubahan ekspresi wajah Rigel.
"Sambil dinner." Gurau Azella lagi.
Azella memperhatikan Rigel yang beberapa kali membuang pandangannya.
"Terserah sih."
"Jadi boleh?" Tanya Azella sok antusias.
"Sana aja."
"Yaudah kalo gitu sekalian aku nginep juga ya di apartment nya dia-"
"Nginep-nginep apaan, gak ya." Kesal Rigel refleks menggunakan nada tinggi.
Azella menahan senyumnnya.
"Loh kenapa? katanya terserah."
"Itu ngelunjak." Jawab Rigel cepat.
"Tadi dinner katanya boleh." Tanya Azella.
"Yakan sama aku." Jawab Rigel tegas.
"Hah?" Kaget Azella.
"Ya aku ikut." Ucap Rigel cepat sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Azella tidak dapat lagi menahan tawanya, Azella tertawa kencang membuat Rigel heran.
"Apa?" Tanya Rigel penasaran.
"Enggak sayang, aku bercanda. Gak ada dinner-dinner gak ada nginep."
"Heem." Dehem Rigel masih memperhatikan hamparan laut, tapi Azella perhatikan wajah laki-laki itu tidak setegang tadi.
Azella hanya tertawa dan memeluk Rigel dengan erat.
"Jadi kamu kenapa?" Tanya Azella untuk kesekian kalinya.
"Gak apa." Jawab Rigel masih sama.
"Bohong, kamu kenap-"
"Aku kenapa?" Tanya Rigel balik sebelum Azella menyelesaikan pertanyaannya.
"Tadi kamu call kamu ga mikirin aku?" Lanjut Rigel ketus.
"Sayang dia tem-"
"Iya dia temen kamu, tapi dia cowok Zell, namanya aja Zef. Dan kamu tau? Kamu ngobrol sama dia 56 detik. Dan kamu ga peduliin aku."
Azella membolakan matanya kaget, kenapa Rigel menjadi sangat cemburuan seperti ini?
"Sayang denger dulu, dia Zef, dia cowok tapi gak suka cewek."
Rigel menatap Azella dengan pandangan aneh.
"Kamu kalo ngelak yang warasan dikit." Tanggap Rigel serius.
"Ih beneran sayang, nih liat foto profilnya dia." Ujar Azella sambil memperlihatkan ponselnya.
"Oh." Tanggap Rigel ketika melihat foto laki-laki yang menggunakan wig panjang dan juga make up.
"Aku di London gapunya temen cowok, dia satu-satunya, tapi kamu taulah sekarang dia gimana." Ujar Azella.
Azella menyenderkan kepalanya kebahu kokoh Rigel.
Tangan Rigel merambat merangkul mesra pinggang ramping Azella.
"Kamu seneng?" Tanya Rigel asal, padahal dari raut wajah Azella, Rigel bisa melihat kebahagiaan yang memang benar-benar murni tanpa beban.
"Masih nanya, iyalah seneng." Jawab Azella antusias, gadis itu kembali menjauh menyusuri pantai karena malu ditatap seintens itu oleh Rigel.
Rigel melipat kedua tangannya didepan dada, matanya fokus memperhatikan dengan detail pergerakan dari Azella.
Jika Rigel diminta untuk kembali berpisah dengan Azella dengan waktu yang cukup lama, rasanya Rigel tidak akan sanggup lagi, lebih baik Rigel mati saja. Bagi Rigel Azella itu segalanya, bagi Rigel jika Azellanya bahagia maka dirinya juga akan bahagia, dan bagi Rigel, Azella tetap mutiara terindah yang tidak bisa Rigel beli dengan apapun, yang sekarang harus Rigel jaga dengan hati-hati dan juga sepenuh hati.
Rigel tersenyum menyambut Azella yang berlari kearahnya, dengan sigap Rigel menangkap tubuh kecil Azella didalam pelukannya.
Akhirnya mereka sadar, meski dibesarkan keluarga yang berkecukupan, mereka tidak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan yang nyata. Dan sekarang, mereka percaya jika bahagia tidak harus mahal, teori bahagia yang sangat sederhana jika mereka bisa bersama sampai akhir.
Ibaratnya, Azella tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang menerima dirinya lebih dari dirinya sendiri, nyatanya Rigel hadir untuk menerimanya meski dari titik terendah kehidupan Azella sekalipun.
Rigel yang memiliki sifat angkuh, egois, dan temperament perlahan luluh akan pesona Azella yang mampu membawa pikirannya kearah positif, membuat Rigel lebih dewasa, dan lebih mengerti apa itu tanggung jawab, semua karena Azella, Azella yang membuatnya berfikir bahwa kehidupan tidak semua seperti yang dia ma, tapi jika semua dalam kendalinya maka tidak akan ada yang bisa menyakiti Azellanya lagi.
__ADS_1