
Maxenzie terdiam membaca beberapa lembar kertas ditangannya. Satu bulan berlalu, kejadian mengerikan itu masih sering menghantuinya. Meskipun Lowen sudah mendapatkan balasannya tapi tetap saja Maxenzie tidak pernah bisa tidur tenang.
Maxenzie berjalan keluar dari ruangan kerjanya, matanya menatap kearah ruang keluarga disana seorang laki-laki yang sebulan ini tinggal bersamanya sedang membaca buku. Sulit diterima tapi inilah kenyataannya. Lowen benar-benar mempermainkan hidupnya.
Maxenzie berusaha berdamai dengan penggalan-penggalan hidupnya yang kacau, meskipun Maxenzie bukan orang yang pandai mengendalikan diri, tapi laki-laki itu sadar umurnya sudah tidak muda lagi untuk mengedepankan sifat egois.
Suara derap langkah kaki mendekat membuat Maxenzie menatap kearah pintu utama, Atlas baru saja memasuki mansion sambil melepas kancing atas kemejanya. Memang Atlas sudah resmi menggantikan jabatannya saat ini.
"Papa gak nemenin Mama?" Tanya Atlas ketika tiba dihadapan Maxenzie, begitu juga dengan Refvino yang sejak tadi membaca disana, laki-laki itu melihat kearah Atlas dan Maxenzie yang jaraknya cukup dekat dengannya.
"Ini mau jemput." Jawab Maxenzie. Angela memang beberapa minggu lalu sempat mengalami depresi ringan dan harus kontrol setiap minggunya, tapi Angela tidak pernah mau ditemani untuk kontrol, wanita itu lebih memilih diantar jemput daripada ditemani.
Atlas mengangguk mendengar jawaban Maxenzie. kemudian berjalan dan menepuk bahu Refvino sekali, kemudian naik kekamarnya.
Refvino menggerakkan kursi rodanya dengan kedua tangannya, laki-laki itu mengalami cidera yang cukup serius dibagian kakinya sehingga tidak bisa berjalan untuk sementara waktu.
"Mau kemana?" Tanya Maxenzie ketika Refvino menjauhi ruang keluarga ketika Maxenzie hendak duduk disalah satu sofa disana.
"Kekamar." Jawab Refvino canggung, bagaimanapun tidak mudah baginya untuk menerima semua ini. Refvino juga sangat terkejut ketika mengetahui hasil tes DNA nya memang membuktikan bahwa dia keturunan Qierra.
"Tetap disini." Ujar Maxenzie, sebulan sudah Refvino tinggal disini tapi Maxenzie belum pernah deep talk dengannya. Maxenzie paham ini bukan sepenuhnya salah Refvino, karena laki-laki itu juga merupakan korban dari Lowen. Tidak ada yang bisa memilih takdirnya sendiri akan bagaimana. Nyatanya kesalahan dan keegoisan masalalunya membuat anak-anaknya menjadi korban.
Maxezie tidak pernah menyesal menjadi ayah dari Altheo, begitu juga Maxenzie tidak akan melewati kewajibannya sebagai ayah Refvino, terlepas dari semuanya mereka berdua akan selalu menjadi anak-anaknya, begitu juga dengan Atlas dan Azella.
Astaga, mengingat nama Azella, Maxenzie jadi sangat merindukan gadis kecilnya.
"Kenapa?" Tanya Refvino mengalihkan pandangannya menatap kearah lain.
Atlas dan Angela memang sudah akrab dengannya apalagi Angela, wanita itu memperlakukan Refvino sangat baik.
Tapi Maxenzie yang beberapa minggu ini sibuk mengurus kasus Lowen menjadi tidak ada waktu untuk berbicara serius dengan Refvino.
"Maaf." Ucap Maxenzie yang membuat Refvino memandangnya. Dan untuk pertama kalinya kedua pasang mata yang memiliki warna yang sama itu saling menatap.
...____________...
Seorang laki-laki berjalan disebuah lorong putih yang setiap hari dikunjunginya selama kurang lebih 1 bulan ini.
Tangan kanannya dimasukkan kesaku celananya, tangan kirinya membawa sebuah bouquet bunga mawar warna-warni lengkap dengan daun-daunnya yang belum dibersihkan. Biasanya laki-laki itu akan menata sendiri bunga-bunga cantik itu diruangan gadisnya. Kegiatan rutin yang dilakukannya untuk menunggu gadisnya membuka mata.
1 bulan berlalu, banyak perubahan yang terjadi terhadap laki-laki itu. Bukan hanya dia, tapi mungkin semua orang yang berkaitan dengan gadisnya juga mulai berubah.
Dari arah yang berbeda terlihat seorang laki-laki yang keluar dari ruangan yang menjadi tujuan Rigel.
Tidak ada percakapan, tidak ada interaksi dengan kata, hanya anggukan kepala yang menjadi interaksi mereka. Rigel berjalan melewati Aksel dengan santai selayaknya orang asing yang baru bertemu sekali dua kali.
Ceklek...
Pintu terbuka dan aroma khas obat-obatan yang bercampur dengan harum mawar memasuki indra penciuman Rigel.
Rigel menaruh bunga mawar diatas meja didekat sofa. Laki-laki itu tersenyum kecil, manarik kursi dan duduk disana, tangan kanannya meraih tangan pucat yang selama 1 bulan ini terdiam.
__ADS_1
"Sayang."
Rigel tersenyum kecut, tidak ada kata balasan untuknya, tidak ada pelukan, tidak ada raut bahagia yang terpancar untuknya. Tapi tidak apa, Rigel akan menunggu.
"Jangan lama-lama tidurnya," Lirih Rigel.
"Tapi jangan khawatir, aku selalu nunggu kamu sampai kapanpun."
Laki-laki itu menghela nafas pasrah, peluru yang menenai Azella ternyata mengenai organ vitalnya sehingga Azella berakhir koma. Karena bukan hanya satu peluru, tapi dua peluru telah bersarang ditubuh Azella.
Tentu saja berita itu menampar semua orang yang berhubungan baik dengan Azella. Apalagi waktu diawal-awal Azella dinyatakan koma, semua menjadi kacau, sangat kacau. Mereka sangat sulit mengendalikan diri mereka, menganggap semua mimpi buruk, tapi nyatanya ini bukanlah mimpi, ini kenyataan yang harus mereka hadapi, dan sesegera mungkin diharapkan berlalu.
Satu persatu rahasia keluarga Qierra yang terbongkar, hal itu juga menyebabkan hubungan Rigel dan keluarga Qierra menjadi canggung. Bahkan Rigel tidak pernah lagi berbicara dengan Maxenzie meskipun bertemu diruangan inap Azella.
"Keadaannya cukup parah, kemungkinan terbesar nona Azella bisa saja mengalami koma."
"Kami belum bisa memastikan tapi kami akan melakukan yang terbaik untuk nona Azella."
Rigel kembali memejamkan matanya erat ketika kata-kata dokter masih terngiang-ngiang dikepalanya bagai kaset rusak. Bahkan Rigel tidak pernah bisa terlelap disepanjang malam.
Baru pertama kalinya Rigel tidak punya jalan keluar untuk satu masalahnya, yang bisa Rigel lakukan hanya menunggu dan percaya bahwa Azellanya akan kembali kepelukannya.
Ceklek..
Suara pintu yang terbuka tidak membuat Rigel mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Azella.
Rigel melirik sebentar beberapa orang yang masuk keruangan Azella. Orang-orang yang dikenalinya namun rasanya Rigel enggan untuk melihat mereka. Tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat-sahabatnya yang datang dan membawa berbagai makanan. Terlihat mereka akan menemani Azella lagi seperti hari-hari sebelumnya. Ruangan Azella yang cukup luas tidak menajadi masalah jika banyak orang didalamnya, apalagi ruangan ini VVIP tentu saja lebih banyak ada fasilitasnya.
"Rig, udah ada perubahan?" Tanya Seven pelan.
Rigel menggeleng sebagai jawaban.
"It's okay, Azella perlu waktu buat istirahat." Jawab Vixtor berniat menghibur Rigel tapi tembok disana saksinya bahwa semua itu hambar, seribu kalimat seperti itu sudah Rigel terima, tapi nyatanya hal itu tidak membuat Rigel bergeming dari diamnya.
Dan juga Rigel hampir tidak pernah berinteraksi dengan mereka seperti dulu lagi.
"Sini Rig, kita bawa makanan, lo harus makan buat nemenin Azella." Ujar Yuan menata makanannya dimeja.
Lagi-lagi Rigel hanya menggeleng. Laki-laki itu berdiri dari duduknya dan mengambil bunga yang dibawanya tadi kemudian berjalan kearah jendela. Disana ada sebuah meja dengan vas yang cukup besar yang berisi kumpulan bunga mawar yang diganti oleh Rigel setiap dua hari sekali.
Sahabatnya yang melihat semua itu hanya menghela nafas lelah. Hal itu sudah biasa dilakukan Rigel belakangan ini.
"Baru kali ini gue kasian beneran sama Rigel." Ucap Cello.
Vixtor melirik kearah ranjang Azella sebelum melihat Cello. "Azella juga kasian, dia kayaknya nolak banget buat balik kedunia."
"Nggak ada yang tahu rahasia kehidupan, makanya kalian jangan nakal-nakal." Ujar Frans tiba-tiba.
"Buset, lo jangan ngomong gitu, gue merinding nih." Ujar Seven memperlihatkan kedua tangannya.
"Serius, semua yang lo mau gak semuanya bakal lo dapetin, belajar ngerelain apa yang bukan jadi hak lo, belajar memperjuangkan apa yang masih bisa diperjuangkan."
__ADS_1
"Lo ada masalah apa Frans?" Tanya Yuan heran.
Frans mengidikkan bahunya acuh.
Entahlah, mereka tidak ingin ikut berubah sebenarnya, tapi memaksakan agar seakan-akan keadaan selalu terlihat baik-baik saja itu tidak mudah.
..._________...
Rigel memasuki mansionnya untuk mengganti pakaiannya, malam ini Rigel akan menemani Azella lagi, bukan malam ini saja, tapi setiap malamya Rigel habiskan dirumah sakit, laki-laki itu tidak pernah mengurusi dirinya sendiri, bahkan jika ada waktu senggang Rigel akan kemarkas Antariksa Gang hanya untuk mengecek beberapa data, dirinya sebagai ketua juga tidak boleh melupakan tanggung jawabnya meski saat ini Antariksa Gang masih adem ayem tidak ada masalah apapun.
Laki-laki itu menaiki tangga meuju lantai dua dimana semua kamar tidur ada dilantai dua, ketika melewati kamar Adhara, Rigel mendengar percakapan antara Daddy dan Mommynya yang menyebut-nyebut namanya.
Rigel berhenti sebentar dipintu kamar Adhara, diliriknya adik kecilnya masih tertidur lelap di box bayi dengan kombinasi warna pink dan putih itu.
Matanya kemudian menatap kedua orang tuanya yang duduk didekat jendela yang sepertinya tidak mengetahui kehadirannya.
"Kamu beneran tega ngelakuin itu sama Rigel?" Tanya Venus seraya menggenggam tangan suaminya.
"Bukan aku yang buat keputusan Ven, keluarga Qierra yang meminta ijin. Aku jadi gak enak sama Maxenzie karena minta ijin segala padahal itu hak-nya mereka."
"Tapi Rigel gimana?"
"Kita bicara pelan-pelan sama dia, Rigel udah dewasa, seharusnya dia juga paham."
"Kenapa sama Rigel?" Tanya Rigel sambil menaikkan alisnya. Rigel benar-benar tidak suka ada yang merahasiakan sesuatu tentangnya apalagi memang menyangkut dirinya.
"Kamu udah pulang? Azella gimana?" Tanya Venus perhatian, sekali dua kali Venus juga menjenguk Azella kerumah sakit, hanya saja memiliki bayi kecil membuatnya sulit membagi waktu untuk menemani Azella lebih lama.
"Jangan ngalihin pembicaraan Mom." Ujar Rigel semakin penasaran.
"Kita bicara diluar." Sahut Daddynya kemudian berjalan kearah ruang keluarga dilantai dua.
"Kenapa?" Tuntut Rigel penasaran.
"Duduk dulu, Daddy gak bakal bilang kalau kamu masih berdiri."
"Rigel buru-buru, mau kerumah sakit lagi Dad, jangan permainin Rigel kali ini."
Daddynya menatap Rigel dengan pandangan datar, "Duduk dulu, ini juga soal Azella."
Akhirnya Rigel mendudukkan dirinya didepan Daddynya, Venus mengelus pelan bahu suaminya agar hati-hati berbicara dengan putranya.
"Kemarin sore, Daddy ketemu sama Maxenzie."
Rigel menatap Daddynya menuntut untuk melanjutkan kalimatnya karena sejak tadi Daddynya memperhatikan reaksinya.
"Azella kemungkinan akan dibawa ke Singapura untuk pengobatannya."
Hening...
"Daddy tidak memaksa kamu, Tapi setelah ujian akhir sekolah, seharusnya kamu punya jadwal kuliah di California. Kamu sudah dewasa, pantaskan diri kamu jika ingin Azella bahagia."
__ADS_1