RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[45 | Tidak Bisa Ditebak]


__ADS_3

Suara dering ponsel memecah keheningan yang terjadi dikamar Azella. Tangan Azella secara refleks meraba kasur sebelah kanannya untuk mencari keberadaan ponselnya yang tadi dibuangnya asal.


Azella mengerutkan alisnya sebelum menerima panggilan tersebut.


"Kenapa?" Tanya Azella malas kepada seseorang yang menghubunginya diseberang sana.


"Sini Zell, ada party di villa barunya Rigel."


Azella meggulingkan badannya menjadi tengkurap ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul 09.00 malam.


"Nggak deh, gue capek." Alibi Azella, padahal mah sebenarnya Azella sedikit canggung karena jika partynya punya Rigel kenapa bukan cowok itu yang mengajaknya langsung.


Lagipula, sudah 2 minggu ini mereka tidak pernah bertemu lagi. Azella juga sudah mulai bekerja disalah satu rumah sakit swasta milik teman Papanya dijakarta. Dan juga Rigel tidak pernah menghubunginya lebih dulu, entahlah, tapi jujur Azella galau berat karena hal itu.


"Zell ayo ih, kok diem, rame loh disini."


Azella menghela nafas jengah, Zia benar-benar tidak mengerti posisinya.


"Gue besok pagi ada-"


"Sekali aja ih, lo jarang banget kumpul akhir-akhir ini."


Tapi gue gak diajakin anjing sama Rigel. Maki Azella dalam hati.


"Gak, gue-" Azella memberhentikan omongannya ketika mendengar percakapan diseberang sana. Azella bisa menebak Zia sedang berbicara dengan Rigel saat ini.


"Siapa Zi?"


Azella mengerutkan alisnya kesal mendengar suara Rigel.


"Azella, gue ajakin dia kesini boleh kan?" Tanya Zia excited kepada Rigel


"Boleh aja kalo dia mau."


Tit...


Azella mematikan ponselnya dengan kesal kemudian membuang asal ponselnya lagi.


Azella semakin kesal ketika mendengar suara Rigel tadi. Entah kenapa Azella terlalu gengsi untuk menghubungi laki-laki itu.


Apa laki-laki itu sudah menyerah memperjuangkannya?


Tok..tok..tok..


"Masuk."

__ADS_1


Baru saja Azella ingin terlelap, tiba-tiba Mamanya menemuinya dengan pakaian rapi.


"Mama mau kemana?"


"Ke acara nikahan anaknya temen Mama. Kamu mau ikut?"


Azella mengerutkan keningnya malas. "Sejak kapan Mama nawarin yang kaya gitu?"


"Kali aja kamu mau ikut, soalnya Mama lihat kamu gak keluar kalo enggak kerumah sakit."


"Hem, enggak Ma, Azella mau tidur aja."


"Yaudah, kakak kamu ikut ya keduanya."


Azella cukup heran kenapa kakaknya mau keacara seperti itu, jarang sekali mereka mengiyakan ajakan Mama.


Azella memperhatikan Mamanya yang tampak berseri seri berjalan meninggalkan kamarnya. Seperti Mamanya sedang berbahagia.


Azella menghela nafas kesal, tangannya menarik selimut untuk mengubur tubuhnya. Kemudian tangannya tergerak menekan tombol off lampu utama. Sehingga keadaan kamar Azella sekarang menjadi remang-remang.


Azella membalikkan badannya beberapa kali sebelum memilih posisi yang nyaman, sudah memejamkan mata sebentar, bayangan Rigel kembali muncul dipikirannya.


Azella mendudukkan lagi badannya, kenapa jatuh cinta serumit ini sih? Membuka hati untuk orang lain juga susah, menurunkan gengsi untuk menghubungi laki-laki itu juga tidak mudah. Azella jadi serba salah.


Kadang Azella berfikir, apakah hanya dirinya yang memikirkan laki-laki itu 24 jam? Apa Rigel juga mengalami hal yang sama?


Azella tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara entah apa yang cukup


besar dikamarnya. Seperti ada yang meloncat masuk kedalam kamarnya. Tapi itu tidak mungkin, keamanan mansion ini dijaga ketat.


Azella perlahan berjalan kearah balkon yang saat itu tertutup rapat. Siapa yang menyelinap kekamarnya yang berada dilantai 3?


Dor....


Azella refleks menjongkokkan badannya dan berpegangan pada pintu balkon. Azella melirik keadaan mansionnya yang gelap gulita. Listrik mati total berbarengan dengan suara tembakan barusan.


Jantung Azella berdetak dengan kencang ketika mendapati suasana aneh yang terjadi, ingatan-ingatan masalalu yang kembali menghantuinya membuat Azella refleks memejamkan matanya erat.


Entah kenapa Azella tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya, apalagi ketika mendengar samar-samar ada langkah kaki yang berjalan mendekatinya.


Sungguh, Azella merasa seluruh badannya terkunci sempurna, apalagi sekarang Azella merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya.


"S-siapa?"


Hening..

__ADS_1


Azella tidak merasakan ada jawaban apapun dari orang dibelakangnya. Dengan hati-hati Azella ingin membalikkan badannya, namun naasnya ketika Azella berbalik dirinya malah terdorong kekasur dan seseorang yang memegang bahunya tadi menghilang tanpa jejak.


Sebenarnya, tadi itu orang sungguhan atau hanya ilusi Azella saja?


"Tanaya...tanayaa..."


Azella berteriak dengan kencang memanggil kepala maid dirumahnya, tapi tidak ada jawaban, kemudian Azella berusaha meraih ponselnya yang tadi dilemparnya asal, lagi-lagi Azella tidak menemukan ponselnya.


Keadaan mansion yang gelap gulita membuatnya susah melakukan pergerakan.


Dengan jantung yang masih berdetak dengan kencang, Azella berlari keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan langkah yang tidak beraturan, dan hanya memegang besi pembatas saja.


Sampai dilantai dua, Azella masih berusaha berteriak berharap seseorang menghampirinya. Namun tidak ada tanda-tanda seseorang yang akan menemuinya. Azella merasa dirinya sendiri didalam mansion yang besar ini.


Azella berjalan kembali menuruni tangga kearah lantai satu. Namun dianak tangga terakhir, Azella mendengar suara pecahan barang dari arah kolam renang.


Tidak, Azella tidak akan terpancing untuk kesana, Azella berlari cepat menuju pintu utama mansionnya dan membuka pintu itu dengan gerakan cepat.


Bukanya merasa sedikit tenang, Azella malah semakin panik ketika menyadari bahwa memang benar hanya dirinya sendiri yang tersisa dimansion besar itu, benar-benar tidak ada orang lain.


Azella mulai merasa aneh disini, tidak mungkin keamanan mansionnya dibobol dengan begitu mudahnya. Azella memegang dadanya yang berdetak dengan kencang.


Azella kembali merasakan sebuah tangan yang memegang bahunya lagi, dengan gerakan cepat Azella membalikkan badannya. Namun bertepatan dengan itu, Azella merasakan ada seseorang lagi yang menutup mata dan mulutnya dengan kain, kemudian Azella diseret paksa untuk masuk kedalam sebuah mobil.


Azella menggerakkan badannya berusaha melawan kearah yang bisa dijangkaunya, namun tetap saja kedua tangannya juga mulai diikat erat.


Azella mulai merasakan dirinya duduk diantara dua pria didalam mobil yang mulai melaju kencang. Entah kemana Azella dibawa, sejak tadi tidak ada percakapan apapun yang terjadi didalam mobil tersebut, sehingga Azella tidak bisa menebak dengan siapa dirinya saat ini. Apakah Azella sedang diculik atau hanya dipermainkan saja?


Sekitar 20 menit, akhirnya Azella bisa merasakan mobil tersebut berenti, Azella tidak tahu kemana dirinya dibawa, tapi yang Azella rasakan dirinya kembali diseret paksa keluar dari mobil tersebut. Entah kenapa Azella tidak setakut tadi. Entah hal apa yang akan menantinya.


Azella bisa merasakan samar-samar ada banyak cahaya yang mengarah kewajahnya, bahkan suara langkah kaki yang berjalan disekitarnya. Dan kaki Azella yang tidak menggunakan alas kaki bisa merasakan kakinya menginjak rumput-rumput halus.


Azella merasa dirinya berada ditempat umum dan disoroti banyak orang kemudian ada dua orang yang melepaskan penutup wajahnya dan juga kedua tangannya sudah bebas dari cengkraman tangan orang lain.


"Azella, look at me."


Azella membuka kedua matanya yang sedari tadi tertutup, kemudian melihat seseorang laki-laki yang berlutut didepannya dengan membawa sebuah cincin.


Azella menyipitkan matanya dan melihat sekitarnya dengan seksama, sungguh, dirinya yang berpakaian tidur dengan tanpa alas kaki dan disaksikan oleh banyak orang, Azella malu melihat dirinya sendiri yang terlihat seperti gembel diantara banyaknya orang yang mengelilinginya.


"W-ait, what?" Kaget Azella.


Azella semakin kaget ketika melihat kedua orang tuanya, saudaranya, dan juga para sahabatnya dan sahabat Rigel, dan juga orang tua laki-laki itu.


"Ini sengaja? Kalian semua bohongin aku?" Tanya Azella kebingungan.

__ADS_1


Tiba-tiba Rigel mendekatinya dan meletakkan lutut kanannya dihamparan rumput taman, kemudian meraih sekotak cincin yang sangat indah dari saku jassnya. Kemudian tatapan Rigel sepenuhnya jatuh kepada Azella yang juga menatapnya masih dengan ekspresi bingung dan terkejutnya.


"Azella, will you marry me?"


__ADS_2