
Azella memejamkan matanya kuat, ketika ingatan masa lalu itu kembali menghampirinya. Saat ini Azella sedang berada di cafe dekat sekolahnya. Azella enggan pulang, Atlas dan Aksel pasti dikantor, sedangkan Papa dan Mamanya sudah ke Las Vegas kemarin malam.
Azella menghela nafasnya kasar, berkali kali Azella menahan diri agar tidak berkonsultasi kepada psikolog. Azella tahu, mentalnya tidak pernah baik baik saja. Meski fisiknya terlihat sehat. Tapi keadaan di sekitarnya tidak pernah membuat mentalnya sehat.
Apalagi bayangan masa lalu yang selalu menghantui Azella ketika Azella sendiri. Karena itu Azella selalu menghindari kesendiriannya itu. Entah pergi besama temannya atau sengaja keluar mencari tempat yang ramai, seperti saat ini.
Begitu juga kala di London dulu, Azella sering pergi ketika malam hari untuk melupakan bayangan masalalu yang selalu menghantuinya. Hal itu enggan diceritakan Azella, entahlah, Azella hanya takut semakin terluka nantinya. Padahal sebenarnya Azella punya banyak orang yang cukup dekat dengannya yang bisa diajak berbagi. Kecuali Aksel, sejauh ini hanya Aksel yang tahu sedikit ketakutan yang dimilikinya.
Azella mengingat lagi ketika beberapa hari yang lalu bermalam di apartment milik Rigel. Entah kenapa ketika Rigel menanyainya soal Altheo, Azella tidak sanggup menjawab, rasanya Azella ingin menjauh dari hal yang bersangkutan dengan Altheo.
Siang itu, setelah lebih baik, Azella memaksa Rigel mengantarnya pulang. Meski awalnya laki laki itu menolak. Namun Azella semakin memaksa, hingga akhirnya laki laki itu mengalah dan mengantarnya pulang kemansionya.
Bahkan Azella tidak jadi ketempat Altheo, Azella sadar, dirinya tidak bisa kesana dalam waktu dekat ini. Atau nanti keadaannya akan semakin tertekan dan memburuk.
Azella memandang pemandangan jalanan yang cukup ramai. Nah, coba saja, baru Azella duduk disini selama 45 menit, pikirannya sudah melayang jauh kemana mana.
Ting....
Azella meraih ponselnya didalam jaket jeans yang dipakainya ketika mendengar notifikasi yang masuk.
Matanya langsung tertuju kepada satu nama kontak yang chatnya paling atas dan terbaru.
RigelAntariksa
Dmn?
Azella menghembuskan nafas lelah. Semenjak kejadian itu Azella menghindari Rigel entah untuk alasan apa, Azella juga tidak mengerti.
Ting....
Mata Azella melihat notifikasi yang baru juga masuk. Masih pesan chat, namun dari orang yang berbeda.
RefvinoElvand
Zell, gue mau balik ke London nih besok, nanti malem dinner yuk.
Azella memejamkan matanya malas, sebenarnya Azella ingin sekali menjauhi orang orang yang berhubungan dengan Altheo, setidaknya untuk saat ini. Azella jadi menyesali pertemuannya dengan Revfino ketika dipesta Zia.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Sorry Kak, gue ada janji nanti malem.^^^
RefvinoElvand
Yahh, beneran gak bisa nih?
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Hehehe, next time ya kak:)^^^
RefvinoElvand
Padahal gue udah kosongin jadwal gue malem ini:(
Azella memejamkan matanya pusing.
Kok gue jadi risih ya? Batin Azella kesal. Suka suka gue dong mau nolak apa engga. Lanjutnya kesal.
^^^AzellaQierra ^^^
^^^Hehe, maaf Kak.^^^
RefvinoElvand
Okedeh.
Baru saja ini menutup ponselnya tiba tiba ada panggilan masuk dari Rigel.
Azella mengigit bibirnya pelan sebelum memutuskan mengangkat panggilan tersebut.
"Azella?"
"Hm?"
"Dimana?"
"Diluar."
"Diluar dimana?"
"Dicafe."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Cafe mana? Share loc."
"Ngapain?"
"Turutin aja kenapa sih."
"Cafe deket sekolah."
Tut..
Azella memijit keningnya pelan ketika panggilan diputus sepihak.
Dilain sisi Azella bingung, bagaimana caranya menjauhi Rigel. Kenapa seolah dirinya membutuhkan laki laki itu disisinya? Atau memang sebenarnya begitu? Perlakuan Rigel yang manis dan perhatian membuat Azella takut. Takut salah melangkah, takut kalau ini hanya permainan laki laki itu saja. Namun tidak dapat dipungkiri Azella merasa nyaman dan terlindungi ketika ada Rigel didekatnya.
Azella meminum beberapa kali milkshake vanilla yang dipesannya tadi. Azella memikirkan takdir apa yang dijalaninya dikehidupan sekarang? Kenapa seolah semua membuatnya tersakiti? Jujur saja kadang Azella takut menaruh ekspetasi tinggi kepada orang lain.
"Azella cantikk." Panggilan itu membuat Azella sadar bahwa dirinya melamun sejak tadi.
Gadis yang masih memakai pakaian sekolahnya itu mendengus malas mendengar panggilan Cello. Entah atas dasar apa Rigel mengajak semua sahabatnya kesini, sehingga sekarang mereka menjadi pusat perhatian.
Mereka semua duduk melingkar karena memang design mejanya melingkar.
Disisi kanan Azella ada Frans dan disisi kirinya ada Rigel yang begitu duduk langsung merangkulnya posesif.
"Gak usah pegang pegang!" Ketus Azella menurunkan tangan Rigel.
Perempuan itu mendengus malas membuat semua menatapnya heran. Tumben sekali Azella sejutek ini.
"Kenapa? Suka suka gue." Ucap Rigel kembali melingkarkan tangannya dipundak Azella.
"Ih, ngeyel banget dibilangin." Gerutu Azella kesal.
"Lo kenapa Zell? Jangan marah marah mulu, nanti cepet tua." Kata Cello asal.
Azella melirik Cello tajam. "Kenapa emangnya? Kalo gue marah emang ngerepotin lo?"
Buset! Batin Cello kaget.
"Hehehehe." Kekeh Cello hambar bingung ingin menjawab apa.
__ADS_1
"Lo kenapa?" Tanya Rigel serius.
"Gak apa apa."
"Gue ada salah apa?" Tanya Rigel lagi.
"Banyak."
"Apa?"
"Gak usah nanya nanya, gue males ngomong sama lo."
Rigel berdecak malas.
"Zell kalo lo udah bosen sama Rigel, gue siap jadi pengganti." Celetuk Vixtor.
"Enak aja, gue dulu lah, yakan Zell?" Ucap Cello.
"Gak." Ketus Azella.
Seven dan Yuan tertawa keras, "Gausah sok ganteng, Rigel aja masih berjuang." Kata Yuan menaik turunkan alisnya kepada Rigel. Sedangkan Rigel menatapnya malas.
"Jangan gitu, kasian Azella sama modelan kayak kalian berdua." Kata Seven menengahi.
"Kita emang dimata mereka manusia paling berdosa banget ya Vix." Kata Cello.
"Dih, lo aja kali, gue mah kaga." Sahut Vixtor acuh. Dan hal itu sukses membuat Cello memandangnya tajam.
"Azella, lo kalo minum jangan yang manis manis, nanti lo manisnya nambah, ngerepotin perasaan gue aja." Gombal Vixtor yang mendapat tatapan malas dari sahabatnya, dan jangan lupakan tatapan tajam dari Rigel yang sepertinya tidak suka.
Azella menghela nafas lelah. "Sayangnya gue gak baper Vix. Lo mainnya kurang jauh." Jawabnya membuat semua laki laki itu mengeluarkan tawa mereka.
"Anjir, Azella kalo ngomong myakitin ya." Gumam Vixtor namun masih didengar oleh semuanya.
"Bhahahaha, makanya sebelum gombalin cewek lo latihan dulu sama gue." Bangga Cello sambil menyisir rambutnya kebelakang.
"Dih, lo aja belum tentu berhasil gombalin Azella." Ucap Yuan.
"Bisa kok bisa." Kata Cello percaya diri. "Nih, coba yaa." Lanjutnya lagi.
"Zell-"
"Apa?" Tanya Azella ketus dan tajam membuat Cello terkekeh canggung, antara melanjutkan atau berhenti.
"Mampus kan lo." Kata Vixtor.
"Azella kok kayaknya gak suka banget sama gue sih?" Protes Cello sok sedih.
"Bukan gak suka, lo ngeselin sih." Ucap Azella cepat.
Rigel menatap semuanya malas, sepertinya pilihannya salah ketika mengajak semua sahabatnya kesini.
"Azella?" Panggil Rigel lirih, karena jarak mereka yang cukup dekat.
"Kenapa?"
Buset, ni cowok sadar gak ya dia ganteng banget?!! Teriak Azella dalam hati.
Rigel yang juga menatap Azella mendadak menjadi tersenyum kecil. Jarak mereka yang cukup dekat membuat keduanya bisa merasakan hela nafas masing masing.
Rigel melirik sahabatnya yang mulai sibuk sendiri, meski Rigel sadar mereka memasang telinga mereka dengan baik. Tapi Rigel tidak peduli, berurusan dengannya langsung jika membuat Azella tidak nyaman.
"Lo inget kata kata gue sebelum pergi dari mansion lo waktu ini?" Ucap Rigel pelan.
Azella mengangguk kecil, memang Rigel waktu itu mengatakan suatu hal yang sebenarnya cukup membuat Azella baper sendiri jika mengingatnya.
Sungguh jika waktu itu perasaan Azella sedang baik baik saja, Azella yakin dirinya tidak akan tidur semalaman.
Azella kembali ke dunia nyata ketika Rigel meniup wajahnya beberapa kali, hal itu membuat Azella mengerjapkan matanya beberapa kali. "Rigel!" Kesalnya.
"Kenapa bengong?"
Azella menggigit bibirnya malu. "Gak apa apa."
"Jadi, lo inget kata kata gue waktu itu?"
Azella mengangguk malu.
"Terus, kenapa lo jauhin gue beberapa hari ini?"
Deg...
Heh, gue jawab apaan? Gue aja gak tau kenapa gue jauhin dia. Batin Azella bingung.
Rigel menghela nafas pelan. "Oke, gak apa apa, gue ngerti mungkin lo perlu waktu, tapi udah cukup. Gue gak bisa jauh jauh dari lo selama itu lagi."
Gue gak bisa jauh jauh dari lo.
Dari sekian kata hanya kalimat itu yang ditangkap oleh Azella dengan tepat.
Azella mendonggak menatap Rigel yang juga menatapnya.
"Kalau ada apa apa ngomong sama gue, gue gak bakal biarin lo hadapin semua sendiri lagi." Lanjut Rigel yang malah membuat Azella mengambang, kata kata Rigel ini hanya kebetulan atau memang laki laki dihadapanya ini memang mengetahui sesuatu tentangnya?
Tuhkan, Azella jadi takut mengambil langkah.
"Jangan takut sama gue please, gue bakalan seneng kalau gue bisa berguna buat lo." Ucap Rigel yang justru semakin membuat perasaan Azella mengambang.
"Digombalin mulu, ditembak kagaa." Celetuk Vixtor namun pandangannya fokus pada ponselnya.
"Bener, hati hati ditikung." Jawab Cello.
Sontak saja Azella mengalihkan pandangannya dari Rigel. Azella menatap sahabat Rigel yang sedang fokus dengan kegiatannya masing masing. Hampir saja Azella melupakan kehadiran mereka.
"Bacot." Ucap Rigel singkat.
"Beneran Rig, segera resmikan, Antariksa Gang udah siap punya Ibu Ketua." Ucap Yuan, namun pandangannya juga fokus pada ponselnya yang dalam mode landscape.
Jujur saja, perkataan sahabat Rigel cukup membuat Azella baper, tapi tetap saja Azella pintar dalam menjaga raut wajahnya, sehingga terlihat biasa saja, meski kadang pipinya memerah malu ketika beberapa kali sahabat Rigel menggodanya.
Dan ternyata, Azella kira semua akan membaik, namun nyatanya setelah berbicara cukup banyak dengan sahabat Rigel pada siang itu, Azella bisa menangkap bahwa mereka tidak sekejam dan seseram seperti berita yang beredar.
Dan yang terpenting, semakin banyak berbicara dengan Rigel, atau semakin dekat hubungan mereka, hal itu cukup membuat Azella pulang dengan penuh beban pikiran.
..._____________________...
"Selamat sore Tuan muda." Salam seorang laki laki dewasa yang usianya kurang lebih 27 tahun. Bahunya membungkuk dengan pandangan kebawah sebagai rasa hormat terhadap tuan mudanya.
"Sore Xiever." Jawab tuan mudanya singkat.
Laki laki yang dipanggil Xiever itu menaikkan kepalanya dan menatap Tuan mudanya hormat. Tuan mudanya itu asik melihat ponsel miliknya dan mengangkat ujung bibirnya beberapa kali. Entah apa yang sedang dipethatikan, yang jelas itu bukan hal Xievar untuk mengetahuinya.
"Seperti yang anda minta, seluruh data yang ada cari sudah saya jadikan satu dalam map ini, dan data data berupa video dan gambaran jelasnnya sudah saya kirim ke email anda." Ucapnya tegas tanpa mengurangi rasa hormat.
Meskipun tuan mudanya lebih muda darinya, namun sesuai pekerjaan dan kepercayaan yang telah diberikan Tuan Besarnya, atau Ayah dari Tuan mudanya, untuk selalu menjaga putranya dan menuruti segala perintah putranya itu, tentu saja Xiever harus tetap hormat dan menjaga kepercayaan yang diberikan.
__ADS_1
"Kerja bagus Xiever. Pergilah."
Xiever menudukkan kepalanya hormat sebelum mininggalkan ruangan pribadi Tuan mudanya.
Setelah Xiever menghilang dibalik pintu. Laki laki muda itu menghela nafas lelah. Entah kenapa dirinya sangat ingin tahu sekali tentang urusan yang bukan termasuk kedalam kekuasaannya.
Laki laki itu membuka map yang diberikan oleh Xiever tadi, matanya membacanya dengan teliti. Tangannya yang satunya mengambil MacBook miliknya dan membuka email untuk melihat apa yang dikirim Xiever.
Laki laki itu menajamkan matanya ketika poin utama dari apa yang dicarinya terungkap. Nafasnya naik turun hingga tangannya terkepal kuat. Entah kenapa dirinya emosi padahal hal ini bukan termasuk hal penting baginya, atau seseorang penting dalam hidupnya bisa terluka jika mengetahui hal ini?
"SETAN." Umpatnya keras.
Laki laki itu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju satu ruangan yang dimana mungkin dirinya bisa mendapatkan titik terang lagi tentang masalah ini.
Suara ketukan sepatu dengan lantai marmer dibawahnya membeti kesan misterius, hening dan bergema. Jangan lupakan aura dingin, angkuh, dan arogan menyebar disepanjang laki laki itu melangkah. Pandangannya lurus dan mematikan.
Hingga akhirnya setelah berjalan selama lima menit, laki laki itu melangkah pelan kedepan pintu besar sebagai pembatas ruangan yang akan dimasukinya.
Delapan orang bodyguard berdiri dedepan pintu tersebut dan membungkuk hormat kehadapannya.
"Selamat sore, Tuan muda." Kata salah seorang bodyguard, tegas dan penuh hormat.
"Dimana Daddy?" Tanyanya langsung to the point.
"Tuan besar ada didalam Tuan."
Tanpa basa basi laki laki itu berjalan mendekati pintu, dengan sensor matanya yang otomatis membuat pintu besar itu terbuka lebar.
Terlihat diujung ruangan seorang laki laki yang berusia 40 tahun itu tidak menatapnya sama sekali. Laki laki paruh baya itu asik membaca laporan dari layar komputer miliknya.
Tidak mungkin dia tidak mengetahui seseorang yang hadir di ruangannya, bahkan hembusan nafas yang berjarak satu kilometer dari tempatnya saja bisa dirasakan dengan baik.
"Daddy." Panggilnya kesal.
Laki laki paruh baya yang dipanggil Daddy itu menaikan pandangannya dan melihat putranya yang menatapnya kesal.
"Apa?" Tanyanya acuh.
"Saya yakin anda tau maksud saya datang kesini Tuan Diego yang terhormat." Jawab laki laki itu menekankan empat kata terakhirnya.
Pria paruh baya itu terkekeh pelan. Menatap putranya yang benar benar seperti dirinya kala muda dulu. Dia benar benar seperti bercermin.
"Ini momen langka, kamu mencari tau hal yang seperti apa kali ini sampai repot repot mendatangi Daddy?"
"Emang kenapa?" Tanyanya kesal.
Pria paruh baya yang wajahnya masih awet muda itu terkekeh pelan. "Kamu persis seperti Daddy waktu muda, kamu emang anak Daddy." Ucapnya masidh diiringi kekehen pelan.
Laki laki paruh baya yang bernama Diego itu berdiri dari duduknya, mendekati putranya yang baru disadari sudah setinggi dirinya diusianya yang ke 18 tahun.
"Ada pertanyaan apa untuk saya Rigel Antariksa Diego?" Tanya Daddynya menekankan kata terakhir.
"Daddy tau ini?" Tanya Rigel mengangkat map ditangannya.
"Jangan lupa, sebelum Xiever jadi tangan kanan kamu dia lebih dulu kerja sama Daddy." Angguk Daddynya bangga.
Rigel menghela nafas jengah.
"Rigel gak peduli urusan Daddy sama Xiever, Rigel cuma mau tau tentang orang orang yang ada disini." Katanya lagi sambil melempar map itu keatas meja kerja Daddynya.
"Untung kamu anak Daddy, kalau bukan, nendang kamu dari lantai 4 mansion ini akan menjadi pilihan terbaik." Cetus Daddynya sambil mengambil map yang dilempar putranya.
Memang saat ini Rigel menemui Daddynya di ruang kerja pribadi yang berada di mansionnya. Semenjak Mommynya hamil, Daddynya memang sering bekerja dari rumah.
"Daddy bakal jawab dan jelasin semua apa yang kamu mau, tapi ada syaratnya." Ucapnya Daddynya angkuh.
Rigel mengerutkan alisnya tidak terima.
"Oh, gak apa apa kalau gak mau, Daddy juga gak perlu buang buang waktu kalau gitu, kerjaan Daddy masih banyak." Kata Daddynya melihat kerutan alis putranya, kemudian laki laki itu berjalan dan kembali duduk di kursi kebesarannya.
"What the hell, Dad."
"Apa, kamu bilang mau cari tau sendiri aja?" Kata Daddynya melenceng jauh, yang jelas sekali disengaja. Padahal Rigel tidak mengatakan demikian.
"Dad!" Geram Rigel emosi.
"Oh yaudah sana, cari tau aja sampai kiamat, tapi inget, Xiever sebelum kerja sama kamu dia kerja sama Daddy dulu-"
"Oke Dad, oke. Apa syaratnya?" Tanya Rigel cepat. Selama Daddynya masih memegang jabatan sebagai Direktur Utama tidak akan bisa mengalahkan beliau. Tapi meski begitu Rigel tidak berniat menggantikannya sedikitpun.
"Katanya kamu mau cari-"
"Dad, Rigel gak bercanda, atau Daddy yang Rigel lempar dari atas sini." Katanya terlanjur tersurut emosi.
Daddynya tertawa kencang, senang karena membuat putranya kesal setengah mati.
"Gampang syaratnya, kamu dapat kekuasaan, jabatan, harta, tahta, dan ya wanita itu kamu yang cari sendiri." Kata Daddynya membuat Rigel sepertinya bisa menebak apa syaratnya.
"Kalau Daddy minta Rigel ambil alih perusahaan diwaktu dekat Rigel ga-"
"Sayangnya iya, kamu harus mau ambil jabatan Daddy di umur kamu yang ke 20 atau dua tahun lagi."
"Dad!"
"Kenapa? Gak mau? Yaudah gak apa apa, Daddy tunggu adik kamu lahir, nanti kamu tinggal dikolong jembatan aja." Kata Daddynya acuh.
"Dan point pentingnya sih kamu gak dapet info dari apa yang kamu mau." Lanjutnya lagi sambil menjadikan map yang dilempar Rigel sebagai kipas.
"**** Dad! Umur 25?" Rigel masih berusaha nego.
"Em kelamaan."
"24?"
"No."
"23?"
"Oke kamu silahkan cari tau sendiri apa yang kamu mau-"
"****, Dad, oke. Umur 20 Rigel ambil alih jabatan Daddy." Jawab Rigel cepat.
Pria paruh baya itu tertawa senang.
Rigel menatap Daddynya yang tertawa kencang, padahal jika didepan para bodyguard dan karyawannya Daddynya ini sangat datar dan tanpa ekspresi.
"Bagus. Sepertinya Daddy tau apa yang membuat kamu rela begini." Tandasnya tersenyum geli. "Dasar anak muda!"
"Dad!"
"Oke, gimana? Kamu mau tau yang bagian apa?"
"Semua Dad, dari awal sampai akhir. Terutama, tentang Chelos Altheo Qierra."
Rigel bisa melihat Daddynya tersenyum kecil, kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
"Oke, ini jauh sebelum kamu lahir. Daddy ambil dari sudut pandang Daddy. Nanti kamu nilai sendiri siapa yang berkhianat."