
Azella terdiam mendengar ucapan Refvino, sedangkan laki-laki itu tersenyum bangga karena berhasil membuat Azella merasa bimbang dan tertekan mungkin?
Namun tidak lama Azella sungguh menendang ************ Refvino dengan keras. Gadis itu memukul kepala Refvino keras berkali-kali dengan tas nya.
"****!"
"DAMN *****!!!" Amuk Refvino.
Sedangkan Azella langsung berlari keluar dengan mata yang berkaca-kaca. Namun diujung lorong Azella menabrak bahu seseorang, ketika melihat siapa yang ditabraknya Azella langsung memeluknya dengan erat.
"Kenapa Rig?" Tanya seseorang laki-laki yang baru saja tiba.
Laki-laki yang dipeluk oleh Azella tidak lain adalah Rigel.
"Rigel?!" Ucap Refvino pelan, laki-laki itu sudah berhasil mengontrol dirinya dari tendangan Azella barusan.
Rigel menatapnya dengan tajam.
"If you hurt her, I will take you to the hell." Ucap Rigel emosi.
Laki-laki itu mengendurkan pelukannya dengan Azella. Namun ketika Rigel ingin mendekat kearah Refvino, Azella menahannya.
"Enough!"
"Azell-"
"Udah, aku mau pulang." Lirih Azella kemudian memeluk Rigel dengan erat.
Rigel melirik Seven yang berada dibelakangnya, memang tadi mereka bertemu sebelum Rigel merasa ada yang tidak bares karena Azella terlalu lama di toilet. Benar saja ketika Rigel meyusulnya ternyata sedang ada masalah disini.
Sialan, rasanya Rigel ingin membakar gedung ini.
"Ayo pulang." Cicit Azella dipelukan Rigel.
Rigel menangkup wajah Azella sebelum memberikan kecupan singkat dikening gadis itu.
Meninggalkan Refvino yang menatapnya dengan tatapan permusuhan. Dan tentu saja mengkode Seven untuk melakukan tugasnya.
Rigel menuntun Azella duduk dikursi penumpang. Laki-laki itu segera memutari mobilnya dan duduk dikursi kemudi.
"Minum dulu." Ucap Rigel memberikan sebitol air, ketika melihat Azella-nya menangis dalam diam.
Sialan sekali Refvino itu, lihat saja Rigel akan membawanya keneraka.
Azella menggeleng, menolak minuman yang disodorkan oleh Rigel.
"You need something?"
"Pulang."
"Iya, sekarang pulang ya. Berhenti nangisnya, aku gak suka liat kamu nangis." Ucap Rigel sambil menghapus air mata Azella yang jatuh dipipinya.
"Kamu bakal ninggalin aku?" Tanya Azella.
Rigel mengerutkan alisnya tidak suka. "Never."
"Terus kenapa kamu gak perjelas hubungan kita?" Tanya Azella pelan.
"Sayang, aku udah jelasin kan."
"Enggak! Kalo kamu gak sayang, gausah pura-pura sayang."
"Siapa bilang aku pura pura Zell." Rigel yang mudah terpancing emosi menjadi sedikit emosi karena ucapan Azella.
"Enggak, aku gak percaya kamu beneran sayang sama aku." Ucap Azella menekankan kata-katanya.
"Fine, what do you want?"
"Terserah."
Rigel berdecak malas ketika sifat asli perempuan keluar. Kepalanya nyaris meledak sekarang, biasanya mengerjakan soal kalkulus saja tidak sememusingkan ini.
"Hei, dengerin aku, percaya aku gak bakal ninggalin kamu ya?"
"Bohong!"
"Refvino bilang apa sama kamu hah?!"
"Ini gak ada kaitannya sama dia."
"Tapi setelah ketemu dia kamu gini!"
"Terserah!"
Rigel meredam emosinya mati-matian, laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya kemudian mengendarai dengan kecepatan full, sialan sekali memang! Jika dilanjutkan Rigel yakin mereka akan bertengkar.
Rigel memberhentikan mobilnya didepan mansion besar Qierra.
Azella langsung turun tanpa mengatakan apapun pada Rigel. Gadis itu berjalan kekamarnya dengan cepat, bahkan dirinya begitu saja melewai Atlas yang diruang tamu menatapnya dengan aneh.
Azella masuk kekamarnya dan menutup pintu dengan keras, gadis itu langsung membenamkan dirinya didalam kasur dan membungkus dirinya dengan selimut.
Apa benar Azella pembawa sial?
Apa benar semua akan meninggalkannya?
Altheo, itu— Azella tidak sengaja, itu diluar kandalinya, kenapa tidak ada yang mengerti?!
Kenapa semuanya seperti seolah-olah menyalahkannya?
Bukankah dia juga korban?
Azella mengusap air matanya dengan kasar, oke, anggap saja semua akan pergi meninggalkannya, jika begitu Azella akan berusaha sendiri, lahir kedunia saja Azella sendiri, jadi buat apa takut jika nanti harus hidup sendiri.
Gadis itu bangkit dan berdiri didepan cerminnya, tatapannya berbeda, matanya yang biasanya bersinar kini redup bahkan gelap.
Sungguh, Azella sangat menyanyangkan kenapa dirinya harus lahir kedunia. Coba saja Mamanya tidak melahirkannya, mungkin Mamanya tidak akan kehilangan anak laki-lakinya.
Azella memang harus tahu diri.
****, ucapan Refvino benar-benar mempengaruhi Azella sampai ketulang-tulangnya.
Tok....tok....tok.....
"Zell, gue boleh masuk?"
"Enggak!" Jawab Azella ketika suara Aksel terdengar dibalik pintu.
"Atlas nanti marah kalo lo ngambek gajelas gini!"
"Dia emang selalu marah-marah!"
__ADS_1
"Ck, Rigel masih dibawah."
"Biarin, suruh aja pulang, gue ga minta dia tetep disini!"
"Iyaa terserah." Sahut Aksel akhirnya kemudian Azella mendengar langkah kaki menjauh.
Azella mematikan ponselnya kemudian berganti pakaian menjadi pakaian tidur. Tidak peduli apa yang akan terjadi kepadanya, Azella hanya ingin tidur tenang malam ini.
...________________...
"Kenapa?"
Rigel melemparkan tatapan tidak kalah tajamnya kepada Atlas ketika kakak dari Azella itu menatapnya dengan tajam.
Laki-laki itu tentu saja masuk kedalam mansion Qierra berharap Azella mau berbicara dulu dengannya dan menyelesaikan masalah mereka. Tapi sayangnya, diruang tamu ada Atlas yang menghadang langkahnya.
"Azella ketemu sama Refvino."
Atlas mengerutkan alisnya, "Terus?"
"Gue gak denger mereka ngomong apa, tapi dia buat Azella nangis."
"****!"
"Doi gak mau keluar, dia nangis, suaranya basah." Ucap Aksel menuruni tangga dan mendekat kepada Atlas dan Rigel.
"Refvino Elvand? Gue kenal sama dia karena dia temennya Altheo, selama kenal, gue gak pernah cari tau tentang dia karna dia selalu nunjukkin sifat baiknya."
"Tapi gue gak nemu latar belakang keluarganya. Emang dia yatim?" Tanya Rigel telak.
"**** Man!"
Ting..
Rigel mengambil ponselnya dan mendapat rekaman CCTV dilorong toilet yang dikirimkan oleh Seven.
Rigel mengkode Atlas dan Aksel mendekat untuk menontonnya bersama.
Memang awalnya tetlihat biasa saja, Azella yang membenarkan rambutnya hingga Refvino yang tiba-tiba masuk kedalam lorong toilet perempuan.
Dan kilatan amarah muncul diketiga mata laki-laki itu ketika menyaksikan apa yang terjadi.
"Bangsat!" Umpat Atlas.
"Bajingan, ini sifat aslinya!" Dengus Aksel.
"****."
"Gue masih gak percaya kalo Refvino anaknya Lowen."
"Gak ada mirib-miribnya kan?!" Lanjut Aksel.
Rigel memijit pelan kepalanya yang pening. "Bisa jadi. Bisa jadi dia dalang kecelakaan Azella sama Altheo beberapa tahun lalu."
"Lo ngomong apaan?!" Tanya Atlas emosi. "Itu udah kejadian lama, jelas-jelas Azella yang nekad, waktu itu Azella belum lancar naik mobil, makanya nabrak pembatas jalan." Lanjut laki-laki itu.
"Lo udah dengerin penjelasan Azella emangnya?" Tanya Rigel membuat Atlas dan Aksel bingung.
"Papa udah nanya sama Azella, Azella bilang dia yang salah karena egois dan gak hati-hati."
"Cuma itu?"
"Tapi semua itu buat dia selalu dihantui rasa bersalah!" Sergah Rigel jengah.
"Oke, menurut lo gimana?" Tanya Aksel.
"Tanya Azella. Kalo prediksi gue, mobil Altheo yang disabotase. Sasarannya kan kekursi penumpang, maksud gue mobilnya nabrak dan hancur cuma dibagian kursi penumpang. Waktu itu kalian gak bakal pernah menduga Azella yang bawa mobil kan? Udah jelas, sasarannya emang dari awal Azella, seandainya bukan Azella yang bawa mobilnya, mungkin aja Altheo masih hidup."
Hening,
Atlas dan Aksel sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Masuk akal." Jawab Atlas setelah lama terdiam.
"Gue harus tanya Mama dulu soal hubungannya sama Lowen Fanderson."
"Mama lo gak tau Lowen suka sama dia." Ucap Rigel.
"Kenapa disini El yang turun tangan? Lowen gimana?"
"Besok Bokap lo pulang kan?" Tanya Rigel.
Atlas mengangguk.
"Tanyain, masalahnya sama Lowen apa aja."
"Maksud lo?!" Tanya Atlas mengerutkan alisnya tidak terima, setaunya keluarganya tidak punya masalah dengan Lowen.
"Coba aja tanya. Nanti lo dapet jawabannya."
Atlas terdiam dengan sangat lama. Entah kenapa perasannya tidak enak. Kenapa feeling nya buruk kali ini.
"Gue harus temuin Azella dulu."
"Dia gak bakal mau keluar." Sahut Aksel.
Rigel diam laki-laki itu tetap berjalan menuju kamar Azella
"Gue harus kelarin urusan gue sama Azella, dan gue gak perlu persetujuan lo buat itu." Ucap Rigel melewati mereka
"****! Gue yang punya mansion." Sergah Atlas tidak terima.
"I don't fucking care about that!" Jawab Rigel acuh.
Laki-laki itu meninggalkan Aksel dan Atlas untuk menemui Azella. Hell Nah, permasalahannya dengan Azella itu lebih penting dari apapun.
Laki-laki itu sampai didepan pintu kamar Azella, belum ada keinginan untuk mengetuk pintu tersebut. Entah kenapa Rigel langsung merasakan aura kesedihan didepan kamar ini.
Rigel terdiam cukup lama didepan pintu kamar Azella. Sungguh, melihat Azella bersedih ternyata mampu membuat hatinya tersayat juga.
Tok....
Tok....
Tok....
Tiga ketukan pelan tidak dapat membuat Azella membukakan pintu kamarnya.
"Azella." Panggil Rigel lirih akhirnya.
"Buka pintunya ya?" Bujuknya.
__ADS_1
Azella masih tidak menjawab, hal itu membuat Rigel menghela nafas kasar.
"Bukain Zell!"
"Enggak!" Terdengar teriakan dari dalam kamar Azella, Rigel jadi semakin merasa bersalah terhadap Azella.
"Aze-"
"Shut the **** up!!"
Rigel mengepalkan tangannya ketika Azella memotong pembicaraannya.
"Azella, we need to talk! Jangan kayak anak kecil!" Kata Rigel diakhir batas kesabarannya.
Rigel menajamkan pendengarannya ketika mendengar Azella tertawa.
"Buat komitmen aja sana sama tante-tante, aku emang masih kecil, makanya suka ngerepotin, suka buat kesel, bener kan? Oh iyaaa! karna aku masih kecil makanya gak berhak dapet kepastian!" Azella tertawa miris diakhir kalimatnya. Rigel mengepalkan tanggannya dengan kuat. Sialan, Azella benar-benar menguji emosinya. Rigel bisa menebak saat ini Azella juga berada dibalik pintu kamarnya, karena suaranya lirih tetapi terdengar dengan jelas.
"Open the door, Azella!"
"Enggak, pergi Rigel, aku gak mau ketemu kamu lagi!"
"Azella?!"
"Enggak! Sana pulang, atau gak terserah, aku gak ada nyuruh kamu tetap tinggal!"
Setelah kalimat terakhir Azella, Rigel tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar gadis itu. Sebenarnya Rigel dengan mudah bisa mendobrak pintu kamar Azella. Tapi bagaimanapun Rigel tidak bisa berbuat seperti itu karena nantinya Azella pasti akan lebih marah lagi padanya. Dan yang paling penting Rigel tetap ingin menghargai privasi Azella.
"Dia perlu istirahat."
Rigel melirik sinis Aksel yang berdiri disebelahnya.
"Azella sekalinya marah emang bujuknya susah."
"PERGII!!"
Rigel dan Aksel terlonjak kaget ketika Azella berteriak dari dalam kamarnya.
"Cabut." Ucap Aksel kemudian lari meninggalkan Rigel sendiri.
Rigel melirik Aksel dengan malas. Kemudian pandangannya beralih lagi kepada pintu kamar Azella yang masih tertutup sempurna. Sepertinya pemiliknya memang tidak ingin membukakan pintu untuknya.
"Azella, telpon aku kalo kamu perlu sesuatu, aku pulang ya." Ujar Rigel mengalah.
Tidak ada sahutan. Rigel menghela nafas lelah. Laki-laki itu memutar tubuhnya dari kamar Azella kemudian melangkah keluar dari mansion besar itu dengan perasaan mengambang.
..._______________...
"Rigel?" Langkah Rigel terhenti ketika Mommynya memanggilnya dari arah Ruang tamu. Rigel mengernyit heran, bukankah setau Rigel jika seorang perempuan setelah melakukan operasi caesar maka pemulihannya cukup lama. Entah kenapa Mommynya sudah bisa jalan-jalan disekitar mansion.
"Adhara mana Mom?" Tanya Rigel mendekati Mommynya.
"Udah tidur diatas. Kamu kenapa awal banget datengnya?"
"Hm."
"Loh, kok gitu jawabnya? Ada masalah?"
Rigel menggelengkan kepalanya seperti anak kecil.
Venus mengelus bahu anaknya yang sudah jauh lebih tinggi darinya. Venus masih ingat ketika Rigel yang kala itu diajaknya jalan-jalan menikmati udara pagi di Tower Bridge, London, dia masih kecil sepinggangnya.
Kala itu, Venus sadar putranya mewarisi sifat angkuh Daddynya, dan juga sifat tempramentalnya untuk pertama kali muncul. Venus juga sempat berkonsultasi dengan dokter tentang hal itu. Anak jenius memang cenderung memiliki sifat tempramental. Karena itu sejak dulu Venus dan Suaminya selalu merawat Rigel dengan hati-hati.
Ah iya, waktu di London ketika mereka melakukan perjalanan bisnis dari Italia. Udara
sejuk musim semi London pagi itu membuat Rigel kecil ingin pergi jalan-jalan keluar.
Tepatnya di Tower Bridge, Rigel berhenti, ketika melihat seorang gadis kecil yang tertawa bahagia ketika memakan burger ditangannya, gadis itu bersama dengan dua orang laki-laki yang duduk dikanan dan kirinya.
Venus tidak buta untuk tidak melihat betapa intensnya Rigel menatap gadis itu. Namun ketika beberapa orang dewasa menghampiri ketiga anak-anak kecil itu, dan mengajak mereka pergi, Rigel kecil langsung mengeluarkan ekspresi tidak sukanya.
Kiranya begini,
"Sayang, kenapa liat kesana mulu? Rigel mau beli apa hm?"
"Mommy dia pergi."
"Siapa?"
"Dia dibawa pergi!"
"Sayang?" Tanya Venus kebingungan karena Rigel mulai berkaca-kaca."
"I want her!" Ucap Rigel mengintimidasi.
"Rigel, jangan buat Mommy takut."
"Don't worry Mommy."
Venus yang kala itu bingung karena sifat putranya yang berubah-ubah, tadinya merengek, marah, emosi, kemudian berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Venus refleks langsung memeluk Rigel erat, dan melirik Javerio, asisten pribadi Suaminya.
Dan sekarang, anaknya sudah tumbuh dewasa, bahkan sudah berani membawa gadis kehadapannya. Ah tidak, sejak dulu Rigel memang mengincar gadis itu.
"Gimana perasaan kamu setelah ketemu sama gadis kecil Tower Bridge, hm?"
"Mommy, she is mad at me." Ucap Rigel lirih.
"Kenapa bisa?"
"Rigel belum mau pacaran sebelum kejahatan Lowen Fanderson terungkap Mommy. Dia yang buat Azella hampir mati, Rigel gak bisa! Dan- Azella, dia gak percaya kalo Rigel beneran serius sama dia. Dia gak tau Rigel sayang sama dia jauh sebelum dia kenal sama Rigel."
"Azella tau kamu dulu suka merhatiin dia diem-diem?" Tanya Venus.
Rigel menggeleng.
Lima minggu mereka kala itu menetap di London, selama itu Rigel mengamuk kepada Daddynya agar dirinya diberikan akses untuk menguntit kegiatan gadis kecil itu. Bahkan Rigel rela tidak makan beberapa hari ketika Daddynya marah dan tidak mengijinkan hal itu.
Rigel tidak segan masuk keruangan kerja Daddynya dan melempar berkas-berkas penting milik perusahaan. Membuang brangkas Daddynya yang berisi emas batangan, menghancurkan laptop, dan semua alat-alat elektronik disana. Itulah Rigel, dengan segala sifat tempramentalnya. Sungguh selfish sejak dini.
Bahkan selama lima minggu di London, Rigel menolak pulang ke Indonesia dan kembali mengamuk kepada Daddynya. Kala itu Daddynya menghukum Rigel dengan memborgolnya diatas tempat tidur selama delapan hari. Rigel yang diperlakukan seperti itu akhirnya memiliki rasa menyerah. Dengan terpaksa Rigel ikut pulang ke Indonesia dengan syarat Daddynya harus mempertemukannya dengan gadis kecil itu suatu saat nanti.
Tentu saja Rigel tidak menyerah semudah itu, laki-laki kecil itu dari awal menduduki bangku sekolah dasar hingga bangku SMA, Rigel selalu menanyai Daddynya pagi siang malam, kapan gadis itu akan dipertemukan dengannya.
Sampai akhirnya Daddynya menyerah dan mempertemukan mereka. Sesuai dugaan Daddynya, Rigel tidak mengenali gadis itu. Gadis yang berubah drastis dari warna kulit yang tidak seputih dulu, warna rambut yang dicat berbeda. Dan juga cara gadis itu menatap tidak seperti saat ia masih kecil.
Ketika Daddynya mengatakan akhirnya siapa gadis itu, barulah Rigel mengamuk. Berhari hari Rigel berada disatu lingkup ruangan yang sama dengan gadis itu, dan dengan teganya Daddynya tidak memberitahunya.
Rigel marah? Oh tentu saja, laki laki itu tidak pulang kemansionnya berhari-hari. Menolak panggilan Daddynya dan mengancam akan mengeluarkan diri dari kartu keluarga. Ya begitulah Rigel.
"Mom, gimana kalau Azella beneran gak mau ketemu sama Rigel lagi?"
__ADS_1