RIGEL ANTARIKSA

RIGEL ANTARIKSA
[11 | Kantin SMA Antariksa]


__ADS_3

"Siapa?" Tanya Cello masih dengan wajah terkejutnya.


"Licia, mantan gue." Kata Yuan sambil mengidikkan bahunya acuh.


"Lucu banget candaan lo. Hambar tau gak." Seven terkekeh pelan.


"Oh bercanda ya, hahahahahaha." Sekarang Cello ikut ikutan tertawa yang jelas terlihat sangat dipaksakan.


"Goblok banget, dikira gue bakal percaya apa." Vixtor ikut memberikan tawa hambarnya.


"Gue serius anjing. Bulan depan bokap gue nikah sama mantan gue." Kata Yuan meyakinkan.


Seven sambil menatapnya datar. "Dih, masih ngelawak nih bocah."


"Jadi siapa calon mama baru lo? Gue gak terima nih dibercandain gini." Tanya Cello belum puas.


"Ck, dibilangin. Susah emang ngomong sama binatang." Kata Yuan.


Ceklek...


Suara pintu terbuka mengalihkan atensi kelima laki laki itu.


"Hadehh, nungguin Rigel kayak nungguin jodoh, lama banget." Kata Vixtor.


"Beda, kalo Rigel datengnya pasti, kalo jodoh lo kan gak pasti bhahahaha." Celoteh Cello sambil terkekeh puas.


"Bajingan." Umpat Vixtor.


Rigel melihat keadaan ruang tamu apartment miliknya yang sudah kacau dan berantakan, ia hanya bisa geleng geleng kepala saja.


Teman temannya memang sengaja diberitahukan tentang password apartment miliknya, agar jika mereka datang Rigel tidak perlu bersusah payah membukakan pintu dan juga mereka tidak akan heboh didepan pintu apartment dan memanggil manggil namanya seperti debt collector yang menagih hutang, tidak sabaran.


"Ngapain kalian disini?" Tanya Rigel to the point.


"Duh, duduk dulu kenapa sih mas, aku tau kamu capek, sini aku pijitin." Cello hendak meraih jas milik Rigel.


"Jijik." Ucap Rigel sambil menjauhkan dirinya dari jangkauan Cello.


"Mampus." Ucap Seven.


"Gausah disengajain, lo emang cocok jadi uke dari dulu." Ucap Vixtor diakhiri tawa mengejeknya.


"Asu." Umpat Cello.


"Liat noh, Frans aja kalem. Gak pernah ngomong kalau gak pengen. Ditanyain aja jawabnya angguk - angguk, geleng - geleng." Kata Seven.


"Gue takut dia kena sakit saraf leher kejepit, kalo geleng - geleng, angguk - angguk mulu." Ucap Vixtor yang dihadiahi lemparan bantal oleh Frans.


Rigel hanya menghela nafasnya pelan. Dirinya bisa darah tinggi jika lama lama ditempat ini. Rigel mengalihkan pandangnnya kepada Yuan.


"Yan, tadi bokap gue dapet undangan dari bokap lo." Rigel menatap Yuan penuh arti.


"Gak apa apa Rig, santai aja, bukan masalah besar buat gue." Jawab Yuan santai.


"Rig siapa calon mamanya Yuan?" Tanya Seven masih belum puas.


"Pasti Rigel gak ngelawak, tuh, kan ketahuan sekarang Yan, siapa mama baru lo." Kekeh Cello.


Rigel mengerutkan alisnya pelan, kemudian menatap Yuan.


"Maklum, mereka gak ngerti omongan manusia." Jawab Yuan membalas tatapan Rigel.


Rigel menghela nafasnya entah yang keberapa kali hari ini. Ini diluar kendalinya, sudah ia duga sebelumnya teman temannya tidak akan percaya semudah itu.


"Yuan bener, gak ada yang harus dibercandain soal beginian." Kata Rigel kemudian meninggalkan teman temannya yang diam seribu bahasa. Laki laki itu menaiki tangga kemudian hilang dipijakan tangga teratas.


"Yan, so-"


"Udah lah, bukan masalah besar bagi gue." Kata Yuan memotong perkataan Seven. Laki laki itu tersenyum seperti tidak ada beban sama sekali.


Seketika ruang tamu tersebut dipenuhi dengan keadaan yang canggung.


Seven berdehem beberapa kali, kemudian menatap Yuan yang menatap mereka dengan senyuman sok tegar, yang Seven lihat malah seperti orang bodoh. "Lo beneran gak apa apa nih? Lo bisa cerita sama kita."


Yuan mengerutkan dahinya. "Emang gue kenapa? Kan gue baik baik aja."


"Terus, perasaan lo baik baik aja?" Tanya Cello.


"Bacot banget kalian." Ucap Yuan kemudian.


"Gue gak tau gimana ceritanya. Tiba tiba aja mereka ngajakin gue dinner. Tapi gue gak sakit hati, gue lebih kecewa sih."


"Papa lo bilangnya gimana?"


"Ya dia minta maaf, yaudah sih, cewek masih banyak jugaan." Ucap Yuan bodoamat.


Frans berdehem pelan. "Mungkin dia bukan jodoh lo." Katanya dengan niat menghibur meski dengan nada datarnya.


"Iya bukan jodoh Yuan, tapi jodoh bapaknya Yuan." Lanjut Cello.


"Lagian gue kasian juga sama Papa gue udah lama jadi duda, jadi gapapa Licia buat dia aja."


Vixtor menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Berarti nanti lo panggil dia Mama?"


Yuan mengerutkan alisnya tidak setuju dengan perkataan Vixtor.


"Enggak, Bunda aja, Mama gue cuma satu."


"Gue gak bisa bayangin, dulu panggil sayang, sekarang manggil Bunda." Respon Cello.


"Bisain aja lah, emang kenyataannya dia lebih tua dari gue, meski setaun doang tapi dia emang dandannya kayak tante tante kan? Ngaku aja kalian pernah ngomongin Licia gitu." Tebak Yuan tepat sasaran.


"Iya anjer, jujur ya dulu gue gak enak depan lo ngomong, tapi sekarang lo yang mancing nih, lo kayak jalan sama tante tante anjir, udah gitu bajunya Licia seksi semua kalo keluar. Parah lah." Jelas Cello.


"Intinya sekarang lo gak jadi pihak yang tersakiti kan Yan? Kalaupun iya sih gue ragu balasin dendam lo, kan gamungkin gue ngebunuh bokap lo." Kata Seven.


"Enggak, bawa enjoy aja, gue gak mikirin itu lagi."


"Eh, nyanyi yokk." Ajak Cello tiba tiba sambil memegang gitar.


Jreng... jreng...


"Bajingan anak ini." Umpat Vixtor sambil memutar bola matanya jengah.


Frans menatap Cello datar. "Gak usah mulai lo."


"Request lagu yok bang." Ucap Cello sambil membuka sebuah snack dan memangkunya. Tentu saja mengabaikan kata kata peringatan yang dilemparkan oleh temannya tadi.


Jreng.. jreng..


Sudahlah ini tidak akah berakhir dengan mudah dan damai.


Bugh....


"Anjing."


...______________...


Azella melirik jam tangannya yang menjunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit, yang artinya sepuluh menit lagi jam pelajaran akan dimulai.

__ADS_1


Sialan sekali memang. Bisa bisanya Azella bangun terlambat pagi ini. Padahal Azella sudah membuat alarm yang berurutan.


06.00


06.10


06.30


06.40


06.50


07.00


Tapi sayangnya ponselnya dalam mode silent. Sehingga sebanyak apapun Azella membuat alarm tidak akan terdengar bunyinya.


Azella melihat gerbang SMA Antariksa didepannya yang sudah tertutup setengah. Azella semakin melajukan mobilnya dengan cepat sehingga bisa menerobos pagar yang hampir ditutup oleh satpam.


"Astagaa, untung saya masih hidup." Ucap satpam yang hampir ditabrak oleh Azella.


Azella memarkirkan mobilnya dan melihat bahwa keadaan sekolah sudah lumayan sepi, artinya hampir semua siswa siswi sudah berada dikelas mereka masing masing.


Azella berniat meminta maaf kepada pak satpam tadi, tapi karena waktunya mepet, Azella memutuskan nanti saat pulang sekolah dirinya akan meminta maaf.


Azella berlari di koridor yang menuju kelasnya. Namun sayangnya lagi lagi tali sepatunya belum diikat dengan benar. Akhirnya tidak sengaja sepatu sebelahnya menginjak tali sepatunya sendiri dan-


Brukk....


"Astaga setan." Umpatnya kesal disaat pantat dan bahunya mencium lantai. Iya, Azella jatuh tengkurap. Memalukan sekali bukan?


"Untung aja sepi anjir. Kurang ajar, malu maluin banget sih." Katanya sambil duduk dan membenarkan tali sepatunya sendiri.


"Ceroboh."


Azella melihat kekanan dan kekiri mencari sumber suara.


Kemudian matanya menangkap sosok jangkung dibelakangnya yang juga sepertinya baru datang dengan tas yang menggantung dibahu kanannya.


"Apa lo." Galak Azella.


Laki laki didepannya hanya memutar bola matanya malas kemudian hendak berjalan melewati Azella untuk menuju kelasnya.


"RIGEL, AZELLA."


Teriakan menggema dari ujung koridor membuat Azella membulatkan matanya terkejut.


Belum lagi siswa siswi yang mengintip dari jendela kelas mereka masing masing. Azella mengerti, tentu saja karena nama Rigel yang disebut pasti mereka semua kepo apa yang terjadi pada idola mereka.


"NGAPAIN KALIAN MASIH DISINI? JAM PELAJARAN SUDAH MULAI DUA MENIT YANG LALU." Kata Guru perempuan itu yang entah siapa namanya Azella tidak hafal.


"MASUK KELAS SEKARANG."


Rigel berjalan mendahului Azella dan pergi meninggalkan gadis itu saat berbelok di ujung koridor.


Azella yang melihat guru didepannya semakin mendekat kearahnya juga segera berjalan menuju kelasnya.


Mampus gue, mampus!


...________________...


"Azell."


"Hm?"


"Azella."


"Hm."


"Hm."


"Zell."


"Hm."


"Azellaaaaaaaa."


"Hm."


"Zell."


"Hm."


Azella melihat Zia yang mempoutkan bibirnya kesal, akhirnya Azella membalik buku novel terjemahan yang dibacanya dan menatap penuh pada gadis itu. "Apa?"


"Lo gue panggilin gak nyaut."


Azella mengangkat alisnya sebelah. "Kan udah."


"Apaan ham hem ham hem."


"Kenapa sih?, hehehe sorry. Gue emang kebiasaan kalo lagi baca buku gabisa diganggu."


"Lo ih, ini dikantin, emang bisa fokus baca buku?" Tanya Zia tidak santai.


"Bisa, justru bagus, sambil ngelatih tingkat kefokusan kita dan juga bi-"


"Ok stop, udah sebelum otak gue meledak, sumpah ya, buku tebel segini niat banget lo baca, gue aja pusing liatnya Zell."


Azella hanya terkekeh pelan kemudian melanjutkan kegiatan membacanya.


Saat ini Zia dan Azella sedang berada dikantin dan mereka menunggu Sienna yang sedang memesankan makanan untuk mereka.


"Itu, lo ngapain tadi pagi sama Rigel?" Tanya Zia tiba tiba


Azella yang tadinya mambaca kalimat yang tertera dibukunya sontak saja menoleh kearah Zia dengan alis yang menukik tajam.


Apa apaan lagi sih,


"Apa? Gue gak ada ngapa ngapain sama tuh anak. Gosip apalagi kali ini." Tanya Azella tidak santai.


"Santai anjir. Lo kayak mau makan orang. Enggak itu, tadi pagi suara Bu Susan keras banget di koridor nyebut nama lo sama namanya Rigel, kelas kita juga denger kali. Makanya gue nanya. Emang tadi pagi lo ngapain?"


Azella menghela nafasnya pelan.


Kirain apaan anjir.


"Oh, itu." Responnya sambil kembali membuka halaman bukunya.


"Lo ditanyain ya, dijawab anjir, gue kepo." Kata Zia gemas.


"Gue telat, terus dia juga telat, jadi ya gitu."


Zia menaikan alisnya tidak puas.


"Apa?" Tanyanya lagi.


"Iya kita telat. Udah gitu aja."


"Gue kira kalian berangkat bareng." Ucap Zia pelan.

__ADS_1


Azella mengerutkan alisnya. "Lo ngarep?"


"Iyalah, semalem gue pikir pikir, lo cocok juga sama Rigel, lagian sekian purnama cuma lo doang cewek yang berani sama Rigel, dan yang paling penting, cuma lo doang yang pernah dibonceng Rigel." Jelas Zia panjang lebar.


Demi titisan dugong.


Big no, jangan sampai. Bisa mati muda gue.


"Gak, apaan sih. Lo kayak gaada khayalan lain aja." Azella mengacuhkan omongan Zia, kemudian melanjutkan membaca bukunya.


"Pada bahas apaan?" Tanya Sienna setelah selesai memesan makanan.


"Nah, lo setuju kan sama gue? Kalau Azella cocok sama Rigel? Diluar masalahnya sama laki laki itu." Zia langsung kepada Sienna.


Sienna terlihat berfikir sebentar.


"Em iya, mereka cocok banget sebenernya. Azella kan anaknya berani tuh, gak gampang baperan kayak kita, apalagi tahan sama kelakuan Rigel." Jawab Sienna akhirnya tanpa beban.


Azella menatap mereka dengan tatapan memelas.


"Kalian niat jadiin gue tumbalnya Rigel?" Tanyanya spontan.


"Gak Zell, gak gitu ih. Maksud gue lo cocok aja sama dia. Coba aja kalian kenalnya kayak anak anak lain. Ya gak ada permusuhan gitu."  Jelasn Zia


"Tapi, masalah yang buat mereka ketemu Zi." Ucap Sienna.


"Iya bener, berarti lo harus sering buat masalah sama Rigel, biar sering ketemu sama dia." Saran Zia.


Sienna menatap Zia aneh, "Ya gak gitu juga Zi, Rigel kan emosional bisa beneran abis Azella kalo buat masalah mulu."


Zia terlihat mengangguk beberapa kali. "Tapi kalau dipikir pikir Rigel termasuk sabar juga ya, soalnya kan Azella sering buat masalah tapi dia kyak fine fine aja."


"Ih, jangan bahas dia terus, males gue." Azella menatap kedua sahabatnya malas.


"Kan cuma-"


Azella menatap Zia yang hendak berbicara kembali dengan tatapan tajam miliknya.


"Eh, gak gak jadi hehehe."


Teriakan beberapa siswi perempuan membuat mereka mengalihkan pandangannya kepada pintu kantin.


Disana terlihat Rigel dan teman temannya baru saja memasuki area kantin.


"Tuh, Zell, calon jodoh lo makin ganteng aja." Komentar Zia.


Azella memutar matanya malas. "Jangan sampai khayalan kalian jadi kenyataan."


"Ya Tuhan, kalau Rigel bukan jodohnya Azella, tolong dipaksakan agar mereka berjodoh."


Sontak saja kata kata Zia membuat Azella menatap gadis itu kesal.


"Heh, sembarangan lo."


"Zell, mereka duduk disebelah meja kita, dibelakang lo. Tapi mereka biasanya emang duduk disana." Kata Sienna berbisik.


"Hah? Anjir, gue mana tau mereka biasa duduk deket sini. Zi, lo sengaja?" Tanya Azella berbisik gemas. Mengingat Zia yang memgajaknya duduk ditempat ini.


"Hehehehehe."


Azella hanya menghela nafasnya lelah.


Sialan, gimana cara ngehindarin bocah itu, kalau temen gue aja kayak gini modelnya.


Azella hanya diam sambil membaca bukunya pura pura tidak memperdulikan enam laki laki yang duduk dibelakangnya.


"Azella."


Azella pura pura tidak mendengar disaat ada panggilan dari belakangnya.


"Azella cantik."


Jangan nengok Zell, tahan tahan.


"Zell dipanggil tuh sama Cello." Kata Zia.


Azella menatap Zia horor. Sedangkan gadis itu malah pura pura tidak mengerti.


"Zell, kok lo cantik banget sih hari ini."


Hell, Azella memutar bola matanya malas kemudian melihat kearah belakang. Arah dimana suara itu datang.


"Apa Cell?" Tanya Azella cepat dengan pandangan datarnya.


Azella melirik Rigel yang entah kenapa juga melirik kearahnya. Namun Azella langsung mengalihkan pandangannya kepada Cello lagi.


Mampus, ketahuan kan gue liatin dia.


Bego Azella bego.


"Jangan gangguin Cell, udah ada yang nandain kayaknya." Komentar Yuan.


Yuan melihat Rigel yang memperhatikan Azella sejak tadi. Begitu juga Azella yang terlihat gugup.


Cello menatap Yuan sambil mengerutkan alisnya. "Siapa? Bunuh gue dulu. Enak aja. Main tandain calon gebetan gue." Celotehnya asal.


Pip..


Cello melihat Vixtor yang memainkan headphone sambil tersenyum. "Lo ngapain?"


"Udah gue rekam omongan lo Cell."


"Bahahaha mampus" kata Seven puas.


"Bangsat."


Azella hanya menggelengkan kepalanya, aneh.


"Halah, gue mau ngegombal nih, ganggu aja kalian." Ucap Cello. "Zell-"


"Gak usah didengerin Zell, lo gak mau kan jadi korban selanjutnya?" Tanya Yuan.


Azella hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau gak ada yang penting gue balik badan ya." Kata Azella.


"Eh- bentar. Gue pindah deh kemeja lo ya Zell? kan masih ada yang kosong." Kata Cello.


"Gak, Azella balik sana, makanan lo udah dateng." Ucap Rigel tiba tiba. Laki laki itu menatap Azella dengan intens.


Sontak saja itu membuat Cello menganga.


Dan teman temannya yang lain hanya saling pandang kebingungan.


"O-okay." Kata Azella pelan dan langsung berbalik badan.


Detak jantung gue kedengeran gak ya?


Sialan. Kenapa isi deg-deg an sih anjir.

__ADS_1


__ADS_2