
Kenapa?
"Kenapa aku masih hidup?"
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
..._________...
...___...
..._...
"Hosh..." hela napas panjang dan sisa air laut yang sudah tidak bisa diolah lagi keluar dari celah insang. Pemandangan laut menyambut untuk pertama kali.
Indah~ batin sosok itu. Terbangun dari tidur panjangnya.
Ikan-ikan terlihat berenang kesana kemari, hal ini membuat sosok tersebut bangkit dari posisi berbaring menjadi setengah duduk di atas permukaan pasir; di laut dangkal. Tepat di sampingnya ada begitu banyak sekali terumbu karang dengan beberapa biota laut.
"Cantik..." ia bergumam, kembali memuji pemandangan luar biasa yang menyambut penglihatan miliknya. Senyuman manis kemudian muncul, tatkala dia mendapati kerang-kerang dan siput saling berinteraksi dengan rukun.
"Ana!" panggil seseorang yang berhasil membuatnya menoleh.
Sesosok siren dengan ekor yang sangat indah, didominasi oleh warna emerald tampak tengah berenang menghampiri.
Pemilik nama Ana tersebut pun tersenyum, dia lalu merentangkan kedua tangannya lebar—menyambut sosok itu dengan sebuah pelukan hangat.
Tanpa perlu memakan waktu lama, kedua makhluk itu sekarang sudah saling memeluk satu sama lain. Berenang berputar-putar dengan ekspresi wajah penuh rasa cinta. Yakinlah, para ikan yang melihat kemesraan mereka pasti merasa iri. Tampak seperti pasangan yang sangat bahagia, komentar mereka andai mereka bisa bicara.
Ana tertawa lepas, mengalungkan erat kedua tangannya sambil berucap.
"Hentikan!" dia mulai merasa pusing tapi masih saja menampilkan raut wajah senang.
"Òsedian—!" sambung Ana lagi, memanggil nama dari makhluk yang sedang memeluk dengan sangat kencang lalu mengajaknya untuk berenang berputar-putar di-antara para ikan.
Sudut bibir Òsedian terangkat, turut serta menciptakan sebuah eyes smile di atas wajahnya. Dia berhenti membawa Ana berenang berputar, atas permintaan dari wanita itu sendiri.
Ana menghela napas lega, dia lalu bersandar—tepat disalah satu pundak milik Òsedian. Berpasrah diri kepada sosok setengah ikan tersebut. Percaya atau tidak, moment itu terlihat sangat-sangat indah.
"Aku merindukan mu..." bisik Ana.
Sembari mengelus pelan pucuk kepala, Òsedian menjawab.
__ADS_1
"Aku juga... Ana..."
...***...
"Apa yang terjadi Ilda?!" Òsedian menyentak, bola matanya bergetar. Dia benar-benar merasa setengah ketakutan dan setengah lainnya kebingungan, sama halnya dengan Ilda.
Pemandangan mengerikan di depan mata mereka tampak seperti sebuah pembantaian.
Glek!
Ilda menelan saliva kasar. Tanpa ragu ia kemudian berjalan menuju seonggok tubuh yang berlumuran oleh darah manusia, diikuti Òsedian yang berusaha naik dengan menyeret ekor besar miliknya menggunakan kekuatan dari kedua otot-otot tangan.
"Ana?" Òsedian bergumam, memanggil nama dari sosok yang tengah bermandikan darah di pojok gua. Dia tak sadarkan diri, dengan posisi yang cukup mengenaskan.
"Tivana..." Ilda ikut bergumam, lagi-lagi menelan saliva kasar. Lelaki itu menduga—
"Dia mencoba bunuh diri." ucapnya.
Deg!
Jantung Òsedian seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat kala dia mendengar penuturan yang Ilda ucapkan tersebut. Menggeleng tak percaya, dia bersusah payah mendekati tubuh Ana. Satu-satunya pasangan miliknya.
Merengkuh tubuh tak sadarkan diri itu kedalam sebuah pelukan hangat, sembari memeriksa tiap jengkal tubuh—batin Òsedian berucap; di mana Ana terluka?!
Lantas, datang dari mana semua darah segar itu?
Sampai Ilda menyadari, satu hal penting yang terlewat. Lelaki itu menutup mulutnya dengan ekspresi tak percaya, dia tahu! Ilda tahu mengapa tubuh Tivana bersih dari luka.
"Òsedian!" Ilda memanggil, pada sosok teman yang masih menampilkan wajah panik sambil berusaha mencari luka pada tubuh Tivana agar bisa disembuhkan.
"Òsedian!!" panggil Ilda lagi, mau tak mau sang pemilik nama menoleh. Dia siap menangis ketika alam bawah sadarnya mulai mengatakan bahwa dirinya sudah terpisah dengan sosok Tivana.
Menyadari aura negatif dari pikiran Òsedian Ilda tanpa pikir panjang langsung menunjuk sesuatu, dia lalu berkata—
"Kau tidak melihat?! Tivana sudah berubah secara sempurna menjadi seekor Siren!" ujarnya menujuk ekor indah berwarna peach yang ditutupi oleh banyak darah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Ini masuk akal... Kenapa Tivana bisa selamat ketika dia mencoba bunuh diri, itu karena tubuhnya sudah berubah secara sempurna menjadi seekor Siren." terang Ilda, berenang mengitari sosok Tivana yang berada di dalam rengkuhan milik temannya. Òsedian.
Warna darah manusia sudah menghilang, menyatu dengan air laut.
Òsedian sependapat. Ternyata ketika Tivana mencoba bunuh diri wanita tersebut sudah berubah total menjadi siren sama seperti dirinya. Tak heran wanita itu tidak memiliki secuilpun luka menganga di tubuh, jelas kemampuan regenerasi sel yang dimiliki oleh bangsa siren 'lah yang menyelamatkan Tivana.
"Tapi mengapa Ana mencoba bunuh diri?" Òsedian bertanya pada dirinya sendiri, mendengar hal tersebut membuat Ilda menghela napas panjang.
Temannya ini lugu atau bodoh?
"Kau tahukan alasan ku menahan mu Òsedian? Ketika kita mendengar Tivana meraung sangat kencang."
Òsedian melirik, sial! Pikiran dari makhluk tersebut perlahan menjadi kacau. Bukannya merenungi pertanyaan Ilda dia malah menyalahkan tindakan yang sosok itu lakukan. Andai saja Òsedian tidak tertahan di bawah air dan langsung menyusuli Tivana saat dia mendengar teriakan penuh rasa pilu itu—mungkin Òsedian dapat mencegah Tivana dari percobaan bunuh diri.
Menyadari lirikan tak bersahabat yang dilayangkan oleh Òsedian padanya, sudut bibir Ilda berkedut. Jengkel.
Tidak ingin dihardik secara gamblang Ilda pun memilih kembali angkat suara. Sebelum Òsedian mengamuk lalu mengajaknya bertarung di lautan lepas lagi.
"Aku bilang! Tivana TAKUT pada mu—saat itu! Tidak 'kah kau paham Òsedian?!"
Urat-urat leher terlihat, Òsedian menampilkan ekspresi marah. Dengan bengis dia menyahut.
"Memang kenapa? Kenapa Ana jadi takut pada ku?" Òsedian balik bertanya, menekan baik-baik gejolak amarah miliknya dengan cara memeluk erat tubuh tak sadarkan diri Tivana. Dia beranggapan, tidak ada satu tindakan pun yang ia lakukan berlebihan—hingga membuat Tivana harus merasa ketakutan, terancam atau sejenisnya. Bahkan Òsedian sampai mendengar Tivana memanggil namanya lagi, bukankah itu sebuah kemajuan? Dimana Òsedian rasa Tivana mulai menerima kehadiran dari makhluk setengah ikan tersebut.
Ingin sekali menepuk keras kening milik Òsedian, itu yang Ilda rasakan untuk saat ini. Dia melenguh. Harus bagaimana lagi Ilda bicara agar sosok bersisik emerald di depannya ini paham?
"Apapun yang kau lakukan bersama Tivana sebelumnya, aku tak peduli—tapi! Satu hal yang pasti; di mata dia kau itu hanyalah seekor monster. Semua tindakan mu akan menjadi salah dan menakutkan jika kau melakukannya secara brutal, berlebihan..." ucap Ilda, setengah menggantung. Dia melihat sejenak reaksi Òsedian lalu kembali melanjutkan.
"Ingat Òsedian! Kau memang mencintai Tivana tapi itu tidak berlaku sebaliknya. Wanita ini belum tentu mau mencintai mu; dan lihat sekarang. Berkat semua tindakan 'berlebihan' yang kau lakukan—'dia' menjadi merasa sangat ketakutan hingga berpikiran 'LEBIH BAIK AKU MATI' dari pada harus menerima kenyataan."
...***...
...T b c...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jang lupa tinggal jejak; like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
...Bye...
...:3...
__ADS_1